Tananua Flores Gelar Festival Pangan Lokal “Tedo Tembu Wesa Wela, Gaga Bo.O Kewi Ae”

Shere Sekarang

Detuwulu, Tananua Flores.|Dalam rangka memperingati hari raya pangan sedunia Yayasan Tananua Flores bersama dengan masyarakat desa dampingan pada program livelihood Menggelar festival pangan Lokal yang berlangsung selama dua hari.

Kegiatan Festival itu  dilaksanakan di Detuwulu, Kecamatan Maurole Pada Tanggal 15 – 16 Oktober 2023.

Tananua dan Desa dampingan Gelar Festival Pangan Lokal ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kesadaran dan apresiasi terhadap keberkelanjutan makanan lokal serta manfaat dari pangan lokal untuk Kesehatan Manusia.

Festival pangan lokal ini mengusung tema Tedo Tembu Wesa Wela, Gaga Bo.o Kewi Ae.  Selain itu ada beberapa acara dalam memeriahkan Festival antara lain seperti Talk Show, seminar pangan lokal dan PCH, dan lomba masak makanan pangan lokal yang diikuti oleh warga desa setempat. Dengan tujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya melestarikan kembali keragaman pangan lokal agar tidak punah digilas modernisasi secara global.

Kegiatan Festival tersebut juga diawali dengan misa bersama yang dipimpin oleh Pater Charles Beraf, SVD.

Pater Charles, dalam khotbah mengatakan bahwa dalam hal kegiatan seperti ini Dirinya terinspirasi dari bacaan injil Perjamuan kawin di Kana.

Katanya, apakah umat sekalian mampu menyediakan anggur terbaik hingga akhir pesta?, Maksudnya ialah bahwa segala yang terbaik dari usaha masyarakat terutama berkaitan dengan ketersediaan pangan lokal tetap tersedia hingga kapanpun, sampai menjadi masyarakat yang tidak memiliki kekurangan sedikitpun terutama berhubungan dengan ketersediaan pangan.

Usai misa bersama dilanjutkan dengan Kegiatan Talk Show untuk mendiskusikan berbagai persoalan masyarakat desa dalam mengembang dan pempertahankan pangan lokal. Acara Talk Show itu dipandu oleh Heribertus Se Manajer Program Yayasan Tananua Flores.

Hery Se, mengawali acara tersebut mengungkapkan bahwa Talk show ini adalah salah satu highlight dari festival  dengan menghadirkan narasumber-narasumber kompeten mewakili berbagai pihak (Tiga Batu Tungku) seperti agama, pemerintah dan tokoh adat.

Manager itu menjelaskan, Talk show ini menjadi platform bagi toko-toko atau narasumber lokal untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar keberadaan pangan lokal di tengah masyarakat  kondisi pangan lokal yang kian menghilang kemudian harus dibudidayakan serta didorong untu dilestarikan kembali.

Menyambung dari Penjelasan Manager Program kemudian dipertegas kembali oleh pater Charles Beraf dalam sesi Talkshow dengan mengatakan bahwa “pangan lokal itu waka (gengsi) kita”.

Menurutnya ketika masyarakat merawat, menjaga dan menggunakan pangan lokal sebagai sesuatu yang menjadi identitasnya, secara tidak langsung masyarakat juga sedang  menunjukan dan menjaga wakanya sendiri.

Pater carles yang juga Pembina Tananua itu menegaskan” kita  menggunakan bahan olahan dari luar merupakan salah satu tindakan merusak harga diri kita sendiri, kita menjunjung tinggi nilai dan kebesaran yang bukan bagian dari kita, kita hanya akan merasa berharga ketika kita menggunakan apa yang kita miliki bukan meminjam apa yang orang lain miliki dan mengklaim sebagai milik kita”, tegasnya

Selain itu Toko adat(mosalaki) Detuwulu Petrus Bata,  menjelaskan bahwa dirinya lebih melihat pangan lokal sebagai sumber utama pemberian persembahan kepada leluhur dan Tanawatu. Dalam Refleksinya bahwa saat ini pengembangan pangan lokal sudah mulai pergeseran dengan tanaman komoditi ditengah arus masifnya kebutuhan industri. Sehingga dampaknya adalah ana kalo fai walu (masyarakatnya) kian jauh dari pangan lokal.

