Dimanakah Lumbung Pangan?

Di Indonesia lumbung pangan merupakan tradisi. Lumbung pangan sudah ada sejak budaya padi. Lumbung pangan telah ada sejak zaman kerajaan hindu budha, sejak kerajaan Mataram Kuno abad ke 9. Adanya Candi Lumbung di daerah Magelang-Jawa Tengah adalah bukti sejarah bahwa sejak saat itu masyarakat telah memanfaatkan lumbung sebagai tempat menyimpan padi.

Pada masa kolonial lumbung pangan masyarakat dikelola oleh Bank Perkreditan Rakyat (Dies Voot Volkscreditswen) dibawah naungan Departemen Dalam Negeri. Kemudian pada masa pemerintahan orde baru terdapat instruksi presiden sebagai bentuk kebijakan cadangan pangan oleh pemerintah. Kebijakan pembangunan ini mendukung pengembangan lumbung desa.

Lumbung Pangan. Foto: wittness.tempo.co

Keberadaan lumbung pangan cocok untuk daerah yang mengalami rawan pangan. Lumbung pangan mendukung keberlangsungan pangan di daerah yang relatif terisolasi dan rentan terhadap bencana. Lumbung pangan berfungsi sebagai cadangan pangan. Pada musim paceklik lumbung pangan dapat dapat mengantisipasi terjadi kekurangan bahan pangan. Selain itu lumbung pangan dapat mengantisipasi ancaman gagal panen akibat bencana, serangan hama, anomali iklim dan banjir.

Menarik bahwa masyarakat di Desa Mbotulaka, Kecamatan Wewaria masih memiliki lumbung pangan. Hasil panen seperti padi, jagung dan umbi-umbian disimpan di lumbung sebagai cadangan makanan dan tempat menyimpan benih.  Di Mbotulaka lumbung pangan (Kebo) adalah warisan nenek moyang. Lumbung dibangun di kebun dan ada pula yang membangun lumbung disamping rumah. Secara tradisional lumbung terbuat dari kayu dan atapnya terbuat dari daun.

Pemerintah melalui kebijakannya juga memberdayakan lumbung pangan. Revitalisasi dan pengembangan lumbung pangan di Kemendagri dipayungi oleh keputusan Kementerian dalam negeri dan otonomi daerah no 6 tahun 2001 tentang pengembangan lumbung pangan masyarakat atau kelurahan. Lumbung pangan dijadikan sebagai tempat menyimpan dan meminjam bahan pangan secara sistematis, terpadu dan berkesinambungan.

Meskipun demikian keberadaan lumbung pangan mulai jarang dijumpai di masyarakat. Hal ini karena penerapan revolusi hijau yang memperkenalkan teknologi padi unggul. Model pengembangan pertanian modern yang cepat tidak sesuai dengan keberadaan lumbung pangan masyarakat. Selain itu keberadaan Bulog untuk mengstabilisasi pasokan bahan pangan membuat masyarakat tidak lagi memanfaatkan lumbung. Era globalisasi  memperlihatkan adanya keberagaman pangan yang merubah pola konsumsi masyarakat. Sehingga masyarakat tidak membutuhkan lumbung untuk mencukupi kebutuhan pangannya. Masyarakat mulai memenuhi kebutuhan pangannya dengan membeli di pasar.

Keberadaan lumbung pangan terkait erat dengan ketahanan pangan. Ketahanan pangan memengaruhi ketahanan sosial, stabilitas ekonomi, stabilitas politik dan keamanan. Wilayah Desa Mbotulaka memiliki potensi kerawanan pangan dalam beberapa dekade mendatang oleh karena aksesibilitas wilayah yang sulit. Penggunan alat pertanian modern, pemanfaatan pupuk kimia, dan penggunaan benih buatan di wilayah pertanian Desa Mbotulaka juga mengurangi pemanfaatan lumbung pangan. Kualitas bahan pangan seperti padi dan jagung tidak bertahan lama ketika disimpan di lumbung. Sejatinya dengan memanfaatkan lumbung untuk mengantisipasi kerawanan pangan berarti turut serta dalam upaya penanganan kemiskinan.

Penulis (Andre Ngera)

Editor (Edi Woda)

Dimanakah Lumbung Pangan? Read More »

Babi Bebas Virus dari Pakan Olahan Kelompok Tani Desa Randoria

Ende-Randoria, Tananua Flores| Kelompok-kelompok Tani di Desa Randoria Dusun Wologeru sejak pagi 14/7/2022  bergiat membuat pakan babi berkualitas. Aktivitas pelatihan ini berawal dari pencaharian bahan baku. Setiap petani menuju ke kebun masing-masing mengumpulkan bahan utama pakan babi.

