Catatan Refleksi Spiritual

Shere Sekarang

Kegiatan Refleksi Spiritual  Relawan Komunitas, Kader Kesehatan dan Orang Muda  ini rutin dilakukan setiap tahun dan kali ini dilakukan di Wisma St Fransiskus Detusoko, pada (21/6)

Relawan komunitas dan Kader Kesehatan serta orang muda  dalam melakukan tugasnya pasti akan menghadapi berbagai tantangan dan kritik , namun hal ini jangan membuat kita menyerah.

Kita dituntut untuk tetap semangat dalam menjalankan tugas perutusannya kita masing masing. Sebagai kader kesehatan , peran kita adalah melayani masyarakat khususnya Ibu hamil, bayi balita dan orang sakit agar sehat dan selamat.

Walaupun cuaca buruk atau hujan angin, Kader Kesehatan  tetap menjalankan tugasnya dengan baik demi menyelamatkan Ibu dan anak.(menyelamatkan jiwa-jiwa). Perjuangan dan rasa tanggung jawab tidak memerlukan pujian dari siapapun, karena hasil dari kerja dan perjuangan kita menjadi pelajaran dan contoh bagi orang lain.  Mari, sebagai Relawan Komunitas , Kader kesehatan dan orang Muda melangkah bersama untuk terus menebarkan kasih dan kebaikan bagi sesama kita

Kegiatan Refleksi spiritualitas ini di isi dengan misa Perutusan dan Selesai Misa Perutusan dilanjutkan dengan kegiatan Pelatihan peningkatan Kapasitas Relawan Komunitas , kader kesehatan dan Orang yang di fasilitasi oleh  Heribertus Se, Manajer Program Yayasan Tananua Flores.

Misa Perutusan

Kegiatan ini diawali dengan Brainstorming. Adapun poin poin penting yang dibahas adalah Bagaimana memecahkan masalah,mengembangkan inovasi  atau gagasan baru, menemukan dan mengenali diri dengan kekuatan dan kelemahan diri serta mendorong kreativitas dan melatih diri untuk berpikir kritis.  Relawan Komunitas dan kader Kesehatan, kita diajak untuk mengenal diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Kelebihan dan kekuatan yang kita miliki dapat kita gunakan untuk melakukan hal hal baik. Sebagai Relawan Komunitas dan kader Kesehatan, kita dituntut untuk berperan aktif, menyumbangkan segala pengetahuan dan keterampilan yang kita miliki untuk masyarakat kita. Berani  menerima tantangan dalam karya pelayanan kita.

Selain itu, Pada hari kedua 21 Juni 2024 dilanjutkan dengan  Pelatihan Kepemimpinan, dan Seni Memfasilitasi bagi Relawan Komunitas , Kader Kesehatan dan Orang Muda. Orang Muda diharapkan sebagai  Pemimpin masa depan diharapkan memiliki beberapa kriteria yaitu berani, percaya diri, memiliki kemampuan  ( pengetahuan dan keterampilan ), mampu mengorganisir dan menggerakkan masyarakat dalam membangun desa. Seorang Pemimpin juga diharapkan sebagai role model atau panutan bagi masyarakat di desanya. Menjadi Pemimpin besar, tidak mudah, perlu ditempa dan butuh proses yang panjang. Untuk itu sebagai Relawan kita harus terus berproses dan belajar true agar dapat melakukan sesuatu untuk masyarakat kita.

Dalam kegiatan ini juga  ada Pelatihan Kader kesehatan yang difasilitasi oleh Emilia  L Kumanireng dengan topik  Peran dan Fungsi Tugas Kader serta Sistem Lima Meja.

Hal ini diterapkan dalam kegiatan  Pendampingan POSYANDU dimana  mereka berbagi Peran  mulai dari Pendaftaran peserta POSYANDU,  Penimbangan Berat Badan, Pencatatan dan Pengukuran, Penyuluhan Kesehatan dan Pemberian Makanan Tambahan dan meja ke 5 ada Pelayanan Kesehatan yang dilakukan oleh tenaga medis.

Sebagai Kader Kesehatan ,mereka dituntut bekerja dengan hati  untuk melayani dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kader Kesehatan, harus  memiliki pengetahuan  pengetahuan tentang kesehatan  sehingga mampu memberi motivasi kepada Ibu hamil dan  Ibu menyusui agar  bisa memberikan pola asuh yang baik kepada anaknya.

