Pemdes Persiapan Maurongga Gandeng ACIL dan Tananua Gelar Pelatihan Pengolahan Sampah Plastik

Ende, Tananua Flores| Lingkungan bersih, laut bersih itu semua adalah tanggung jawab semua unsur di wilayah kabupaten Ende. Sampah Plastik saat ini menjadi momok yang membuat pemandangan tidak indah di pandang mata, karena sampah berserakan dimana-mana.

Bebicara terkait dengan Masalah sampah kali ini Pemerintah Desa persiapan Maurongga Gandeng Tananua dan Acil Ende untuk selenggarakan Pelatihan pengolahan Sampah Plastik yang bernilai Ekonomis. Kegiatan tersebut diselenggarakan selama 2 hari yang dimulai dari Maurongga di hari pertama dan sekretariat ACIL Ende di hari kedua. Peserta yang terlibat di kegiatan itu terdiri dari kelompok dasawisma Maurongga dan kelompok perikanan di lingkungan Arubara,kelurahan Tetandara ende.(23/8)

Umar Hamdan Pimpinan ACIL Ende dalam kegiatan pelatihan itu mengatakan  bahwa Sampah plastik yang  dihasilkan dari rumah tangga berkisar 110 ton Per Hari itu terdiri dari sampah anorganik (sampah plastik).

“Kami Secara lembaga mendorong semua stakeholder bahwa masalah Sampah bukan masalah perorangan melainkan masalah bersama,  saat ini Sampah Plastik bukan lagi masalah lokal tetapi sudah menjadi isu Dunia”ujar Hamdan ketua ACIL Ende.

Kegiatan yang digelar oleh Tananua dan pemerintah desa ini agar kelompok dasawisma bisa memanfaatkan sampah plastik menjadi peluang usaha baru dalam peningkatan ekonomi rumah tangga.

” Saat ini masalah Sampah harus menjadi masalah kita bersama, dan untuk meminimalisir juga kita sendiri,apalagi dengan mengolah sampah sekarang juga bisa mempunyai pendapatan”, katanya

Selain itu dia juga menjelaskan bahwa ACIL sendiri sudah mulai bergerak dengan melakukan pengolahan Sampah Plastik sejak tahun 2013.

Menurutnya ACIL Ende bahwa banyak orang merasa Sampah Plastik yang kotor dan  terbuang itu sudah tidak dimanfaatkan lagi namun saat ini sampah plastik yang dibuang sudah punya nilai ekonomis.

Sedikit melihat kembali ke belakang Kantong plastik pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh ilmuwan asal Swedia, Sten Gustaf Thulin pada 1959 oleh. Awalnya, kemunculan kantong plastik bertujuan sebagai media pengganti kantong kertas yang proses produksinya dianggap mengancam keberlanjutan alam.

Seiring dengan berjalannya waktu, saat ini kenyamanan dan kepraktisan membuat kantong plastik menjadi sampah yang menumpuk. Orang-orang sering memakai kantong plastik sekali lalu membuangnya, tidak lagi menggunakan kantong plastik berulang kali.

Perjalanan dalam pemanfaatan barang plastik semakin tinggi disaat Perang Dunia II berkecamuk, industri plastik sintetis sedang dalam titik puncak produksi karena adanya tuntutan untuk melestarikan sumber daya alam. Dengan demikian, produksi alternatif sintetis menjadi prioritas.

Sekarang ini Plastik sudah tidak lagi menjadi solusi tetapi sudah sebuah masalah, optimisme terhadap kantong plastik dinilai berlebihan. Kantong plastik dan produk yang berkemasan plastik tak lagi dipandang positif dan solutif, terutama setelah puing-puing plastik menjadi lautan sampah.

Nah, dengan gambaran itu maka menjadi tujuan dari kegiatan tersebut adalah mendorong masyarakat desa persiapan Maurongga agar bisa memanfaatkan sampah plastik sebagai peluang baru untuk sumber pendapatan ekonomi. Sehingga plastik sampah yang dianggap sebuah masalah tetapi dengan mengolah kembali bisa mendapatkan pendapatan.

