Pertanian Organik di Mautenda Barat: Dari Uji Coba Menuju Gerakan Berkelanjutan

Shere Sekarang

Oleh : Redaksi Tananua Flores

Ende, Mautenda Barat – Tananua Flores| Panen kedua padi sawah di Desa Mautenda Barat pada 25 April 2026 lalu, bukan sekedar capaian produksi, tetapi sebuah penanda penting bahwa perubahan paradigma pertanian sedang berlangsung.

Kajian partisipatif penggunaan pupuk organik yang melibatkan petani, akademisi, pemerintah, dan lembaga pendamping menunjukkan hasil yang signifikan.

Namun pertanyaannya: apakah keberhasilan ini akan berhenti sebagai proyek, atau berkembang menjadi gerakan yang berkelanjutan?

Desa Mautenda Barat kini dapat dilihat sebagai “laboratorium hidup” bagi pengembangan pertanian organik.

Melalui kolaborasi antara Yayasan Tananua Flores, Universitas Flores, kelompok tani, serta pemerintah daerah, dilakukan uji coba pada padi sawah dengan tiga pendekatan: penggunaan pupuk organik, pupuk kimia, dan tanpa perlakuan sebagai pembanding.

Pendekatan ini penting karena tidak hanya berbicara tentang hasil, tetapi juga tentang proses pembelajaran bersama. Petani tidak lagi menjadi objek, melainkan subjek yang terlibat aktif dalam setiap tahapan mulai dari persiapan lahan hingga panen.

Hasil panen kedua yang dinilai “sangat signifikan” oleh akademisi menunjukkan bahwa metode organik bukan sekadar alternatif, tetapi bisa menjadi solusi nyata. ungkap Yustina Pu’ u Dosen Fakultas pertanian universitas Flores

Namun demikian, menurutnya kajian ini juga mengungkap realitas yang lebih kompleks. Tantangan hama, keterbatasan pengetahuan teknis, serta ketergantungan pada input luar masih menjadi persoalan yang harus diselesaikan secara sistematis.

Ia menyanyikan bahwa Analisis dilakukan diambil dar data lapangan hasil pencatatan dan pemantauan langsung dari mahasiswa dan juga staf Tananua dan Penyulu pertanian kabupaten Ende. Dari Beberapa Aspek dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan dan ini perlu terus berlanjut.

Selain itu hal lain ada beberapa Aspek yang ditemukan dalam dinamika kelompok tani di Mautenda Barat untuk menentukan masa depan pertanian organik.

Pertama, aspek ekologis.Penggunaan pupuk dan pestisida organik terbukti lebih ramah lingkungan. Dalam jangka panjang, pendekatan ini tidak hanya menjaga kesuburan tanah tetapi juga melindungi ekosistem. Ini menjadi penting di tengah ancaman degradasi lahan akibat praktik pertanian konvensional berbasis kimia.

Kedua, aspek ekonomi.Pertanian organik sering dianggap kurang menguntungkan dalam jangka pendek. Namun jika dilihat secara menyeluruh, biaya produksi dapat ditekan karena memanfaatkan sumber daya lokal. Tantangan utamanya justru terletak pada akses pasar dan modal, sebagaimana diakui oleh Yosep Benediktus Badioda. Tanpa sistem pemasaran yang kuat, hasil pertanian organik berisiko tidak memiliki nilai tambah yang memadai.

Ketiga, aspek kelembagaan.Kritik yang disampaikan RD. Safan mengenai lemahnya pengawasan program pembangunan desa menjadi catatan penting. Banyak program masuk, tetapi tidak semuanya berlanjut.

Ini menunjukkan bahwa keberhasilan pertanian organik tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berorientasi jangka panjang.

Antara Harapan dan Tantangan Nyata

Apa yang terjadi di Mautenda Barat memberi harapan bahwa transformasi pertanian bisa dimulai dari desa. Namun harapan ini harus diiringi dengan langkah konkret.

Pertama, pemerintah daerah perlu memastikan keberlanjutan program melalui kebijakan yang konsisten. Komitmen untuk memperkuat BUMDes, koperasi, hingga pembentukan BUMD untuk pemasaran hasil pertanian harus segera diwujudkan dalam langkah nyata, bukan sekadar wacana.

