Laut dan Ladang Bertemu: Suara Desa Menggema di Pertemuan Semestral Tananua

Shere Sekarang

Ende, 2 Juli 2025 – Suara petani dari pegunungan dan nelayan dari pesisir bersatu dalam satu forum di Desa Malawaru, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Mereka datang dari 14 desa dampingan Yayasan Tananua Flores (YTNF) untuk mengikuti Pertemuan Semestral yang berlangsung sejak 24 hingga 27 Juni 2025, dengan semangat yang sama: merawat bumi, menjaga kehidupan.

Pertemuan ini merupakan bagian dari strategi pendampingan rutin YTNF yang digelar setiap enam bulan. Selama empat hari, para peserta dari desa-desa pesisir dan pegunungan menggali isu-isu utama yang mereka hadapi, mulai dari krisis lingkungan, keterbatasan akses pasar, hingga hilangnya benih pangan lokal. Di tengah situasi itu, forum ini hadir sebagai ruang bersama pertama yang mempertemukan para pelaku utama pertanian dan kelautan di wilayah dampingan.

“Petani dan nelayan selama ini berjalan sendiri-sendiri. Forum ini menjadi ruang konsolidasi untuk merefleksikan pengalaman dan menyuarakan kebutuhan mereka yang belum tersentuh oleh kebijakan,” ujar Heribertus Se., Manajer Program YTNF.

Dua Dunia, Satu Visi

Peserta dari wilayah pesisir fokus pada Program Kelautan dan Perikanan yang mencakup pengelolaan ruang laut berbasis komunitas, pengamanan hak kelola, inklusi keuangan, dan ketahanan pangan keluarga nelayan.

Sementara itu, peserta dari desa pegunungan mengembangkan Program Livelihood Sustainable, yang menekankan pada penguatan organisasi petani, pertanian berkelanjutan, dan ekonomi kerakyatan melalui konsep lokal “Uma, Sao, Rega” (Kebun, Rumah, dan Pasar).

Meskipun berbeda lanskap geografis, keduanya memiliki tantangan serupa: kerusakan lingkungan, lemahnya pengelolaan kelompok, hingga dominasi kebijakan yang belum berpihak pada akar rumput.

Diskusi Mendalam dan Praktik Langsung

Kegiatan ini menghadirkan berbagai narasumber dan fasilitator untuk membahas sejumlah topik penting:

  • Pelestarian lingkungan berbasis komunitas
  • Kemandirian pangan lokal sebagai jati diri petani
  • Peran pemuda dalam pertanian dan kelautan berkelanjutan
  • Inovasi pengelolaan sampah dan seleksi benih
  • Penguatan usaha kelompok berbasis potensi desa

Tidak hanya diskusi, peserta juga terlibat langsung dalam praktik lapangan seperti:

  • Pembuatan pupuk organik untuk konservasi tanah dan air
  • Persemaian benih unggul lokal
  • Pengolahan pangan lokal seperti sambal gurita dan stik labu besi
  • Pengelolaan sampah plastik dengan pendekatan edukatif bertema “Sampah Plastik Sahabat Orang Cerdas”

Menjawab Tantangan, Merajut Harapan

Dalam sesi refleksi, para petani dan nelayan menyampaikan pengalaman unik dari desa mereka. Beberapa kelompok menceritakan keberhasilan dalam menjaga sumber pangan lokal, sementara yang lain menyoroti ancaman alih fungsi lahan dan kerusakan laut akibat penggunaan alat tangkap destruktif.

“Kegiatan ini bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tapi membangun kepercayaan antar komunitas. Kita mulai menyatukan langkah untuk membangun desa secara berkelanjutan,” ujar salah satu peserta dari Desa Kotabaru.

Kesepakatan Bersama: Forum untuk Masa Depan

Pertemuan ditutup dengan kesepakatan membentuk forum lintas desa untuk memperkuat suara petani dan nelayan secara kolektif. Forum ini diharapkan menjadi ruang advokasi bersama dalam menghadapi tantangan kebijakan, akses pasar, dan pelestarian sumber daya alam.

YTNF menyatakan akan terus memfasilitasi pertemuan semacam ini, dengan lokasi bergiliran di desa-desa dampingan, guna menjaga kesinambungan proses belajar, solidaritas antar komunitas, dan perumusan solusi bersama.

