Hutan untuk Rakyat, Rakyat Menjaga Hutan: Semangat Perhutanan Sosial Tumbuh di Kabupaten Ende

Shere Sekarang

Ende, NTT – Tananua Flores | Kesadaran masyarakat untuk menjaga hutan dan lingkungan hidup terus menunjukkan perkembangan positif di Kabupaten Ende. Hal ini terlihat dalam rangkaian kegiatan Sosialisasi Perhutanan Sosial yang dilaksanakan oleh Yayasan Tananua Flores bekerja sama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Ende di tiga desa sasaran, yaitu Desa Tonggopapa (Kecamatan Ende) serta Desa Detubela dan Desa Wolooja (Kecamatan Wewaria).

Kegiatan itu berlangsung pada tanggal 30 Maret, 7 dan 26 Mei 2026 menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat, pemerintah desa, tokoh adat (Mosalaki), kelompok tani, perempuan, pemuda, dan berbagai unsur masyarakat lainnya. Selain itu Sosialisasi untuk memahami peluang serta manfaat program Perhutanan Sosial dalam mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan.

Perhutanan Sosial merupakan kebijakan pemerintah yang memberikan akses legal kepada masyarakat untuk mengelola kawasan hutan secara berkelanjutan. Melalui sosialisasi ini, masyarakat memperoleh pemahaman mengenai berbagai skema yang tersedia, seperti Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Kemitraan Kehutanan, hingga Hutan Adat.

Namun, kegiatan ini tidak hanya membahas regulasi dan prosedur pengelolaan kawasan hutan. Proses diskusi yang berlangsung di ketiga desa juga berhasil menggali kembali sejarah kampung, sejarah wilayah adat, serta berbagai pengetahuan lokal yang selama ini menjadi fondasi masyarakat dalam menjaga alam dan sumber penghidupan mereka.

Di Desa Tonggopapa, diskusi berlangsung dinamis dengan keterlibatan aktif para tokoh adat. Mereka menegaskan bahwa masyarakat bukanlah ancaman bagi hutan, melainkan bagian penting dari upaya pelestariannya.

“Kami bukan ancaman bagi hutan. Kami adalah penjaga hutan yang hidup bersama alam dan bertanggung jawab mewariskannya kepada generasi berikutnya,” menjadi semangat yang mengemuka dalam pertemuan tersebut.

Sementara itu, antusiasme masyarakat Desa Detubela terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul terkait akses legal terhadap kawasan hutan. Sebagian besar peserta baru mengetahui bahwa pemerintah menyediakan ruang bagi masyarakat untuk mengelola kawasan hutan secara sah melalui skema Perhutanan Sosial. Berbagai pertanyaan disampaikan, mulai dari batas kawasan hutan, prosedur pengusulan izin, hingga peluang ekonomi yang dapat dikembangkan melalui program tersebut.

Di Desa Wolooja, suasana diskusi diwarnai dengan cerita-cerita sejarah yang disampaikan para Mosalaki dan tokoh adat. Mereka mengisahkan asal-usul kampung, perjalanan wilayah adat, serta aturan adat yang hingga kini masih dijalankan untuk menjaga sumber air, kawasan hutan, dan ketahanan pangan masyarakat. Cerita-cerita tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai adat masih memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam.

Kepala KPH Kabupaten Ende, Yos Dasi Muda, S.Hut., M.Si., menegaskan bahwa keberhasilan Perhutanan Sosial tidak hanya ditentukan oleh terbitnya izin pengelolaan, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pihak dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi masyarakat, kelestarian lingkungan, dan keberlangsungan budaya lokal.

Dari rangkaian kegiatan ini, masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai konsep Perhutanan Sosial. Selain itu, terbangun ruang dialog yang lebih terbuka antara masyarakat dan pemerintah, serta teridentifikasinya berbagai praktik baik dalam pengelolaan sumber daya alam.

