Talk Show dan Festival Pangan Lokal: Menjaga Keberagaman Pangan Lokal

Shere Sekarang

Ende-Unggu, Tananua Flores| Kegiatan Talk Show dan Festival Pangan Lokal terjadi di Desa Unggu Kecamatan Detukeli. Pada Senin 29 Agustus 2022 Pukul 15.00 peserta kegiatan mulai berdatangan dan melakukan Cek-In. Para Peserta dibagi dalam kelompok untuk mendapatkan tempat penginapan di sekitar lokasi kegiatan.

Sementara itu para peserta juga mempersiapkan tempat untuk memamerkan hasil olahan pangan lokal dan pangan lokal dari Desa Dampingan. Pada Pukul 20.00 terjadi kegiatan Talk Show dan diskusi tentang pola konsumsi, dan keberagaman pangan lokal di Desa. Diskusi terbagi dalam beberapa Kelompok. Selanjutnya para peserta yang sudah datang menuju ke tempat penginapan masing-masing.

Pemeran Benih Ura, Pega, Mbape, Lolo, Nggoli, dan Pisang di desa Unggu. Foto: Paul 30/7/2022

Pada hari kedua selasa 30 Agustus 2022 kegiatan Festival berawal dari seremonial pembuka yang terdiri dari Pengantar dari Pranatacara, Doa, Menyanyikan Lagu Mars Tananua dan Lagu Indonesia. Direktur Yayasan Tananua Flores memberikan sambutan dan sapaan kegiatan Talk Show dan Festival Pangan Lokal.

Bernadus Sambut Direktur Yayasan Tananua Flores (YTNF) menggambarkan alasan Yayasan Tananua Flores memfasilitasi Festival Pangan Lokal. YTNF selalu mendorong dan menekankan pengembangan pangan lokal. Tanpa pangan lokal kita tidak bisa hidup. Pangan Lokal adalah warisan nenek moyang namun kenyataan menunjukkan bahwa keberadaannya tidak dikembangkan lagi.

Selain untuk konsumsi Pangan Lokal juga dimanfaatkan untuk seremonial adat. Dengan mengembangkan pangan lokal kita menghargai leluhur dan nenek moyang. Festival diselenggarakan untuk mengetahui sejauh mana keberagaman pangan lokal itu dikembangakan. Melalui festival masyarakat bisa termotivasi untuk mengembangan pangan lokal. Selain itu dari kegiatan festival pangan lokal ini  diharapkan ada kebijakan yang dihasilkan.

Potensi Pangan Lokal

Dalam sambutannya Koordinator Nasional FIAN Indonesia, Betty Tiominar menjelaskan tentang peran pangan lokal untuk kesehatan. Bahwa Pangan Lokal memiliki protein dan gizi yang tinggi. FIAN  selalu mempromosikan hak masyarakat atas pangan dan gizi salah satunya dengan memperkenalkan benih-benih pangan lokal yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Masyarakat menghargai apa yang dimiliki dan mengonsumsi pangan lokalnya. Pangan Lokal merupakan potensi yang harus dirawat, dikembangkan, dan dibudidayakan agar tidak hilang. Desa memiliki Potensi untuk mengembangkan pangan lokal.

Dari Kanan-Kiri: Halimah Tus’dyah Pengurus YTNF, Betty Tiominar FIAN Indonesia,  Marselina Ga’a Pendamping Lapangan Desa Detumbewa, dan Matilda Ilmoe Kepala Dinas Ketahanan Pangan menyaksikan Festival Pangan Lokal. Foto: Paul 30/8/2022

Camat Kecamatan Detukeli memberikan sambutan sekaligus membuka acara Kegiatan Festival Pangan Lokal ini. Sebagai Camat, Fransiskus Sio mengatakan bahwa Festival Pangan Lokal akan membuat masyarakat mengenal keberagaman pangan lokal. Kenyataan menunjukan bahwa untuk ritual, beras dan padi harus dibeli. Pangan Lokal dapat dikonsumsi karena sehat dan bergizi. Generasi ke depan cukup sulit menikmati pangan lokal karena kurangnya ketersediaan benih dan hasil olahannya. Menjadi suatu tantangan ketika pangan lokal mulai sulit dijumpai. Penting untuk memberikan contoh dalam mengambangkan pangan lokal.