“Ini tentang peradaban baru: ketika laut dan ladang tidak lagi terpisah, tapi saling menopang,” tutup Heribertus.

Ditulis : Jhuan Mari

Laut dan Ladang Bertemu: Suara Desa Menggema di Pertemuan Semestral Tananua Read More »

Pemeriksaan Kesehatan Dini di Desa Pemo: Langkah Awal Menuju Masyarakat Sehat

Shere Sekarang

Ende,Pemo-Tananua Flores | Pemeriksaan kesehatan dini menjadi salah satu kunci dalam membangun masyarakat yang sehat dan produktif. Kegiatan yang diselenggarakan di Desa Pemo, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende pada 8 Februari 2025 ini merupakan wujud nyata dari kepedulian terhadap kesehatan warga, khususnya para petani yang menjadi tulang punggung perekonomian desa.

Acara ini merupakan bagian dari Program Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga yang diinisiasi oleh Yayasan Tananua Flores bekerja sama dengan Yayasan Planet Indonesia. Dengan menggandeng Lembaga Pengelola Hak Alam dan Hak Warga (LPHAM-Kelimutu), penghubung desa, serta Pemerintah Desa Pemo, program ini berhasil menarik perhatian masyarakat dan memperoleh respons positif.

Kesadaran Kesehatan sebagai Investasi Produktivitas

Sejak awal Januari, tim pelaksana telah melakukan sosialisasi langsung ke rumah-rumah warga dan dusun-dusun untuk memastikan kehadiran sebanyak mungkin peserta dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan ini. Upaya ini berbuah hasil dengan tingginya partisipasi warga dalam pemeriksaan kesehatan yang melibatkan tim medis dari Puskesmas Moni dan kader kesehatan desa.

Sekretaris Desa Pemo, Abu Qasim A.M Hasan, menekankan pentingnya keberlanjutan program ini. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara rutin agar masyarakat dapat memiliki akses berkelanjutan terhadap layanan kesehatan. Hal ini diamini oleh Koordinator Program Peningkatan Hak Alam dan Hak Warga, Benyamin Goza, yang menegaskan bahwa kesehatan adalah faktor utama dalam menunjang produktivitas petani. Dengan tubuh yang sehat, masyarakat dapat bekerja lebih optimal dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Temuan Kesehatan yang Mengkhawatirkan

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya masalah kesehatan yang cukup serius di kalangan masyarakat Desa Pemo. Banyak warga terdeteksi mengalami hipertensi, kolesterol tinggi, asam urat, serta kadar gula darah yang tinggi. Temuan ini menjadi alarm bagi semua pihak bahwa langkah preventif harus segera dilakukan untuk mengurangi risiko penyakit tidak menular yang dapat berdampak pada kualitas hidup dan produktivitas warga.

Perawat dari Puskesmas Moni, Veronika Kemba, mengapresiasi sinergi yang terjalin dalam pelaksanaan program ini. Ia menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan ini sejalan dengan program Integrasi Layanan Kesehatan Primer yang bertujuan memberikan akses pemeriksaan kesehatan dasar bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari bayi hingga lansia.

Pola Hidup Sehat sebagai Solusi

Dengan tingginya angka penyakit yang terdeteksi, tenaga medis dan penyelenggara program menekankan pentingnya perubahan gaya hidup, termasuk pola makan sehat dan aktivitas fisik yang lebih aktif. Sosialisasi mengenai pentingnya menjaga pola makan, mengurangi konsumsi garam dan gula, serta meningkatkan aktivitas fisik akan menjadi agenda lanjutan dalam program kesehatan di Desa Pemo.

Salah satu warga, Marta (56 tahun), mengungkapkan rasa syukurnya setelah mengetahui bahwa ia menderita hipertensi. Sebelumnya, ia mengira bahwa pusing yang sering dialaminya hanyalah efek dari kelelahan. “Sekarang saya tahu harus mengurangi garam dan mulai lebih aktif bergerak saat bekerja di kebun,” ujarnya.

