Petani Kebirangga Selatan Pertahankan Budaya Gotong Royong Ditengah Arus Globalisasi

Ende, Tananua Flores | Era industri ekonomi 04 saat ini, menjadi tuntutan setiap Negara belahan dunia menciptakan ketergantungan yang sangat tinggi pada teknologi. Kemajuan zaman membuat masyarakat berada dalam tatanan kehidupan yang baru yang dikelilingi oleh sejumlah teknologi sebagai fasilitas penunjang pada setiap kegiatan.

Dengan melihat kemajuan teknologi itu, Semua masyarakat dituntut untuk mampu beradaptasi dengan situasi tersebut, tanpa harus melihat bagaimana proses yang harus digunakan.

Siklus kehidupan manusia ikut berubah dengan model pendekatan berbasis teknologi, baik dari aspek komunikasi, kerja, dan transportasi. Sistem ini akan melahirkan polarisasi cara pandang manusia yang akan bergeser dari pola  kerja gotong-royong, menjadi pola kerja individualis. Oleh Karena itu semua dituntut untuk sadar akan sebuah evolusioner kehidupan masyarakat, suka ataupun tidak suka perubahan itu harus diterima. 

Kemajuan teknologi mesti sejalan dengan upaya membangun kesadaran manusia atau peningkatan sumberdaya manusia, sehingga tidak terjadi kesenjangan  antara prasarana ( manusia sebagai pengelola) dan sarana ( peralatan teknologi ). Jika tidak maka, akan berdampak kepada penyalahgunaan serta menciptakan kesenjangan sosial yang selama ini dianggap sebagai kekuatan bersama di tengah lingkungan masyarakat.

Upaya memperkuat tatanan kehidupan sosial atau sistem peradaban masyarakat merupakan tanggung jawab semua pihak dalam memperkuat atau membentengi sistem globalisasi saat ini. Sehingga lapisan masyarakat umum sanggup menerima teknologi serta mampu mempertahankan nilai-nilai sosial yang ada dan berlaku lama di wilayah itu. 

Melihat kondisi yang terjadi saat ini lembaga-lembaga sosial di tuntun untuk membangun sumber daya manusia lewat kerja pendampingan di desa-desa, salah satunya LSM baik di tingkat lokal maupun Nasional. 

Di tingkat daerah Yayasan Tananua Flores merupakan salah satu lembaga swadaya masyarakat ( LSM ) lokal yang berkedudukan di kabupaten Ende. Lembaga ini telah  mengabdi bersama masyarakat di Flores kurang-lebih 34 tahun. 

Dalam rentang usia yang cukup lama itu, keberadaan LSM tersebut sampai saat ini masih konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan ( hak hidup, kebudayaan dan hak atas alam ). Perjuangan LSM Tananua Flores  adalah menghidupkan spirit dan nilai-nilai  sosial budaya setempat  untuk selalu siap menerima kemajuan baru di era saat ini.

Tananua dalam Implementasi kerja bersama masyarakat desa selalu mengedepankan kualitas sumber daya manusia dalam mengurus dan menjaga alam sebagai sumber kehidupan masyarakat itu sendiri. Kerja -kerja itu dihimpun dalam kerja bersama, belajar bersama dan memperjuangkan hak masyarakat melalui pendekatan-pendekatan kolaborasi dan sinergitas program.  YTNF secara organisatoris, terus menghidupkan nilai tersebut dalam berbagai kegiatan riil di masyarakat desa untuk mewujudkan kemandirian manusia.

Nilai Gotong- royong Masih Dipertahankan Masyarakat Desa Kebirangga Selatan

Ciri kerja petani di kabupaten Ende pada umumnya masih menganut semangat gotong-royong sejak awal sejarah pertanian di wilayah tersebut. Ada berbagai alasan yang mendasari dari aspek topografi wilayah pedesaan yang lebih banyak di wilayah bukit dan pegunungan, dari aspek kultur ada terdapat masyarakat yang terlahir dari suku yang sama, dan  juga ada pemahaman bertani yang makin variatif dari petani itu sendiri, sehingga pola gotong royong dilihat sebagai aspek yang substansi pada masyarakat desa. 

