Dari Gaga Gili ke Koperasi: Merawat Harapan di Tanah Wonda

Shere Sekarang

Ende, Wonda – Tananua Flores | Di tanah Wonda yang tenang, harapan tidak pernah datang dengan gegap gempita. Ia lahir perlahan dari langkah kaki yang menyusuri kebun, dari tangan-tangan yang bekerja tanpa lelah, dan dari kebersamaan yang dirawat dalam tradisi sederhana: Gaga Gili.

Tradisi kerja bergilir membersihkan kebun itu bukan sekadar rutinitas. Ia adalah ruang perjumpaan, tempat orang-orang saling menguatkan, berbagi cerita, dan menanam harapan. Dari sanalah, tanpa disadari, sebuah mimpi bersama mulai tumbuh.

Mimpi itu kini dikenal sebagai Koperasi Tani Sinar Harapan.Semua berawal di akhir tahun 1990-an. Saat itu, hanya ada sembilan orang petani yang sepakat untuk tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Mereka tidak memiliki modal besar, tidak pula fasilitas memadai. Yang mereka punya hanyalah tekad dan kepercayaan.

Dengan iuran sederhana(1000) seribu rupiah.

Jumlah yang mungkin terasa kecil, bahkan nyaris tak berarti. Namun bagi mereka, itu adalah simbol: bahwa kebersamaan lebih kuat daripada keterbatasan.

“Kami mulai dari kerja bersama, dari iuran kecil,” kenang Bapak Wifridus, salah satu anggota lama. Seiring waktu, iuran itu meningkat menjadi lima ribu rupiah tanda bahwa semangat mereka juga ikut bertumbuh.

Tahun 1998 menjadi langkah penting. Dari kelompok tani sederhana, mereka mulai berani memasuki dunia pengelolaan ekonomi dengan membentuk Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP). Dari tanah dan cangkul, mereka melangkah ke pengelolaan keuangan sesuatu yang sebelumnya terasa jauh dari kehidupan mereka.

Perjalanan itu tidak mudah. Namun mereka bertahan. Hingga akhirnya, pada tahun 2015, UBSP itu resmi bertransformasi menjadi koperasi. Sebuah tonggak penting yang lahir bukan dari kemudahan, tetapi dari kesabaran panjang, kerja keras, dan keyakinan akan masa depan.

Kini, hingga Desember 2025, koperasi ini memiliki 58 anggota. Jumlah yang mungkin tidak besar, tetapi setiap orang di dalamnya adalah bagian dari cerita perjuangan yang sama.

Pengurus memilih berjalan dengan hati-hati. Mereka tidak tergesa-gesa menambah anggota, karena yang mereka jaga bukan sekadar jumlah, melainkan kepercayaan. Di sisi lain, tantangan tetap ada terutama dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya berkoperasi.

Namun bagi mereka yang sudah merasakan manfaatnya, koperasi bukan lagi sekadar lembaga. Ia adalah penopang hidup.

“Saya bisa menyekolahkan tiga anak,” ujar seorang anggota dengan mata berbinar. Kalimat sederhana itu menyimpan makna yang dalam tentang harapan yang akhirnya menemukan jalannya.

Ibu Ros juga memiliki kisahnya sendiri. Di saat genting, ketika kebutuhan mendesak datang tanpa aba-aba, koperasi menjadi tempat ia berpaling.

“Sangat membantu,” katanya singkat. Namun dari nada suaranya, terasa betapa besar arti kehadiran koperasi dalam hidupnya.

Meski demikian, perjalanan Koperasi Tani Sinar Harapan masih jauh dari kata sempurna. Berbagai rencana pengembangan unit usaha mulai dari pertanian, peternakan, hingga pertokoan dan jasa belum sepenuhnya terwujud. Hingga kini, baru unit simpan pinjam yang berjalan aktif.

Keterbatasan sumber daya manusia, minimnya sarana prasarana, dan tantangan permodalan masih menjadi hambatan nyata.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak pernah goyah yakni memiliki tekad.

“Kita jaga dan rawat koperasi ini,” tegas Bernadus Sambut, Direktur Yayasan Tananua, dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT). Baginya, koperasi ini bukan sekadar tempat usaha, melainkan harapan yang harus dijaga bersama.

