Dari Malawaru Menjaga Bumi: Suara Petani dan Nelayan untuk Generasi Mendatang

Shere Sekarang

Malawaru, 28 Juni 2025 — Di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks, Desa Malawaru kembali menjadi panggung penting bagi suara-suara akar rumput. Pertemuan semester petani dan nelayan yang digelar secara rutin setiap enam bulan oleh Yayasan Tananua Flores menjadi bagian dari merefleksi seluruh problem social dan lingkungan yang terjadi di masyarakat desa.  Kali ini membawa sorotan tajam pada isu-isu keberlanjutan bumi dan keadilan ekologis yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat pesisir dan pedalaman.

Direktur Yayasan Tananua Flores, Bernadus Sambut, (25/6) dalam sambutannya membuka ruang refleksi mendalam. Ia menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar ajang laporan kerja, tetapi merupakan ruang strategis untuk menggali solusi bersama atas persoalan krusial lingkungan hidup.

“Menanam pohon bukan sekadar aktivitas fisik. Itu adalah komitmen menjaga kehidupan generasi muda. Ketika kita menjaga tanah dan air hari ini, kita sedang memastikan masa depan yang layak untuk anak-cucu kita,” tegas Bernadus.

Dua program utama yang saat ini dijalankan Tananua—konservasi laut dan pengelolaan daratan berkelanjutan—disandingkan untuk saling melengkapi. Isu pencemaran laut, overfishing, hingga praktik pertanian yang tidak ramah lingkungan, menjadi perhatian bersama.

Bernadus tidak hanya menyampaikan keprihatinan, tapi juga mendorong aksi konkret. Ia mengajak masyarakat dan pemerintah lokal untuk merumuskan kebijakan daerah yang berpihak pada perlindungan sumber daya alam, seperti hutan, mata air, dan tanah pertanian.

“Kita harus mulai dari desa. Perubahan besar dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil hari ini,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Pertemuan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Malawaru, Patrianus Tonda, yang dalam pidatonya menekankan pentingnya forum ini sebagai jembatan dialog antara masyarakat dan pemangku kebijakan.

“Kami datang dengan harapan, bukan sekadar diskusi. Tapi untuk mendapatkan pencerahan tentang keberlangsungan hidup masyarakat kami yang menggantungkan hidup pada tanah dan laut,” kata Patrianus.

Ia juga menyinggung persoalan tapal batas hutan lindung yang belum jelas, serta minimnya pemahaman warga terhadap wilayah yang diklaim sebagai kawasan hutan negara. Situasi ini dinilai berdampak langsung pada ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat.

Tak hanya itu, isu batas wilayah kelautan juga mengemuka. Patrianus secara tegas meminta kejelasan sistem pemetaan laut agar hak nelayan kecil terlindungi.

“Ketika kita bicara tentang petani, kita bicara tentang tanah. Dan ketika kita bicara tentang nelayan, kita bicara tentang laut. Kedua ruang ini adalah hidup kami,” tegasnya.

Dalam suasana penuh semangat, dialog yang dihadiri oleh petani, nelayan, aparat desa, dan lembaga pendamping ini ditutup dengan ajakan untuk memperkuat solidaritas lokal dan memperjuangkan hak-hak ekologis secara kolektif.

Pertemuan seperti ini perlu menjadi inspirasi bagi wilayah-wilayah lain di Indonesia. Ketika masyarakat diberi ruang untuk bersuara dan terlibat dalam pengambilan keputusan, di situlah harapan tumbuh. Malawaru menunjukkan bahwa keberlanjutan bumi bukan semata tanggung jawab global, melainkan bermula dari langkah kecil di desa-desa yang menjaga tanah, air, dan lautnya dengan cinta dan kesadaran.

Oleh :  Jhuan Mari

Dari Malawaru Menjaga Bumi: Suara Petani dan Nelayan untuk Generasi Mendatang Read More »

Peran Strategis Pemuda dan Hilirisasi Produk Desa

Shere Sekarang

Kunjungan Wakil Ketua I DPD RI, Anjelo Wake Kako, ke Desa Tonggopapa, Kabupaten Ende, menyoroti persoalan mendasar dalam pembangunan desa: kurangnya keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian dan perkebunan. Diskusi yang berlangsung dalam Pertemuan Semesteral Petani Dampingan Yayasan Tananua Flores (YTNF) tersebut mengungkap fakta bahwa pertanian di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih didominasi oleh kelompok usia tua, sementara generasi muda lebih tertarik untuk bekerja di kota.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di NTT, tetapi menjadi masalah nasional. Bonus demografi yang dimiliki Indonesia seharusnya menjadi momentum kebangkitan desa dengan keterlibatan aktif tenaga produktif dalam mengelola sumber daya lokal. Namun, kenyataannya, desa-desa kehilangan tenaga kerja muda yang potensial. Jika dibiarkan, tren ini akan semakin mengancam keberlanjutan sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi pedesaan.

