Tananua Flores Gelar Refleksi Spiritual dan TOT Bagi Relawan Komunitas, Kader Kesehatan serta Orang Muda.

Shere Sekarang

Ende,Detusoko – Tananua Flores | Yayasan Tananua Flores baru-baru ini gelar kegiatan Refleksi Spiritual bagi Relawan Komunitas,Kader Kesehatan serta Orang Muda dalam rangka berkontribusi dan mengembangkan nilai-nilai kearifan lokal untuk mitigasi persoalan pertanian di wilayah kabupaten Ende.

Kegiatan itu  bertempat di Wisma St. Fransiskus Detusoko yang diselenggarakan selama dua hari, dari tanggal 20 – 21 juni 2024. Peserta yang terlibat 75 orang dari utusan 23 desa terdiri dari Relawan Komunitas , Kader Kesehatan, Orang Muda dan Staf Tananua dalam Program  Livelihood Sustainable.

Kegiatan ini   cukup menarik karena mengangkat tema Bersiap, Berbagi Peran Dan Berkontribusi Merawat Dan Mengembangkan Komunitas Bersama Yang Mandiri Dalam Gerakan Laudato Si.

Elias Mbani dari Badan Pengurus Tananua Flores mengapresiasi terhadap Tim kerja Tananua Flores yang telah menginisiasi kegiatan refleksi Spiritualitas  dan menghadirkan Peserta dari desa -desa dampingan Tananua.

Menurutnya, bahwa kegiatan Refleksi tersebut merupakan salah satu cara dalam menumbuh kembangkan Nilai-nilai kehidupan sosial serta dapat menemukan Spirit dalam membangun desa dengan pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni.

“Konsep, pemikiran dan keterampilan perlu didorong dan dikembangkan dalam membangun Desa serta memperbaiki sistem pertanian yang berdaya saing, sehingga kita tidak tergilas oleh perkembangan kemajuan teknologi ini,”katannya.

Sambung Elias “Dunia saat ini perkembangannya cukup cepat dan kita sebagai generasi muda dan petani-petani muda harus turut terlibat dan memanfaatkan teknologi itu, dan kita harus mempertahankan nilai-nilai Spiritual untuk memposisikan diri kita sebagai pelaku dalam perubahan-perubahan di desa”, tuturnya.

Sementara itu dalam Homili RD. Agustinus W. Wangga, menegaskan konsep Bonum commune/kebaikan bersama dan sekurang-kurangnya ada tiga landasan spirit yang harus dimiliki oleh setiap peserta yakni Relasi antara sesama relawan,komunitas,alam semesta dan Tuhan pencipta.

Kata RD Agustinus “ Tiga landasan spirit tersebut merupakan Inti yang harus dipegang dan membangun masyarakat di pedesaan dengan melihat kondisi saat ini”,ujarnya.

Romo Agustinus mengungkapkan dalam Khotbahnya Tugas seorang pendamping dan Relawan Komunitas adalah tugas yang sangat mulia di mana dia memberikan segala pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki kepada orang lain, dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Dia diharapkan mampu mengorganisir dan menggerakkan masyarakat dalam membangun kelompok dan desanya.

Lanjut Romo itu, bahwa dalam Ensiklik Paus Laudato Si, Bapa Paus mengajak kita sekalian umatnya untuk membangun relasi yang baik antar sesama manusia dan lingkungan yang didiami. Kita semua diberi tanggung jawab untuk menjaga dan merawat bumi ini dari kerusakan lingkungan. Perubahan iklim dan cuaca yang semakin ekstrim menuntut kita agar tanggung jawab bersama untuk melindungi alam ini dari kerusakan.

Baca Juga : Catatan Refleksi Spiritual

Dok.Tananua Flores

Kilas Balik Kerja Pemberdayaan oleh Tananua

Yayasan Tananua Flores merupakan salah satu LSM yang ada di wilayah Kabupaten  Ende dan kiprahnya telah teruji sejak tahun 1989 bersama masyarakat Desa dalam kerja-kerja pendampingan dan Pemberdayaan.

Dalam kerja mendampingi  masyarakat di daerah pedesaan telah menemukan berbagai macam situasi yang oleh masyarakat di desa yang sebagian besar berprofesi sebagai Petani.  Berbicara tentang Petani adalah pemberi kehidupan bagi banyak orang. Petani merupakan salah satu tiang penopang dalam membangun bangsa dan negara serta kehidupan masyarakat yang tinggalnya di kota-kota. Tanpa Petani tentu dalam kehidupan ada yang pincang. Saat ini Para Petani harus kuat dan harus berkembang. Salah satu kekuatan yang harus dibangun adalah dengan menggabungkan diri dalam kelompok-kelompok Tani serta melakukan kegiatan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang ini dicapai.

