Adat adalah bagian dari Jati Diri

Ende, Wologai- Tananua  Flores |Komunitas adat Ngamu Zangga merupakan salah satu komunitas adat  yang berada di wilayah utara  desa wologai kecamatan Ende kabupaten Ende.  Jarak  tempu menuju komunitas itu sekitar 40 km dari kota kabupaten Ende. Komunitas adat ini  mempunyai kawasan hutan adat. Perjalanan dari kota Ende menuju komunitas  ini terbilang menarik karena bertepatan dengan momen adat Desa Wologai yakni Pati ka tana seti Uta watu (memberi makan para leluhur) di sebuah komunitas adat.

Nama Komunitas adat ini adalah Tanah Ngamu Zangga Ledaseko. Acara ini merupakan perayan syukur sehingga di sana kita bisa melihat anggota suku adat (Fai Walu Ana Kalo) membawa hasil usaha mereka berupa ayam, arak, dan beras (Moke Boti are wati) kepada pemangku adat (Mosa laki) yang kemudian akan dimasak dan diberikan kepada para leluhur. Nuansa sukacita serta kekeluargaan sangat dirasakan dalam momen ini. Desa Wologai serta keunikannya mengantarkan penulis untuk melukisnya dalam tulisan ini.

Wologai dan adat yang menjiwai kehidupan mereka

Ada beberap hal menarik yang hendak diuraikan dalam tulisan ini pertama terkait Wologai dan adat yang menjiwai kehidupan mereka. Sekilas seremonial adat memberi makan para leluhur memang bukan hal asing untuk beberapa komunitas adat di wilayah Kabupaten Ende. Namun, terbilang asing bagi beberapa generasi saat ini karena ada beberapa daerah memang tidak memiliki tradisi ini lagi sehingga mereka hanya menjumpainya pada perayaan di komunitas-komunitas lain.

Pati Ka Tana Seti Uta Watu (Memberi makan leluhur) bagi masyarakat adat Wologai khususnya bagi Suku Tanah Ngamu Zangga Ledaseko merupakan bentuk luapan rasa syukur masyarakat adat Wologai atas campur tangan para leluhur dalam setiap usaha dan kerja mereka dalam mengelola kebun/ladang yang wajib dilakukan setiap musim panen dan juga musim awal menanam ( Kornelis Keta, Mosalaki Tana Ngamu Zangga Ledaseko).

Oleh karena itu hal ini selalu dijalankan dengan penuh syukur dan sukacita oleh masyarakat  adat Tana Ngamu Zangga Ledaseko. Di sisi lain perayaan syukur ini juga menjadi momen komunal di mana semua anggota komunitas berkumpul dan dipanggil namanya satu demi satu untuk mempersembahkan hasil ladang mereka.  Persembahan yang dibawah adalah hasil kebun berupa beras, arak dan ayam dari hasil peliharaan.

Upacara memberi makan leluhur menjadi ruang musyawarah keluarga dalam memecahkan persoalan pangan serta berbagai rencana untuk musim tanam pada tahun berikutnya. Siklus ini dijalankan dan diwarisi secara turun-temurun.

Berbagai filosofi dan kearifan lokal dalam menjaga dan mengolah ladang digemakan dan dipertegas dengan tujuan agar dalam mengelolah ladang masyarakat tidak melupakan nilai-nilai penting menjaga lingkungan mereka. Nilai- nilai yang dibicarakan itu antara lain, setiap anggota komunitas diwajibkan untuk menanam tanaman pangan seperti padi dan jagung ataupun jenis pangan lokal lainnya.

Saat musim menanam setiap suku diwajibkan untuk melakukan aktivitas menanam dan berbagai nilai lainnya dalam mengolah dan menjaga lingkungan. Upacara ini diakhir dengan memberi makan leluhur oleh ketua adat dan juga makan bersama semua anggota komunitas.

Mengapa Kebudayaan Dan Tradisi Itu Penting

Bertolak dari upacara memberi makan para leluhur Tanah Ngamu Zangga desa wologai. Ada beberapa hal yang menimbulkan pertanyaan. Pertama, mengapa seremonial adat itu penting bagi mereka kehidupan masyarakat adat untuk memulai bercocok tanam.

Merasa Penting sebab kehidupan masyarakat adat sangat dekat hubungannya dengan Alam, leluhur atau kepercayaan kepada sang pencipta serta kehidupan sosial manusia. Hubungan itu saling berkaitan sebab manusia akan mendapatakan kehidupan harus berpijak dan bernaung pada alam serta seluruh makluk hidup .