Kader Kesehatan juga dituntut untuk memiliki keterampilan yang memadai dalam mengolah makanan bergizi dari pangan lokal sebagai Makanan Tambahan bagi Ibu hamil dan Menyusui untuk meningkatkan status gizi anak.

Dengan tanggung jawab yang diembannya, Kader bersama tenaga medis mampu memotivasi dan meningkatkan kesehatan ,masyarakat.

Selesai kegiatan yang dilakukan selama dua hari peserta  bersama sama membuat RTL ( Rencana Tidak Lanjut ). Adapun beberapa Rencana penting  akan dilakukan adalah :

  1. Mendorong Pemerintah Desa agar mengalokasikan Dana Desa untuk  Kegiatan Pemberdayaan (Peningkatan Kapasitas Relawan Komunitas dan Kader  Kesehatan serta Orang Muda).
  2. Mendorong Pemerintah Desa untuk memanfaatkan bahan Pangan lokal sebagai menu PMT Pemberian Makanan Tambahan bergizi bagi bayi balita dan Ibu hamil  saat posyandu.
  3. Menjaga kelestarian Lingkungan dengan menerapkan Pertanian ramah lingkungan serta melakukan penghijauan pada sumber mata air dan lahan kering.

Kontributor,

Emilia L. Kumanireng

Catatan Refleksi Spiritual Read More »

Tananua Flores Gelar Festival Pangan Lokal “Tedo Tembu Wesa Wela, Gaga Bo.O Kewi Ae”

Shere Sekarang

Detuwulu, Tananua Flores.|Dalam rangka memperingati hari raya pangan sedunia Yayasan Tananua Flores bersama dengan masyarakat desa dampingan pada program livelihood Menggelar festival pangan Lokal yang berlangsung selama dua hari.

Kegiatan Festival itu  dilaksanakan di Detuwulu, Kecamatan Maurole Pada Tanggal 15 – 16 Oktober 2023.

Tananua dan Desa dampingan Gelar Festival Pangan Lokal ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kesadaran dan apresiasi terhadap keberkelanjutan makanan lokal serta manfaat dari pangan lokal untuk Kesehatan Manusia.

Festival pangan lokal ini mengusung tema Tedo Tembu Wesa Wela, Gaga Bo.o Kewi Ae.  Selain itu ada beberapa acara dalam memeriahkan Festival antara lain seperti Talk Show, seminar pangan lokal dan PCH, dan lomba masak makanan pangan lokal yang diikuti oleh warga desa setempat. Dengan tujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya melestarikan kembali keragaman pangan lokal agar tidak punah digilas modernisasi secara global.

Kegiatan Festival tersebut juga diawali dengan misa bersama yang dipimpin oleh Pater Charles Beraf, SVD.

Pater Charles, dalam khotbah mengatakan bahwa dalam hal kegiatan seperti ini Dirinya terinspirasi dari bacaan injil Perjamuan kawin di Kana.

Katanya, apakah umat sekalian mampu menyediakan anggur terbaik hingga akhir pesta?, Maksudnya ialah bahwa segala yang terbaik dari usaha masyarakat terutama berkaitan dengan ketersediaan pangan lokal tetap tersedia hingga kapanpun, sampai menjadi masyarakat yang tidak memiliki kekurangan sedikitpun terutama berhubungan dengan ketersediaan pangan.

Usai misa bersama dilanjutkan dengan Kegiatan Talk Show untuk mendiskusikan berbagai persoalan masyarakat desa dalam mengembang dan pempertahankan pangan lokal. Acara Talk Show itu dipandu oleh Heribertus Se Manajer Program Yayasan Tananua Flores.

Hery Se, mengawali acara tersebut mengungkapkan bahwa Talk show ini adalah salah satu highlight dari festival  dengan menghadirkan narasumber-narasumber kompeten mewakili berbagai pihak (Tiga Batu Tungku) seperti agama, pemerintah dan tokoh adat.

Manager itu menjelaskan, Talk show ini menjadi platform bagi toko-toko atau narasumber lokal untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar keberadaan pangan lokal di tengah masyarakat  kondisi pangan lokal yang kian menghilang kemudian harus dibudidayakan serta didorong untu dilestarikan kembali.

