Kopi Spesial dari Rutujeja masuk pasar UKM Pelita Tananua

Ende-Rutujeja, Tananua Flores| Pagi belum juga cerah. Awan mendung hitam masih berkeliaran di atas langit. Sisa basah hujan semalam masih tampak sepanjang jalan. Basah daun di halaman masih bergerak bersama tiupan angin laut pantai Bita. Genangan air di jalan bergerak sesekali menciprat kendaraan yang lewat. Satu persatu langkah para Staf Tananua bergerak masuk halaman kantor Yayasan Tananua, di lorong Bita Beach-Ende.

Natalia duduk sebentar menanti bersama 2 karung Kopi. Sebentar lagi pegawai UKM Pelita akan tiba. Setelah beberapa waktu pintu akhirnya dibuka dan Natalia bisa menimbang Kopi spesial hasil olahan  fermentasi dari Desa Rutujeja.

Natalia Sara menjual Kopi Ke UKM Pelita. Natalia Sara kedua dari kanan dan Maria Ewo Staf UKM Pelita paling kanan, bersama pemuda Rutujeja. Foto:EW/13/7/2022

Natalia (37) telah menikah dan memiliki 4 orang anak. Bersama Suaminya Simon Ia bekerja sebagai Petani. Sebagai Petani Natalia memiliki tanaman umur panjang seperti kemiri dan kopi, juga beberapa lahan holtikultura untuk mencukupi kebutuhan pangannya.

Padi, jagung, dan sayur-sayuran ditanam dan dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur. Lahan Kopi seluas 1 hektar menjadi sumber pendapatan utama. Hasil dari Kopi yang dipanen mencapai 100 Kg per tahun. Hari ini Natalia bisa menjual 40 Kg Kopi, dengan 1 Kg Kopi seharga 55 ribu. Sementara permintaan dari UKM Pelita cukup tinggi. Hampir lebih dari 100 Kg.

Hadirnya Yayasan Tananua Flores di Rutujeja membawa dampak positif bagi pengembangan kualitas dan kuantitas hasil panen pertanian dan perkebunan. “Karena ada Tananua yang datang motivasi, cerita-cerita begini, akhirnya kami masyarakat bisa penasaran dan mau belajar untuk mengolah kopi menjadi hasil yang baik, kenang Natalia.

Pendamping Lapangan Tananua, Arnold Mage fokus mendampingi kelompok-kelompok tani. Lembaga Tananua mendampingi masyarakat di bidang pertanian, kesehatan, dan pembuatan obat tradisional.

Di bidang pertanian bekelanjutan ada fasilitasi dan pembentukan kelompok tani, pembagian benih sayur, pembuatan pupuk organik padat dan cair, Pelatihan P3S ( pemupukan, panen sering, pemangkasan, dan sanitasi), serta pengolahan pangan lokal menjadi makanan bergizi dan siap santap dengan tampilan yang menarik.

Green Bean Arabica dari Rutujeja, Ende. Foto: EW/ 13/7/2022

Pendampingan masyarakat petani dalam bentuk kelompok lebih efektif dari pada orang per orang. Jika pendampingan orang per orang maka akan membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang dikeluarkan menjadi besar, Kata Benyamin Gosa. Senior Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores (sejak 1991) ini juga menambahkan bahwa dalam kelompok tani ada nilai gotong royong.

Pendamping Lapangan bertugas untuk mendampingi kelompok tani. Karena itu pendamping lapangan wajib turun kebun serta wajib bimbing kelompok untuk menjadi bagus. Di kebun bisa sambil kerja, sambil ngobrol, dan praktik langsung tentang pertanian cerdas. Pendamping lapangan juga melatih anggota kelompok untuk membuat administrasi yang baik, kata pendamping program INCIDENT ini. (Edi BW)

Kopi Spesial dari Rutujeja masuk pasar UKM Pelita Tananua Read More »

Para Ibu Desa Detumbewa menghidangkan hasil olahan pangan lokal. Maria Elsin paling kiri tampak depan. Foto:EK

Pejuang Pangan Perempuan untuk Gizi Seimbang Anak-anak Detumbewa

Ende, Tananua Flores| Catatan sejarah Ende Lio mengisahkan dengan jelas perjuangan Pahlawan Marilonga. Marilonga berasal dari Detukeli, Desa Watunggere. Kisah historis itu nampak jelas dalam Benteng Marilonga, suatu benteng pertahanan melawan bangsa Belanda. Narasi heroik untuk merebut kemerdekaan tampak dalam puing-puing benteng dalam rupa tumpukan batu.

