Kripik Talas dan Harapan Baru Perempuan Mbobhenga

Shere Sekarang
Dok.Kripik Hasil Kerja Kelompok Perempuan Desa Mbobhenga

Perubahan besar kadang lahir dari hal-hal yang tampak kecil. Di Desa Mbobhenga, Kabupaten Ende, perubahan itu dimulai dari talas yang digoreng di dapur-dapur rumah warga. Dari kegiatan sederhana memproduksi kripik talas, sekelompok perempuan desa kini mulai membuka jalan baru menuju kemandirian ekonomi”.

Ende, Mbobhenga – Tananua Flores | Pemberdayaan perempuan telah lama menjadi bagian dari wacana pembangunan di Indonesia. Sejak diperkenalkan secara luas pada awal 1990-an oleh berbagai organisasi masyarakat sipil, diperkuat melalui berbagai forum global tentang kesetaraan gender, hingga menjadi bagian dari kebijakan pembangunan nasional di era Reformasi, konsep ini terus mendapat perhatian. Namun dalam praktiknya, pemberdayaan sering kali berhenti pada tingkat program atau proyek jangka pendek. Banyak kegiatan pelatihan digelar, bantuan diberikan, laporan dibuat, tetapi perubahan nyata di tingkat komunitas tidak selalu terlihat.

Di tengah dinamika tersebut, pengalaman kecil dari Desa Mbobhenga di Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, memberikan pelajaran penting tentang bagaimana pemberdayaan dapat bekerja secara nyata. Perubahan yang terjadi di desa ini tidak datang dari proyek besar atau investasi yang mahal. Ia tumbuh dari langkah sederhana yang dilakukan oleh sekelompok perempuan desa yang mulai mengolah talas menjadi kripik.

Desa Mbobhenga berada di wilayah pegunungan dengan potensi alam yang cukup kaya. Berbagai komoditas perkebunan seperti cengkeh, pala, kemiri, dan kopi tumbuh dengan baik di wilayah ini. Tanaman pangan seperti talas juga mudah ditemukan di lahan-lahan masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, akses infrastruktur di desa ini mulai membaik. Listrik sudah tersedia, jaringan telekomunikasi semakin menjangkau wilayah pedesaan, dan jalan penghubung antarwilayah perlahan berkembang.

Namun seperti banyak desa lainnya di Indonesia, potensi alam tidak selalu otomatis menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Tanpa pengelolaan yang tepat, sumber daya lokal sering hanya menjadi potensi yang belum tergarap. Masyarakat menjual hasil pertanian dalam bentuk bahan mentah dengan nilai tambah yang rendah, sementara peluang untuk mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi belum banyak dimanfaatkan.

Di sisi lain, perempuan di pedesaan masih menghadapi berbagai hambatan struktural. Budaya patriarki yang kuat sering membatasi ruang perempuan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi dan pengambilan keputusan. Beban kerja ganda dalam rumah tangga, keterbatasan akses pelatihan, serta minimnya kesempatan untuk mengembangkan usaha menjadi tantangan yang umum ditemui.

Dalam konteks inilah pendekatan pemberdayaan perempuan menjadi penting. Di Dusun Orakose, Desa Mbobhenga, lima belas ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Tani Setia memulai sebuah langkah kecil yang kemudian berkembang menjadi harapan baru. Mereka mencoba memproduksi kripik talas sebagai usaha ekonomi rumah tangga.

Pilihan talas sebagai bahan baku bukan tanpa alasan. Tanaman ini mudah ditemukan di desa, biaya produksinya relatif rendah, dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk olahan yang diminati pasar. Di tengah berkembangnya sektor pariwisata di Kabupaten Ende dan wilayah Flores secara umum, produk pangan lokal memiliki peluang untuk dipasarkan kepada wisatawan maupun masyarakat perkotaan yang mulai tertarik pada produk tradisional.

Namun memulai usaha bukan perkara mudah. Para ibu di Orakose pada awalnya belum memiliki pengalaman dalam pengolahan produk pangan secara komersial. Pengetahuan tentang manajemen usaha, perhitungan biaya produksi, serta strategi pemasaran masih sangat terbatas. Tanpa dukungan yang tepat, inisiatif kecil seperti ini berisiko berhenti di tengah jalan.