Menyambung dari Penjelasan Manager Program kemudian dipertegas kembali oleh pater Charles Beraf dalam sesi Talkshow dengan mengatakan bahwa “pangan lokal itu waka (gengsi) kita”.

Menurutnya ketika masyarakat merawat, menjaga dan menggunakan pangan lokal sebagai sesuatu yang menjadi identitasnya, secara tidak langsung masyarakat juga sedang  menunjukan dan menjaga wakanya sendiri.

Pater carles yang juga Pembina Tananua itu menegaskan” kita  menggunakan bahan olahan dari luar merupakan salah satu tindakan merusak harga diri kita sendiri, kita menjunjung tinggi nilai dan kebesaran yang bukan bagian dari kita, kita hanya akan merasa berharga ketika kita menggunakan apa yang kita miliki bukan meminjam apa yang orang lain miliki dan mengklaim sebagai milik kita”, tegasnya

Selain itu Toko adat(mosalaki) Detuwulu Petrus Bata,  menjelaskan bahwa dirinya lebih melihat pangan lokal sebagai sumber utama pemberian persembahan kepada leluhur dan Tanawatu. Dalam Refleksinya bahwa saat ini pengembangan pangan lokal sudah mulai pergeseran dengan tanaman komoditi ditengah arus masifnya kebutuhan industri. Sehingga dampaknya adalah ana kalo fai walu (masyarakatnya) kian jauh dari pangan lokal.

Pertama,  mereka tidak memiliki lahan cukup luas dan banyak untuk membudayakan pangan lokal karena lahan-lahan yang sudah ada telah ditanami dengan tanaman umur panjang (komoditi).

Kedua, ada beberapa jenis pangan lokal yang tidak cocok untuk ditanami di wilayah Detuwulu. Ketiga banyaknya anak-anak yang sudah sekolah lebih memilih kerja kantoran ketimbang harus terjun ke kebun dan mengolah hasil kebun di kampung sendiri.

Dengan Alasan-alasan tersebut sebagai Tokoh adat merasa dilematis antara membiarkan ana kalo fai walu berjalan sesuai dengan apa yang mereka kehendaki dan itu berarti melenyapkan nila-nilai budaya yang asli seperti are wati manu eko dari hasil usaha dan keringat sendiri atau memaksa ana kali fai walu kembali membudidayakan keragaman pangan lokal sebagai kekayaan dari masyarakat adat dalam melestarikan nilai luhur budayanya.

Disisi yang lain kata Mosalaki itu saat ini mereka tidak memiliki lahan yang cukup untuk maksud tersebut, tetapi sebagai mosalaki kemudian merasa ditantang dan memutuskan satu kebun pribadi yang telah ditanam dengan tanaman komoditi akan digantikan dengan menanam dan membudidayakan pangan lokal yang sesuai dengan jenis tanah dan tuntutan seremonial adat.

Tokoh adat juga menyinggung terkait dengan peran dari pemerintah tentang pentingnya kebijakan dan langkah-langkah dalam mendukung ketahanan pangan lokal. Pemerintah di tuntun untuk sesekali memberikan kebiasaan, pengalaman dan pengetahuan mereka tentang pangan lokal.  Pemerintah juga harus mempunyai kebijakan khusus terkait dengan pangan lokal. Tutupnya.

Oleh : Mikel, Staf Tananua.

Tananua Flores Gelar Festival Pangan Lokal “Tedo Tembu Wesa Wela, Gaga Bo.O Kewi Ae” Read More »

Desa Rutu Jeja dan Pangan Lokal

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores | Desa Rutujeja adalah salah satu desa dikecamatan Lepembusu kelisoke kabupaten Ende. Desa ini  sangat Jauh ± 73 KM dari kota kabupaten Ende dan keberadaannya berada di atas ketinggian gunung lepembusu serta berbatasan dengan Kecamatan Tanawawo kabupaten Sikka. Untuk bisa sampai ke desa ini menempuh perjalanan kurang lebih dua setengah jam. Desa Rutujeja juga memiliki pesona alam yang sangat indah yang juga berbeda dengan wilayah desa lain. Mata pencarian Utama masyarakat di desa Rutujeja adalah pangan local dan komoditi. Bagi masyarakat Rutujeja pangan lokal adalah sember makan  utama yang dikembangkan sebagai pemenuhan kebutuhan kehidupan ekonomi keluarga.