Kedua, peningkatan kapasitas petani menjadi kunci. Pelatihan tidak boleh bersifat seremonial, tetapi harus berkelanjutan dan berbasis kebutuhan lapangan. Petani perlu didampingi untuk memahami teknik pengendalian hama organik, manajemen usaha tani, hingga akses pasar.

Ketiga, kolaborasi lintas sektor harus diperkuat. Model kerja sama yang telah dibangun di Mautenda Barat perlu direplikasi di wilayah lain, dengan tetap menyesuaikan kondisi lokal.

Mautenda Barat telah menunjukkan bahwa pertanian organik bukan sekadar konsep, tetapi praktik yang dapat memberikan hasil nyata. Namun keberlanjutan menjadi kata kunci. Tanpa komitmen bersama, keberhasilan ini berisiko menjadi sekadar cerita sesaat.

Editorial ini berpandangan bahwa langkah selanjutnya adalah mentransformasi kajian partisipatif ini menjadi gerakan kolektif. Pertanian organik harus ditempatkan sebagai strategi utama pembangunan desa bukan hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga untuk menjaga lingkungan, memperkuat ekonomi lokal, dan memastikan masa depan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang***

Pertanian Organik di Mautenda Barat: Dari Uji Coba Menuju Gerakan Berkelanjutan Read More »

Data sebagai Fondasi Kebijakan: Arah Baru Pembangunan Pesisir Ndori

Shere Sekarang

Ende, Ndori- Tananua Flores | Pelaksanaan feedback data perikanan gurita dan ikan bersirip di Kecamatan Ndori pada 12 Februari 2025 bukan sekadar agenda rutin triwulanan. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Camat Ndori dan dibuka langsung oleh Camat Ndori, Bapak Fidelis Sobha, S.IP., menjadi momentum penting yang menegaskan satu hal mendasar: data telah menjadi instrumen strategis dalam menentukan arah pembangunan wilayah pesisir.

Apresiasi Pemerintah Kecamatan Ndori kepada Yayasan Tananua menunjukkan adanya pola kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah dan masyarakat sipil. Pendampingan yang dilakukan bersama mitra seperti Bluventures tidak hanya berhenti pada pengumpulan data, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Data Mengubah Arah Kebijakan

Salah satu bukti paling konkret dari kekuatan data adalah ketika hasil presentasi yang disampaikan pada kunjungan Bupati bulan Agustus lalu berujung pada penetapan Kecamatan Ndori sebagai lokasi pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih tahun ini. Ini menunjukkan bahwa data yang akurat dan terukur mampu mendorong advokasi kebijakan hingga tingkat kabupaten.

Dalam konteks pembangunan daerah seperti di Kecamatan Ndori, data bukan hanya angka statistik. Ia menjadi dasar legitimasi untuk pengambilan keputusan, pengalokasian anggaran, dan penentuan prioritas pembangunan, sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Ende yang memprioritaskan sektor kelautan.

Membaca Tren: Penurunan yang Kontekstual

Secara kuantitatif, tren tiga bulan terakhir memang menunjukkan penurunan signifikan:

  • November ke Desember:
    Tangkapan turun ±54,7%, pendapatan turun ±15,3%.
  • Desember ke Januari:
    Tangkapan turun ±54,8%, pendapatan turun ±75%.
  • Akumulatif November–Januari:
    Tangkapan turun ±79,5%, pendapatan turun ±78,9%.

Angka-angka tersebut, jika dibaca secara parsial, dapat memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan stok sumber daya. Namun, analisis kontekstual menunjukkan bahwa faktor utama penurunan adalah kondisi cuaca ekstrem gelombang tinggi dan angin kencang yang membatasi aktivitas melaut.

Pernyataan perwakilan nelayan, Bapak Muhamad Hasan, mempertegas bahwa dinamika tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor musim. Dengan demikian, interpretasi data tidak boleh dilepaskan dari variabel lingkungan dan siklus musiman. Inilah pentingnya pendekatan ilmiah dan monitoring habitat yang kini telah berjalan lebih sistematis.