Di desa Kebirangga selatan, Sejak tahun 2015 Gerakan pemberdayaan yang dilakukan oleh Tananua masih dipertahankan  hingga saat ini. Tananua juga mendorong untuk menghidupkan kembali nilai gotong royong oleh masyarakat desa agar tidak tertelan arus perubahan zaman saat ini. 

Desa Kebirangga Selatan merupakan salah desa yang didampingi oleh Yayasan Tananua Flores, dengan implememtasi program yang di kembangkan antara lain meliputi bidang, organisasi petani, pertanian berkelanjutan, ekonomi kerakyatan dan kesehatan primer. 

Dalam konteks pertanian, pemahaman bertani masyarakat setempat sangat khas dengan tradisi kerja bergilir, sejak awal pertanian di wilayah tersebut. 

Perkembangan infrastruktur yang begitu cepat dari waktu ke waktu tidak membuat petani setempat terhanyut dengan arus kemajuan. Kecerdasan petani mempertahankan tradisi kerja kebun masih sangat kuat sejak proses buka lahan, tanam-menanam, panen dan pasca panen masih mengandalkan gotong-royong. 

Upaya menghidupkan nilai gotong royong di tengah kehidupan masyarakat desa kebirangga Selatan diperkuat lewat dukungan Yayasan Tananua Flores, dalam melaksanakan pendampingan di desa tersebut. Diskusi, motivasi dan kegiatan nyata yang mengarah kepada kuatnya nilai tradisi dari para leluhur, terus dilakukan secara rutin oleh YTNF.

Sosok Panutan di Desa kebirangga Selatan  

Implementasi dari hasil motivasi dan diskusi oleh pendamping lapangan YTNF terhadap petani setempat mulai diterapkan oleh petani setempat. Geradus Hendrikus Setu seorang petani dari desa Kebirangga Selatan yang juga telah diakui oleh masyarakat setempat sebagai sosok panutan dalam dunia pertanian. 

Ada banyak kisah yang dapat diuraikan diantaranya, Sosok Hendrikus sebagai penggerak kelompok sejak awal bercocok tanam dan membuka lahan baru untuk tanaman komoditi, jenis kemiri. Gebrakan dikala itu membuat keyakinan bagi rekan-rekan petaninya dan saat ini telah mengantarkan anak-anak mereka menempuh dunia pendidikan menengah dan tinggi, hingga keluar pulau flores, dengan sumber pendapatan andalan petani setempat yaitu komoditi kemiri. 

Cara yang dilakukan oleh bapak Geradus merupakan salah satu ajakan sederhana untuk menanam nilai pertanian pada sesama petani. Selain memperlihatkan cara kerja gotong royong, beliau tercatat sebagai salah satu petani komoditi kemiri terbanyak  sejak masa itu dan diwariskan kepada generasi penerus. 

Selain itu Hendrikus juga mengembangkan komoditas pangan padi ladang yang menjadi salah satu kebutuhan hidup dan hasilnya pun  terbanyak dari seluruh petani yang ada di desa Kebirangga Selatan. Berdasarkan data pangan yang dicatat oleh pendamping, terdapat 3 ton / 3000 kg padi ladang yang dihasilkan oleh petani Hendrikus dengan area lahan seluas 1 ha, serta kemiringan berkisar 75 (derajat). Proses kerja yang dilakukan secara manual mulai dari pembukaan lahan, persiapan tanam sampai pada proses panen.  Dengan kondisi topografi kebun yang sangat sulit dijangkau tidak membuat semangat Geradus menjadi surut. 

 Sebagai tokoh panutan, semangat kerjanya dan keaktifan dalam berbagai kegiatan di desa menjadi kebiasaan yang melekat pada dirinya. Potensi tersebut sejalan dengan harapan LSM YTNF dalam melakukan pendampingan terhadap petani. Sebagai pendamping lapangan, melihat sosok tersebut sebagai partner untuk bisa berbagi dalam diskusi dan guyonan keseharian yang membahas seputar pertanian dan mentalitas masyarakat di wilayah desa itu. 