Selanjutnya  tentang leluhur/sang pencipta adalah bagian dari keyakinan masyarakat bahwa setiap makluk hidup yang ada di bumi ini tidak muncul dengan sendirinya melainkan ada penciptanya. Sedangkan kehidupan sosial manusia, antara sesama manusia tentu hidupnya saling berinteraksi ,komunikasi antara satu dan lainnya.

Jadi berbicara seremonial tentu yang kelihatan adalah hubungan manusia untuk bersama-sama mengucapkan syukur atas keberhasilan serta memberikan penghargaan kepada sesama agar mempererat tali persaudaraan.

Kedua, adakah sesuatu yang mendorong masyarakat untuk tetap melakukan ritus-ritus kebudayaan yang kalau ditinjau dari segi Ekonomi justru nenelan biaya besar dan mengantarkan masyarakat pada jurang kemiskinan.  Dari segi budaya tentu sebuah dorongan untuk masyarakat adat selalu mengingat pada hubungan 3 unsur, Manusia, Kepercayaan dan alam semesta. Dan Masyarakat adat memulainnya dengan saling menghargai antara sesama manusia.

Sebagai manusia berbudaya, kebudayaan dan adat istiadat menjadi fondasi dan jati diri. Berbagai persoalan justru timbul ketika manusia meninggalkan kebudayaan yang merupakan jati dirinya. Sederhanya. Ketika melupakan kebudayaan manusia melupakan dirinya sendiri.

Berbagai perayaan seremonial adat di wilayah Ende dan Lio umumnya membutuhkan biaya yang cukup besar tetapi toh anggota masyarakat (Fai Walu ana kalo) tetap merasa ada keharusan untuk terlibat dalam ruang itu.

Ada berbagai persoalan terkait lingkungan hidup dewasa ini. Sebaliknya berbagai aksi serta solusi yang ditawarkan kepada kita. Kita seakan merasa asing dengan berbagai gagasan untuk melindungi lingkungan hidup. Tetapi sejatinya dalam diri kita, dalam kebudayaan dan adat istiadat hal itu merupakan urat nadi yang kehadiranya kita abaikan. Pola pertanian dalam kebudayaan kita yang sangat dipengaruhi oleh praktik religi dan magi juga hilang seiring dengan hilangnya kebudayaan.

Oleh karena itu tidak ada kata terlambat untuk kembali pada rel yang seharusnya. Mari kembali kepada diri, kembali kepada budaya dan dan adat istiadat dan kembali ke rahim di mana kita dibentuk untuk hidup bersama alam.

Penulis : ( Oscar haris)

Editor : Jhuan Mari

 

Adat adalah bagian dari Jati Diri Read More »

Lumbung Pangan Kelompok Tani Menjaga Ketahanan Pangan Desa Kamubheka

Ende-Kamubheka, Tananua Flores| Keberadaan Lumbung Pangan dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan pangan. Lumbung Pangan akan memudahkan akses pangan masyarakat. Undang-undang No. 18 Tahun 2012 tentang pangan menggarisbawahi bahwa setiap masyarakat mempunyai hak dan kesempatan untuk mewujudkan cadangan pangan. Lalu pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab untuk memfasilitasi pengembangan cadangan pangan masyarakat sesuai dengan kearifan lokal.

Kelompok Tani di Desa Kamubheka, Dusun Tanahiu menginisasi pembuatan lumbung pangan sebagai cadangan pangan ketika musim paceklik di bulan januari hingga maret. Kelompok Tani Mbei Mbani yang terdiri dari 12 Orang anggota secara swadaya mendirikan lumbung pangan yang terbuat dari kayu, gebang dan bambu.

Lumbung Pangan Kelompok Tani Mbei Mbani di Dusun Tanahiu-Kamubheka. Foto: EW 3/8/2022

Lumbung Pangan Kelompok Tani Mbei Mbani telah didirikan sejak tahun 2018. Sebagai modal awal masing-masing anggota menyetor sekitar 50 Kg Gabah. Pada tahun pertama total gabah mencapai 900 Kg. Bunga dari pinjaman gabah dapat dijual dan dijadikan sebagai modal anggota kelompok .

