Hutan untuk Rakyat, Rakyat Menjaga Hutan: Semangat Perhutanan Sosial Tumbuh di Kabupaten Ende

Shere Sekarang

Ende, NTT – Tananua Flores | Kesadaran masyarakat untuk menjaga hutan dan lingkungan hidup terus menunjukkan perkembangan positif di Kabupaten Ende. Hal ini terlihat dalam rangkaian kegiatan Sosialisasi Perhutanan Sosial yang dilaksanakan oleh Yayasan Tananua Flores bekerja sama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Ende di tiga desa sasaran, yaitu Desa Tonggopapa (Kecamatan Ende) serta Desa Detubela dan Desa Wolooja (Kecamatan Wewaria).

Kegiatan itu berlangsung pada tanggal 30 Maret, 7 dan 26 Mei 2026 menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat, pemerintah desa, tokoh adat (Mosalaki), kelompok tani, perempuan, pemuda, dan berbagai unsur masyarakat lainnya. Selain itu Sosialisasi untuk memahami peluang serta manfaat program Perhutanan Sosial dalam mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan.

Perhutanan Sosial merupakan kebijakan pemerintah yang memberikan akses legal kepada masyarakat untuk mengelola kawasan hutan secara berkelanjutan. Melalui sosialisasi ini, masyarakat memperoleh pemahaman mengenai berbagai skema yang tersedia, seperti Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Kemitraan Kehutanan, hingga Hutan Adat.

Namun, kegiatan ini tidak hanya membahas regulasi dan prosedur pengelolaan kawasan hutan. Proses diskusi yang berlangsung di ketiga desa juga berhasil menggali kembali sejarah kampung, sejarah wilayah adat, serta berbagai pengetahuan lokal yang selama ini menjadi fondasi masyarakat dalam menjaga alam dan sumber penghidupan mereka.

Di Desa Tonggopapa, diskusi berlangsung dinamis dengan keterlibatan aktif para tokoh adat. Mereka menegaskan bahwa masyarakat bukanlah ancaman bagi hutan, melainkan bagian penting dari upaya pelestariannya.

“Kami bukan ancaman bagi hutan. Kami adalah penjaga hutan yang hidup bersama alam dan bertanggung jawab mewariskannya kepada generasi berikutnya,” menjadi semangat yang mengemuka dalam pertemuan tersebut.

Sementara itu, antusiasme masyarakat Desa Detubela terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul terkait akses legal terhadap kawasan hutan. Sebagian besar peserta baru mengetahui bahwa pemerintah menyediakan ruang bagi masyarakat untuk mengelola kawasan hutan secara sah melalui skema Perhutanan Sosial. Berbagai pertanyaan disampaikan, mulai dari batas kawasan hutan, prosedur pengusulan izin, hingga peluang ekonomi yang dapat dikembangkan melalui program tersebut.

Di Desa Wolooja, suasana diskusi diwarnai dengan cerita-cerita sejarah yang disampaikan para Mosalaki dan tokoh adat. Mereka mengisahkan asal-usul kampung, perjalanan wilayah adat, serta aturan adat yang hingga kini masih dijalankan untuk menjaga sumber air, kawasan hutan, dan ketahanan pangan masyarakat. Cerita-cerita tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai adat masih memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam.

Kepala KPH Kabupaten Ende, Yos Dasi Muda, S.Hut., M.Si., menegaskan bahwa keberhasilan Perhutanan Sosial tidak hanya ditentukan oleh terbitnya izin pengelolaan, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pihak dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi masyarakat, kelestarian lingkungan, dan keberlangsungan budaya lokal.

Dari rangkaian kegiatan ini, masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai konsep Perhutanan Sosial. Selain itu, terbangun ruang dialog yang lebih terbuka antara masyarakat dan pemerintah, serta teridentifikasinya berbagai praktik baik dalam pengelolaan sumber daya alam.

Beberapa praktik baik yang ditemukan antara lain perlindungan mata air, larangan menebang pohon di sekitar sumber air, larangan membuka lahan di daerah rawan longsor, serta berbagai ritual adat yang mendukung upaya konservasi lingkungan.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi. Di antaranya adalah keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai prosedur pengusulan izin Perhutanan Sosial, belum jelasnya batas kawasan hutan yang dikelola masyarakat, serta mulai berkurangnya praktik-praktik budaya yang selama ini berfungsi sebagai instrumen konservasi lingkungan.