Tradisi “songga” bagi masyarakat Desa Kebirangga Selatan

Kerja bersama atau Gotong royong di desa Kebirangga Selatan terutama pada kegiatan bertani telah lahir sejak peradaban masyarakat setempat. Dalam bahasa setempat gotong royong disebut sebagai “Songga” yang artinya mengundang, mengajak sesama petani untuk saling membantu dan bekerja sama dalam kegiatan yang membutuhkan banyak manusia. 

Makna Songga jika diterjemahkan dalam konteks sosial disebut sebagai gotong royong. Dalam kehidupan budaya setempat, Songga sebagai bentuk swadaya, solidaritas dan  kekeluargaan.

Pola kerja gotong royong, jika dilihat secara holistik dapat dimaknai sebagai kekuatan bersama dalam komunitas. Kekuatan bersama dalam konteks Songga memiliki spirit yang sangat dasar yaknik swadaya, solidaritas dan kekeluargaan. Setiap petani yang terlibat dalam kegiatan Songga memiliki pemahaman bersama untuk saling membantu secara sukarela baik secara tenaga, peralatan serta biaya. Kebiasaan tersebut dianggap sebagai budaya dari leluhur mereka, sehingga mereka sangat konsisten dengan cara tersebut.

Realitas kehidupan sosial masyarakat desa Kebirangga Selatan, perlu dilihat sebagai sebuah kekuatan dasar yang harus diperjuangkan untuk keberlanjutan. Upaya menghidupkan nilai gotong royong tidak cukup diperbincangkan dalam konsep teoritis, opini dan asumsi. Tindakan nyata dipandang sebagai sebuah sikap edukasi dalam mempertahankan budaya yang dianut oleh masyarakat setempat. 

LSM Tananua Flores dalam kerja pendampingan mendorong agar masyarakat dampingan mempertahankan filosofi gotong royong sebagai sebuah jalan untuk memajukan kerja-kerja pertanian. Tanpa gotong royong maka dengan sendirinya polarisasi perpecahan akan tumbuh subur yang akan  membangkitkan individualisme akan berkembang pesat. 

Sebagai Lembaga pendamping Sampai saat ini LSM Tananua Flores masih hadir dan setia mendampingi masyarakat desa setempat dalam berbagai kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan kemandirian masyarakat dari aspek pangan, pertanian berkelanjutan, kelompok sosial, dan kelestarian alam. ***

Ditulis oleh : Anselmus Kaki Reku

Editor : Bernadus Sambut 

Petani Kebirangga Selatan Pertahankan Budaya Gotong Royong Ditengah Arus Globalisasi Read More »

Desa Rutu Jeja dan Pangan Lokal

Ende, Tananua Flores | Desa Rutujeja adalah salah satu desa dikecamatan Lepembusu kelisoke kabupaten Ende. Desa ini  sangat Jauh ± 73 KM dari kota kabupaten Ende dan keberadaannya berada di atas ketinggian gunung lepembusu serta berbatasan dengan Kecamatan Tanawawo kabupaten Sikka. Untuk bisa sampai ke desa ini menempuh perjalanan kurang lebih dua setengah jam. Desa Rutujeja juga memiliki pesona alam yang sangat indah yang juga berbeda dengan wilayah desa lain. Mata pencarian Utama masyarakat di desa Rutujeja adalah pangan local dan komoditi. Bagi masyarakat Rutujeja pangan lokal adalah sember makan  utama yang dikembangkan sebagai pemenuhan kebutuhan kehidupan ekonomi keluarga.

Selain itu, salah satu desa yang dikenal sampai dengan saat ini dalam membudidayakan pangan lokal yaitu Desa Rutujeja. Semua jenis pangan yang merupakan warisan leluhur mereka masih banyak tersedia  sampai saat ini misalnya pega, Wete (jewawut), lolo (shorgum), mbape (jali), padi, jagung, kacang nasi, kacang turi, bue fesa, bue duke, rose (keladi), pisang, ubi kayu, ubi tatas, dan masih banyak lagi jenis pangan lokal baik yang dibudidayan maupun yang tumbuh liar dihutan.

