MISEREOR German Sapa Tananua Flores di Ende

Ende, Tananua Flores | Dalam rangka memperkuat program penghidupan berkelanjutan bersama Yayasan Tananua Flores di kabupaten Ende, MISEREOR salah satu Lembaga Katolik di Jerman kembali menyapa Yayasan Tananua Flores. Misereor menyapa Tananua Via Daring dengan Translator ibu Triarani S Utamy pada 6 Mei 2024. 

Kegiatan diskusi Via daring itu dimulai pukul 14.00-15.30 wita dengan peserta yang hadir yakni mewakili Tim MISEREOR  ibu Christine Kogel dan Ibu Pupu Purwaningsih, dari Yayasan Tananua Flores terdiri atas  unsur Pengurus Hironimus Pala, Halimah Tus’adya, Elias Mbani dan Manajemen Bernadus Sambut, Heribertus Se, serta Ibu Emilia Kumanireng.

Perlu diketahui bahwa misi MISEREOR adalah membangun sumber daya manusia agar bisa mendapatkan keadilan dan kesetaraan. Hubungan kemitraan antara MISEREOR Jerman dan Yayasan Tananua Flores dimulai sejak tahun 1994 dengan program kesehatan (kurang lebih 20 tahun). Berbagai isu yang  telah dikerjakan  secara bersama terlebih Khususnya Isu Pangan, Lingkungan dan Kemiskinan Pedesaan daerah Hulu yang berlokasi di Kabupaten Ende.

Pertemuan Koordinasi dan konsolidasi Kemitraan ini diinisiasi oleh MISEREOR sejak tanggal 4 April 2024 pasca kegiatan Evaluasi Eksternal pada tanggal 7 -24 Januari 2024 dengan agenda Refleksi Hasil Evaluasi, Rekomendasi dan Perencanaan Prioritas-Prioritas yang harus dikerjakan pada sisa Program Livelihood 8 bulan dan Untuk dimasukan  dalam rencana program baru kedepannya dengan durasi 2 tahun.  Serta menjelang proyek yang sedang berlangsung akan berakhir tanggal 31 Oktober 2024.

Christine Kogel Project Dask Officer untuk Wilayah ASIA mengatakan hasil laporan dengan Kriteria OECD DAC dalam proses evaluasi yang digunakan dari Sisi relevansi isu-isu Lingkungan, Gender, social inclusion, dan perencanaan desa dan lain lain dalam program yang dikembangkan Tananua masih sangat relevan dan membutuhkan dukungan lebih lanjut.

Lanjut dia bahwa” hasil dan dampak kerja-kerja program yang dilakukan oleh Tananua sangat kelihatan pada Bidang Program Kesehatan primer dan pertanian berkelanjutan dan ini sangat baik.”katanya  

Menurut Christine, Yayasan Tananua Flores sudah sangat serius dan sungguh -sungguh dalam menyelesaikan masalah dibidang kesehatan dan pertanian berkelanjutan bersama komunitas, sedangkan bidang organisasi petani dan Ekonomi hampir sama dengan program kerja sama sebelumnya dan situasinya sama dengan mitra MISEREOR lainnya. 

Dia mengungkapkan dengan situasi sosial lalu kesibukan masyarakat yang belum tercapai maka masih banyak membutuhkan strategi-strategi secara berkelanjutan untuk menangani problem ini dan Tananua sudah kerja banyak membantu masyarakat.

“Kita perlu banyak strategi-strategi secara berkelanjutan untuk menangani problem yang dialami masyarakat dengan melihat situasi sosial dan kesibukan di tengah masyarakat desa” ungkapnya.  

Sementara itu Hironimus Pala, Ketua dewan pengurus Yayasan Tananua Flores  dalam kesempatan itu memberi Apresiasi kepada MISEREOR yang telah memberi 2 kali kesempatan Tananua Flores melakukan Evaluasi Eksternal pada tahun 2014 dan tahun 2024. 

