Duka Yayasan Tananua Flores, Selamat Beristirahat Mety Wasa

Ende, Tananua Flores | Duka yang mendalam menyelimuti Yayasan Tananua Flores (YTNF) pada hari Senin 4 Juli 2022. Telah berpulang ke pangkuan yang Ilahi  Maria Petrosia Klara Lero, pribadi yang memiliki dedikasi dalam pemberdayaan masyarakat. Almarhumah dikenal dengan nama Ibu Mety Wasa. YTNF kehilangan sosok yang penuh semangat, suka bergaul, dan mempunyai keingintahuan yang tinggi dalam dunia pengembangan masyarakat kecil. Benyamin Gosa salah seorang rekan kerja memberi kesaksian tentang semangat pantang menyerah yang dimiliki oleh Alm. Mety Wasa.

Mety Wasa Lahir di Ende pada tanggal 15 Agustus 1971. Almarhumah bergabung di YTNF sejak tahun 1993 sebagai pendamping lapangan hingga tahun 2005. Karier di YTNF terus berlanjut hingga menjadi Supervisor pada tahun 2005 sampai tahun 2009. Dedikasi yang tinggi terhadap YTNF mengarahkannya menjadi seorang program manager sejak tahun 2009 hingga menghembuskan nafasnya yang terakhir di Bajawa. Beliau sempat mendapatkan perwatan yang intensif di Rumah Sakit Umum Bajawa karena mengalami sakit. Sebelumnya pada hari minggu 3 Juli 2022 seluruh staf  YTNF telah melakukan kunjungan dan memberikan dukungan agar Ibu Mety bisa lekas pulih. Namun Tuhan berkendang lain, perjumpaan penuh makna dengan para rekan YTNF menjadi salam pisah akhir sebelum kembali ke Sang Khalik.

Almarhumah mengawali jenjang pendidikan di TK Nduaria pada tahun 1976-1978. Pendidikan Sekolah Dasar di tempuh di SDK Nduaria pada tahun 1978-1985. Beliau kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMPK Santa Maria Goreti Ende pada tahun 1985-1988. Jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama ditempuh di SMA Negeri I Ende.

Ibu Mety Aktif sebagai Fasilitator Kelompok Tani di Wonda dan Nualise, Ende-Flores. Beliau terampil dalam bidang pertanian berkelanjutan, UBSP (Usaha Bersama Simpan Pinjam), dan pengelolaan Kesehatan. Ibu dan tiga orang anak ini juga dikenal aktif dalam konteks pemberdayaan Gender dan terlibat di KOMNAS Perempuan. Ibu Mety juga memahami dan memfasilitasi kegiatan pengelolaan pangan lokal, ketahanan pangan dan penerapan Undang-undang Desa. Dalam karyanya beliau aktif dalam melatih kader-kader masyarakat untuk mendukung kapasitas Pendamping Lapangan Desa (PLD). Pribadi yang tegas dan terampil ini juga diketahui sebagai salah seorang pencetus KSU (Koperasi Serba Usaha) Kebekolo.

YTNF mengucapkan dukacita yang mendalam dan turut berbelasungkawa kepada Suami, anak-anak dan keluarga. Semoga arwah almarhumah mendapat tempat yang layak di surga. Selamat jalan Ibu Metty, YTNF akan mengenang selalu karya dan jasa baikmu.

 

Duka Yayasan Tananua Flores, Selamat Beristirahat Mety Wasa Read More »

Semesteran Petani Bahas Pengelolaan Pangan Lokal dan Pasar Online

Ende, Tananua Flores | Pertemuan semesteran Kelompok Petani dari 23 desa dampingan Yayasan Tananua Flores diselenggarakan di Desa Kebirangga Selatan, Kecamatan Maukaro Kabupaten Ende. Pertemuan tersebut untuk berbagi  pengalaman dan belajar bersama dengan tujuan meningkatkan ekonomi pada sektor pertanian untuk kesejahteraan bersama.

Kegiatan itu dikemas dalam pertemuan bersar khusus bagi kelompok petani dampingan Yayasan Tananua Flores yang berlangsung dari tanggal 22 -25 Juni 2022. Kegiatan ini dibuka oleh Camat Maukaro, Ignas Kapo, Kamis (23/6/2022.