Kegiatan Talk Show pangan lokal diawali dengan presentasi oleh Kepala Desa Rutujeja. Petrus Bata menjelaskan tentang situasi pangan lokal di Desa Rutujeja. Pangan lokal merupakan kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup. Pangan Lokal bisa diramu dari kebun, sungai, hutan dan laut. Sejak dahu kala pangan lokal telah dibudidayakan oleh nenek moyang. Lolo, wete, pega, mbape, nggoli, ura, dowe dapat dimanfaatkan untuk memenuhi pangan keluarga. Selain itu pelbagai acara adat juga menggunakan minuman lokal (arak) sebagai ritus seremonial kepada leluhur. Persediaan pangan lokal di desa Rutujeja masih terbilang cukup. Kondisi sekarang memerlihatkan kurangnya perhatian untuk mengonsumsi pangan lokal. Karena itu dibutuhkan peran pelbagai elemen masyarakat untuk serius mengembangkan pangan lokal.

Potret Keberagaman Pangan Lokal

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Ende Mathilda G. Ilmoe dalam acara Talk Show berbicara mengenai potret keberagaman pangan yang ada di Kabupaten Ende. Dalam pembahasannya ia memaparkan tentang data ketersediaan komoditi pangan utama dan peta kerentanan kerawanan pangan di Kabupaten Ende. Pada tahun 2021 angka ketersediaan pangan sebesar 86,77% dan pada bulan Mei tahun 2022 sebesar 79.85%. Angka ini menununjukan bahwa Ende masuk dalam ketegori rawan pangan.

Skor pola pangan harapan untuk tahun 2021 sebesar 76,5 dari target skor 80, idealnya 100. Tingkat konsumsi energi masyarakat Kabupaten Ende sebesar 2247,1 kkal/kapita/hari dari porsi ideal sebesar 2150 kkal/kapita/hari.  Hal ini menggambarkan bahwa pola konsumsi masyarkat ideal. Dengan demikian pangan lokal merupakan kebutuhan dasar manusia. Setiap elemen masyarakat wajib untuk memenuhi kebutuhan ini.

Ir. Marianus Aleksander, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende memaparkan materi tentang Peran Dinas Pertanian dalam mendukung ketahanan pangan Kabupaten Ende. Visi dan Misi Kabupaten Ende adalah untuk mewujudkan karakteristik dengan membangun dari desa dan kelurahan menuju masyarakat yang mandiri, sejahtera dan berkeadilan. Pembangunan dilakukan berbasis sumber daya. Secara budaya karakteristik yang menggambarkan tentang pertanian adalah tedo tembu wesa wela. Dinas Pertanian juga mempromosikan masyarakat untuk bangga menjadi petani. Kemandirian petani menjadi tujuan dalam program yang dicanangkan sehingga masyarakat dapat mencukupi kebutuhan pangannya.

Kepala Desa Rutujeja Petrus Bata mempresentasikan materi Talk Show bersama P. Charles Beraf, Marianus Alexander, Hironimus Pala, dan  Mathilda Ilmoe. Foto: Paul 30/8/2022

Pembina Yayasan Tananua Flores, P. Charles Beraf, SVD memberikan penjelasan mengenai spiritualitas pangan dalam mendukung keberlanjutan hidup umat. Masyarakat dapat memutuskan rantai kapitalisme dengan pemberdayaan. Spiritualitas tumbuh dalam lokalitas sesuai dengan adat dan tradisi. Kenyataan sekarang ini menunjukan bahwa ada komodifikasi, ada banyak hal yang diukur dengan uang. Pastor Paroki Detukeli ini aktif dalam kegiatan pembangunan berbasis masyarakat. Oleh karena itu mengembangkan pangan lokal harus dibangun dari apa yang kita punya sesuai dengan adat dan budaya.

