Menggagas  Gerak Pagi  Kelompok Tani Lodolata Group Desa Detumbewa; Optimaliasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan

Shere Sekarang

Pengembangan tanaman  pekarangan dapat dijadikan sebagai sumber pangan dan gizi keluarga. Lahan pekarangan juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan keluarga.  Riset menunjukkan bahwa lahan pekarangan rumah dapat menyumbangkan pendapatan keluarga sekitar 7- 45 %.

Tanaman yang dikembangkan disekitar rumah dikembangkan sesuai dengan potensi pekarangan. Dengan demikian Penggunaan lahan pekarangan sejatinya melihat nilai guna, kebutuhan keluarga dan potensi pasar.

Tanaman yang dikembangkan di pekarangan menjadi sumber oksigen. Lahan yang tersedia dipekarangan menjadi wahana kegiatan cinta lingkungan bagi keluarga. Penataan tanaman di sekitar rumah menjadi bagian dari estetika rumah.

Marselina Gaa (kedua dari kanan, berbaju hijau) bersama Kelompok Tani Lodolata Group melakukan aktivitas gerak pagi. Foto MG 24/1/2023

Menggagas Gerak Pagi, Kelompok Tani Lodolata Group

Salah satu kerja Yayasan Tananua Flores (YTNF) adalah mendampingi masyarakat pedesaan untuk mengembangkan lahan pekarangan. Pendampingan petani di desa dilakukan bersama kelompok-kelompok tani. Kelompok Tani Lodolata Group bersama Staf  Lapangan YTNF Desa Detumbewa, Marselina Gaa bersama para kepala dusun menggagas aktivitas pengembangan lahan pekarangan. Kegiatan ini diberi nama gerak pagi. Gerak Pagi ini menjadi kegiatan kelompok tani selama satu jam dipagi hari.

Staf yang telah berkarya di YTNF sejak  1998 ini melihat hal ini menjadi moment berharga dalam mendampingi petani untuk mengembangkan tanaman di area pekarangan.  Sejak menjadi staf  Tananua Ibu Selly telah bertugas di Koperasi Kebekolo, Desa Taniwoda, Desa Wolondopo, Desa Lise Lowobora, Desa Nua Lise, Desa Tanalangi, Desa Kereselo, Desa Mukusaki, dan Desa Detuwulu.

Gerak pagi ini dilakukan oleh Kelompok Tani Lodolata Group sebanyak 13 orang. Kegiatan gerak pagi ini dilakukan selama 10 hari untuk 10 areal pekarangan  di Dusun Batebo, Kampung Nuabaru, Desa Detumbewa.  Kelompok Tani ini menyepakati iuran sebesar 10 ribu rupiah untuk pengadaan benih sayur.

Kelompok Tani merupakan kumpulan petani/peternak/pekebun yang memiliki kesamaan kondisi lingkungan dari segi sosial, ekonomi dan sumber daya. Kelompok Tani yang terbentuk memiliki kesamaan kepentingan dan akrab dalam mengembangkan usaha anggotanya. Manajemen Kelompok Tani terdiri dari Planning (perencanaan), Organizing (organisasi), Actuating (pelaksanaan) dan Evaluation (Evaluasi).

Kelompok Tani Lodolata Group Desa Detumbewa, Kecamatan Detukeli, Ende mengolah lahan pekarangan. Foto: MG 2/1/2023

Keberadaan Kelompok Tani menjadi forum belajar berorganisasi dan berusaha tani. Terbentuknya kelompok tani menjadi wahana kerja sama antara petani. Selain itu kelompok tani dapat dijadikan sebagai unit produksi usaha tani. Kelompok Tani dapat memberikan umpan balik tentang kinerja suatu teknologi pertanian.

Potensi Lahan Pekarangan

Sebagai sumber pangan hal yang dapat dikembangkan adalah tanaman holtikultura seperti sayur-sayuran, umbi-umbian dan kacang-kacangan. Selain itu sebagai pelengkap dapat dibudidayakan ternak dan ikan. Ternak yang dikembangkan dapat berupa unggas hias, unggas petelur dan unggas daging (ayam,bebek, dan itik). Ikan yang dapat dipelihara seperti ikan hias, dan ikan untuk produksi daging (lele dan mujair).