Bahan utama pakan babi antara lain: batang pisang, buah pepaya, singkong, daun singkong, ketela, dan ubi jalar. Bahan-bahan itu kemudian dipotong menjadi halus. Setelah itu bahan itu dicampurkan bersama dengan tepung jagung, tepung ikan, dedak padi, gula air, serta penyedap rasa makanan.

Anggota Kelompok Tani Desa Randoria menyiapkan pakan babi. Foto: EM/14/7/2002

Pelatihan pembuatan pakan babi ini melibatkan 3 Kelompok  Tani dari Desa Randoria. Kelompok Tani Mekar Baru, Kelompok Tani Selalu Damai dan Kelompok Tani Benteng Gading bersama-sama membuat pakan untuk babi sehat. Peserta pelatihan yang berjumlah 23 orang dengan tekun memotong bahan pakan lokal tersebut. Setiap anggota kelompok aktif menyiapkan pakan babi bersama Elias Mbani (54), Pendamping Lapangan Tananua Flores.

Virus Flu Babi Afrika (African Swine Fever) ASF yang melanda Ende sejak januari lalu menyebabkan kematian pada babi di Desa Randoria. Aloysius Lagu (57) Peternak Babi dari Dusun Wologeru mengeluhkan tentang kondisi babinya yang terdampak Virus ASF. Kini anggota Kelompok Tani di Wologeru membutuhkan babi.

Meskipun demikian semangat untuk berlatih membuat pakan babi berkualitas tetap ada. Aloysius merasa senang dengan pelatihan ini dan berterima kasih dengan pengetahuan pengolahan pakan babi yang diadakan Tananua Flores. Ada pendamping datang kesini saya sangat senang, kami bisa belajar untuk buat pakan, kata anggota Kelompok Tani Mekar Baru, Desa Randoria.

Aloysius Lagu Anggota Kelompok Tani Mekar Baru mengiris batang pisang untuk dijadikan pakan babi. Foto: EM/ 14/7/2022

Hasil dari pelatihan pembuatan pakan babi ini kurang lebih sekitar 60 Kg. Pakan babi yang telah dihasilkan  dapat memberi makan 12 ekor babi  untuk waktu 2 hari.

Pelatihan ini bertujuan agar para anggota Kelompok Tani  dapat mengembangkannya saat memelihara babi baik di tingkat keluarga maupun di tingkat RT. Babi yang dihasilkan pun  sehat dan lebih berkualitas. Dalam pelatihan ini juga dibuat perencanaan dan model pengembangan ternak babi. Hasil dari pakan yang dibuat di tingkat Kelompok Tani ini dapat dimanfaatkan secara pribadi dan dijual di antara anggota Kelompok Tani, jelas Pendamping Lapangan Desa Randoria dan Wolotolo Tengah. (Edi BW)

 

Babi Bebas Virus dari Pakan Olahan Kelompok Tani Desa Randoria Read More »

Kopi Spesial dari Rutujeja masuk pasar UKM Pelita Tananua

Ende-Rutujeja, Tananua Flores| Pagi belum juga cerah. Awan mendung hitam masih berkeliaran di atas langit. Sisa basah hujan semalam masih tampak sepanjang jalan. Basah daun di halaman masih bergerak bersama tiupan angin laut pantai Bita. Genangan air di jalan bergerak sesekali menciprat kendaraan yang lewat. Satu persatu langkah para Staf Tananua bergerak masuk halaman kantor Yayasan Tananua, di lorong Bita Beach-Ende.

Natalia duduk sebentar menanti bersama 2 karung Kopi. Sebentar lagi pegawai UKM Pelita akan tiba. Setelah beberapa waktu pintu akhirnya dibuka dan Natalia bisa menimbang Kopi spesial hasil olahan  fermentasi dari Desa Rutujeja.

Natalia Sara menjual Kopi Ke UKM Pelita. Natalia Sara kedua dari kanan dan Maria Ewo Staf UKM Pelita paling kanan, bersama pemuda Rutujeja. Foto:EW/13/7/2022

Natalia (37) telah menikah dan memiliki 4 orang anak. Bersama Suaminya Simon Ia bekerja sebagai Petani. Sebagai Petani Natalia memiliki tanaman umur panjang seperti kemiri dan kopi, juga beberapa lahan holtikultura untuk mencukupi kebutuhan pangannya.