RAT bukan hanya agenda rutin. Ia adalah ruang di mana semua suara bertemu. Di sanalah para anggota mengevaluasi perjalanan, mengakui kekurangan, dan merancang masa depan. Dalam pertemuan terakhir, berbagai hal dibicarakan mulai dari keterbatasan anggota yang masih berasal dari lingkup dusun, hingga kebutuhan akan tambahan modal untuk mengembangkan usaha. Di tengah diskusi itu, hadir pula harapan dari pemerintah. Camat Ndori, Fidelis Sobha, S.IP, menyampaikan tentang Program Koperasi Merah Putih sebagai peluang, bukan ancaman.

Ia menegaskan bahwa kekuatan koperasi terletak pada anggotanya. “Anggota harus tetap semangat,” pesannya.

Baginya, program pemerintah tidak dimaksudkan untuk menggantikan usaha yang sudah ada, melainkan memperkuat pelayanan bagi masyarakat, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti sembako.

Perjalanan koperasi ini juga tidak lepas dari tangan-tangan yang setia mendampingi. Yayasan Tananua Flores hadir sejak awal dari masa kelompok tani hingga menjadi koperasi. Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Ende pun terus memberikan bimbingan dan membuka peluang kerja sama.

Dari sinilah, harapan itu terus dijaga.

Koperasi Tani Sinar Harapan mungkin belum besar. Usahanya masih terbatas, anggotanya belum banyak. Namun di dalamnya, tersimpan sesuatu yang jauh lebih penting: semangat kebersamaan.

Dari iuran seribu rupiah, dari kerja bergilir di kebun, dari mimpi sederhana untuk hidup lebih baik semuanya telah menjelma menjadi kekuatan. Dan di tanah Wonda, harapan itu tidak pernah benar-benar padam. Ia terus tumbuh, dirawat, dan diwariskan.

“Selamat untuk koperasi kita,” ucap seorang anggota dengan penuh keyakinan.

“Semoga tetap hidup dan terus berkembang.”

Ditulis oleh : Bernadus S

Dari Gaga Gili ke Koperasi: Merawat Harapan di Tanah Wonda Read More »

Program Perikanan Berbasis Masyarakat: Membangun Keberlanjutan dan Kesejahteraan

Shere Sekarang

Ende, Tananua Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan luas perairan yang mendominasi wilayahnya, memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Potensi ini tidak hanya menjadi sumber devisa negara tetapi juga berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Namun, agar sektor perikanan dapat memberikan manfaat yang optimal, diperlukan pengelolaan yang berkelanjutan serta berbasis pada keseimbangan ekologi dan ekonomi.

Di Kabupaten Ende, potensi perikanan yang dimiliki belum sepenuhnya dikelola secara baik untuk menopang perekonomian daerah. Pemerintah daerah belum memiliki kebijakan strategis dalam pengelolaan perikanan guna meningkatkan pendapatan daerah. Oleh karena itu, inisiatif dari berbagai pihak, termasuk organisasi non-pemerintah, menjadi sangat penting untuk mengembangkan sektor ini.

Peran Yayasan Tananua Flores dalam Pengelolaan Perikanan

Yayasan Tananua Flores, sebagai LSM lokal yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat petani dan nelayan, telah menjalankan berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem perairan serta memastikan keberlanjutan sumber daya perikanan. Sejak berdiri pada tahun 1989, Tananua tetap konsisten dalam mendampingi masyarakat dengan visi program penghidupan berkelanjutan, baik di sektor pertanian maupun kelautan dan perikanan.

Sebagai bagian dari komitmennya, Tananua telah meluncurkan program perikanan berbasis masyarakat di delapan desa di Kabupaten Ende dan sekitarnya. Program ini menggunakan pendekatan pendampingan berbasis data serta berorientasi pada desa dan kawasan untuk memastikan efektivitas implementasi. Beberapa desa yang menjadi sasaran program ini meliputi Kelurahan Tetandara (Lingkungan Arubara, Kecamatan Ende Selatan), Desa Persiapan Maurongga (Kecamatan Nangapanda), Desa Kotodirumali (Kecamatan Keo Tengah), Desa Podenura (Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo), serta Desa Maubasa, Maubasa Timur, dan Serandori (Kecamatan Ndori).