Beberapa praktik baik yang ditemukan antara lain perlindungan mata air, larangan menebang pohon di sekitar sumber air, larangan membuka lahan di daerah rawan longsor, serta berbagai ritual adat yang mendukung upaya konservasi lingkungan.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi. Di antaranya adalah keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai prosedur pengusulan izin Perhutanan Sosial, belum jelasnya batas kawasan hutan yang dikelola masyarakat, serta mulai berkurangnya praktik-praktik budaya yang selama ini berfungsi sebagai instrumen konservasi lingkungan.

Sebagai tindak lanjut, masyarakat, pemerintah desa, tokoh adat, KPH Kabupaten Ende, dan Yayasan Tananua Flores sepakat untuk memperkuat koordinasi dalam pengelolaan sumber daya alam, mempertahankan nilai-nilai adat yang mendukung pelestarian lingkungan, serta melakukan pendampingan lanjutan dalam proses pengusulan Perhutanan Sosial.

Ke depan, berbagai langkah strategis akan dilakukan, di antaranya pemetaan partisipatif wilayah adat dan wilayah kelola masyarakat, penguatan kapasitas kelompok masyarakat, serta pengembangan model pengelolaan hutan yang mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi tanpa mengorbankan fungsi ekologis kawasan.

Manager Program Yayasan Tananua Flores, Heribertus Se, menegaskan bahwa kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga pendamping merupakan kunci keberhasilan Perhutanan Sosial.

Menurutnya, di tengah berbagai tantangan lingkungan yang semakin kompleks, komitmen yang ditunjukkan masyarakat di Tonggopapa, Detubela, dan Wolooja menjadi bukti bahwa masa depan hutan dapat dijaga ketika masyarakat diberikan ruang, kepercayaan, dan kesempatan untuk mengelolanya secara bertanggung jawab.

“Kegiatan sosialisasi ini menjadi momentum penting untuk membangun pemahaman masyarakat terhadap berbagai regulasi di bidang kehutanan. Masyarakat perlu mengetahui berbagai skema pengelolaan lingkungan hidup agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam menjaga sumber daya alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujarnya.

Masyarakat di ketiga desa menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut. Mereka berharap pemahaman yang telah diperoleh dapat ditindaklanjuti melalui kerja-kerja kolaboratif yang nyata untuk menjaga kelestarian alam sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.

Perhutanan Sosial pada akhirnya bukan sekadar program pemberian akses kelola hutan, melainkan sebuah jalan menuju pengelolaan sumber daya alam yang lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat lokal. Pengalaman dari Tonggopapa, Detubela, dan Wolooja menunjukkan bahwa ketika masyarakat dilibatkan sebagai pelaku utama, hutan tidak hanya dapat terjaga, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan bagi generasi sekarang dan yang akan datang.***

Kontributor : Herman N Lion

Hutan untuk Rakyat, Rakyat Menjaga Hutan: Semangat Perhutanan Sosial Tumbuh di Kabupaten Ende Read More »

Pertanian Organik di Mautenda Barat: Dari Uji Coba Menuju Gerakan Berkelanjutan

Shere Sekarang

Oleh : Redaksi Tananua Flores

Ende, Mautenda Barat – Tananua Flores| Panen kedua padi sawah di Desa Mautenda Barat pada 25 April 2026 lalu, bukan sekedar capaian produksi, tetapi sebuah penanda penting bahwa perubahan paradigma pertanian sedang berlangsung.

Kajian partisipatif penggunaan pupuk organik yang melibatkan petani, akademisi, pemerintah, dan lembaga pendamping menunjukkan hasil yang signifikan.

Namun pertanyaannya: apakah keberhasilan ini akan berhenti sebagai proyek, atau berkembang menjadi gerakan yang berkelanjutan?

Desa Mautenda Barat kini dapat dilihat sebagai “laboratorium hidup” bagi pengembangan pertanian organik.

Melalui kolaborasi antara Yayasan Tananua Flores, Universitas Flores, kelompok tani, serta pemerintah daerah, dilakukan uji coba pada padi sawah dengan tiga pendekatan: penggunaan pupuk organik, pupuk kimia, dan tanpa perlakuan sebagai pembanding.

Pendekatan ini penting karena tidak hanya berbicara tentang hasil, tetapi juga tentang proses pembelajaran bersama. Petani tidak lagi menjadi objek, melainkan subjek yang terlibat aktif dalam setiap tahapan mulai dari persiapan lahan hingga panen.