Hironimus mengungkapkan Proses evaluasi kali ini sangat partisipasi dan terbuka mulai dari persiapan yang sangat baik, pada pelaksanaan dan Yayasan Tananua Flores secara internal diberi kesempatan untuk melihat kemampuan dan kelemahan organisasi. Tim evaluator juga melakukan kunjungan dan wawancara dengan mitra kerja Tananua Flores di beberapa lembaga antara lain Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Ende, Camat dan kepala desa pada wilayah terpilih untuk evaluasi, Perguruan Tinggi, Lembaga Agama dan NGO lainnya, dan kunjungan lapangan untuk melihat langsung kerja lapangan di desa desa dampingan.

Ketua Badan Pengurus itu juga menuturkan dari hasil evaluasi diketahui “Yayasan Tananua Flores diakui kerja-kerja baik bersama masyarakat baik oleh pemerintah, lembaga Agama, Perguruan Tinggi maupun masyarakat desa dampingan sehingga ada desa yang menginginkan agar didampingi dalam waktu yang panjang.”tutur Hironimus sapaan akrab nya.

Hasil Evaluasi Kerja harus Lanjut

Dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh misereor terhadap kerja program dampingan  Yayasan Tananua flores di masyarakat menunjukan nilai positif. Hal ini dilihat dari beberapa pernyataan dari Tim Misereor bahwa kerja Tananua harus terus didukung. 

Tananua Flores sendiri melihat bahwa dari proses Evaluasi yang sudah dilakukan dapat dilihat beberapa capain dan yang belum dicapai, hal ini perlu sebuah strategi kedepannya yang lebih baik dalam menjalankan program pendampingan kepada masyarakat. 

 “Hasil evaluasi kali ini sangat membantu Yayasan Tananua Flores untuk melihat apa yang sudah dicapai dan apa yang belum dicapai serta apa yang harus dilakukan selanjutnya”,Kata Bernardus Sambut direktur Tananua Flores. 

Lanjut Bernadus ”Kedepannya banyak perbaikan yang harus kami kerjakan dalam sisa waktu program ini  terutama pada tahapan-tahapan untuk memulai mendampingi sampai mengakhiri pendampingan, dan Sistem pemantauan, perencanaan, analisis dan pendokumentasian program yang dikerjakan akan dilakukan secara sistematis, untuk sekarang sedang kami diskusikan dan dikerjakan, tegasnya.

Selain itu, Pupu Purwaningsih konsultan MISEREOR untuk Indonesia mengatakan dalam persiapan rencana kerja baru Tananua Flores harus mengkolaborasikan data, hasil evaluasi dan pengalaman-pengalaman pembelajaran Jaringan seperti sharing Pembelajaran (IJL, Apex dan lainnya) dalam rencana 6 bulan sisa program dan program baru.

 Ada beberapa pertanyaan dan rekomendasi yang harus diselaraskan dan dikonsolidasikan lagi untuk program yang akan datang dan masa konsolidasi program, sembari memberi kepastian waktu untuk bertemu di Ende bersama Tananua Flores pada Bulan Mei 2024. Tandasnya.

Sambung ibu Christine, apa yang mau Tananua Flores buat ke depan supaya kerja-kerja yang sudah dilakukan lebih baik lagi? Satu hal penting yang perlu dilakukan oleh Yayasan Tananua Flores adalah peningkatan “Perencanaan, monitoring dan evaluasi serta dokumentasi yang lebih baik”.

Diakhir pertemuan Daring Tim MISEREOR memberikan ekspektasi dengan mengatakan kerja sama antara Yayasan Tananua dan MISEREOR bisa berlanjut dengan selalu berkomunikasi dan koordinasi yang tidak putus untuk berjuang dan bekerja dalam membantu masyarakat yang membutuhkan. Terima kasih salam untuk semua Tim Tananua Flores dari kami MISEREOR. Dan sebaliknya Tim Tananua Flores juga menyampaikan terimakasih dan salam dari Tananua Flores untuk semua crew Misereor.

**Hery S** 

MISEREOR German Sapa Tananua Flores di Ende Read More »

Misereor Gelar Pelatihan Local Fundraising Batch IV Change the Game Academy

Dok.Halimah, Kegiatan Pelatihan LFR

Bali, Indonesia. Tanaua Flores | Sebanyak 13 NGO mitra Misereor Indonesia bagian tengah dan timur mengikuti pelatihan Local Fundraising – Change the Game Academy yang digelar oleh Misereor yang bekerja sama dengan SATUNAMA .

