Lowongan Kerja di Tananua Flores Oktober 2022

 

Berasal dari : Yayasan Tananua Flores

Di tujukan Kepada Seluruh Pencari Kerja di mana saja berada.

Isi Pengumuman :

Disampaikan Kepada seluruh Pencari kerja Bahwa Yayasan Tananua Flores Membutuhkan Staf untuk di Tempatkan sebagai Pendamping Lapangan di desa Dampingan Yayasan Tananua Flores, dengan Kualifikasi sebagai berikut .

Silakan Cek Persyaratan Berikut ini LINK Persyaratan Lamaran

Lowongan Kerja di Tananua Flores Oktober 2022 Read More »

Potensi Perikanan Gurita Yang Ada di Kecamatan Ndori  Menjanjikan untuk Dikembangkan

Dok.Tananua
Enumerator dan Nelayan sedang melakukan Pengukuran Gurita

Ende, Ndori- Tananua Flores | Kegiatan Implementasi Pembukaan Rumah gurita di wilayah pesisir Kecamatan Ndori, Kabupaten Ende kembali dibuka setelah tiga bulan lamanya ditutup oleh masyarakat  dan Nelayan yang ada di wilayah itu, (6 /10).

Pembukaan rumah gurita difasilitasi  oleh Nelayan Gurita dan kelompok pengolah perikanan berbasis masyarakat yang disebut dengan kelompok Locally Manager Marine Area (LMMA) Ndori serta Yayasan Tananua Flores.

Turut terlibat dalam kegiatan tersebut  Direktur Yayasan Tananua Flores,  Camat Ndori, Dinas Cabang Kelautan dan perikanan Propinsi NTT, Pemerintah desa di wilayah kecamatan Ndori, BPD, tokoh adat, tokoh agama dan Nelayan Gurita yang ada di kecamatan Ndori.

Desa yang menjadi sasaran implementasi Kegiatan Pembukaan Penutupan sementara adalah Desa Maubasa, Maubasa timur, Serandori , maubasa Baran dan Desa Mole.

Camat Ndori , Paul Marvel Frederikus melakukan pembukaan rumah gurita di Desa Maubasa Timur.

Ketua Kelompok  LMMA, Burhanudin Jua mengatakan,  implementasi pembukaan rumah gurita merupakan kegiatan lanjutan dan rencana kerja dari LMMA yang sudah didampingi Yayasan Tana Nua Flores selama sejak September mulai Pendataan Gurita hingga saat ini.

Sejumlah kegiatan yang sudah dilakukan bersama dengan LMMA seperti  Menyusun rencana Kerja LMMA, sosialisasi rencana penutupan sementara rumah gurita, feedback data perikanan gurita, kegiatan patroli lokasi penutupan sementara gurita, fasilitasi pembahasan peraturan bersama kepala desa (perkades) bersama lima desa yang ada di pesisir kecamatan Ndori, dan pembukaan lokasi sementara rumah gurita pada hari ini.

“Rencana kedepan yang akan dilaksanakan adalah penguatan organisasi nelayan, kegiatan latihan perencanaan bisnis bagi pengurus kelompok, memfasilitasi legalitas kelompok LMMA ke tingkat provinsi, memfasilitasi pengurus LMMA dengan mitra bisnis dan perencanaan penutupan dilokasi lain,” ujarnya.

Camat Ndori, Paul Marvel Frederikus dalam kegiatan seremonial pembukaan mengungkapkan, potensi perikanan gurita yang ada di Kecamatan Ndori  menjanjikan untuk dikembangkan.  Salah satu kecamatan di Kabupaten Ende yang memiliki populasi gurita paling banyak yaitu di wilayah Kecamatan Ndori.

“Untuk itu, saya sampaikan terima kasih kepada Yayasan Tananua  Flores yang sudah mendampingi kita dalam upaya pengembangan wilayah pesisir di kecamatan Ndori ini,” ujarnya.

Intervensi Program Perikanan dan Kelautan di Kecamatan Ndori

Bernadus Sambut, Direktur Tananua Menjelaskan bahwa  telah melakukan intervensi program perikanan dan kelautan di wilayah Kecamatan Ndori sejak Jani 2021. Penetapan program di empat desa dengan pendekatan kawasan artinya dari ke empat desa ini menjadi desa sasaran pendampingan dan pelaksanaan program perikanan.

