Pertanian Organik di Mautenda Barat: Dari Uji Coba Menuju Gerakan Berkelanjutan

Shere Sekarang

Oleh : Redaksi Tananua Flores

Ende, Mautenda Barat – Tananua Flores| Panen kedua padi sawah di Desa Mautenda Barat pada 25 April 2026 lalu, bukan sekedar capaian produksi, tetapi sebuah penanda penting bahwa perubahan paradigma pertanian sedang berlangsung.

Kajian partisipatif penggunaan pupuk organik yang melibatkan petani, akademisi, pemerintah, dan lembaga pendamping menunjukkan hasil yang signifikan.

Namun pertanyaannya: apakah keberhasilan ini akan berhenti sebagai proyek, atau berkembang menjadi gerakan yang berkelanjutan?

Desa Mautenda Barat kini dapat dilihat sebagai “laboratorium hidup” bagi pengembangan pertanian organik.

Melalui kolaborasi antara Yayasan Tananua Flores, Universitas Flores, kelompok tani, serta pemerintah daerah, dilakukan uji coba pada padi sawah dengan tiga pendekatan: penggunaan pupuk organik, pupuk kimia, dan tanpa perlakuan sebagai pembanding.

Pendekatan ini penting karena tidak hanya berbicara tentang hasil, tetapi juga tentang proses pembelajaran bersama. Petani tidak lagi menjadi objek, melainkan subjek yang terlibat aktif dalam setiap tahapan mulai dari persiapan lahan hingga panen.

Hasil panen kedua yang dinilai “sangat signifikan” oleh akademisi menunjukkan bahwa metode organik bukan sekadar alternatif, tetapi bisa menjadi solusi nyata. ungkap Yustina Pu’ u Dosen Fakultas pertanian universitas Flores

Namun demikian, menurutnya kajian ini juga mengungkap realitas yang lebih kompleks. Tantangan hama, keterbatasan pengetahuan teknis, serta ketergantungan pada input luar masih menjadi persoalan yang harus diselesaikan secara sistematis.

Ia menyanyikan bahwa Analisis dilakukan diambil dar data lapangan hasil pencatatan dan pemantauan langsung dari mahasiswa dan juga staf Tananua dan Penyulu pertanian kabupaten Ende. Dari Beberapa Aspek dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan dan ini perlu terus berlanjut.

Selain itu hal lain ada beberapa Aspek yang ditemukan dalam dinamika kelompok tani di Mautenda Barat untuk menentukan masa depan pertanian organik.

Pertama, aspek ekologis.Penggunaan pupuk dan pestisida organik terbukti lebih ramah lingkungan. Dalam jangka panjang, pendekatan ini tidak hanya menjaga kesuburan tanah tetapi juga melindungi ekosistem. Ini menjadi penting di tengah ancaman degradasi lahan akibat praktik pertanian konvensional berbasis kimia.

Kedua, aspek ekonomi.Pertanian organik sering dianggap kurang menguntungkan dalam jangka pendek. Namun jika dilihat secara menyeluruh, biaya produksi dapat ditekan karena memanfaatkan sumber daya lokal. Tantangan utamanya justru terletak pada akses pasar dan modal, sebagaimana diakui oleh Yosep Benediktus Badioda. Tanpa sistem pemasaran yang kuat, hasil pertanian organik berisiko tidak memiliki nilai tambah yang memadai.

Ketiga, aspek kelembagaan.Kritik yang disampaikan RD. Safan mengenai lemahnya pengawasan program pembangunan desa menjadi catatan penting. Banyak program masuk, tetapi tidak semuanya berlanjut.

Ini menunjukkan bahwa keberhasilan pertanian organik tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada tata kelola yang transparan, akuntabel, dan berorientasi jangka panjang.

Antara Harapan dan Tantangan Nyata

Apa yang terjadi di Mautenda Barat memberi harapan bahwa transformasi pertanian bisa dimulai dari desa. Namun harapan ini harus diiringi dengan langkah konkret.