Kelompok Tani menjadi salah satu alat untuk merawat dan mewujudkan nilai-nilai kearifan lokal  dalam mengatasi persoalan Pertanian, Kesehatan dan juga pembangunan  yang ada di desanya.

Komunitas atau Kelompok bukan hanya sebagai wadah kerja tetapi belajar dan berusaha bersama. Dengan semakin berkembangnya peran dan fungsi kelompok, orang muda diharapkan ada peningkatan pengetahuan dan keterampilan anggotanya.

Diharapkan dengan pengetahuan yang  dimiliki dapat membantu kader Desa dalam membangun komunitas atau kelompok di desanya.

Situasi saat ini dengan perkembangan teknologi banyak tantangan yang dihadapi  salah satunya adalah, kurangnya minat orang  muda dalam mencintai dunia pertanian, padahal dunia pertanian telah mengajarkan banyak hal dan sumber pengetahuan ada di dunia pertanian .

Di Sisi yang lain saat ini banyak orang mencintai profesi petani semakin berkurang, bagi  sebagain orang mereka menganggap petani adalah profesi yang identic dengan lumpur dan tanah padahal Petani adalah suatu profesi yang sangat mulia  yang memberikan kehidupan bagi banyak orang. Kondisi hari ini banyak orang muda memilih meninggalkan desanya dan merantau keluar daerah.

Yayasan Tananua Flores dalam meluncurkan program Pemberdayaannya didukung MISEREOR Jerman, dengan kerja sama itu poin penting yang menjadi modal keberlanjutan adalah melakukan kegiatan Refleksi Spiritual bagi Relawan Komunitas, Kader Kesehatan dan Orang Muda.

Kontributor,

Emilia L. Kumanireng

Tananua Flores Gelar Refleksi Spiritual dan TOT Bagi Relawan Komunitas, Kader Kesehatan serta Orang Muda. Read More »

90an Petani dari Enam Desa Kunjungan Belajar ke Desa Detubapa

Shere Sekarang
Diskusi Bersama terkait dengan Isu pertanian

Ende, Tananua News| Sebanyak 90 orang Petani dari enam Desa kunjung belajar di Balai Beni Hortikultura desa  Detubapa untuk memperdalam pengetahuan mereka dalam bidang pertanian dan perkebunan.

Acara tersebut menjadi momentum penting bagi mereka untuk menggali teknik-teknik modern dan praktek terbaru yang dapat diterapkan di lahan-lahan mereka.

Kegiatan belajar bersama ini adalah bagian dari Peningkatan pengetahuan dan pemahaman dalam rangka mendorong isu Increasing Resiliency through Climate Change Adaptation and Disaster Risk Reduction in Nusa Tenggara project (INCIDENT) atau Adaptasi Perubahan iklim dan pengurangan Resiko Bencana yang ada di NTT.

Koordinator Program Benyamin Gosa dalam sambutannya mengatakan kegiatan yang didalankan ini merupakan salah satu proses pembelajaran dilapangan dan praktek langsung dalam rangka mitigasi Resiko bencana dan bagaimana petani bisa beradaptasi terhadap perubahan iklim. Jadi, Pendidikan lapangan itu sangat penting dana hari ini bisa bertukar pengetahuan dengan sesama petanin yang hadir pada kegiatan ini.

“Pendidikan di lapangan, seperti yang kita lakukan hari ini, juga memiliki nilai yang sangat penting. Kami berharap kunjungan ini dapat membuka mata dan pikiran kita semua untuk mengadopsi pendekatan baru dalam pengelolaan pertanian,” Ucap Benyamin Gosa Koordinator Program Incident, pada(24/06) di kegiatan tersebut.

Menurutnya, Pendidikan itu tidak seharusnya di rumah , di gedung atapun formal  tetapi pendidikan praktek langsung dilapangan merupakan salah satu proses pendidikan yang lebih terekam dengan baik. Semua sumber pengetahuan ada di alam tinggal bagaimana cara untuk mempelajari dan mempraktekannya.

“ Kita hari ini mempelajari dan sekaligus menciptakan pengelaman baru yang tentu semua orang belum memiliki, oleh karena itu mari belajar bersama untuk pertanian kita akan lebih baik”, terangnya.