Desa yang masuk dalam pendampingan Tananua adalah Desa Maubasa, Maubasa Timur, Sera Ndori dan Desa Maubasa Barat. Penetapan keempat desa ini diawali dengan Asesmen awal yang dilakukan oleh Tananua. Dari proses asesmen tersebut kemudian melakukan penetapan dan  Tananua langsung  menempatkan staf Tananua untuk mendampingi masyarakat Nelayan yang ada di 4 desa tersebut.

Kegiatan yang di luncurkan oleh Yayasan Tananua Flores keempat desa tersebut yakni penguatan kapasitas kelompok nelayan lewat pelatihan, Kegiatan kesehatan, pendataan gurita dan kegiatan buka tutup lokasi penangkapan Gurita.

“Selain itu yang menjadi kegiatan rutinitas setiap hari adalah dengan pendataan gurita dan melakukan umpan balik data kepada masyarakat dan nelayan. Pendataan gurita mulai sejak September 2021 hingga oktober saat ini. Tananua menempatkan enumerator pendata sebanyak 3 orang di wilayah kecamatan Ndori. Untuk Maubasa 1 orang, Maubasa timur dan serandori 2 orang,” jelasnya.

Dijelaskannya, sejak pendampingan Tananua Flores yang di mulai dari bulan September 2021 hingga september 2022 saat ini data yang tercatat secara baik oleh enumerator adalah data hasil tangkap para nelayan  yang dilakukan dengan metode sensus.

Data gurita di wilayah kecamatan Ndori  mulai September 2021-September 2022, individu gurita yang di tangkap berjumlah 6729 ekor dengan jumlah produksi gurita 6.608,52 Kg.

“Dari jumlah keseluruan lokasi tangkap gurita, rata-rata gurita yang didapati oleh nelayan di bawah dari 2 kg. Hal itu dilihat dari persentas antara berat gurita dan jumlah ekor,” jelasnya.

Ia menambahkan, penutupan sementara perikanan gurita selama tiga bulan yang dilakukan memiliki tujuan edukatif yakni menjadi pembelajaran bagi masyarakat mengenai tata cara pengelolaan perikanan berbasis masyarakat serta bagaimana memberikan waktu dan tempat bagi gurita untuk tumbuh lebih besar dan untuk bertelur/berkembang biak karena gurita (Octopus cyanea) mempunyai masa hidup yang singkat yakni sekitar 12 bulan.

Dengan siklus hidup gurita yang singkat ini, penutupan sementara menjadi solusi pengelolaan perikanan yang cocok untuk diimplementasikan. Dengan harapan dan targetnya adalah ketika pembukaan penutupan sementara, gurita sudah tumbuh dengan besar dan mempunyai nilai lebih.

Proses penutupan area ini dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama kelompok LMMA, para nelayan yang didukung oleh stakeholder seperti, Kantor Cabang Dinas Perikanan dan Kelautan Wilayah Ende, Nagekeo dan Ngada, Ndori, 4 desa yang ada di kecamatan ndori, kelompok LMMA dan Nelayan Pencari Gurita.

Model pengelolaan perikanan yang dilakukan di kedua desa dampingan ini adalah model partisipatif artinya  realisasinya konservasi wilayah tangkapan gurita akan berjalan apabila masyarakat sendiri terlibat dalam proses pengelolaan serta ikut mengambil keputusan untuk setiap pilihan yang direncanakan.

“Terkait dengan implementasi pembukaan penutupan sementara rumah gurita, kelompok LMMA telah melakukan persiapan aturan hukum untuk mengikat keberlanjutan dari kegiatan buka tutup,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan, setelah kegiatan implementasi dilaksanakan acara dilanjutkan dengan upacara adat pembukaan lokasi rumah gurita oleh tetua adat yang ada di desa tersebut  Setelah itu, nelayan mencari gurita di rumah gurita tersebut.***JF. Tananua

Potensi Perikanan Gurita Yang Ada di Kecamatan Ndori  Menjanjikan untuk Dikembangkan Read More »

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kader Kesehatan di Desa Maubasa, Moment Belajar Menuju Masyarakat yang Sehat dan Cerdas

Ende-Maubasa, Tananua Flores| Yayasan Tananua Flores (YTNF) sukses menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kader untuk pengolahan air bersih layak minum serta penyuluhan gizi dan sanitasi. Pelatihan Kader ini berlangsung pada hari Kamis, 29 September 2022 di Aula Kantor Desa Maubasa. Kegiatan ini dihadiri oleh peserta yang berjumlah 30 orang yang terdiri dari 23 orang peserta perempuan dan 7 orang peserta laki-laki.