Dalam Pelatihan tersebut yang menjadi trainer/Fasilitator Langsung oleh  SATUNAMA yang dilaksanakan selama 5 hari di denpasar pada (22-26/4).

Peserta yang terlibat dalam kegiatan pelatihan antara lain utusan Magdalena Canossa Nurobo – Malaka, Yayasan Komodo Lestari Indonesia – Manggarai Barat, Yayasan Karya Murni – Ruteng,Yayasan Persekolahan Umat Khatolik – Sikka, Perguruan Tinggi UNIKA Waetabula,Yayasan Harapan Sumba,Yayasan Tananua Flores – Ende,Yayasan Dedikasi Tjipta Indonesia – Makasar ,Yayasan Kita Juga – Manggarai Barat,Perkumpulan Suara Papua  – Papua,Yayasan Frans Lieshout Papua ( YAWU PAPUA ),JPIC SVD Ruteng dan SKPKC Fransiskan Papua

Program pelatihan ini dirancang secara menyeluruh dengan fokus pada peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta. Metode pelatihan secara partisipatif-adaptif menjadi landasan utama, didukung oleh pemanfaatan teknologi sebagai sarana pendukung. Pendekatan ini memungkinkan para peserta untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran, dan menjadikan pelatihan lebih relevan sesuai dengan dinamika kebutuhan masyarakat.

Pelatihan LFR IV ini diselenggarakan melalui kerjasama SATUNAMA bersama Misereor dan Kindermissionswerk. Peserta pelatihan merupakan organisasi-organisasi mitra Misereor dan Kindermissionswerk di Indonesia yang akan mendapatkan penguatan kapasitas terkait Local Fundraising.

Pelatihan ini dijadwalkan sebagai langkah untuk terus memberikan pemahaman mendalam, keterampilan dan strategi dalam pengembangan sumber pendanaan lokal bagi mitra-mitra Misereor dan Kindermissionswerk di Indonesia. Dengan mengundang partisipasi lebih luas dari CSO, CBO, dan kelompok swadaya di seluruh Indonesia, pelatihan ini diharapkan dapat menciptakan dampak yang lebih besar dan berkelanjutan dalam memperkuat sektor nirlaba di tingkat lokal.

Pelatihan ini tidak hanya menjadi forum untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga sebagai wadah kolaboratif untuk merancang inovasi baru dalam mendukung pertumbuhan keberlanjutan organisasi masyarakat.

Selain itu, dengan pelatihan Local Fundraising, kedepannya dalam membangun dukungan yang lebih luas terhadap inisiatif dan program CSO/CBO akan semakin mampu menjalankan perannya dalam menciptakan perubahan yang positif di masyarakat.

SATUNAMA yang dipercayakan untuk menyelenggarakan kegiatan pelatihan ataupun kegiatan lain dalam mendorong peningkatan kapasitas antara sesama mitra berkomitmen untuk terus berlanjut dalam memperkuat kapasitas organisasi masyarakat di Indonesia.

Sementara sebagai Mitra Nasional untuk program CtGA di Indonesia, SATUNAMA bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pelatihan CtGA. Fokus utama pelatihan ini adalah memberikan penguatan dan pengembangan kapasitas bagi CSO dan CBO di Indonesia. Dua isu utama yang diangkat dalam pelatihan ini adalah Mobilizing Support (MS) dan Local Fundraising (LFR).

Situasi Terkini

Lembaga-Lembaga Swadaya  Masyarakat (NGO) menjalankan misi, visi dan programnya bersama masyarakat sumber pendanaannya selama ini sangat bergantung pada donor-donor luar negeri, termasuk mitra-mitra Misereor di Indonesia.