Senator Anjelo Wake Kako dengan tegas menyampaikan bahwa pemuda desa harus melihat pertanian sebagai peluang ekonomi yang menjanjikan. Dalam hal ini, kebijakan pemerintah yang mendorong hilirisasi produk non-tambang, termasuk pertanian dan perkebunan, harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah produk desa sehingga hasil pertanian tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.

Pemberdayaan yang telah dilakukan oleh Yayasan Tananua Flores selama lebih dari 35 tahun menjadi contoh konkret bagaimana petani dapat diperkuat dalam mengelola hasil pertanian dengan pendekatan yang ramah lingkungan. Namun, tantangan utama yang masih dihadapi adalah ketidakpastian pasar dan ketersediaan produk secara berkelanjutan. Oleh karena itu, dibutuhkan peran aktif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, akademisi, serta investor, untuk menciptakan ekosistem pertanian yang berkelanjutan.

Dalam konteks ini, permintaan Kepala Desa Tonggopapa agar Senator Anjelo Wake Kako mengawal status tenurial pemukiman di Dusun Manajawa menjadi isu yang sangat penting. Legalitas kepemilikan lahan menjadi faktor utama dalam memberikan kepastian hukum bagi masyarakat petani. Tanpa kepastian ini, upaya hilirisasi produk desa akan sulit terwujud karena masih terhambat oleh status kawasan hutan negara yang tidak jelas.

Sebagai langkah konkret, pertemuan lanjutan yang akan diadakan pada 15 Maret 2025 di Café Debarbara diharapkan mampu merumuskan strategi yang lebih komprehensif. Pertemuan ini harus menjadi forum bagi pemuda desa, petani, serta pihak terkait untuk menggagas model hilirisasi produk yang dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa secara berkelanjutan.

Saatnya desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dengan mengoptimalkan potensi lokalnya. Dan kunci utama dari transformasi ini terletak pada peran aktif generasi muda yang harus didorong untuk kembali membangun kampung halamannya. Jika pemuda tidak kembali ke desa, siapa yang akan meneruskan pertanian di masa depan?. Heri Se

Peran Strategis Pemuda dan Hilirisasi Produk Desa Read More »

Pemeriksaan Kesehatan Dini di Desa Pemo: Langkah Awal Menuju Masyarakat Sehat

Shere Sekarang

Ende,Pemo-Tananua Flores | Pemeriksaan kesehatan dini menjadi salah satu kunci dalam membangun masyarakat yang sehat dan produktif. Kegiatan yang diselenggarakan di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende pada 8 Februari 2025 ini merupakan wujud nyata dari kepedulian terhadap kesehatan warga, khususnya para petani yang menjadi tulang punggung perekonomian desa.

Acara ini merupakan bagian dari Program Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga yang diinisiasi oleh Yayasan Tananua Flores bekerja sama dengan Yayasan Planet Indonesia. Dengan menggandeng Lembaga Pengelola Hak Alam dan Hak Warga (LPHAM-Kelimutu), penghubung desa, serta Pemerintah Desa Pemo, program ini berhasil menarik perhatian masyarakat dan memperoleh respons positif.

Kesadaran Kesehatan sebagai Investasi Produktivitas

Sejak awal Januari, tim pelaksana telah melakukan sosialisasi langsung ke rumah-rumah warga dan dusun-dusun untuk memastikan kehadiran sebanyak mungkin peserta dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan ini. Upaya ini berbuah hasil dengan tingginya partisipasi warga dalam pemeriksaan kesehatan yang melibatkan tim medis dari Puskesmas Moni dan kader kesehatan desa.