Selain itu, salah satu desa yang dikenal sampai dengan saat ini dalam membudidayakan pangan lokal yaitu Desa Rutujeja. Semua jenis pangan yang merupakan warisan leluhur mereka masih banyak tersedia  sampai saat ini misalnya pega, Wete (jewawut), lolo (shorgum), mbape (jali), padi, jagung, kacang nasi, kacang turi, bue fesa, bue duke, rose (keladi), pisang, ubi kayu, ubi tatas, dan masih banyak lagi jenis pangan lokal baik yang dibudidayan maupun yang tumbuh liar dihutan.

Menurut bapak Robertus Bati salah satu tokoh masyarakat yang terus mempertahankan dan mengambangkan pangan lokal mengatakan bahwa Pangan adalah sumber kehidupan, Pangan juga berkaitan erat dengan hukum adat dan kehidupan sosial masyarakat di desa Rutujeja.

Dijelaskannya bahwa pangan di Desa Rutujeja sebagai pengikat hubungan masyarakat dengan Alam yang di bukatikan dengan setiap tahun diselenggarakan Seremonial adat oleh mosalaki atau pemangku adat di desa tersebut.

Dia juga mengutarakan bahwa Pangan di desanya tidak akan hilang sebab pangan di Rutujeja menjadi sebuah keharusan untuk terus di budidayakan.

“ Mengapa saya katakan tidak akan hilang karena setiap tahun kami masih melaksanakan ritual adat dan harus menggunakan bahan pangan yang diambil dari kebun penggarap atau ana kalo fai walu dan tidak boleh digantikan dengan pangan yang dibeli dari pasar atau toko walau sekalipun harganya lebih mahal”, Ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, kepala desa Rutujeja Petrus Bata mengungkapkan bahwa pola konsumsi masyarakat didesanya bervariasi.

“ Kami disini makanan yang kami konsumsi tidak hanya semata mata beras atau nasi, tetapi pola konsumsi kami bervariasi, karena menu yang disajikan itu banyak seperti pisang, ubi, rose, jagung dan sayuran yang masih sangat segar dari kebun kami”, ungkap kades.

Mengapa pangan lokal?

Pangan lokal merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat indonesia saat ini dengan pengembangannya harus berlanjut,

Pertama, keragaman pangan lokal adalah gerbang bagi pola makan yang beragam. Dengan mengonsumsi beragam makanan, masyarakat dapat memperoleh semua nutrisi yang mereka butuhkan dan mengurangi risiko stunting pada anak.

Kedua, pangan lokal juga menjadi sumber pangan nabati dan hewani yang sesuai dengan kondisi setempat cenderung lebih tahan terhadap guncangan iklim, seperti cuaca ekstrem atau banjir.

Ketiga, konsumsi makanan lokal dapat mengurangi emisi karbon dari pengemasan dan distribusi. Bahan pangan yang mudah rusak, seperti ikan dan sayuran, ataupun makanan olahan, menyumbang 10% dari rantai emisi di sektor pangan.

Keempat, promosi konsumsi pangan lokal berpotensi meningkatkan kesadaran lingkungan dan keadilan sosial dengan mendorong interaksi antara masyarakat desa yang satu dengan desa yang lain. Upaya untuk melestarikan keanekaragaman hayati dalam hal ini pangan lokal juga dapat dikaitkan dengan manfaat gizi dari makanan yang kita konsumsi.

Kondisi Saat ini

Kondisi dan perubahan yang terjadi pada generasi mileneal kita saat ini, Pada umumnya masyarakat kita,masih sangat banyak mengkonsumsi makanan yang siap saji yang berasal dari pabrik-pabrik seperti yang tersedia dibanyak tempat misalnya kios, toko, pasar dan juga mini market atau alfa mart.

Bukan hanya itu saja bahkan makanan-makanan yang siap saji itupun bukan hanya berada di kota saja melainnya sudah sampai ke pelosok desa dan se antero jagat Raya ini, bahkan pada daerah yang bertopografi parah pun sudah terkontaminasi dengan makanan disebutkan di atas padahal, daerah itu memiliki stok pangan local tersedia dalam jumlah banyak.

Saat ini beberapa bahan makanan yang tersedia dalam kemasan itu juga masih menjadi perdebatan bagi beberapa kalangan yang merupakan sumber produksi bahan olahan makanan tersebut. Makanan dan minuman yang tersedia yang siap saji itu misalnya: Sarimi, minuman yang mengandung gula tinggi, cemilan dan beberapa jenis makanan lainnya.