Sebagai tindak lanjut, masyarakat, pemerintah desa, tokoh adat, KPH Kabupaten Ende, dan Yayasan Tananua Flores sepakat untuk memperkuat koordinasi dalam pengelolaan sumber daya alam, mempertahankan nilai-nilai adat yang mendukung pelestarian lingkungan, serta melakukan pendampingan lanjutan dalam proses pengusulan Perhutanan Sosial.

Ke depan, berbagai langkah strategis akan dilakukan, di antaranya pemetaan partisipatif wilayah adat dan wilayah kelola masyarakat, penguatan kapasitas kelompok masyarakat, serta pengembangan model pengelolaan hutan yang mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi tanpa mengorbankan fungsi ekologis kawasan.

Manager Program Yayasan Tananua Flores, Heribertus Se, menegaskan bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga pendamping merupakan kunci keberhasilan Perhutanan Sosial.

Menurutnya, di tengah berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks, komitmen yang ditunjukkan masyarakat di Tonggopapa, Detubela, dan Wolooja menjadi bukti bahwa masa depan hutan dapat dijaga ketika masyarakat diberikan ruang, kepercayaan, dan kesempatan untuk mengelolanya secara bertanggung jawab.

“Kegiatan sosialisasi ini menjadi momentum penting untuk membangun pemahaman masyarakat terhadap berbagai regulasi di bidang kehutanan. Masyarakat perlu mengetahui berbagai skema pengelolaan lingkungan hidup agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam menjaga sumber daya alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujarnya.

Masyarakat di ketiga desa menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut. Mereka berharap pemahaman yang telah diperoleh dapat ditindaklanjuti melalui kerja-kerja kolaboratif yang nyata untuk menjaga kelestarian alam sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.

Perhutanan Sosial pada akhirnya bukan sekadar program pemberian akses kelola hutan, melainkan sebuah jalan menuju pengelolaan sumber daya alam yang lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat lokal. Pengalaman dari Tonggopapa, Detubela, dan Wolooja menunjukkan bahwa ketika masyarakat dilibatkan sebagai pelaku utama, hutan tidak hanya dapat terjaga, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan bagi generasi sekarang dan yang akan datang.***

Kontributor : Herman N Lion

Hutan untuk Rakyat, Rakyat Menjaga Hutan: Semangat Perhutanan Sosial Tumbuh di Kabupaten Ende Read More »

Pertanian Organik di Mautenda Barat: Dari Uji Coba Menuju Gerakan Berkelanjutan

Shere Sekarang

Oleh : Redaksi Tananua Flores

Ende, Mautenda Barat – Tananua Flores| Panen kedua padi sawah di Desa Mautenda Barat pada 25 April 2026 lalu, bukan sekedar capaian produksi, tetapi sebuah penanda penting bahwa perubahan paradigma pertanian sedang berlangsung.

Kajian partisipatif penggunaan pupuk organik yang melibatkan petani, akademisi, pemerintah, dan lembaga pendamping menunjukkan hasil yang signifikan.

Namun pertanyaannya: apakah keberhasilan ini akan berhenti sebagai proyek, atau berkembang menjadi gerakan yang berkelanjutan?

Desa Mautenda Barat kini dapat dilihat sebagai “laboratorium hidup” bagi pengembangan pertanian organik.

Melalui kolaborasi antara Yayasan Tananua Flores, Universitas Flores, kelompok tani, serta pemerintah daerah, dilakukan uji coba pada padi sawah dengan tiga pendekatan: penggunaan pupuk organik, pupuk kimia, dan tanpa perlakuan sebagai pembanding.

Pendekatan ini penting karena tidak hanya berbicara tentang hasil, tetapi juga tentang proses pembelajaran bersama. Petani tidak lagi menjadi objek, melainkan subjek yang terlibat aktif dalam setiap tahapan mulai dari persiapan lahan hingga panen.

Hasil panen kedua yang dinilai “sangat signifikan” oleh akademisi menunjukkan bahwa metode organik bukan sekadar alternatif, tetapi bisa menjadi solusi nyata. ungkap Yustina Pu’ u Dosen Fakultas pertanian universitas Flores

Namun demikian, menurutnya kajian ini juga mengungkap realitas yang lebih kompleks. Tantangan hama, keterbatasan pengetahuan teknis, serta ketergantungan pada input luar masih menjadi persoalan yang harus diselesaikan secara sistematis.