Kini dalam Lumbung Pangan terisi gabah sekitar 2 Ton gabah. Gabah yang ada dikumpulkan dari hasil panen masing-masing anggota kelompok. Gabah akan dipinjamkan ke anggota kelompok ketika anggota kelompok mangalami kekurangan bahan pangan. Selain itu gabah juga dapat dipinjamkan ke masyarakat sekitar dengan bunga sebesar 25 Kg.

Kelompok Tani Mbei Mbani telah didampingi Yayasan Tananua Flores sejak Tahun 2016. Kegiatan Kelompok Tani ini berfokus pada kerja di bidang pertanian untuk pembersihan lahan, mengolah kebun dari tahap menanam hingga memanen. Menarik bahwa setiap anggota kelompok memiliki iuran tahunan sebesar 50 ribu rupiah.  Pertemuan kelompok untuk membahas terkait pemberdayaan dan pengembangan kelompok dilakuan setiap dua bulan sekali.

“Ngendi” Sokal berukuran besar sebagai tempat menyimpan gabah di Lumbung Mbei Mbani. Foto: EW/3/8/2022

Hasil dari penjualan gabah  dimanfaatkan untuk kesejahteraan anggota kelompok dan juga membayar pelbagai iuran. Lumbung Pangan sangat berguna bagi petani ketika memasuki bulan Januari dan Februari saat musim paceklik. Pada bulan ini kami akan bongkar (baca: membagi gabah) lumbung untuk anggota kelompok yang membutuhkan juga masyarakat, tutur Ricardus Roja Ketua Kelompok Tani Mbei Mbani.

Modal anggota kelompok terus berkembang mencapai 5 Juta rupiah hingga tahun 2022. Dalam rencana dan yang terkumpul dari hasil kerja kelompok dijadikan sebagai dana atau modal pinjaman usaha anggota kelompok.

Pada kesempatan yang berbeda Adrianus Sagho, Kelompok Tani Moi Moku juga menggambarkan perihal inisiatif masyarakat untuk membangun Lumbung Pangan. Kelompok Tani ini terdiri 13 orang dan memiliki lumbung pangan permanen yang direhab dari rumah tua milik ketua kelompok. Dalam lumbung pangan ini tersimpan sebanyak 3,5 ton gabah yang siap dibagikan kepada anggota kelompok dan masyarakat ketika musim paceklik.

Adrianus Sagho di dalam Lumbung Pangan Kelompok Tani Moi Moku. Foto: EW/3/8/2022

Kepala Desa Kamubheka, Melkior Mengga mendukung keberadaan Lumbung Pangan di Desa Kamubheka. Pemerintah Desa Kamubheka juga memiliki Lumbung Pangan yang terletak di samping kantor Desa Kamubheka. Masyarakat dapat membeli beras di Lumbung Pangan Desa. Lumbung Pangan sangat bermanfaat bagi masyarakat yang mana dijadikan sebagai pasokan bahan pangan ketika gagal panen dan musim paceklik.

Lumbung Pangan sebagai cadangan pangan dan juga strategi ketahanan pangan masyarakat. Cadangan pangan ketika terjadi gangguan produksi bahan pangan. Lumbung Pangan menjadi pasokan pangan untuk mempermudah akses pangan masyarakat dan menjaga daya beli masyarakat. Lumbung pangan dapat merupakan hasil inisiasi kelompok dan komunitas. Keberadaan lumbung pangan produktif melibatkan partisipasi masyarakat, akses yang seimbang, kontrol dari pengelola, dan juga terbuka untuk kemanfaatan bagi kelompok rentan.(ed. Edi Woda)

Penulis: Emilia Kumanireng

Lumbung Pangan Kelompok Tani Menjaga Ketahanan Pangan Desa Kamubheka Read More »

Tradisi Gotong Royong “Songga” di Kebirangga Selatan di Era Teknologi Informasi

Ende-Kebirangga Selatan, Tananua Flores| Gotong Royong merupakan suatu modal sosial untuk mencapai kesejahteraan bersama. Semangat Gotong Royong ini adalah kesadaran bersama masyarakat untuk saling membantu dan bekerja sama. Nilai Gotong Royong menjadi nilai khas yang dimiliki bangsa indonesia yang diwarisi secara turun temurun.

Istilah Gotong Royong sudah dikenal sejak masa pendudukan Jepang di Indonesia. Konsep tentang Gotong Royong pertama kali digunakan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) (Koentjaranigrat,1974) . Istilah ini kemudian menjadi populer pada masa pemerintahan Soekarno yang menjelaskan bahwa Gotong Royong menjadi roh dalam membangun Negeri (Subagyo,2012).