Hasil panen kedua yang dinilai “sangat signifikan” oleh akademisi menunjukkan bahwa metode organik bukan sekadar alternatif, tetapi bisa menjadi solusi nyata. ungkap Yustina Pu’ u Dosen Fakultas pertanian universitas Flores

Namun demikian, menurutnya kajian ini juga mengungkap realitas yang lebih kompleks. Tantangan hama, keterbatasan pengetahuan teknis, serta ketergantungan pada input luar masih menjadi persoalan yang harus diselesaikan secara sistematis.

Ia menyanyikan bahwa Analisis dilakukan diambil dar data lapangan hasil pencatatan dan pemantauan langsung dari mahasiswa dan juga staf Tananua dan Penyulu pertanian kabupaten Ende. Dari Beberapa Aspek dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan dan ini perlu terus berlanjut.

Selain itu hal lain ada beberapa Aspek yang ditemukan dalam dinamika kelompok tani di Mautenda Barat untuk menentukan masa depan pertanian organik.

Pertama, aspek ekologis.Penggunaan pupuk dan pestisida organik terbukti lebih ramah lingkungan. Dalam jangka panjang, pendekatan ini tidak hanya menjaga kesuburan tanah tetapi juga melindungi ekosistem. Ini menjadi penting di tengah ancaman degradasi lahan akibat praktik pertanian konvensional berbasis kimia.

Kedua, aspek ekonomi.Pertanian organik sering dianggap kurang menguntungkan dalam jangka pendek. Namun jika dilihat secara menyeluruh, biaya produksi dapat ditekan karena memanfaatkan sumber daya lokal. Tantangan utamanya justru terletak pada akses pasar dan modal, sebagaimana diakui oleh Yosep Benediktus Badioda. Tanpa sistem pemasaran yang kuat, hasil pertanian organik berisiko tidak memiliki nilai tambah yang memadai.

Ketiga, aspek kelembagaan.Kritik yang disampaikan RD. Safan mengenai lemahnya pengawasan program pembangunan desa menjadi catatan penting. Banyak program masuk, tetapi tidak semuanya berlanjut.

Ini menunjukkan bahwa keberhasilan pertanian organik tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berorientasi jangka panjang.

Antara Harapan dan Tantangan Nyata

Apa yang terjadi di Mautenda Barat memberi harapan bahwa transformasi pertanian bisa dimulai dari desa. Namun harapan ini harus diiringi dengan langkah konkret.

Pertama, pemerintah daerah perlu memastikan keberlanjutan program melalui kebijakan yang konsisten. Komitmen untuk memperkuat BUMDes, koperasi, hingga pembentukan BUMD untuk pemasaran hasil pertanian harus segera diwujudkan dalam langkah nyata, bukan sekadar wacana.

Kedua, peningkatan kapasitas petani menjadi kunci. Pelatihan tidak boleh bersifat seremonial, tetapi harus berkelanjutan dan berbasis kebutuhan lapangan. Petani perlu didampingi untuk memahami teknik pengendalian hama organik, manajemen usaha tani, hingga akses pasar.

Ketiga, kolaborasi lintas sektor harus diperkuat. Model kerja sama yang telah dibangun di Mautenda Barat perlu direplikasi di wilayah lain, dengan tetap menyesuaikan kondisi lokal.

Mautenda Barat telah menunjukkan bahwa pertanian organik bukan sekadar konsep, tetapi praktik yang dapat memberikan hasil nyata. Namun keberlanjutan menjadi kata kunci. Tanpa komitmen bersama, keberhasilan ini berisiko menjadi sekadar cerita sesaat.