” Ya saat inikan sampah yang kotor tentu semua orang merasa tidak mempunyai nilai, tetapi kami sudah membuktikan sampah plastik yang kotor dan terbuang juga memiliki nilai ekonomis”, Ungkap Hamdan.

Lanjut dia bahwa jika semua orang membuang sampah plastik tidak pada tempatnya maka sampah tersebut akan membawa penyakit baru yang saat ini banyak dialami masyarakat.

Kegiatan pelatihan pilah pilih sampah untuk kelestarian tersebut diawali dengan cleaning up(pemilahan sampah) yang dipimpin oleh sekretaris desa persiapan Maurongga.

Kepala Desa Maurongga yang diwakili oleh sekretaris Desa Muhamad Nuhu mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada ACIL Ende dan Tananua Flores yang telah memberikan perhatian khusus kepada warga desa persiapan Maurongga.

Katanya ACIL telah memberikan peluang usaha baru bagi masyarakat jika mau konsentrasi menangani masalah Sampah, jujur di wilayah kecamatan Nangapanda tidak ada yang mulai usaha dengan barang -barang kotor.

Dalam gerakan menjaga lingkungan hidup dan kelestarian lingkungan ACIL Ende telah bekerja sama dengan pemerintah kabupaten Ende, lembaga pendidikan dan juga lembaga kesehatan untuk menangani masalah Sampah. Namun, hal itu masih belum banyak memberikan dampak yang positif. Masih sebagai besar yang belum merasa bahwa sampah bukan menjadi sebuah masalah.

Sampah tidak lagi menjadi masalah baru melainkan masalah yang harus ditangani secara bersama dan itu semua harus mulai dari Rumah.

Kata pimpinan ACIL Ende bahwa Bahaya membuang sampah sembarangan tempat khusus sampah plastik akan mendatangkan penyakit yang sadar tidak sadar selama ini dialami oleh masyarakat dan kita semua.

Selain itu, Sampah mengancam kelestarian lingkungan Laut akan tercemar, banjir, ekosistem laut jadi rusak dan muncul penyakit baru.

“Bahaya sekali kalau kita membuang sampah tidak pada tempatnya, karena itu bisa menimbulkan dampak pada kesehatan dan juga akan merusak ekosistem yang ada di laut”, katanya.

Lebih jauh lembaga yang menangani masalah Sampah di Ende menjelaskan bahwa sampah plastik akan hilang dan hancur 500san tahun dan itu memakan waktu cukup lama. Ada Jenis sampah styrofoam yang terbuat dari gabus  bisa hancur 1000an tahun,” Kata mereka.

Sementara itu Heribertus Se manager program Yayasan Tananua Flores menuturkan bahwa Tananua Flores secara lembaga konsen terhadap masalah Sampah. Dorongan Tananua adalah konservasi dan kelestarian lingkungan hidup baik area laut maupun darat.

Pria yang keseharian bergelut dengan masyarakat desa itu mengatakan pihak lembaga yayasan Tananua akan terus mendorong dan mendampingi masyarakat untuk terus menjaga lingkungan.

Persoalan sampah plastik agar pelan-pelan berkurang harus mulai dari diri rumah tangga kita masing -masing sebab pemahaman terkait penanganan sampah harus di bangun dari keluarga, dan Persoalan Sampah saat ini menjadi permasalahan yang harus menjadi fokus untuk diperhatikan semua orang. Selain itu untuk Kabupaten Ende persoalan sampah sudah menjadi masalah setiap tahun yang terus menerus dibicarakan.