Menurut bapak Robertus Bati salah satu tokoh masyarakat yang terus mempertahankan dan mengambangkan pangan lokal mengatakan bahwa Pangan adalah sumber kehidupan, Pangan juga berkaitan erat dengan hukum adat dan kehidupan sosial masyarakat di desa Rutujeja.

Dijelaskannya bahwa pangan di Desa Rutujeja sebagai pengikat hubungan masyarakat dengan Alam yang di bukatikan dengan setiap tahun diselenggarakan Seremonial adat oleh mosalaki atau pemangku adat di desa tersebut.

Dia juga mengutarakan bahwa Pangan di desanya tidak akan hilang sebab pangan di Rutujeja menjadi sebuah keharusan untuk terus di budidayakan.

“ Mengapa saya katakan tidak akan hilang karena setiap tahun kami masih melaksanakan ritual adat dan harus menggunakan bahan pangan yang diambil dari kebun penggarap atau ana kalo fai walu dan tidak boleh digantikan dengan pangan yang dibeli dari pasar atau toko walau sekalipun harganya lebih mahal”, Ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, kepala desa Rutujeja Petrus Bata mengungkapkan bahwa pola konsumsi masyarakat didesanya bervariasi.

“ Kami disini makanan yang kami konsumsi tidak hanya semata mata beras atau nasi, tetapi pola konsumsi kami bervariasi, karena menu yang disajikan itu banyak seperti pisang, ubi, rose, jagung dan sayuran yang masih sangat segar dari kebun kami”, ungkap kades.

Mengapa pangan lokal?

Pangan lokal merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat indonesia saat ini dengan pengembangannya harus berlanjut,

Pertama, keragaman pangan lokal adalah gerbang bagi pola makan yang beragam. Dengan mengonsumsi beragam makanan, masyarakat dapat memperoleh semua nutrisi yang mereka butuhkan dan mengurangi risiko stunting pada anak.

Kedua, pangan lokal juga menjadi sumber pangan nabati dan hewani yang sesuai dengan kondisi setempat cenderung lebih tahan terhadap guncangan iklim, seperti cuaca ekstrem atau banjir.

Ketiga, konsumsi makanan lokal dapat mengurangi emisi karbon dari pengemasan dan distribusi. Bahan pangan yang mudah rusak, seperti ikan dan sayuran, ataupun makanan olahan, menyumbang 10% dari rantai emisi di sektor pangan.

Keempat, promosi konsumsi pangan lokal berpotensi meningkatkan kesadaran lingkungan dan keadilan sosial dengan mendorong interaksi antara masyarakat desa yang satu dengan desa yang lain. Upaya untuk melestarikan keanekaragaman hayati dalam hal ini pangan lokal juga dapat dikaitkan dengan manfaat gizi dari makanan yang kita konsumsi.

Kondisi Saat ini

Kondisi dan perubahan yang terjadi pada generasi mileneal kita saat ini, Pada umumnya masyarakat kita,masih sangat banyak mengkonsumsi makanan yang siap saji yang berasal dari pabrik-pabrik seperti yang tersedia dibanyak tempat misalnya kios, toko, pasar dan juga mini market atau alfa mart.

Bukan hanya itu saja bahkan makanan-makanan yang siap saji itupun bukan hanya berada di kota saja melainnya sudah sampai ke pelosok desa dan se antero jagat Raya ini, bahkan pada daerah yang bertopografi parah pun sudah terkontaminasi dengan makanan disebutkan di atas padahal, daerah itu memiliki stok pangan local tersedia dalam jumlah banyak.

Saat ini beberapa bahan makanan yang tersedia dalam kemasan itu juga masih menjadi perdebatan bagi beberapa kalangan yang merupakan sumber produksi bahan olahan makanan tersebut. Makanan dan minuman yang tersedia yang siap saji itu misalnya: Sarimi, minuman yang mengandung gula tinggi, cemilan dan beberapa jenis makanan lainnya.

Perubahan-perubahan ini juga membuat  generasi muda atau generasi masa kini enggan untuk masuk kekebun untuk memproduksi sendiri makanan yang merupakan warisan leluhur mereka, dimana makanan tersebut yang tidak memiliki dampak apapun bagi kesehatan tubuh manusia dan lingkungan.