Peserta Pelatihan Peningkatan  Kapasitas Kader Kesehatan bersama Agnes Ngura (baris depan berbaju merah), Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores Desa Maubasa. Foto: AN 29/09/2022

Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama YTNF, Pemerintah Desa Maubasa dan Puskesmas Maubasa. Kader Kesehatan yang terlibat berasal dari Desa Maubasa, Desa Maubasa Timur dan Desa Maubasa Barat. Selain itu pihak Puskesmas Maubasa melibatkan tenaga gizi dan tenaga kesehatan masyarakat untuk melatih para kader tentang perilaku hidup sehat.

Kepala Puskesmas Maubasa, Amir H. Wora memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan pelatihan ini. Dalam sambutannya beliau mengungkapkan bahwa kegiatan pelatihan ini menjadi kesempatan yang baik bagi kader kesehatan yang lama untuk menyegarkan kembali pengetahuan yang pernah diperoleh, dan bagi kader yang baru, kegiatan ini adalah waktu yang tepat untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan serta keterampilan di bidang kesehatan.

Kepala Puskesmas Maubasa Amir H. Wora memberikan penjelasan tentang kesehatan kepada para Kader Kesehatan Desa. Foto: HS 29/09/2022

Senada dengan Kepala Puskesmas Maubasa, Azhar Banda Kepala Desa Maubasa mengungkapkan tentang pentingnya pelatihan para kader untuk menambah pengetahuan tentang kesehatan. Acara ini adalah moment penting untuk mendukung kegiatan pengembangan kesehatan masyarakat di Desa. Desa mendukung pengembangan kesehatan masyarakat dengan menyalurkan dana desa sebesar 10 juta rupiah.

Tambahan pula pelatihan Kader merupakan proses pemberdayaan dan peningkatan pengetahuan dan kemampuan Kader dalam membangun Desa khususnya di bidang kesehatan, tutur Heribertus Se, Manager Program YTNF. Kader kesehatan yang ada di Desa memiliki peran penting dalam menjaga generasi yang sehat dan cerdas.

Pelatihan kader ini berangkat dari kurangnya pengetahuan kader tentang kesehatan. Selain itu kegiatan ini merupakan jawaban atas masalah kesehatan yang terjadi di Desa Maubasa. Di lain kesempatan Agnes Ngura, Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores menjelaskan bahwa 90% masyarakat di Desa Maubasa mengkonsumsi air yang tidak diolah. Selain itu di Desa Maubasa juga masih terdapat kasus stunting sebanyak 8 orang. Anak yang pendek belum tentu stunting, anak yang stunting pasti pendek.

Menurut WHO (World Health Organization) Organisasi Kesehatan Dunia, air yang aman digunakan adalah air yang tidak berwarna, tidak memiliki rasa, tidak memiliki bau, tidak terasa lengket setelah digunakan, memiliki pH Netral, tidak mengandung bakteri, dan tidak mengandung debu, pasir, tanah, atau sedimen lainnya.

Para Kader Kesehatan dari Desa Maubasa, Desa Maubasa Timur, Desa Maubasa Barat mendengarkan materi pelatihan tentang kesehatan. Foto: HS 29/09/2022

Pendamping Lapangan YTNF  Desa Maubasa juga menerangkan bahwa masalah kesehatan yang sering terjadi antara lain angka kelahiran yang tinggi, asam urat, kolesterol, serta pola hidup yang tidak sehat. Angka kelahiran yang tinggi disebabkan oleh kurang pengetahuan pasangan keluarga tentang metode kontrasepsi dan pernikahan di usia dini. Sementara itu asam urat dan kolesterol berkaitan erat dengan pola konsumsi dan pola hidup masyarakat.

Dalam Kegiatan ini para Kader Kesehatan dilatih melakukan praktik simulasi  Metode 5 Meja. Praktik simulasi metode 5 meja ini terdiri dari pendaftaran, penimbangan, pengisian KMS (Kartu Menuju Sehat), penyuluhan, dan pelayanan kesehatan oleh tim medis.