Penulis : JF

Editor : Jhuan Mari

Pemdes Persiapan Maurongga Gandeng ACIL dan Tananua Gelar Pelatihan Pengolahan Sampah Plastik Read More »

Lumbung Pangan Kelompok Tani Menjaga Ketahanan Pangan Desa Kamubheka

Ende-Kamubheka, Tananua Flores| Keberadaan Lumbung Pangan dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan pangan. Lumbung Pangan akan memudahkan akses pangan masyarakat. Undang-undang No. 18 Tahun 2012 tentang pangan menggarisbawahi bahwa setiap masyarakat mempunyai hak dan kesempatan untuk mewujudkan cadangan pangan. Lalu pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab untuk memfasilitasi pengembangan cadangan pangan masyarakat sesuai dengan kearifan lokal.

Kelompok Tani di Desa Kamubheka, Dusun Tanahiu menginisasi pembuatan lumbung pangan sebagai cadangan pangan ketika musim paceklik di bulan januari hingga maret. Kelompok Tani Mbei Mbani yang terdiri dari 12 Orang anggota secara swadaya mendirikan lumbung pangan yang terbuat dari kayu, gebang dan bambu.

Lumbung Pangan Kelompok Tani Mbei Mbani di Dusun Tanahiu-Kamubheka. Foto: EW 3/8/2022

Lumbung Pangan Kelompok Tani Mbei Mbani telah didirikan sejak tahun 2018. Sebagai modal awal masing-masing anggota menyetor sekitar 50 Kg Gabah. Pada tahun pertama total gabah mencapai 900 Kg. Bunga dari pinjaman gabah dapat dijual dan dijadikan sebagai modal anggota kelompok .

Kini dalam Lumbung Pangan terisi gabah sekitar 2 Ton gabah. Gabah yang ada dikumpulkan dari hasil panen masing-masing anggota kelompok. Gabah akan dipinjamkan ke anggota kelompok ketika anggota kelompok mangalami kekurangan bahan pangan. Selain itu gabah juga dapat dipinjamkan ke masyarakat sekitar dengan bunga sebesar 25 Kg.

Kelompok Tani Mbei Mbani telah didampingi Yayasan Tananua Flores sejak Tahun 2016. Kegiatan Kelompok Tani ini berfokus pada kerja di bidang pertanian untuk pembersihan lahan, mengolah kebun dari tahap menanam hingga memanen. Menarik bahwa setiap anggota kelompok memiliki iuran tahunan sebesar 50 ribu rupiah.  Pertemuan kelompok untuk membahas terkait pemberdayaan dan pengembangan kelompok dilakuan setiap dua bulan sekali.

“Ngendi” Sokal berukuran besar sebagai tempat menyimpan gabah di Lumbung Mbei Mbani. Foto: EW/3/8/2022

Hasil dari penjualan gabah  dimanfaatkan untuk kesejahteraan anggota kelompok dan juga membayar pelbagai iuran. Lumbung Pangan sangat berguna bagi petani ketika memasuki bulan Januari dan Februari saat musim paceklik. Pada bulan ini kami akan bongkar (baca: membagi gabah) lumbung untuk anggota kelompok yang membutuhkan juga masyarakat, tutur Ricardus Roja Ketua Kelompok Tani Mbei Mbani.

Modal anggota kelompok terus berkembang mencapai 5 Juta rupiah hingga tahun 2022. Dalam rencana dan yang terkumpul dari hasil kerja kelompok dijadikan sebagai dana atau modal pinjaman usaha anggota kelompok.

Pada kesempatan yang berbeda Adrianus Sagho, Kelompok Tani Moi Moku juga menggambarkan perihal inisiatif masyarakat untuk membangun Lumbung Pangan. Kelompok Tani ini terdiri 13 orang dan memiliki lumbung pangan permanen yang direhab dari rumah tua milik ketua kelompok. Dalam lumbung pangan ini tersimpan sebanyak 3,5 ton gabah yang siap dibagikan kepada anggota kelompok dan masyarakat ketika musim paceklik.