Kebergantungan pada donor yang sangat tinggi ini membuat Lembaga Lokal di indonesia tidak berkelanjutan dimana saat donor mengurangi atau setop bantuan dan tidak ada dana mandiri maka LSM-nya langsung bubar.  Di tambah lagi dengan kebijakan Negara lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan dalam negeri, dan juga terkait dengan kebijakan bantuan bagi Negara-negara lain dilihat dari yang paling membutuhkan. Kondisi ini juga berpengaruh terhadap ketersediaan dana di Misereor untuk mitra-mitra lokal di indonesia yang didukung oleh misereor.

Namun, pada Prespektif Misereor dan KMW ditemukan banyak mitra  penerima dana pemerintah Jerman  / BMZ melalui KZE yang masih kesulitan memenuhi persyaratan adanya kontribusi local sebesar 25 – 30 % akan sangat sulit untuk membantu Mitra dalam menutupi kekuarangan dana. Harus memulai dari kontribusi local dalam proyek yang diluncurkan.

Melihat masalah dan potensi diatas maka Misereor dan KMW memilki komitmen yang tinggi untuk mengembangkan kapasitas mitranya dengan mempertimbangkan keberlanjutan organisasi. Maka langkah awal yang dilakukan adalah melakukan pelatihan bagi Mitra  tentang pelatihan  penggalangan dana local (Local Fund Raising/LFR) kerja sama dengan Yayayasan Satunama di Jogya.

Misereor juga memandang ini adalah sesuatu yang mendesak karena adanya tantangan global, pembatasan melalui peraturan dan kebijakan pemerintah, menyusutnya ruang bagi masyarakat sipil dan adanya kebutuhan diversifikasi pendanaan .

Tujuannya adalah agar mereka dapat melayani masyarakat dengan lebih efektif dan menciptakan perubahan yang berkelanjutan di berbagai sektor di Indonesia. SATUNAMA mengukuhkan kolaborasi strategisnya dengan menjadi Organisasi Mitra Nasional (NPO) untuk Wilde Ganzen Foundation melalui Program Change the Game Academy (CtGA). Keanggotaan ini, yang dimulai pada tahun 2022, menjadikan SATUNAMA sebagai mitra nasional untuk Indonesia dan anggota Change the Game Academy Global Alliance.

Langkah ini bukan hanya untuk memberikan dampak positif di tingkat nasional, tetapi juga untuk berkontribusi pada pengembangan CSO/CBO secara global bersama mitra internasional, membangun jaringan kolaboratif yang dapat memperkuat peran organisasi nirlaba dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, serta membuka pintu terhadap inovasi dan kolaborasi pengembangan sumber daya manusia dan kapasitas CSO/CBO di Indonesia dan skala global. Sementara sebagai Mitra Nasional untuk program CtGA di Indonesia, SATUNAMA bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pelatihan CtGA. Fokus utama pelatihan ini adalah memberikan penguatan dan pengembangan kapasitas bagi CSO dan CBO di Indonesia. Dua isu utama yang diangkat dalam pelatihan ini adalah Mobilizing Support (MS) dan Local Fundraising (LFR).

Tahun 2023 menjadi momentum bersejarah dengan terselenggaranya Pelatihan Change the Game Academy pertama di Indonesia, yaitu pelatihan Local Fundraising Batch I, yang diikuti oleh lembaga CSO, CBO, dan kelompok swadaya di berbagai wilayah Indonesia. Pelatihan ini menjadi titik awal sebuah perjalanan panjang yang terus berlanjut. Selama tahun 2023, pelatihan Change the Game Academy telah terlaksana 4 (empat) kali dengan 3 (tiga) kali pelatihan Local Fundraising dan 1 (satu) kali pelatihan Mobilizing Support. Jumlah peserta total pelatihan CtGA (LFR dan MS) telah mencapai 68 orang dari 33 organisasi yang berasal dari seluruh Indonesia.  Khusus untuk pelatihan Local Fundraising, dengan peningkatan kapasitas dalam ranah Local Fundraising, diharapkan bahwa organisasi-organisasi tersebut dapat mengembangkan sumber pendanaan mereka secara berkelanjutan, memperkuat keuangan mereka, dan meraih dampak yang lebih luas di masyarakat.

Dok.Halimah, (Diskusi paskah Pelatihan LFR di kantor Tananua)

Refleksi Tananua Flores

Secara organisasi Yayasan Tananua Flores dan semua  mitra Misereor berkembang  dalam memperkuat kapasitas masyarakat untuk penghidupan yang berkelanjutan.