Pertama, pemerintah daerah perlu memastikan keberlanjutan program melalui kebijakan yang konsisten. Komitmen untuk memperkuat BUMDes, koperasi, hingga pembentukan BUMD untuk pemasaran hasil pertanian harus segera diwujudkan dalam langkah nyata, bukan sekadar wacana.

Kedua, peningkatan kapasitas petani menjadi kunci. Pelatihan tidak boleh bersifat seremonial, tetapi harus berkelanjutan dan berbasis kebutuhan lapangan. Petani perlu didampingi untuk memahami teknik pengendalian hama organik, manajemen usaha tani, hingga akses pasar.

Ketiga, kolaborasi lintas sektor harus diperkuat. Model kerja sama yang telah dibangun di Mautenda Barat perlu direplikasi di wilayah lain, dengan tetap menyesuaikan kondisi lokal.

Mautenda Barat telah menunjukkan bahwa pertanian organik bukan sekadar konsep, tetapi praktik yang dapat memberikan hasil nyata. Namun keberlanjutan menjadi kata kunci. Tanpa komitmen bersama, keberhasilan ini berisiko menjadi sekadar cerita sesaat.

Editorial ini berpandangan bahwa langkah selanjutnya adalah mentransformasi kajian partisipatif ini menjadi gerakan kolektif. Pertanian organik harus ditempatkan sebagai strategi utama pembangunan desa bukan hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga untuk menjaga lingkungan, memperkuat ekonomi lokal, dan memastikan masa depan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang***

Pertanian Organik di Mautenda Barat: Dari Uji Coba Menuju Gerakan Berkelanjutan Read More »

Panen ke Dua Padi Sawah Organik Desa Mautenda Barat Tunjukan Hasil Signifikan, Dorong Pertanian Berkelanjutan

Shere Sekarang

Ende, Mautenda Barat, – Tananua Flores| Panen kedua padi sawah hasil kajian partisipatif penggunaan pupuk organik di Desa Mautenda Barat Sabtu 25 April 2025 menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong praktik pertanian berkelanjutan berbasis ramah lingkungan dan kemandirian petani.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Flores, Yustina Pu’u, menjelaskan bahwa kajian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi tanah serta kandungan unsur hara sebagai dasar pengelolaan pertanian yang lebih tepat.

“Panen kedua ini menunjukkan hasil yang sangat signifikan. Namun kegiatan ini tidak boleh berhenti sampai di sini, harus ada keberlanjutan dalam kajian partisipatif penggunaan pupuk organik,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi petani, terutama terkait serangan hama yang perlu ditangani secara berkelanjutan dan terpadu.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende menyampaikan bahwa secara nasional Indonesia tengah mendorong swasembada pangan. Kabupaten Ende pun dituntut untuk berkontribusi melalui pengembangan lahan pertanian.

“Secara nasional kita diminta mengembangkan sekitar 400 hektare lahan untuk pangan,” ungkapannya.

Dalam kesempatan yang sama, RD. Safan pastor Kuasi paroki Tanali menyoroti pentingnya tata kelola pembangunan desa yang transparan dan berkelanjutan. Ia meminta pemerintah daerah membentuk tim audit untuk mengawasi seluruh proses pembangunan yang masuk ke desa.

Menurutnya, banyak bantuan dan program pemerintah yang telah masuk, namun belum jelas keberlanjutannya. Ia juga menekankan pentingnya pelatihan bagi petani serta sistem pengawasan yang kuat agar setiap program berjalan efektif dan berkelanjutan.

Bupati Ende, Yosep Benediktus Badioda, dalam sambutannya menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap pembangunan berkelanjutan.

“Pembangunan yang kita lakukan harus terukur dan memiliki mimpi keberlanjutan, baik di kota maupun di desa,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh merusak lingkungan.

Menurutnya, pembangunan harus mampu menyatukan, merawat, menguatkan, dan meneguhkan seluruh elemen masyarakat.Bupati juga mengakui bahwa sektor pertanian saat ini mendapat perhatian besar dari pemerintah pusat dengan dukungan anggaran yang cukup besar.

Namun demikian, kesiapan masyarakat, termasuk perubahan pola pikir dan visi pembangunan pertanian, menjadi faktor kunci keberhasilan.