Sekretaris Desa Pemo, Abu Qasim A.M Hasan, menekankan pentingnya keberlanjutan program ini. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara rutin agar masyarakat dapat memiliki akses berkelanjutan terhadap layanan kesehatan. Hal ini diamini oleh Koordinator Program Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga, Benyamin Goza, yang menegaskan bahwa kesehatan adalah faktor utama dalam menunjang produktivitas petani. Dengan tubuh yang sehat, masyarakat dapat bekerja lebih optimal dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Temuan Kesehatan yang Mengkhawatirkan

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya masalah kesehatan yang cukup serius di kalangan masyarakat Desa Pemo. Banyak warga terdeteksi mengalami hipertensi, kolesterol tinggi, asam urat, serta kadar gula darah yang tinggi. Temuan ini menjadi alarm bagi semua pihak bahwa langkah preventif harus segera dilakukan untuk mengurangi risiko penyakit tidak menular yang dapat berdampak pada kualitas hidup dan produktivitas warga.

Perawat dari Puskesmas Moni, Veronika Kemba, mengapresiasi sinergi yang terjalin dalam pelaksanaan program ini. Ia menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan ini sejalan dengan program Integrasi Layanan Kesehatan Primer yang bertujuan memberikan akses pemeriksaan kesehatan dasar bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari bayi hingga lansia.

Pola Hidup Sehat sebagai Solusi

Dengan tingginya angka penyakit yang terdeteksi, tenaga medis dan penyelenggara program menekankan pentingnya perubahan gaya hidup, termasuk pola makan sehat dan aktivitas fisik yang lebih aktif. Sosialisasi mengenai pentingnya menjaga pola makan, mengurangi konsumsi garam dan gula, serta meningkatkan aktivitas fisik akan menjadi agenda lanjutan dalam program kesehatan di Desa Pemo.

Salah satu warga, Marta (56 tahun), mengungkapkan rasa syukurnya setelah mengetahui bahwa ia menderita hipertensi. Sebelumnya, ia mengira bahwa pusing yang sering dialaminya hanyalah efek dari kelelahan. “Sekarang saya tahu harus mengurangi garam dan mulai lebih aktif bergerak saat bekerja di kebun,” ujarnya.

Langkah ke Depan: Keberlanjutan Program Kesehatan

Pemeriksaan kesehatan dini yang telah melibatkan sekitar 150 warga ini membuktikan bahwa masyarakat memiliki keinginan untuk memahami kondisi kesehatan mereka. Namun, hasil temuan menunjukkan bahwa masih banyak yang harus dilakukan agar kesadaran ini diiringi dengan tindakan konkret dalam menjaga kesehatan.

Sebagai tindak lanjut, Yayasan Tananua Flores bersama Puskesmas Moni dan Pemerintah Desa Pemo berencana untuk mengadakan pemeriksaan kesehatan rutin dengan cakupan yang lebih luas. Selain itu, program edukasi tentang pola makan sehat dan pencegahan penyakit tidak menular akan segera dirancang agar masyarakat dapat mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat.

Upaya ini bukan hanya sebatas pemeriksaan kesehatan, tetapi sebuah langkah strategis dalam membangun desa yang lebih sehat dan sejahtera. Kesadaran akan kesehatan harus menjadi bagian dari budaya hidup masyarakat, bukan hanya demi individu, tetapi juga demi keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan seluruh desa.*** Wangge

Pemeriksaan Kesehatan Dini di Desa Pemo: Langkah Awal Menuju Masyarakat Sehat Read More »

Yayasan Tananua Flores Sosialisasikan Program ‘Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga’ di Desa Jeo Dua, Ende

Shere Sekarang

Ende, 22 November 2024 – Yayasan Tananua Flores (YTNF) menggelar sosialisasi program Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga di Desa Jeo Dua, Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende, pada Jumat, 22 November 2024. Kegiatan ini dihadiri oleh 45 peserta dari berbagai elemen masyarakat, termasuk perwakilan Pemerintah Desa Jeo Dua, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Mosalaki, tokoh pendidikan, kesehatan, agama, pemuda, dan perempuan.

Program ini bertujuan untuk memperkenalkan dan memulai proses pendampingan Yayasan Tananua Flores dengan Desa Jeo Dua melalui kerja sama yang resmi. Dalam sambutannya, Benyamin Goza, perwakilan Yayasan Tananua Flores, menekankan pentingnya menjaga dan mengelola sumber daya alam (SDA) secara bijaksana berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal. Ia menegaskan bahwa YTNF, yang telah berkiprah lebih dari 35 tahun di Kabupaten Ende, berkomitmen untuk bekerja sama dengan masyarakat desa dalam mengelola SDA secara berkelanjutan.

Sementara itu Kepala Desa Jeo Dua dalam kesempatan tersebut menyambut baik program ini dan menyatakan dukungannya terhadap upaya Yayasan Tananua Flores. Ia mengajak seluruh masyarakat desa untuk berkolaborasi dalam meningkatkan sektor pertanian serta kegiatan lain yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup di desa.