Sementara itu Koordinator dari Balai Benih Hortikutura Cerilus Wajo dalam Sambutan menjelaskan dua fokus utama kegiatan mereka: Pertama, pertanian untuk pengelolaan tanaman berumur panjang dan Kedua, perkebunan yang menitikberatkan pada tanaman hortikultura.

“Kami ingin mengajak semua peserta untuk belajar dan saling berbagi pengalaman, sehingga pengetahuan tentang pertanian dan perkebunan dapat semakin diperkaya,” tambahnya.

Kegiatan kunjungan belajar ini dipandu oleh Marcelo Jago, seorang pendamping lapangan yang berpengalaman dalam bidangnya. Peserta dibagi ke dalam dua kelompok besar berdasarkan minat mereka: kelompok minat perkebunan dan kelompok minat pertanian. Masing-masing kelompok ditemani oleh empat orang staf dari Balai Benih Hortikultura Detubapa (BBH Detubapa), yang siap membantu memfasilitasi pembelajaran dan diskusi.

Pengalaman Pertama di Lapangan

Saat petani-petani dari berbagai desa tiba di Lembaga Pertanian dan Perkebunan Detubapa, terlihat kegembiraan di wajah mereka. Bagi banyak dari mereka, ini adalah pengalaman pertama kali mengunjungi sebuah lembaga yang khusus bergerak dalam bidang pertanian dan perkebunan seperti Detubapa. Mereka dibawa melalui tur singkat yang menggambarkan fasilitas dan lingkungan kerja lembaga tersebut sebelum memulai kegiatan inti.

Kedua kelompok besar mulai menerapkan pembelajaran praktis sejak awal. Kelompok minat pertanian terfokus pada tekni-tanam dan pemeliharaan tanaman berumur panjang seperti durian dan kakao. Di bawah bimbingan ahli dari BBH Detubapa, mereka diajarkan teknik sambung pucuk dan perawatan yang tepat untuk memaksimalkan hasil tanaman. Sementara itu, kelompok minat perkebunan berfokus pada budidaya tanaman hortikultura seperti tomat, lombok, dan kopi. Mereka belajar tentang teknik stek tanaman dan strategi pemeliharaan yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman mereka di lahan kecil.

Sesi Diskusi dan Berbagi Pengalaman

Salah satu momen yang paling berkesan dari kunjungan belajar ini adalah sesi diskusi dan berbagi pengalaman antara para petani dan fasilitator dari BBH Detubapa. Petani dengan penuh antusias bercerita tentang tantangan yang mereka hadapi di lapangan, seperti masalah penyakit tanaman dan perubahan iklim yang mempengaruhi hasil panen mereka. Di sisi lain, para fasilitator memberikan wawasan tentang teknologi terbaru dalam pengelolaan pertanian yang dapat membantu mengatasi masalah-masalah tersebut.

Diskusi berjalan dua arah, di mana ide-ide baru tentang inovasi dalam pertanian diperbincangkan. Beberapa petani bahkan menyampaikan ide-ide mereka sendiri tentang penggunaan pupuk organik dan teknik irigasi yang lebih efisien. Ini menunjukkan bahwa kunjungan belajar bukan hanya tentang menerima informasi, tetapi juga tentang membangun komunitas dan jaringan yang mendukung inovasi lokal dalam pertanian.

Penerapan Pengetahuan di Lapangan

Belajar Sambung Pucuk pada Tanaman kakao

Kegiatan selama kunjungan belajar ini tidak hanya berhenti di ruang kelas atau di lapangan demonstrasi. Para petani diundang untuk melakukan praktik langsung di lahan percobaan yang disediakan oleh BBH Detubapa. Mereka diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan langsung teknik-teknik yang baru mereka pelajari, dibimbing oleh para ahli yang siap membantu menjawab setiap pertanyaan dan memecahkan setiap masalah yang mungkin muncul.

Para petani sangat antusias mengambil bagian dalam kegiatan ini, karena mereka menyadari pentingnya mengadaptasi teknologi baru untuk meningkatkan produktivitas tanaman mereka. Beberapa di antara mereka mulai merencanakan untuk menerapkan teknik sambung pucuk pada pohon durian mereka yang sudah ada di desa, sementara yang lain berencana untuk mengubah cara mereka mengelola lahan untuk menanam kopi dan kakao.

Harapan dan Aspirasi ke Depan

Dengan berakhirnya kunjungan belajar ini, harapan dan aspirasi baru muncul di antara peserta. Mereka melihat kunjungan ini sebagai langkah awal untuk mengubah paradigma dalam pertanian lokal mereka. “Saya sangat berterima kasih atas kesempatan ini,” kata salah satu petani, “kami tidak hanya belajar, tetapi juga merasa didukung untuk menerapkan perubahan yang diperlukan di desa kami.”