Selain itu, ia menyoroti tantangan utama dalam sektor pertanian, yakni akses permodalan dan pasar. Untuk menjawab hal tersebut, pemerintah berkomitmen dalam tiga tahun ke depan akan memperkuat BUMDes, mempercepat pembentukan Koperasi Merah Putih, serta membentuk BUMD guna membantu pemasaran hasil pertanian.

Direktur Yayasan Tananua Flores, Bernadus Sambut, menjelaskan bahwa pendekatan pertanian organik menjadi pilihan strategis dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

“Fakta di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan bahan kimia belum mampu mengubah kehidupan petani secara signifikan. Sebaliknya, teknologi ramah lingkungan seperti pupuk dan pestisida organik menunjukkan hasil yang menggembirakan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa program ini dilaksanakan melalui kerja sama antara Yayasan Tananua Flores, Kelompok Tani Satae, Pemerintah Desa Mautenda Barat, Fakultas Pertanian Universitas Flores, Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Ende, serta Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Wewaria.

Uji coba dilakukan pada tanaman padi sawah dengan membandingkan penggunaan pupuk organik, pupuk kimia, serta tanpa perlakuan sebagai kontrol. Seluruh tahapan dilakukan secara partisipatif mulai dari persiapan lahan hingga panen.

Kegiatan ini diharapkan menjadi model pengembangan pertanian berkelanjutan di Kabupaten Ende, sekaligus mendorong kemandirian petani melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang ramah lingkungan.***

Oleh: Jhuan Mari

Panen ke Dua Padi Sawah Organik Desa Mautenda Barat Tunjukan Hasil Signifikan, Dorong Pertanian Berkelanjutan Read More »

Kripik Talas dan Harapan Baru Perempuan Mbobhenga

Shere Sekarang
Dok.Kripik Hasil Kerja Kelompok Perempuan Desa Mbobhenga

Perubahan besar kadang lahir dari hal-hal yang tampak kecil. Di Desa Mbobhenga, Kabupaten Ende, perubahan itu dimulai dari talas yang digoreng di dapur-dapur rumah warga. Dari kegiatan sederhana memproduksi kripik talas, sekelompok perempuan desa kini mulai membuka jalan baru menuju kemandirian ekonomi”.

Ende, Mbobhenga – Tananua Flores | Pemberdayaan perempuan telah lama menjadi bagian dari wacana pembangunan di Indonesia. Sejak diperkenalkan secara luas pada awal 1990-an oleh berbagai organisasi masyarakat sipil, diperkuat melalui berbagai forum global tentang kesetaraan gender, hingga menjadi bagian dari kebijakan pembangunan nasional di era Reformasi, konsep ini terus mendapat perhatian. Namun dalam praktiknya, pemberdayaan sering kali berhenti pada tingkat program atau proyek jangka pendek. Banyak kegiatan pelatihan digelar, bantuan diberikan, laporan dibuat, tetapi perubahan nyata di tingkat komunitas tidak selalu terlihat.

Di tengah dinamika tersebut, pengalaman kecil dari Desa Mbobhenga di Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, memberikan pelajaran penting tentang bagaimana pemberdayaan dapat bekerja secara nyata. Perubahan yang terjadi di desa ini tidak datang dari proyek besar atau investasi yang mahal. Ia tumbuh dari langkah sederhana yang dilakukan oleh sekelompok perempuan desa yang mulai mengolah talas menjadi kripik.

Desa Mbobhenga berada di wilayah pegunungan dengan potensi alam yang cukup kaya. Berbagai komoditas perkebunan seperti cengkeh, pala, kemiri, dan kopi tumbuh dengan baik di wilayah ini. Tanaman pangan seperti talas juga mudah ditemukan di lahan-lahan masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, akses infrastruktur di desa ini mulai membaik. Listrik sudah tersedia, jaringan telekomunikasi semakin menjangkau wilayah pedesaan, dan jalan penghubung antarwilayah perlahan berkembang.