Empat Pilar Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat

Program perikanan berbasis masyarakat yang dijalankan oleh Tananua Flores berlandaskan pada empat pilar utama, yaitu:

  1. Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat
    Masyarakat nelayan didorong untuk secara aktif mengelola perikanan melalui pendataan yang sistematis, analisis data, serta implementasi strategi berbasis bukti. Selain itu, nelayan juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga ruang hidup ekosistem perairan dan mengintegrasikan kearifan lokal dalam pengambilan keputusan secara partisipatif.
  2. Mengamankan Hak
    Nelayan dan masyarakat pesisir perlu memahami serta mengamankan hak mereka dalam mengakses, memanfaatkan, dan mengelola lokasi tangkapan serta ekosistem pendukungnya. Selain itu, kelompok pengelola didorong untuk menjalin koordinasi dan advokasi dengan jejaring lainnya guna mempertahankan hak mereka dalam perencanaan dan kebijakan pemerintah daerah maupun nasional.
  3. Inklusif Keuangan
    Masyarakat diberdayakan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga dan usaha, termasuk sistem simpan pinjam kelompok serta akses layanan keuangan dasar untuk menabung, kredit, dan dana darurat. Program ini juga bertujuan untuk mengakui nelayan sebagai bagian dari ekonomi produktif yang berhak mendapatkan perlindungan usaha serta akses terhadap layanan keuangan formal dari lembaga keuangan dan pemerintah.
  4. Ketahanan Pangan
    Masyarakat nelayan diberikan edukasi mengenai pentingnya nilai gizi dalam konsumsi rumah tangga. Selain itu, mereka juga didorong untuk memahami peran spesies bernutrisi dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga serta mengidentifikasi sumber tangkapan yang dapat memberikan manfaat optimal bagi kesehatan dan kedaulatan pangan lokal.

Dengan pendekatan berbasis komunitas ini, diharapkan pengelolaan perikanan di Kabupaten Ende dapat lebih optimal dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir serta menjamin keberlanjutan ekosistem perairan untuk generasi mendatang. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan organisasi pemberdayaan seperti Yayasan Tananua Flores menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan sektor perikanan yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

Program Perikanan Berbasis Masyarakat: Membangun Keberlanjutan dan Kesejahteraan Read More »

Pengembangan Tanaman Pala Berbasis Pangan: Langkah Menuju Pertanian Diversifikasi Berkelanjutan

Shere Sekarang


Lioboto, Detuwulu, Maurole – 17 Januari 2025 Sebuah inisiatif pertanian berkelanjutan mulai berkembang di Dusun Lioboto, Desa Detuwulu, tepatnya di lokasi Seroria. Urbanus Paru Wara, Kepala Desa Detuwulu terpilih, memimpin langkah strategis dengan mengembangkan tanaman pala di kebunnya seluas satu hektare. Pendekatan ini diharapkan menjadi model bagi para petani dalam mempraktikkan pertanian yang efisien dan berkelanjutan.

Pendampingan Strategis
Menurut Ansel Sa, staf program dari Yayasan Tananua Flores yang mendampingi Desa Tou Barat dan Desa Detuwulu, kebun pala ini dirancang dengan menerapkan jarak tanam antar pohon 7 meter x 7 meter. Langkah ini bertujuan untuk:

Optimalisasi Ruang: Setiap pohon mendapatkan sinar matahari, air, dan nutrisi tanah secara merata.

Pencegahan Persaingan Nutrisi: Jarak yang teratur meminimalkan kompetisi antar akar pohon.

Kemudahan Perawatan: Pola tanam ini memudahkan proses pemupukan, penyiangan, dan panen.

Pemilihan Lokasi Strategis
Dusun Lioboto di Seroria dipilih karena kondisi tanah yang subur, iklim yang cocok, dan akses air yang memadai, faktor penting bagi pertumbuhan tanaman pala.

Urbanus Paru Wara menjelaskan bahwa tanaman pala memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar lokal dan internasional. Namun, di Desa Detuwulu, pengelolaannya masih membutuhkan pendekatan strategis. Oleh karena itu, ia berharap kebun pala ini menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi serupa.

Harapan dan Dampak
Pengembangan ini diharapkan membawa dampak positif, seperti:

Konservasi Lahan: Jarak tanam yang terencana menjaga kesuburan tanah.

Pendapatan Berkelanjutan: Tanaman pala menawarkan nilai ekonomi tinggi untuk jangka panjang.

Model Replikasi: Kebun ini dapat menjadi contoh bagi petani lain untuk menerapkan praktik pertanian berkelanjutan.

Urbanus menyampaikan, “Kami ingin menunjukkan bahwa pertanian yang direncanakan dengan baik bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan.”

Langkah yang diambil oleh Urbanus Paru Wara ini membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari tindakan kecil yang terencana dengan baik. Pengembangan kebun pala ini tidak hanya tentang penanaman, tetapi juga harapan untuk masa depan pertanian yang lebih baik di Desa Detuwulu.