Pertama,  mereka tidak memiliki lahan cukup luas dan banyak untuk membudayakan pangan lokal karena lahan-lahan yang sudah ada telah ditanami dengan tanaman umur panjang (komoditi).

Kedua, ada beberapa jenis pangan lokal yang tidak cocok untuk ditanami di wilayah Detuwulu. Ketiga banyaknya anak-anak yang sudah sekolah lebih memilih kerja kantoran ketimbang harus terjun ke kebun dan mengolah hasil kebun di kampung sendiri.

Dengan Alasan-alasan tersebut sebagai Tokoh adat merasa dilematis antara membiarkan ana kalo fai walu berjalan sesuai dengan apa yang mereka kehendaki dan itu berarti melenyapkan nila-nilai budaya yang asli seperti are wati manu eko dari hasil usaha dan keringat sendiri atau memaksa ana kali fai walu kembali membudidayakan keragaman pangan lokal sebagai kekayaan dari masyarakat adat dalam melestarikan nilai luhur budayanya.

Disisi yang lain kata Mosalaki itu saat ini mereka tidak memiliki lahan yang cukup untuk maksud tersebut, tetapi sebagai mosalaki kemudian merasa ditantang dan memutuskan satu kebun pribadi yang telah ditanam dengan tanaman komoditi akan digantikan dengan menanam dan membudidayakan pangan lokal yang sesuai dengan jenis tanah dan tuntutan seremonial adat.

Tokoh adat juga menyinggung terkait dengan peran dari pemerintah tentang pentingnya kebijakan dan langkah-langkah dalam mendukung ketahanan pangan lokal. Pemerintah di tuntun untuk sesekali memberikan kebiasaan, pengalaman dan pengetahuan mereka tentang pangan lokal.  Pemerintah juga harus mempunyai kebijakan khusus terkait dengan pangan lokal. Tutupnya.

Oleh : Mikel, Staf Tananua.

Tananua Flores Gelar Festival Pangan Lokal “Tedo Tembu Wesa Wela, Gaga Bo.O Kewi Ae” Read More »

Desa Rutu Jeja dan Pangan Lokal

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores | Desa Rutujeja adalah salah satu desa dikecamatan Lepembusu kelisoke kabupaten Ende. Desa ini  sangat Jauh ± 73 KM dari kota kabupaten Ende dan keberadaannya berada di atas ketinggian gunung lepembusu serta berbatasan dengan Kecamatan Tanawawo kabupaten Sikka. Untuk bisa sampai ke desa ini menempuh perjalanan kurang lebih dua setengah jam. Desa Rutujeja juga memiliki pesona alam yang sangat indah yang juga berbeda dengan wilayah desa lain. Mata pencarian Utama masyarakat di desa Rutujeja adalah pangan local dan komoditi. Bagi masyarakat Rutujeja pangan lokal adalah sember makan  utama yang dikembangkan sebagai pemenuhan kebutuhan kehidupan ekonomi keluarga.

Selain itu, salah satu desa yang dikenal sampai dengan saat ini dalam membudidayakan pangan lokal yaitu Desa Rutujeja. Semua jenis pangan yang merupakan warisan leluhur mereka masih banyak tersedia  sampai saat ini misalnya pega, Wete (jewawut), lolo (shorgum), mbape (jali), padi, jagung, kacang nasi, kacang turi, bue fesa, bue duke, rose (keladi), pisang, ubi kayu, ubi tatas, dan masih banyak lagi jenis pangan lokal baik yang dibudidayan maupun yang tumbuh liar dihutan.

Menurut bapak Robertus Bati salah satu tokoh masyarakat yang terus mempertahankan dan mengambangkan pangan lokal mengatakan bahwa Pangan adalah sumber kehidupan, Pangan juga berkaitan erat dengan hukum adat dan kehidupan sosial masyarakat di desa Rutujeja.