Fakta menunjukan bahwa konsumsi makanan olahan yang diawetkan berdampak buruk terhadap kesehatan dan juga meningkatkan resiko terjadinya banyak penyakit yang bermunculan saat ini jika tidak sesuai dengan aturan konsumsinya atau berlebihan.  Jika mengkonsumsi makanan siap saji tidak terukur maka beresiko terhadap kesehatan misalnya pada ibu hamil dapat menyebabkan Kekurangan Energi Kronis (KEK), pada bayi/balita bisa menyebabkan Stunting, Gizi kurang dan bahkan gizi buruk, obesitas dan apabila semakin banyak orang tersebut mengkonsumsi pangan awetan ini bisa beresiko kematian.

Hanya orang malas yang akan terjadi kelaparan, padahal alam sangat bersahabat dengan tanam apa saja pasti akan berhasil.

Oleh : Arnold RM (PL RJ)

 

Desa Rutu Jeja dan Pangan Lokal Read More »

Bentuk LPHAM, Tananua sebut sebagai Wadah Monitoring dan Evaluasi Bersama

Ende Detubela, Tananua Flores |Gelar lokakarya bersama antara Pemerintah Desa dan Yayasan Tananua Flores dengan tujuan membentuk Lembaga Pengelolah Hak Alam dan Hak Warga di Desa Detubela kecamatan Wewaria kabupaten Ende, Tananua Sebut sebagai wadah Monitoring dan Evaluasi bersama masyarakat terhadap lembaga yang ada di desa.

Hal itu disampaikan Bernadus Sambut  Direktur Yayasan Tananua Flores dihadapan masyarakat yang berjumlah 53 orang dengan semua tokoh kunci  dari semua lembaga yang ada di Desa Detubela dalam kegiatan Lokakarya yang digelar dikantor desa Detubela pada (14/9).

Direktur Bernadus mengatakan “Tujuan Pembentukan LPHAM ini sebagai Payung semua lembaga yang ada di desa Detubela dan sebagai wadah monitoring dan evaluasi bersama masyarakat terhadap lembaga yang ada di desa”.

“Saya berharap Lembaga ini bisa dibentuk dan berjalan dengan berperan bersama desa untuk membangun dan menjaga keutuhan desa terkhusus dengan melihat hak alam dan hak masyarakat,”harapannya.

Baca Juga : https://www.tananua.org/tanam-apa-yang-kita-makan-dan-makan-apa-yang-kita-tanam/06/

Sementara itu Camat weawari yang diwakili oleh kepala seksi pemberdayaa kecamatan memberikan apresiasi kepada Yayasan Tananua yang sudah berkarya untuk membantu pemerintah dalam menyelesaikan persoalan di desa terkhususnya berkaitan dengan pengelolaan Sumber daya Alam yang berdampak kepada kelestarian.

Menurutnya Tananua Flores  adalah salah satu LSM yang masih bertahan sampai saat ini dan sungguh-sungguh bekerja dengan masyarakat membantu desa dengan pendampingan serta kegiatan dan latihan bagi masyarakat desa.

Selain itu Kepala Desa Detubela  Eustakius Kota dalam sambutannya menegaskan bahwa “ kegiatan ini berkelanjutan dengan merujuk pada kegiatan kegiatan yang sudah berjalan terdahulu, maka masyarakat dan semua tokoh penting di desa agar bisa berkerja sama dan terlibat bersama dalam setiap kegiatan yang dilakukan desa maupun Tananua Flores. Mari kita berkerja sama dan berpartisipasi dalam membangun desa kita,” tegasnya.

Dalam Lokakarya yang digelar sampai pada titik puncak terbentuk sebuah lembaga dan struktur kelembagaan LPHAM dan masyarakat mempercayahkan salah satu warga untuk menempati struktur kelembagaan tersebut.