Ketua Yayasan Tananua Flores, Hironimus Pala, memaparkan materi tentang kajian keberagaman pangan lokal di kabupaten Ende. Pangan lokal adalah jati diri, siapa yang menguasai pangan dia menguasai kehidupan. Ada pergesaran pola konsumsi masyarakat dari mengonsumsi pangan lokal ke pangan ke pangan industri. Kondisi sekarang ini menunjukan bahwa benih pangan lokal mengalami kekurangan, hama yang ada juga membuat orang kesulitan mengolah pangan lokal, selain itu model pengelolaan pangan lokal membutuhkan waktu lama. Ia juga mengajak masyarakat untuk mencintai pangan lokal, dengan menjaga benih serta memiliki lumbung pangan.

Keberagaman Pangan Lokal: Tanggung Jawab Bersama

Setelah pemaparan materi peserta diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan dan komentar. Flavianus Senda pembina Yayasan Tananua Flores mengusulkan agar setiap keluarga memiliki pola konsumsi yang mendukung kesehatan. Pola konsumsi yang baik akan mendukung kesejahteraan keluarga.

Kepala Bidang Perancanaan pembangunan I Bappeda menjelaskan tentang percepatan pembangunan yang kompetitif dan berkelanjutan. Profesi petani menjadi kurang diminati, membuat orang enggan untuk menjadi petani. Terdapat pergeseran pola konsumsi masyarakat. Ia juga menggambarkan pentingnya mengembangkan pertanian berdasarkan kearifan lokal.

Dalam rangka mendukung pengembangan pangan lokal Tim Ahli P3MD (Porgram Pembangunan dan Pengembangan masyarakat Desa) menyatakan bahwa dalam RKPdes terdapat alokasi anggaran dana desa untuk pengembangan pangan dan hewani sebesar 20 %. Masyarakat bisa mengusulkan kegiatan yang berkaitan dengan ketahanan pangan.

Serafinus Sage, Kepala Puskesmas Watunggere memaparkan peran dinas kesehatan dalam mendukung penanganan gizi buruk dan stunting. Ia mengajak masyarakat untuk menjadi generasi yang sehat dengan mengonsumsi pangan lokal. Festival yang terjadi hari ini bukan hanya pameran melainkan juga mengajak masyarakat untuk mengenal dan menjaga pangan lokal.

Peserta Festival mengunjungi pameran Festival Pangan Lokal. Foto: Paul 30/8/2022

Selain itu Sekertaris Desa Unggu mengungkapkan kebutuhan petani desa unggu akan alat-alat pertanian. Jaringan Peremuan Nusantara yang diwakili oleh Dorce mengajak segenap peserta festival untuk menjadikan pangan lokal sebagai pilot project dengan menciptakan peraturan daerah tentang pangan. Bapak Kepala Desa Unggu juga mengemukakan tentang situasi dan keberadaan pendamping lapangan. Desa Detumbewa menyediakan kebun contoh kepada pendamping lapangan sebagai medan belajar bagi para petani.

Acara Talk Show berlangsung alot meskipun kondisi listrik padam. Mayarakat aktif dalam kegiatan Talk Show. Setelah Talk Show dilanjutkan dengan kunjungan ke pameran pangan lokal dari desa di stand yang sudah disediakan. Dalam kunjungan pameran terdapat barter benih pangan lokal. Selain itu masyarakat dan peserta juga dapat membeli hasil olahan pangan lokal.