Gambaran Tiga Tahun: Fondasi yang Kuat

Jika dilihat dalam rentang tiga tahun terakhir, pengelolaan perikanan di Ndori justru menunjukkan tren positif:

  • Total tangkapan: 62,735 ton
  • Total pendapatan: Rp 1.917.959.774
  • Khusus gurita: 36.309,5 ton
  • Pendapatan dari gurita: Rp 1.511.954.986

Data ini mengindikasikan bahwa sektor gurita menjadi tulang punggung ekonomi pesisir. Artinya, intervensi kebijakan perlu diarahkan pada penguatan tata kelola perikanan gurita yang berkelanjutan, termasuk pengaturan musim tangkap, peningkatan alat tangkap ramah lingkungan, dan penguatan perlindungan habitat. Penurunan produksi akibat cuaca ekstrem juga membuka diskusi lebih luas mengenai aspek keselamatan dan perlindungan nelayan. Keterbatasan alat pelindung diri dan sarana keselamatan menjadi isu penting yang perlu mendapat perhatian dalam program Kampung Nelayan Merah Putih.

Jika pembangunan hanya berfokus pada infrastruktur fisik tanpa memperhatikan mitigasi risiko dan adaptasi terhadap perubahan iklim, maka dampak jangka panjangnya tidak akan optimal.

Menuju Pembangunan Berbasis Bukti

Apa yang terjadi di Ndori memperlihatkan transformasi penting: dari pembangunan berbasis asumsi menuju pembangunan berbasis bukti

Data tidak lagi berhenti sebagai laporan administratif, tetapi telah menjadi alat advokasi, instrumen dialog kebijakan, sekaligus dasar perencanaan ekonomi masyarakat pesisir.

Ke depan, konsistensi dalam pengumpulan data triwulanan harus diiringi dengan:

  1. Penguatan literasi data bagi kelompok nelayan.
  2. Integrasi data perikanan dengan perencanaan desa dan kecamatan.
  3. Pengembangan sistem peringatan dini cuaca dan perlindungan nelayan.
  4. Diversifikasi sumber pendapatan untuk mengurangi ketergantungan musiman.

Jika sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendamping terus dijaga, maka Ndori berpotensi menjadi model pengelolaan perikanan berbasis komunitas di Kabupaten Ende.

Akhirnya, pengalaman Ndori mengajarkan satu pelajaran penting:
Data yang dikelola dengan baik bukan hanya mencatat realitas, tetapi mampu mengubah arah masa depan pembangunan.

Penulis : Agnes Ngura- Staf Pendamping di kecamatan Ndori

Editor : Jhuan Mari

Data sebagai Fondasi Kebijakan: Arah Baru Pembangunan Pesisir Ndori Read More »

Ketika Adat dan Alam Mengetuk Pintu Desa

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores| Di tengah laju perubahan zaman dan tekanan terhadap alam yang kian terasa, sebuah pertemuan empat hari di Ende pada 02-05 Desember 2025 lalu telah memberikan harapan baru. Bertempat di Bina Olangari Ende para mosalaki, pemerintah desa, perempuan, pemuda, dan para pegiat adat berkumpul mengikuti Workshop Penyusunan Peraturan Desa. Mereka datang membawa sebuah persoalan yang sama yakni bagaimana memastikan adat istiadat  tetap hidup dan Alam terjaga dengan baik di tengah gempuran modernitas.

Yayasan Tananua Flores (YTNF) mungkin hanya menyebutnya sebagai pelatihan teknis. Namun bagi para peserta, inilah ruang penyadaran kolektif—ruang yang mengembalikan ingatan tentang siapa mereka dan apa yang harus mereka jaga.

Pada hari pertama, para mosalaki membuka ruang dengan cerita-cerita yang mengandung pesan mendalam. Ritual adat yang kian jarang, generasi muda yang makin jauh dari akar budaya, hutan dan mata air yang perlahan hilang dari kehidupan desa.

Salah satu mosalaki berkata pelan namun tegas:

“Kami menjaga tanah ini bukan untuk kami sendiri, tetapi untuk mereka yang belum lahir.”

Kalimat itu menjadi pengingat keras bahwa desa bukan hanya ruang geografis—ia adalah warisan moral.