Adrianus Sagho di dalam Lumbung Pangan Kelompok Tani Moi Moku. Foto: EW/3/8/2022

Kepala Desa Kamubheka, Melkior Mengga mendukung keberadaan Lumbung Pangan di Desa Kamubheka. Pemerintah Desa Kamubheka juga memiliki Lumbung Pangan yang terletak di samping kantor Desa Kamubheka. Masyarakat dapat membeli beras di Lumbung Pangan Desa. Lumbung Pangan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang mana dijadikan sebagai pasokan bahan pangan ketika gagal panen dan musim paceklik.

Lumbung Pangan sebagai cadangan pangan dan juga strategi ketahanan pangan masyarakat. Cadangan pangan ketika terjadi gangguan produksi bahan pangan. Lumbung Pangan menjadi pasokan pangan untuk mempermudah akses pangan masyarakat dan menjaga daya beli masyarakat. Lumbung pangan dapat merupakan hasil inisiasi kelompok dan komunitas. Keberadaan lumbung pangan produktif melibatkan partisipasi masyarakat, akses yang seimbang, kontrol dari pengelola, dan juga terbuka untuk kemanfaatan bagi kelompok rentan.(ed. Edi Woda)

Penulis: Emilia Kumanireng

Lumbung Pangan Kelompok Tani Menjaga Ketahanan Pangan Desa Kamubheka Read More »

Rumah gurita di Arubara kembali dibuka usai 3 bulan ditutup

Ende, Arubara-Tananua Flores | Rumah Gurita yang ditutup selama 3 bulan di Lingkungan arubara kembali di buka oleh lurah Tetandara.  Kali ini Penutupan Rumah Gurita dilakukan oleh kelompok nelayan dan pemerintah kelurahan yang ke dua. 3 Lokasi yang di tutup itu yakni maubhanda, Maungazu dan Ana No’o.

Kegiatan pembukaan Lokasi tangkap ini dilakukan pada Sabtu 13 Agustus 2022 di lingkungan Arubara, kecamatan Ende selatan kabupaten Ende.

Lurah tetandara Anwar Hama diacara Seremonial pembukaan Lokasi penutupan sementara Rumah Gurita tersebut mengatakan bahwa kali ini dari pemerintah kelurahan resmi membuka lokasi tangkap gurita yang di tutup selama 3 bulan dan nelayan boleh masuk di area itu untuk menangkap kembali gurita.

Anwar Lurah Tendara ” hari ini saya manyampaikan secara resmi bahwa silakan nelayan gurita boleh memasuki dan menangkap kembali gurita di lokasi yang telah di buka itu”,katanya

Lanjut Dia ” Nelayan yang tangkap gurita hasilnya bisa di laporkan kepada enumerator untuk mencatatnnya agar kita bisa mengetahui di 3 lokasi tersebut hasilnya ada atau tidak dan seberapa banyak.” ujar Lurah itu

Menurutnya bahwa dengan membuka kembali Lokasi penutupan mudah-mudahan nelayan gurita bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, kemudian bisa berdampak pada peningkatan sumber pendapatan bagi nelayan.

Membuka Lokasi penutupan sementara ini  adalah persetujuan oleh semua pihak  dan stakeholder yang ada di wilayah kelurahan Tetandara lingkungan Arubara.  Buka tutup adalah salah satu model pengelolaan Ruang laut yang berbasis masyarakat. Buka tutup lokasi tangkap gurita juga bagian dari model konservasi untuk meningkatkan produksi gurita dan jumlah individu gurita.

Konservasi laut adalah perlindungan spesies dan ekosistem laut di lautan. Ini melibatkan tidak hanya perlindungan dan pemulihan spesies, populasi dan habitat, tetapi juga mengurangi aktivitas manusia seperti penangkapan berlebih, perusakan habitat, polusi, penangkapan dengan menggunakan alat tangkap terlarang dan hal-hal lain yang mempengaruhi kehidupan dan habitat laut.

Pekerjaan konservasi laut dapat dilakukan dengan menegakkan dan menciptakan undang-undang, seperti Endangered Species Act dan Marine Mammal Protection Act. Hal ini juga dapat dilakukan dengan membangun kawasan lindung laut, mempelajari populasi melalui melakukan penilaian stok dan mengurangi aktivitas manusia dengan tujuan memulihkan populasi.