Budaya Gotong Royong untuk memanen hasil pertanian. Foto: Dok. YTNF

Tradisi pertanian di daerah pedesaan merupakan akar dari nilai Gotong Royong. Sebab tradisi pertanian mengharuskan masyarakat untuk bekerja sama dalam membuka lahan, menyemai bibit, menanam dan merawatnya.

Tradisi Gotong Royong “Songga”

Desa Kebirangga Selatan juga memiliki tradisi gotong royong yang dinyatakan dengan istilah “Songga”. Songga adalah undangan untuk bekerja bersama dalam konteks untuk saling membantu. Masyarakat terlibat untuk ambil bagian dalam bertani mulai dari menyiapkan lahan, menanam, memanen dan pasca panen.

Saat sedang membuka lahan baru dan bercocok tanam petani berkharisma Gerardus Hendrikus Setu mempraktikkan tradisi Songga ini. Melalui Songga proses bekerja juga akan lebih cepat terselesaikan dan hasilnya bisa lebih melimpah. Gerardus mampu membuka lahan seluas 2 ha dengan tingkat kemiringan mendekati 75% dengan pendekatan Songga.

Bersama Pemerintah Desa, Lembaga Adat (Mosalaki) dan Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores (YTNF) Tradisi Songga dihidupi dalam mengolah lahan pertanian. Sebab tidak semua lahan pertanian membutuhkan peralatan teknologi. Lahan pertanian desa yang tidak terjangkau mesin pertanian karena kendala topografi dan aksesibilitas dapat dikerjakan oleh tenaga manusia secara Gotong Royong.

YTNF dalam kerjanya memberdayakan masyarakat desa melalui praktik Gotong Royong. Organisasi petani dikuatkan dalam mendukung pertanian berkelanjutan sambil memerhatikan peningkatan ekonomi dan kesehatan primer.

Praktik Gotong Royong dalam pembuatan teras kebun. Foto: Ansel Sa, 22/07/2022

Gotong Royong di Era Teknologi Informasi

Gotong royong merupakan budaya asli Indonesia yang mengedepankan kerja sama dan musyawarah, sambil menumbuhkan rasa saling menghargai. Pemahaman tentang Gotong Royong amat dinamis seiring perkembangan teknologi dan informasi. Terminologi Gotong Royong merujuk pada tingkah laku kolektif dalam menyelesaikan persoalan bersama (Nisa,2020).

Dewasa ini Gotong Royong dinilai sebagai tindakan yang tidak masuk akal karena tidak sesuai dengan kehidupan modern. Nilai Gotong Royong yang mengedepankan nilai kelompok tidak sesuai dengan nilai kehidupan modern yang menjunjung tinggi individu. Meskipun demikian survei kompas menunjuka bahwa Gotong Royong merupakan nilai yang penting bagi generasi milenial (Simartama, 2019).

Gotong Royong hadir dalam bentuk baru dengan memanfaatkan teknologi digital dan internet. Di era digital Gotong Royong nampak dalam Platform Crowdfunding, kegiatan mengumpulkan dana menggunakan aplikasi atau media sosial. Masyarakat berdonasi untuk sesama yang membutuhkan  seperti untuk korban bencana alam dan kontribusi pembangunan rumah ibadah.

Petani memanen padi secara Gotong Royong. Foto: Dok. YTNF

Praktik Gotong Royong tetap bertumbuh subur di era kemajuan teknologi dengan menciptakan dan memberikan petisi untuk suatu persoalan atau pendapat. Dukungan kerja sama melalui postingan di sosial media tentang upaya membangun daerah terpencil adalah salah satu bentuk praktik gotong royong di ranah digital.

Dengan demikian Gotong Royong menjadi fitrah manusia. Gotong Royong tidak harus disertai dengan kontak fisik interaktif. Pada hakikatnya Gotong Royong dilandasi oleh keikhlasan dan kerelaan. Gotong Royong menggerakan solidaritas sosial. Budaya Gotong Royong masih tetap relevan ketika menjunjung tinggi solidaritas sosial untuk mencapai tujuan bersama.