Ia menyanyikan bahwa Analisis dilakukan diambil dar data lapangan hasil pencatatan dan pemantauan langsung dari mahasiswa dan juga staf Tananua dan Penyulu pertanian kabupaten Ende. Dari Beberapa Aspek dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan dan ini perlu terus berlanjut.

Selain itu hal lain ada beberapa Aspek yang ditemukan dalam dinamika kelompok tani di Mautenda Barat untuk menentukan masa depan pertanian organik.

Pertama, aspek ekologis.Penggunaan pupuk dan pestisida organik terbukti lebih ramah lingkungan. Dalam jangka panjang, pendekatan ini tidak hanya menjaga kesuburan tanah tetapi juga melindungi ekosistem. Ini menjadi penting di tengah ancaman degradasi lahan akibat praktik pertanian konvensional berbasis kimia.

Kedua, aspek ekonomi.Pertanian organik sering dianggap kurang menguntungkan dalam jangka pendek. Namun jika dilihat secara menyeluruh, biaya produksi dapat ditekan karena memanfaatkan sumber daya lokal. Tantangan utamanya justru terletak pada akses pasar dan modal, sebagaimana diakui oleh Yosep Benediktus Badioda. Tanpa sistem pemasaran yang kuat, hasil pertanian organik berisiko tidak memiliki nilai tambah yang memadai.

Ketiga, aspek kelembagaan.Kritik yang disampaikan RD. Safan mengenai lemahnya pengawasan program pembangunan desa menjadi catatan penting. Banyak program masuk, tetapi tidak semuanya berlanjut.

Ini menunjukkan bahwa keberhasilan pertanian organik tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berorientasi jangka panjang.

Antara Harapan dan Tantangan Nyata

Apa yang terjadi di Mautenda Barat memberi harapan bahwa transformasi pertanian bisa dimulai dari desa. Namun harapan ini harus diiringi dengan langkah konkret.

Pertama, pemerintah daerah perlu memastikan keberlanjutan program melalui kebijakan yang konsisten. Komitmen untuk memperkuat BUMDes, koperasi, hingga pembentukan BUMD untuk pemasaran hasil pertanian harus segera diwujudkan dalam langkah nyata, bukan sekadar wacana.

Kedua, peningkatan kapasitas petani menjadi kunci. Pelatihan tidak boleh bersifat seremonial, tetapi harus berkelanjutan dan berbasis kebutuhan lapangan. Petani perlu didampingi untuk memahami teknik pengendalian hama organik, manajemen usaha tani, hingga akses pasar.

Ketiga, kolaborasi lintas sektor harus diperkuat. Model kerja sama yang telah dibangun di Mautenda Barat perlu direplikasi di wilayah lain, dengan tetap menyesuaikan kondisi lokal.

Mautenda Barat telah menunjukkan bahwa pertanian organik bukan sekadar konsep, tetapi praktik yang dapat memberikan hasil nyata. Namun keberlanjutan menjadi kata kunci. Tanpa komitmen bersama, keberhasilan ini berisiko menjadi sekadar cerita sesaat.

Editorial ini berpandangan bahwa langkah selanjutnya adalah mentransformasi kajian partisipatif ini menjadi gerakan kolektif. Pertanian organik harus ditempatkan sebagai strategi utama pembangunan desa bukan hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga untuk menjaga lingkungan, memperkuat ekonomi lokal, dan memastikan masa depan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang***

Pertanian Organik di Mautenda Barat: Dari Uji Coba Menuju Gerakan Berkelanjutan Read More »

Panen ke Dua Padi Sawah Organik Desa Mautenda Barat Tunjukan Hasil Signifikan, Dorong Pertanian Berkelanjutan

Shere Sekarang

Ende, Mautenda Barat, – Tananua Flores| Panen kedua padi sawah hasil kajian partisipatif penggunaan pupuk organik di Desa Mautenda Barat Sabtu 25 April 2025 menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong praktik pertanian berkelanjutan berbasis ramah lingkungan dan kemandirian petani.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Flores, Yustina Pu’u, menjelaskan bahwa kajian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi tanah serta kandungan unsur hara sebagai dasar pengelolaan pertanian yang lebih tepat.