Namun ada beberapa kelemahan utama yang dihadapi antara lain:

Pertama, Tananua Flores merupakan salah satu dari lembaga mitra peserta pelatihan yang sangat rentan karena 80% operasional organisasi dan program sangat tergantung pada donor asing. Dan apabila donor berhenti mendadak maka lembaga bisa langsung mati atau bubar.

Kedua, Tananua Flores bersama semua lembaga peserta pelatihan selama ini mengakses dana besar kerja sama Misereor dan pemerintah Jerman dengan dana talangan 30% sebagian besar dipenuhi Misereor. Dengan demikian mitra belum mampu memenuhi kontribusi 30% chas.

Ketiga, Tananua Flores dan beberapa lembaga mitra peserta pelatihan selama ini belum belum banyak memanfaatkan sumber dana nasional dan sumber dana local, penelitian dari suatu lembaga menyatakan Indonesia Negara penderma di dunia.

Harapan tananua flores dari hasil refleksi terkait situasi kekinian dari organisasi pemberdayaan masyarakat yakni :

Pertama, Agar yayasan tetap hdiup dan berkembang bersama masyarakat maka sangat penting adanya dana mandiri organisasi.

Kedua, Untuk mendapatkan dana mandiri maka yayasan perlu menggalang Dana-dan dari pemerintah dan juga penggalangan dana lokal dari masyarakat sekitar.

Ketiga, Setiap organisasi perlu memasukan  program penggalangan Dana lokal dalam organisasi masing-masing.

Ke empat, Setiap organisasi perluh membentuk tim penggalangan dana lokal.

Oleh : Hironimus & Halimah

Misereor Gelar Pelatihan Local Fundraising Batch IV Change the Game Academy Read More »

Pemerintah Desa dan Nelayan Kotodirumali Lakukan Penutupan permanen Lokasi Tangkap Gurita

Nagekeo, Tananua Flores | Menjaga Produksi Perikanan agar terus berlanjut Nelayan dan masyarakat Desa kotodirumali melakukan penutupan permanen ke 2 di 3  lokasi tangkap gurita. Kegiatan awal implementasi penutupan permanen tersebut bertempat di kantor Desa kotodirumali dan dilanjutkan dengan seremonial adat di lokasi Ngadutangi pada(19 /01/2023) 

Menurut kepala desa Kotodirumali Maternus Mau kegiatan implementasi dan seremonial untuk melakukan penutupan permanen Lokasi tangkap sebenarnya sudah direncanakan sejak November 2023 namun, karena kondisi dan Cuaca laut yang sama sekali belum bersahabat ditambah lagi dengan beberapa kesibukan dari masyarakat dan Pemerintah desa maka sampai saat ini baru bisa dilaksanakan. 

Kepala desa tersebut menuturkan kegiatan yang didorong oleh Tananua adalah sangat penting karena berkaitan dengan menjaga Ruang laut untuk sebuah keberlanjutan dan butuh keterlibatan masyarakat serta komitmen dari Nelayan itu sendiri. 

“ Agar nelayan senyum dan tangkap di lokasi yang dekat maka Nelayan juga harus mulai melakukan penjagaan dan pengelola dengan baik”,Turur kades 

lanjutnya “ Jangan kita sebagai pelaku utama menghabiskan dengan pola penangkapan yang tidak ramah lingkungan”, Tuturnya

Kepala desa kotodirumali berharap, Perlu  ada kerja sama antara kelompok nelayan, masyarakat dan pemerintah desa setempat dengan tujuan Lokasi yang ditutup bisa menjadi lumbung bagi Nelayan itu sendiri.  

“ Saya berharap antara kami pemerintah desa, kelompok dan tokoh masyarakat perlu ada kerjasama, jaga lumbung ikan kita,” harap kades itu. 

Maternus Mau juga apresiasi kepada Tananua dan Blue Ventures karena sudah 3 tahun lebih masih setia mendamping warga masyarakat nelayan di desa.