Bagian penting dari konservasi laut adalah penjangkauan dan pendidikan. Kutipan pendidikan lingkungan yang populer oleh ahli konservasi Baba Dioum menyatakan bahwa “Pada akhirnya kita akan melestarikan hanya apa yang kita cintai, kita hanya akan mencintai apa yang kita pahami, dan kita hanya akan mengerti apa yang kita diajarkan.

Gambaran ini menunjukan hal yang sangat penting dalam Pengelolaan Ruang laut dan ini menjadi baik jika keterlibatan penuh nelayan itu sendiri. Selain menjaga lingkungan juga menjadi sebuah pembelajaran yang baik bagi masyarakat. Tujuannya dari konservasi dengan metode buka tutup area penangkapan akan berdampak pada produksi gurita meningkatkan, ekosistem laut terjaga dan ekonomi nelayan dengan sendirinya meningkatkan.

” Saya berharap dengan metode pengelolaan seperti ini akan berdampak pada pelestarian lingkungan dan peningkatan pendapatan bagi nelayan itu sendiri,” ungkap Jhuan mari dari Tananua Flores.

Lebih jauh Dia menjelaskan bahwa  gurita adalah komoditas yang mahal nilai jualnya dan mempunyai nilai ekspor yang tinggi.

Selain itu, kalau di lihat kampung Arubara saat ini di kenal dengan komoditi gurita, dan seharusnya peluang usaha musti di dorong untuk kemajuan kampung Arubara. Menjadi pertanyaan siapa yang harus memulai saat ini tentulah nelayan itu sendiri.

Jhuan Mari Staf Dokumentasi dari Yayasan Tananua Flores menjelaskan bahwa data gurita dari 5 desa untuk wilayah kabupaten Ende dengan Pendataan yang dilakukan mulai dari November 2019 hingga Juni 2022 gurita yang tercatat 15,919 Ekor dengan total produksi gurita 21 ton lebih.

5 Desa yang mulai pendataan gurita yakni Kelurahan Tetandara Lingkungan arubara dan Maurongga dimulai sejak November 2019 dan Maubasa, maubasa timur dan serandori dimulai sejak September 2021.

Dari data yang di sampaikan bukan angka kecil tetapi angka yang cukup besar jumlah produksi guritanya. Selain itu, angka itu sudah mewakili kalau Arubara mempunyai nilai jual tersendiri untuk membawa kabupaten Ende menjadi salah satu penghasil gurita.

Kabupaten Ende saat ini mempunyai Produk yang memiliki nilai jual ke luar negeri dan sekarang tinggal bagaimana peran pemerintah untuk menjalankan itu secara baik. ( Clarisa)

Rumah gurita di Arubara kembali dibuka usai 3 bulan ditutup Read More »

Menyibak Potensi Pangan “Gaplek” Desa Unggu

Ende-Unggu, Tananua Flores| Waktu bergerak pasti membuka hari baru yang cerah. Matahari bergerak merangkak naik menyinari hamparan Dusun Pemowawi, Desa Unggu-Kecamatan Detukeli, Ende-Flores. Para ibu berbondong-bondong menuju lahan singkong untuk menuai hasil panen. Panenan hari ini melimpah. Singkong yang telah ditanam sembilan bulan yang lalu dipanen. Ceria nampak dalam raut wajah ketika kembali dari ladang. Umbi singkong dikupas dan dibersihkan lalu di potong menjadi beberapa bagian.

Ibu Katarina Vele (51) bertekun memotong singkong. Hari ini ibu 6 anak memanen sebanyak 8 rumpun singkong. Singkong yang telah diiris kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari. Singkong yang telah dikeringkan akan bertahan lama sebagai bahan cadangan pangan 3 bulan mendatang.