Editorial ini berpandangan bahwa langkah selanjutnya adalah mentransformasi kajian partisipatif ini menjadi gerakan kolektif. Pertanian organik harus ditempatkan sebagai strategi utama pembangunan desa bukan hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga untuk menjaga lingkungan, memperkuat ekonomi lokal, dan memastikan masa depan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang***

Pertanian Organik di Mautenda Barat: Dari Uji Coba Menuju Gerakan Berkelanjutan Read More »

Panen ke Dua Padi Sawah Organik Desa Mautenda Barat Tunjukan Hasil Signifikan, Dorong Pertanian Berkelanjutan

Shere Sekarang

Ende, Mautenda Barat, – Tananua Flores| Panen kedua padi sawah hasil kajian partisipatif penggunaan pupuk organik di Desa Mautenda Barat Sabtu 25 April 2025 menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong praktik pertanian berkelanjutan berbasis ramah lingkungan dan kemandirian petani.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Flores, Yustina Pu’u, menjelaskan bahwa kajian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi tanah serta kandungan unsur hara sebagai dasar pengelolaan pertanian yang lebih tepat.

“Panen kedua ini menunjukkan hasil yang sangat signifikan. Namun kegiatan ini tidak boleh berhenti sampai di sini, harus ada keberlanjutan dalam kajian partisipatif penggunaan pupuk organik,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi petani, terutama terkait serangan hama yang perlu ditangani secara berkelanjutan dan terpadu.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende menyampaikan bahwa secara nasional Indonesia tengah mendorong swasembada pangan. Kabupaten Ende pun dituntut untuk berkontribusi melalui pengembangan lahan pertanian.

“Secara nasional kita diminta mengembangkan sekitar 400 hektare lahan untuk pangan,” ungkapannya.

Dalam kesempatan yang sama, RD. Safan pastor Kuasi paroki Tanali menyoroti pentingnya tata kelola pembangunan desa yang transparan dan berkelanjutan. Ia meminta pemerintah daerah membentuk tim audit untuk mengawasi seluruh proses pembangunan yang masuk ke desa.

Menurutnya, banyak bantuan dan program pemerintah yang telah masuk, namun belum jelas keberlanjutannya. Ia juga menekankan pentingnya pelatihan bagi petani serta sistem pengawasan yang kuat agar setiap program berjalan efektif dan berkelanjutan.

Bupati Ende, Yosep Benediktus Badioda, dalam sambutannya menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap pembangunan berkelanjutan.

“Pembangunan yang kita lakukan harus terukur dan memiliki mimpi keberlanjutan, baik di kota maupun di desa,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh merusak lingkungan.

Menurutnya, pembangunan harus mampu menyatukan, merawat, menguatkan, dan meneguhkan seluruh elemen masyarakat.Bupati juga mengakui bahwa sektor pertanian saat ini mendapat perhatian besar dari pemerintah pusat dengan dukungan anggaran yang cukup besar.

Namun demikian, kesiapan masyarakat, termasuk perubahan pola pikir dan visi pembangunan pertanian, menjadi faktor kunci keberhasilan.

Selain itu, ia menyoroti tantangan utama dalam sektor pertanian, yakni akses permodalan dan pasar. Untuk menjawab hal tersebut, pemerintah berkomitmen dalam tiga tahun ke depan akan memperkuat BUMDes, mempercepat pembentukan Koperasi Merah Putih, serta membentuk BUMD guna membantu pemasaran hasil pertanian.

Direktur Yayasan Tananua Flores, Bernadus Sambut, menjelaskan bahwa pendekatan pertanian organik menjadi pilihan strategis dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

“Fakta di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan bahan kimia belum mampu mengubah kehidupan petani secara signifikan. Sebaliknya, teknologi ramah lingkungan seperti pupuk dan pestisida organik menunjukkan hasil yang menggembirakan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa program ini dilaksanakan melalui kerja sama antara Yayasan Tananua Flores, Kelompok Tani Satae, Pemerintah Desa Mautenda Barat, Fakultas Pertanian Universitas Flores, Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Ende, serta Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Wewaria.

Uji coba dilakukan pada tanaman padi sawah dengan membandingkan penggunaan pupuk organik, pupuk kimia, serta tanpa perlakuan sebagai kontrol. Seluruh tahapan dilakukan secara partisipatif mulai dari persiapan lahan hingga panen.