Para koordinator dan staf BBH Detubapa juga berharap bahwa kunjungan ini dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam meningkatkan kualitas hidup petani-petani lokal. Mereka berkomitmen untuk terus mendukung petani dengan informasi, pelatihan, dan sumber daya yang mereka butuhkan untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Kunjungan belajar ke Detubapa ini bukan hanya sekadar acara biasa, tetapi merupakan momen yang membangkitkan semangat untuk mengembangkan sektor pertanian dan perkebunan di wilayah ini. Dengan kolaborasi antara petani, lembaga pertanian, dan perkebunan seperti Detubapa, diharapkan akan lahir inovasi-inovasi baru yang dapat meningkatkan hasil pertanian dan memperbaiki kesejahteraan petani.

Dalam skala yang lebih luas, kunjungan ini juga menjadi contoh bagaimana pendidikan dan pembelajaran di lapangan dapat memainkan peran penting dalam pengembangan ekonomi pedesaan dan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan pengetahuan dan teknologi yang ada, petani-petani lokal ini dapat menjadi agen perubahan yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan di komunitas mereka.

Sebagai penutup, kunjungan belajar ini tidak hanya meninggalkan jejak dalam bentuk pengetahuan baru, tetapi juga dalam bentuk hubungan yang kuat antara para petani dan lembaga pendukung mereka. Semoga kunjungan ini menjadi awal dari banyak kolaborasi yang menguntungkan bagi masa depan pertanian dan perkebunan di wilayah Kabupaten Ende.

Ditulis oleh : Mikel

90an Petani dari Enam Desa Kunjungan Belajar ke Desa Detubapa Read More »

Yayasan Tananua Flores Gelar Lokakarya Peningkatan Ketahanan Komunitas Melalui Pemenuhan Hak Alam dan Hak Masyarakat

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores | Yayasan Tananua Flores Gelar Lokakarya Peningkatan ketahanan komunitas melalui pemenuhan hak alam dan hak masyarakat sebagai bagian dalam menjaga lingkungan hidup untuk kehidupan berkelanjutan. Gelar Kegiatan lokakarya tersebut di selenggarakan di Aulah Bina kerahiman Ende pada (23/6).

Direktur Yayasan Tananua Flores  Bernadus Sambut dalam kegitan lokakarya tersebut mengungkapkan  saat ini dilihat dari keterbatasan sumber daya manusia daerah hulu kabupaten Ende dalam pengelolaan sumber hidup yang  tidak mempertimbangkan hak-hak lingkungan, yang penting mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya. Dampaknya adalah kerusakan lingkungan (flora, fauna)  perubahan iklim yang tidak menentu dan kemiskinan generasi yang terus terjadi hingga saat ini.

Bernadus juga menjelaskan bahwa sistem perladangan  bagi petani di desa  yang berkaitan erat dengan system adat-istiadat setempat dari waktu ke waktu semakin hilang ,semua itu dibuktikan dengan jenis pangan lokal yang dikembangkan oleh masyarakat/petani didesa semakin berkurang dan bahkan hilang. Kondisi itu terjadi karena lahan untuk pangan  yang seharusnya di atur untuk pangan sudah digantikan dengan menanam tanaman umur panjang (komoditi) untuk memenuhi tuntutan pasar atau industri.

“ Perluh kita ketahui bersama bahwa saat ini lahan pangan kita didesa semakin berkurang dan bahkan hilang, ada sebuah pergeseran sehingga Lahan pangan kita sudah digantikan dengan tanaman Komoditi atau tanaman industri yang kemudian hanya kepentingan industri semata”, jelasnya.

Tidak hanya itu, Konflik Lahan juga semakin kelihatan saat ini baik untuk pembangunan, Kepentingan konservasi untuk pemenuhan hak alam dan pembangunan infrastruktur.

Saat ini Tananau flores dalam hal mendampingi masyarakat di desa  telah meluncurkan program -program untuk keberlanjutan lingkungan dan salah satu yang di gagas saat ini adalah  Program Meningkatkan ketahanan komunitas masyarakat  untuk kerja pemenuhan hak alam dan hak masyarakat demi tujuan keberlanjutan.