Benyamin Gosa mewakili dari Tananua dalam memaparkan  materi menekankan ada dua poin yakni

  1. Hak Alam – Menekankan pentingnya pelestarian dan pengelolaan SDA lokal secara berkelanjutan demi generasi mendatang.
  2. Hak Warga – Menggarisbawahi hak masyarakat untuk memanfaatkan SDA secara adil, dengan memperhatikan keseimbangan ekologi dan budaya lokal.

Selain itu, peserta juga diajak berdiskusi mengenai kearifan lokal Desa Jeo Dua, serta bagaimana nilai-nilai budaya desa dapat diintegrasikan dalam pengelolaan SDA yang berkelanjutan.

Diskusi yang berlangsung menghasilkan komitmen bersama dari seluruh pihak untuk bekerja sama dalam merancang peraturan desa yang berfokus pada perlindungan SDA. Lembaga adat dan tokoh masyarakat juga menyatakan dukungan penuh terhadap program ini.

Sebagai langkah awal pendampingan, Yayasan Tananua Flores dan Pemerintah Desa Jeo Dua menandatangani perjanjian kerja sama. Komitmen Desa Jeo Dua tercermin dalam dukungan penuh terhadap program ini, serta dorongan kepada masyarakat untuk memanfaatkan pendampingan YTNF dalam bidang pertanian dan pengelolaan SDA.

Sebagai tindak lanjut, akan dibentuk kelompok kerja desa yang akan mengawal pelaksanaan program ini. Selain itu, pelatihan awal mengenai pengelolaan SDA berbasis kearifan lokal juga direncanakan untuk dilaksanakan dalam waktu dekat.

Benyamin Goza menutup acara dengan pernyataan bahwa peningkatan kapasitas komunitas dalam menjaga dan memanfaatkan SDA secara bijak sangat penting. “Nilai-nilai kearifan lokal yang ada di desa harus menjadi pedoman utama dalam setiap langkah. Yayasan Tananua Flores berkomitmen untuk terus bekerja bersama masyarakat desa untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kepala Desa Jeo Dua juga mengungkapkan rasa terima kasih dan kesiapan desa untuk mendukung segala program yang dibawa oleh Yayasan Tananua Flores. “Kami berharap kehadiran YTNF dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan masyarakat desa kami,” katanya.

Kontributor : Aris Ratman

Editor : jhuan

Yayasan Tananua Flores Sosialisasikan Program ‘Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga’ di Desa Jeo Dua, Ende Read More »

Kapasitas Pendamping Desa Ditingkatkan, Mendukung Kemajuan Kelompok Usaha Tani di Desa

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores | Yayasan Tananua Flores Ende dalam mendukung kelompok usaha Tani di Desa kapasitas pendamping terus ditingkatkan. Langkah dan Kegiatan ini terus dilakukan oleh Tananua agar kemajuan kelompok Tani di desa dampingan dapat terwujud.

Sebagai salah satu kegiatan yang dilakukan yakni melalui kegiatan Pelatihan Peningkatan kapasitas Pendamping dengan memberikan materi latihan untuk kemajuan kelompok Tani. Kegiatan pelatihan ini di selenggarakan pada (28/6) di café Myau-Myau jalan Eltari Ende beberapa waktu yang lalu.

Heribertus Se, sebagai maneger program dalam pengantarnya menegaskan bahwa pentingnya peningkatan kapasitas staf agar proses pendampingan terhadap petani, nelayan dan kelompok usaha dapat dilakukan secara maksimal dengan mengutamakan prinsip kekhasan yang ada pada petani.

Lebih lanjut Heri Se, mengharapkan agar materi yang disajikan dan metode palatihan sesuai dengan kondisi khusus yang terjadi pada petani, nelayan  dan kelompok usaha yang ada saat ini.

Ia menjelaskan, dari refleksi ditemukan bahwa kondisi masyarakat pedesaan berada dalam situasi yang rentan atau miskin dan ditingkat staf adanya kesenjangan kapasitas antar staf sehingga hasil program yang dicapai juga tidak memadai.

Manager Program itu mengungkapkan, perlu dilakukan bedah bersama dalam kelompok dan forum diskusi tentang masyarakat pedesaan yang rentan atau miskin dengan beberapa pertanyaan; Mengapa dan apa penyebabnya?

“ kita perlu melakukan beda bersama dalam kelompok dan forum diskusi agar bisa mengetahui penyebab dan apa rekomendasi yang perluh dilakukan”, Ungkapnya.