Penulis: Ansel Kaki Reku (Staf Lapangan YTNF)

Editor: Edi Woda

 

Tradisi Gotong Royong “Songga” di Kebirangga Selatan di Era Teknologi Informasi Read More »

Menyibak Potensi Pangan “Gaplek” Desa Unggu

Ende-Unggu, Tananua Flores| Waktu bergerak pasti membuka hari baru yang cerah. Matahari bergerak merangkak naik menyinari hamparan Dusun Pemowawi, Desa Unggu-Kecamatan Detukeli, Ende-Flores. Para ibu berbondong-bondong menuju lahan singkong untuk menuai hasil panen. Panenan hari ini melimpah. Singkong yang telah ditanam sembilan bulan yang lalu dipanen. Ceria nampak dalam raut wajah ketika kembali dari ladang. Umbi singkong dikupas dan dibersihkan lalu di potong menjadi beberapa bagian.

Ibu Katarina Vele (51) bertekun memotong singkong. Hari ini ibu 6 anak memanen sebanyak 8 rumpun singkong. Singkong yang telah diiris kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari. Singkong yang telah dikeringkan akan bertahan lama sebagai bahan cadangan pangan 3 bulan mendatang.

Katarina Vele (51) memotong singkong untuk dibuat menjadi Gaplek. Foto: Nining 13/7/2022

Sambil berbagi cerita bersama para ibu,  Nining Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores Desa Unggu bersama para ibu mengolah singkong menjadi Gaplek. Gaplek ini diolah secara sederhana dengan cara mengupas singkong, lalu dicuci bersih dan dipotong menjadi beberapa bagian sebesar 10 cm. Singkong itu kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari selama 1 Minggu.

Nikmatnya Gaplek akan terasa ketika dikukus lalu disantap bersama sambal kelapa dan ikan teri. Selain itu Gaplek akan diolah menjadi tepung sebagai bahan olahan kue untuk dihidangkan di meja makan keluarga. Meskipun demikian gaplek yang disimpan lama dapat rusak oleh hama gudang (Araecerus fasciculatus). Karena itu gaplek sebaiknya disimpan ditempat yang kering dengan suhu yang cukup.

Gaplek merupakan produk olahan singkong yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Umumnya gaplek terdiri dari dua jenis. Ada gaplek putih yang dapat ditepungkan atau dibuat thiwul dan gaplek hitam yang disebut gatot. Gatot yang berwarna hitam adalah bakteri hasil penjemuran pada waktu siang hingga malam hari. Tekstur Gatot lebih kenyal karena perombakan pati menjadi senyawa dan bakteri.

Ibu-ibu Dusun Pemowawi-Unggu menjemur singkong untuk dijadikan Gaplek. Foto: Nining, 13/7/2022

Diversifikasi pengolahan singkong memberikan cita rasa yang lebih disukai masyarakat dan juga akan manambah nilai gizi. Produk olahan dari tepung gaplek antara lain tepung Mocat (Modified Cassava Flour) dan pati seperti kerupuk, rerotian, mie, beras sintetik dan berbagai kue basah dan kering.

Gaplek memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, memiliki serat yang tinggi dan kandungan gula yang rendah. Gaplek memiliki kandungan nutrisi, Per 1 Kg Gaplek terdapat 3000  Kalori, 3,3% protein kasar, 5,3% lemak kasar, 0,17% phospor, 0,57% Kalsium (Tillman et al, 1991).

Hasil panen Singkong Desa Unggu setelah dipotong, siap dijemur dan hasil olahan singkong untuk siap disantap. Foto: Nining 17/7/2022

Potensi Singkong di Indonesia amat menjanjikan. 58% akan dimanfaatkan sebagai bahan pangan, 28% sebagai bahan baku industri, 2% sebagai bahan pakan, dan 8% diekspor dalam bentuk gaplek. Produk yang diekspor adalah Cassava Dried (Chip, Sawut, Gaplek) dan produk antara (tepung singkong dan pati). Produk Cassava Dried dapat diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia, Jepang, China, Korea, dan negara-negara Eropa (Yenny, 2018). (Edi-BW)

 

 

Menyibak Potensi Pangan “Gaplek” Desa Unggu Read More »

Menikmati Pangan Lokal, Merawat Kehidupan; Lokamini Pangan Lokal Desa Rutujeja

Ende, Tananua Flores| Pangan adalah jati diri kita, siapa yang menguasai pangan dan benih dia menguasai kehidupan. Pangan adalah jati diri manusia. Badan Pangan Dunia (FAO/Food and Agriculture Organization) menggarisbawahi bahwa pangan lokal merupakan pangan yang diproduksi, dipasarkan, dan dikonsumsi oleh masyarakat setempat sesuai dengan potensi dan kearifannya.