Kegiatan pelatihan ini melahirkan beberapa rekomendasi yakni; para kader bersedia untuk melakukan pelatihan pengisian KMS, pelatihan pengolahan pangan lokal bergizi, pelatihan seni penyuluhan, pengembangan pos obat dan dapur hidup bagi kelompok perempuan, dan pengembangan usaha pekarangan.

Pelatihan ini juga menyepakati kegiatan kunjungan oleh kader KPM (Kader Pembangunan Masyarakat), Kader KB (Keluarga Berencana), Pemerintah Desa, staf Puskesmas Maubasa, dan YTNF untuk melakukan sosialisasi bagi PUS (Pasangan Usia Subur) dan WUS (Wanita Usia Subur) di Desa Maubasa.

Tenaga Kesehatan Puskesmas Maubasa melatih Para Kader Kesehatan untuk praktek simulasi 5 Meja.

Foto:AN 29/09/2022

Desa Maubasa berada di wilayah pesisir selatan Kecamatan Ndori, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Desa Maubasa berada pada ketinggian 20 MDpl, dengan luas wilayah 0.99 Km2. Jarak dari Kota kabupaten Ende sejauh 90 Km. Desa Maubasa merupakan Desa yang sedang berkembang. Menurut Data BPS Tahun 2019 jumlah penduduk Desa maubasa sebanyak 906 orang, dengan laju pertumbuhan pertahun -54,3%.

Untuk menuju ke Maubasa pengendara dapat melalui jalan jalur Ende-Maumere, sesampainya Desa Lianunu ( 81 Km dari Kota Ende) pengendara akan menjumpai pertigaan lalu bergerak ke arah selatan sejauh 9 Km. Desa Maubasa merupakan Desa dampingan Yayasan Tananua Flores sejak 19 Juni 2021. (edi woda)

 

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kader Kesehatan di Desa Maubasa, Moment Belajar Menuju Masyarakat yang Sehat dan Cerdas Read More »

Talk Show dan Festival Pangan Lokal: Menjaga Keberagaman Pangan Lokal

Ende-Unggu, Tananua Flores| Kegiatan Talk Show dan Festival Pangan Lokal terjadi di Desa Unggu Kecamatan Detukeli. Pada Senin 29 Agustus 2022 Pukul 15.00 peserta kegiatan mulai berdatangan dan melakukan Cek-In. Para Peserta dibagi dalam kelompok untuk mendapatkan tempat penginapan di sekitar lokasi kegiatan.

Sementara itu para peserta juga mempersiapkan tempat untuk memamerkan hasil olahan pangan lokal dan pangan lokal dari Desa Dampingan. Pada Pukul 20.00 terjadi kegiatan Talk Show dan diskusi tentang pola konsumsi, dan keberagaman pangan lokal di Desa. Diskusi terbagi dalam beberapa Kelompok. Selanjutnya para peserta yang sudah datang menuju ke tempat penginapan masing-masing.

Pemeran Benih Ura, Pega, Mbape, Lolo, Nggoli, dan Pisang di desa Unggu. Foto: Paul 30/7/2022

Pada hari kedua selasa 30 Agustus 2022 kegiatan Festival berawal dari seremonial pembuka yang terdiri dari Pengantar dari Pranatacara, Doa, Menyanyikan Lagu Mars Tananua dan Lagu Indonesia. Direktur Yayasan Tananua Flores memberikan sambutan dan sapaan kegiatan Talk Show dan Festival Pangan Lokal.

Bernadus Sambut Direktur Yayasan Tananua Flores (YTNF) menggambarkan alasan Yayasan Tananua Flores memfasilitasi Festival Pangan Lokal. YTNF selalu mendorong dan menekankan pengembangan pangan lokal. Tanpa pangan lokal kita tidak bisa hidup. Pangan Lokal adalah warisan nenek moyang namun kenyataan menunjukkan bahwa keberadaannya tidak dikembangkan lagi.

Selain untuk konsumsi Pangan Lokal juga dimanfaatkan untuk seremonial adat. Dengan mengembangkan pangan lokal kita menghargai leluhur dan nenek moyang. Festival diselenggarakan untuk mengetahui sejauh mana keberagaman pangan lokal itu dikembangakan. Melalui festival masyarakat bisa termotivasi untuk mengembangan pangan lokal. Selain itu dari kegiatan festival pangan lokal ini  diharapkan ada kebijakan yang dihasilkan.