Potensi pekarangan amat baik untuk dapat dijadikan sebagai lahan untuk menanam tanaman buah, bumbu, dan tanaman obat. Lahan pekarangan menjadi warung, apotek, lumbung, dan bank. Pengembangan lahan pekarangan untuk konservasi dengan memerhatikan keanekaragaman hayati dapat mendukung agroekology dan pertanian yang berkelanjutan.

Meskipun demikian pemanfaatan lahan pekarangan kurang menjadi perhatian keluarga. Hal ini karena kurangnya pengetahuan dan minimnya pelatihan teknis budidaya tanaman pada lingkungan berskala kecil.

Dalam mengembangkan tanaman pekarangan ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan antara lain: pengolahan tanah, penentuan jenis tanaman, proses pemeliharaan tanaman, dan penyiraman secara kontinyu.

Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan mencangkul dan membersihkannya dari tanaman liar. Sedapat mungkin dalam pengolahan tanah menggunakan bahan organik tanpa menggunakan bahan kimia. Selain itu dapat petani dapat pula memanfaatkan media tanam dengan komposisi kompos, tanah dan sekam padi dengan perbandingan 1:1:1.

Ketiga bahan ini kemudian dicampur lalu dimasukan ke dalam pot, polybag, atau limbah plasik (gelas dan botol). Media tanam yang telah disiapkan dibiarkan selama seminggu sebelum ditanami aneka tanaman. Kriteria tanah yang baik adalah memiliki PH yang netral, mendapatkan bahan organik yang cukup dan memiliki ketersediaan hara yang optimal.

Tanaman yang dipilih untuk ditanam di sekitar pekarangan rumah dapat bermanfaat untuk keperluan rumah tangga. Pengembangan tanaman untuk obat dan kesehatan baik untuk kelangsungan hidup keluarga. Tanaman obat khas Indonesia antara lain: sembung, saga, tapak dara, mahkota dewa, brotowali, sambiloto, temu-temuan, mengkudu, mangkokan dan meniran.

Selain itu untuk tanaman yang dimanfaatkan untuk memenuhi keperluan dapur seperti: cabe, tomat, sayuran, bayam, kangkung, mentimun, kacang panjang, umbi-umbian dan terung. Sebagai pelengkap gizi keluarga pekarangan dapat ditumbuhi papaya, pisang, dan jeruk. Demi tujuan estetika dapat ditata aneka tanaman hias yang menarik.

Optimalisasi Lahan Pekarangan

Penentuan tata letak tanaman disesuaikan dengan habitat hidupnya. Pancaran sinar matahari yang cukup akan membantu proses fotosintesis tanaman.  Untuk itu di bagian timur pekarangan dapat ditanami jenis tanaman yang berukuran kecil dan tanaman yang berukuran besar di sebelah barat. Hal ini dilakukan agar tanaman yang berukuran besar tidak menutupi sinar matahari. Tambahan pula populasi tanaman dan jarak antar tanaman akan memengaruhi pemanfaatan air dan unsur hara.

Pemeliharaan tanaman dikerjakan secara teratur dilakukan dengan melakukan penyiangan untuk tujuan kebersihan, keindahan dan mencegah perolehan kompetisi nutrisi tanaman. Sisa tumbuhan liar yang dibersihkan dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau pupuk kompos dengan cara dikuburkan ke dalam tanah.

Lahan Pekarangan Kelompok Tani Lodolata Group diolah secara organik menggunakan daun gamal. Foto MG 23/1/2023

Pada tanaman muda dan baru tumbuh penyiraman dilakukan secara berkelanjutan sesuai dengan kondisi lahan pekarangan. Tambahan pula penting untuk menanam beberapa jenis bunga untuk membantu penyerbukan secara organik oleh lebah. Sebab proses perkembangan tanaman tergantung pada sifat alam.