Pendampingan dari organisasi masyarakat sipil kemudian menjadi faktor penting dalam proses ini. Yayasan Tananua Flores hadir mendampingi kelompok perempuan tersebut melalui serangkaian pelatihan dan penguatan kapasitas. Para anggota kelompok dilatih untuk meningkatkan kualitas produksi, memperbaiki teknik pengemasan, serta memahami cara menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual produk.

Pendampingan juga dilakukan dalam hal penguatan organisasi kelompok. Para ibu didorong untuk bekerja secara kolektif, membagi peran dalam proses produksi, serta merencanakan pengembangan usaha secara bersama. Selain itu, kelompok juga mulai diperkenalkan pada peluang pemasaran melalui media sosial dan jaringan pasar lokal.

Hasilnya mulai terlihat. Produk kripik talas yang dihasilkan oleh kelompok perempuan di Orakose kini mulai dipasarkan di tingkat kabupaten. Meskipun skalanya masih kecil, kegiatan ini memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga sekaligus membuka ruang baru bagi perempuan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi produktif.

Lebih dari sekadar kegiatan ekonomi, proses ini membawa perubahan sosial yang penting. Para perempuan yang sebelumnya hanya terlibat dalam aktivitas domestik kini mulai memiliki ruang untuk belajar, berdiskusi, dan mengambil keputusan bersama. Mereka belajar menghitung keuntungan, memahami pasar, serta mengembangkan kepercayaan diri sebagai pelaku usaha.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dari program yang besar dan kompleks. Perubahan dapat dimulai dari langkah kecil yang relevan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Ketika masyarakat terlibat secara aktif dan memiliki rasa kepemilikan terhadap kegiatan yang dijalankan, proses pemberdayaan menjadi lebih berkelanjutan.

Tentu saja perjalanan kelompok perempuan di Mbobhenga masih menghadapi berbagai tantangan. Keterbatasan modal usaha masih menjadi hambatan utama dalam meningkatkan kapasitas produksi. Proses pengurusan izin usaha dan legalitas produk juga memerlukan waktu serta dukungan dari berbagai pihak. Selain itu, akses distribusi ke pasar yang lebih luas masih perlu diperkuat agar produk lokal dapat bersaing dengan produk industri yang lebih besar.

Di sinilah peran pemerintah daerah menjadi sangat penting. Dukungan kebijakan yang berpihak pada usaha mikro dan kecil dapat membantu kelompok-kelompok usaha masyarakat berkembang lebih jauh. Program pelatihan, akses permodalan, kemudahan perizinan, serta dukungan pemasaran melalui jaringan pasar daerah dapat menjadi faktor penentu keberlanjutan usaha seperti ini.

Desa Mbobhenga memberikan pelajaran bahwa pemberdayaan yang efektif membutuhkan kolaborasi antara masyarakat, organisasi pendamping, dan pemerintah. Ketika ketiga unsur ini bekerja bersama, potensi lokal yang sebelumnya terabaikan dapat berkembang menjadi sumber kekuatan ekonomi baru bagi desa.

Kripik talas yang diproduksi oleh kelompok perempuan di Orakose mungkin terlihat sederhana. Namun di balik produk kecil tersebut tersimpan cerita tentang keberanian untuk mencoba, semangat untuk belajar, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Dari dapur-dapur sederhana di desa, perempuan Mbobhenga sedang membangun jalan baru menuju kemandirian ekonomi.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari kota-kota besar atau proyek-proyek raksasa. Kadang-kadang, perubahan justru tumbuh dari desa-desa kecil yang perlahan menemukan kekuatannya sendiri. Jika inisiatif seperti ini terus didukung dan direplikasi di berbagai daerah, maka pemberdayaan perempuan tidak lagi sekadar wacana pembangunan, melainkan menjadi gerakan nyata menuju kesejahteraan masyarakat.