Dijelaskannya bahwa pangan di Desa Rutujeja sebagai pengikat hubungan masyarakat dengan Alam yang di bukatikan dengan setiap tahun diselenggarakan Seremonial adat oleh mosalaki atau pemangku adat di desa tersebut.

Dia juga mengutarakan bahwa Pangan di desanya tidak akan hilang sebab pangan di Rutujeja menjadi sebuah keharusan untuk terus di budidayakan.

“ Mengapa saya katakan tidak akan hilang karena setiap tahun kami masih melaksanakan ritual adat dan harus menggunakan bahan pangan yang diambil dari kebun penggarap atau ana kalo fai walu dan tidak boleh digantikan dengan pangan yang dibeli dari pasar atau toko walau sekalipun harganya lebih mahal”, Ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, kepala desa Rutujeja Petrus Bata mengungkapkan bahwa pola konsumsi masyarakat didesanya bervariasi.

“ Kami disini makanan yang kami konsumsi tidak hanya semata mata beras atau nasi, tetapi pola konsumsi kami bervariasi, karena menu yang disajikan itu banyak seperti pisang, ubi, rose, jagung dan sayuran yang masih sangat segar dari kebun kami”, ungkap kades.

Mengapa pangan lokal?

Pangan lokal merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat indonesia saat ini dengan pengembangannya harus berlanjut,

Pertama, keragaman pangan lokal adalah gerbang bagi pola makan yang beragam. Dengan mengonsumsi beragam makanan, masyarakat dapat memperoleh semua nutrisi yang mereka butuhkan dan mengurangi risiko stunting pada anak.

Kedua, pangan lokal juga menjadi sumber pangan nabati dan hewani yang sesuai dengan kondisi setempat cenderung lebih tahan terhadap guncangan iklim, seperti cuaca ekstrem atau banjir.

Ketiga, konsumsi makanan lokal dapat mengurangi emisi karbon dari pengemasan dan distribusi. Bahan pangan yang mudah rusak, seperti ikan dan sayuran, ataupun makanan olahan, menyumbang 10% dari rantai emisi di sektor pangan.

Keempat, promosi konsumsi pangan lokal berpotensi meningkatkan kesadaran lingkungan dan keadilan sosial dengan mendorong interaksi antara masyarakat desa yang satu dengan desa yang lain. Upaya untuk melestarikan keanekaragaman hayati dalam hal ini pangan lokal juga dapat dikaitkan dengan manfaat gizi dari makanan yang kita konsumsi.

Kondisi Saat ini

Kondisi dan perubahan yang terjadi pada generasi mileneal kita saat ini, Pada umumnya masyarakat kita,masih sangat banyak mengkonsumsi makanan yang siap saji yang berasal dari pabrik-pabrik seperti yang tersedia dibanyak tempat misalnya kios, toko, pasar dan juga mini market atau alfa mart.

Bukan hanya itu saja bahkan makanan-makanan yang siap saji itupun bukan hanya berada di kota saja melainnya sudah sampai ke pelosok desa dan se antero jagat Raya ini, bahkan pada daerah yang bertopografi parah pun sudah terkontaminasi dengan makanan disebutkan di atas padahal, daerah itu memiliki stok pangan local tersedia dalam jumlah banyak.

Saat ini beberapa bahan makanan yang tersedia dalam kemasan itu juga masih menjadi perdebatan bagi beberapa kalangan yang merupakan sumber produksi bahan olahan makanan tersebut. Makanan dan minuman yang tersedia yang siap saji itu misalnya: Sarimi, minuman yang mengandung gula tinggi, cemilan dan beberapa jenis makanan lainnya.

Perubahan-perubahan ini juga membuat  generasi muda atau generasi masa kini enggan untuk masuk kekebun untuk memproduksi sendiri makanan yang merupakan warisan leluhur mereka, dimana makanan tersebut yang tidak memiliki dampak apapun bagi kesehatan tubuh manusia dan lingkungan.