Kini ada kisah perjuangan dari satu desa di Detukeli, Desa Detumbewa dalam membebaskan masyarakat dari masalah kekurangan gizi. Dari Desa Detumbewa hadir sosok seorang pejuang pangan yang dengan tekun dan setia berkarya memenuhi kebutuhan gizi anak.  Dialah Maria Elsin (24) seorang perempuan di Dusun Serofai, Desa Detumbewa  yang penuh semangat bertekad untuk mengentaskan masalah kekurangan gizi di desanya. Ibu dari Aprilio (5) ini Sehari-hari ia bekerja sebagai ibu rumah tangga. Di sela kesibukannya, ia aktif sebagai Kader Posyandu dan dipercayakan sebagai Sekretaris BPD (Badan Permusyawaratan Desa) di Desa Detumbewa. Istri dari Yohanes ini pernah mengalami kesulitan lantaran anaknya mengalami kekurangan gizi. Anak aprilio menderita gizi buruk karena tidak menyukai sayuran dan kerap mengonsumsi kue (snack) yang mengandung pengawet dan pewarna. Namun berbekalkan pengetahuan yang diperoleh dari Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores dan Bidan Desa anak menjadi sehat dan kuat. Setiap hari Elsin menyedikan makanan yang bergizi seimbang untuk putranya.

Perkedel, Saus dan Kroket Ubi Kayu hasil olahan para ibu di Desa Detumbewa. Foto: EK

Pengalaman memulihkan kesehatan anaknya dari masalah gizi buruk ini membuat Elsin aktif Bersama pemerintah Desa, Bidan Desa, Pendamping Tananua, Kader Posyandu dan KPM (Kader pembangunan Manusia) mensosialisasikan tentang makanan yang bergizi seimbang bagi Balita.  Mereka secara bergilir melakukan kunjungan ke 4 dusun di Detumewa untuk mengajarkan cara  mengolah pangan lokal seperti pisang, singkong, keladi, kacang-kacangan serta sayur-sayuran. Bahan pangan itu diolahan secara kreatif menjadi bakwan sayur, kroket ubi kayu ( terbuat dari bahan dasar singkong dan sayur-sayuran),  talam labu  (talam yang terbuat dari buah waluh kuning ), paha ayam (terbuat dari singkong). Makanan sehat nan bergizi tinggi itu kemudian dibagikan kepada ibu hamil dan balita. Kegiatan  Pemberian Makanan Tambahan (PMT)  ini berlangsung setiap bulan di setiap dusun. Maria Elsin berhasil menjadi motivator bagi para ibu di Detumbewa untuk selalu menyediakan makanan yang sehat dari pangan lokal bagi keluarga. Keluarga bisa sehat dan sejahtera berkat pangan lokal, kata Elsin.

Anak-anak Dusun Serofai mendapat makanan tambahan bergizi dari hasil olahan pangan lokal. Foto: EK

Desa Detumewa terletak di wilayah utara Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende, Flores, NTT. Perjalanan menuju  desa ini ditempuh sejauh 65 Km dari kota Kabupaten Ende. Warga Desa maupun para tamu yang hendak menuju Detumbewa dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sepanjang jalan terdapat area persawahan yang eksotik. Tatapan mata akan dimanjakan oleh hijaunya tanaman kemiri dan kopi, serta semarak hutan pinus di Hutan Wisata Kebesani di puncak Kajundara. Sejuknya hutan wisata Kajundara menjadi pertanda bahwa Desa Detumbewa sudah semakin dekat.

Penduduk Detumbewa berjumlah  490 Jiwa dengan  117 KK, laki-laki 256 jiwa dan perempuan 234 jiwa (Data Desa Detumbewa Agustus; 2021). Sekitar 90 persen warga berprofesi sebagai petani lahan kering. Mayarakat hidup dari mengolah tanaman pangan dan tanaman umur panjang. Tanaman pangan yang dibudidayakan seperti padi, jagung, umbi umbian, kacang-kacangan, dan pisang. Selain itu para petani juga memiliki tanaman umur panjang seperti kemiri, kakao, dan jambu mete. Hasil dari tanaman pangan digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, sedangkan hasil penjualan  tanaman umur panjang digunakan untuk menunjang kebutuhan jangka menengah seperti biaya kesehatan, pendidikan anak, dan juga biaya-biaya sosial.