Tingkat kesuburan dan kelembapan tanah dapat terjaga dengan memanfaatkan kompos dan mulsa nabati seperti dari campuran daun, potongan rumput, kulit telur dan bubuk kopi. Posisi tanaman dengan arah angin yang sesuai untuk pertahanan tanaman. Tanaman yang dikelilingi oleh pagar akan terasa lebih aman dari gangguan angin dan hama. Sementara itu untuk sayuran membutuhkan tanaman pendamping jenis sayuran lainnya untuk mencegah serangga, meminimalisir penyakit dan meningkatkan rasa sayuran.

Pembuatan bedengan akan memperpanjang musim tanam secara signifikan. Namun dalam proses pembuatan hindari penggunaan kayu yang dirawat dengan bahan kimia. Jika area perkebunannya terbatas dapat diterapkan teknik berkebun vertikal untuk meningkatkan sirkulasi dan mencegah jamur. Oleh karena itu pengolahan lahan yang optimal akan menciptakan keberlanjutan pemanfaatan lahan pekarangan. (ed.EWB)

Sumber:

Data Laporan Marselina Gaa Staf  YTNF

Solihin, Eso.,dkk.(2018). Pemanfaatan Pekarangan Rumah Untuk Budidaya Sayuran Sebagai Penyedia Gizi Sehat Keluarga. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Ekawati, Rina, dkk. (2021). Optimalisasi Lahan Pekarangan dengan Budidaya Tanaman Sayuran sebagai salah Satu Alternatif dalam Mencapai Strategi Kemandirian Pangan. PRIMA: Journal of Community Empowering and Services. Universitas Negeri Solo

Cybex.pertanian.go.id

 

Menggagas  Gerak Pagi  Kelompok Tani Lodolata Group Desa Detumbewa; Optimaliasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan Read More »

Perda Penyelenggaraan Pangan Ditetapkan, Tananua Flores Memberikan Apresiasi kepada DPRD dan Pemerintah Kabupaten Ende.

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores |  Rancangan Peraturan Daerah terkait dengan penyelenggaraan Pangan di kabupaten Ende  berhasil ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat  Daerah ( DPRD)kabupaten Ende, pada  sidang paripurna jumat (16/12/2022) sore. 

Rancangan peraturan Daerah penyelenggaraan Pangan tersebut adalah buah hasil kerja sama antara DPRD Ende dan Pemerintah kabupaten Ende dalam melindungi  kearifan budaya lokal dan perlindungan terhadap pangan lokal. 

Penetapan Peraturan tersebut mengundang banyak apresiasi  dari masyarakat petani dan nelayan di desa-desa atas sebuah kerja keras. 

Hironimus Pala, Ketua pengurus Yayasan Tananua Flores juga memberikan apresiasi kepada pemerintah dan DPRD Ende atas penetapan peraturan penyelenggaraan pangan dan peraturan pengelolaan keuangan daerah. 

“ kami secara lembaga dan juga dari desa-desa dampingan Kami, memberikan apresiasi kepada DPRD Ende atas penetapan peraturan tersebut”, ujarnya. 

Hironimus menjelaskan bahwa Perda penyelenggaraan pangan adalah peraturan yang dapat melindungi persoalan pangan yang ada pada petani dan nelayan. 

“ Petani dan nelayan mendorong peraturan yang melindungi pangan ini sudah lama, maka dengan penetapan sebuah peraturan ini, kami sangat berterima kasih dan apresiasi penuh kepada pengambil kebijakan di daerah ini ”, katannya. 

Harapannya bahwa dengan perda ini, pangan petani dan nelayan sudah bisa dilindungi dan dilestarikan, dan kepada pemerintah melalui bupati bisa membuat aturan turunannya*** 

 

Perda Penyelenggaraan Pangan Ditetapkan, Tananua Flores Memberikan Apresiasi kepada DPRD dan Pemerintah Kabupaten Ende. Read More »

Jaga Lingkungan kita, Siapa yang menguasai Benih Pangan Dialah yang menguasai Sumber Penghidupan

Shere Sekarang
Doc. Presentasi Kadis Ketahanan pangan

Ende, Mbobhengga, Tananua Flores | Siapa yang menguasai benih pangan dialah yang menguasai sumber penghidupan. Pangan adalah harga diri, karena pangan merupakan sumber utama manusia hidup. 

