Pemeriksaan Kesehatan Dini di Desa Pemo: Langkah Awal Menuju Masyarakat Sehat

Ende,Pemo-Tananua Flores | Pemeriksaan kesehatan dini menjadi salah satu kunci dalam membangun masyarakat yang sehat dan produktif. Kegiatan yang diselenggarakan di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende pada 8 Februari 2025 ini merupakan wujud nyata dari kepedulian terhadap kesehatan warga, khususnya para petani yang menjadi tulang punggung perekonomian desa.

Acara ini merupakan bagian dari Program Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga yang diinisiasi oleh Yayasan Tananua Flores bekerja sama dengan Yayasan Planet Indonesia. Dengan menggandeng Lembaga Pengelola Hak Alam dan Hak Warga (LPHAM-Kelimutu), penghubung desa, serta Pemerintah Desa Pemo, program ini berhasil menarik perhatian masyarakat dan memperoleh respons positif.

Kesadaran Kesehatan sebagai Investasi Produktivitas

Sejak awal Januari, tim pelaksana telah melakukan sosialisasi langsung ke rumah-rumah warga dan dusun-dusun untuk memastikan kehadiran sebanyak mungkin peserta dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan ini. Upaya ini berbuah hasil dengan tingginya partisipasi warga dalam pemeriksaan kesehatan yang melibatkan tim medis dari Puskesmas Moni dan kader kesehatan desa.

Sekretaris Desa Pemo, Abu Qasim A.M Hasan, menekankan pentingnya keberlanjutan program ini. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara rutin agar masyarakat dapat memiliki akses berkelanjutan terhadap layanan kesehatan. Hal ini diamini oleh Koordinator Program Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga, Benyamin Goza, yang menegaskan bahwa kesehatan adalah faktor utama dalam menunjang produktivitas petani. Dengan tubuh yang sehat, masyarakat dapat bekerja lebih optimal dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Temuan Kesehatan yang Mengkhawatirkan

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya masalah kesehatan yang cukup serius di kalangan masyarakat Desa Pemo. Banyak warga terdeteksi mengalami hipertensi, kolesterol tinggi, asam urat, serta kadar gula darah yang tinggi. Temuan ini menjadi alarm bagi semua pihak bahwa langkah preventif harus segera dilakukan untuk mengurangi risiko penyakit tidak menular yang dapat berdampak pada kualitas hidup dan produktivitas warga.

Perawat dari Puskesmas Moni, Veronika Kemba, mengapresiasi sinergi yang terjalin dalam pelaksanaan program ini. Ia menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan ini sejalan dengan program Integrasi Layanan Kesehatan Primer yang bertujuan memberikan akses pemeriksaan kesehatan dasar bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari bayi hingga lansia.

Pola Hidup Sehat sebagai Solusi

Dengan tingginya angka penyakit yang terdeteksi, tenaga medis dan penyelenggara program menekankan pentingnya perubahan gaya hidup, termasuk pola makan sehat dan aktivitas fisik yang lebih aktif. Sosialisasi mengenai pentingnya menjaga pola makan, mengurangi konsumsi garam dan gula, serta meningkatkan aktivitas fisik akan menjadi agenda lanjutan dalam program kesehatan di Desa Pemo.

Salah satu warga, Marta (56 tahun), mengungkapkan rasa syukurnya setelah mengetahui bahwa ia menderita hipertensi. Sebelumnya, ia mengira bahwa pusing yang sering dialaminya hanyalah efek dari kelelahan. “Sekarang saya tahu harus mengurangi garam dan mulai lebih aktif bergerak saat bekerja di kebun,” ujarnya.

Langkah ke Depan: Keberlanjutan Program Kesehatan

Pemeriksaan kesehatan dini yang telah melibatkan sekitar 150 warga ini membuktikan bahwa masyarakat memiliki keinginan untuk memahami kondisi kesehatan mereka. Namun, hasil temuan menunjukkan bahwa masih banyak yang harus dilakukan agar kesadaran ini diiringi dengan tindakan konkret dalam menjaga kesehatan.