Diakhir acara peserta memberikan anjuran dan masukan terkait dengan usaha untuk menjaga keberagaman pangan lokal. Direktur Yayasan Tananua mengapresiasi kegiatan Talk Show dan Festival Pangan Lokal ini. Camat Kecamatan Detukeli melalui staf menutup acara kegiatan Talk Show dan Festival Pangan lokal ini. Kegiatan ini sangat penting untuk menjaga tanaman pangan lokal. (Edi Woda)

Talk Show dan Festival Pangan Lokal: Menjaga Keberagaman Pangan Lokal Read More »

Menyibak Potensi Pangan “Gaplek” Desa Unggu

Shere Sekarang

Ende-Unggu, Tananua Flores| Waktu bergerak pasti membuka hari baru yang cerah. Matahari bergerak merangkak naik menyinari hamparan Dusun Pemowawi, Desa Unggu-Kecamatan Detukeli, Ende-Flores. Para ibu berbondong-bondong menuju lahan singkong untuk menuai hasil panen. Panenan hari ini melimpah. Singkong yang telah ditanam sembilan bulan yang lalu dipanen. Ceria nampak dalam raut wajah ketika kembali dari ladang. Umbi singkong dikupas dan dibersihkan lalu di potong menjadi beberapa bagian.

Ibu Katarina Vele (51) bertekun memotong singkong. Hari ini ibu 6 anak memanen sebanyak 8 rumpun singkong. Singkong yang telah diiris kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari. Singkong yang telah dikeringkan akan bertahan lama sebagai bahan cadangan pangan 3 bulan mendatang.

Katarina Vele (51) memotong singkong untuk dibuat menjadi Gaplek. Foto: Nining 13/7/2022

Sambil berbagi cerita bersama para ibu,  Nining Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores Desa Unggu bersama para ibu mengolah singkong menjadi Gaplek. Gaplek ini diolah secara sederhana dengan cara mengupas singkong, lalu dicuci bersih dan dipotong menjadi beberapa bagian sebesar 10 cm. Singkong itu kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari selama 1 Minggu.

Nikmatnya Gaplek akan terasa ketika dikukus lalu disantap bersama sambal kelapa dan ikan teri. Selain itu Gaplek akan diolah menjadi tepung sebagai bahan olahan kue untuk dihidangkan di meja makan keluarga. Meskipun demikian gaplek yang disimpan lama dapat rusak oleh hama gudang (Araecerus fasciculatus). Karena itu gaplek sebaiknya disimpan ditempat yang kering dengan suhu yang cukup.

Gaplek merupakan produk olahan singkong yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Umumnya gaplek terdiri dari dua jenis. Ada gaplek putih yang dapat ditepungkan atau dibuat thiwul dan gaplek hitam yang disebut gatot. Gatot yang berwarna hitam adalah bakteri hasil penjemuran pada waktu siang hingga malam hari. Tekstur Gatot lebih kenyal karena perombakan pati menjadi senyawa dan bakteri.

Ibu-ibu Dusun Pemowawi-Unggu menjemur singkong untuk dijadikan Gaplek. Foto: Nining, 13/7/2022

Diversifikasi pengolahan singkong memberikan cita rasa yang lebih disukai masyarakat dan juga akan manambah nilai gizi. Produk olahan dari tepung gaplek antara lain tepung Mocat (Modified Cassava Flour) dan pati seperti kerupuk, rerotian, mie, beras sintetik dan berbagai kue basah dan kering.

Gaplek memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, memiliki serat yang tinggi dan kandungan gula yang rendah. Gaplek memiliki kandungan nutrisi, Per 1 Kg Gaplek terdapat 3000  Kalori, 3,3% protein kasar, 5,3% lemak kasar, 0,17% phospor, 0,57% Kalsium (Tillman et al, 1991).