Namun seperti banyak desa lainnya di Indonesia, potensi alam tidak selalu otomatis menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Tanpa pengelolaan yang tepat, sumber daya lokal sering hanya menjadi potensi yang belum tergarap. Masyarakat menjual hasil pertanian dalam bentuk bahan mentah dengan nilai tambah yang rendah, sementara peluang untuk mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi belum banyak dimanfaatkan.

Di sisi lain, perempuan di pedesaan masih menghadapi berbagai hambatan struktural. Budaya patriarki yang kuat sering membatasi ruang perempuan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi dan pengambilan keputusan. Beban kerja ganda dalam rumah tangga, keterbatasan akses pelatihan, serta minimnya kesempatan untuk mengembangkan usaha menjadi tantangan yang umum ditemui.

Dalam konteks inilah pendekatan pemberdayaan perempuan menjadi penting. Di Dusun Orakose, Desa Mbobhenga, lima belas ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Tani Setia memulai sebuah langkah kecil yang kemudian berkembang menjadi harapan baru. Mereka mencoba memproduksi kripik talas sebagai usaha ekonomi rumah tangga.

Pilihan talas sebagai bahan baku bukan tanpa alasan. Tanaman ini mudah ditemukan di desa, biaya produksinya relatif rendah, dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk olahan yang diminati pasar. Di tengah berkembangnya sektor pariwisata di Kabupaten Ende dan wilayah Flores secara umum, produk pangan lokal memiliki peluang untuk dipasarkan kepada wisatawan maupun masyarakat perkotaan yang mulai tertarik pada produk tradisional.

Namun memulai usaha bukan perkara mudah. Para ibu di Orakose pada awalnya belum memiliki pengalaman dalam pengolahan produk pangan secara komersial. Pengetahuan tentang manajemen usaha, perhitungan biaya produksi, serta strategi pemasaran masih sangat terbatas. Tanpa dukungan yang tepat, inisiatif kecil seperti ini berisiko berhenti di tengah jalan.

Pendampingan dari organisasi masyarakat sipil kemudian menjadi faktor penting dalam proses ini. Yayasan Tananua Flores hadir mendampingi kelompok perempuan tersebut melalui serangkaian pelatihan dan penguatan kapasitas. Para anggota kelompok dilatih untuk meningkatkan kualitas produksi, memperbaiki teknik pengemasan, serta memahami cara menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual produk.

Pendampingan juga dilakukan dalam hal penguatan organisasi kelompok. Para ibu didorong untuk bekerja secara kolektif, membagi peran dalam proses produksi, serta merencanakan pengembangan usaha secara bersama. Selain itu, kelompok juga mulai diperkenalkan pada peluang pemasaran melalui media sosial dan jaringan pasar lokal.

Hasilnya mulai terlihat. Produk kripik talas yang dihasilkan oleh kelompok perempuan di Orakose kini mulai dipasarkan di tingkat kabupaten. Meskipun skalanya masih kecil, kegiatan ini memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga sekaligus membuka ruang baru bagi perempuan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi produktif.

Lebih dari sekadar kegiatan ekonomi, proses ini membawa perubahan sosial yang penting. Para perempuan yang sebelumnya hanya terlibat dalam aktivitas domestik kini mulai memiliki ruang untuk belajar, berdiskusi, dan mengambil keputusan bersama. Mereka belajar menghitung keuntungan, memahami pasar, serta mengembangkan kepercayaan diri sebagai pelaku usaha.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dari program yang besar dan kompleks. Perubahan dapat dimulai dari langkah kecil yang relevan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Ketika masyarakat terlibat secara aktif dan memiliki rasa kepemilikan terhadap kegiatan yang dijalankan, proses pemberdayaan menjadi lebih berkelanjutan.

Tentu saja perjalanan kelompok perempuan di Mbobhenga masih menghadapi berbagai tantangan. Keterbatasan modal usaha masih menjadi hambatan utama dalam meningkatkan kapasitas produksi. Proses pengurusan izin usaha dan legalitas produk juga memerlukan waktu serta dukungan dari berbagai pihak. Selain itu, akses distribusi ke pasar yang lebih luas masih perlu diperkuat agar produk lokal dapat bersaing dengan produk industri yang lebih besar.