Sementara itu, Staf Tananua Flores  Yulius Fanus Mari dalam sambutannya mengatakan bahwa ada 4 hal yang perlu dikerjakan bersama antara lain 

Pertama, Kegiatan penutupan permanen lokasi tangkap dan atau penutupan sementara perlu dibuat dalam peraturan desa atau permakades. Sehingga dampak dari mengatur sebuah kebijakan itu bisa berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat itu sendiri. 

Kedua, kelompok Pengelola dan pengawasan di desa harus betul menjaga perannya sehingga dalam proses pengawasan di lokasi Tangkap bisa secara maksimal.

Ketiga, Kelompok Nelayan harus mempunyai Tabungan untuk kebutuhan kedaruratan nelayan dalam melaut maupun dalam hal peningkatan ekonomi nelayan. Kalau di Laut Nelayan sudah berpikir berkaitan dengan lumbung sebaliknya dalam hal pendapatan perlu diatur guna mendapatkan Nilai tambah.

Ke empat, Terkait dengan pendataan gurita saat ini juga masih difokuskan dengan sistem pendataan menggunakan Lending Monitoring. Pendataan menjadi penting dalam mendorong sebuah perencanaan yang baik. Desa harus memiliki data perikanan sehingga kedepannya dalam mendorong sebuah kebijakan diambil berdasarkan Data.

Selain itu Staf Tananua juga menyampaikan apresiasi kepada nelayan di desa kotodirumali dan podenura yang sampai saat ini telah bersama-sama berjuang membangun model pengelolaan perikanan berbasis masyarakat di desa kotodirumali.

“Saya ucapkan Apresiasi dan terima kasih kepada Nelayan Kotodirumali beserta LMMA yang telah Melaksanakan kegiatan Penutupan permanen lokasi tangkap, Ini merupakan yang kedua setelah dilakukan pertama kali oleh masyarakat Ndori,” Ucap jhuan akrabnya

Dia berharap kedepannya Masyarakat Kotodirumali bisa melakukan Proses pengawasan dan harus masuk di dalam peraturan desa agar bisa dikelola dan dijaga secara kearifan lokal.

Ada 3 lokasi yang ditutup secara permanen dan dikukuhkan secara adat oleh tokoh ada di desa kotodirumali. 3 lokasi itu antara lain watudako,ngadutangi,dan busa.

Kegiatan itu diawali dengan Seremonial adat di lokasi penutupan permanen oleh tokoh adat di desa kotodirumali. Turut terlibat dalam kegiatan tersebut Pemerintah Desa, Anggota BPD, Tokoh Agama, Kelompok LMMA dan kelompok nelayan Kodim Octopus. 

Oleh : Tim Tananua

 

Pemerintah Desa dan Nelayan Kotodirumali Lakukan Penutupan permanen Lokasi Tangkap Gurita Read More »

Gerakan Hari Bersih dengan Basmi Sampah di Pesisir Pantai Ndori

Ende, Tananua Flores | Usai Sosialiasai Peraturan bersama 5 kepala desa di kecamatan Ndori, Masyarakat ndori lakukan kegiatan hari bersih dengan membersihkan wilayah pesisir laut dan lingkungan sekitar ndori

Gerakan hari bersih ini dilakukan atas inisiatif masyarakat sebagai tindak lanjut dari rencana  masyarakat pesisir pada saat dilakukan sosialisasi peraturan bersama Kepala Desa di kecamatan Ndori tentang kerjasama pemanfaatan wilayah pesisir dan laut berbasis masyarakat.

Ikut terlibat dalam kegiatan hari bersih ini adalah tokoh agama, tokoh pemuda, Pemerintah desa dan seluruh Nelayan di wilayah pesisir ndori pada (10/11)

Berkaitan dengan Peraturan bersama kepala desa  yang tertuang dalam pasal (8)  yaitu dilarang membuang sampah di laut. Dan menyadari hal tersebut masyarakat bersama pemerintah setempat membuat rencana kerja untuk membersihkan sampah di area pantai ipi dusun 2 ipi desa Serandori yang akan dilakukan pada setiap hari jumat.