Tananua Flores menyadari bahwa saat ini masyarakat harus didorong dan didampingi dalam kaitan dengan kerja-kerja pengelolaan sumber daya alam  baik pengambilan hasil maupun menjaga kelestarikan alam. Tananua juga mendorong Masyarakat didesa harus ada ketersediaan lahan pangan sehingga masyarakat didesa tidak selalu bergantungan dengan tanaman industri semata.

Selain itu dari Pengurus Yayasan Tananua Flores Halima Tus’ dyah  dalam penjelasanya mengatakan bahwa program yang akan di kerjakan selama 3 tahun itu adalah 6 desa.

Katanya, Program Peningkatan Ketahanan Komunitas melalui Pemenuhan Hak Alam dan Hak Masyarakat itu dengan tujuan penguatan kapasitas manusia dalam pengelolaan hak alam dan hak masyarakat, Mendorong untuk pengelolaan secara partisipati pada wilayah kelolah, Tata kelola Inlusif artinya simpul-simpul Kekuatan ekonomi di desa diperkuat dan Pengembangan ekonomi masyarakat yang tekanannya pada Pangan dan hasil – hasil sumber daya lainnya.

Halimah juga menuturkan, yang menjadi capaian bersama kedepannya adalah Peningkatan pengetahuan sikap dan keterampilan masyarakat terbangun, Meningkatnaya pemanfaatan potensi sumber daya alam secara aktif untuk pemenuhan pangan dan ekonomi rumah tangga. Mengembang dan mengelola area kawasan yang lebih menjawab kepada kebutuhan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan.

“ kita ingin kedepannya Kapasitas sumber daya Manusia didesa terbangun, ada sistem tata kelola kekuatan ekonomi desa itu ada sehingga dampaknya bisa secara partisipatif mengelola dan memanfaat sumber daya yang ada didesa”, Tuturnya.

Hak Masyarakat terhadap Lingkungan/Alam

Tananua juga Mendorong agar Masyarakat Desa juga memahami terkait dengan hak masyarakat terhadap lingkungan. Hak masyarakat terhadap lingkungan itu telah diatur dalam pasal 65 dan 66 Undang-Undang Republik Indonesia No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Berikut isinya: Pasal 65 Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia.

Pertama Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup, akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Kedua, Setiap orang berhak mengajukan usul dan/atau keberatan terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.

Ketiga, Setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Ke empat Setiap orang berhak melakukan pengaduan akibat dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.

Dengan amanat UU tersebut dalam Kegiatan Lokakarya yang di inisiasi oleh Yayasan Tananua tersebut cukup mendapatkan respon yang sangat baik dari pemerintah desa  sasaran program.  Lokakarya Awal merupakan titik permulaan yang baik untuk mensinergiskan Program dari Tananua dan Program yang ada di desa, menggali informasi yang ada didesa dan membangun kesepakatan bersama dengan pemerintah desa sasaran program.

Kepala desa Tonggo papa Yohanes Rhengi Roga mengucapkan terimah kasih kepada tananua flores yang telah memilih 6 desa menjadi desa sasaran program pendampingan Tananua Flores.

Menurutnya ada beberapa persoalan desa dalam pengelolaan  sumber  Daya Alam dan ekonomi  masih sangat minim sehingga butuh bantuan dari mitra lain dari luar untuk membantu.

“kami pemerintah desa yang mewakili masyarakat kami mengucapkan terimah kasih banyak atas pelibatan desa kami menjadi desa dampingan Tananua,”katannya.

Para Kepala desa itu berharap kedepannya dalam menjalankan kegiatannya akan membangun kolaborasi bersama untuk memenuhi apa yang menjadi cita-cita dan kesepakatan bersama. Program itu sangat baik dan hal itu yang menjadi kebutuhan di desa dan masyarakat desa.***

 

Ditulis Oleh : Jhuan Mari

Yayasan Tananua Flores Gelar Lokakarya Peningkatan Ketahanan Komunitas Melalui Pemenuhan Hak Alam dan Hak Masyarakat Read More »

Jaga Lingkungan kita, Siapa yang menguasai Benih Pangan Dialah yang menguasai Sumber Penghidupan

Shere Sekarang
Doc. Presentasi Kadis Ketahanan pangan

Ende, Mbobhengga, Tananua Flores | Siapa yang menguasai benih pangan dialah yang menguasai sumber penghidupan. Pangan adalah harga diri, karena pangan merupakan sumber utama manusia hidup. 

Berkaca pada sejarah masa lampau yang bercocok tanam dan menjaga benih adalah nenek moyang/leluhur kita . Mereka menyimpan benihnya di lumbung-lumbung. Sehingga ketika musim tanam, mereka akan ambil benih itu kemudian menanam kembali. 