Oleh: Anselmus Kaki Reku, S.Sos
Staf Lapangan Tananua Flores

Kripik Talas dan Harapan Baru Perempuan Mbobhenga Read More »

Tiga Hari yang Menginspirasi di Wologai Dua: Menemukan Arti Pendampingan

Shere Sekarang

Penulis : Maria Sisilia Virginia Wawo/ Staf YTNF

Ende Wologai Dua, —Tananua Flores | Tiga hari di Desa Wologai Dua menjadi perjalanan yang tak hanya mengubah cara pandang saya tentang pendampingan, tetapi juga menyalakan kembali semangat untuk bekerja dengan hati. Yayasan Tananua Flores (YTNF) menggelar Pertemuan Semesteral Petani pada tanggal 2–4 Oktober 2025, mempertemukan masyarakat tani dari 14 desa dampingan Program Peningkatan Hak Alam dan Hak Masyarakat (PHAM).

Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama mengikuti kegiatan lapangan seperti ini. Sebelumnya, saya lebih akrab dengan data dan laporan di balik meja. Namun tiga hari di Wologai Dua menghadirkan babak baru dalam perjalanan saya bersama YTNF.

Sambutan Hangat di Tanah Adat

Kedatangan tim YTNF dan peserta dari tiga belas desa disambut hangat oleh tokoh adat dan masyarakat Wologai Dua. Tarian dan alunan gong gendang “Nggo Wani” khas Ende mengiringi langkah kami menuju panggung acara.
Suasana sakral terasa ketika seorang tetua adat menyambut kami dalam bahasa daerah yang penuh wibawa — bukan sekadar formalitas, melainkan tanda pengakuan dan penerimaan.

Kegiatan resmi dibuka oleh Kepala Desa Wologai Dua, disaksikan oleh Direktur YTNF, seluruh staf, Kepala Desa Jeo Dua, serta perwakilan pengurus LPHAM (Lembaga Perlindungan Hak Alam dan Hak Masyarakat), kelompok tani, dan para penghubung desa.
Tujuan utama pertemuan ini: mengevaluasi perjalanan enam bulan program dan merancang keberlanjutan — dengan fokus pada organisasi LPHAM, konservasi lingkungan (ulu ola), pertanian organik, kesehatan, dan ketahanan ekonomi masyarakat.

Pertemuan yang Penuh Kehangatan

Suasana di balai desa Mbani, ibu kota Desa Wologai Dua, terasa hidup. Tawa, semangat, dan juga keheningan reflektif bergantian mengisi ruangan.
Para peserta datang bukan dengan tangan kosong: mereka membawa hasil bumi — ubi, jagung, sayur, benih sorgum, pala, dan entres kakao.
Inilah simbol kedaulatan pangan dan semangat berbagi antar desa.

“Saya pikir evaluasi akan tegang,” gumam saya dalam hati. Namun ternyata, pertemuan ini lebih mirip ruang bicara dari hati ke hati.
“Kami datang untuk mencari solusi atas masalah di desa kami, juga untuk berbagi jika ada kelebihan,” ucap Bapak Darius Deki, Ketua LPHAM Desa Tenda.

Momen itu terasa dalam: setiap kisah yang dibagikan mengandung perjuangan, kegagalan, keberhasilan, dan keberanian menjaga hak-hak mereka sebagai penjaga alam.
“Dulu saya tak berani berbicara di depan banyak orang,” ujar Bapak Aurelius Ratu, penghubung Desa Tiwusora, “tapi sejak bergabung dengan kelompok, saya belajar dan kini saya bisa.”

Saya mulai memahami: pendampingan bukan tentang memberi jawaban, melainkan menemani masyarakat menemukan kekuatannya sendiri.

Menapak Jejak di Dusun Boro

Hari kedua, peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk melakukan kunjungan ke tiga dusun: Mbani, Boro, dan Nuamue.
Saya bergabung dengan kelompok yang menuju Dusun Boro, berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat desa.
Kunjungan ini bertujuan memperdalam diskusi mengenai lingkungan, konservasi mata air, dan ketahanan pangan.