Sebagai tindak lanjut, Yayasan Tananua Flores bersama Puskesmas Moni dan Pemerintah Desa Pemo berencana untuk mengadakan pemeriksaan kesehatan rutin dengan cakupan yang lebih luas. Selain itu, program edukasi tentang pola makan sehat dan pencegahan penyakit tidak menular akan segera dirancang agar masyarakat dapat mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat.

Upaya ini bukan hanya sebatas pemeriksaan kesehatan, tetapi sebuah langkah strategis dalam membangun desa yang lebih sehat dan sejahtera. Kesadaran akan kesehatan harus menjadi bagian dari budaya hidup masyarakat, bukan hanya demi individu, tetapi juga demi keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan seluruh desa.*** Wangge

Pemeriksaan Kesehatan Dini di Desa Pemo: Langkah Awal Menuju Masyarakat Sehat Read More »

Yayasan Tananua Flores Sosialisasikan Program ‘Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga’ di Desa Jeo Dua, Ende

Ende, 22 November 2024 – Yayasan Tananua Flores (YTNF) menggelar sosialisasi program Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga di Desa Jeo Dua, Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende, pada Jumat, 22 November 2024. Kegiatan ini dihadiri oleh 45 peserta dari berbagai elemen masyarakat, termasuk perwakilan Pemerintah Desa Jeo Dua, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Mosalaki, tokoh pendidikan, kesehatan, agama, pemuda, dan perempuan.

Program ini bertujuan untuk memperkenalkan dan memulai proses pendampingan Yayasan Tananua Flores dengan Desa Jeo Dua melalui kerja sama yang resmi. Dalam sambutannya, Benyamin Goza, perwakilan Yayasan Tananua Flores, menekankan pentingnya menjaga dan mengelola sumber daya alam (SDA) secara bijaksana berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal. Ia menegaskan bahwa YTNF, yang telah berkiprah lebih dari 35 tahun di Kabupaten Ende, berkomitmen untuk bekerja sama dengan masyarakat desa dalam mengelola SDA secara berkelanjutan.

Sementara itu Kepala Desa Jeo Dua dalam kesempatan tersebut menyambut baik program ini dan menyatakan dukungannya terhadap upaya Yayasan Tananua Flores. Ia mengajak seluruh masyarakat desa untuk berkolaborasi dalam meningkatkan sektor pertanian serta kegiatan lain yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup di desa.

Benyamin Gosa mewakili dari Tananua dalam memaparkan  materi menekankan ada dua poin yakni

  1. Hak Alam – Menekankan pentingnya pelestarian dan pengelolaan SDA lokal secara berkelanjutan demi generasi mendatang.
  2. Hak Warga – Menggarisbawahi hak masyarakat untuk memanfaatkan SDA secara adil, dengan memperhatikan keseimbangan ekologi dan budaya lokal.

Selain itu, peserta juga diajak berdiskusi mengenai kearifan lokal Desa Jeo Dua, serta bagaimana nilai-nilai budaya desa dapat diintegrasikan dalam pengelolaan SDA yang berkelanjutan.

Diskusi yang berlangsung menghasilkan komitmen bersama dari seluruh pihak untuk bekerja sama dalam merancang peraturan desa yang berfokus pada perlindungan SDA. Lembaga adat dan tokoh masyarakat juga menyatakan dukungan penuh terhadap program ini.

Sebagai langkah awal pendampingan, Yayasan Tananua Flores dan Pemerintah Desa Jeo Dua menandatangani perjanjian kerja sama. Komitmen Desa Jeo Dua tercermin dalam dukungan penuh terhadap program ini, serta dorongan kepada masyarakat untuk memanfaatkan pendampingan YTNF dalam bidang pertanian dan pengelolaan SDA.

Sebagai tindak lanjut, akan dibentuk kelompok kerja desa yang akan mengawal pelaksanaan program ini. Selain itu, pelatihan awal mengenai pengelolaan SDA berbasis kearifan lokal juga direncanakan untuk dilaksanakan dalam waktu dekat.