Hasil panen Singkong Desa Unggu setelah dipotong, siap dijemur dan hasil olahan singkong untuk siap disantap. Foto: Nining 17/7/2022

Potensi Singkong di Indonesia amat menjanjikan. 58% akan dimanfaatkan sebagai bahan pangan, 28% sebagai bahan baku industri, 2% sebagai bahan pakan, dan 8% diekspor dalam bentuk gaplek. Produk yang diekspor adalah Cassava Dried (Chip, Sawut, Gaplek) dan produk antara (tepung singkong dan pati). Produk Cassava Dried dapat diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia, Jepang, China, Korea, dan negara-negara Eropa (Yenny, 2018). (Edi-BW)

 

 

Menyibak Potensi Pangan “Gaplek” Desa Unggu Read More »

Menikmati Pangan Lokal, Merawat Kehidupan; Lokamini Pangan Lokal Desa Rutujeja

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores| Pangan adalah jati diri kita, siapa yang menguasai pangan dan benih dia menguasai kehidupan. Pangan adalah jati diri manusia. Badan Pangan Dunia (FAO/Food and Agriculture Organization) menggarisbawahi bahwa pangan lokal merupakan pangan yang diproduksi, dipasarkan, dan dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifannya.

Dalam kegiatan Lokamini yang terjadi di Desa Rutujeja Rabu, 20/07/2022, Hironimus Pala, Ketua Yayasan Tananua Flores (YTNF) menjelaskan bahwa Pangan Lokal merupakan inti dari kehidupan seorang petani. Ka eo kita tedo, tedo apa eo kita ka. Kita mengonsumsi makanan yang kita usahakan atau yang kita kerjakan.

Pangan Lokal Desa Rutujeja Nggoli (Kacang merah). Foto: EW|20/07/2022

Makanan pokok lokal seperti Are (Padi), Jawa (Jagung), Wete (Jewawut), Lolo (Sorgum), Pega (Serealia), Ndelo (Umbi Ganyo), Ura (Kacang-kacangan), Mbape (Jali) begitu melimpah di daerah Rutujeja. Masyarakat dapat mengonsumsi pangan lokal ini karena memiliki kandungan yang bergizi.

Peserta Lokamini Pangan Lokal ini berjumlah 22 orang masyarakat rutujeja yang meliputi Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Pengurus Kelompok Tani, Guru Sekolah Dasar, Murid Sekolah Dasar, dan Staf Pemerintahan Desa. Dalam kegiatan lokamini ini para peserta aktif menyebutkan dan memberikan penjelasan terkait keberagaman pangan lokal di Rutujeja.

Pangan Lokal Desa Rutujeja Lolo Mera (Sorgum Merah). Foto: EW|20/07/2022

Kesempatan ini hendak mengklarifikasi hasil penelitian tentang keberagaman pangan yang ada di Rutujeja. Dalam presentasinya Ketua YTNF memaparkan hasil temuan mengenai jenis pangan, dan hasil olahan pangan lokal. Selain itu beliau juga membahas tentang pengaruh keberadaan pangan industri bagi kesehatan. Pembicara juga menjelaskan tentang peran Lembaga Adat, Lembaga Agama, Pemerintah Desa dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan konsumsi pangan lokal.

Kegiatan yang berlangsung di kantor Desa Rutujeja ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Desa. Stefanus Benyamin Dadi, sebagai Kaur Perencanaan, mewakili Kepala Desa menyambut baik acara ini. Beliau mengharapkan agar masyarakat tetap menanam, menjaga, serta mengonsumsi makanan lokal ini.  Makanan lokal adalah makanan yang sehat dan bergizi.

Hironimus Pala, Ketua YTNF memaparkan materi Lokamini Pangan Lokal.

Foto: EW|20/07/2022

Pertemuan ini menyepakati perihal menjaga keberagaman pangan lokal yang ada di Desa. Besar harapan bahwa acara lokamini ini menjadi motor penggerak dalam pembuatan Peraturan Desa tantang pangan lokal. Desa Rutujeja dapat terlibat dalam acara festival pangan lokal yang akan diselenggarakan pada waktu yang akan datang.