Sambutan warga Boro begitu hangat. Kami mendengarkan kisah Bapak Tomas Teke, tokoh adat setempat, tentang kearifan lokal yang masih dijaga dengan teguh.
Ia menceritakan bagaimana setiap siklus pertanian terhubung dengan nilai adat — mulai dari pembakaran kebun, penanaman padi, hingga upacara panen “Mi Are” yang sarat makna.
“Inilah cara kami menjaga waka nga topo wolo tana watu — warisan leluhur yang harus kami titipkan pada generasi berikutnya,” ujarnya dengan nada tegas dan penuh kebanggaan.

Petani sebagai Guru

Yang paling mengesankan, para petani menjadi narasumber utama.
Bapak Nikolaus De Ja dari Desa Tonggopapa memimpin sesi berbagi tentang budidaya pala.
“Berjuang di kebun itu tak mudah, tapi pala adalah pohon bernilai ratusan tahun. Ia memberi keberlanjutan bagi keluarga,” katanya.

Setelah sesi diskusi, kami bergerak menuju mata air Ratendare. Di sana, masyarakat bersama tim YTNF menanam bibit pohon pelindung.
“Mata air ini bukan milik satu orang, tapi milik bersama — milik alam dan generasi mendatang,” ujar Bapak Don, tokoh adat Boro.

Tak berhenti di situ, kami melanjutkan aksi nyata dengan praktik P3S Kakao (pemangkasan, pemupukan, panen sering, dan sanitasi) serta pembuatan rorak, lubang fermentasi dedaunan hasil pemangkasan untuk konservasi lahan.
Saya tersadar: keberlanjutan bukan sekadar teori, melainkan sinergi antara nilai adat, inovasi pertanian, dan kerja bersama menjaga alam.

Menutup dengan Syukur dan Tawa

Tanggal 4 Oktober, seluruh peserta kembali ke balai desa untuk mempresentasikan hasil kunjungan, temuan, dan ide-ide baru.
Evaluasi berubah menjadi ruang berbagi penuh inspirasi. Kepala Desa Wologai Dua menutup kegiatan dengan pesan hangat dan ucapan terima kasih.

Namun suasana belum berakhir.
“Jangan pulang dulu, belum seru tanpa joget perpisahan,” ujar Bapak Valentinus Doa, tokoh penting desa.
Kami tertawa, lalu menuruti ajakan itu. Malam itu, di bawah langit Wologai Dua, staf, petani, orang tua, dan anak muda menari bersama. Musik, tawa, dan persaudaraan menjadi penutup yang sempurna.

Kami pulang keesokan harinya — bukan hanya membawa catatan evaluasi, tapi membawa keyakinan baru: bahwa pembangunan berkelanjutan lahir dari hati yang gembira dan jiwa yang bersatu.

Refleksi: Pendampingan yang Menghidupkan

Pekerjaan pendampingan adalah jembatan antara kearifan masa lalu dan harapan masa depan.
Meski saya bukan pendamping lapangan, pengalaman tiga hari ini memberi kesan mendalam: pendampingan bukan sekadar laporan atau data, tetapi tentang menumbuhkan kader, ilmu, dan harapan di antara para petani.

Kini, meskipun saya kembali bekerja di belakang meja, semangat itu tetap menyala.
Saya siap melanjutkan peran kecil saya, dengan hati yang lebih peka dan mata yang telah melihat: bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah-langkah sederhana — dari desa yang bernama Wologai Dua.

Sampai jumpa di pertemuan semesteral berikutnya. Tujuan selanjutnya: Desa Jeo Dua.

Tiga Hari yang Menginspirasi di Wologai Dua: Menemukan Arti Pendampingan Read More »

Belajar Pertanian Organik di Tou Barat: Tantangan dan Solusi

Shere Sekarang

Ende, Kota Baru – Tananua Flores. Desa Tou Barat, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Ende, menjadi tuan rumah kegiatan kunjungan belajar pertanian organik dan cerdas iklim pada 21–22 Agustus 2025. Dengan mengusung tema “Berbagi Itu Asik dan Lestari Sambil Bermesraan dengan Alam”, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar langsung bagi para petani setempat.

Dari sharing pembelajaran dapat disimpulkan bahwa sebagian besar warga Tou Barat menggantungkan hidup pada kebun kakao, tanaman pangan, dan hortikultura. Lahan mereka masih subur, namun mulai terancam akibat praktik pertanian intensif pada masa lalu. Kegiatan ini dinilai relevan untuk membangun kesadaran baru tentang cara bertani yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kepala Desa Tou Barat, Frans Seda, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran petani.