Di sinilah peran pemerintah daerah menjadi sangat penting. Dukungan kebijakan yang berpihak pada usaha mikro dan kecil dapat membantu kelompok-kelompok usaha masyarakat berkembang lebih jauh. Program pelatihan, akses permodalan, kemudahan perizinan, serta dukungan pemasaran melalui jaringan pasar daerah dapat menjadi faktor penentu keberlanjutan usaha seperti ini.

Desa Mbobhenga memberikan pelajaran bahwa pemberdayaan yang efektif membutuhkan kolaborasi antara masyarakat, organisasi pendamping, dan pemerintah. Ketika ketiga unsur ini bekerja bersama, potensi lokal yang sebelumnya terabaikan dapat berkembang menjadi sumber kekuatan ekonomi baru bagi desa.

Kripik talas yang diproduksi oleh kelompok perempuan di Orakose mungkin terlihat sederhana. Namun di balik produk kecil tersebut tersimpan cerita tentang keberanian untuk mencoba, semangat untuk belajar, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Dari dapur-dapur sederhana di desa, perempuan Mbobhenga sedang membangun jalan baru menuju kemandirian ekonomi.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari kota-kota besar atau proyek-proyek raksasa. Kadang-kadang, perubahan justru tumbuh dari desa-desa kecil yang perlahan menemukan kekuatannya sendiri. Jika inisiatif seperti ini terus didukung dan direplikasi di berbagai daerah, maka pemberdayaan perempuan tidak lagi sekadar wacana pembangunan, melainkan menjadi gerakan nyata menuju kesejahteraan masyarakat.

Oleh: Anselmus Kaki Reku, S.Sos
Staf Lapangan Tananua Flores

Kripik Talas dan Harapan Baru Perempuan Mbobhenga Read More »

Panen Perdana Padi Sawah Hasil Kajian Partisipatif di Desa Mautenda Barat Disambut Positif Pemerintah

Shere Sekarang

Ende,Mautenda Barat, Tananua Flores | 21 Oktober 2025 ,- Kegiatan panen perdana padi sawah hasil kajian partisipatif yang dilakukan oleh Kelompok Tani Sa Ate Desa Mautenda Barat mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Kegiatan ini difasilitasi oleh Yayasan Tananua Flores, Universitas Flores (Uniflor), dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), serta dihadiri oleh Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Pemerintah Kecamatan Wewaria, Pemerintah Desa Mautenda Barat, dan Pastor Kuasi Paroki Tanali.

Panen perdana ini dilaksanakan di lahan-lahan sawah petani setempat dan menjadi hasil nyata dari proses pembelajaran bersama yang menekankan pada penggunaan pupuk organik lokal serta metode pertanian berkelanjutan.

Apresiasi Dinas Pertanian

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, H. Ibrahim Hadir Dean menyampaikan apresiasi tinggi terhadap proses kajian yang dilakukan masyarakat bersama lembaga akademik dan pendamping lapangan.

“Saya sangat tertarik dengan kajian partisipatif ini. Proses seperti ini penting untuk mendorong Desa Mautenda Barat memiliki satu produk unggulan, yakni padi organik. Namun, perlu diingat bahwa menjadi benar-benar organik membutuhkan waktu, kesabaran, dan komitmen untuk meninggalkan pupuk kimia sepenuhnya,” tegasnya

Beliau menambahkan, Pemerintah Kabupaten Ende mendukung penuh upaya ini dan berharap agar proses kajian terus berlanjut hingga petani benar-benar mampu menghasilkan padi organik bersertifikat.

“Kita bukan hanya menanam padi, tetapi juga menanam masa depan yang lebih sehat bagi tanah, alam, dan manusia,” ujarnya.

Dukungan Pemerintah Kecamatan

Sementara itu, Camat Wewaria, Fidelis Bela, S.Sos., turut memberikan apresiasi kepada Dinas Pertanian, Yayasan Tananua Flores, dan Universitas Flores atas pendampingan aktif kepada masyarakat.