Kegiatan itu di awali dengan perkenalan diri petani, sekaligus memberikan Kontribusi untuk pertemuan semesteran selama 3 hari.

Hadir pada kegiatan itu Kapolsek Maukaro, Ipda Anton Kewuta, Kepala Desa Kebirangga Selatan, Anton Rani, beberapa kepala desa tentangga, tokoh masyarakat, tokoh agama dan staf Yayasan Tananua Flores.

Hironimus Pala Ketua Pengurus Yayasan Tananua Flores mengatakan, pertemuan semesteran petani adalah agenda rutin lembaga dan juga bagian dari keputusan bersama. Pertemuan semesteran itu juga untuk saling belajar diantara sesama petani anggota kelompok petani.

“Melalui  forum ini petani yang sukses  harus memberikan  pengalaman dan kiat- kiat kepada petani lain. Para petani akan belajar bersama, berlatih bersama dan diskusi serta saling melengkapi,” katanya.

Hironimus  juga meminta petani serta anggota kelompok agar terus mengkempanyekan dan menghidupkan pangan lokal di wilayah  desanya masing- masing. Petani harus makan  dari hasil karya sendiri bukan beli di pasar ataupun inpor dari luar.

“saya mengucapkan terimah kasih kepada petani dan semua undangan yang telah hadir di pertemuan semesteran ini. Forum ini menjadi ruang bagi  kita untuk  belajar bersama menghidupkan  pangan  lokal menuju kesuksesn bersama,” katanya.

Sementara itu Camat Maukaro, Ignas Kapo juga mengajak  kelompok petani untuk menjadi pelopor dalam menggerakan swasembada pangan, khususnya di wilayah desa masing-masing. Petani diminta tidak mengharapkan bantuan yang di berikan orang lain tetapi harus memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki.

“Kita sebenarnya berkelimpahan dengan pangan lokal  dan sudah di warisi nenek moyang kita sejak dulu tetapi  kita  sekarang masih mengharapkan bantuan dari luar atau terima raskin,” katanya.

Camat Maukaro  itu juga menyinggung soal infrastruktur jalan yang aksesnya dari kecamatan Maukaro ke Desa Kebirangga Selatan sangat mengkwatirkan. Kata Camat itu bahwa wilayah yang dipimpinnya saat kondisi jalan yang mengkwatirkan itu dari wilayah maukaro ke desa kebirangga selatan.

“Selamat datang petani dari desa dampingan Tananua Flores, beginilah kondisi jalan di wilayah kami. Jalan di wilayah kami khususnya dari kota kecamatan Maukaro ke desa – desa masih sangat memprihatinkan. Apalagi jalan ini sebenarnya poros tengan yang menghubungkan antara kecamatan Ende dan kecamatan Maukaro” katanya.

Selain itu Ketua panitia dalam kegitan semesteran petani desa dampingan Tananua, Vinsensius Gori mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan rasa solidaritas dan semangat gotong- royong antara petani, Meningkatkan sumber daya para petani, mendukung pemerintah untuk meningkatkan pangan lokal dan menanamkan nilai spiritua l kepada petani dan orang muda. Capaian dari kegiatan ini agar petani memanfaatkan potensi  local yang dimiliki.

Pemasaran produk lokal Secara Online

Kegiatan pertemuan semesteran yang di gelar selama 3 hari itu, sesama anggota kelompok tani mulai sharing pengalaman membangun kelompok dan proses pemasaran yang dilakukan dimasing-masing kelompok.

Dari proses Evaluasi dan diskusi panjang  mereka banyak menemukan beberapa kendala dan peluang yang harus ditempuh oleh kelompok Tani setiap Desa.

Salah satu yang harus di perbaiki adalah kualitas produk dan peningkatan produksi. Sedang peluang yang harus di ambil kelompok adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk memasarkan produk secara online.

Saat ini sudah era dunia Digital, cara kerja kelompok pun harus mengikuti perkembangan teknologi tersebut agar produk Petani bisa dipasarkan  untuk bisa meningkatkan pendapatan ekonomi Petani itu sendiri.

“Pasar saat ini ada di ibu jari dari perangkat yang setiap hari kita gunakan yang salah satunya adalah android,” kata jhuan mari.