Perubahan-perubahan ini juga membuat  generasi muda atau generasi masa kini enggan untuk masuk kekebun untuk memproduksi sendiri makanan yang merupakan warisan leluhur mereka, dimana makanan tersebut yang tidak memiliki dampak apapun bagi kesehatan tubuh manusia dan lingkungan.

Fakta menunjukan bahwa konsumsi makanan olahan yang diawetkan berdampak buruk terhadap kesehatan dan juga meningkatkan resiko terjadinya banyak penyakit yang bermunculan saat ini jika tidak sesuai dengan aturan konsumsinya atau berlebihan.  Jika mengkonsumsi makanan siap saji tidak terukur maka beresiko terhadap kesehatan misalnya pada ibu hamil dapat menyebabkan Kekurangan Energi Kronis (KEK), pada bayi/balita bisa menyebabkan Stunting, Gizi kurang dan bahkan gizi buruk, obesitas dan apabila semakin banyak orang tersebut mengkonsumsi pangan awetan ini bisa beresiko kematian.

Hanya orang malas yang akan terjadi kelaparan, padahal alam sangat bersahabat dengan tanam apa saja pasti akan berhasil.

Oleh : Arnold RM (PL RJ)

 

Desa Rutu Jeja dan Pangan Lokal Read More »

Talk Show dan Festival Pangan Lokal: Menjaga Keberagaman Pangan Lokal

Shere Sekarang

Ende-Unggu, Tananua Flores| Kegiatan Talk Show dan Festival Pangan Lokal terjadi di Desa Unggu Kecamatan Detukeli. Pada Senin 29 Agustus 2022 Pukul 15.00 peserta kegiatan mulai berdatangan dan melakukan Cek-In. Para Peserta dibagi dalam kelompok untuk mendapatkan tempat penginapan di sekitar lokasi kegiatan.

Sementara itu para peserta juga mempersiapkan tempat untuk memamerkan hasil olahan pangan lokal dan pangan lokal dari Desa Dampingan. Pada Pukul 20.00 terjadi kegiatan Talk Show dan diskusi tentang pola konsumsi, dan keberagaman pangan lokal di Desa. Diskusi terbagi dalam beberapa Kelompok. Selanjutnya para peserta yang sudah datang menuju ke tempat penginapan masing-masing.

Pemeran Benih Ura, Pega, Mbape, Lolo, Nggoli, dan Pisang di desa Unggu. Foto: Paul 30/7/2022

Pada hari kedua selasa 30 Agustus 2022 kegiatan Festival berawal dari seremonial pembuka yang terdiri dari Pengantar dari Pranatacara, Doa, Menyanyikan Lagu Mars Tananua dan Lagu Indonesia. Direktur Yayasan Tananua Flores memberikan sambutan dan sapaan kegiatan Talk Show dan Festival Pangan Lokal.

Bernadus Sambut Direktur Yayasan Tananua Flores (YTNF) menggambarkan alasan Yayasan Tananua Flores memfasilitasi Festival Pangan Lokal. YTNF selalu mendorong dan menekankan pengembangan pangan lokal. Tanpa pangan lokal kita tidak bisa hidup. Pangan Lokal adalah warisan nenek moyang namun kenyataan menunjukkan bahwa keberadaannya tidak dikembangkan lagi.

Selain untuk konsumsi Pangan Lokal juga dimanfaatkan untuk seremonial adat. Dengan mengembangkan pangan lokal kita menghargai leluhur dan nenek moyang. Festival diselenggarakan untuk mengetahui sejauh mana keberagaman pangan lokal itu dikembangakan. Melalui festival masyarakat bisa termotivasi untuk mengembangan pangan lokal. Selain itu dari kegiatan festival pangan lokal ini  diharapkan ada kebijakan yang dihasilkan.

Potensi Pangan Lokal

Dalam sambutannya Koordinator Nasional FIAN Indonesia, Betty Tiominar menjelaskan tentang peran pangan lokal untuk kesehatan. Bahwa Pangan Lokal memiliki protein dan gizi yang tinggi. FIAN  selalu mempromosikan hak masyarakat atas pangan dan gizi salah satunya dengan memperkenalkan benih-benih pangan lokal yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Masyarakat menghargai apa yang dimiliki dan mengonsumsi pangan lokalnya. Pangan Lokal merupakan potensi yang harus dirawat, dikembangkan, dan dibudidayakan agar tidak hilang. Desa memiliki Potensi untuk mengembangkan pangan lokal.