Kolaborasi yang Nyaris Hilang, Kini Menemukan Bentuknya

Ketika pemerintah desa dan BPD ikut bergabung pada hari kedua, suhu diskusi berubah. Bukan lagi sekadar laporan kekeringan atau hama, tetapi kesadaran bahwa persoalan desa tidak bisa diselesaikan sendirian.

Ada desa yang menawarkan benih lokal untuk desa lain. Ada pemuda yang ingin mempelajari kembali adat. BPD menyatakan dukungan untuk Perdes berbasis kearifan lokal.

Kolaborasi yang dulu terasa sebagai wacana kosong, kini mulai menunjukkan wujudnya.

Materi teknis pada hari ketiga justru menjadi titik balik. Peserta disadarkan bahwa aturan desa bukan soal pasal, ayat, atau sanksi semata. Aturan adalah bentuk cinta dan tanggung jawab terhadap desa.

Tanpa Perdes yang kuat, mata air dapat hilang dalam satu keputusan sepihak, hutan dapat rusak dalam satu musim. Desa membutuhkan pagar yang disepakati bersama.

Menulis Perdes, Menulis Masa Depan

Hari keempat memperlihatkan bahwa peserta bukan hanya mampu memahami, tetapi juga dapat merumuskan aturan mereka sendiri. Pasal demi pasal lahir dari diskusi panjang, tawa, perdebatan kecil, dan semangat yang tak bisa dipalsukan.

Mereka menulis Perdes, tetapi sebenarnya mereka sedang menulis ulang masa depan desa.

Dalam sesi penutupan, seorang perwakilan perempuan berkata lirih namun mantap:

“Kami ingin anak-anak kami tumbuh dengan adat yang kuat dan alam yang sehat.”

Pernyataan ini bukan sekadar harapan, melainkan tekad kolektif bahwa desa harus kembali menjadi ruang hidup yang melindungi warganya—bukan sekadar wilayah administratif.

YTNF menutup kegiatan dengan komitmen untuk mendampingi desa hingga Perdes benar-benar lahir dan diterapkan.

Empat hari pelatihan memang singkat, tetapi jejaknya panjang. Peserta pulang membawa bukan hanya rancangan Perdes, tetapi kesadaran baru bahwa adat dan alam bukan beban masa lalu, melainkan cahaya yang menuntun masa depan.

Jika desa-desa di Ende mampu merawat kerja bersama ini, maka hutan, mata air, dan pangan lokal bukan hanya cerita nostalgia—mereka akan tetap hidup sebagai sumber kehidupan generasi mendatang.***

Kontributor: Herman N Lion

 

Ketika Adat dan Alam Mengetuk Pintu Desa Read More »

Renstra Tananua 2025: Momentum Pembaruan dan Semangat Kolektif untuk Bergerak Maju

Shere Sekarang

Ende – Tananua Flores| Proses penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Tananua 2025 menjadi momentum penting yang membawa semangat baru dalam cara kerja lembaga. Setelah melalui tiga tahap panjang yang berlangsung selama enam bulan, seluruh proses akhirnya tiba pada puncak refleksi bersama. Proses ini tidak hanya menghasilkan dokumen strategis, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan, semangat belajar, dan komitmen bersama untuk membawa Tananua ke arah yang lebih maju.

Salah satu peserta Agnes Ngura, di Bina Kerahiman kamis 9 Oktober 2025, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada para fasilitator dan tim pengurus yang telah memfasilitasi seluruh rangkaian proses Renstra dari tahap pertama hingga ketiga.

“Secara pribadi, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru. Harapan saya, ke depan rencana dalam Renstra ini bisa berjalan sesuai kesepakatan bersama. Terima kasih kepada pengurus yang telah bekerja keras. Semoga kita semua tetap kompak agar program kerja bisa berjalan baik,” ujarnya penuh semangat.

Senada dengan itu, Laurens Naja Staf Tananua juga memberikan ucapan terima kasih kepada pengurus, pembina, dan tim pengawasan yang telah mendukung seluruh proses penyusunan Renstra.

“Kami sangat menghargai kerja keras semua pihak. Harapan kami, Pak Lugas dan Ibu Selma tetap mendampingi Tananua ke depan. Dukungan dan bimbingan mereka sangat berarti untuk keberlanjutan lembaga ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Ibu Selma, perwakilan dari lembaga Menjadi, mengungkapkan kesan positifnya terhadap atmosfer kerja di Tananua.