“Panen kedua ini menunjukkan hasil yang sangat signifikan. Namun kegiatan ini tidak boleh berhenti sampai di sini, harus ada keberlanjutan dalam kajian partisipatif penggunaan pupuk organik,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi petani, terutama terkait serangan hama yang perlu ditangani secara berkelanjutan dan terpadu.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende menyampaikan bahwa secara nasional Indonesia tengah mendorong swasembada pangan. Kabupaten Ende pun dituntut untuk berkontribusi melalui pengembangan lahan pertanian.

“Secara nasional kita diminta mengembangkan sekitar 400 hektare lahan untuk pangan,” ungkapannya.

Dalam kesempatan yang sama, RD. Safan pastor Kuasi paroki Tanali menyoroti pentingnya tata kelola pembangunan desa yang transparan dan berkelanjutan. Ia meminta pemerintah daerah membentuk tim audit untuk mengawasi seluruh proses pembangunan yang masuk ke desa.

Menurutnya, banyak bantuan dan program pemerintah yang telah masuk, namun belum jelas keberlanjutannya. Ia juga menekankan pentingnya pelatihan bagi petani serta sistem pengawasan yang kuat agar setiap program berjalan efektif dan berkelanjutan.

Bupati Ende, Yosep Benediktus Badioda, dalam sambutannya menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap pembangunan berkelanjutan.

“Pembangunan yang kita lakukan harus terukur dan memiliki mimpi keberlanjutan, baik di kota maupun di desa,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh merusak lingkungan.

Menurutnya, pembangunan harus mampu menyatukan, merawat, menguatkan, dan meneguhkan seluruh elemen masyarakat.Bupati juga mengakui bahwa sektor pertanian saat ini mendapat perhatian besar dari pemerintah pusat dengan dukungan anggaran yang cukup besar.

Namun demikian, kesiapan masyarakat, termasuk perubahan pola pikir dan visi pembangunan pertanian, menjadi faktor kunci keberhasilan.

Selain itu, ia menyoroti tantangan utama dalam sektor pertanian, yakni akses permodalan dan pasar. Untuk menjawab hal tersebut, pemerintah berkomitmen dalam tiga tahun ke depan akan memperkuat BUMDes, mempercepat pembentukan Koperasi Merah Putih, serta membentuk BUMD guna membantu pemasaran hasil pertanian.

Direktur Yayasan Tananua Flores, Bernadus Sambut, menjelaskan bahwa pendekatan pertanian organik menjadi pilihan strategis dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

“Fakta di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan bahan kimia belum mampu mengubah kehidupan petani secara signifikan. Sebaliknya, teknologi ramah lingkungan seperti pupuk dan pestisida organik menunjukkan hasil yang menggembirakan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa program ini dilaksanakan melalui kerja sama antara Yayasan Tananua Flores, Kelompok Tani Satae, Pemerintah Desa Mautenda Barat, Fakultas Pertanian Universitas Flores, Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Ende, serta Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Wewaria.

Uji coba dilakukan pada tanaman padi sawah dengan membandingkan penggunaan pupuk organik, pupuk kimia, serta tanpa perlakuan sebagai kontrol. Seluruh tahapan dilakukan secara partisipatif mulai dari persiapan lahan hingga panen.

Kegiatan ini diharapkan menjadi model pengembangan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Ende, sekaligus mendorong kemandirian petani melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang ramah lingkungan.***

Oleh: Jhuan Mari

Panen ke Dua Padi Sawah Organik Desa Mautenda Barat Tunjukan Hasil Signifikan, Dorong Pertanian Berkelanjutan Read More »

Menabung dari Laut, Berbagi Sukacita Menjelang Lebaran

Shere Sekarang

Kisah Kelompok Simpan Pinjam Watukaka di Dusun Ippi

Ende, Ndori _ Tananua Flores |09 Maret 2026, Malam itu suasana di Dusun Ippi, Desa Serandori, Kecamatan Ndori terasa berbeda. Tawa kecil dan percakapan hangat terdengar dari rumah tempat anggota Kelompok Simpan Pinjam Watukaka berkumpul. Di tangan mereka ada buku catatan kecil, daftar simpanan, dan secercah harapan yang akhirnya menjadi nyata.

Hari itu bukan sekadar pertemuan biasa. Hari itu adalah momen share out saat ketika tabungan yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit akhirnya dibagikan kembali kepada para anggota, tepat menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya pembagian tabungan. Namun bagi anggota kelompok Watukaka, momen ini adalah buah dari kesabaran, disiplin, dan kebersamaan yang mereka bangun selama bertahun-tahun.