Ansel Sa

Pengembangan Tanaman Pala Berbasis Pangan: Langkah Menuju Pertanian Diversifikasi Berkelanjutan Read More »

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman: Berbagi itu Indah

Shere Sekarang

Seleksi Benih untuk Meningkatkan Kualitas Produksi

Seleksi Beni Padi

Ende, Wewaria – 17 Januari 2025. Belajar teknologi pertanian berkelanjutan menjadi kunci untuk meningkatkan produksi hasil panen yang bermutu. Frans Baso menyatakan bahwa pemilihan benih yang baik merupakan langkah awal yang sangat penting untuk memastikan hasil panen yang berkualitas tinggi serta kuantitas yang maksimal. Berikut adalah teknik sederhana yang dapat digunakan oleh petani, bahkan dengan peralatan dan sumber daya yang terbatas.

Tahapan Seleksi Benih

Berdasarkan pengalaman pendampingan staf Tananua Flores, Didin (Rentes) Lamaba menjelaskan bahwa proses seleksi benih melibatkan beberapa tahap berikut:

  1. Seleksi Fisik Benih:
    • Pemilihan dari Panen Sebelumnya: Pilih tanaman yang memiliki hasil terbaik selama musim panen terakhir, misalnya tanaman dengan buah besar, sehat, dan hasil melimpah. Buah atau bagian tanaman ini akan menjadi sumber benih.
    • Pemeriksaan Visual: Benih yang baik memiliki ciri-ciri berikut:
      • Ukuran seragam (tidak terlalu kecil atau cacat).
      • Permukaan mulus dan tidak keriput.
      • Warna cerah sesuai jenisnya.
      • Bebas dari tanda kerusakan atau serangan hama.
  2. Tes Perendaman Sederhana: Rendam benih dalam air bersih. Benih yang mengapung umumnya tidak layak tanam karena mungkin kosong atau ringan, sementara benih yang tenggelam biasanya berkualitas baik.
  3. Uji Daya Tumbuh: Sebelum ditanam, petani disarankan menguji daya tumbuh benih dengan langkah-langkah berikut:
    • Ambil sejumlah kecil benih (50–100 butir).
    • Letakkan di atas kain basah atau tisu yang dibasahi air.
    • Tutup dengan kain lain dan simpan di tempat hangat selama beberapa hari. Pastikan kain tetap lembap, tetapi tidak terlalu basah.
    • Hitung jumlah benih yang berkecambah dalam 5–7 hari. Jika lebih dari 80% benih berkecambah, benih tersebut layak tanam.

Penyimpanan Benih

Kualitas benih juga sangat bergantung pada cara penyimpanan. Teknik sederhana untuk menyimpan benih meliputi:

  • Gunakan wadah kedap udara seperti botol kaca atau kantong plastik tebal.
  • Simpan di tempat sejuk, kering, dan terlindung dari cahaya matahari langsung.
  • Hindari kelembapan tinggi yang dapat menyebabkan jamur atau kerusakan pada benih.

Penerapan Teknik dari Petani ke Petani

Om Frans bersama Ibu dapat menggunakan teknik ini untuk melatih petani lain dalam kelompok melalui metode berbasis praktik langsung (learning by doing), yang lebih mudah dipahami oleh petani. Berikut langkah-langkah pembelajaran berbasis petani ke petani:

  1. Pelatihan Lapangan Sederhana: Ajak petani lain ke ladang Om Frans sebagai lokasi praktik. Perlihatkan proses seleksi benih mulai dari pengumpulan, pemeriksaan fisik, hingga tes perendaman dan daya tumbuh.
  2. Diskusi dan Berbagi Pengalaman: Dorong petani lain berbagi pengalaman mereka tentang teknik seleksi benih yang pernah digunakan. Bandingkan hasil panen dari benih yang diseleksi dengan benih yang tidak melalui proses seleksi.
  3. Distribusi Benih Pilihan: Setelah pelatihan, Om Frans dan Ibu dapat membagikan benih hasil seleksi kepada petani lain sebagai contoh benih berkualitas. Dorong petani untuk meniru proses ini pada panen berikutnya.
  4. Pendokumentasian Hasil: Buat catatan sederhana tentang teknik yang diajarkan, jenis tanaman, jumlah benih yang diseleksi, dan hasil panen. Informasi ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan metode di musim tanam berikutnya.

Manfaat Teknik Sederhana

Dengan menggunakan teknik seleksi benih sederhana ini, para petani dapat:

  • Mengurangi ketergantungan pada benih komersial yang mahal.
  • Meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan.
  • Memiliki benih yang lebih tahan terhadap penyakit dan hama karena berasal dari tanaman lokal yang telah beradaptasi dengan kondisi setempat.
  • Memperkuat ikatan antarpetani melalui pembelajaran berbasis komunitas.