Pria yang berasal dari desa Wologai itu mengatakan bahwa era dunia Digital saat ini kalau bicara soal pasar  sebenarnya sudah sedikit mudah karena yang dibutuhkan adalah keterampilan, inovasi dan niat.

“Jika ada niat, inovasi dan kerjasama antara kelompok tentu produk olahan di setiap desa bisa dipasarkan secara Online dan itu mulai langsung dari Desa”. Katanya

lanjut Dia “Kelompok tani bisa memasarkan produknya di pasar online saat ini sebab medianya setiap kita sudah memilikinya,”ujarnya.

Menurut Jhuan bahwa peluangnya sudah ada dan terbuka untuk siapa saja, sekarang tinggal kemauan kelompok dan komitmen untuk menjaga produk agar berkualitas dan  juga Peningkatan kuantitas produksi.

Sebagai Petani saat ini harus bergotong -royong untuk bisa bersaing di pasaran bebas, sebab peluang usaha dan berbisnis sudah terbuka, baik secara digital maupun secara langsung.

” Kita petani harus bersaing dengan produk yang datang dari luar agar produk kita di kenal dan terjual di pasaran online”, tutupnya.

Peningkatan Gizi bagi Bumil dan anak-anak di Desa

Pertemuan semesteran yang dilakukan di Desa kebirangga selatan itu salah satu kegiatan yang menjadi media belajar bersama yakni latihan pengolahan pangan Lokal dengan bahan pangan miliki petani itu sendiri.

Kegiatan Pengolahan Pangan local tersebut di fasilitasi oleh Pendamping Tananua. Pengolahan pangan Lokal itu melibatkan anggota kelompok tani baik itu laki-laki maupun perempuan.

Emilia Kumanireng di awal kegiatan praktek pengolah pangan local dengan mulai memperkenalkan alat dan bahan yang telah disediakan oleh kelompok.

Dia juga menjelaskan Tujuan dari memanfaatkan pangan local untuk makanan tambahan bagi anak-anak dan Ibu hamil.

“ pangan local yang kita miliki saat ini sebenarnya mempunyai Gizi yang sangat tinggi untuk anak-anak dan ibu hamil. Potensi pangan local kita nutrisi gizinya bisa mengurangi stanting,”katannya.

Selama ini yang di praktekan oleh ibu-ibu kader kesehatan di desa hanya mengandalkan makanan tambahan yang datang dari luar bukan memanfaatkan potensi pangan local yang di miliki sendiri.

“ kita selama ini hanya mengandalkan makan tambahan dari luar, kita tidak mengolah potensi pangan local miliki kita sendiri”,ungkapnnya.

Pendamping Tananua itu juga menuturkan bahwa potensi pangan local yang di miliki petani sangat banyak, jika di olah secara baik tentu akan bermanfaat bagi anak-anak dan ibu hamil. Disisi yang lain,jika pangan local menjadi potensi utama maka program pengembangan pangan local akan terus berlanjut* JF-Mari

 

Semesteran Petani Bahas Pengelolaan Pangan Lokal dan Pasar Online Read More »

Pemerintah Desa Hangalande Gandeng Tananua Flores Serahkan SK untuk 3 Kelompok Tani di Dusun Tanda Au

Ende, Tananua Flores | Pemerintah Desa Hangalande Kecamatan Kota Baru Kabupaten Ende  bersama Yayasan Tananua Flores menyerahkan Surat Keputusan  (SK) Kepala Desa tentang pembentukan Kelompok Tani  di Dusun  Tanda Au.

Sebanyak 3 kelompok Tani yang diserahkan SK tersebut di antarannya Kelompok Tani Sa Ate, Kelompok Tani Muri Sama, dan Gare Dau Mbali  pada (15/6/2022).

Dalam kesederhanaan dan penuh makna di depan Rumah bapak Kasimirus Kuswanto Mari  kegiatan itu mendapat apresiasi dari warga setempat.

Masyarakat memaknai dan memahami bahwa kelompok dan berkelompok bagi masyarakat khususnya kelompok tani, Ternak dan Nelayan merupakan wadah atau tempat yang sangat penting sebagai ruang untuk membangun pemahaman bersama, belajar bersama dan  bekerja bersama untuk mencapai tujuan tertentu.