Kegiatan ini diharapkan menjadi model pengembangan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Ende, sekaligus mendorong kemandirian petani melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang ramah lingkungan.***

Oleh: Jhuan Mari

Panen ke Dua Padi Sawah Organik Desa Mautenda Barat Tunjukan Hasil Signifikan, Dorong Pertanian Berkelanjutan Read More »

Dari Gaga Gili ke Koperasi: Merawat Harapan di Tanah Wonda

Shere Sekarang

Ende, Wonda – Tananua Flores | Di tanah Wonda yang tenang, harapan tidak pernah datang dengan gegap gempita. Ia lahir perlahan dari langkah kaki yang menyusuri kebun, dari tangan-tangan yang bekerja tanpa lelah, dan dari kebersamaan yang dirawat dalam tradisi sederhana: Gaga Gili.

Tradisi kerja bergilir membersihkan kebun itu bukan sekadar rutinitas. Ia adalah ruang perjumpaan, tempat orang-orang saling menguatkan, berbagi cerita, dan menanam harapan. Dari sanalah, tanpa disadari, sebuah mimpi bersama mulai tumbuh.

Mimpi itu kini dikenal sebagai Koperasi Tani Sinar Harapan.Semua berawal di akhir tahun 1990-an. Saat itu, hanya ada sembilan orang petani yang sepakat untuk tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Mereka tidak memiliki modal besar, tidak pula fasilitas memadai. Yang mereka punya hanyalah tekad dan kepercayaan.

Dengan iuran sederhana(1000) seribu rupiah.

Jumlah yang mungkin terasa kecil, bahkan nyaris tak berarti. Namun bagi mereka, itu adalah simbol: bahwa kebersamaan lebih kuat daripada keterbatasan.

“Kami mulai dari kerja bersama, dari iuran kecil,” kenang Bapak Wifridus, salah satu anggota lama. Seiring waktu, iuran itu meningkat menjadi lima ribu rupiah tanda bahwa semangat mereka juga ikut bertumbuh.

Tahun 1998 menjadi langkah penting. Dari kelompok tani sederhana, mereka mulai berani memasuki dunia pengelolaan ekonomi dengan membentuk Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP). Dari tanah dan cangkul, mereka melangkah ke pengelolaan keuangan sesuatu yang sebelumnya terasa jauh dari kehidupan mereka.

Perjalanan itu tidak mudah. Namun mereka bertahan. Hingga akhirnya, pada tahun 2015, UBSP itu resmi bertransformasi menjadi koperasi. Sebuah tonggak penting yang lahir bukan dari kemudahan, tetapi dari kesabaran panjang, kerja keras, dan keyakinan akan masa depan.

Kini, hingga Desember 2025, koperasi ini memiliki 58 anggota. Jumlah yang mungkin tidak besar, tetapi setiap orang di dalamnya adalah bagian dari cerita perjuangan yang sama.

Pengurus memilih berjalan dengan hati-hati. Mereka tidak tergesa-gesa menambah anggota, karena yang mereka jaga bukan sekadar jumlah, melainkan kepercayaan. Di sisi lain, tantangan tetap ada terutama dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya berkoperasi.

Namun bagi mereka yang sudah merasakan manfaatnya, koperasi bukan lagi sekadar lembaga. Ia adalah penopang hidup.

“Saya bisa menyekolahkan tiga anak,” ujar seorang anggota dengan mata berbinar. Kalimat sederhana itu menyimpan makna yang dalam tentang harapan yang akhirnya menemukan jalannya.

Ibu Ros juga memiliki kisahnya sendiri. Di saat genting, ketika kebutuhan mendesak datang tanpa aba-aba, koperasi menjadi tempat ia berpaling.

“Sangat membantu,” katanya singkat. Namun dari nada suaranya, terasa betapa besar arti kehadiran koperasi dalam hidupnya.

Meski demikian, perjalanan Koperasi Tani Sinar Harapan masih jauh dari kata sempurna. Berbagai rencana pengembangan unit usaha mulai dari pertanian, peternakan, hingga pertokoan dan jasa belum sepenuhnya terwujud. Hingga kini, baru unit simpan pinjam yang berjalan aktif.

Keterbatasan sumber daya manusia, minimnya sarana prasarana, dan tantangan permodalan masih menjadi hambatan nyata.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak pernah goyah yakni memiliki tekad.