Ketersediaan pangan di Desa Detumbewa terbilang cukup. Disini masih terdapat masalah pemenuhan gizi keluarga, terutama gizi balita.  Penyebabnya adalah pola asuh yang salah serta kurangnya pengetahuan orang tua balita tentang makanan bergizi. Menurut penjelasan dari Kementerian Kesehatan penyebab masalah gizi buruk dan stunting antara lain rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktek pemberian makan bayi dan anak, dan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih (Izwardy, 2018).

Anak pada usia dini membutuhkan gizi yang seimbang untuk tumbuh kembangnya, terutama pada perkembangan otak. Pada usia emas (golden age) 0-6 tahun menjadi masa yang penting dan membutuhkan perhatian dari seorang ibu. Nutrisi yang seimbang menjadi faktor penting dalam proses tumbuh kembang anak. Makanan yang bernutrisi adalah makanan yang tidak mengandung pengawet, pewarna buatan dan pemanis buatan. Anak yang sehat mengonsumsi makanan yang bergizi. Nutrisi yang seimbang bergantung pada tingkat kualitas dan kuantitas makanan. Pada masa pertumbuhan anak membutuhkan konsumsi pangan yang cukup dan bergizi seimbang. Komponen pangan dengan gizi yang seimbang mengandung karbohidrat, protein, lemak, air, vitamin, mineral dan serat  (Badan POM RI, 2013).

Penulis: Emilia Kumanireng

Editor: Edi Woda

.

Pejuang Pangan Perempuan untuk Gizi Seimbang Anak-anak Detumbewa Read More »

Lokakarya Internal: Satu Hati, Pikiran, Spirit, dan Gerakan

Ende, Tananua Flores| Yayasan Tananua Flores (YTNF) sukses menyelenggarakan Lokakarya Internal Penguatan Organisasi. Lokakarya ini mengusung tema: Satu hati, Pikiran, Spirit dan Gerakan. Lokakarya dibuat untuk menjaga keutuhan Tananua Flores sebagai rumah bersama
Lokakarya ini berlangsung di Rumah Bina Kerahiman Ilahi Jl. Eltari Ende pada tanggal 30 Juni 2022. Lokakarya ini berlangsung alot sejak pukul 08.00-17.00 WITA.

Pembina Yayasan Tananua Flores P. Charles Beraf, SVD memaparkan materi Lokakarya. Foto: Juan Mari

P. Chaerles Beraf SVD, Pembina YTNF memimpin perayaan Ekaristi Pembuka pada Lokakarya ini. Dalam kotbahnya Pater menekankan pentingnya iman dan komitmen dengan tindakan nyata demi perubahan dan Transformasi dalam diri kita dalam menjalankan misi di Tananua ini.
YTNF sebagai organisasi Nirlaba terus berkembang dalam karya dan kerja bersama masyarakat. Lokakarya ini hendak mengoptimalkan organ YTNF baik dalam program maupun sumber daya.

Lokakarya ini bertujuan untuk menguatkan kelembagaan YTNF. Ibu Yulita Eme, Dewan Pembina YTNF mengemukaan bahwa lokakarya ini terbingkai dalam 3 H (Head, Hearth dan Hand). Setiap anggota YTNF baik yang ada di lapangan maupun yang ada di kantor dapat menyamakan pikiran, menyatukan hati, dan menyelaraskan gerakan atau tindakan untuk mencapai tujuan.

Ketua STPM Ende ini menambahkan bahwa moment ini menjadi kesempatan yang baik untuk mengenal Tananua. Tananua memiliki semangat untuk memberdayakan masyarakat. Untuk semakin berkembang masing-masing elemen menjaring kekuatan bersama dalam menjawabi kebutuhan masyarakat.

Ketua Yayasan Tananua Flores Hironimus Pala memaparkan materi Lokakarya. Foto: Juan Mari

Dalam Lokakarya ini dipaparkan pelbagai perkembangan YTNF berkaitan dengan rencana kegiatan dan pelatihan, Keadaan Staf dan infrastruktur, Penyampaian data organisasi, pengelola program dan donatur serta kegiatan badan pengurus.
Para Pemimpin dan Staf YTNF disatukan oleh visi dan misi yang sama. Sebagai pekerja sosial ada spirit yang menggerakan menuju satu tujuan. Bekerja bukan untuk diri sendiri tetapi bekerja melampaui ego untuk karya yang lebih luas. Dari Aku ke kita dari yang profesional ke yang Vokasional. P. Charles Beraf Menambahkan bahwa Visi Kita harus kuat untuk bekerja keras untuk orang yang terpinggirkan.
Ketua YTNF menambahkan bahwa pekerjaan yang dilakukan menjadi bagian dari aktualisasi diri untuk membuat orang terpinggirikan tersenyum.