Potensi Pangan Lokal

Dalam sambutannya Koordinator Nasional FIAN Indonesia, Betty Tiominar menjelaskan tentang peran pangan lokal untuk kesehatan. Bahwa Pangan Lokal memiliki protein dan gizi yang tinggi. FIAN  selalu mempromosikan hak masyarakat atas pangan dan gizi salah satunya dengan memperkenalkan benih-benih pangan lokal yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Masyarakat menghargai apa yang dimiliki dan mengonsumsi pangan lokalnya. Pangan Lokal merupakan potensi yang harus dirawat, dikembangkan, dan dibudidayakan agar tidak hilang. Desa memiliki Potensi untuk mengembangkan pangan lokal.

Dari Kanan-Kiri: Halimah Tus’dyah Pengurus YTNF, Betty Tiominar FIAN Indonesia,  Marselina Ga’a Pendamping Lapangan Desa Detumbewa, dan Matilda Ilmoe Kepala Dinas Ketahanan Pangan menyaksikan Festival Pangan Lokal. Foto: Paul 30/8/2022

Camat Kecamatan Detukeli memberikan sambutan sekaligus membuka acara Kegiatan Festival Pangan Lokal ini. Sebagai Camat, Fransiskus Sio mengatakan bahwa Festival Pangan Lokal akan membuat masyarakat mengenal keberagaman pangan lokal. Kenyataan menunjukan bahwa untuk ritual, beras dan padi harus dibeli. Pangan Lokal dapat dikonsumsi karena sehat dan bergizi. Generasi ke depan cukup sulit menikmati pangan lokal karena kurangnya ketersediaan benih dan hasil olahannya. Menjadi suatu tantangan ketika pangan lokal mulai sulit dijumpai. Penting untuk memberikan contoh dalam mengambangkan pangan lokal.

Kegiatan Talk Show pangan lokal diawali dengan presentasi oleh Kepala Desa Rutujeja. Petrus Bata menjelaskan tentang situasi pangan lokal di Desa Rutujeja. Pangan lokal merupakan kebutuhan dasar manusia untuk bertahan hidup. Pangan Lokal bisa diramu dari kebun, sungai, hutan dan laut. Sejak dahu kala pangan lokal telah dibudidayakan oleh nenek moyang. Lolo, wete, pega, mbape, nggoli, ura, dowe dapat dimanfaatkan untuk memenuhi pangan keluarga. Selain itu pelbagai acara adat juga menggunakan minuman lokal (arak) sebagai ritus seremonial kepada leluhur. Persediaan pangan lokal di desa Rutujeja masih terbilang cukup. Kondisi sekarang memerlihatkan kurangnya perhatian untuk mengonsumsi pangan lokal. Karena itu dibutuhkan peran pelbagai elemen masyarakat untuk serius mengembangkan pangan lokal.

Potret Keberagaman Pangan Lokal

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Ende Mathilda G. Ilmoe dalam acara Talk Show berbicara mengenai potret keberagaman pangan yang ada di Kabupaten Ende. Dalam pembahasannya ia memaparkan tentang data ketersediaan komoditi pangan utama dan peta kerentanan kerawanan pangan di Kabupaten Ende. Pada tahun 2021 angka ketersediaan pangan sebesar 86,77% dan pada bulan Mei tahun 2022 sebesar 79.85%. Angka ini menununjukan bahwa Ende masuk dalam ketegori rawan pangan.

Skor pola pangan harapan untuk tahun 2021 sebesar 76,5 dari target skor 80, idealnya 100. Tingkat konsumsi energi masyarakat Kabupaten Ende sebesar 2247,1 kkal/kapita/hari dari porsi ideal sebesar 2150 kkal/kapita/hari.  Hal ini menggambarkan bahwa pola konsumsi masyarkat ideal. Dengan demikian pangan lokal merupakan kebutuhan dasar manusia. Setiap elemen masyarakat wajib untuk memenuhi kebutuhan ini.

Ir. Marianus Aleksander, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende memaparkan materi tentang Peran Dinas Pertanian dalam mendukung ketahanan pangan Kabupaten Ende. Visi dan Misi Kabupaten Ende adalah untuk mewujudkan karakteristik dengan membangun dari desa dan kelurahan menuju masyarakat yang mandiri, sejahtera dan berkeadilan. Pembangunan dilakukan berbasis sumber daya. Secara budaya karakteristik yang menggambarkan tentang pertanian adalah tedo tembu wesa wela. Dinas Pertanian juga mempromosikan masyarakat untuk bangga menjadi petani. Kemandirian petani menjadi tujuan dalam program yang dicanangkan sehingga masyarakat dapat mencukupi kebutuhan pangannya.