Benyamin Goza menutup acara dengan pernyataan bahwa peningkatan kapasitas komunitas dalam menjaga dan memanfaatkan SDA secara bijak sangat penting. “Nilai-nilai kearifan lokal yang ada di desa harus menjadi pedoman utama dalam setiap langkah. Yayasan Tananua Flores berkomitmen untuk terus bekerja bersama masyarakat desa untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kepala Desa Jeo Dua juga mengungkapkan rasa terima kasih dan kesiapan desa untuk mendukung segala program yang dibawa oleh Yayasan Tananua Flores. “Kami berharap kehadiran YTNF dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat desa kami,” katanya.

Kontributor : Aris Ratman

Editor : jhuan

Yayasan Tananua Flores Sosialisasikan Program ‘Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga’ di Desa Jeo Dua, Ende Read More »

Kapasitas Pendamping Desa Ditingkatkan, Mendukung Kemajuan Kelompok Usaha Tani di Desa

Ende, Tananua Flores | Yayasan Tananua Flores Ende dalam mendukung kelompok usaha Tani di Desa kapasitas pendamping terus ditingkatkan. Langkah dan Kegiatan ini terus dilakukan oleh Tananua agar kemajuan kelompok Tani di desa dampingan dapat terwujud.

Sebagai salah satu kegiatan yang dilakukan yakni melalui kegiatan Pelatihan Peningkatan kapasitas Pendamping dengan memberikan materi latihan untuk kemajuan kelompok Tani. Kegiatan pelatihan ini di selenggarakan pada (28/6) di café Myau-Myau jalan Eltari Ende beberapa waktu yang lalu.

Heribertus Se, sebagai maneger program dalam pengantarnya menegaskan bahwa pentingnya peningkatan kapasitas staf agar proses pendampingan terhadap petani, nelayan dan kelompok usaha dapat dilakukan secara maksimal dengan mengutamakan prinsip kekhasan yang ada pada petani.

Lebih lanjut Heri Se, mengharapkan agar materi yang disajikan dan metode palatihan sesuai dengan kondisi khusus yang terjadi pada petani, nelayan  dan kelompok usaha yang ada saat ini.

Ia menjelaskan, dari refleksi ditemukan bahwa kondisi masyarakat pedesaan berada dalam situasi yang rentan atau miskin dan ditingkat staf adanya kesenjangan kapasitas antar staf sehingga hasil program yang dicapai juga tidak memadai.

Manager Program itu mengungkapkan, perlu dilakukan bedah bersama dalam kelompok dan forum diskusi tentang masyarakat pedesaan yang rentan atau miskin dengan beberapa pertanyaan; Mengapa dan apa penyebabnya?

“ kita perlu melakukan beda bersama dalam kelompok dan forum diskusi agar bisa mengetahui penyebab dan apa rekomendasi yang perluh dilakukan”, Ungkapnya.

Sementara itu, Hironimus Pala selaku Fasilitator dari kegiatan itu mengatakan bahwa dalam pelatihan ini proses yang akan dilalui dengn pendekatan orang dewasa dan yang menjadi narasumber utama adalah peserta.

Senior Tananua itu menjelaskan Perluh dipahami kondisi saat ini agar menjadi Landasan berpikir untuk Staf dalam melakukan Pendampingan.

Menurut Hironimus fenomena dasar yang dialami oleh masyarakat desa saat ini, dari berbagai diskusi yang ditemukan sekurang-kurangnya tiga faktor utama penyebab terjadinya kemiskinan diantaranya, faktor internal (men-talitas petani), faktor eksternal  (pengaruh dari luar) dan faktor alam (bencana dan wabah penyakit). Tiga alasan tersebut saat ini sedang menjerat umat manusia rentan terutama petani dan nelayan pedesaan termasuk  desa-desa wilayah dampingan Tananua Flores.

Upaya  membangun mengetas kemiskinan, perubahan iklim, kebencanaan melalui upaya penataan pangan, perkonomian, kehidupan social, lingkungan hidup diwilayah komunitas petani dan nelayan melalui pemberdayaan kelompok tani dan kelompok nelayan rupakan misi dari pendampingan Yayasan Tananua Flores dilakukan 5 tahun belakangan.

