Tradisi Gotong Royong “Songga” di Kebirangga Selatan di Era Teknologi Informasi

Beranda Editorial Opini

Ende-Kebirangga Selatan, Tananua Flores| Gotong Royong merupakan suatu modal sosial untuk mencapai kesejahteraan bersama. Semangat Gotong Royong ini adalah kesadaran bersama masyarakat untuk saling membantu dan bekerja sama. Nilai Gotong Royong menjadi nilai khas yang dimiliki bangsa indonesia yang diwarisi secara turun temurun.

Istilah Gotong Royong sudah dikenal sejak masa pendudukan Jepang di Indonesia. Konsep tentang Gotong Royong pertama kali digunakan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) (Koentjaranigrat,1974) . Istilah ini kemudian menjadi populer pada masa pemerintahan Soekarno yang menjelaskan bahwa Gotong Royong menjadi roh dalam membangun Negeri (Subagyo,2012).

Budaya Gotong Royong untuk memanen hasil pertanian. Foto: Dok. YTNF

Tradisi pertanian di daerah pedesaan merupakan akar dari nilai Gotong Royong. Sebab tradisi pertanian mengharuskan masyarakat untuk bekerja sama dalam membuka lahan, menyemai bibit, menanam dan merawatnya.

Tradisi Gotong Royong “Songga”

Desa Kebirangga Selatan juga memiliki tradisi gotong royong yang dinyatakan dengan istilah “Songga”. Songga adalah undangan untuk bekerja bersama dalam konteks untuk saling membantu. Masyarakat terlibat untuk ambil bagian dalam bertani mulai dari menyiapkan lahan, menanam, memanen dan pasca panen.

Saat sedang membuka lahan baru dan bercocok tanam petani berkharisma Gerardus Hendrikus Setu mempraktikkan tradisi Songga ini. Melalui Songga proses bekerja juga akan lebih cepat terselesaikan dan hasilnya bisa lebih melimpah. Gerardus mampu membuka lahan seluas 2 ha dengan tingkat kemiringan mendekati 75% dengan pendekatan Songga.

Bersama Pemerintah Desa, Lembaga Adat (Mosalaki) dan Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores (YTNF) Tradisi Songga dihidupi dalam mengolah lahan pertanian. Sebab tidak semua lahan pertanian membutuhkan peralatan teknologi. Lahan pertanian desa yang tidak terjangkau mesin pertanian karena kendala topografi dan aksesibilitas dapat dikerjakan oleh tenaga manusia secara Gotong Royong.

YTNF dalam kerjanya memberdayakan masyarakat desa melalui praktik Gotong Royong. Organisasi petani dikuatkan dalam mendukung pertanian berkelanjutan sambil memerhatikan peningkatan ekonomi dan kesehatan primer.

Praktik Gotong Royong dalam pembuatan teras kebun. Foto: Ansel Sa, 22/07/2022

Gotong Royong di Era Teknologi Informasi

Gotong royong merupakan budaya asli Indonesia yang mengedepankan kerja sama dan musyawarah, sambil menumbuhkan rasa saling menghargai. Pemahaman tentang Gotong Royong amat dinamis seiring perkembangan teknologi dan informasi. Terminologi Gotong Royong merujuk pada tingkah laku kolektif dalam menyelesaikan persoalan bersama (Nisa,2020).

Dewasa ini Gotong Royong dinilai sebagai tindakan yang tidak masuk akal karena tidak sesuai dengan kehidupan modern. Nilai Gotong Royong yang mengedepankan nilai kelompok tidak sesuai dengan nilai kehidupan modern yang menjunjung tinggi individu. Meskipun demikian survei kompas menunjuka bahwa Gotong Royong merupakan nilai yang penting bagi generasi milenial (Simartama, 2019).

Gotong Royong hadir dalam bentuk baru dengan memanfaatkan teknologi digital dan internet. Di era digital Gotong Royong nampak dalam Platform Crowdfunding, kegiatan mengumpulkan dana menggunakan aplikasi atau media sosial. Masyarakat berdonasi untuk sesama yang membutuhkan  seperti untuk korban bencana alam dan kontribusi pembangunan rumah ibadah.

Petani memanen padi secara Gotong Royong. Foto: Dok. YTNF

Praktik Gotong Royong tetap bertumbuh subur di era kemajuan teknologi dengan menciptakan dan memberikan petisi untuk suatu persoalan atau pendapat. Dukungan kerja sama melalui postingan di sosial media tentang upaya membangun daerah terpencil adalah salah satu bentuk praktik gotong royong di ranah digital.

Dengan demikian Gotong Royong menjadi fitrah manusia. Gotong Royong tidak harus disertai dengan kontak fisik interaktif. Pada hakikatnya Gotong Royong dilandasi oleh keikhlasan dan kerelaan. Gotong Royong menggerakan solidaritas sosial. Budaya Gotong Royong masih tetap relevan ketika menjunjung tinggi solidaritas sosial untuk mencapai tujuan bersama.

Penulis: Ansel Kaki Reku (Staf Lapangan YTNF)

Editor: Edi Woda

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.