Dari Kanan-Kiri: Halimah Tus’dyah Pengurus YTNF, Betty Tiominar FIAN Indonesia,  Marselina Ga’a Pendamping Lapangan Desa Detumbewa, dan Matilda Ilmoe Kepala Dinas Ketahanan Pangan menyaksikan Festival Pangan Lokal. Foto: Paul 30/8/2022

Camat Kecamatan Detukeli memberikan sambutan sekaligus membuka acara Kegiatan Festival Pangan Lokal ini. Sebagai Camat, Fransiskus Sio mengatakan bahwa Festival Pangan Lokal akan membuat masyarakat mengenal keberagaman pangan lokal. Kenyataan menunjukan bahwa untuk ritual, beras dan padi harus dibeli. Pangan Lokal dapat dikonsumsi karena sehat dan bergizi. Generasi ke depan cukup sulit menikmati pangan lokal karena kurangnya ketersediaan benih dan hasil olahannya. Menjadi suatu tantangan ketika pangan lokal mulai sulit dijumpai. Penting untuk memberikan contoh dalam mengambangkan pangan lokal.

Kegiatan Talk Show pangan lokal diawali dengan presentasi oleh Kepala Desa Rutujeja. Petrus Bata menjelaskan tentang situasi pangan lokal di Desa Rutujeja. Pangan lokal merupakan kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup. Pangan Lokal bisa diramu dari kebun, sungai, hutan dan laut. Sejak dahu kala pangan lokal telah dibudidayakan oleh nenek moyang. Lolo, wete, pega, mbape, nggoli, ura, dowe dapat dimanfaatkan untuk memenuhi pangan keluarga. Selain itu pelbagai acara adat juga menggunakan minuman lokal (arak) sebagai ritus seremonial kepada leluhur. Persediaan pangan lokal di desa Rutujeja masih terbilang cukup. Kondisi sekarang memerlihatkan kurangnya perhatian untuk mengonsumsi pangan lokal. Karena itu dibutuhkan peran pelbagai elemen masyarakat untuk serius mengembangkan pangan lokal.

Potret Keberagaman Pangan Lokal

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Ende Mathilda G. Ilmoe dalam acara Talk Show berbicara mengenai potret keberagaman pangan yang ada di Kabupaten Ende. Dalam pembahasannya ia memaparkan tentang data ketersediaan komoditi pangan utama dan peta kerentanan kerawanan pangan di Kabupaten Ende. Pada tahun 2021 angka ketersediaan pangan sebesar 86,77% dan pada bulan Mei tahun 2022 sebesar 79.85%. Angka ini menununjukan bahwa Ende masuk dalam ketegori rawan pangan.

Skor pola pangan harapan untuk tahun 2021 sebesar 76,5 dari target skor 80, idealnya 100. Tingkat konsumsi energi masyarakat Kabupaten Ende sebesar 2247,1 kkal/kapita/hari dari porsi ideal sebesar 2150 kkal/kapita/hari.  Hal ini menggambarkan bahwa pola konsumsi masyarkat ideal. Dengan demikian pangan lokal merupakan kebutuhan dasar manusia. Setiap elemen masyarakat wajib untuk memenuhi kebutuhan ini.

Ir. Marianus Aleksander, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende memaparkan materi tentang Peran Dinas Pertanian dalam mendukung ketahanan pangan Kabupaten Ende. Visi dan Misi Kabupaten Ende adalah untuk mewujudkan karakteristik dengan membangun dari desa dan kelurahan menuju masyarakat yang mandiri, sejahtera dan berkeadilan. Pembangunan dilakukan berbasis sumber daya. Secara budaya karakteristik yang menggambarkan tentang pertanian adalah tedo tembu wesa wela. Dinas Pertanian juga mempromosikan masyarakat untuk bangga menjadi petani. Kemandirian petani menjadi tujuan dalam program yang dicanangkan sehingga masyarakat dapat mencukupi kebutuhan pangannya.