Fakta menunjukan bahwa konsumsi makanan olahan yang diawetkan berdampak buruk terhadap kesehatan dan juga meningkatkan resiko terjadinya banyak penyakit yang bermunculan saat ini jika tidak sesuai dengan aturan konsumsinya atau berlebihan.  Jika mengkonsumsi makanan siap saji tidak terukur maka beresiko terhadap kesehatan misalnya pada ibu hamil dapat menyebabkan Kekurangan Energi Kronis (KEK), pada bayi/balita bisa menyebabkan Stunting, Gizi kurang dan bahkan gizi buruk, obesitas dan apabila semakin banyak orang tersebut mengkonsumsi pangan awetan ini bisa beresiko kematian.

Hanya orang malas yang akan terjadi kelaparan, padahal alam sangat bersahabat dengan tanam apa saja pasti akan berhasil.

Oleh : Arnold RM (PL RJ)

 

Desa Rutu Jeja dan Pangan Lokal Read More »

Bentuk LPHAM, Tananua sebut sebagai Wadah Monitoring dan Evaluasi Bersama

Shere Sekarang

Ende Detubela, Tananua Flores |Gelar lokakarya bersama antara Pemerintah Desa dan Yayasan Tananua Flores dengan tujuan membentuk Lembaga Pengelolah Hak Alam dan Hak Warga di Desa Detubela kecamatan Wewaria kabupaten Ende, Tananua Sebut sebagai wadah Monitoring dan Evaluasi bersama masyarakat terhadap lembaga yang ada di desa.

Hal itu disampaikan Bernadus Sambut  Direktur Yayasan Tananua Flores dihadapan masyarakat yang berjumlah 53 orang dengan semua tokoh kunci  dari semua lembaga yang ada di Desa Detubela dalam kegiatan Lokakarya yang digelar dikantor desa Detubela pada (14/9).

Direktur Bernadus mengatakan “Tujuan Pembentukan LPHAM ini sebagai Payung semua lembaga yang ada di desa Detubela dan sebagai wadah monitoring dan evaluasi bersama masyarakat terhadap lembaga yang ada di desa”.

“Saya berharap Lembaga ini bisa dibentuk dan berjalan dengan berperan bersama desa untuk membangun dan menjaga keutuhan desa terkhusus dengan melihat hak alam dan hak masyarakat,”harapannya.

Baca Juga : https://www.tananua.org/tanam-apa-yang-kita-makan-dan-makan-apa-yang-kita-tanam/06/

Sementara itu Camat weawari yang diwakili oleh kepala seksi pemberdayaa kecamatan memberikan apresiasi kepada Yayasan Tananua yang sudah berkarya untuk membantu pemerintah dalam menyelesaikan persoalan di desa terkhususnya berkaitan dengan pengelolaan Sumber daya Alam yang berdampak kepada kelestarian.

Menurutnya Tananua Flores  adalah salah satu LSM yang masih bertahan sampai saat ini dan sungguh-sungguh bekerja dengan masyarakat membantu desa dengan pendampingan serta kegiatan dan latihan bagi masyarakat desa.

Selain itu Kepala Desa Detubela  Eustakius Kota dalam sambutannya menegaskan bahwa “ kegiatan ini berkelanjutan dengan merujuk pada kegiatan kegiatan yang sudah berjalan terdahulu, maka masyarakat dan semua tokoh penting di desa agar bisa berkerja sama dan terlibat bersama dalam setiap kegiatan yang dilakukan desa maupun Tananua Flores. Mari kita berkerja sama dan berpartisipasi dalam membangun desa kita,” tegasnya.

Dalam Lokakarya yang digelar sampai pada titik puncak terbentuk sebuah lembaga dan struktur kelembagaan LPHAM dan masyarakat mempercayahkan salah satu warga untuk menempati struktur kelembagaan tersebut.

Sebagai sapaan Awal Dominikus Ngera Ketua LPHAM terpilih menyampaikan apresiasi kepada peserta kegiatan dan Tananua Flores yang sudah memfasilitasi pembentukan LPHAM dan pengurus yang sudah dipilih

“saya secara pribadi mengharapkan dukungan kerja sama dari semua komponen dalam struktur yang sudah dipilih dan juga Yayasan Tananua Flores untuk selalu mendampingi dan memberikan latihan dan kegiatan bagi lembaga ini dan masyarakat desa Detubela,” Ujarnya.