“Pejabat bisa berganti, tapi petani selalu hadir memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh umat manusia,” ujarnya.

Menurutnya, profesi petani merupakan panggilan hidup yang mulia dan perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak.

Tantangan Perubahan Iklim

Manajer Program Tananua Flores, Heribertus Se, menyoroti persoalan perubahan iklim yang semakin nyata. Ia menyebut ketidakpastian musim, kekeringan, banjir, dan serangan hama sebagai tantangan besar yang dihadapi petani saat ini.

“Pertanian cerdas iklim bukan pilihan, melainkan keharusan. Desa Tou Barat punya kekuatan khas. Dengan belajar bersama, kita bisa melahirkan inovasi yang relevan bagi masa depan,” jelasnya.

Heribertus juga mendorong keberanian petani untuk saling berbagi pengalaman. Menurutnya, berbagi merupakan jalan menuju kekuatan bersama dalam menghadapi tantangan pertanian.

Kegiatan belajar pertanian organik di isi dengan materi-materi ini yang merupakan kehidupan dunia pertanian antara teori, Praktik dan juga refleksi pengalaman dari masing-masing individu. Dalam Sesi inti ini dibawakan oleh Benyamin, praktisi pertanian organik. Ia memaparkan lima strategi penting:

  1. Menggunakan varietas unggul tahan iklim ekstrim.
  2. Melakukan pemupukan berimbang dengan pupuk organik.
  3. Mengelola sumber daya air secara bijak.
  4. Mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia dengan ramuan alami.
  5. Melakukan diversifikasi tanaman untuk menjaga ketahanan ekonomi keluarga.

Peserta menilai materi tersebut tidak hanya sebatas teori, tetapi langsung menyentuh realitas kehidupan mereka sehari-hari.

Jaga Tanah Leluhur

Di akhir kegiatan, Heribertus mengingatkan pentingnya menjaga tanah dan air dari ancaman proyek besar yang merusak lingkungan.

“Tuhan titipkan tanah ini untuk dikelola dengan baik. Mari kita jaga tanah leluhur dari proyek multinasional yang merusak lingkungan,” katanya.

Kepala Desa Frans Seda menambahkan pesan kuat kepada masyarakatnya.

“Orang luar saja mau belajar di desa ini. Masa kita, masyarakat sendiri, menyia-nyiakan pengetahuan yang kita miliki? Mari kita kembangkan, demi anak cucu, demi tanah leluhur kita, demi bangsa,” tegasnya.

Kunjungan belajar di Tou Barat bukan sekadar pertemuan singkat, melainkan proses membangun kesadaran bersama. Kegiatan ini menekankan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil: menanam pohon, merawat tanah, berbagi pengalaman, dan mencintai kebun. Tou Barat kini memiliki cerita baru. Dari desa kecil dengan infrastruktur terbatas, ia tumbuh menjadi ruang pembelajaran bagi banyak orang. Dari petani sederhana, lahir guru kehidupan yang menyalakan harapan untuk masa depan pertanian yang lebih hijau, adil, dan lestari.

Ditulis : HS

Belajar Pertanian Organik di Tou Barat: Tantangan dan Solusi Read More »

Refleksi dan Komitmen Baru: Tananua Flores Menyusun Langkah Perbaikan untuk Pendampingan yang Lebih Baik

Shere Sekarang

Ende, 15 Juli 2025 — Dalam semangat meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan program, Yayasan Tananua Flores kembali menunjukkan komitmennya dalam mendampingi petani dan nelayan melalui evaluasi semestral yang dilaksanakan secara daring pada Selasa (15/07). Kegiatan ini diikuti oleh staf Livelihood Sustainable, Kelautan dan Perikanan, serta manajemen yayasan, berlangsung intens selama dua jam (10.00–12.00 WITA).