Dalam kegiatan Lokamini yang terjadi di Desa Rutujeja Rabu, 20/07/2022, Hironimus Pala, Ketua Yayasan Tananua Flores (YTNF) menjelaskan bahwa Pangan Lokal merupakan inti dari kehidupan seorang petani. Ka eo kita tedo, tedo apa eo kita ka. Kita mengonsumsi makanan yang kita usahakan atau yang kita kerjakan.

Pangan Lokal Desa Rutujeja Nggoli (Kacang merah). Foto: EW|20/07/2022

Makanan pokok lokal seperti Are (Padi), Jawa (Jagung), Wete (Jewawut), Lolo (Sorgum), Pega (Serealia), Ndelo (Umbi Ganyo), Ura (Kacang-kacangan), Mbape (Jali) begitu melimpah di daerah Rutujeja. Masyarakat dapat mengonsumsi pangan lokal ini karena memiliki kandungan yang bergizi.

Peserta Lokamini Pangan Lokal ini berjumlah 22 orang masyarakat rutujeja yang meliputi Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Pengurus Kelompok Tani, Guru Sekolah Dasar, Murid Sekolah Dasar, dan Staf Pemerintahan Desa. Dalam kegiatan lokamini ini para peserta aktif menyebutkan dan memberikan penjelasan terkait keberagaman pangan lokal di Rutujeja.

Pangan Lokal Desa Rutujeja Lolo Mera (Sorgum Merah). Foto: EW|20/07/2022

Kesempatan ini hendak mengklarifikasi hasil penelitian tentang keberagaman pangan yang ada di Rutujeja. Dalam presentasinya Ketua YTNF memaparkan hasil temuan mengenai jenis pangan, dan hasil olahan pangan lokal. Selain itu beliau juga membahas tentang pengaruh keberadaan pangan industri bagi kesehatan. Pembicara juga menjelaskan tentang peran Lembaga Adat, Lembaga Agama, Pemerintah Desa dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan konsumsi pangan lokal.

Kegiatan yang berlangsung di kantor Desa Rutujeja ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Desa. Stefanus Benyamin Dadi, sebagai Kaur Perencanaan, mewakili Kepala Desa menyambut baik acara ini. Beliau mengharapkan agar masyarakat tetap menanam, menjaga, serta mengonsumsi makanan lokal ini.  Makanan lokal adalah makanan yang sehat dan bergizi.

Hironimus Pala, Ketua YTNF memaparkan materi Lokamini Pangan Lokal.

Foto: EW|20/07/2022

Pertemuan ini menyepakati perihal menjaga keberagaman pangan lokal yang ada di Desa. Besar harapan bahwa acara lokamini ini menjadi motor penggerak dalam pembuatan Peraturan Desa tantang pangan lokal. Desa Rutujeja dapat terlibat dalam acara festival pangan lokal yang akan diselenggarakan pada waktu yang akan datang.

Desa Rutujeja memiliki potensi untuk memberdayakan pangan pokok lokal. Supu Bugu Kema Mbale. Bekerja dengan keseriusan akan memberikan pertumbuhan dan kesuburan. Apa yang diusahakan dapat menghasilkan kehidupan.Tedo Tembu, Wesa Wela, Peni Nge, Wesi Nuwa. Sehingga dengan demikian setiap kerja dan usaha dapat mencapai kesejahteraan. Mera Tebo Keta, Ndi Lo Ngga. Petuah-petuah sahaja ini menjadi doa dan harapan dalam setiap usaha untuk mencapai ketahanan pangan dan kesejahteraan.

Arnoldus Mage, Staf Lapangan YTNF di Desa Rutujeja mendata keberagaman pangan lokal.

Foto:EW|20/07/2022

Sebagai rencana tindak lanjut masyarakat dapat mengonsumsi pangan lokal sambil menciptakan produk khas untuk dapat dipasarkan baik secara langsung maupun secara online. Pangan Lokal memiliki nilai kearifan dan nilai ekonomis jika terus dirawat dan dijaga.

Desa Rutujeja berada di Kecamatan Lepembusu Kelisoke. Jarak Desa Rutujeja dari Kota Kabupaten Ende sekitar 64 Km, dan jarak dari Kota Kecamatan sekitar 19 Km. Luas Desa Rutujeja 8.05 Km2 dan berada sekitar 1000 MDpl.

 

 

Menikmati Pangan Lokal, Merawat Kehidupan; Lokamini Pangan Lokal Desa Rutujeja Read More »

Translate »