Dalam Kesempatan yang sama Direktur YTFN Bernadus Sambut membagikan pengalaman ketika berkarya di YTNF. Spirit Tananua adalah bagian dari diri kita. Ambisi pribadi menjadi tantangan dalam kepengurusan. Agar lembaga ini berkembang pekerjaan dilakukan dengan penuh cinta dan senang hati.
Sebagai Organisasi Nirlaba YTNF perlu memikirkan sumber pendapatan lain. Lembaga donor hanya membiayai program. Dengan perluasan pelayanan masyarakat keberlangsungan YTNF akan tetap eksis.

Pranatacara Hery Se, mengarahkan jalannya acara Lokakarya. Foto: Juan Mari

Lokakarya ini menghasilkan 17 Rekomendasi yang akan diperhatikan oleh seluruh elemen YTNF baik pembina, pengawas, pengurus, pelaksana pengurus serta Staf UKM Pelita.

Lokakarya yang dilakukan membahas tiga program besar yang dikerjakan YTNF antara lain: Program Livelihood, Program Perikanan dan Kelautan, dan Program INCIDENT.

Lokakarya Internal: Satu Hati, Pikiran, Spirit, dan Gerakan Read More »

Duka Yayasan Tananua Flores, Selamat Beristirahat Mety Wasa

Ende, Tananua Flores | Duka yang mendalam menyelimuti Yayasan Tananua Flores (YTNF) pada hari Senin 4 Juli 2022. Telah berpulang ke pangkuan yang Ilahi  Maria Petrosia Klara Lero, pribadi yang memiliki dedikasi dalam pemberdayaan masyarakat. Almarhumah dikenal dengan nama Ibu Mety Wasa. YTNF kehilangan sosok yang penuh semangat, suka bergaul, dan mempunyai keingintahuan yang tinggi dalam dunia pengembangan masyarakat kecil. Benyamin Gosa salah seorang rekan kerja memberi kesaksian tentang semangat pantang menyerah yang dimiliki oleh Alm. Mety Wasa.

Mety Wasa Lahir di Ende pada tanggal 15 Agustus 1971. Almarhumah bergabung di YTNF sejak tahun 1993 sebagai pendamping lapangan hingga tahun 2005. Karier di YTNF terus berlanjut hingga menjadi Supervisor pada tahun 2005 sampai tahun 2009. Dedikasi yang tinggi terhadap YTNF mengarahkannya menjadi seorang program manager sejak tahun 2009 hingga menghembuskan nafasnya yang terakhir di Bajawa. Beliau sempat mendapatkan perwatan yang intensif di Rumah Sakit Umum Bajawa karena mengalami sakit. Sebelumnya pada hari minggu 3 Juli 2022 seluruh staf  YTNF telah melakukan kunjungan dan memberikan dukungan agar Ibu Mety bisa lekas pulih. Namun Tuhan berkendang lain, perjumpaan penuh makna dengan para rekan YTNF menjadi salam pisah akhir sebelum kembali ke Sang Khalik.

Almarhumah mengawali jenjang pendidikan di TK Nduaria pada tahun 1976-1978. Pendidikan Sekolah Dasar di tempuh di SDK Nduaria pada tahun 1978-1985. Beliau kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMPK Santa Maria Goreti Ende pada tahun 1985-1988. Jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama ditempuh di SMA Negeri I Ende.

Ibu Mety Aktif sebagai Fasilitator Kelompok Tani di Wonda dan Nualise, Ende-Flores. Beliau terampil dalam bidang pertanian berkelanjutan, UBSP (Usaha Bersama Simpan Pinjam), dan pengelolaan Kesehatan. Ibu dan tiga orang anak ini juga dikenal aktif dalam konteks pemberdayaan Gender dan terlibat di KOMNAS Perempuan. Ibu Mety juga memahami dan memfasilitasi kegiatan pengelolaan pangan lokal, ketahanan pangan dan penerapan Undang-undang Desa. Dalam karyanya beliau aktif dalam melatih kader-kader masyarakat untuk mendukung kapasitas Pendamping Lapangan Desa (PLD). Pribadi yang tegas dan terampil ini juga diketahui sebagai salah seorang pencetus KSU (Koperasi Serba Usaha) Kebekolo.