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan pertemuan semestral petani dan nelayan yang berlangsung di Desa Malawaru, Kecamatan Nangapenda, pada 24–27 Juni 2025 lalu. Evaluasi ini tidak sekadar menjadi momen refleksi, namun juga menjadi ruang strategis untuk menyusun Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) demi pendampingan yang lebih baik ke depan.

“Kegiatan ini penting untuk melihat apa saja yang sudah baik, apa yang perlu diperbaiki, dan apa pembelajaran menarik yang bisa menjadi bekal bagi kegiatan berikutnya,” ujar Pius Sai Jodho, Koordinator Program Perikanan Tananua Flores.

Catatan Kritis: Menemukan Ruang Perbaikan

Berbagai catatan penting muncul dari hasil refleksi bersama, antara lain:

  • Koordinasi Internal perlu diperkuat untuk mematangkan persiapan kegiatan di masa mendatang.
  • Materi Pertemuan dinilai perlu disesuaikan agar pembahasan isu pertanian dan perikanan lebih fokus, melalui pembagian kelas tematik.
  • Durasi Waktu yang sempit membuat beberapa sesi terasa terburu-buru. Usulan penambahan menjadi tiga hari efektif dinilai lebih ideal.
  • Peran Panitia harus diperjelas sejak awal antara tim lokal dan manajemen.
  • Dokumentasi dan Kehadiran masih perlu pembenahan agar lebih efisien dan tidak mengganggu kenyamanan peserta.
  • Kontribusi Peserta dari 13 desa berupa beras, ikan, kopi, gula, hingga uang tunai perlu dianalisis kembali dampaknya terhadap efektivitas kegiatan.
  • Fasilitator dan Tim Media diharapkan meningkatkan kesiapan, termasuk penguatan alat dokumentasi audio yang lebih andal.

Pembelajaran Positif yang Menginspirasi

Namun bukan hanya tantangan yang ditemukan. Banyak pembelajaran bermakna yang tercatat, seperti:

  • Terjadi transfer pengetahuan yang kuat antar petani dan nelayan.
  • Narasumber yang hadir sangat relevan dengan dinamika lokal hingga global.
  • Kehadiran peserta dari 13 desa membawa semangat solidaritas dan pertukaran pengalaman.
  • Keterlibatan anak muda menjadi energi baru dalam kegiatan lapangan.
  • Terobosan media seperti keikutsertaan peserta secara daring mendapat apresiasi tinggi.

Langkah Nyata: Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL)

Sebagai bentuk komitmen, Tananua Flores telah menyusun sejumlah langkah strategis pasca-evaluasi:

  1. Menerbitkan newsletter berisi materi dan hasil kegiatan untuk seluruh desa dampingan.
  2. Memperbaiki sistem notulensi agar lebih akurat dan layak dipublikasikan.
  3. Mendokumentasikan tindak lanjut peserta, seperti teknik budidaya hingga pengelolaan sampah.
  4. Mempersiapkan materi baru seperti pengolahan pangan lokal, latihan GPS, hingga pengelolaan sampah plastik.
  5. Pengadaan alat perekam audio berkualitas untuk kebutuhan dokumentasi kegiatan.
  6. Pelatihan peningkatan kapasitas staf, sebelum dan sesudah kegiatan.

“Pertemuan ini menjadi cermin bagi kita semua, bukan hanya untuk mengevaluasi tetapi juga menegaskan komitmen kita dalam mendampingi petani dan nelayan. Mari kita perbaiki langkah dan terus belajar bersama masyarakat,” tegas Heri Se, Manajer Program Tananua Flores.

Jaga Waka Desa: Semangat yang Terus Menyala

Melalui evaluasi yang penuh makna ini, Tananua Flores menegaskan kembali semangat “Jaga Waka Desa”—merawat kehidupan dan keberlanjutan desa melalui kerja bersama yang partisipatif dan reflektif.

Dengan semangat kolaborasi, transparansi, dan pembelajaran terus-menerus, Tananua Flores terus melangkah untuk menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat dampingan. Karena setiap perbaikan kecil yang dilakukan hari ini, adalah fondasi bagi masa depan yang lebih baik. *** Tim Media

Refleksi dan Komitmen Baru: Tananua Flores Menyusun Langkah Perbaikan untuk Pendampingan yang Lebih Baik Read More »