Padi, jagung, dan sayur-sayuran ditanam dan dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur. Lahan Kopi seluas 1 hektar menjadi sumber pendapatan utama. Hasil dari Kopi yang dipanen mencapai 100 Kg per tahun. Hari ini Natalia bisa menjual 40 Kg Kopi, dengan 1 Kg Kopi seharga 55 ribu. Sementara permintaan dari UKM Pelita cukup tinggi. Hampir lebih dari 100 Kg.

Hadirnya Yayasan Tananua Flores di Rutujeja membawa dampak positif bagi pengembangan kualitas dan kuantitas hasil panen pertanian dan perkebunan. “Karena ada Tananua yang datang motivasi, cerita-cerita begini, akhirnya kami masyarakat bisa penasaran dan mau belajar untuk mengolah kopi menjadi hasil yang baik, kenang Natalia.

Pendamping Lapangan Tananua, Arnold Mage fokus mendampingi kelompok-kelompok tani. Lembaga Tananua mendampingi masyarakat di bidang pertanian, kesehatan, dan pembuatan obat tradisional.

Di bidang pertanian bekelanjutan ada fasilitasi dan pembentukan kelompok tani, pembagian benih sayur, pembuatan pupuk organik padat dan cair, Pelatihan P3S ( pemupukan, panen sering, pemangkasan, dan sanitasi), serta pengolahan pangan lokal menjadi makanan bergizi dan siap santap dengan tampilan yang menarik.

Green Bean Arabica dari Rutujeja, Ende. Foto: EW/ 13/7/2022

Pendampingan masyarakat petani dalam bentuk kelompok lebih efektif dari pada orang per orang. Jika pendampingan orang per orang maka akan membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang dikeluarkan menjadi besar, Kata Benyamin Gosa. Senior Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores (sejak 1991) ini juga menambahkan bahwa dalam kelompok tani ada nilai gotong royong.

Pendamping Lapangan bertugas untuk mendampingi kelompok tani. Karena itu pendamping lapangan wajib turun kebun serta wajib bimbing kelompok untuk menjadi bagus. Di kebun bisa sambil kerja, sambil ngobrol, dan praktik langsung tentang pertanian cerdas. Pendamping lapangan juga melatih anggota kelompok untuk membuat administrasi yang baik, kata pendamping program INCIDENT ini. (Edi BW)

Kopi Spesial dari Rutujeja masuk pasar UKM Pelita Tananua Read More »

Para Ibu Desa Detumbewa menghidangkan hasil olahan pangan lokal. Maria Elsin paling kiri tampak depan. Foto:EK

Pejuang Pangan Perempuan untuk Gizi Seimbang Anak-anak Detumbewa

Ende, Tananua Flores| Catatan sejarah Ende Lio mengisahkan dengan jelas perjuangan Pahlawan Marilonga. Marilonga berasal dari Detukeli, Desa Watunggere. Kisah historis itu nampak jelas dalam Benteng Marilonga, suatu benteng pertahanan melawan bangsa Belanda. Narasi heroik untuk merebut kemerdekaan tampak dalam puing-puing benteng dalam rupa tumpukan batu.

Kini ada kisah perjuangan dari satu desa di Detukeli, Desa Detumbewa dalam membebaskan masyarakat dari masalah kekurangan gizi. Dari Desa Detumbewa hadir sosok seorang pejuang pangan yang dengan tekun dan setia berkarya memenuhi kebutuhan gizi anak.  Dialah Maria Elsin (24) seorang perempuan di Dusun Serofai, Desa Detumbewa  yang penuh semangat bertekad untuk mengentaskan masalah kekurangan gizi di desanya. Ibu dari Aprilio (5) ini Sehari-hari ia bekerja sebagai ibu rumah tangga. Di sela kesibukannya, ia aktif sebagai Kader Posyandu dan dipercayakan sebagai Sekretaris BPD (Badan Permusyawaratan Desa) di Desa Detumbewa. Istri dari Yohanes ini pernah mengalami kesulitan lantaran anaknya mengalami kekurangan gizi. Anak aprilio menderita gizi buruk karena tidak menyukai sayuran dan kerap mengonsumsi kue (snack) yang mengandung pengawet dan pewarna. Namun berbekalkan pengetahuan yang diperoleh dari Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores dan Bidan Desa anak menjadi sehat dan kuat. Setiap hari Elsin menyedikan makanan yang bergizi seimbang untuk putranya.