Sebagai sapaan Awal Dominikus Ngera Ketua LPHAM terpilih menyampaikan apresiasi kepada peserta kegiatan dan Tananua Flores yang sudah memfasilitasi pembentukan LPHAM dan pengurus yang sudah dipilih

“saya secara pribadi mengharapkan dukungan kerja sama dari semua komponen dalam struktur yang sudah dipilih dan juga Yayasan Tananua Flores untuk selalu mendampingi dan memberikan latihan dan kegiatan bagi lembaga ini dan masyarakat desa Detubela,” Ujarnya.

Desa Detubela sebagai desa yang sangat baik merespons program ini dan mau bekerja sama dengan berencana untuk memasukan LPHAM dan beberapa kegiatan seperti Perdes Perlindungan Mata Air, Pertanian Organik, Pangan Lokal dan Penguatan kelompok. Selain itu Program ini dari diskusi dan yang dibangun bahwa akan dimasukan dalam Perdes kewenangan desa tahun 2024.

 

Heri Se

Bentuk LPHAM, Tananua sebut sebagai Wadah Monitoring dan Evaluasi Bersama Read More »

Kado HUT RI ke 78 : Tananua Flores Gelar Pemerikasaan Kesehatan Dasar secara Gratis untuk Masyarakat Ndori

Ende Ndori, Tananua Flores | HUT RI ke 78, Yayasan Tananua Flores memberikan kado terbaik kepada masyarakat Ndori dengan menggelar pemerikasaan kesehatan dasar secara gratis. Hal itu disampaikan oleh direktur Yayasan tananua bernadus Sambut pada( 22/8)  ketika dimintai keterangan terkait dengan kegiatan tersebut .

Menurutnya, Tananua dalam kerja pendampingannya menginginkan masyarakat itu sehat, karena tanggung jawab sosial, masyarakat sehat itu adalah penting dan menjadi tugas bersama.

Katanya, “ Kami dari Tananua Flores ingin memberikan yang terbaik bagi masyarakat ndori dengan kegiatan pemeriksaan kesehatan dasar, yang artinya dengan pemeriksaan ini kita bersama-sama mulai mendeteksi dini terkait penyakit yang dialami masyarakat itu sendiri”,ujarnya.

Direktur Tananua itu menjelaskan bahwa Setiap orang menginginkan hidup yang sehat, diperhatikan dan dilayani secara biak oleh negara dan siapa saja. Jika kesehatan merupakan tanggung jawab setiap pribadi akan tetapi demi kesejahteraan semua orang maka juga menjadi kewajiban untuk turut ambil bagian dalam menjamin kesehatan masyarakat itu sendiri.

Lanjut Dia, Melihat kekurangan ini Tananua sebagai lembaga Pendamping mencoba memberi warna lain dengan berusaha memfasilitasi pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat terlebih khusus di desa dampingan Tananua.

Pimpinan Tananua itu mengutarakan bahwa Tananua secara lembaga melihat jangkau dan akses masyarakat terhadap pos-pos kesehatan susah dan tidak terjangkau maka dengan melihat kondisi ini Tananua membangun kerja sama dengan tenaga kesehatan untuk terjun langsung di tengah-tengah masyarakat agar bisa mendapatkan keluhan secara langsung dari masyarakat itu sendiri.

Bernadus berharap agar masyarakat atau nelayan bisa menyadari dan mengetahui terkait penyakit yang dialimi serta mendapatkan penanganan lebih lanjut. Tidak hanya itu, tetapi masyarakat nelayan bisa terbangun kesadarannya untuk secara inisiatif jika mengalami gengguan kesehatan dan bisa memeriksa kesehatannya di pusat kesehatan terdekat.

Selain itu camat Ndori Paul Marsel Frederikus, dalam sapaannya memberikan apresiasi kepada Tananua yang telah berjuang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat ndori.

Paul juga mengucapkan terimah kasih kepada masyarakat ndori yang sudah turut mengambil bagian dalam  pemeriksaan kesehatan tersebut.