Desa Detubela sebagai desa yang sangat baik merespons program ini dan mau bekerja sama dengan berencana untuk memasukan LPHAM dan beberapa kegiatan seperti Perdes Perlindungan Mata Air, Pertanian Organik, Pangan Lokal dan Penguatan kelompok. Selain itu Program ini dari diskusi dan yang dibangun bahwa akan dimasukan dalam Perdes kewenangan desa tahun 2024.

 

Heri Se

Bentuk LPHAM, Tananua sebut sebagai Wadah Monitoring dan Evaluasi Bersama Read More »

Kado HUT RI ke 78 : Tananua Flores Gelar Pemerikasaan Kesehatan Dasar secara Gratis untuk Masyarakat Ndori

Shere Sekarang

Ende Ndori, Tananua Flores | HUT RI ke 78, Yayasan Tananua Flores memberikan kado terbaik kepada masyarakat Ndori dengan menggelar pemerikasaan kesehatan dasar secara gratis. Hal itu disampaikan oleh direktur Yayasan tananua bernadus Sambut pada( 22/8)  ketika dimintai keterangan terkait dengan kegiatan tersebut .

Menurutnya, Tananua dalam kerja pendampingannya menginginkan masyarakat itu sehat, karena tanggung jawab sosial, masyarakat sehat itu adalah penting dan menjadi tugas bersama.

Katanya, “ Kami dari Tananua Flores ingin memberikan yang terbaik bagi masyarakat ndori dengan kegiatan pemeriksaan kesehatan dasar, yang artinya dengan pemeriksaan ini kita bersama-sama mulai mendeteksi dini terkait penyakit yang dialami masyarakat itu sendiri”,ujarnya.

Direktur Tananua itu menjelaskan bahwa Setiap orang menginginkan hidup yang sehat, diperhatikan dan dilayani secara biak oleh negara dan siapa saja. Jika kesehatan merupakan tanggung jawab setiap pribadi akan tetapi demi kesejahteraan semua orang maka juga menjadi kewajiban untuk turut ambil bagian dalam menjamin kesehatan masyarakat itu sendiri.

Lanjut Dia, Melihat kekurangan ini Tananua sebagai lembaga Pendamping mencoba memberi warna lain dengan berusaha memfasilitasi pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat terlebih khusus di desa dampingan Tananua.

Pimpinan Tananua itu mengutarakan bahwa Tananua secara lembaga melihat jangkau dan akses masyarakat terhadap pos-pos kesehatan susah dan tidak terjangkau maka dengan melihat kondisi ini Tananua membangun kerja sama dengan tenaga kesehatan untuk terjun langsung di tengah-tengah masyarakat agar bisa mendapatkan keluhan secara langsung dari masyarakat itu sendiri.

Bernadus berharap agar masyarakat atau nelayan bisa menyadari dan mengetahui terkait penyakit yang dialimi serta mendapatkan penanganan lebih lanjut. Tidak hanya itu, tetapi masyarakat nelayan bisa terbangun kesadarannya untuk secara inisiatif jika mengalami gengguan kesehatan dan bisa memeriksa kesehatannya di pusat kesehatan terdekat.

Selain itu camat Ndori Paul Marsel Frederikus, dalam sapaannya memberikan apresiasi kepada Tananua yang telah berjuang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat ndori.

Paul juga mengucapkan terimah kasih kepada masyarakat ndori yang sudah turut mengambil bagian dalam  pemeriksaan kesehatan tersebut.

“hari ini luar biasa Tananua menghadirkan Dokter di wilayah kami, terimah kasih banyak kepada Tananua yang telah berjuang untuk masyarakat kami di ndori”

Pimpinanan wilayah kecamatan Ndori itu menegaskan, “Kedepan jika masih ada kegiatan seperti ini, masyarakat harus datang lebih banyak karena ini menjadi penting untuk menjaga kesehatan kita, pencegahan dini itu lebih baik dari pada mengobati” Tegas Camat

Dari pantauan Media Tananua Flores, Pemeriksaan kesehatan itu masih banyak sebagian besar  masyarakat belum terlibat secara penuh, ada sebagian masyarakat nelayan yang belum banyak partisipasi.