Kepala Desa Rutujeja Petrus Bata mempresentasikan materi Talk Show bersama P. Charles Beraf, Marianus Alexander, Hironimus Pala, dan  Mathilda Ilmoe. Foto: Paul 30/8/2022

Pembina Yayasan Tananua Flores, P. Charles Beraf, SVD memberikan penjelasan mengenai spiritualitas pangan dalam mendukung keberlanjutan hidup umat. Masyarakat dapat memutuskan rantai kapitalisme dengan pemberdayaan. Spiritualitas tumbuh dalam lokalitas sesuai dengan adat dan tradisi. Kenyataan sekarang ini menunjukan bahwa ada komodifikasi, ada banyak hal yang diukur dengan uang. Pastor Paroki Detukeli ini aktif dalam kegiatan pembangunan berbasis masyarakat. Oleh karena itu mengembangkan pangan lokal harus dibangun dari apa yang kita punya sesuai dengan adat dan budaya.

Ketua Yayasan Tananua Flores, Hironimus Pala, memaparkan materi tentang kajian keberagaman pangan lokal di kabupaten Ende. Pangan lokal adalah jati diri, siapa yang menguasai pangan dia menguasai kehidupan. Ada pergesaran pola konsumsi masyarakat dari mengonsumsi pangan lokal ke pangan ke pangan industri. Kondisi sekarang ini menunjukan bahwa benih pangan lokal mengalami kekurangan, hama yang ada juga membuat orang kesulitan mengolah pangan lokal, selain itu model pengelolaan pangan lokal membutuhkan waktu lama. Ia juga mengajak masyarakat untuk mencintai pangan lokal, dengan menjaga benih serta memiliki lumbung pangan.

Keberagaman Pangan Lokal: Tanggung Jawab Bersama

Setelah pemaparan materi peserta diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan dan komentar. Flavianus Senda pembina Yayasan Tananua Flores mengusulkan agar setiap keluarga memiliki pola konsumsi yang mendukung kesehatan. Pola konsumsi yang baik akan mendukung kesejahteraan keluarga.

Kepala Bidang Perancanaan pembangunan I Bappeda menjelaskan tentang percepatan pembangunan yang kompetitif dan berkelanjutan. Profesi petani menjadi kurang diminati, membuat orang enggan untuk menjadi petani. Terdapat pergeseran pola konsumsi masyarakat. Ia juga menggambarkan pentingnya mengembangkan pertanian berdasarkan kearifan lokal.

Dalam rangka mendukung pengembangan pangan lokal Tim Ahli P3MD (Porgram Pembangunan dan Pengembangan masyarakat Desa) menyatakan bahwa dalam RKPdes terdapat alokasi anggaran dana desa untuk pengembangan pangan dan hewani sebesar 20 %. Masyarakat bisa mengusulkan kegiatan yang berkaitan dengan ketahanan pangan.

Serafinus Sage, Kepala Puskesmas Watunggere memaparkan peran dinas kesehatan dalam mendukung penanganan gizi buruk dan stunting. Ia mengajak masyarakat untuk menjadi generasi yang sehat dengan mengonsumsi pangan lokal. Festival yang terjadi hari ini bukan hanya pameran melainkan juga mengajak masyarakat untuk mengenal dan menjaga pangan lokal.

Peserta Festival mengunjungi pameran Festival Pangan Lokal. Foto: Paul 30/8/2022

Selain itu Sekertaris Desa Unggu mengungkapkan kebutuhan petani desa unggu akan alat-alat pertanian. Jaringan Peremuan Nusantara yang diwakili oleh Dorce mengajak segenap peserta festival untuk menjadikan pangan lokal sebagai pilot project dengan menciptakan peraturan daerah tentang pangan. Bapak Kepala Desa Unggu juga mengemukakan tentang situasi dan keberadaan pendamping lapangan. Desa Detumbewa menyediakan kebun contoh kepada pendamping lapangan sebagai medan belajar bagi para petani.

Acara Talk Show berlangsung alot meskipun kondisi listrik padam. Mayarakat aktif dalam kegiatan Talk Show. Setelah Talk Show dilanjutkan dengan kunjungan ke pameran pangan lokal dari desa di stand yang sudah disediakan. Dalam kunjungan pameran terdapat barter benih pangan lokal. Selain itu masyarakat dan peserta juga dapat membeli hasil olahan pangan lokal.