Berkaca pada sejarah masa lampau yang bercocok tanam dan menjaga benih adalah nenek moyang/leluhur kita . Mereka menyimpan benihnya di lumbung-lumbung. Sehingga ketika musim tanam, mereka akan ambil benih itu kemudian menanam kembali. 

Itulah kutipan penjelasan Ketua pengurus Yayasan Tananua Flores Hironimus Pala ketika awal membawakan materi  pada kegiatan pertemuan semesteran petani dan nelayan di desa Mbobhenga pada (sabtu 10/12/2022). 

Menurutnya bahwa saat ini petani sudah Enggan menguasai lagi benih, dan bahkan pangan lokal yang menjadi sumber insani bagi petani itu sendiri sudah mulai hilang. Banyak petani sudah dimanjakan dan ketergantungan kepada pangan hasil rekayasa genetika yang datang dari bantuan-bantuan dari pihak ketiga. 

Saat ini petani memahami pangan itu hanya sebatas pada di kebun ladang dan sawah, mungkin saja hanya beberapa jenis. Padahal, yang diwariskan oleh  leluhur dan hasil hutan begitu banyak. 

“ kita petani saat ini ketergantungan pada benih bantuan, dan menghilangkan benih lokal kita sendiri. Perbedaan antara benih bantuan dan benih lokal itu sangat jauh berbeda, Benih lokal jika ditanam hasilnya cukup berbeda dengan benih yang datang dari bantuan.  Benih bantuan jika ditanam ketergantungan lagi pada pupuk dan hasilnya pun harus selesai digunakan, tidak bisa simpan dengan jangka waktu yang lama”, jelas Hiro. 

Lebih jauh ketua Pengurus Tananua itu mengungkapkan bahwa realitas sekarang yang terjadi  adalah petani di desa banyak sekali alih fungsi lahan, dari kebun tanaman pangan di alihkan menjadi kebun komoditi dan lain-lain. Untuk benih pangan dan pengembangan pangan sudah tidak lagi diperhatikan lagi oleh petani-petani yang ada di desa. Hampir sebagian besar, bibit pangan lokal di desa sudah mulai hilang dan petani sudah mulai ketergantungan kepada benih hibrida. 

“ Kita petani di desa- desa sudah mulai ketergantungan pada benih hibrida, tidak lagi pada benih lokal kita sendiri, Puluhan bibit benih pangan lokal tidak lagi dikembangkan, dan wajar jika situasi krisis pangan maka kita sudah mengalami gangguan”, ujarnya.

Menoleh sedikit terkait situasi pangan dunia, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menilai angka krisis pangan cukup mengkhawatirkan. Diperkirakan 179 sampai 181 juta orang di 41 negara akan menghadapi krisis pangan. Namun ada hal yang lebih mengerikan lagi, adanya aspek yang sering luput dari perhatian, yakni krisis pupuk.

“Ini menjadi masukan bagi peserta untuk melihat apa dampak krisis pupuk bagi ketahanan pangan ke depan, di tahun-tahun depan, karena dari data yang kita peroleh, krisis pupuk ini kalau tidak di address, maka tahun depan dampaknya akan dapat memicu krisis beras,” kata Menlu Retno di jakarta pada Selasa, (11/10/2022).

Berbicara mengenai krisis beras, maka akan terkait dengan dua milyar orang yang sebagian tinggal di Asia. Itu bagian pertama bahwa inilah situasi dunia saat presidensi Indonesia dijalankan.

Krisis pangan, energi, keuangan dengan cepat menjadi bagian dari realitas dunia dan Rusia serta Ukraina memiliki posisi yang cukup penting dalam rantai pasok pangan dan energi global. Sehingga, lonjakan harga pangan dan energi tidak dapat dihindari akibat perang antara Rusia dan Ukraina.