Kelompok Watukaka merupakan salah satu kelompok dampingan Tananua yang berdomisili di Dusun Ippi. Anggotanya terdiri dari nelayan, istri nelayan, serta enumerator perikanan. Kelompok ini dibentuk pada tahun 2022 dan mulai menjalankan kegiatan simpan pinjam pada September 2023.

Namun perjalanan menuju hari bahagia itu tidak selalu mudah. Di awal pembentukannya, kelompok ini memiliki 25 anggota untuk terlibat dalam pengelolaan perikanan. Dalam perjalanan 16 anggota terlibat dalam aktivitas simpan pinjam. Seiring waktu, berbagai keraguan muncul. Ada yang ragu apakah kegiatan menabung bersama benar-benar bisa berjalan lama. Ada pula yang merasa sulit menyisihkan uang di tengah kehidupan keluarga nelayan yang penghasilannya tidak selalu menentu.

Pelan-pelan jumlah anggota yang bertahan menjadi 10 orang. Tetapi justru dari sepuluh orang inilah komitmen itu tumbuh semakin kuat.

Mereka mulai belajar satu hal penting: menyisihkan sedikit penghasilan hari ini dapat menjadi penolong di hari esok. Kebiasaan menabung dalam kelompok mulai dirasakan manfaatnya. Ketika ada kebutuhan mendesak biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, atau perbaikan perahu anggota dapat meminjam dari kelompok sendiri tanpa harus bergantung pada koperasi mingguan yang biasanya mengenakan bunga cukup besar.

Sedikit demi sedikit tabungan itu terkumpul. Bulan demi bulan berlalu.

Hingga akhirnya, setelah hampir dua tahun menabung, kelompok Watukaka melaksanakan kegiatan share out pertama sesuai dengan SOP kelompok, yaitu pembagian tabungan secara periodik kepada seluruh anggota.

Momen ini terasa semakin istimewa karena dilaksanakan menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026.

Dalam pertemuan tersebut, pengurus kelompok menyampaikan laporan keuangan secara terbuka. Setiap angka dibacakan dengan jelas: jumlah tabungan yang terkumpul, hasil jasa kelompok, serta total dana yang akan diterima oleh masing-masing anggota sesuai dengan simpanan mereka. Transparansi ini menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan di antara anggota.

Ketika nama demi nama dipanggil untuk menerima bagiannya, wajah-wajah bahagia tak bisa disembunyikan. Tabungan yang terkumpul dari disiplin kecil setiap bulan kini berubah menjadi sesuatu yang nyata sesuatu yang dapat membantu mereka menyambut hari raya dengan lebih tenang.

Sahari Hamzah, salah satu anggota kelompok, mengungkapkan rasa syukurnya.

“Kami sangat bersyukur bisa menabung bersama di Kelompok Watukaka. Dengan adanya share out ini, kami bisa menggunakan tabungan untuk kebutuhan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Selama ini kami juga sangat terbantu karena bisa meminjam dari kelompok ketika ada kebutuhan keluarga yang mendesak. Kegiatan ini membuat kami lebih disiplin menabung,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan oleh Dasima, seorang ibu rumah tangga yang juga merupakan istri nelayan. Bagi dirinya, kelompok simpan pinjam ini bukan hanya tempat menabung, tetapi juga tempat belajar mengatur keuangan keluarga.

“Melalui kelompok ini kami belajar menabung sedikit demi sedikit. Kadang kami juga meminjam untuk kebutuhan darurat, seperti biaya sekolah anak atau memperbaiki sampan. Saat share out seperti ini kami merasa sangat senang karena hasil tabungan bisa membantu kebutuhan keluarga saat hari raya,” katanya dengan senyum.