Itulah kutipan penjelasan Ketua pengurus Yayasan Tananua Flores Hironimus Pala ketika awal membawakan materi  pada kegiatan pertemuan semesteran petani dan nelayan di desa Mbobhenga pada (sabtu 10/12/2022). 

Menurutnya bahwa saat ini petani sudah Enggan menguasai lagi benih, dan bahkan pangan lokal yang menjadi sumber insani bagi petani itu sendiri sudah mulai hilang. Banyak petani sudah dimanjakan dan ketergantungan kepada pangan hasil rekayasa genetika yang datang dari bantuan-bantuan dari pihak ketiga. 

Saat ini petani memahami pangan itu hanya sebatas pada di kebun ladang dan sawah, mungkin saja hanya beberapa jenis. Padahal, yang diwariskan oleh  leluhur dan hasil hutan begitu banyak. 

“ kita petani saat ini ketergantungan pada benih bantuan, dan menghilangkan benih lokal kita sendiri. Perbedaan antara benih bantuan dan benih lokal itu sangat jauh berbeda, Benih lokal jika ditanam hasilnya cukup berbeda dengan benih yang datang dari bantuan.  Benih bantuan jika ditanam ketergantungan lagi pada pupuk dan hasilnya pun harus selesai digunakan, tidak bisa simpan dengan jangka waktu yang lama”, jelas Hiro. 

Lebih jauh ketua Pengurus Tananua itu mengungkapkan bahwa realitas sekarang yang terjadi  adalah petani di desa banyak sekali alih fungsi lahan, dari kebun tanaman pangan di alihkan menjadi kebun komoditi dan lain-lain. Untuk benih pangan dan pengembangan pangan sudah tidak lagi diperhatikan lagi oleh petani-petani yang ada di desa. Hampir sebagian besar, bibit pangan lokal di desa sudah mulai hilang dan petani sudah mulai ketergantungan kepada benih hibrida. 

“ Kita petani di desa- desa sudah mulai ketergantungan pada benih hibrida, tidak lagi pada benih lokal kita sendiri, Puluhan bibit benih pangan lokal tidak lagi dikembangkan, dan wajar jika situasi krisis pangan maka kita sudah mengalami gangguan”, ujarnya.

Menoleh sedikit terkait situasi pangan dunia, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menilai angka krisis pangan cukup mengkhawatirkan. Diperkirakan 179 sampai 181 juta orang di 41 negara akan menghadapi krisis pangan. Namun ada hal yang lebih mengerikan lagi, adanya aspek yang sering luput dari perhatian, yakni krisis pupuk.

“Ini menjadi masukan bagi peserta untuk melihat apa dampak krisis pupuk bagi ketahanan pangan ke depan, di tahun-tahun depan, karena dari data yang kita peroleh, krisis pupuk ini kalau tidak di address, maka tahun depan dampaknya akan dapat memicu krisis beras,” kata Menlu Retno di jakarta pada Selasa, (11/10/2022).

Berbicara mengenai krisis beras, maka akan terkait dengan dua milyar orang yang sebagian tinggal di Asia. Itu bagian pertama bahwa inilah situasi dunia saat presidensi Indonesia dijalankan.

Krisis pangan, energi, keuangan dengan cepat menjadi bagian dari realitas dunia dan Rusia serta Ukraina memiliki posisi yang cukup penting dalam rantai pasok pangan dan energi global. Sehingga, lonjakan harga pangan dan energi tidak dapat dihindari akibat perang antara Rusia dan Ukraina.

Indeks harga pangan naik 20,8 persen dari tahun sebelumnya dan sempat mencapai titik tertinggi pada Maret 2022. Harga minyak mentah menembus angka 12USD per barel. Harga energi meningkat 50 persen dibanding tahun lalu. Di Eropa, harga gas bahkan meningkat 10 kali lipat jika dibandingkan tahun 2022. Sementara pupuk dunia meningkat 2 kali lipat dibandingkan rata-rata sepuluh tahun belakangan ini.

Dari situasi tersebut di atas Pertemuan semesteran Petani dan nelayan yang diselenggarakan di Desa Mbo bhenga menjadi sebuah langkah agar petani dan nelayan harus memulai menjaga benih pangan dan mulai kembali kembangkan pangan lokal. 

Sementara itu, kepala dinas ketahanan pangan kabupaten Ende Mathilda G. Ilmu menuturkan” mulai saat ini harus membangun gerak bersama untuk mengembangkan kembali pangan lokal,di kabupaten Ende sendiri banyak sekali pangan lokal yang kita miliki mulai dari yang kita sendiri budidaya ataupun dari hasil hutan. 