Indeks harga pangan naik 20,8 persen dari tahun sebelumnya dan sempat mencapai titik tertinggi pada Maret 2022. Harga minyak mentah menembus angka 12USD per barel. Harga energi meningkat 50 persen dibanding tahun lalu. Di Eropa, harga gas bahkan meningkat 10 kali lipat jika dibandingkan tahun 2022. Sementara pupuk dunia meningkat 2 kali lipat dibandingkan rata-rata sepuluh tahun belakangan ini.

Dari situasi tersebut di atas Pertemuan semesteran Petani dan nelayan yang diselenggarakan di Desa Mbo bhenga menjadi sebuah langkah agar petani dan nelayan harus memulai menjaga benih pangan dan mulai kembali kembangkan pangan lokal. 

Sementara itu, kepala dinas ketahanan pangan kabupaten Ende Mathilda G. Ilmu menuturkan” mulai saat ini harus membangun gerak bersama untuk mengembangkan kembali pangan lokal,di kabupaten Ende sendiri banyak sekali pangan lokal yang kita miliki mulai dari yang kita sendiri budidaya ataupun dari hasil hutan. 

Kepala Dinas Ketahanan pangan menyadari bahwa saat ini Petani jauh sekali untuk mengembangkan pangan lokal, sehingga gerakan untuk memulai kembali perlu dilakukan. 

Kata Mathilda kadis ketahanan pangan, “selain persoalan pangan kita juga diperhadapkan dengan pola konsumsi yang serba instan, makanan yang berasal dari pangan lokal kita sendiri tidak lagi dikonsumsi. Padahal, makanan dari pangan lokal mempunyai nutrisi yang gizi sangat tinggi tidak mengandung zat-zat kimia dan lainnya”. 

Kabupaten Ende saat ini sedang mendorong peraturan daerah terkait dengan penyelenggaraan pangan. Produk hukum ini dibuat agar benih pangan lokal dari petani dilindungi dan juga petani harus mempunyai lumbung benih. 

Kedepannya, “ jika perda ini sudah ditetapkan, maka produk pangan lokal harus dikembangkan kembali oleh petani,” tegasnya. 

 

Oleh : Jhuan Mari. 

Jaga Lingkungan kita, Siapa yang menguasai Benih Pangan Dialah yang menguasai Sumber Penghidupan Read More »

Potensi Perikanan Gurita Yang Ada di Kecamatan Ndori  Menjanjikan untuk Dikembangkan

Shere Sekarang
Dok.Tananua
Enumerator dan Nelayan sedang melakukan Pengukuran Gurita

Ende, Ndori- Tananua Flores | Kegiatan Implementasi Pembukaan Rumah gurita di wilayah pesisir Kecamatan Ndori, Kabupaten Ende kembali dibuka setelah tiga bulan lamanya ditutup oleh masyarakat  dan Nelayan yang ada di wilayah itu, (6 /10).

Pembukaan rumah gurita difasilitasi  oleh Nelayan Gurita dan kelompok pengolah perikanan berbasis masyarakat yang disebut dengan kelompok Locally Manager Marine Area (LMMA) Ndori serta Yayasan Tananua Flores.

Turut terlibat dalam kegiatan tersebut  Direktur Yayasan Tananua Flores,  Camat Ndori, Dinas Cabang Kelautan dan perikanan Propinsi NTT, Pemerintah desa di wilayah kecamatan Ndori, BPD, tokoh adat, tokoh agama dan Nelayan Gurita yang ada di kecamatan Ndori.

Desa yang menjadi sasaran implementasi Kegiatan Pembukaan Penutupan sementara adalah Desa Maubasa, Maubasa timur, Serandori , maubasa Baran dan Desa Mole.

Camat Ndori , Paul Marvel Frederikus melakukan pembukaan rumah gurita di Desa Maubasa Timur.

Ketua Kelompok  LMMA, Burhanudin Jua mengatakan,  implementasi pembukaan rumah gurita merupakan kegiatan lanjutan dan rencana kerja dari LMMA yang sudah didampingi Yayasan Tana Nua Flores selama sejak September mulai Pendataan Gurita hingga saat ini.