“hari ini luar biasa Tananua menghadirkan Dokter di wilayah kami, terimah kasih banyak kepada Tananua yang telah berjuang untuk masyarakat kami di ndori”

Pimpinanan wilayah kecamatan Ndori itu menegaskan, “Kedepan jika masih ada kegiatan seperti ini, masyarakat harus datang lebih banyak karena ini menjadi penting untuk menjaga kesehatan kita, pencegahan dini itu lebih baik dari pada mengobati” Tegas Camat

Dari pantauan Media Tananua Flores, Pemeriksaan kesehatan itu masih banyak sebagian besar  masyarakat belum terlibat secara penuh, ada sebagian masyarakat nelayan yang belum banyak partisipasi.

Oleh karena itu, Camat Frederikus berharap agar kegiatan pemerikasa kesehatan dasar seperti ini harus terus berlanjut sehingga seluruh masyarakat Ndori bisa mendapatkan pelayanan. Hari ini mungkin masih belum banyak yang mendapatkan informasi, sehingga kedepannya mungkin sudah dengan sendirinya.

Kegiatan pemerikasaan kesehatan dasar itu Tananua Flores mendatangkan Dokter dari puskesmas Wolowaru, dan juga bekerja sama dengan puskemas Ndori. Dari infomasi yang di peroleh sampai saat ini di puskesmas ndori belum ada Dokter yang menempati dan bertugas di puskemas itu, sehingga banyak masyarakat yang ketika sakit enggan berkunjung ke puskemas itu.

Oleh : Mikael

Kado HUT RI ke 78 : Tananua Flores Gelar Pemerikasaan Kesehatan Dasar secara Gratis untuk Masyarakat Ndori Read More »

Tanam Apa yang Kita Makan dan Makan Apa yang Kita Tanam 

Ende, Mautenda Barat | “Tanam apa yang Kita Makan dan Makan Apa yang Kita Tanam” Itulah salah satu materi pembahasan dalam rapat pertemuan semesteran Petani dan Nelayan yang diselenggarakan di Desa Mautenda Barat Kecamatan Wewaria Kabupaten Ende pada (3/7/2023) lalu. Sebuah Judul yang dipilih oleh Narasumber itu tidak terlepas dari perjalanan panjang kerja-kerja pemberdayaan masyarakat kurang lebih 34 tahun. Dari kerja pendampingan dan pemberdayaan bersama petani kemudian menemukan sebuah pandangan yang perlu diperhatikan dan juga menjadi sebuah refleksi untuk kehidupan petani selanjutnya.  

Hironimus Pala dalam pemaparan materi terkait “Pentingkah pangan lokal bagi kehidupan kita” itu  Menjelaskan saat ini situasi pangan lokal sudah mulai perlahan menghilang. Petani pangan sudah mulai beralih profesi menjadi petani perkebunan. 

Ketua Pengurus itu mengatakan sebenarnya kalau dijaga secara baik sumber pangan lokal itu begitu banyak dan petani tidak mengalami kekurangan.Sumber pangan itu ada di hutan, di sungai, diladang, dikebun, dilaut dan di pasar. 

Menurutnya dari hasil penelitian di setiap desa dampingan Tananua dan diluar desa dampingan Tananua berjumlah 198 jenis pangan yang di budidaya oleh petani. Sementara yang tidak dibudidaya dan liar di hutan dan sungai  kurang lebih berjumlah 78 jenis, total sebanyak 276 jenis sumber pangan  dan  itu tersebar di semua desa yang ada di kabupaten Ende, baik yang di budidaya maupun yang liar. 

Lebih Jauh katanya” Kita petani dan nelayan sebenarnya tidak kekurangan, dari sumber itu saja kalau dijaga dan dikelola secara baik tentu petani dan nelayan hidup baik dan kesehatan terjamin lahir dan batin”.

Hironimus juga merefleksikan kilas balik perbandingan keadaan pangan 40 tahun lalu dengan kondisi kemajuan saat ini, memang mengalami perubahan dan ada yang sudah mulai hilang. 

Sumber pangan lokal di 40 tahun yang lalu sebagai kebutuhan dasar kehidupan petani yang saling berhubungan antara yang satu dengan lainnya. Pangan lokal dalam sejarah panjang kehidupan masyarakat ende dan lio menjadi sebuah dasar hubungan sosial, Adat istiadat,dan pemenuhan hak Alam. Dengan keberadaan pangan yang dijaga secara baik, maka masyarakat pada waktu itu mempunyai kedaulatan atas pangan. Sebut saja sumber pangan pada waktu itu  menjadi alat komunikasi Sosial, sumber obat-obatan dan Sumber pemenuhan gizi bagi anak dan ibu menyusui. Masih banyak lagi manfaat pangan lokal yang belum digali dan diteliti secara baik. 