Perkedel, Saus dan Kroket Ubi Kayu hasil olahan para ibu di Desa Detumbewa. Foto: EK

Pengalaman memulihkan kesehatan anaknya dari masalah gizi buruk ini membuat Elsin aktif Bersama pemerintah Desa, Bidan Desa, Pendamping Tananua, Kader Posyandu dan KPM (Kader pembangunan Manusia) mensosialisasikan tentang makanan yang bergizi seimbang bagi Balita.  Mereka secara bergilir melakukan kunjungan ke 4 dusun di Detumewa untuk mengajarkan cara  mengolah pangan lokal seperti pisang, singkong, keladi, kacang-kacangan serta sayur-sayuran. Bahan pangan itu diolahan secara kreatif menjadi bakwan sayur, kroket ubi kayu ( terbuat dari bahan dasar singkong dan sayur-sayuran),  talam labu  (talam yang terbuat dari buah waluh kuning ), paha ayam (terbuat dari singkong). Makanan sehat nan bergizi tinggi itu kemudian dibagikan kepada ibu hamil dan balita. Kegiatan  Pemberian Makanan Tambahan (PMT)  ini berlangsung setiap bulan di setiap dusun. Maria Elsin berhasil menjadi motivator bagi para ibu di Detumbewa untuk selalu menyediakan makanan yang sehat dari pangan lokal bagi keluarga. Keluarga bisa sehat dan sejahtera berkat pangan lokal, kata Elsin.

Anak-anak Dusun Serofai mendapat makanan tambahan bergizi dari hasil olahan pangan lokal. Foto: EK

Desa Detumewa terletak di wilayah utara Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende, Flores, NTT. Perjalanan menuju  desa ini ditempuh sejauh 65 Km dari kota Kabupaten Ende. Warga Desa maupun para tamu yang hendak menuju Detumbewa dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sepanjang jalan terdapat area persawahan yang eksotik. Tatapan mata akan dimanjakan oleh hijaunya tanaman kemiri dan kopi, serta semarak hutan pinus di Hutan Wisata Kebesani di puncak Kajundara. Sejuknya hutan wisata Kajundara menjadi pertanda bahwa Desa Detumbewa sudah semakin dekat.

Penduduk Detumbewa berjumlah  490 Jiwa dengan  117 KK, laki-laki 256 jiwa dan perempuan 234 jiwa (Data Desa Detumbewa Agustus; 2021). Sekitar 90 persen warga berprofesi sebagai petani lahan kering. Mayarakat hidup dari mengolah tanaman pangan dan tanaman umur panjang. Tanaman pangan yang dibudidayakan seperti padi, jagung, umbi umbian, kacang-kacangan, dan pisang. Selain itu para petani juga memiliki tanaman umur panjang seperti kemiri, kakao, dan jambu mete. Hasil dari tanaman pangan digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, sedangkan hasil penjualan  tanaman umur panjang digunakan untuk menunjang kebutuhan jangka menengah seperti biaya kesehatan, pendidikan anak, dan juga biaya-biaya sosial.

Ketersediaan pangan di Desa Detumbewa terbilang cukup. Disini masih terdapat masalah pemenuhan gizi keluarga, terutama gizi balita.  Penyebabnya adalah pola asuh yang salah serta kurangnya pengetahuan orang tua balita tentang makanan bergizi. Menurut penjelasan dari Kementerian Kesehatan penyebab masalah gizi buruk dan stunting antara lain rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktek pemberian makan bayi dan anak, dan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih (Izwardy, 2018).

Anak pada usia dini membutuhkan gizi yang seimbang untuk tumbuh kembangnya, terutama pada perkembangan otak. Pada usia emas (golden age) 0-6 tahun menjadi masa yang penting dan membutuhkan perhatian dari seorang ibu. Nutrisi yang seimbang menjadi faktor penting dalam proses tumbuh kembang anak. Makanan yang bernutrisi adalah makanan yang tidak mengandung pengawet, pewarna buatan dan pemanis buatan. Anak yang sehat mengonsumsi makanan yang bergizi. Nutrisi yang seimbang bergantung pada tingkat kualitas dan kuantitas makanan. Pada masa pertumbuhan anak membutuhkan konsumsi pangan yang cukup dan bergizi seimbang. Komponen pangan dengan gizi yang seimbang mengandung karbohidrat, protein, lemak, air, vitamin, mineral dan serat  (Badan POM RI, 2013).

Penulis: Emilia Kumanireng

Editor: Edi Woda

.