Kepala Dinas Ketahanan pangan menyadari bahwa saat ini Petani jauh sekali untuk mengembangkan pangan lokal, sehingga gerakan untuk memulai kembali perlu dilakukan. 

Kata Mathilda kadis ketahanan pangan, “selain persoalan pangan kita juga diperhadapkan dengan pola konsumsi yang serba instan, makanan yang berasal dari pangan lokal kita sendiri tidak lagi dikonsumsi. Padahal, makanan dari pangan lokal mempunyai nutrisi yang gizi sangat tinggi tidak mengandung zat-zat kimia dan lainnya”. 

Kabupaten Ende saat ini sedang mendorong peraturan daerah terkait dengan penyelenggaraan pangan. Produk hukum ini dibuat agar benih pangan lokal dari petani dilindungi dan juga petani harus mempunyai lumbung benih. 

Kedepannya, “ jika perda ini sudah ditetapkan, maka produk pangan lokal harus dikembangkan kembali oleh petani,” tegasnya. 

 

Oleh : Jhuan Mari. 

Jaga Lingkungan kita, Siapa yang menguasai Benih Pangan Dialah yang menguasai Sumber Penghidupan Read More »

Pemdes Persiapan Maurongga Gandeng ACIL dan Tananua Gelar Pelatihan Pengolahan Sampah Plastik

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores| Lingkungan bersih, laut bersih itu semua adalah tanggung jawab semua unsur di wilayah kabupaten Ende. Sampah Plastik saat ini menjadi momok yang membuat pemandangan tidak indah di pandang mata, karena sampah berserakan dimana-mana.

Bebicara terkait dengan Masalah sampah kali ini Pemerintah Desa persiapan Maurongga Gandeng Tananua dan Acil Ende untuk selenggarakan Pelatihan pengolahan Sampah Plastik yang bernilai Ekonomis. Kegiatan tersebut diselenggarakan selama 2 hari yang dimulai dari Maurongga di hari pertama dan sekretariat ACIL Ende di hari kedua. Peserta yang terlibat di kegiatan itu terdiri dari kelompok dasawisma Maurongga dan kelompok perikanan di lingkungan Arubara,kelurahan Tetandara ende.(23/8)

Umar Hamdan Pimpinan ACIL Ende dalam kegiatan pelatihan itu mengatakan  bahwa Sampah plastik yang  dihasilkan dari rumah tangga berkisar 110 ton Per Hari itu terdiri dari sampah anorganik (sampah plastik).

“Kami Secara lembaga mendorong semua stakeholder bahwa masalah Sampah bukan masalah perorangan melainkan masalah bersama,  saat ini Sampah Plastik bukan lagi masalah lokal tetapi sudah menjadi isu Dunia”ujar Hamdan ketua ACIL Ende.

Kegiatan yang digelar oleh Tananua dan pemerintah desa ini agar kelompok dasawisma bisa memanfaatkan sampah plastik menjadi peluang usaha baru dalam peningkatan ekonomi rumah tangga.

” Saat ini masalah Sampah harus menjadi masalah kita bersama, dan untuk meminimalisir juga kita sendiri,apalagi dengan mengolah sampah sekarang juga bisa mempunyai pendapatan”, katanya

Selain itu dia juga menjelaskan bahwa ACIL sendiri sudah mulai bergerak dengan melakukan pengolahan Sampah Plastik sejak tahun 2013.

Menurutnya ACIL Ende bahwa banyak orang merasa Sampah Plastik yang kotor dan  terbuang itu sudah tidak dimanfaatkan lagi namun saat ini sampah plastik yang dibuang sudah punya nilai ekonomis.

Sedikit melihat kembali ke belakang Kantong plastik pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh ilmuwan asal Swedia, Sten Gustaf Thulin pada 1959 oleh. Awalnya, kemunculan kantong plastik bertujuan sebagai media pengganti kantong kertas yang proses produksinya dianggap mengancam keberlanjutan alam.

Seiring dengan berjalannya waktu, saat ini kenyamanan dan kepraktisan membuat kantong plastik menjadi sampah yang menumpuk. Orang-orang sering memakai kantong plastik sekali lalu membuangnya, tidak lagi menggunakan kantong plastik berulang kali.

Perjalanan dalam pemanfaatan barang plastik semakin tinggi disaat Perang Dunia II berkecamuk, industri plastik sintetis sedang dalam titik puncak produksi karena adanya tuntutan untuk melestarikan sumber daya alam. Dengan demikian, produksi alternatif sintetis menjadi prioritas.