“ kemiskina masyarakat pedesaan disebakan oleh berbagai factor antara lain: Tidak memiliki lahan, SDM rendah, Hidup tanpa mimpi atau cita-cita, Budaya (wurumana), Terlilit hutang, gali lobang tutup lobang, Tergoda pinjaman harian (ofline maupun online), Ijon, judi (ofline dan online), Pola hidup konsumtif dan boros,”

Lanjut dia “masyarakat kita Tak ada Tabungan untuk masa depan, Pengelolaan keuangan yang belum bagus, dampak bantuan uang maupun barang cuma-cuma dari pihak luar, SDM mengelolah keuangan terbatas,Sumber daya alam terbatas, Daya kerja yang rendah (malas), Bermental Bos, bergaya seperti orang kaya dan instant, Pola Hidup ikut selera, gagal panen”, Ungkap dia.

Dari Laporan Hasil evaluasi Yayasan Tananua Flores ditemukan didesa-desa dampingan Yayasan Tananua Flores ada kelompok yang mulai melakukan arisan kelompok, usaha simpan pinjam dan yang usaha lainnya. Kendala teknis yang terjadi ditingkat kelompok adalah bagaimana membukukan dan mempertanggung-jawabkan keuangan secara baik, hal ini sangat berpengaruh terhadap kemajuan usaha kelompok. Untuk itu sebagai langkah awal dimulai dengan pembukuan UBSP, sehingga menjadi model belajar dilihat dari praktek yang sudah dilakukan oleh kelompok Iwatolo desa Rutujeja dan kelompok Satojoto desa Kebirangga Selatan.

Sementara itu dalam materi teknik pembukuan keuangan kelompok dan UBSP, Halimah Tu’sadyah mengungkapkan bahwa pentingnya pembukuan keuangan bagi UBSP, karena ini merupakan nadi dalam UBSP, kalau salah kelolah UBSP bisa mati atau tutup atau juga bubar. Maka pembukuan merupakan bagian  penting dalam mengatur tentang  keuangan usaha kelompok termasuk UBSP. Salah satu alasannya adalah uang merupahkan hal sensitive yang berpotensi untuk memajukan dan juga memporak-porandakan kesatuan kelompok jika tidak dikelola dengan penuh tanggung jawab.

Ia menuturkan agar pembukuan keuangan dapat berjalan baik dalam usaha bersama maka pengurus dan bagian pengelolah Keuangan usaha kelompok wajib pahan dan pengelolah keuangan wajib bisa mengopersikan pembukuan keuanganm usaha kelompok secara transparan, efisisen dan efektif sehingga mampu mengelola  dan  mempertanggungjawabkan keuangan secara baik. Karena itu latihan ini sebagai salah satu teknik dasar yang wajib dilakukan oleh staf dalam mendampingi kelompok tani yang mengembangkan usaha bersama baik itu usaha simpan pinjam ataupun usaha lainnya . ’’tutupnya’’.

Ditulis : Ansel

Editor : HP&HT

 

Kapasitas Pendamping Desa Ditingkatkan, Mendukung Kemajuan Kelompok Usaha Tani di Desa Read More »

Tananua Flores Gelar Refleksi Spiritual dan TOT Bagi Relawan Komunitas, Kader Kesehatan serta Orang Muda.

Ende,Detusoko – Tananua Flores | Yayasan Tananua Flores baru-baru ini gelar kegiatan Refleksi Spiritual bagi Relawan Komunitas,Kader Kesehatan serta Orang Muda dalam rangka berkontribusi dan mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal untuk mitigasi persoalan pertanian di wilayah kabupaten Ende.

Kegiatan itu  bertempat di Wisma St. Fransiskus Detusoko yang diselenggarakan selama dua hari, dari tanggal 20 – 21 juni 2024. Peserta yang terlibat 75 orang dari utusan 23 desa terdiri dari Relawan Komunitas , Kader Kesehatan, Orang Muda dan Staf Tananua dalam Program  Livelihood Sustainable.