Sekarang ini sudah tidak ada lagi kedaulatan atas Pangan, sumber-sumber pangan lokal sudah mulai hilang dan ketergantungan kepada pasar industri cukup tinggi, sebab semuanya ditentukan oleh dunia pasar yang notabenenya mengambil nilai lebih dari hasil kerja petani itu sendiri. 

“ kita harus kembali menjaga benih pangan lokal kita, dan kembali mengembangkan agar kedaulatan atas benih dan pangan lokal kita bisa kembali”, ucap Nimus. 

Tidak hanya itu, Pengurus Tananua juga menjelaskan bahwa saat ini pergeseran juga masif dan kehidupan petani sudah ketergantungan kepada tanaman kebutuhan industri. Petani saat ini tanam di lahan untuk pangan sudah digantikan dengan tanaman industri. Lahan untuk pangan sudah mulai hilang.

Dengan kondisi itu” saat ini kita tidak lagi tanam apa yang bisa kita makan tetap tanam apa yang dibutuhkan pasar dan tanaman yang tidak bisa kita makan”,ungkapannya 

Sambung Hironimus bahwa Kondisi ketergantungan kita terhadap pasar yang cukup tinggi sehingga perlakuan kita juga mulai berubah. Makanan yang dikonsumsi oleh kita mulai berubah dengan yang serba instan sehingga dampaknya penyakit muncul bermacam-macam. Gizi pada anak dan ibu menyusui mulai terganggu dan usia Produktif hidup manusia tidak lagi menjakau pada 70an keatas melain distandar 50an. 

Perlindungan atas pangan lokal

Di Pertemuan semesteran yang dilaksanakan selama 3 hari itu, Pemerintah kabupaten Ende dalam hal ini Dinas ketahan pangan Kabupaten Ende juga mensosialisasikan Peraturan daerah Penyelenggaraan tentang pangan. 

Justina sandopi mengatakan saat ini Kabupaten Ende sudah memiliki peraturan daerah penyelenggaraan Pangan dan pemerintah sedang melakukan sosialisasi-sosialisasi kepada masyarakat khususnya petani yang ada di desa agar bisa diketahui bahwa pangan sudah ada aturan perlindungannya. 

Justin juga mengucapkan apresiasi kepada  Yayasan Tananua Flores yang telah memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk melangsungkan sosialisasi peraturan daerah terkait penyelenggaraan pangan kepada masyarakat.

“Pemerintah kabupaten Ende dalam hal ini Dinas Ketahanan pangan kami memberikan apresiasi kepada Tananua serta Petani dan Nelayan di pertemuan semesteran ini, Dinas ketahanan pangan mengucapan terima kasih karena telah memberikan waktu untuk sosialisasi peraturan Daerah kepada petani dan nelayan”.Ucapnya

Selain itu Kabid Ketersediaan dan kerawanan Pangan  juga menjelaskan bahwa dengan Perda No 5  tentang penyelenggaraan pangan ini pemerintah desa dan Masyarakat petani dapat mempunyai Rujukan dalam pembuatan Peraturan Desa yang khusus terkait pengaturan tentang pangan. 

Kabag itu menuturkan Kedepannya jika pemerintah desa dan BPD membuat Perdes tentang pangan, hal itu sudah mempunyai rujukan yang jelas dan tidak diragukan lagi. 

Sambung dia, Pangan adalah kebutuhan dasar dan menjadi hak asasi manusia. Manusia hidup butuh makan dan petani sebagai kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan pangan perlu mendapatkan perhatian  serta melakukan pemberdayaan kepada petani agar  petani bisa hidup lebih baik lagi. 

 

Oleh : Jhuan Mari.

Tanam Apa yang Kita Makan dan Makan Apa yang Kita Tanam  Read More »

Translate »