Kelompok sebagai wadah kerja sama menjadi harapan untuk saling membantu, bergotong royong, untuk meringankan pekerjaan anggota dalam pemenuhan kebutuhan bersama, Kelompok juga sebagai wadah atau tempat belajar bersama untuk dapat pengetahuan dan keterampilan serta bina mental/Karakter bagi anggota sekaligus saling belajar dan berbagi pengetahuan diantara kelompok tani.

Realita dalam hidup bermasyarakat tentu sering kita temukan begitu banyak kelompok kerja yang hidup dan terbentuk di desa maupun kota dengan berbagi tujuan dan kepentingan masing masing. Yayasan Tananua Flores selama proses pendampingan dalam kurun waktu 32 tahun sampai sekarang ini sering bergelut dan konsen dalam mendampingi kelompok tani, kelompok ternak dan kelompok Nelayan.

Berdasarkan pengelaman bersama kelompok, Tananua Flores menemukan model dan jenis kelompok yang dengan tujuan dan fungsinya masing-masing dengan kondisi dan keadaan kelompok yang aktif maupun tidak. Aktif dan tidaknya kelompok salah satu alasannya dikarenakan daya ungkit kelompok sendiri lemah, perhatian dan dukungan serta pengakuan dari berbagai pihak terkhusus pengakuan atau legalitas dari pemerintah setempat yang tidak kuat.

Legalitas ini penting sebagai bagian dari esensi dan eksistensi kelompok untuk bersosialisasi dan menjalankan roda organisasi dalam memenuhi kebutuhan anggota dan mendukung proses pembangunan desa lewat kelompok.

Fakta kelompok tani di desa Hangalande yang berkaitan dengan legalitas atau pengakuan berupa Surat Keputusan dari pemerintah setempat menjadi syarat penting dalam berkelompok seperti yang dirasakan oleh kelompok Sa Ate, Kelompok Muri Sama dan Kelompok Gare Dau Mable.

“Selama 11 tahun sejak pemerintah terdahulu sampai sekarang ini kami tidak diberi dan tidak diakomodir dengan surat Keputusan dan bahkan tidak diakui oleh Desa, kelompok kami berjalan saja dikampung Tanda Au ini,” kata Kasimirus Kuswanto Mari.

Selain itu  kepada Media Tananua Bapak Sius Ndale salah satu staf desa Hangalande  mengatakan bahwa SK kelompok ini bisa diterbitkan dan diakui Desa  yakni lewat Proses panjang kerja kemitraan antara Yayasan Tananua Flores Pemerintah desa sehingga bisa  membantu kelompok Tani dalam proses pengesahan dan mendapatkan SK bagi ke-3 kelompok tani yang ada di dusun Tanda Au.

“Desa sudah berusaha bekerja sama dengan Tananua Flores sebagai LSM lokal di Ende untuk membangun desa dengan Konsep peemberdayaan bagi masyarakat desa lewat latihan dan kujungan belajar untuk membagi pengetahuan dan keterampilan lewat kelompok-Kelompok Tani dampinagan” katanya

Dengan Surat Keputusan yang sudah diserahkan oleh desa kepada ketiga kelompok ini harapannya bisa memupuk hidup bersama untuk saling membantu diantara anggota kelompok dalam hidup bertani, bermasyarakat dan dalam kelompok untuk membangun Nua ola di Dusun Tanda Au.

“Kita harus Puu pongo tolo Uju, boka ki bere ae dan Gare sewiwi nunu selema untuk bangun kampung kita” Tuturnya lewat ungkapan menggunakan bahasa adat.

Kata mama Petronela Dona “kami  sanagat bersyukur hari ini kami dapat praktek langsung bersama tim Tananua dengan memberi pengetahuan dan keterampilan kepada kami membuat temulawak, minyak kemiri dan Kami kema ngala minyak kemiri dan kami minta untuk latih juga kami buat kue dan makanan dari bahan pangan lokal dan juga praktek pertania, ternak”.

Lanjut Mama Dona, harapan kedepannya bisa terus berlanjut sehingga kelompok tani kami bisa lebih maju dan mandiri dalam mengelolah potensi yang ada di wilayah desa kami.