Langkah ke Depan: Keberlanjutan Program Kesehatan

Pemeriksaan kesehatan dini yang telah melibatkan sekitar 150 warga ini membuktikan bahwa masyarakat memiliki keinginan untuk memahami kondisi kesehatan mereka. Namun, hasil temuan menunjukkan bahwa masih banyak yang harus dilakukan agar kesadaran ini diiringi dengan tindakan konkret dalam menjaga kesehatan.

Sebagai tindak lanjut, Yayasan Tananua Flores bersama Puskesmas Moni dan Pemerintah Desa Pemo berencana untuk mengadakan pemeriksaan kesehatan rutin dengan cakupan yang lebih luas. Selain itu, program edukasi tentang pola makan sehat dan pencegahan penyakit tidak menular akan segera dirancang agar masyarakat dapat mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat.

Upaya ini bukan hanya sebatas pemeriksaan kesehatan, tetapi sebuah langkah strategis dalam membangun desa yang lebih sehat dan sejahtera. Kesadaran akan kesehatan harus menjadi bagian dari budaya hidup masyarakat, bukan hanya demi individu, tetapi juga demi keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan seluruh desa.*** Wangge

Pemeriksaan Kesehatan Dini di Desa Pemo: Langkah Awal Menuju Masyarakat Sehat Read More »

Bertemu dan Berbagi Cerita Bersama Kelompok Tani Mbei Mbani di Desa Kamubheka

Shere Sekarang

 

Ende, Kamubheka- Tananua | Tahun Baru 2025 menjadi momentum penuh harapan bagi masyarakat Desa Kamubheka. Salah satu kegiatan bermakna yang dilaksanakan adalah pertemuan perdana bersama Kelompok Tani Mbei Mbani, sebuah komunitas yang berkomitmen memajukan pertanian dan kesejahteraan anggotanya. Dalam suasana hangat, anggota kelompok berkumpul untuk merefleksikan perjalanan, mengidentifikasi tantangan, dan menyusun rencana masa depan (13/01/2025).

Momen Refleksi: Meninjau Perjalanan Kelompok

Diskusi dimulai dengan meninjau perjalanan Kelompok Tani Mbei Mbani selama ini. Berbagai pencapaian disoroti, mulai dari peningkatan hasil panen hingga penguatan solidaritas antaranggota. Evaluasi ini menjadi pijakan penting untuk melihat dampak positif yang telah dirasakan masyarakat.

Namun, perjalanan tentu tidak bebas dari tantangan. Dalam suasana diskusi yang terbuka, anggota kelompok berbagi cerita tentang kendala yang mereka hadapi, baik dari aspek teknis pertanian maupun hambatan pemasaran. Dengan semangat kebersamaan, berbagai solusi kemudian didiskusikan dan disepakati untuk diimplementasikan ke depan.

Lima Fokus Utama Pendampingan

Hasil diskusi menghasilkan lima fokus pendampingan yang akan menjadi prioritas kelompok selama dua tahun ke depan:

  1. Pengembangan Usaha Komoditi
    Kelompok berkomitmen memperkuat produksi dan pemasaran komoditi unggulan, sehingga kesejahteraan anggota dapat meningkat secara signifikan.
  2. Pengelolaan dan Pengembangan Pangan Lokal
    Pangan lokal, seperti ubi ungu dan jagung, menjadi fokus utama. Diversifikasi dan pengolahan pangan akan didorong untuk meningkatkan nilai tambah.
  3. Konservasi Sumber Daya Alam
    Upaya menjaga kelestarian lingkungan menjadi prioritas utama. Kelompok merencanakan aksi konservasi untuk memastikan keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi mendatang.
  4. Pengembangan Usaha Kelompok
    Untuk menciptakan kemandirian, usaha kelompok diarahkan menjadi lebih profesional melalui penguatan manajemen, pemasaran, dan inovasi usaha.
  5. Peningkatan Pengetahuan tentang Pertanian dan Bisnis
    Melalui pelatihan dan pendampingan, anggota kelompok akan dibekali wawasan baru mengenai teknik pertanian modern dan strategi pengelolaan bisnis.