Kepala Desa Rutujeja Petrus Bata mempresentasikan materi Talk Show bersama P. Charles Beraf, Marianus Alexander, Hironimus Pala, dan  Mathilda Ilmoe. Foto: Paul 30/8/2022

Pembina Yayasan Tananua Flores, P. Charles Beraf, SVD memberikan penjelasan mengenai spiritualitas pangan dalam mendukung keberlanjutan hidup umat. Masyarakat dapat memutuskan rantai kapitalisme dengan pemberdayaan. Spiritualitas tumbuh dalam lokalitas sesuai dengan adat dan tradisi. Kenyataan sekarang ini menunjukan bahwa ada komodifikasi, ada banyak hal yang diukur dengan uang. Pastor Paroki Detukeli ini aktif dalam kegiatan pembangunan berbasis masyarakat. Oleh karena itu mengembangkan pangan lokal harus dibangun dari apa yang kita punya sesuai dengan adat dan budaya.

Ketua Yayasan Tananua Flores, Hironimus Pala, memaparkan materi tentang kajian keberagaman pangan lokal di kabupaten Ende. Pangan lokal adalah jati diri, siapa yang menguasai pangan dia menguasai kehidupan. Ada pergesaran pola konsumsi masyarakat dari mengonsumsi pangan lokal ke pangan ke pangan industri. Kondisi sekarang ini menunjukan bahwa benih pangan lokal mengalami kekurangan, hama yang ada juga membuat orang kesulitan mengolah pangan lokal, selain itu model pengelolaan pangan lokal membutuhkan waktu lama. Ia juga mengajak masyarakat untuk mencintai pangan lokal, dengan menjaga benih serta memiliki lumbung pangan.

Keberagaman Pangan Lokal: Tanggung Jawab Bersama

Setelah pemaparan materi peserta diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan dan komentar. Flavianus Senda pembina Yayasan Tananua Flores mengusulkan agar setiap keluarga memiliki pola konsumsi yang mendukung kesehatan. Pola konsumsi yang baik akan mendukung kesejahteraan keluarga.

Kepala Bidang Perancanaan pembangunan I Bappeda menjelaskan tentang percepatan pembangunan yang kompetitif dan berkelanjutan. Profesi petani menjadi kurang diminati, membuat orang enggan untuk menjadi petani. Terdapat pergeseran pola konsumsi masyarakat. Ia juga menggambarkan pentingnya mengembangkan pertanian berdasarkan kearifan lokal.

Dalam rangka mendukung pengembangan pangan lokal Tim Ahli P3MD (Porgram Pembangunan dan Pengembangan masyarakat Desa) menyatakan bahwa dalam RKPdes terdapat alokasi anggaran dana desa untuk pengembangan pangan dan hewani sebesar 20 %. Masyarakat bisa mengusulkan kegiatan yang berkaitan dengan ketahanan pangan.

Serafinus Sage, Kepala Puskesmas Watunggere memaparkan peran dinas kesehatan dalam mendukung penanganan gizi buruk dan stunting. Ia mengajak masyarakat untuk menjadi generasi yang sehat dengan mengonsumsi pangan lokal. Festival yang terjadi hari ini bukan hanya pameran melainkan juga mengajak masyarakat untuk mengenal dan menjaga pangan lokal.

Peserta Festival mengunjungi pameran Festival Pangan Lokal. Foto: Paul 30/8/2022

Selain itu Sekertaris Desa Unggu mengungkapkan kebutuhan petani desa unggu akan alat-alat pertanian. Jaringan Peremuan Nusantara yang diwakili oleh Dorce mengajak segenap peserta festival untuk menjadikan pangan lokal sebagai pilot project dengan menciptakan peraturan daerah tentang pangan. Bapak Kepala Desa Unggu juga mengemukakan tentang situasi dan keberadaan pendamping lapangan. Desa Detumbewa menyediakan kebun contoh kepada pendamping lapangan sebagai medan belajar bagi para petani.