Suasana pertemuan sore itu dipenuhi rasa syukur dan kebersamaan. Bagi anggota kelompok Watukaka, kegiatan share out bukan sekadar pembagian uang. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bukti bahwa kebersamaan dan disiplin kecil dapat membawa perubahan nyata dalam kehidupan keluarga mereka. Kini kelompok Watukaka telah melanjutkan kegiatan simpan pinjam ke siklus kedua. Bahkan mereka sepakat meningkatkan jumlah simpanan wajib. Jika sebelumnya simpanan wajib sebesar Rp20.000 dan dana sosial Rp5.000 per bulan, kini simpanan wajib ditingkatkan menjadi Rp45.000 per bulan, sementara dana sosial tetap Rp5.000.  Semoga Bermanfaat,***

Ditulis oleh : Agnes Ngura/ Pendamping di site Ndori

Menabung dari Laut, Berbagi Sukacita Menjelang Lebaran Read More »

Kripik Talas dan Harapan Baru Perempuan Mbobhenga

Shere Sekarang
Dok.Kripik Hasil Kerja Kelompok Perempuan Desa Mbobhenga

Perubahan besar kadang lahir dari hal-hal yang tampak kecil. Di Desa Mbobhenga, Kabupaten Ende, perubahan itu dimulai dari talas yang digoreng di dapur-dapur rumah warga. Dari kegiatan sederhana memproduksi kripik talas, sekelompok perempuan desa kini mulai membuka jalan baru menuju kemandirian ekonomi”.

Ende, Mbobhenga – Tananua Flores | Pemberdayaan perempuan telah lama menjadi bagian dari wacana pembangunan di Indonesia. Sejak diperkenalkan secara luas pada awal 1990-an oleh berbagai organisasi masyarakat sipil, diperkuat melalui berbagai forum global tentang kesetaraan gender, hingga menjadi bagian dari kebijakan pembangunan nasional di era Reformasi, konsep ini terus mendapat perhatian. Namun dalam praktiknya, pemberdayaan sering kali berhenti pada tingkat program atau proyek jangka pendek. Banyak kegiatan pelatihan digelar, bantuan diberikan, laporan dibuat, tetapi perubahan nyata di tingkat komunitas tidak selalu terlihat.

Di tengah dinamika tersebut, pengalaman kecil dari Desa Mbobhenga di Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, memberikan pelajaran penting tentang bagaimana pemberdayaan dapat bekerja secara nyata. Perubahan yang terjadi di desa ini tidak datang dari proyek besar atau investasi yang mahal. Ia tumbuh dari langkah sederhana yang dilakukan oleh sekelompok perempuan desa yang mulai mengolah talas menjadi kripik.

Desa Mbobhenga berada di wilayah pegunungan dengan potensi alam yang cukup kaya. Berbagai komoditas perkebunan seperti cengkeh, pala, kemiri, dan kopi tumbuh dengan baik di wilayah ini. Tanaman pangan seperti talas juga mudah ditemukan di lahan-lahan masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, akses infrastruktur di desa ini mulai membaik. Listrik sudah tersedia, jaringan telekomunikasi semakin menjangkau wilayah pedesaan, dan jalan penghubung antarwilayah perlahan berkembang.

Namun seperti banyak desa lainnya di Indonesia, potensi alam tidak selalu otomatis menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Tanpa pengelolaan yang tepat, sumber daya lokal sering hanya menjadi potensi yang belum tergarap. Masyarakat menjual hasil pertanian dalam bentuk bahan mentah dengan nilai tambah yang rendah, sementara peluang untuk mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi belum banyak dimanfaatkan.

Di sisi lain, perempuan di pedesaan masih menghadapi berbagai hambatan struktural. Budaya patriarki yang kuat sering membatasi ruang perempuan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi dan pengambilan keputusan. Beban kerja ganda dalam rumah tangga, keterbatasan akses pelatihan, serta minimnya kesempatan untuk mengembangkan usaha menjadi tantangan yang umum ditemui.

Dalam konteks inilah pendekatan pemberdayaan perempuan menjadi penting. Di Dusun Orakose, Desa Mbobhenga, lima belas ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Tani Setia memulai sebuah langkah kecil yang kemudian berkembang menjadi harapan baru. Mereka mencoba memproduksi kripik talas sebagai usaha ekonomi rumah tangga.

Pilihan talas sebagai bahan baku bukan tanpa alasan. Tanaman ini mudah ditemukan di desa, biaya produksinya relatif rendah, dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk olahan yang diminati pasar. Di tengah berkembangnya sektor pariwisata di Kabupaten Ende dan wilayah Flores secara umum, produk pangan lokal memiliki peluang untuk dipasarkan kepada wisatawan maupun masyarakat perkotaan yang mulai tertarik pada produk tradisional.