“Sejak pertama saya datang, suasananya sudah berbeda. Tananua menyambut kami dengan hangat dan memberi kesempatan luas bagi kami bereksplorasi dan berkenalan dengan banyak staf Tananua, dan yang berbeda di Tananua staf muda Tananua diberi kesempatan untuk belajar dan berinovasi. Nilai ini harus terus dipertahankan, karena di sinilah letak kekuatan Tananua,” katanya.

Ia menambahkan bahwa Tananua memiliki energi besar untuk berkembang, dan kolaborasi yang telah terjalin perlu terus diperkuat.

“Kami dari Menjadi siap terus berkolaborasi dan berbagi metode yang kompetitif agar Tananua semakin maju,” tambahnya.

Dari sisi pengawasan, Dr. Imaculata Fatima selaku pengawas Tananua, mengaku sangat terkesan dengan proses penyusunan Renstra tahap ketiga.

“Tidak mudah menyusun Renstra, tapi saya melihat semangat dan proses yang luar biasa dari tim. Saya semakin mencintai Tananua karena kerja keras dan komitmennya. Renstra ini akan membawa Tananua semakin jaya,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Ketua Pengurus Tananua, Hironimus Pala, menyebut Renstra kali ini sebagai proses terpanjang dan paling berkesan dalam perjalanan organisasi.

“Selama enam bulan, kami berproses, berdiskusi, dan bertemu sembilan kali dalam satu ruang. Banyak pengetahuan dan inspirasi yang muncul. Jika organisasi ingin kuat, banyak aspek harus diperhatikan. Kita bermimpi agar dalam lima tahun ke depan, Tananua bisa menjangkau wilayah yang lebih luas, bahkan seluruh Flores,” jelasnya.

Ia menegaskan pentingnya membangun lumbung data Tananua sebagai pusat pengetahuan dan dokumentasi bersama.

Dari sisi pembina, Bapak Flavianus Senda menegaskan bahwa proses Renstra kali ini sangat berkesan karena dimulai dari refleksi akar permasalahan dan dilandasi semangat kebersamaan.

“Saya menemukan Renstra yang luar biasa, karena dibangun dari akar dan cara pandang yang menyatukan perbedaan. Saya yakin Tananua telah banyak berbuat bagi masyarakat. Renstra adalah kesepakatan bersama untuk mencapai tujuan bersama. Jika sudah ditulis, kita harus berani melakukannya,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para fasilitator yang telah memimpin diskusi dengan baik, saya secara pribadi mengakui bahwa pengalaman bersama Tananua telah menjadi proses pembelajaran dan bahkan pertobatan pribadi.

Melalui seluruh proses panjang ini, Renstra Tananua 2025 bukan hanya sekadar dokumen strategis, tetapi juga cermin semangat kolaborasi, refleksi mendalam, dan komitmen bersama untuk membawa perubahan nyata bagi masyarakat. Dengan dukungan pembina, pengurus, pengawas, dan mitra seperti Menjadi, Tananua siap melangkah menuju masa depan yang lebih kuat dan berdaya Saing.***Jhuan

Renstra Tananua 2025: Momentum Pembaruan dan Semangat Kolektif untuk Bergerak Maju Read More »

Menuju Pertanian Berkelanjutan: Mautenda Barat sebagai Titik Awal Kebangkitan Pangan Organik

Shere Sekarang

Ende, Mautenda Barat | 12 Juni 2025, Krisis pangan bukan lagi sekadar wacana global. Ia telah menyusup hingga ke pelosok-pelosok daerah, termasuk Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Di tengah tantangan perubahan iklim, kerusakan lahan, dan ketergantungan pada bahan kimia pertanian, isu ketahanan pangan membutuhkan lebih dari sekadar retorika. Ia memerlukan aksi nyata, terukur, dan berbasis ilmu pengetahuan.

Sayangnya, perhatian pemerintah daerah terhadap isu ini masih belum maksimal. Meski ketahanan pangan kerap disebut dalam berbagai forum, belum tampak adanya langkah sistematis untuk menjadikannya sebagai program prioritas yang menyentuh akar persoalan di tingkat desa.