Sekarang ini Plastik sudah tidak lagi menjadi solusi tetapi sudah sebuah masalah, optimisme terhadap kantong plastik dinilai berlebihan. Kantong plastik dan produk yang berkemasan plastik tak lagi dipandang positif dan solutif, terutama setelah puing-puing plastik menjadi lautan sampah.

Nah, dengan gambaran itu maka menjadi tujuan dari kegiatan tersebut adalah mendorong masyarakat desa persiapan Maurongga agar bisa memanfaatkan sampah plastik sebagai peluang baru untuk sumber pendapatan ekonomi. Sehingga plastik sampah yang dianggap sebuah masalah tetapi dengan mengolah kembali bisa mendapatkan pendapatan.

” Ya saat inikan sampah yang kotor tentu semua orang merasa tidak mempunyai nilai, tetapi kami sudah membuktikan sampah plastik yang kotor dan terbuang juga memiliki nilai ekonomis”, Ungkap Hamdan.

Lanjut dia bahwa jika semua orang membuang sampah plastik tidak pada tempatnya maka sampah tersebut akan membawa penyakit baru yang saat ini banyak dialami masyarakat.

Kegiatan pelatihan pilah pilih sampah untuk kelestarian tersebut diawali dengan cleaning up(pemilahan sampah) yang dipimpin oleh sekretaris desa persiapan Maurongga.

Kepala Desa Maurongga yang diwakili oleh sekretaris Desa Muhamad Nuhu mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada ACIL Ende dan Tananua Flores yang telah memberikan perhatian khusus kepada warga desa persiapan Maurongga.

Katanya ACIL telah memberikan peluang usaha baru bagi masyarakat jika mau konsentrasi menangani masalah Sampah, jujur di wilayah kecamatan Nangapanda tidak ada yang mulai usaha dengan barang -barang kotor.

Dalam gerakan menjaga lingkungan hidup dan kelestarian lingkungan ACIL Ende telah bekerja sama dengan pemerintah kabupaten Ende, lembaga pendidikan dan juga lembaga kesehatan untuk menangani masalah Sampah. Namun, hal itu masih belum banyak memberikan dampak yang positif. Masih sebagai besar yang belum merasa bahwa sampah bukan menjadi sebuah masalah.

Sampah tidak lagi menjadi masalah baru melainkan masalah yang harus ditangani secara bersama dan itu semua harus mulai dari Rumah.

Kata pimpinan ACIL Ende bahwa Bahaya membuang sampah sembarangan tempat khusus sampah plastik akan mendatangkan penyakit yang sadar tidak sadar selama ini dialami oleh masyarakat dan kita semua.

Selain itu, Sampah mengancam kelestarian lingkungan Laut akan tercemar, banjir, ekosistem laut jadi rusak dan muncul penyakit baru.

“Bahaya sekali kalau kita membuang sampah tidak pada tempatnya, karena itu bisa menimbulkan dampak pada kesehatan dan juga akan merusak ekosistem yang ada di laut”, katanya.

Lebih jauh lembaga yang menangani masalah Sampah di Ende menjelaskan bahwa sampah plastik akan hilang dan hancur 500san tahun dan itu memakan waktu cukup lama. Ada Jenis sampah styrofoam yang terbuat dari gabus  bisa hancur 1000an tahun,” Kata mereka.

Sementara itu Heribertus Se manager program Yayasan Tananua Flores menuturkan bahwa Tananua Flores secara lembaga konsen terhadap masalah Sampah. Dorongan Tananua adalah konservasi dan kelestarian lingkungan hidup baik area laut maupun darat.

Pria yang keseharian bergelut dengan masyarakat desa itu mengatakan pihak lembaga yayasan Tananua akan terus mendorong dan mendampingi masyarakat untuk terus menjaga lingkungan.

Persoalan sampah plastik agar pelan-pelan berkurang harus mulai dari diri rumah tangga kita masing -masing sebab pemahaman terkait penanganan sampah harus di bangun dari keluarga, dan Persoalan Sampah saat ini menjadi permasalahan yang harus menjadi fokus untuk diperhatikan semua orang. Selain itu untuk Kabupaten Ende persoalan sampah sudah menjadi masalah setiap tahun yang terus menerus dibicarakan.

Penulis : JF

Editor : Jhuan Mari

Pemdes Persiapan Maurongga Gandeng ACIL dan Tananua Gelar Pelatihan Pengolahan Sampah Plastik Read More »