“Kita jaga dan rawat koperasi ini,” tegas Bernadus Sambut, Direktur Yayasan Tananua, dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT). Baginya, koperasi ini bukan sekadar tempat usaha, melainkan harapan yang harus dijaga bersama.

RAT bukan hanya agenda rutin. Ia adalah ruang di mana semua suara bertemu. Di sanalah para anggota mengevaluasi perjalanan, mengakui kekurangan, dan merancang masa depan. Dalam pertemuan terakhir, berbagai hal dibicarakan mulai dari keterbatasan anggota yang masih berasal dari lingkup dusun, hingga kebutuhan akan tambahan modal untuk mengembangkan usaha. Di tengah diskusi itu, hadir pula harapan dari pemerintah. Camat Ndori, Fidelis Sobha, S.IP, menyampaikan tentang Program Koperasi Merah Putih sebagai peluang, bukan ancaman.

Ia menegaskan bahwa kekuatan koperasi terletak pada anggotanya. “Anggota harus tetap semangat,” pesannya.

Baginya, program pemerintah tidak dimaksudkan untuk menggantikan usaha yang sudah ada, melainkan memperkuat pelayanan bagi masyarakat, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti sembako.

Perjalanan koperasi ini juga tidak lepas dari tangan-tangan yang setia mendampingi. Yayasan Tananua Flores hadir sejak awal dari masa kelompok tani hingga menjadi koperasi. Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Ende pun terus memberikan bimbingan dan membuka peluang kerja sama.

Dari sinilah, harapan itu terus dijaga.

Koperasi Tani Sinar Harapan mungkin belum besar. Usahanya masih terbatas, anggotanya belum banyak. Namun di dalamnya, tersimpan sesuatu yang jauh lebih penting: semangat kebersamaan.

Dari iuran seribu rupiah, dari kerja bergilir di kebun, dari mimpi sederhana untuk hidup lebih baik semuanya telah menjelma menjadi kekuatan. Dan di tanah Wonda, harapan itu tidak pernah benar-benar padam. Ia terus tumbuh, dirawat, dan diwariskan.

“Selamat untuk koperasi kita,” ucap seorang anggota dengan penuh keyakinan.

“Semoga tetap hidup dan terus berkembang.”

Ditulis oleh : Bernadus S

Dari Gaga Gili ke Koperasi: Merawat Harapan di Tanah Wonda Read More »

Panen Perdana Padi Sawah Hasil Kajian Partisipatif di Desa Mautenda Barat Disambut Positif Pemerintah

Shere Sekarang

Ende,Mautenda Barat, Tananua Flores | 21 Oktober 2025 ,- Kegiatan panen perdana padi sawah hasil kajian partisipatif yang dilakukan oleh Kelompok Tani Sa Ate Desa Mautenda Barat mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Kegiatan ini difasilitasi oleh Yayasan Tananua Flores, Universitas Flores (Uniflor), dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), serta dihadiri oleh Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Pemerintah Kecamatan Wewaria, Pemerintah Desa Mautenda Barat, dan Pastor Kuasi Paroki Tanali.

Panen perdana ini dilaksanakan di lahan-lahan sawah petani setempat dan menjadi hasil nyata dari proses pembelajaran bersama yang menekankan pada penggunaan pupuk organik lokal serta metode pertanian berkelanjutan.

Apresiasi Dinas Pertanian

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, H. Ibrahim Hadir Dean menyampaikan apresiasi tinggi terhadap proses kajian yang dilakukan masyarakat bersama lembaga akademik dan pendamping lapangan.

“Saya sangat tertarik dengan kajian partisipatif ini. Proses seperti ini penting untuk mendorong Desa Mautenda Barat memiliki satu produk unggulan, yakni padi organik. Namun, perlu diingat bahwa menjadi benar-benar organik membutuhkan waktu, kesabaran, dan komitmen untuk meninggalkan pupuk kimia sepenuhnya,” tegasnya

Beliau menambahkan, Pemerintah Kabupaten Ende mendukung penuh upaya ini dan berharap agar proses kajian terus berlanjut hingga petani benar-benar mampu menghasilkan padi organik bersertifikat.