Kegiatan ini   cukup menarik karena mengangkat tema Bersiap, Berbagi Peran Dan Berkontribusi Merawat Dan Mengembangkan Komunitas Bersama Yang Mandiri Dalam Gerakan Laudato Si.

Elias Mbani dari Badan Pengurus Tananua Flores mengapresiasi terhadap Tim kerja Tananua Flores yang telah menginisiasi kegiatan refleksi Spiritualitas  dan menghadirkan Peserta dari desa -desa dampingan Tananua.

Menurutnya, bahwa kegiatan Refleksi tersebut merupakan salah satu cara dalam menumbuh kembangkan Nilai-nilai kehidupan sosial serta dapat menemukan Spirit dalam membangun desa dengan pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni.

“Konsep, pemikiran dan keterampilan perlu didorong dan dikembangkan dalam membangun Desa serta memperbaiki sistem pertanian yang berdaya saing, sehingga kita tidak tergilas oleh perkembangan kemajuan teknologi ini,”katannya.

Sambung Elias “Dunia saat ini perkembangannya cukup cepat dan kita sebagai generasi muda dan petani-petani muda harus turut terlibat dan memanfaatkan teknologi itu, dan kita harus mempertahankan nilai-nilai Spiritual untuk memposisikan diri kita sebagai pelaku dalam perubahan-perubahan di desa”, tuturnya.

Sementara itu dalam Homili RD. Agustinus W. Wangga, menegaskan konsep Bonum commune/kebaikan bersama dan sekurang-kurangnya ada tiga landasan spirit yang harus dimiliki oleh setiap peserta yakni Relasi antara sesama relawan,komunitas,alam semesta dan Tuhan pencipta.

Kata RD Agustinus “ Tiga landasan spirit tersebut merupakan Inti yang harus dipegang dan membangun masyarakat di pedesaan dengan melihat kondisi saat ini”,ujarnya.

Romo Agustinus mengungkapkan dalam Khotbahnya Tugas seorang pendamping dan Relawan Komunitas adalah tugas yang sangat mulia di mana dia memberikan segala pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki kepada orang lain, dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Dia diharapkan mampu mengorganisir dan menggerakkan masyarakat dalam membangun kelompok dan desanya.

Lanjut Romo itu, bahwa dalam Ensiklik Paus Laudato Si, Bapa Paus mengajak kita sekalian umatnya untuk membangun relasi yang baik antar sesama manusia dan lingkungan yang didiami. Kita semua diberi tanggung jawab untuk menjaga dan merawat bumi ini dari kerusakan lingkungan. Perubahan iklim dan cuaca yang semakin ekstrim menuntut kita agar tanggung jawab bersama untuk melindungi alam ini dari kerusakan.

Baca Juga : Catatan Refleksi Spiritual

Dok.Tananua Flores

Kilas Balik Kerja Pemberdayaan oleh Tananua

Yayasan Tananua Flores merupakan salah satu LSM yang ada di wilayah Kabupaten  Ende dan kiprahnya telah teruji sejak tahun 1989 bersama masyarakat Desa dalam kerja-kerja pendampingan dan Pemberdayaan.

Dalam kerja mendampingi  masyarakat di daerah pedesaan telah menemukan berbagai macam situasi yang oleh masyarakat di desa yang sebagian besar berprofesi sebagai Petani.  Berbicara tentang Petani adalah pemberi kehidupan bagi banyak orang. Petani merupakan salah satu tiang penopang dalam membangun bangsa dan negara serta kehidupan masyarakat yang tinggalnya di kota-kota. Tanpa Petani tentu dalam kehidupan ada yang pincang. Saat ini Para Petani harus kuat dan harus berkembang. Salah satu kekuatan yang harus dibangun adalah dengan menggabungkan diri dalam kelompok-kelompok Tani serta melakukan kegiatan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang ini dicapai.