Sejumlah kegiatan yang sudah dilakukan bersama dengan LMMA seperti  Menyusun rencana Kerja LMMA, sosialisasi rencana penutupan sementara rumah gurita, feedback data perikanan gurita, kegiatan patroli lokasi penutupan sementara gurita, fasilitasi pembahasan peraturan bersama kepala desa (perkades) bersama lima desa yang ada di pesisir kecamatan Ndori, dan pembukaan lokasi sementara rumah gurita pada hari ini.

“Rencana kedepan yang akan dilaksanakan adalah penguatan organisasi nelayan, kegiatan latihan perencanaan bisnis bagi pengurus kelompok, memfasilitasi legalitas kelompok LMMA ke tingkat provinsi, memfasilitasi pengurus LMMA dengan mitra bisnis dan perencanaan penutupan dilokasi lain,” ujarnya.

Camat Ndori, Paul Marvel Frederikus dalam kegiatan seremonial pembukaan mengungkapkan, potensi perikanan gurita yang ada di Kecamatan Ndori  menjanjikan untuk dikembangkan.  Salah satu kecamatan di Kabupaten Ende yang memiliki populasi gurita paling banyak yaitu di wilayah Kecamatan Ndori.

“Untuk itu, saya sampaikan terima kasih kepada Yayasan Tananua  Flores yang sudah mendampingi kita dalam upaya pengembangan wilayah pesisir di kecamatan Ndori ini,” ujarnya.

Intervensi Program Perikanan dan Kelautan di Kecamatan Ndori

Bernadus Sambut, Direktur Tananua Menjelaskan bahwa  telah melakukan intervensi program perikanan dan kelautan di wilayah Kecamatan Ndori sejak Jani 2021. Penetapan program di empat desa dengan pendekatan kawasan artinya dari ke empat desa ini menjadi desa sasaran pendampingan dan pelaksanaan program perikanan.

Desa yang masuk dalam pendampingan Tananua adalah Desa Maubasa, Maubasa Timur, Sera Ndori dan Desa Maubasa Barat. Penetapan keempat desa ini diawali dengan Asesmen awal yang dilakukan oleh Tananua. Dari proses asesmen tersebut kemudian melakukan penetapan dan  Tananua langsung  menempatkan staf Tananua untuk mendampingi masyarakat Nelayan yang ada di 4 desa tersebut.

Kegiatan yang di luncurkan oleh Yayasan Tananua Flores keempat desa tersebut yakni penguatan kapasitas kelompok nelayan lewat pelatihan, Kegiatan kesehatan, pendataan gurita dan kegiatan buka tutup lokasi penangkapan Gurita.

“Selain itu yang menjadi kegiatan rutinitas setiap hari adalah dengan pendataan gurita dan melakukan umpan balik data kepada masyarakat dan nelayan. Pendataan gurita mulai sejak September 2021 hingga oktober saat ini. Tananua menempatkan enumerator pendata sebanyak 3 orang di wilayah kecamatan Ndori. Untuk Maubasa 1 orang, Maubasa timur dan serandori 2 orang,” jelasnya.

Dijelaskannya, sejak pendampingan Tananua Flores yang di mulai dari bulan September 2021 hingga september 2022 saat ini data yang tercatat secara baik oleh enumerator adalah data hasil tangkap para nelayan  yang dilakukan dengan metode sensus.

Data gurita di wilayah kecamatan Ndori  mulai September 2021-September 2022, individu gurita yang di tangkap berjumlah 6729 ekor dengan jumlah produksi gurita 6.608,52 Kg.

“Dari jumlah keseluruan lokasi tangkap gurita, rata-rata gurita yang didapati oleh nelayan di bawah dari 2 kg. Hal itu dilihat dari persentas antara berat gurita dan jumlah ekor,” jelasnya.

Ia menambahkan, penutupan sementara perikanan gurita selama tiga bulan yang dilakukan memiliki tujuan edukatif yakni menjadi pembelajaran bagi masyarakat mengenai tata cara pengelolaan perikanan berbasis masyarakat serta bagaimana memberikan waktu dan tempat bagi gurita untuk tumbuh lebih besar dan untuk bertelur/berkembang biak karena gurita (Octopus cyanea) mempunyai masa hidup yang singkat yakni sekitar 12 bulan.