Desa Rutujeja memiliki potensi untuk memberdayakan pangan pokok lokal. Supu Bugu Kema Mbale. Bekerja dengan keseriusan akan memberikan pertumbuhan dan kesuburan. Apa yang diusahakan dapat menghasilkan kehidupan.Tedo Tembu, Wesa Wela, Peni Nge, Wesi Nuwa. Sehingga dengan demikian setiap kerja dan usaha dapat mencapai kesejahteraan. Mera Tebo Keta, Ndi Lo Ngga. Petuah-petuah sahaja ini menjadi doa dan harapan dalam setiap usaha untuk mencapai ketahanan pangan dan kesejahteraan.

Arnoldus Mage, Staf Lapangan YTNF di Desa Rutujeja mendata keberagaman pangan lokal.

Foto:EW|20/07/2022

Sebagai rencana tindak lanjut masyarakat dapat mengonsumsi pangan lokal sambil menciptakan produk khas untuk dapat dipasarkan baik secara langsung maupun secara online. Pangan Lokal memiliki nilai kearifan dan nilai ekonomis jika terus dirawat dan dijaga.

Desa Rutujeja berada di Kecamatan Lepembusu Kelisoke. Jarak Desa Rutujeja dari Kota Kabupaten Ende sekitar 64 Km, dan jarak dari Kota Kecamatan sekitar 19 Km. Luas Desa Rutujeja 8.05 Km2 dan berada sekitar 1000 MDpl.

 

 

Menikmati Pangan Lokal, Merawat Kehidupan; Lokamini Pangan Lokal Desa Rutujeja Read More »

Para Ibu Desa Detumbewa menghidangkan hasil olahan pangan lokal. Maria Elsin paling kiri tampak depan. Foto:EK

Pejuang Pangan Perempuan untuk Gizi Seimbang Anak-anak Detumbewa

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores| Catatan sejarah Ende Lio mengisahkan dengan jelas perjuangan Pahlawan Marilonga. Marilonga berasal dari Detukeli, Desa Watunggere. Kisah historis itu nampak jelas dalam Benteng Marilonga, suatu benteng pertahanan melawan bangsa Belanda. Narasi heroik untuk merebut kemerdekaan tampak dalam puing-puing benteng dalam rupa tumpukan batu.

Kini ada kisah perjuangan dari satu desa di Detukeli, Desa Detumbewa dalam membebaskan masyarakat dari masalah kekurangan gizi. Dari Desa Detumbewa hadir sosok seorang pejuang pangan yang dengan tekun dan setia berkarya memenuhi kebutuhan gizi anak.  Dialah Maria Elsin (24) seorang perempuan di Dusun Serofai, Desa Detumbewa  yang penuh semangat bertekad untuk mengentaskan masalah kekurangan gizi di desanya. Ibu dari Aprilio (5) ini Sehari-hari ia bekerja sebagai ibu rumah tangga. Di sela kesibukannya, ia aktif sebagai Kader Posyandu dan dipercayakan sebagai Sekretaris BPD (Badan Permusyawaratan Desa) di Desa Detumbewa. Istri dari Yohanes ini pernah mengalami kesulitan lantaran anaknya mengalami kekurangan gizi. Anak aprilio menderita gizi buruk karena tidak menyukai sayuran dan kerap mengonsumsi kue (snack) yang mengandung pengawet dan pewarna. Namun berbekalkan pengetahuan yang diperoleh dari Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores dan Bidan Desa anak menjadi sehat dan kuat. Setiap hari Elsin menyedikan makanan yang bergizi seimbang untuk putranya.

Perkedel, Saus dan Kroket Ubi Kayu hasil olahan para ibu di Desa Detumbewa. Foto: EK