Namun memulai usaha bukan perkara mudah. Para ibu di Orakose pada awalnya belum memiliki pengalaman dalam pengolahan produk pangan secara komersial. Pengetahuan tentang manajemen usaha, perhitungan biaya produksi, serta strategi pemasaran masih sangat terbatas. Tanpa dukungan yang tepat, inisiatif kecil seperti ini berisiko berhenti di tengah jalan.

Pendampingan dari organisasi masyarakat sipil kemudian menjadi faktor penting dalam proses ini. Yayasan Tananua Flores hadir mendampingi kelompok perempuan tersebut melalui serangkaian pelatihan dan penguatan kapasitas. Para anggota kelompok dilatih untuk meningkatkan kualitas produksi, memperbaiki teknik pengemasan, serta memahami cara menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual produk.

Pendampingan juga dilakukan dalam hal penguatan organisasi kelompok. Para ibu didorong untuk bekerja secara kolektif, membagi peran dalam proses produksi, serta merencanakan pengembangan usaha secara bersama. Selain itu, kelompok juga mulai diperkenalkan pada peluang pemasaran melalui media sosial dan jaringan pasar lokal.

Hasilnya mulai terlihat. Produk kripik talas yang dihasilkan oleh kelompok perempuan di Orakose kini mulai dipasarkan di tingkat kabupaten. Meskipun skalanya masih kecil, kegiatan ini memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga sekaligus membuka ruang baru bagi perempuan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi produktif.

Lebih dari sekadar kegiatan ekonomi, proses ini membawa perubahan sosial yang penting. Para perempuan yang sebelumnya hanya terlibat dalam aktivitas domestik kini mulai memiliki ruang untuk belajar, berdiskusi, dan mengambil keputusan bersama. Mereka belajar menghitung keuntungan, memahami pasar, serta mengembangkan kepercayaan diri sebagai pelaku usaha.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dari program yang besar dan kompleks. Perubahan dapat dimulai dari langkah kecil yang relevan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Ketika masyarakat terlibat secara aktif dan memiliki rasa kepemilikan terhadap kegiatan yang dijalankan, proses pemberdayaan menjadi lebih berkelanjutan.

Tentu saja perjalanan kelompok perempuan di Mbobhenga masih menghadapi berbagai tantangan. Keterbatasan modal usaha masih menjadi hambatan utama dalam meningkatkan kapasitas produksi. Proses pengurusan izin usaha dan legalitas produk juga memerlukan waktu serta dukungan dari berbagai pihak. Selain itu, akses distribusi ke pasar yang lebih luas masih perlu diperkuat agar produk lokal dapat bersaing dengan produk industri yang lebih besar.

Di sinilah peran pemerintah daerah menjadi sangat penting. Dukungan kebijakan yang berpihak pada usaha mikro dan kecil dapat membantu kelompok-kelompok usaha masyarakat berkembang lebih jauh. Program pelatihan, akses permodalan, kemudahan perizinan, serta dukungan pemasaran melalui jaringan pasar daerah dapat menjadi faktor penentu keberlanjutan usaha seperti ini.

Desa Mbobhenga memberikan pelajaran bahwa pemberdayaan yang efektif membutuhkan kolaborasi antara masyarakat, organisasi pendamping, dan pemerintah. Ketika ketiga unsur ini bekerja bersama, potensi lokal yang sebelumnya terabaikan dapat berkembang menjadi sumber kekuatan ekonomi baru bagi desa.

Kripik talas yang diproduksi oleh kelompok perempuan di Orakose mungkin terlihat sederhana. Namun di balik produk kecil tersebut tersimpan cerita tentang keberanian untuk mencoba, semangat untuk belajar, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Dari dapur-dapur sederhana di desa, perempuan Mbobhenga sedang membangun jalan baru menuju kemandirian ekonomi.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari kota-kota besar atau proyek-proyek raksasa. Kadang-kadang, perubahan justru tumbuh dari desa-desa kecil yang perlahan menemukan kekuatannya sendiri. Jika inisiatif seperti ini terus didukung dan direplikasi di berbagai daerah, maka pemberdayaan perempuan tidak lagi sekadar wacana pembangunan, melainkan menjadi gerakan nyata menuju kesejahteraan masyarakat.

Oleh: Anselmus Kaki Reku, S.Sos
Staf Lapangan Tananua Flores

Kripik Talas dan Harapan Baru Perempuan Mbobhenga Read More »