Kelompok Tani menjadi salah satu alat untuk merawat dan mewujudkan nilai-nilai kearifan lokal  dalam mengatasi persoalan Pertanian, Kesehatan dan juga pembangunan  yang ada di desanya.

Komunitas atau Kelompok bukan hanya sebagai wadah kerja tetapi belajar dan berusaha bersama. Dengan semakin berkembangnya peran dan fungsi kelompok, orang muda diharapkan ada peningkatan pengetahuan dan keterampilan anggotanya.

Diharapkan dengan pengetahuan yang  dimiliki dapat membantu kader Desa dalam membangun komunitas atau kelompok di desanya.

Situasi saat ini dengan perkembangan teknologi banyak tantangan yang dihadapi  salah satunya adalah, kurangnya minat orang  muda dalam mencintai dunia pertanian, padahal dunia pertanian telah mengajarkan banyak hal dan sumber pengetahuan ada di dunia pertanian .

Di Sisi yang lain saat ini banyak orang mencintai profesi petani semakin berkurang, bagi  sebagain orang mereka menganggap petani adalah profesi yang identic dengan lumpur dan tanah padahal Petani adalah suatu profesi yang sangat mulia  yang memberikan kehidupan bagi banyak orang. Kondisi hari ini banyak orang muda memilih meninggalkan desanya dan merantau keluar daerah.

Yayasan Tananua Flores dalam meluncurkan program Pemberdayaannya didukung MISEREOR Jerman, dengan kerja sama itu poin penting yang menjadi modal keberlanjutan adalah melakukan kegiatan Refleksi Spiritual bagi Relawan Komunitas, Kader Kesehatan dan Orang Muda.

Kontributor,

Emilia L. Kumanireng

Tananua Flores Gelar Refleksi Spiritual dan TOT Bagi Relawan Komunitas, Kader Kesehatan serta Orang Muda. Read More »

Misereor Gelar Pelatihan Local Fundraising Batch IV Change the Game Academy

Dok.Halimah, Kegiatan Pelatihan LFR

Bali, Indonesia. Tanaua Flores | Sebanyak 13 NGO mitra Misereor Indonesia bagian tengah dan timur mengikuti pelatihan Local Fundraising – Change the Game Academy yang digelar oleh Misereor yang bekerja sama dengan SATUNAMA .

Dalam Pelatihan tersebut yang menjadi trainer/Fasilitator Langsung oleh  SATUNAMA yang dilaksanakan selama 5 hari di denpasar pada (22-26/4).

Peserta yang terlibat dalam kegiatan pelatihan antara lain utusan Magdalena Canossa Nurobo – Malaka, Yayasan Komodo Lestari Indonesia – Manggarai Barat, Yayasan Karya Murni – Ruteng,Yayasan Persekolahan Umat Khatolik – Sikka, Perguruan Tinggi UNIKA Waetabula,Yayasan Harapan Sumba,Yayasan Tananua Flores – Ende,Yayasan Dedikasi Tjipta Indonesia – Makasar ,Yayasan Kita Juga – Manggarai Barat,Perkumpulan Suara Papua  – Papua,Yayasan Frans Lieshout Papua ( YAWU PAPUA ),JPIC SVD Ruteng dan SKPKC Fransiskan Papua

Program pelatihan ini dirancang secara menyeluruh dengan fokus pada peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta. Metode pelatihan secara partisipatif-adaptif menjadi landasan utama, didukung oleh pemanfaatan teknologi sebagai sarana pendukung. Pendekatan ini memungkinkan para peserta untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran, dan menjadikan pelatihan lebih relevan sesuai dengan dinamika kebutuhan masyarakat.

Pelatihan LFR IV ini diselenggarakan melalui kerjasama SATUNAMA bersama Misereor dan Kindermissionswerk. Peserta pelatihan merupakan organisasi-organisasi mitra Misereor dan Kindermissionswerk di Indonesia yang akan mendapatkan penguatan kapasitas terkait Local Fundraising.