Acara Talk Show berlangsung alot meskipun kondisi listrik padam. Mayarakat aktif dalam kegiatan Talk Show. Setelah Talk Show dilanjutkan dengan kunjungan ke pameran pangan lokal dari desa di stand yang sudah disediakan. Dalam kunjungan pameran terdapat barter benih pangan lokal. Selain itu masyarakat dan peserta juga dapat membeli hasil olahan pangan lokal.

Diakhir acara peserta memberikan anjuran dan masukan terkait dengan usaha untuk menjaga keberagaman pangan lokal. Direktur Yayasan Tananua mengapresiasi kegiatan Talk Show dan Festival Pangan Lokal ini. Camat Kecamatan Detukeli melalui staf menutup acara kegiatan Talk Show dan Festival Pangan lokal ini. Kegiatan ini sangat penting untuk menjaga tanaman pangan lokal. (Edi Woda)

Talk Show dan Festival Pangan Lokal: Menjaga Keberagaman Pangan Lokal Read More »

Pemdes Persiapan Maurongga Gandeng ACIL dan Tananua Gelar Pelatihan Pengolahan Sampah Plastik

Ende, Tananua Flores| Lingkungan bersih, laut bersih itu semua adalah tanggung jawab semua unsur di wilayah kabupaten Ende. Sampah Plastik saat ini menjadi momok yang membuat pemandangan tidak indah di pandang mata, karena sampah berserakan dimana-mana.

Bebicara terkait dengan Masalah sampah kali ini Pemerintah Desa persiapan Maurongga Gandeng Tananua dan Acil Ende untuk selenggarakan Pelatihan pengolahan Sampah Plastik yang bernilai Ekonomis. Kegiatan tersebut diselenggarakan selama 2 hari yang dimulai dari Maurongga di hari pertama dan sekretariat ACIL Ende di hari kedua. Peserta yang terlibat di kegiatan itu terdiri dari kelompok dasawisma Maurongga dan kelompok perikanan di lingkungan Arubara,kelurahan Tetandara ende.(23/8)

Umar Hamdan Pimpinan ACIL Ende dalam kegiatan pelatihan itu mengatakan  bahwa Sampah plastik yang  dihasilkan dari rumah tangga berkisar 110 ton Per Hari itu terdiri dari sampah anorganik (sampah plastik).

“Kami Secara lembaga mendorong semua stakeholder bahwa masalah Sampah bukan masalah perorangan melainkan masalah bersama,  saat ini Sampah Plastik bukan lagi masalah lokal tetapi sudah menjadi isu Dunia”ujar Hamdan ketua ACIL Ende.

Kegiatan yang digelar oleh Tananua dan pemerintah desa ini agar kelompok dasawisma bisa memanfaatkan sampah plastik menjadi peluang usaha baru dalam peningkatan ekonomi rumah tangga.

” Saat ini masalah Sampah harus menjadi masalah kita bersama, dan untuk meminimalisir juga kita sendiri,apalagi dengan mengolah sampah sekarang juga bisa mempunyai pendapatan”, katanya

Selain itu dia juga menjelaskan bahwa ACIL sendiri sudah mulai bergerak dengan melakukan pengolahan Sampah Plastik sejak tahun 2013.

Menurutnya ACIL Ende bahwa banyak orang merasa Sampah Plastik yang kotor dan  terbuang itu sudah tidak dimanfaatkan lagi namun saat ini sampah plastik yang dibuang sudah punya nilai ekonomis.

Sedikit melihat kembali ke belakang Kantong plastik pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh ilmuwan asal Swedia, Sten Gustaf Thulin pada 1959 oleh. Awalnya, kemunculan kantong plastik bertujuan sebagai media pengganti kantong kertas yang proses produksinya dianggap mengancam keberlanjutan alam.

Seiring dengan berjalannya waktu, saat ini kenyamanan dan kepraktisan membuat kantong plastik menjadi sampah yang menumpuk. Orang-orang sering memakai kantong plastik sekali lalu membuangnya, tidak lagi menggunakan kantong plastik berulang kali.

Perjalanan dalam pemanfaatan barang plastik semakin tinggi disaat Perang Dunia II berkecamuk, industri plastik sintetis sedang dalam titik puncak produksi karena adanya tuntutan untuk melestarikan sumber daya alam. Dengan demikian, produksi alternatif sintetis menjadi prioritas.