Pejuang Pangan Perempuan untuk Gizi Seimbang Anak-anak Detumbewa Read More »

Lokakarya Internal: Satu Hati, Pikiran, Spirit, dan Gerakan

Ende, Tananua Flores| Yayasan Tananua Flores (YTNF) sukses menyelenggarakan Lokakarya Internal Penguatan Organisasi. Lokakarya ini mengusung tema: Satu hati, Pikiran, Spirit dan Gerakan. Lokakarya dibuat untuk menjaga keutuhan Tananua Flores sebagai rumah bersama
Lokakarya ini berlangsung di Rumah Bina Kerahiman Ilahi Jl. Eltari Ende pada tanggal 30 Juni 2022. Lokakarya ini berlangsung alot sejak pukul 08.00-17.00 WITA.

Pembina Yayasan Tananua Flores P. Charles Beraf, SVD memaparkan materi Lokakarya. Foto: Juan Mari

P. Chaerles Beraf SVD, Pembina YTNF memimpin perayaan Ekaristi Pembuka pada Lokakarya ini. Dalam kotbahnya Pater menekankan pentingnya iman dan komitmen dengan tindakan nyata demi perubahan dan Transformasi dalam diri kita dalam menjalankan misi di Tananua ini.
YTNF sebagai organisasi Nirlaba terus berkembang dalam karya dan kerja bersama masyarakat. Lokakarya ini hendak mengoptimalkan organ YTNF baik dalam program maupun sumber daya.

Lokakarya ini bertujuan untuk menguatkan kelembagaan YTNF. Ibu Yulita Eme, Dewan Pembina YTNF mengemukaan bahwa lokakarya ini terbingkai dalam 3 H (Head, Hearth dan Hand). Setiap anggota YTNF baik yang ada di lapangan maupun yang ada di kantor dapat menyamakan pikiran, menyatukan hati, dan menyelaraskan gerakan atau tindakan untuk mencapai tujuan.

Ketua STPM Ende ini menambahkan bahwa moment ini menjadi kesempatan yang baik untuk mengenal Tananua. Tananua memiliki semangat untuk memberdayakan masyarakat. Untuk semakin berkembang masing-masing elemen menjaring kekuatan bersama dalam menjawabi kebutuhan masyarakat.

Ketua Yayasan Tananua Flores Hironimus Pala memaparkan materi Lokakarya. Foto: Juan Mari

Dalam Lokakarya ini dipaparkan pelbagai perkembangan YTNF berkaitan dengan rencana kegiatan dan pelatihan, Keadaan Staf dan infrastruktur, Penyampaian data organisasi, pengelola program dan donatur serta kegiatan badan pengurus.
Para Pemimpin dan Staf YTNF disatukan oleh visi dan misi yang sama. Sebagai pekerja sosial ada spirit yang menggerakan menuju satu tujuan. Bekerja bukan untuk diri sendiri tetapi bekerja melampaui ego untuk karya yang lebih luas. Dari Aku ke kita dari yang profesional ke yang Vokasional. P. Charles Beraf Menambahkan bahwa Visi Kita harus kuat untuk bekerja keras untuk orang yang terpinggirkan.
Ketua YTNF menambahkan bahwa pekerjaan yang dilakukan menjadi bagian dari aktualisasi diri untuk membuat orang terpinggirikan tersenyum.

Dalam Kesempatan yang sama Direktur YTFN Bernadus Sambut membagikan pengalaman ketika berkarya di YTNF. Spirit Tananua adalah bagian dari diri kita. Ambisi pribadi menjadi tantangan dalam kepengurusan. Agar lembaga ini berkembang pekerjaan dilakukan dengan penuh cinta dan senang hati.
Sebagai Organisasi Nirlaba YTNF perlu memikirkan sumber pendapatan lain. Lembaga donor hanya membiayai program. Dengan perluasan pelayanan masyarakat keberlangsungan YTNF akan tetap eksis.

Pranatacara Hery Se, mengarahkan jalannya acara Lokakarya. Foto: Juan Mari

Lokakarya ini menghasilkan 17 Rekomendasi yang akan diperhatikan oleh seluruh elemen YTNF baik pembina, pengawas, pengurus, pelaksana pengurus serta Staf UKM Pelita.

Lokakarya yang dilakukan membahas tiga program besar yang dikerjakan YTNF antara lain: Program Livelihood, Program Perikanan dan Kelautan, dan Program INCIDENT.

Lokakarya Internal: Satu Hati, Pikiran, Spirit, dan Gerakan Read More »

Translate »