Diakhir acara peserta memberikan anjuran dan masukan terkait dengan usaha untuk menjaga keberagaman pangan lokal. Direktur Yayasan Tananua mengapresiasi kegiatan Talk Show dan Festival Pangan Lokal ini. Camat Kecamatan Detukeli melalui staf menutup acara kegiatan Talk Show dan Festival Pangan lokal ini. Kegiatan ini sangat penting untuk menjaga tanaman pangan lokal. (Edi Woda)

Talk Show dan Festival Pangan Lokal: Menjaga Keberagaman Pangan Lokal Read More »

Menyibak Potensi Pangan “Gaplek” Desa Unggu

Shere Sekarang

Ende-Unggu, Tananua Flores| Waktu bergerak pasti membuka hari baru yang cerah. Matahari bergerak merangkak naik menyinari hamparan Dusun Pemowawi, Desa Unggu-Kecamatan Detukeli, Ende-Flores. Para ibu berbondong-bondong menuju lahan singkong untuk menuai hasil panen. Panenan hari ini melimpah. Singkong yang telah ditanam sembilan bulan yang lalu dipanen. Ceria nampak dalam raut wajah ketika kembali dari ladang. Umbi singkong dikupas dan dibersihkan lalu di potong menjadi beberapa bagian.

Ibu Katarina Vele (51) bertekun memotong singkong. Hari ini ibu 6 anak memanen sebanyak 8 rumpun singkong. Singkong yang telah diiris kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari. Singkong yang telah dikeringkan akan bertahan lama sebagai bahan cadangan pangan 3 bulan mendatang.

Katarina Vele (51) memotong singkong untuk dibuat menjadi Gaplek. Foto: Nining 13/7/2022

Sambil berbagi cerita bersama para ibu,  Nining Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores Desa Unggu bersama para ibu mengolah singkong menjadi Gaplek. Gaplek ini diolah secara sederhana dengan cara mengupas singkong, lalu dicuci bersih dan dipotong menjadi beberapa bagian sebesar 10 cm. Singkong itu kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari selama 1 Minggu.

Nikmatnya Gaplek akan terasa ketika dikukus lalu disantap bersama sambal kelapa dan ikan teri. Selain itu Gaplek akan diolah menjadi tepung sebagai bahan olahan kue untuk dihidangkan di meja makan keluarga. Meskipun demikian gaplek yang disimpan lama dapat rusak oleh hama gudang (Araecerus fasciculatus). Karena itu gaplek sebaiknya disimpan ditempat yang kering dengan suhu yang cukup.

Gaplek merupakan produk olahan singkong yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Umumnya gaplek terdiri dari dua jenis. Ada gaplek putih yang dapat ditepungkan atau dibuat thiwul dan gaplek hitam yang disebut gatot. Gatot yang berwarna hitam adalah bakteri hasil penjemuran pada waktu siang hingga malam hari. Tekstur Gatot lebih kenyal karena perombakan pati menjadi senyawa dan bakteri.

Ibu-ibu Dusun Pemowawi-Unggu menjemur singkong untuk dijadikan Gaplek. Foto: Nining, 13/7/2022

Diversifikasi pengolahan singkong memberikan cita rasa yang lebih disukai masyarakat dan juga akan manambah nilai gizi. Produk olahan dari tepung gaplek antara lain tepung Mocat (Modified Cassava Flour) dan pati seperti kerupuk, rerotian, mie, beras sintetik dan berbagai kue basah dan kering.

Gaplek memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, memiliki serat yang tinggi dan kandungan gula yang rendah. Gaplek memiliki kandungan nutrisi, Per 1 Kg Gaplek terdapat 3000  Kalori, 3,3% protein kasar, 5,3% lemak kasar, 0,17% phospor, 0,57% Kalsium (Tillman et al, 1991).

Hasil panen Singkong Desa Unggu setelah dipotong, siap dijemur dan hasil olahan singkong untuk siap disantap. Foto: Nining 17/7/2022

Potensi Singkong di Indonesia amat menjanjikan. 58% akan dimanfaatkan sebagai bahan pangan, 28% sebagai bahan baku industri, 2% sebagai bahan pakan, dan 8% diekspor dalam bentuk gaplek. Produk yang diekspor adalah Cassava Dried (Chip, Sawut, Gaplek) dan produk antara (tepung singkong dan pati). Produk Cassava Dried dapat diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia, Jepang, China, Korea, dan negara-negara Eropa (Yenny, 2018). (Edi-BW)

 

 

Menyibak Potensi Pangan “Gaplek” Desa Unggu Read More »