Dengan siklus hidup gurita yang singkat ini, penutupan sementara menjadi solusi pengelolaan perikanan yang cocok untuk diimplementasikan. Dengan harapan dan targetnya adalah ketika pembukaan penutupan sementara, gurita sudah tumbuh dengan besar dan mempunyai nilai lebih.

Proses penutupan area ini dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama kelompok LMMA, para nelayan yang didukung oleh stakeholder seperti, Kantor Cabang Dinas Perikanan dan Kelautan Wilayah Ende, Nagekeo dan Ngada, Ndori, 4 desa yang ada di kecamatan ndori, kelompok LMMA dan Nelayan Pencari Gurita.

Model pengelolaan perikanan yang dilakukan di kedua desa dampingan ini adalah model partisipatif artinya  realisasinya konservasi wilayah tangkapan gurita akan berjalan apabila masyarakat sendiri terlibat dalam proses pengelolaan serta ikut mengambil keputusan untuk setiap pilihan yang direncanakan.

“Terkait dengan implementasi pembukaan penutupan sementara rumah gurita, kelompok LMMA telah melakukan persiapan aturan hukum untuk mengikat keberlanjutan dari kegiatan buka tutup,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan, setelah kegiatan implementasi dilaksanakan acara dilanjutkan dengan upacara adat pembukaan lokasi rumah gurita oleh tetua adat yang ada di desa tersebut  Setelah itu, nelayan mencari gurita di rumah gurita tersebut.***JF. Tananua

Potensi Perikanan Gurita Yang Ada di Kecamatan Ndori  Menjanjikan untuk Dikembangkan Read More »

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kader Kesehatan di Desa Maubasa, Moment Belajar Menuju Masyarakat yang Sehat dan Cerdas

Shere Sekarang

Ende-Maubasa, Tananua Flores| Yayasan Tananua Flores (YTNF) sukses menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kader untuk pengolahan air bersih layak minum serta penyuluhan gizi dan sanitasi. Pelatihan Kader ini berlangsung pada hari Kamis, 29 September 2022 di Aula Kantor Desa Maubasa. Kegiatan ini dihadiri oleh peserta yang berjumlah 30 orang yang terdiri dari 23 orang peserta perempuan dan 7 orang peserta laki-laki.

Peserta Pelatihan Peningkatan  Kapasitas Kader Kesehatan bersama Agnes Ngura (baris depan berbaju merah), Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores Desa Maubasa. Foto: AN 29/09/2022

Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama YTNF, Pemerintah Desa Maubasa dan Puskesmas Maubasa. Kader Kesehatan yang terlibat berasal dari Desa Maubasa, Desa Maubasa Timur dan Desa Maubasa Barat. Selain itu pihak Puskesmas Maubasa melibatkan tenaga gizi dan tenaga kesehatan masyarakat untuk melatih para kader tentang perilaku hidup sehat.

Kepala Puskesmas Maubasa, Amir H. Wora memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan pelatihan ini. Dalam sambutannya beliau mengungkapkan bahwa kegiatan pelatihan ini menjadi kesempatan yang baik bagi kader kesehatan yang lama untuk menyegarkan kembali pengetahuan yang pernah diperoleh, dan bagi kader yang baru, kegiatan ini adalah waktu yang tepat untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan serta keterampilan di bidang kesehatan.

Kepala Puskesmas Maubasa Amir H. Wora memberikan penjelasan tentang kesehatan kepada para Kader Kesehatan Desa. Foto: HS 29/09/2022

Senada dengan Kepala Puskesmas Maubasa, Azhar Banda Kepala Desa Maubasa mengungkapkan tentang pentingnya pelatihan para kader untuk menambah pengetahuan tentang kesehatan. Acara ini adalah moment penting untuk mendukung kegiatan pengembangan kesehatan masyarakat di Desa. Desa mendukung pengembangan kesehatan masyarakat dengan menyalurkan dana desa sebesar 10 juta rupiah.

Tambahan pula pelatihan Kader merupakan proses pemberdayaan dan peningkatan pengetahuan dan kemampuan Kader dalam membangun Desa khususnya di bidang kesehatan, tutur Heribertus Se, Manager Program YTNF. Kader kesehatan yang ada di Desa memiliki peran penting dalam menjaga generasi yang sehat dan cerdas.