“Kita bukan hanya menanam padi, tetapi juga menanam masa depan yang lebih sehat bagi tanah, alam, dan manusia,” ujarnya.

Dukungan Pemerintah Kecamatan

Sementara itu, Camat Wewaria, Fidelis Bela, S.Sos., turut memberikan apresiasi kepada Dinas Pertanian, Yayasan Tananua Flores, dan Universitas Flores atas pendampingan aktif kepada masyarakat.

“Mautenda Barat dikenal sebagai daerah pertanian yang potensial. Kini saatnya potensi itu diolah dengan cara yang berkelanjutan. Ini adalah titik balik bagi Wewaria. Kami mendorong agar pendampingan seperti ini tidak hanya menyentuh satu desa, tetapi juga menjangkau wilayah lain sesuai potensi lokal,” ungkapnya.

Kontribusi Akademik Universitas Flores

Dari pihak akademisi, Ketua Program Studi Agroteknologi Universitas Flores Josina I.B.Hutubessy menjelaskan bahwa pihaknya melakukan analisis terhadap kandungan pupuk organik yang digunakan serta memantau variabel pertumbuhan tanaman selama tiga bulan.

“Kami sudah melihat hasilnya dan akan melanjutkan penanaman tahap kedua. Analisis unsur hara akan terus kami lakukan agar data yang diperoleh dapat menjadi bukti ilmiah bahwa produk ini benar-benar organik,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari kajian ini bukan hanya edukasi bagi masyarakat, tetapi juga menghasilkan data ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Tidak cukup hanya mengatakan produk kita organik. Harus ada bukti dari hasil kajian. Karena itu, mahasiswa kami dilibatkan untuk memantau proses pertumbuhan tanaman setiap dua minggu sekali,” tambahnya.

Refleksi Pastoral dan Dorongan Perubahan

RD. Yohanes Risantos Rengu (Romo Safan), Pastor Kuasi Paroki Tanali, turut memberikan refleksi pastoral yang menyentuh. Ia menilai, perubahan pola pikir petani merupakan tantangan besar dalam membangun pertanian berkelanjutan.

“Kebanyakan petani menyerahkan 90% hasil pada Tuhan dan hanya 10% pada usahanya sendiri. Karena itu, perubahan mental dan kebiasaan butuh waktu. Petani sering hanya tahu menanam, tetapi belum mampu merawat tanah dengan baik,” ujarnya.

Romo menekankan bahwa penggunaan bahan kimia yang berlebihan telah “memaksa” tanah untuk terus memberi hasil tanpa pemulihan. Ia mendorong agar masyarakat mulai membuka diri terhadap pengetahuan dan teknologi baru, termasuk melalui kajian seperti ini.

“Sebagai pastor, saya tidak hanya ingin memimpin dari mimbar, tetapi juga turun langsung melihat kondisi petani. Kami akan bekerja sama dengan pengurus DPP, stasi, dan KUB untuk memperhatikan pola kerja petani yang masih perlu diperbarui,” tambahnya.

Suara dari Kelompok Tani

Ketua Kelompok Tani Sa Ate Fransiskus Seda menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas pendampingan dari berbagai pihak selama proses kajian ini.

“Kami menjalankan semua proses sesuai petunjuk pendamping. Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut dan kami siap melanjutkan pada tahap-tahap berikutnya,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi petani Mautenda Barat dalam mengenal proses kajian pupuk organik, dan mereka berkomitmen untuk terus belajar serta meningkatkan produksi padi sawah secara berkelanjutan.

Kegiatan panen perdana ini bukan hanya menjadi simbol keberhasilan petani Desa Mautenda Barat, tetapi juga bukti bahwa pendekatan kajian partisipatif mampu menghubungkan masyarakat, akademisi, dan pemerintah dalam satu visi: membangun pertanian berkelanjutan yang sehat bagi manusia dan alam.***

Ditulis oleh : J.Mari

Panen Perdana Padi Sawah Hasil Kajian Partisipatif di Desa Mautenda Barat Disambut Positif Pemerintah Read More »