Oleh karena itu, Camat Frederikus berharap agar kegiatan pemerikasa kesehatan dasar seperti ini harus terus berlanjut sehingga seluruh masyarakat Ndori bisa mendapatkan pelayanan. Hari ini mungkin masih belum banyak yang mendapatkan informasi, sehingga kedepannya mungkin sudah dengan sendirinya.

Kegiatan pemerikasaan kesehatan dasar itu Tananua Flores mendatangkan Dokter dari puskesmas Wolowaru, dan juga bekerja sama dengan puskemas Ndori. Dari infomasi yang di peroleh sampai saat ini di puskesmas ndori belum ada Dokter yang menempati dan bertugas di puskemas itu, sehingga banyak masyarakat yang ketika sakit enggan berkunjung ke puskemas itu.

Oleh : Mikael

Kado HUT RI ke 78 : Tananua Flores Gelar Pemerikasaan Kesehatan Dasar secara Gratis untuk Masyarakat Ndori Read More »

Tanam Apa yang Kita Makan dan Makan Apa yang Kita Tanam 

Shere Sekarang

Ende, Mautenda Barat | “Tanam apa yang Kita Makan dan Makan Apa yang Kita Tanam” Itulah salah satu materi pembahasan dalam rapat pertemuan semesteran Petani dan Nelayan yang diselenggarakan di Desa Mautenda Barat Kecamatan Wewaria Kabupaten Ende pada (3/7/2023) lalu. Sebuah Judul yang dipilih oleh Narasumber itu tidak terlepas dari perjalanan panjang kerja-kerja pemberdayaan masyarakat kurang lebih 34 tahun. Dari kerja pendampingan dan pemberdayaan bersama petani kemudian menemukan sebuah pandangan yang perlu diperhatikan dan juga menjadi sebuah refleksi untuk kehidupan petani selanjutnya.  

Hironimus Pala dalam pemaparan materi terkait “Pentingkah pangan lokal bagi kehidupan kita” itu  Menjelaskan saat ini situasi pangan lokal sudah mulai perlahan menghilang. Petani pangan sudah mulai beralih profesi menjadi petani perkebunan. 

Ketua Pengurus itu mengatakan sebenarnya kalau dijaga secara baik sumber pangan lokal itu begitu banyak dan petani tidak mengalami kekurangan.Sumber pangan itu ada di hutan, di sungai, diladang, dikebun, dilaut dan di pasar. 

Menurutnya dari hasil penelitian di setiap desa dampingan Tananua dan diluar desa dampingan Tananua berjumlah 198 jenis pangan yang di budidaya oleh petani. Sementara yang tidak dibudidaya dan liar di hutan dan sungai  kurang lebih berjumlah 78 jenis, total sebanyak 276 jenis sumber pangan  dan  itu tersebar di semua desa yang ada di kabupaten Ende, baik yang di budidaya maupun yang liar. 

Lebih Jauh katanya” Kita petani dan nelayan sebenarnya tidak kekurangan, dari sumber itu saja kalau dijaga dan dikelola secara baik tentu petani dan nelayan hidup baik dan kesehatan terjamin lahir dan batin”.

Hironimus juga merefleksikan kilas balik perbandingan keadaan pangan 40 tahun lalu dengan kondisi kemajuan saat ini, memang mengalami perubahan dan ada yang sudah mulai hilang. 

Sumber pangan lokal di 40 tahun yang lalu sebagai kebutuhan dasar kehidupan petani yang saling berhubungan antara yang satu dengan lainnya. Pangan lokal dalam sejarah panjang kehidupan masyarakat ende dan lio menjadi sebuah dasar hubungan sosial, Adat istiadat,dan pemenuhan hak Alam. Dengan keberadaan pangan yang dijaga secara baik, maka masyarakat pada waktu itu mempunyai kedaulatan atas pangan. Sebut saja sumber pangan pada waktu itu  menjadi alat komunikasi Sosial, sumber obat-obatan dan Sumber pemenuhan gizi bagi anak dan ibu menyusui. Masih banyak lagi manfaat pangan lokal yang belum digali dan diteliti secara baik. 