Katarina Vele (51) memotong singkong untuk dibuat menjadi Gaplek. Foto: Nining 13/7/2022

Sambil berbagi cerita bersama para ibu,  Nining Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores Desa Unggu bersama para ibu mengolah singkong menjadi Gaplek. Gaplek ini diolah secara sederhana dengan cara mengupas singkong, lalu dicuci bersih dan dipotong menjadi beberapa bagian sebesar 10 cm. Singkong itu kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari selama 1 Minggu.

Nikmatnya Gaplek akan terasa ketika dikukus lalu disantap bersama sambal kelapa dan ikan teri. Selain itu Gaplek akan diolah menjadi tepung sebagai bahan olahan kue untuk dihidangkan di meja makan keluarga. Meskipun demikian gaplek yang disimpan lama dapat rusak oleh hama gudang (Araecerus fasciculatus). Karena itu gaplek sebaiknya disimpan ditempat yang kering dengan suhu yang cukup.

Gaplek merupakan produk olahan singkong yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Umumnya gaplek terdiri dari dua jenis. Ada gaplek putih yang dapat ditepungkan atau dibuat thiwul dan gaplek hitam yang disebut gatot. Gatot yang berwarna hitam adalah bakteri hasil penjemuran pada waktu siang hingga malam hari. Tekstur Gatot lebih kenyal karena perombakan pati menjadi senyawa dan bakteri.

Ibu-ibu Dusun Pemowawi-Unggu menjemur singkong untuk dijadikan Gaplek. Foto: Nining, 13/7/2022

Diversifikasi pengolahan singkong memberikan cita rasa yang lebih disukai masyarakat dan juga akan manambah nilai gizi. Produk olahan dari tepung gaplek antara lain tepung Mocat (Modified Cassava Flour) dan pati seperti kerupuk, rerotian, mie, beras sintetik dan berbagai kue basah dan kering.

Gaplek memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, memiliki serat yang tinggi dan kandungan gula yang rendah. Gaplek memiliki kandungan nutrisi, Per 1 Kg Gaplek terdapat 3000  Kalori, 3,3% protein kasar, 5,3% lemak kasar, 0,17% phospor, 0,57% Kalsium (Tillman et al, 1991).

Hasil panen Singkong Desa Unggu setelah dipotong, siap dijemur dan hasil olahan singkong untuk siap disantap. Foto: Nining 17/7/2022

Potensi Singkong di Indonesia amat menjanjikan. 58% akan dimanfaatkan sebagai bahan pangan, 28% sebagai bahan baku industri, 2% sebagai bahan pakan, dan 8% diekspor dalam bentuk gaplek. Produk yang diekspor adalah Cassava Dried (Chip, Sawut, Gaplek) dan produk antara (tepung singkong dan pati). Produk Cassava Dried dapat diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia, Jepang, China, Korea, dan negara-negara Eropa (Yenny, 2018). (Edi-BW)

 

 

Menyibak Potensi Pangan “Gaplek” Desa Unggu Read More »

Menikmati Pangan Lokal, Merawat Kehidupan; Lokamini Pangan Lokal Desa Rutujeja

Ende, Tananua Flores| Pangan adalah jati diri kita, siapa yang menguasai pangan dan benih dia menguasai kehidupan. Pangan adalah jati diri manusia. Badan Pangan Dunia (FAO/Food and Agriculture Organization) menggarisbawahi bahwa pangan lokal merupakan pangan yang diproduksi, dipasarkan, dan dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifannya.

Dalam kegiatan Lokamini yang terjadi di Desa Rutujeja Rabu, 20/07/2022, Hironimus Pala, Ketua Yayasan Tananua Flores (YTNF) menjelaskan bahwa Pangan Lokal merupakan inti dari kehidupan seorang petani. Ka eo kita tedo, tedo apa eo kita ka. Kita mengonsumsi makanan yang kita usahakan atau yang kita kerjakan.