Dalam sela sela kegiatan serah terima SK,  Tim  Tananua Flores berkesempatan berbagi pengetahuan dan keterampilan dengan membuat sharing/diskusi penguatan penting hidup berkelompok bagi ketiga kelompok tani, latihan praktek pengolahan Instan Temulawak dan praktek pengolahan minyak kemiri bagi masyarakat dusun Tanda Au. **HSLikaLapu**

 

Pemerintah Desa Hangalande Gandeng Tananua Flores Serahkan SK untuk 3 Kelompok Tani di Dusun Tanda Au Read More »

Daya Kelompok Tani Membangun Desa

Ende, Tananua Flores – Kelompok tani merupakan kumpulan dari para petani/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, sumber daya, ekonomi, kesamaan kondisi lingkungan sosial, kesamaan kesadaran dan kesamaan komoditas. Adanya kelompok tani ini bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota petani.

Dalam rangka peningkatan kapasitas petani Yayasan Tananua Flores (YTNF) bersama Utusan Kelompok Tani, Pemerintah Desa, BPD, dan Kaum Muda dari 6 Desa (Rutujeja, Mukureku Sa Ate, Randoria, Wolotolo Tenga, Mautenda Barat dan Mbotulaka) melakukan rapat koordinasi di Desa Mbotulaka Kecamatan Wewaria. Rapat koordinasi sebagai upaya penguatan organisasi petani diselenggarakan pada senin 6 Juni hingga selasa 7 Juni 2022.  Terdapat 6 Kelompok tani dengan jumlah peserta 43 orang; laki-laki : 34 orang; Perempuan: 9 orang.

Rapat koordinasi kelompok tani ini menjadi model evaluasi dan monitoring serta replanning kegiatan dan aktivitas kelompok secara bersama selama 6 bulan, 3 bulan dan 1 tahun di dalam kelompok dan komunitas. Dalam rapat koordinasi kelompok tani dapat melihat kebutuhan-kebutuhannya dan menemukan solusi dari persoalan yang dihadapi.

Rapat kelompok tani ini menghasilkan beberapa rekomendasi antara lain: a). Menemukan dan merumuskan Indikator-indikator kelas Kelompok (Pemula, Madya, Mandiri) secara bersama; b). Kompetisi (Lomba) kelompok tani dalam Desa dan Antar Desa; c). Penguatan Kelompok Tani (Latihan Kepemimpinan dan Administrasi Kelompok); d). Praktik Pembuatan dan Pengaplikasian Pupuk pada TUP dan Horti; e). Rapat Koordinasi 3 bulan akan datang di Desa Mukureku Sa Ate.

Dalam Rapat ini setiap peserta memiliki persiapan yang matang, dalam hal ini tersedianya format laporan dan pendalaman materi berlangsung lancar. Para peserta berpartisipasi aktif dalam rapat ini. Sekdes Mbotulaka menyampaikan rasa terimakasih yang mendalam kepada YTNF yang telah dengan setia mendampingi petani. Sudah banyak pengetahuan dan keterampilan yang diberikan kepada petani, kelompok dan juga masyarakat sekarang tinggal kami sendiri yang harus memulainya, kembali kepada kita petani untuk memulainya, tuturnya.

Senada dengan Sekdes Mbotulaka  Bpk. Petrus Moa mengemukakan bahwa “kemitraan Pemerintah Desa Mbotulaka dengan Yayasan Tananua Flores sejak saya masih menjabat sebagai kepala Desa 6 tahun silam. Peran Tananua Flores yang diwakili oleh Pak Andre hanya sebagai pendamping, motivasi, mendorong, melatih kelompok dan para petani desa Mbotulaka, yang harus kerjakan adalah kita sendiri, praktek, kerja sendiri kita harus mulai, tegasnya.

Daya Kelompok Tani Membangun Desa Read More »

Pelepasan Pelampung penutupan

Siaran Pers  : Penutupan sementara Lokasi tangkap Gurita di Desa kotodirumali kecamatan Keo tengah kabupaten  Nagekeo

Kegiatan Sosiasliasi Implementasi Penutupan
Kegiatan Sosialisasi Implementasi Penutupan

Siaran Pers 

Penutupan sementara Lokasi tangkap Gurita di Desa kotodirumali kecamatan Keo tengah kabupaten  Nagekeo 

Nagekeo  10 Juni 2022 |  Kawasan konservasi perairan laut merupakan kawasan perairan yang dilindungi dan dikelola dengan sistem zonasi dengan untuk tujuan menjaga kelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.  Dalam mengelola ruang laut model konservasi dilakukan melalui system buka tutup lokasi tangkap. Desa Kotodirumali ditentukan menjadi pelaksana penerapan sistem buka tutup ini. Secara topografis desa Kotodirumali letaknya berada di wilayah selatan kabupaten Nagekeo, memiliki wilayah laut dan bentang alam  yang cukup luas, dengan jarak tempuh dari Kota ke desa kurang lebih 2,5 jam. 