Pelatihan kader ini berangkat dari kurangnya pengetahuan kader tentang kesehatan. Selain itu kegiatan ini merupakan jawaban atas masalah kesehatan yang terjadi di Desa Maubasa. Di lain kesempatan Agnes Ngura, Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores menjelaskan bahwa 90% masyarakat di Desa Maubasa mengkonsumsi air yang tidak diolah. Selain itu di Desa Maubasa juga masih terdapat kasus stunting sebanyak 8 orang. Anak yang pendek belum tentu stunting, anak yang stunting pasti pendek.

Menurut WHO (World Health Organization) Organisasi Kesehatan Dunia, air yang aman digunakan adalah air yang tidak berwarna, tidak memiliki rasa, tidak memiliki bau, tidak terasa lengket setelah digunakan, memiliki pH Netral, tidak mengandung bakteri, dan tidak mengandung debu, pasir, tanah, atau sedimen lainnya.

Para Kader Kesehatan dari Desa Maubasa, Desa Maubasa Timur, Desa Maubasa Barat mendengarkan materi pelatihan tentang kesehatan. Foto: HS 29/09/2022

Pendamping Lapangan YTNF  Desa Maubasa juga menerangkan bahwa masalah kesehatan yang sering terjadi antara lain angka kelahiran yang tinggi, asam urat, kolesterol, serta pola hidup yang tidak sehat. Angka kelahiran yang tinggi disebabkan oleh kurang pengetahuan pasangan keluarga tentang metode kontrasepsi dan pernikahan di usia dini. Sementara itu asam urat dan kolesterol berkaitan erat dengan pola konsumsi dan pola hidup masyarakat.

Dalam Kegiatan ini para Kader Kesehatan dilatih melakukan praktik simulasi  Metode 5 Meja. Praktik simulasi metode 5 meja ini terdiri dari pendaftaran, penimbangan, pengisian KMS (Kartu Menuju Sehat), penyuluhan, dan pelayanan kesehatan oleh tim medis.

Kegiatan pelatihan ini melahirkan beberapa rekomendasi yakni; para kader bersedia untuk melakukan pelatihan pengisian KMS, pelatihan pengolahan pangan lokal bergizi, pelatihan seni penyuluhan, pengembangan pos obat dan dapur hidup bagi kelompok perempuan, dan pengembangan usaha pekarangan.

Pelatihan ini juga menyepakati kegiatan kunjungan oleh kader KPM (Kader Pembangunan Masyarakat), Kader KB (Keluarga Berencana), Pemerintah Desa, staf Puskesmas Maubasa, dan YTNF untuk melakukan sosialisasi bagi PUS (Pasangan Usia Subur) dan WUS (Wanita Usia Subur) di Desa Maubasa.

Tenaga Kesehatan Puskesmas Maubasa melatih Para Kader Kesehatan untuk praktek simulasi 5 Meja.

Foto:AN 29/09/2022

Desa Maubasa berada di wilayah pesisir selatan Kecamatan Ndori, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Desa Maubasa berada pada ketinggian 20 MDpl, dengan luas wilayah 0.99 Km2. Jarak dari Kota kabupaten Ende sejauh 90 Km. Desa Maubasa merupakan Desa yang sedang berkembang. Menurut Data BPS Tahun 2019 jumlah penduduk Desa maubasa sebanyak 906 orang, dengan laju pertumbuhan pertahun -54,3%.

Untuk menuju ke Maubasa pengendara dapat melalui jalan jalur Ende-Maumere, sesampainya Desa Lianunu ( 81 Km dari Kota Ende) pengendara akan menjumpai pertigaan lalu bergerak ke arah selatan sejauh 9 Km. Desa Maubasa merupakan Desa dampingan Yayasan Tananua Flores sejak 19 Juni 2021. (edi woda)

 

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kader Kesehatan di Desa Maubasa, Moment Belajar Menuju Masyarakat yang Sehat dan Cerdas Read More »