Sekarang ini Plastik sudah tidak lagi menjadi solusi tetapi sudah sebuah masalah, optimisme terhadap kantong plastik dinilai berlebihan. Kantong plastik dan produk yang berkemasan plastik tak lagi dipandang positif dan solutif, terutama setelah puing-puing plastik menjadi lautan sampah.

Nah, dengan gambaran itu maka menjadi tujuan dari kegiatan tersebut adalah mendorong masyarakat desa persiapan Maurongga agar bisa memanfaatkan sampah plastik sebagai peluang baru untuk sumber pendapatan ekonomi. Sehingga plastik sampah yang dianggap sebuah masalah tetapi dengan mengolah kembali bisa mendapatkan pendapatan.

” Ya saat inikan sampah yang kotor tentu semua orang merasa tidak mempunyai nilai, tetapi kami sudah membuktikan sampah plastik yang kotor dan terbuang juga memiliki nilai ekonomis”, Ungkap Hamdan.

Lanjut dia bahwa jika semua orang membuang sampah plastik tidak pada tempatnya maka sampah tersebut akan membawa penyakit baru yang saat ini banyak dialami masyarakat.

Kegiatan pelatihan pilah pilih sampah untuk kelestarian tersebut diawali dengan cleaning up(pemilahan sampah) yang dipimpin oleh sekretaris desa persiapan Maurongga.

Kepala Desa Maurongga yang diwakili oleh sekretaris Desa Muhamad Nuhu mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada ACIL Ende dan Tananua Flores yang telah memberikan perhatian khusus kepada warga desa persiapan Maurongga.

Katanya ACIL telah memberikan peluang usaha baru bagi masyarakat jika mau konsentrasi menangani masalah Sampah, jujur di wilayah kecamatan Nangapanda tidak ada yang mulai usaha dengan barang -barang kotor.

Dalam gerakan menjaga lingkungan hidup dan kelestarian lingkungan ACIL Ende telah bekerja sama dengan pemerintah kabupaten Ende, lembaga pendidikan dan juga lembaga kesehatan untuk menangani masalah Sampah. Namun, hal itu masih belum banyak memberikan dampak yang positif. Masih sebagai besar yang belum merasa bahwa sampah bukan menjadi sebuah masalah.

Sampah tidak lagi menjadi masalah baru melainkan masalah yang harus ditangani secara bersama dan itu semua harus mulai dari Rumah.

Kata pimpinan ACIL Ende bahwa Bahaya membuang sampah sembarangan tempat khusus sampah plastik akan mendatangkan penyakit yang sadar tidak sadar selama ini dialami oleh masyarakat dan kita semua.

Selain itu, Sampah mengancam kelestarian lingkungan Laut akan tercemar, banjir, ekosistem laut jadi rusak dan muncul penyakit baru.

“Bahaya sekali kalau kita membuang sampah tidak pada tempatnya, karena itu bisa menimbulkan dampak pada kesehatan dan juga akan merusak ekosistem yang ada di laut”, katanya.

Lebih jauh lembaga yang menangani masalah Sampah di Ende menjelaskan bahwa sampah plastik akan hilang dan hancur 500san tahun dan itu memakan waktu cukup lama. Ada Jenis sampah styrofoam yang terbuat dari gabus  bisa hancur 1000an tahun,” Kata mereka.

Sementara itu Heribertus Se manager program Yayasan Tananua Flores menuturkan bahwa Tananua Flores secara lembaga konsen terhadap masalah Sampah. Dorongan Tananua adalah konservasi dan kelestarian lingkungan hidup baik area laut maupun darat.

Pria yang keseharian bergelut dengan masyarakat desa itu mengatakan pihak lembaga yayasan Tananua akan terus mendorong dan mendampingi masyarakat untuk terus menjaga lingkungan.

Persoalan sampah plastik agar pelan-pelan berkurang harus mulai dari diri rumah tangga kita masing -masing sebab pemahaman terkait penanganan sampah harus di bangun dari keluarga, dan Persoalan Sampah saat ini menjadi permasalahan yang harus menjadi fokus untuk diperhatikan semua orang. Selain itu untuk Kabupaten Ende persoalan sampah sudah menjadi masalah setiap tahun yang terus menerus dibicarakan.

Penulis : JF

Editor : Jhuan Mari

Pemdes Persiapan Maurongga Gandeng ACIL dan Tananua Gelar Pelatihan Pengolahan Sampah Plastik Read More »

Translate »