Namun, harapan itu tak sepenuhnya sirna. Yayasan Tananua Flores, sebuah lembaga non-pemerintah yang konsisten memperjuangkan keadilan sosial dan ekologis, telah mengambil langkah maju. Bekerja sama dengan Universitas Flores (Unflor), pemerintah Desa Mautenda Barat, dan Kelompok Tani Sa Ate, Tananua memprakarsai sebuah kajian pertanian organik yang berpotensi menjadi tonggak perubahan dalam sektor pertanian Ende.

Kajian ini bukan sebatas eksperimen akademis. Ia adalah sebuah gerakan—gerakan hijau yang lahir dari kolaborasi lintas sektor: akademisi, petani lokal, tokoh adat (Mosalaki), dan birokrasi desa. Dengan semangat back to nature, kegiatan ini menanamkan nilai-nilai keberlanjutan di atas tanah yang selama ini lelah dibombardir oleh pupuk dan pestisida kimia.

Kebangkitan dari Desa

Kepala Desa Mautenda Barat menyebutnya sebagai transformasi pertanian desa. Setelah setahun penuh berfokus pada pertanian padi sawah, kini masyarakat desa mulai diajak untuk melihat ke depan: mengubah pola lama menuju pertanian modern yang berbasis riset ilmiah. Langkah ini sangat strategis, karena pertanian desa adalah tulang punggung pangan lokal.

Ketua Kelompok Tani Sa Ate, Fransiskus Seda, dengan penuh semangat mengakui bahwa ini adalah pengalaman pertama mereka mendapatkan pendampingan dari berbagai pihak. “Selama ini kami hanya mengandalkan pengetahuan turun-temurun,” ujarnya. “Kini kami berkomitmen untuk belajar bersama agar hasil panen meningkat dan tanah kembali subur.”

Dukungan moral dan spiritual datang dari Mosalaki Detuboti, Pius Pio, yang menegaskan pentingnya menjaga tana watu—tanah warisan leluhur—agar tetap lestari dan memberi kehidupan.

Ilmu Pengetahuan untuk Tanah yang Lelah

Pentingnya perspektif ilmiah dalam pertanian organik ditegaskan oleh Alan, Ketua Program Studi Agroteknologi Universitas Flores. Ia menyampaikan bahwa tanah bukan benda mati, melainkan makhluk hidup yang harus diberi “makan” berupa bahan organik. “Salah satunya dengan menanam kacang-kacangan untuk memperkaya nitrogen,” jelasnya.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) menganggap kajian ini sebagai bentuk tanggung jawab ilmiah atas kerusakan tanah akibat penggunaan pupuk kimia selama ini. Bersama mahasiswa Unflor dari berbagai spesialisasi, mereka akan memantau secara berkala perkembangan lahan yang ditanami secara organik.

Membangun Visi Bersama: Pertanian untuk Masa Depan

Bagi Yayasan Tananua Flores, inisiatif ini lebih dari sekadar program lapangan. Ia lahir dari kegelisahan terhadap ekosistem pertanian yang terus rusak dan dari keresahan masyarakat atas mahal dan langkanya bahan pangan sehat. Seperti yang ditegaskan oleh Heri Se, Manajer Program Tananua:
“Kami ingin membuka cara pandang baru, yakni melihat pertanian dan lingkungan secara positif, sehat, dan berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor.”

Semua pihak dilibatkan secara aktif, dengan harapan bahwa suatu saat kelak, penggunaan pupuk dan pestisida kimia benar-benar bisa dihentikan.

Apa yang dimulai di Mautenda Barat pada 12 Juni 2025 adalah sebuah langkah kecil, namun strategis. Ia menggabungkan kekuatan lokal dan ilmu pengetahuan, membangun jembatan antara tradisi dan inovasi. Bila dijalankan konsisten, kajian pertanian organik ini bukan hanya akan menyuburkan tanah—tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa ketahanan pangan harus dimulai dari bawah.

Semoga inisiatif ini menjadi model yang direplikasi di desa-desa lain. Karena sejatinya, masa depan pangan tidak bisa menunggu. Ia harus ditanam hari ini.***

Ditulis oleh : HS

Menuju Pertanian Berkelanjutan: Mautenda Barat sebagai Titik Awal Kebangkitan Pangan Organik Read More »