“Mautenda Barat dikenal sebagai daerah pertanian yang potensial. Kini saatnya potensi itu diolah dengan cara yang berkelanjutan. Ini adalah titik balik bagi Wewaria. Kami mendorong agar pendampingan seperti ini tidak hanya menyentuh satu desa, tetapi juga menjangkau wilayah lain sesuai potensi lokal,” ungkapnya.

Kontribusi Akademik Universitas Flores

Dari pihak akademisi, Ketua Program Studi Agroteknologi Universitas Flores Josina I.B.Hutubessy menjelaskan bahwa pihaknya melakukan analisis terhadap kandungan pupuk organik yang digunakan serta memantau variabel pertumbuhan tanaman selama tiga bulan.

“Kami sudah melihat hasilnya dan akan melanjutkan penanaman tahap kedua. Analisis unsur hara akan terus kami lakukan agar data yang diperoleh dapat menjadi bukti ilmiah bahwa produk ini benar-benar organik,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari kajian ini bukan hanya edukasi bagi masyarakat, tetapi juga menghasilkan data ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Tidak cukup hanya mengatakan produk kita organik. Harus ada bukti dari hasil kajian. Karena itu, mahasiswa kami dilibatkan untuk memantau proses pertumbuhan tanaman setiap dua minggu sekali,” tambahnya.

Refleksi Pastoral dan Dorongan Perubahan

RD. Yohanes Risantos Rengu (Romo Safan), Pastor Kuasi Paroki Tanali, turut memberikan refleksi pastoral yang menyentuh. Ia menilai, perubahan pola pikir petani merupakan tantangan besar dalam membangun pertanian berkelanjutan.

“Kebanyakan petani menyerahkan 90% hasil pada Tuhan dan hanya 10% pada usahanya sendiri. Karena itu, perubahan mental dan kebiasaan butuh waktu. Petani sering hanya tahu menanam, tetapi belum mampu merawat tanah dengan baik,” ujarnya.

Romo menekankan bahwa penggunaan bahan kimia yang berlebihan telah “memaksa” tanah untuk terus memberi hasil tanpa pemulihan. Ia mendorong agar masyarakat mulai membuka diri terhadap pengetahuan dan teknologi baru, termasuk melalui kajian seperti ini.

“Sebagai pastor, saya tidak hanya ingin memimpin dari mimbar, tetapi juga turun langsung melihat kondisi petani. Kami akan bekerja sama dengan pengurus DPP, stasi, dan KUB untuk memperhatikan pola kerja petani yang masih perlu diperbarui,” tambahnya.

Suara dari Kelompok Tani

Ketua Kelompok Tani Sa Ate Fransiskus Seda menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas pendampingan dari berbagai pihak selama proses kajian ini.

“Kami menjalankan semua proses sesuai petunjuk pendamping. Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut dan kami siap melanjutkan pada tahap-tahap berikutnya,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi petani Mautenda Barat dalam mengenal proses kajian pupuk organik, dan mereka berkomitmen untuk terus belajar serta meningkatkan produksi padi sawah secara berkelanjutan.

Kegiatan panen perdana ini bukan hanya menjadi simbol keberhasilan petani Desa Mautenda Barat, tetapi juga bukti bahwa pendekatan kajian partisipatif mampu menghubungkan masyarakat, akademisi, dan pemerintah dalam satu visi: membangun pertanian berkelanjutan yang sehat bagi manusia dan alam.***

Ditulis oleh : J.Mari

Panen Perdana Padi Sawah Hasil Kajian Partisipatif di Desa Mautenda Barat Disambut Positif Pemerintah Read More »

Bertemu dan Berbagi Cerita Bersama Kelompok Tani Mbei Mbani di Desa Kamubheka

Shere Sekarang

 

Ende, Kamubheka- Tananua | Tahun Baru 2025 menjadi momentum penuh harapan bagi masyarakat Desa Kamubheka. Salah satu kegiatan bermakna yang dilaksanakan adalah pertemuan perdana bersama Kelompok Tani Mbei Mbani, sebuah komunitas yang berkomitmen memajukan pertanian dan kesejahteraan anggotanya. Dalam suasana hangat, anggota kelompok berkumpul untuk merefleksikan perjalanan, mengidentifikasi tantangan, dan menyusun rencana masa depan (13/01/2025).