Sekarang ini sudah tidak ada lagi kedaulatan atas Pangan, sumber-sumber pangan lokal sudah mulai hilang dan ketergantungan kepada pasar industri cukup tinggi, sebab semuanya ditentukan oleh dunia pasar yang notabenenya mengambil nilai lebih dari hasil kerja petani itu sendiri. 

“ kita harus kembali menjaga benih pangan lokal kita, dan kembali mengembangkan agar kedaulatan atas benih dan pangan lokal kita bisa kembali”, ucap Nimus. 

Tidak hanya itu, Pengurus Tananua juga menjelaskan bahwa saat ini pergeseran juga masif dan kehidupan petani sudah ketergantungan kepada tanaman kebutuhan industri. Petani saat ini tanam di lahan untuk pangan sudah digantikan dengan tanaman industri. Lahan untuk pangan sudah mulai hilang.

Dengan kondisi itu” saat ini kita tidak lagi tanam apa yang bisa kita makan tetap tanam apa yang dibutuhkan pasar dan tanaman yang tidak bisa kita makan”,ungkapannya 

Sambung Hironimus bahwa Kondisi ketergantungan kita terhadap pasar yang cukup tinggi sehingga perlakuan kita juga mulai berubah. Makanan yang dikonsumsi oleh kita mulai berubah dengan yang serba instan sehingga dampaknya penyakit muncul bermacam-macam. Gizi pada anak dan ibu menyusui mulai terganggu dan usia Produktif hidup manusia tidak lagi menjakau pada 70an keatas melain distandar 50an. 

Perlindungan atas pangan lokal

Di Pertemuan semesteran yang dilaksanakan selama 3 hari itu, Pemerintah kabupaten Ende dalam hal ini Dinas ketahan pangan Kabupaten Ende juga mensosialisasikan Peraturan daerah Penyelenggaraan tentang pangan. 

Justina sandopi mengatakan saat ini Kabupaten Ende sudah memiliki peraturan daerah penyelenggaraan Pangan dan pemerintah sedang melakukan sosialisasi-sosialisasi kepada masyarakat khususnya petani yang ada di desa agar bisa diketahui bahwa pangan sudah ada aturan perlindungannya. 

Justin juga mengucapkan apresiasi kepada  Yayasan Tananua Flores yang telah memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk melangsungkan sosialisasi peraturan daerah terkait penyelenggaraan pangan kepada masyarakat.

“Pemerintah kabupaten Ende dalam hal ini Dinas Ketahanan pangan kami memberikan apresiasi kepada Tananua serta Petani dan Nelayan di pertemuan semesteran ini, Dinas ketahanan pangan mengucapan terima kasih karena telah memberikan waktu untuk sosialisasi peraturan Daerah kepada petani dan nelayan”.Ucapnya

Selain itu Kabid Ketersediaan dan kerawanan Pangan  juga menjelaskan bahwa dengan Perda No 5  tentang penyelenggaraan pangan ini pemerintah desa dan Masyarakat petani dapat mempunyai Rujukan dalam pembuatan Peraturan Desa yang khusus terkait pengaturan tentang pangan. 

Kabag itu menuturkan Kedepannya jika pemerintah desa dan BPD membuat Perdes tentang pangan, hal itu sudah mempunyai rujukan yang jelas dan tidak diragukan lagi. 

Sambung dia, Pangan adalah kebutuhan dasar dan menjadi hak asasi manusia. Manusia hidup butuh makan dan petani sebagai kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan pangan perlu mendapatkan perhatian  serta melakukan pemberdayaan kepada petani agar  petani bisa hidup lebih baik lagi. 

 

Oleh : Jhuan Mari.

Tanam Apa yang Kita Makan dan Makan Apa yang Kita Tanam  Read More »