Pelatihan ini dijadwalkan sebagai langkah untuk terus memberikan pemahaman mendalam, keterampilan dan strategi dalam pengembangan sumber pendanaan lokal bagi mitra-mitra Misereor dan Kindermissionswerk di Indonesia. Dengan mengundang partisipasi lebih luas dari CSO, CBO, dan kelompok swadaya di seluruh Indonesia, pelatihan ini diharapkan dapat menciptakan dampak yang lebih besar dan berkelanjutan dalam memperkuat sektor nirlaba di tingkat lokal.

Pelatihan ini tidak hanya menjadi forum untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga sebagai wadah kolaboratif untuk merancang inovasi baru dalam mendukung pertumbuhan keberlanjutan organisasi masyarakat.

Selain itu, dengan pelatihan Local Fundraising, kedepannya dalam membangun dukungan yang lebih luas terhadap inisiatif dan program CSO/CBO akan semakin mampu menjalankan perannya dalam menciptakan perubahan yang positif di masyarakat.

SATUNAMA yang dipercayakan untuk menyelenggarakan kegiatan pelatihan ataupun kegiatan lain dalam mendorong peningkatan kapasitas antara sesama mitra berkomitmen untuk terus berlanjut dalam memperkuat kapasitas organisasi masyarakat di Indonesia.

Sementara sebagai Mitra Nasional untuk program CtGA di Indonesia, SATUNAMA bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pelatihan CtGA. Fokus utama pelatihan ini adalah memberikan penguatan dan pengembangan kapasitas bagi CSO dan CBO di Indonesia. Dua isu utama yang diangkat dalam pelatihan ini adalah Mobilizing Support (MS) dan Local Fundraising (LFR).

Situasi Terkini

Lembaga-Lembaga Swadaya  Masyarakat (NGO) menjalankan misi, visi dan programnya bersama masyarakat sumber pendanaannya selama ini sangat bergantung pada donor-donor luar negeri, termasuk mitra-mitra Misereor di Indonesia.

Kebergantungan pada donor yang sangat tinggi ini membuat Lembaga Lokal di indonesia tidak berkelanjutan dimana saat donor mengurangi atau setop bantuan dan tidak ada dana mandiri maka LSM-nya langsung bubar.  Di tambah lagi dengan kebijakan Negara lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan dalam negeri, dan juga terkait dengan kebijakan bantuan bagi Negara-negara lain dilihat dari yang paling membutuhkan. Kondisi ini juga berpengaruh terhadap ketersediaan dana di Misereor untuk mitra-mitra lokal di indonesia yang didukung oleh misereor.

Namun, pada Prespektif Misereor dan KMW ditemukan banyak mitra  penerima dana pemerintah Jerman  / BMZ melalui KZE yang masih kesulitan memenuhi persyaratan adanya kontribusi local sebesar 25 – 30 % akan sangat sulit untuk membantu Mitra dalam menutupi kekuarangan dana. Harus memulai dari kontribusi local dalam proyek yang diluncurkan.

Melihat masalah dan potensi diatas maka Misereor dan KMW memilki komitmen yang tinggi untuk mengembangkan kapasitas mitranya dengan mempertimbangkan keberlanjutan organisasi. Maka langkah awal yang dilakukan adalah melakukan pelatihan bagi Mitra  tentang pelatihan  penggalangan dana local (Local Fund Raising/LFR) kerja sama dengan Yayayasan Satunama di Jogya.

Misereor juga memandang ini adalah sesuatu yang mendesak karena adanya tantangan global, pembatasan melalui peraturan dan kebijakan pemerintah, menyusutnya ruang bagi masyarakat sipil dan adanya kebutuhan diversifikasi pendanaan .

Tujuannya adalah agar mereka dapat melayani masyarakat dengan lebih efektif dan menciptakan perubahan yang berkelanjutan di berbagai sektor di Indonesia. SATUNAMA mengukuhkan kolaborasi strategisnya dengan menjadi Organisasi Mitra Nasional (NPO) untuk Wilde Ganzen Foundation melalui Program Change the Game Academy (CtGA). Keanggotaan ini, yang dimulai pada tahun 2022, menjadikan SATUNAMA sebagai mitra nasional untuk Indonesia dan anggota Change the Game Academy Global Alliance.