Inspirasi dari Anggota Kelompok

Salah satu kisah inspiratif datang dari Ibu Maria, seorang anggota Kelompok Tani Mbei Mbani. Dengan luas lahan terbatas, ia berhasil mempraktikkan metode pertanian berkelanjutan yang didapat dari pendampingan kelompok. Fokusnya pada budidaya ubi ungu dan jagung lokal memberikan hasil luar biasa.

“Saya sangat bersyukur bisa bergabung di kelompok ini. Bimbingan yang kami terima memberikan banyak pengetahuan baru. Kami jadi tahu cara bercocok tanam yang lebih baik dan cara menjual produk kami dengan harga yang lebih adil,” ujar Ibu Maria penuh semangat. Pendapatannya yang meningkat kini memungkinkan ia menabung untuk pendidikan anak-anaknya.

Dokumentasi Momen Bermakna

Sebagai bagian dari pertemuan ini, berbagai momen penting diabadikan melalui foto:

  • Diskusi Kelompok: Anggota duduk bersama, berdiskusi, dan berbagi cerita penuh kehangatan.
  • Kegiatan di Lahan Pertanian: Foto anggota menunjukkan lahan mereka yang subur, bukti nyata keberhasilan pendampingan.
  • Foto Kebersamaan: Seluruh anggota kelompok berfoto bersama, merayakan awal baru yang penuh harapan.

Harapan untuk Masa Depan

Pertemuan ini adalah langkah awal yang menjanjikan untuk menciptakan perubahan positif di Desa Kamubheka. Dengan semangat kebersamaan dan rencana kerja yang terarah, Kelompok Tani Mbei Mbani diharapkan terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi komunitas lainnya. Momentum ini membuktikan bahwa dengan kerja keras, dukungan yang tepat, dan solidaritas, perubahan nyata dapat tercipta.

Andre Ngera

Bertemu dan Berbagi Cerita Bersama Kelompok Tani Mbei Mbani di Desa Kamubheka Read More »

Mengatasi Tantangan Administrasi: Pertemuan Bersama Pengurus Kelompok Iwa Tolo dan Dasawisma Gae Imu

Shere Sekarang

Ende, Rutujeja- Tananua |– Pertemuan bersama pengurus kelompok Iwa Tolo 1, 2, dan Dasawisma Gae Imu menjadi momen refleksi dan evaluasi penting dalam pengelolaan administrasi organisasi. Sapaan pembuka dari Maria Sepi (Nining) mengawali diskusi yang membahas berbagai tantangan pengisian dokumen administrasi dan keuangan kelompok.(18 /1/ 2025)

Tantangan yang Dihadapi Pengurus

Kesulitan Mengisi Buku Administrasi Buku-buku administrasi seperti buku kas, buku tamu, buku notulen, dan SIMPIN PUMK untuk Dasawisma Gae Imu masih banyak yang belum terisi. Ibu Natalia, salah satu pengurus, mengungkapkan bahwa banyak anggota belum memahami cara pengisian yang benar. Akibatnya, dokumen penting seperti buku SIMPIN-PINJAM sama sekali belum digunakan.

Minimnya Peran dan Tugas Pengurus Pengisian buku administrasi sebagian besar masih menjadi tanggung jawab ketua kelompok. Beban kerja yang berat ini membuat ketua harus membagi waktu antara pekerjaan kelompok dan aktivitas pribadi seperti mengurus kebun dan ekonomi keluarga.

Dokumen Resmi yang Belum Diperbarui Robertus Gati mengungkapkan bahwa Surat Keputusan (SK) kelompok masih tertahan di tangan sekretaris desa. Selain itu, daftar anggota aktif dalam SK belum mencerminkan kondisi terkini, menambah kerumitan dalam pengelolaan administrasi.

Kurangnya Kebiasaan Dokumentasi Buku tamu yang seharusnya digunakan untuk mencatat kunjungan sering kali terabaikan. Buku notulen juga jarang diisi, sehingga hasil rapat tidak terdokumentasi dengan baik.