Pada awal pelaksanaan program, Yayasan Tananua Flores bersama kelompok nelayan gurita bersama pemerintah desa Kotodirumali dan pemerintah kecamatan Keo tengah menerapkan sistem buka tutup lokasi tangkap.  

Dalam menjaga kelestarian serta pemanfaatan  Sumber daya alam di wilayah desa kotodirumali , Pemerintah desa dan Para nelayan yang didampingi Yayasan Tananua Flores Membentuk kelompok pengelola perikanan secara berkelanjutan.  Kelompok tersebut dinamai LMMA (Locally Managed Marine Area )  yang berada di dua desa yaitu desa Kotodirumali dan Desa Podenura kecamatan keo tengah dan kecamatan Nangaroro, kabupaten nagekeo  Nusa Tenggara Timur. 

LMMA merupakan kelompok kerja yang mengelola wilayah kelautan secara lokal dengan mengorganisir para nelayan untuk menjaga ekosistem, mengawasi pelaksanaan sistem buka tutup area tangkapan gurita, menjalin kerjasama dengan mitra untuk upaya-upaya pengelolaan perikanan gurita secara berkelanjutan di wilayah Kecamatan Keo tengah.

Penerapan buka tutup lokasi tangkapan gurita desa kotodirumali yang dilaksanakan sedikit berbeda dengan tempat-tempat lain seperti di Arubara, Maurongga dan Ndori. Di desa kotodirumali, Pemerintah desa, nelayan dan Kelompok LMMA bersepakat untuk penutupan semua jenis komoditas laut sementara di lokasi lain penutupan hanya satu jenis komoditas saja yaitu Gurita. 

Alasan utama melakukan penutupan semua jenis komoditas yang ada di laut, bahwa dari persentase produksi sudah mulai menurun serta berat juga mulai menurun ( Gurita). Selain itu juga, lokasi tersebut dilihat terlalu bebas dan banyak sekali nelayan penangkap dari Luar kabupaten Nagekeo. 

Bentangan Lokasi yang akan di tutup  ada 2 yaitu mulai dari perairan Daja sampai ke perairan Bengga. Jarak antara Daja dan bengga diperkirakan ± 10 km , artinya lokasi yang dilakukan penutupan cukup luas. 

Acara seremonial adat untuk Penutupan sementara lokasi Tangkap Nelayan di desa Kotodirumali

Penutupan Area Tangkapan 

Pengelolaan perikanan berbasis masyarakat dengan sistem buka tutup sudah dilakukan di wilayah NTT khususnya di kabupaten Ende. Sementara itu untuk Kabupaten Nagekeo akan dimulai dari desa Kotodirumali kecamatan Keo Tengah.  Masyarakat dan para nelayan menutup sementara 2 area penangkapan yaitu di perairan Daja dan area Bengga.

Penutupan sementera ini  selama 3 bulan dan mulai  dari tanggal 10 juni 2022 dan dibuka kembali pada bulan 10 september 2022. Penutupan sementara ini adalah bagian dari proses pembelajaran bagi masyarakat tentang pengelolaan perikanan berbasis masyarakat yang masyarakat sebagai pelaku utama.

Di sisi yang lain penutupan sementara ini bagian dari konservasi ekosistem laut serta memberikan waktu dan tempat bagi gurita berkembang biak, bertelur dan tumbuh lebih besar. Gurita spesies Octopus cyanea, mempunyai masa hidup yang singkat sekitar 18 bulan.

Jenis  spesies Octopus Cyanea ini khusus untuk gurita betina dewasa mampu bertelur 150 ribu sampai 170 ribu telur dan merawatnya sampai menetas.  Selain itu Octopus Cyanea diyakini bertelur sepanjang tahun dengan periode pemijahan puncak selama bulan Juni dan Desember.