Langkah ini bukan hanya untuk memberikan dampak positif di tingkat nasional, tetapi juga untuk berkontribusi pada pengembangan CSO/CBO secara global bersama mitra internasional, membangun jaringan kolaboratif yang dapat memperkuat peran organisasi nirlaba dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, serta membuka pintu terhadap inovasi dan kolaborasi pengembangan sumber daya manusia dan kapasitas CSO/CBO di Indonesia dan skala global. Sementara sebagai Mitra Nasional untuk program CtGA di Indonesia, SATUNAMA bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pelatihan CtGA. Fokus utama pelatihan ini adalah memberikan penguatan dan pengembangan kapasitas bagi CSO dan CBO di Indonesia. Dua isu utama yang diangkat dalam pelatihan ini adalah Mobilizing Support (MS) dan Local Fundraising (LFR).

Tahun 2023 menjadi momentum bersejarah dengan terselenggaranya Pelatihan Change the Game Academy pertama di Indonesia, yaitu pelatihan Local Fundraising Batch I, yang diikuti oleh lembaga CSO, CBO, dan kelompok swadaya di berbagai wilayah Indonesia. Pelatihan ini menjadi titik awal sebuah perjalanan panjang yang terus berlanjut. Selama tahun 2023, pelatihan Change the Game Academy telah terlaksana 4 (empat) kali dengan 3 (tiga) kali pelatihan Local Fundraising dan 1 (satu) kali pelatihan Mobilizing Support. Jumlah peserta total pelatihan CtGA (LFR dan MS) telah mencapai 68 orang dari 33 organisasi yang berasal dari seluruh Indonesia.  Khusus untuk pelatihan Local Fundraising, dengan peningkatan kapasitas dalam ranah Local Fundraising, diharapkan bahwa organisasi-organisasi tersebut dapat mengembangkan sumber pendanaan mereka secara berkelanjutan, memperkuat keuangan mereka, dan meraih dampak yang lebih luas di masyarakat.

Dok.Halimah, (Diskusi paskah Pelatihan LFR di kantor Tananua)

Refleksi Tananua Flores

Secara organisasi Yayasan Tananua Flores dan semua  mitra Misereor berkembang  dalam memperkuat kapasitas masyarakat untuk penghidupan yang berkelanjutan.

Namun ada beberapa kelemahan utama yang dihadapi antara lain:

Pertama, Tananua Flores merupakan salah satu dari lembaga mitra peserta pelatihan yang sangat rentan karena 80% operasional organisasi dan program sangat tergantung pada donor asing. Dan apabila donor berhenti mendadak maka lembaga bisa langsung mati atau bubar.

Kedua, Tananua Flores bersama semua lembaga peserta pelatihan selama ini mengakses dana besar kerja sama Misereor dan pemerintah Jerman dengan dana talangan 30% sebagian besar dipenuhi Misereor. Dengan demikian mitra belum mampu memenuhi kontribusi 30% chas.

Ketiga, Tananua Flores dan beberapa lembaga mitra peserta pelatihan selama ini belum belum banyak memanfaatkan sumber dana nasional dan sumber dana local, penelitian dari suatu lembaga menyatakan Indonesia Negara penderma di dunia.

Harapan tananua flores dari hasil refleksi terkait situasi kekinian dari organisasi pemberdayaan masyarakat yakni :

Pertama, Agar yayasan tetap hdiup dan berkembang bersama masyarakat maka sangat penting adanya dana mandiri organisasi.

Kedua, Untuk mendapatkan dana mandiri maka yayasan perlu menggalang Dana-dan dari pemerintah dan juga penggalangan dana lokal dari masyarakat sekitar.

Ketiga, Setiap organisasi perlu memasukan  program penggalangan Dana lokal dalam organisasi masing-masing.

Ke empat, Setiap organisasi perluh membentuk tim penggalangan dana lokal.

Oleh : Hironimus & Halimah

Misereor Gelar Pelatihan Local Fundraising Batch IV Change the Game Academy Read More »

Translate »