Rencana Aksi untuk Mengatasi Tantangan

Dari diskusi yang berlangsung, beberapa langkah strategis diusulkan untuk memperbaiki situasi:

  1. Pelatihan Pengisian Buku Administrasi Pelatihan khusus akan diberikan kepada pengurus untuk memahami cara pengisian buku administrasi dengan benar. Pendekatan ini diharapkan dapat meringankan beban ketua dengan mendistribusikan tanggung jawab ke pengurus lain.
  2. Distribusi Tugas yang Jelas Setiap pengurus akan diberi tanggung jawab untuk mengelola dokumen tertentu, seperti buku kas, buku tamu, atau buku notulen, sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.
  3. Mempercepat Penyerahan dan Pembaruan SK Kelompok Kelompok akan segera berkoordinasi dengan sekretaris desa untuk mendapatkan SK yang masih tertahan. Setelah itu, daftar anggota aktif akan diperbarui agar relevan dengan kondisi terkini.
  4. Meningkatkan Kebiasaan Dokumentasi Pengurus diajak untuk membangun kebiasaan mencatat secara rutin, baik dalam buku notulen maupun buku tamu, guna memastikan kegiatan kelompok terdokumentasi dengan baik.

Kisah Inspiratif Mama Nata: Ketulusan di Balik Tantangan

Salah satu momen penuh makna dalam pertemuan ini adalah cerita dari Mama Nata, seorang pengurus yang setia menjalankan tugas meskipun menghadapi banyak keterbatasan. Dengan rendah hati, Mama Nata mengakui bahwa selama ini pengisian buku administrasi hanya dilakukan oleh ketua kelompok karena pengurus lain belum memahami caranya.

Namun, Mama Nata tidak menyerah. Ia berinisiatif belajar sedikit demi sedikit dari pendamping dan anggota kelompok lainnya. “Saya yakin kalau kita belajar pelan-pelan, lama-lama akan bisa. Tidak apa-apa terlambat, yang penting mau mulai,” ujarnya dengan senyum optimis.

Cerita ini menginspirasi seluruh anggota kelompok untuk terus berusaha, meskipun banyak tantangan yang harus dihadapi.

Langkah Awal yang Disepakati

Sebagai tindak lanjut, beberapa langkah awal telah dirancang untuk membantu kelompok memperbaiki pengelolaan administrasi:

  • Workshop Pengisian Dokumen: Pendamping akan mengadakan workshop kecil untuk melatih pengurus mengisi buku administrasi, termasuk buku notulen, buku tamu, dan SIMPIN PUMK. Pendekatan ini dilakukan dengan simulasi langsung agar mudah dipahami.
  • Distribusi Buku Administrasi ke Tiap Pengurus: Tugas administrasi akan dibagi ke beberapa pengurus. Sebagai contoh, Mama Nata akan mengelola buku tamu, sementara pengurus lain bertanggung jawab atas buku notulen dan buku kas.
  • Koordinasi dengan Sekretaris Desa: Kelompok akan segera menghubungi sekretaris desa untuk mempercepat penyerahan SK kelompok.
  • Meningkatkan Kesadaran Dokumentasi: Pengurus diajak untuk mencatat setiap kegiatan, mulai dari rapat kecil hingga kunjungan tamu. Hal ini diharapkan menjadi kebiasaan yang memperkuat manajemen kelompok di masa depan.

Harapan untuk Kelompok

Melalui evaluasi ini, diharapkan kelompok Iwa Tolo dan Dasawisma Gae Imu dapat memperkuat manajemen administrasinya. Dengan pendampingan intensif, para pengurus diharapkan mampu menjalankan tugas mereka secara lebih mandiri. Administrasi yang kuat akan mendukung pengembangan kegiatan ekonomi dan sosial yang bermanfaat bagi seluruh anggota.

“Kita semua punya peran masing-masing. Kalau setiap orang mau ambil bagian, kelompok kita pasti bisa jadi lebih baik,” kata Mama Nata penuh harapan.

Cerita ini membuktikan bahwa perubahan membutuhkan waktu, tetapi bisa dimulai dari langkah kecil. Dengan semangat dan komitmen dari pengurus kelompok serta dukungan dari pendamping dan pihak desa, kelompok ini mampu membangun sistem administrasi yang lebih kokoh dan mencapai tujuan bersama.