YTNF mengucapkan dukacita yang mendalam dan turut berbelasungkawa kepada Suami, anak-anak dan keluarga. Semoga arwah almarhumah mendapat tempat yang layak di surga. Selamat jalan Ibu Metty, YTNF akan mengenang selalu karya dan jasa baikmu.

 

Duka Yayasan Tananua Flores, Selamat Beristirahat Mety Wasa Read More »

Semesteran Petani Bahas Pengelolaan Pangan Lokal dan Pasar Online

Ende, Tananua Flores | Pertemuan semesteran Kelompok Petani dari 23 desa dampingan Yayasan Tananua Flores diselenggarakan di Desa Kebirangga Selatan, Kecamatan Maukaro Kabupaten Ende. Pertemuan tersebut untuk berbagi  pengalaman dan belajar bersama dengan tujuan meningkatkan ekonomi pada sektor pertanian untuk kesejahteraan bersama.

Kegiatan itu dikemas dalam pertemuan bersar khusus bagi kelompok petani dampingan Yayasan Tananua Flores yang berlangsung dari tanggal 22 -25 Juni 2022. Kegiatan ini dibuka oleh Camat Maukaro, Ignas Kapo, Kamis (23/6/2022.

Kegiatan itu di awali dengan perkenalan diri petani, sekaligus memberikan Kontribusi untuk pertemuan semesteran selama 3 hari.

Hadir pada kegiatan itu Kapolsek Maukaro, Ipda Anton Kewuta, Kepala Desa Kebirangga Selatan, Anton Rani, beberapa kepala desa tentangga, tokoh masyarakat, tokoh agama dan staf Yayasan Tananua Flores.

Hironimus Pala Ketua Pengurus Yayasan Tananua Flores mengatakan, pertemuan semesteran petani adalah agenda rutin lembaga dan juga bagian dari keputusan bersama. Pertemuan semesteran itu juga untuk saling belajar diantara sesama petani anggota kelompok petani.

“Melalui  forum ini petani yang sukses  harus memberikan  pengalaman dan kiat- kiat kepada petani lain. Para petani akan belajar bersama, berlatih bersama dan diskusi serta saling melengkapi,” katanya.

Hironimus  juga meminta petani serta anggota kelompok agar terus mengkempanyekan dan menghidupkan pangan lokal di wilayah  desanya masing- masing. Petani harus makan  dari hasil karya sendiri bukan beli di pasar ataupun inpor dari luar.

“saya mengucapkan terimah kasih kepada petani dan semua undangan yang telah hadir di pertemuan semesteran ini. Forum ini menjadi ruang bagi  kita untuk  belajar bersama menghidupkan  pangan  lokal menuju kesuksesn bersama,” katanya.

Sementara itu Camat Maukaro, Ignas Kapo juga mengajak  kelompok petani untuk menjadi pelopor dalam menggerakan swasembada pangan, khususnya di wilayah desa masing-masing. Petani diminta tidak mengharapkan bantuan yang di berikan orang lain tetapi harus memanfaatkan potensi lokal yang dimiliki.

“Kita sebenarnya berkelimpahan dengan pangan lokal  dan sudah di warisi nenek moyang kita sejak dulu tetapi  kita  sekarang masih mengharapkan bantuan dari luar atau terima raskin,” katanya.

Camat Maukaro  itu juga menyinggung soal infrastruktur jalan yang aksesnya dari kecamatan Maukaro ke Desa Kebirangga Selatan sangat mengkwatirkan. Kata Camat itu bahwa wilayah yang dipimpinnya saat kondisi jalan yang mengkwatirkan itu dari wilayah maukaro ke desa kebirangga selatan.

“Selamat datang petani dari desa dampingan Tananua Flores, beginilah kondisi jalan di wilayah kami. Jalan di wilayah kami khususnya dari kota kecamatan Maukaro ke desa – desa masih sangat memprihatinkan. Apalagi jalan ini sebenarnya poros tengan yang menghubungkan antara kecamatan Ende dan kecamatan Maukaro” katanya.