Momen Refleksi: Meninjau Perjalanan Kelompok

Diskusi dimulai dengan meninjau perjalanan Kelompok Tani Mbei Mbani selama ini. Berbagai pencapaian disoroti, mulai dari peningkatan hasil panen hingga penguatan solidaritas antaranggota. Evaluasi ini menjadi pijakan penting untuk melihat dampak positif yang telah dirasakan masyarakat.

Namun, perjalanan tentu tidak bebas dari tantangan. Dalam suasana diskusi yang terbuka, anggota kelompok berbagi cerita tentang kendala yang mereka hadapi, baik dari aspek teknis pertanian maupun hambatan pemasaran. Dengan semangat kebersamaan, berbagai solusi kemudian didiskusikan dan disepakati untuk diimplementasikan ke depan.

Lima Fokus Utama Pendampingan

Hasil diskusi menghasilkan lima fokus pendampingan yang akan menjadi prioritas kelompok selama dua tahun ke depan:

  1. Pengembangan Usaha Komoditi
    Kelompok berkomitmen memperkuat produksi dan pemasaran komoditi unggulan, sehingga kesejahteraan anggota dapat meningkat secara signifikan.
  2. Pengelolaan dan Pengembangan Pangan Lokal
    Pangan lokal, seperti ubi ungu dan jagung, menjadi fokus utama. Diversifikasi dan pengolahan pangan akan didorong untuk meningkatkan nilai tambah.
  3. Konservasi Sumber Daya Alam
    Upaya menjaga kelestarian lingkungan menjadi prioritas utama. Kelompok merencanakan aksi konservasi untuk memastikan keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi mendatang.
  4. Pengembangan Usaha Kelompok
    Untuk menciptakan kemandirian, usaha kelompok diarahkan menjadi lebih profesional melalui penguatan manajemen, pemasaran, dan inovasi usaha.
  5. Peningkatan Pengetahuan tentang Pertanian dan Bisnis
    Melalui pelatihan dan pendampingan, anggota kelompok akan dibekali wawasan baru mengenai teknik pertanian modern dan strategi pengelolaan bisnis.

Inspirasi dari Anggota Kelompok

Salah satu kisah inspiratif datang dari Ibu Maria, seorang anggota Kelompok Tani Mbei Mbani. Dengan luas lahan terbatas, ia berhasil mempraktikkan metode pertanian berkelanjutan yang didapat dari pendampingan kelompok. Fokusnya pada budidaya ubi ungu dan jagung lokal memberikan hasil luar biasa.

“Saya sangat bersyukur bisa bergabung di kelompok ini. Bimbingan yang kami terima memberikan banyak pengetahuan baru. Kami jadi tahu cara bercocok tanam yang lebih baik dan cara menjual produk kami dengan harga yang lebih adil,” ujar Ibu Maria penuh semangat. Pendapatannya yang meningkat kini memungkinkan ia menabung untuk pendidikan anak-anaknya.

Dokumentasi Momen Bermakna

Sebagai bagian dari pertemuan ini, berbagai momen penting diabadikan melalui foto:

  • Diskusi Kelompok: Anggota duduk bersama, berdiskusi, dan berbagi cerita penuh kehangatan.
  • Kegiatan di Lahan Pertanian: Foto anggota menunjukkan lahan mereka yang subur, bukti nyata keberhasilan pendampingan.
  • Foto Kebersamaan: Seluruh anggota kelompok berfoto bersama, merayakan awal baru yang penuh harapan.

Harapan untuk Masa Depan

Pertemuan ini adalah langkah awal yang menjanjikan untuk menciptakan perubahan positif di Desa Kamubheka. Dengan semangat kebersamaan dan rencana kerja yang terarah, Kelompok Tani Mbei Mbani diharapkan terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi komunitas lainnya. Momentum ini membuktikan bahwa dengan kerja keras, dukungan yang tepat, dan solidaritas, perubahan nyata dapat tercipta.

Andre Ngera

Bertemu dan Berbagi Cerita Bersama Kelompok Tani Mbei Mbani di Desa Kamubheka Read More »