Nining

Mengatasi Tantangan Administrasi: Pertemuan Bersama Pengurus Kelompok Iwa Tolo dan Dasawisma Gae Imu Read More »

Kebun Pangan Bapak Yosep Natalis Yono: Mengelola Keanekaragaman di Lahan Satu Hektar

Shere Sekarang

Ende, Tananua – Di Dusun Lioboto, Desa Detuwulu, sebuah kebun pangan milik Bapak Yosep Natalis Yono menjadi contoh keberhasilan dalam pengelolaan lahan secara bijaksana. Dengan memanfaatkan lahan seluas satu hektar, Bapak Yosep berhasil mengembangkan berbagai jenis tanaman pangan seperti padi, jagung, porang, singkong, dan pisang. Kombinasi tanaman ini tidak hanya memastikan keberlanjutan pangan keluarga tetapi juga menjadi strategi cerdas untuk meningkatkan pendapatan.

Keanekaragaman Tanaman yang Dikembangkan

Padi dan Jagung Sebagai dua tanaman pokok di banyak wilayah Indonesia, padi dan jagung menjadi prioritas utama dalam kebun ini. Padi ditanam untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, sementara jagung, selain untuk konsumsi, juga dipasarkan sebagai komoditas lokal yang bernilai ekonomi.

Porang, Porang menjadi salah satu tanaman unggulan di kebun ini. Dengan permintaan pasar yang terus meningkat, terutama untuk ekspor, tanaman ini memiliki nilai ekonomi tinggi. Bagi Bapak Yosep, porang adalah salah satu kunci keberhasilan kebunnya.

Singkong, Tanaman serbaguna ini ditanam sebagai sumber pangan alternatif dan bahan baku untuk produk olahan seperti tepung singkong. Keberadaan singkong menambah variasi hasil panen sekaligus memberikan jaminan ketahanan pangan.

Pisang, Pisang menjadi tanaman pendukung yang memberikan hasil panen buah secara berkala. Selain itu, akar dan struktur tanaman pisang membantu mencegah erosi tanah, terutama di area yang curam.

Sistem Terasering Kayu yang Inovatif

Salah satu keunikan dari kebun ini adalah penggunaan sistem terasering dengan kayu. Sistem ini dirancang dengan beberapa tujuan:

Mengurangi Erosi, Dengan kondisi lahan yang cenderung miring, terasering kayu menjadi solusi efektif untuk mencegah erosi tanah, terutama saat musim hujan tiba.

Mengoptimalkan Penggunaan Lahan, Sistem terasering memungkinkan seluruh bagian lahan digunakan secara efisien untuk menanam berbagai jenis tanaman, sehingga produktivitas lahan meningkat.

Menjaga Kesuburan Tanah, Penahan kayu pada terasering membantu menjaga kesuburan tanah dengan meminimalkan hilangnya nutrisi akibat aliran air.

Keberlanjutan Pangan dan Ekonomi

Melalui pendekatan ini, Bapak Yosep tidak hanya menjamin kebutuhan pangan keluarga tetapi juga menciptakan peluang pendapatan tambahan. Porang, pisang, dan jagung menjadi tiga komoditas utama yang diharapkan memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan. Keanekaragaman tanaman di kebun ini juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem lahan, menjadikannya model keberhasilan bagi petani lain di Dusun Lioboto.

Inspirasi bagi Petani Lain

Kebun pangan milik Bapak Yosep Natalis Yono adalah bukti nyata bahwa sebuah lahan satu hektar bisa dimanfaatkan secara maksimal dengan pendekatan yang beragam dan berkelanjutan. Semangat kerja keras dan kreativitasnya dalam mengelola kebun ini menjadi inspirasi bagi petani lain di Desa Detuwulu.

“Saya ingin kebun ini tidak hanya bermanfaat untuk keluarga, tetapi juga menjadi contoh bagi petani lain bahwa kita bisa memanfaatkan lahan dengan lebih baik,” ungkap Bapak Yosep penuh semangat.

Dengan keanekaragaman tanaman, sistem terasering kayu, dan dedikasi tinggi, kebun pangan ini menggambarkan harapan bagi masa depan pertanian yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Bagi Desa Detuwulu, kebun ini bukan sekadar sumber pangan, tetapi juga simbol keberhasilan dan inovasi yang menginspirasi.

Ansel Sa

Kebun Pangan Bapak Yosep Natalis Yono: Mengelola Keanekaragaman di Lahan Satu Hektar Read More »