Selain itu Ketua panitia dalam kegitan semesteran petani desa dampingan Tananua, Vinsensius Gori mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan rasa solidaritas dan semangat gotong- royong antara petani, Meningkatkan sumber daya para petani, mendukung pemerintah untuk meningkatkan pangan lokal dan menanamkan nilai spiritua l kepada petani dan orang muda. Capaian dari kegiatan ini agar petani memanfaatkan potensi  local yang dimiliki.

Pemasaran produk lokal Secara Online

Kegiatan pertemuan semesteran yang di gelar selama 3 hari itu, sesama anggota kelompok tani mulai sharing pengalaman membangun kelompok dan proses pemasaran yang dilakukan dimasing-masing kelompok.

Dari proses Evaluasi dan diskusi panjang  mereka banyak menemukan beberapa kendala dan peluang yang harus ditempuh oleh kelompok Tani setiap Desa.

Salah satu yang harus di perbaiki adalah kualitas produk dan peningkatan produksi. Sedang peluang yang harus di ambil kelompok adalah dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk memasarkan produk secara online.

Saat ini sudah era dunia Digital, cara kerja kelompok pun harus mengikuti perkembangan teknologi tersebut agar produk Petani bisa dipasarkan  untuk bisa meningkatkan pendapatan ekonomi Petani itu sendiri.

“Pasar saat ini ada di ibu jari dari perangkat yang setiap hari kita gunakan yang salah satunya adalah android,” kata jhuan mari.

Pria yang berasal dari desa Wologai itu mengatakan bahwa era dunia Digital saat ini kalau bicara soal pasar  sebenarnya sudah sedikit mudah karena yang dibutuhkan adalah keterampilan, inovasi dan niat.

“Jika ada niat, inovasi dan kerjasama antara kelompok tentu produk olahan di setiap desa bisa dipasarkan secara Online dan itu mulai langsung dari Desa”. Katanya

lanjut Dia “Kelompok tani bisa memasarkan produknya di pasar online saat ini sebab medianya setiap kita sudah memilikinya,”ujarnya.

Menurut Jhuan bahwa peluangnya sudah ada dan terbuka untuk siapa saja, sekarang tinggal kemauan kelompok dan komitmen untuk menjaga produk agar berkualitas dan  juga Peningkatan kuantitas produksi.

Sebagai Petani saat ini harus bergotong -royong untuk bisa bersaing di pasaran bebas, sebab peluang usaha dan berbisnis sudah terbuka, baik secara digital maupun secara langsung.

” Kita petani harus bersaing dengan produk yang datang dari luar agar produk kita di kenal dan terjual di pasaran online”, tutupnya.

Peningkatan Gizi bagi Bumil dan anak-anak di Desa

Pertemuan semesteran yang dilakukan di Desa kebirangga selatan itu salah satu kegiatan yang menjadi media belajar bersama yakni latihan pengolahan pangan Lokal dengan bahan pangan miliki petani itu sendiri.

Kegiatan Pengolahan Pangan local tersebut di fasilitasi oleh Pendamping Tananua. Pengolahan pangan Lokal itu melibatkan anggota kelompok tani baik itu laki-laki maupun perempuan.

Emilia Kumanireng di awal kegiatan praktek pengolah pangan local dengan mulai memperkenalkan alat dan bahan yang telah disediakan oleh kelompok.

Dia juga menjelaskan Tujuan dari memanfaatkan pangan local untuk makanan tambahan bagi anak-anak dan Ibu hamil.

“ pangan local yang kita miliki saat ini sebenarnya mempunyai Gizi yang sangat tinggi untuk anak-anak dan ibu hamil. Potensi pangan local kita nutrisi gizinya bisa mengurangi stanting,”katannya.

Selama ini yang di praktekan oleh ibu-ibu kader kesehatan di desa hanya mengandalkan makanan tambahan yang datang dari luar bukan memanfaatkan potensi pangan local yang di miliki sendiri.

“ kita selama ini hanya mengandalkan makan tambahan dari luar, kita tidak mengolah potensi pangan local miliki kita sendiri”,ungkapnnya.

Pendamping Tananua itu juga menuturkan bahwa potensi pangan local yang di miliki petani sangat banyak, jika di olah secara baik tentu akan bermanfaat bagi anak-anak dan ibu hamil. Disisi yang lain,jika pangan local menjadi potensi utama maka program pengembangan pangan local akan terus berlanjut* JF-Mari

 

Semesteran Petani Bahas Pengelolaan Pangan Lokal dan Pasar Online Read More »