Dengan dukungan dan bimbingan dari Om Frans dan Ibu, teknik ini diharapkan dapat menjadi langkah awal yang kuat dalam meningkatkan produktivitas kelompok tani sekaligus memperkuat keberlanjutan pertanian desa.

Didin Lamaba

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman: Berbagi itu Indah Read More »

Yayasan Tananua Flores Sosialisasikan Program ‘Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga’ di Desa Jeo Dua, Ende

Shere Sekarang

Ende, 22 November 2024 – Yayasan Tananua Flores (YTNF) menggelar sosialisasi program Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga di Desa Jeo Dua, Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende, pada Jumat, 22 November 2024. Kegiatan ini dihadiri oleh 45 peserta dari berbagai elemen masyarakat, termasuk perwakilan Pemerintah Desa Jeo Dua, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Mosalaki, tokoh pendidikan, kesehatan, agama, pemuda, dan perempuan.

Program ini bertujuan untuk memperkenalkan dan memulai proses pendampingan Yayasan Tananua Flores dengan Desa Jeo Dua melalui kerja sama yang resmi. Dalam sambutannya, Benyamin Goza, perwakilan Yayasan Tananua Flores, menekankan pentingnya menjaga dan mengelola sumber daya alam (SDA) secara bijaksana berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal. Ia menegaskan bahwa YTNF, yang telah berkiprah lebih dari 35 tahun di Kabupaten Ende, berkomitmen untuk bekerja sama dengan masyarakat desa dalam mengelola SDA secara berkelanjutan.

Sementara itu Kepala Desa Jeo Dua dalam kesempatan tersebut menyambut baik program ini dan menyatakan dukungannya terhadap upaya Yayasan Tananua Flores. Ia mengajak seluruh masyarakat desa untuk berkolaborasi dalam meningkatkan sektor pertanian serta kegiatan lain yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup di desa.

Benyamin Gosa mewakili dari Tananua dalam memaparkan  materi menekankan ada dua poin yakni

  1. Hak Alam – Menekankan pentingnya pelestarian dan pengelolaan SDA lokal secara berkelanjutan demi generasi mendatang.
  2. Hak Warga – Menggarisbawahi hak masyarakat untuk memanfaatkan SDA secara adil, dengan memperhatikan keseimbangan ekologi dan budaya lokal.

Selain itu, peserta juga diajak berdiskusi mengenai kearifan lokal Desa Jeo Dua, serta bagaimana nilai-nilai budaya desa dapat diintegrasikan dalam pengelolaan SDA yang berkelanjutan.

Diskusi yang berlangsung menghasilkan komitmen bersama dari seluruh pihak untuk bekerja sama dalam merancang peraturan desa yang berfokus pada perlindungan SDA. Lembaga adat dan tokoh masyarakat juga menyatakan dukungan penuh terhadap program ini.

Sebagai langkah awal pendampingan, Yayasan Tananua Flores dan Pemerintah Desa Jeo Dua menandatangani perjanjian kerja sama. Komitmen Desa Jeo Dua tercermin dalam dukungan penuh terhadap program ini, serta dorongan kepada masyarakat untuk memanfaatkan pendampingan YTNF dalam bidang pertanian dan pengelolaan SDA.

Sebagai tindak lanjut, akan dibentuk kelompok kerja desa yang akan mengawal pelaksanaan program ini. Selain itu, pelatihan awal mengenai pengelolaan SDA berbasis kearifan lokal juga direncanakan untuk dilaksanakan dalam waktu dekat.

Benyamin Goza menutup acara dengan pernyataan bahwa peningkatan kapasitas komunitas dalam menjaga dan memanfaatkan SDA secara bijak sangat penting. “Nilai-nilai kearifan lokal yang ada di desa harus menjadi pedoman utama dalam setiap langkah. Yayasan Tananua Flores berkomitmen untuk terus bekerja bersama masyarakat desa untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kepala Desa Jeo Dua juga mengungkapkan rasa terima kasih dan kesiapan desa untuk mendukung segala program yang dibawa oleh Yayasan Tananua Flores. “Kami berharap kehadiran YTNF dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat desa kami,” katanya.

Kontributor : Aris Ratman

Editor : jhuan

Yayasan Tananua Flores Sosialisasikan Program ‘Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga’ di Desa Jeo Dua, Ende Read More »