Pengalaman memulihkan kesehatan anaknya dari masalah gizi buruk ini membuat Elsin aktif Bersama pemerintah Desa, Bidan Desa, Pendamping Tananua, Kader Posyandu dan KPM (Kader pembangunan Manusia) mensosialisasikan tentang makanan yang bergizi seimbang bagi Balita.  Mereka secara bergilir melakukan kunjungan ke 4 dusun di Detumewa untuk mengajarkan cara  mengolah pangan lokal seperti pisang, singkong, keladi, kacang-kacangan serta sayur-sayuran. Bahan pangan itu diolahan secara kreatif menjadi bakwan sayur, kroket ubi kayu ( terbuat dari bahan dasar singkong dan sayur-sayuran),  talam labu  (talam yang terbuat dari buah waluh kuning ), paha ayam (terbuat dari singkong). Makanan sehat nan bergizi tinggi itu kemudian dibagikan kepada ibu hamil dan balita. Kegiatan  Pemberian Makanan Tambahan (PMT)  ini berlangsung setiap bulan di setiap dusun. Maria Elsin berhasil menjadi motivator bagi para ibu di Detumbewa untuk selalu menyediakan makanan yang sehat dari pangan lokal bagi keluarga. Keluarga bisa sehat dan sejahtera berkat pangan lokal, kata Elsin.

Anak-anak Dusun Serofai mendapat makanan tambahan bergizi dari hasil olahan pangan lokal. Foto: EK

Desa Detumewa terletak di wilayah utara Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende, Flores, NTT. Perjalanan menuju  desa ini ditempuh sejauh 65 Km dari kota Kabupaten Ende. Warga Desa maupun para tamu yang hendak menuju Detumbewa dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sepanjang jalan terdapat area persawahan yang eksotik. Tatapan mata akan dimanjakan oleh hijaunya tanaman kemiri dan kopi, serta semarak hutan pinus di Hutan Wisata Kebesani di puncak Kajundara. Sejuknya hutan wisata Kajundara menjadi pertanda bahwa Desa Detumbewa sudah semakin dekat.

Penduduk Detumbewa berjumlah  490 Jiwa dengan  117 KK, laki-laki 256 jiwa dan perempuan 234 jiwa (Data Desa Detumbewa Agustus; 2021). Sekitar 90 persen warga berprofesi sebagai petani lahan kering. Mayarakat hidup dari mengolah tanaman pangan dan tanaman umur panjang. Tanaman pangan yang dibudidayakan seperti padi, jagung, umbi umbian, kacang-kacangan, dan pisang. Selain itu para petani juga memiliki tanaman umur panjang seperti kemiri, kakao, dan jambu mete. Hasil dari tanaman pangan digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, sedangkan hasil penjualan  tanaman umur panjang digunakan untuk menunjang kebutuhan jangka menengah seperti biaya kesehatan, pendidikan anak, dan juga biaya-biaya sosial.

Ketersediaan pangan di Desa Detumbewa terbilang cukup. Disini masih terdapat masalah pemenuhan gizi keluarga, terutama gizi balita.  Penyebabnya adalah pola asuh yang salah serta kurangnya pengetahuan orang tua balita tentang makanan bergizi. Menurut penjelasan dari Kementerian Kesehatan penyebab masalah gizi buruk dan stunting antara lain rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktek pemberian makan bayi dan anak, dan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih (Izwardy, 2018).

Anak pada usia dini membutuhkan gizi yang seimbang untuk tumbuh kembangnya, terutama pada perkembangan otak. Pada usia emas (golden age) 0-6 tahun menjadi masa yang penting dan membutuhkan perhatian dari seorang ibu. Nutrisi yang seimbang menjadi faktor penting dalam proses tumbuh kembang anak. Makanan yang bernutrisi adalah makanan yang tidak mengandung pengawet, pewarna buatan dan pemanis buatan. Anak yang sehat mengonsumsi makanan yang bergizi. Nutrisi yang seimbang bergantung pada tingkat kualitas dan kuantitas makanan. Pada masa pertumbuhan anak membutuhkan konsumsi pangan yang cukup dan bergizi seimbang. Komponen pangan dengan gizi yang seimbang mengandung karbohidrat, protein, lemak, air, vitamin, mineral dan serat  (Badan POM RI, 2013).

Penulis: Emilia Kumanireng

Editor: Edi Woda

.

Pejuang Pangan Perempuan untuk Gizi Seimbang Anak-anak Detumbewa Read More »