Dengan siklus hidup gurita Octopus Cyanea yang singkat, penutupan sementara merupakan pengelolaan perikanan yang sesuai untuk diimplementasikan. Harapannya ketika dibuka gurita sudah tumbuh dengan besar dan mempunyai nilai lebih. Tidak hanya pada produksi meningkat tetapi dari sisi lingkungan juga mulai terjaga  dengan baik. 

Data Gurita 

 Proses pendampingan di wilayah Nagekeo dimulai sejak September 2019 khususnya desa kotodirumali dan desa Podenura.  Pendampingan desa tersebut merupakan hasil kerjasama YTNF, Yayasan Pesisir Lestari dan mitra Blue Ventures. Lembaga-lembaga ini merintis program pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan berbasis masyarakat.

Program itu lahir karena adanya degradasinya sumber daya pesisir dan laut akibat perilaku manusia. Penyebabnya adalah terbatasnya pengetahuan akan pentingnya ekosistem laut bagi penghidupan yang berkelanjutan dan keterampilan dalam mengelola sumber daya yang ada secara berkelanjutan.

Keterbatasan pengetahuan akan pentingnya ekosistem laut ditunjukkan dengan adanya perilaku pemboman ikan, penebangan bakau, pengambilan pasir dan batu hijau yang berlebihan, serta penggunaan alat tangkap yang dapat merusak ekosistem laut seperti karang.

Di Site Nagekeo , Kotodirumali dan Podenura Tananua Flores Menempatkan tenaga pendamping dan tenaga pendataan ( Enumerator) untuk melakukan Pendataan terhadap Gurita hasil tangkapan nelayan dan tenaga tersebut diambil dari masyarakat di desa itu.  Data gurita  yang dikumpulkan memberikan gambaran bahwa potensi perikanan gurita di wilayah pesisir selatan Kabupaten Nagekeo sangat  menjanjikan.

Hasil pendataan gurita  September  2021 – maret 2022 oleh 19 nelayan, jumlah tangkapan gurita sebanyak 1874 kg dengan jumlah Individu gurita 1267 Ekor.  Kategori Gurita yang berukuran di atas 2 kg sebanyak 341 kg,  1-2 kg jumlahnya 1,396 kg dan di bawah  dari 1 kg 137 kg.

Total pendapatan nelayan gurita dari September 2021- maret 2022(pendapatan desa dari perikanan gurita) sebesar Rp 66,412,700 juta. Pendapatan gurita ini dihitung berdasarkan harga jual nelayan ke pengepul di desa dengan kisaran  harga gurita Rp 40 ribu-50 ribu/kg.

Terdapat 17 lokasi yang menjadi area tangkapan nelayan kodim. Lokasi terfavorit yang sering dikunjungi nelayan gurita yaitu Daja  94 trip dan Bengga sebanyak 22 trip. Lokasi ini masih berada di area pesisir yang dekat dengan pemukiman warga, sehingga banyak nelayan yang tangkap di daerah itu. 

Melepaskan Pelampung di titik lokasi Penutupan

Mitra LMMA 

Dalam Pelaksanaan kegiatan Penutupan sementara itu, kelompok LMMA di dampingi YTNF dengan Mitrannya YPL dan Blueventure, Pemerintah Desa, pemerintah Kecamatan Keo Tengah, Dinas KCD NTT, Dinas Perikanan dan kelautan kabupaten Nagekeo, Tokoh agama, tokoh masyarakat serta TNI dan Polsek Keo tengah, terlibat dalam menentukan lokasi yang perlu di konservasi dan dilestarikan. 

Upaya dilakukan oleh LMMA adalah  bersama mitra mulai pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumber daya ekosistem dan Hewani, dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundang-undangan di bidang perikanan. 

Penerapan Buka tutup lokasi tangkapan gurita dan komoditas lainnya adalah sebuah Model pengelolaan perikanan yang partisipatif artinya  realisasinya konservasi wilayah tangkapan gurita akan berjalan apabila masyarakat terlibat secara langsung  dalam proses pengelolaan serta ikut mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh masyarakat tersebut. 

Siaran Pers  : Penutupan sementara Lokasi tangkap Gurita di Desa kotodirumali kecamatan Keo tengah kabupaten  Nagekeo Read More »

Translate »