Sementara itu, Hironimus Pala selaku Fasilitator dari kegiatan itu mengatakan bahwa dalam pelatihan ini proses yang akan dilalui dengn pendekatan orang dewasa dan yang menjadi narasumber utama adalah peserta.

Senior Tananua itu menjelaskan Perluh dipahami kondisi saat ini agar menjadi Landasan berpikir untuk Staf dalam melakukan Pendampingan.

Menurut Hironimus fenomena dasar yang dialami oleh masyarakat desa saat ini, dari berbagai diskusi yang ditemukan sekurang-kurangnya tiga faktor utama penyebab terjadinya kemiskinan diantaranya, faktor internal (men-talitas petani), faktor eksternal  (pengaruh dari luar) dan faktor alam (bencana dan wabah penyakit). Tiga alasan tersebut saat ini sedang menjerat umat manusia rentan terutama petani dan nelayan pedesaan termasuk  desa-desa wilayah dampingan Tananua Flores.

Upaya  membangun mengetas kemiskinan, perubahan iklim, kebencanaan melalui upaya penataan pangan, perkonomian, kehidupan social, lingkungan hidup diwilayah komunitas petani dan nelayan melalui pemberdayaan kelompok tani dan kelompok nelayan rupakan misi dari pendampingan Yayasan Tananua Flores dilakukan 5 tahun belakangan.

“ kemiskina masyarakat pedesaan disebakan oleh berbagai factor antara lain: Tidak memiliki lahan, SDM rendah, Hidup tanpa mimpi atau cita-cita, Budaya (wurumana), Terlilit hutang, gali lobang tutup lobang, Tergoda pinjaman harian (ofline maupun online), Ijon, judi (ofline dan online), Pola hidup konsumtif dan boros,”

Lanjut dia “masyarakat kita Tak ada Tabungan untuk masa depan, Pengelolaan keuangan yang belum bagus, dampak bantuan uang maupun barang cuma-cuma dari pihak luar, SDM mengelolah keuangan terbatas,Sumber daya alam terbatas, Daya kerja yang rendah (malas), Bermental Bos, bergaya seperti orang kaya dan instant, Pola Hidup ikut selera, gagal panen”, Ungkap dia.

Dari Laporan Hasil evaluasi Yayasan Tananua Flores ditemukan didesa-desa dampingan Yayasan Tananua Flores ada kelompok yang mulai melakukan arisan kelompok, usaha simpan pinjam dan yang usaha lainnya. Kendala teknis yang terjadi ditingkat kelompok adalah bagaimana membukukan dan mempertanggung-jawabkan keuangan secara baik, hal ini sangat berpengaruh terhadap kemajuan usaha kelompok. Untuk itu sebagai langkah awal dimulai dengan pembukuan UBSP, sehingga menjadi model belajar dilihat dari praktek yang sudah dilakukan oleh kelompok Iwatolo desa Rutujeja dan kelompok Satojoto desa Kebirangga Selatan.

Sementara itu dalam materi teknik pembukuan keuangan kelompok dan UBSP, Halimah Tu’sadyah mengungkapkan bahwa pentingnya pembukuan keuangan bagi UBSP, karena ini merupakan nadi dalam UBSP, kalau salah kelolah UBSP bisa mati atau tutup atau juga bubar. Maka pembukuan merupakan bagian  penting dalam mengatur tentang  keuangan usaha kelompok termasuk UBSP. Salah satu alasannya adalah uang merupahkan hal sensitive yang berpotensi untuk memajukan dan juga memporak-porandakan kesatuan kelompok jika tidak dikelola dengan penuh tanggung jawab.

Ia menuturkan agar pembukuan keuangan dapat berjalan baik dalam usaha bersama maka pengurus dan bagian pengelolah Keuangan usaha kelompok wajib pahan dan pengelolah keuangan wajib bisa mengopersikan pembukuan keuanganm usaha kelompok secara transparan, efisisen dan efektif sehingga mampu mengelola  dan  mempertanggungjawabkan keuangan secara baik. Karena itu latihan ini sebagai salah satu teknik dasar yang wajib dilakukan oleh staf dalam mendampingi kelompok tani yang mengembangkan usaha bersama baik itu usaha simpan pinjam ataupun usaha lainnya . ’’tutupnya’’.

Ditulis : Ansel

Editor : HP&HT

 

Kapasitas Pendamping Desa Ditingkatkan, Mendukung Kemajuan Kelompok Usaha Tani di Desa Read More »