Pangan Lokal Desa Rutujeja Nggoli (Kacang merah). Foto: EW|20/07/2022

Makanan pokok lokal seperti Are (Padi), Jawa (Jagung), Wete (Jewawut), Lolo (Sorgum), Pega (Serealia), Ndelo (Umbi Ganyo), Ura (Kacang-kacangan), Mbape (Jali) begitu melimpah di daerah Rutujeja. Masyarakat dapat mengonsumsi pangan lokal ini karena memiliki kandungan yang bergizi.

Peserta Lokamini Pangan Lokal ini berjumlah 22 orang masyarakat rutujeja yang meliputi Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Pengurus Kelompok Tani, Guru Sekolah Dasar, Murid Sekolah Dasar, dan Staf Pemerintahan Desa. Dalam kegiatan lokamini ini para peserta aktif menyebutkan dan memberikan penjelasan terkait keberagaman pangan lokal di Rutujeja.

Pangan Lokal Desa Rutujeja Lolo Mera (Sorgum Merah). Foto: EW|20/07/2022

Kesempatan ini hendak mengklarifikasi hasil penelitian tentang keberagaman pangan yang ada di Rutujeja. Dalam presentasinya Ketua YTNF memaparkan hasil temuan mengenai jenis pangan, dan hasil olahan pangan lokal. Selain itu beliau juga membahas tentang pengaruh keberadaan pangan industri bagi kesehatan. Pembicara juga menjelaskan tentang peran Lembaga Adat, Lembaga Agama, Pemerintah Desa dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan konsumsi pangan lokal.

Kegiatan yang berlangsung di kantor Desa Rutujeja ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Desa. Stefanus Benyamin Dadi, sebagai Kaur Perencanaan, mewakili Kepala Desa menyambut baik acara ini. Beliau mengharapkan agar masyarakat tetap menanam, menjaga, serta mengonsumsi makanan lokal ini.  Makanan lokal adalah makanan yang sehat dan bergizi.

Hironimus Pala, Ketua YTNF memaparkan materi Lokamini Pangan Lokal.

Foto: EW|20/07/2022

Pertemuan ini menyepakati perihal menjaga keberagaman pangan lokal yang ada di Desa. Besar harapan bahwa acara lokamini ini menjadi motor penggerak dalam pembuatan Peraturan Desa tantang pangan lokal. Desa Rutujeja dapat terlibat dalam acara festival pangan lokal yang akan diselenggarakan pada waktu yang akan datang.

Desa Rutujeja memiliki potensi untuk memberdayakan pangan pokok lokal. Supu Bugu Kema Mbale. Bekerja dengan keseriusan akan memberikan pertumbuhan dan kesuburan. Apa yang diusahakan dapat menghasilkan kehidupan.Tedo Tembu, Wesa Wela, Peni Nge, Wesi Nuwa. Sehingga dengan demikian setiap kerja dan usaha dapat mencapai kesejahteraan. Mera Tebo Keta, Ndi Lo Ngga. Petuah-petuah sahaja ini menjadi doa dan harapan dalam setiap usaha untuk mencapai ketahanan pangan dan kesejahteraan.

Arnoldus Mage, Staf Lapangan YTNF di Desa Rutujeja mendata keberagaman pangan lokal.

Foto:EW|20/07/2022

Sebagai rencana tindak lanjut masyarakat dapat mengonsumsi pangan lokal sambil menciptakan produk khas untuk dapat dipasarkan baik secara langsung maupun secara online. Pangan Lokal memiliki nilai kearifan dan nilai ekonomis jika terus dirawat dan dijaga.

Desa Rutujeja berada di Kecamatan Lepembusu Kelisoke. Jarak Desa Rutujeja dari Kota Kabupaten Ende sekitar 64 Km, dan jarak dari Kota Kecamatan sekitar 19 Km. Luas Desa Rutujeja 8.05 Km2 dan berada sekitar 1000 MDpl.

 

 

Menikmati Pangan Lokal, Merawat Kehidupan; Lokamini Pangan Lokal Desa Rutujeja Read More »

Translate »