“kita harus mendukung penuh dengan kegiatan ini, sebeb beberapa kegiatan yang didampingi Tananua telah membawa perubahan bagi nelayan kita”, Kata sulaiman Ahmad.

Tokoh agama dusun 2 ipi bapak Sulaiman Ahmad yang selama ini sangat berperan penting dalam melakukan kegiatan buka-tutup rumah gurita maupun kegiatan -kegiatan kelompok nelayan mengatakan bahwa dirinya mendukung penuh kegiatan yang selama ini Tananua dampingi di wilayah Ndori.

Selain itu, Sulaiman juga  menyampaikan yang menjadi kendala saat ini adalah sebagian masyarakat yang belum memiliki Jamban di rumah masing-masing.

Sebagai tokoh yang ada di masyarakat Sulaiman mengungkapkan bahwa sumbangsih program yang dilakukan Tananua selama ini sangat bermanfaat bagi masyarakat yang ada di Ndori khususnya di Dusun 2 Ipi.

Jika kegiatan ini akan terus dilakukan kebersihan rutin setiap hari jumad maka Lingkungan pastinya kedepan akan jauh lebih baik.

Kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama jadi perluh ada keterlibatan dalam melakukan kerja bersih memilih sampah agar bisa diamankan pada tempatnya. Lingkungan yang kotor akan secara perlahan menggangu Kesehatan keluarga, dan lingkungan pun tidak sehat.

Sementara itu pada saat yang sama, pemerintah desa dalam hal ini kepala dusun 2 ipi (ibu Mira) menghimbau masyarakat untuk agar tidak boleh membuang sampah apapun di pantai termasuk membuang hajat. Kepala dusun itu menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya dilakukan 1 hari namun kedepannya akan dilakukan pada setiap hari jumad.

Said Ketua kelompok nelayan”  kegiatan jumad bersih dulu pernah kami lakukan dan akhir-akhir ini jarang,  kami belum menyadari bahwa jangan membuang sampah di pantai, kami belum tau apa dampak ketika membuang sampah di laut. Berkat dampingan dari Tananua saat ini kami dan masyarakat sudah tau, jadi harapannya kedepannya tidak ada lagi yang membuang sampah di sekitar pantai ini.

 

Ditulis oleh : Agnes Ngura, PL di Wilayah kecamatan Ndori

Gerakan Hari Bersih dengan Basmi Sampah di Pesisir Pantai Ndori Read More »

Tananua Flores Gelar Festival Pangan Lokal “Tedo Tembu Wesa Wela, Gaga Bo.O Kewi Ae”

Detuwulu, Tananua Flores.|Dalam rangka memperingati hari raya pangan sedunia Yayasan Tananua Flores bersama dengan masyarakat desa dampingan pada program livelihood Menggelar festival pangan Lokal yang berlangsung selama dua hari.

Kegiatan Festival itu  dilaksanakan di Detuwulu, Kecamatan Maurole Pada Tanggal 15 – 16 Oktober 2023.

Tananua dan Desa dampingan Gelar Festival Pangan Lokal ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kesadaran dan apresiasi terhadap keberkelanjutan makanan lokal serta manfaat dari pangan lokal untuk Kesehatan Manusia.

Festival pangan lokal ini mengusung tema Tedo Tembu Wesa Wela, Gaga Bo.o Kewi Ae.  Selain itu ada beberapa acara dalam memeriahkan Festival antara lain seperti Talk Show, seminar pangan lokal dan PCH, dan lomba masak makanan pangan lokal yang diikuti oleh warga desa setempat. Dengan tujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya melestarikan kembali keragaman pangan lokal agar tidak punah digilas modernisasi secara global.

Kegiatan Festival tersebut juga diawali dengan misa bersama yang dipimpin oleh Pater Charles Beraf, SVD.

Pater Charles, dalam khotbah mengatakan bahwa dalam hal kegiatan seperti ini Dirinya terinspirasi dari bacaan injil Perjamuan kawin di Kana.

Katanya, apakah umat sekalian mampu menyediakan anggur terbaik hingga akhir pesta?, Maksudnya ialah bahwa segala yang terbaik dari usaha masyarakat terutama berkaitan dengan ketersediaan pangan lokal tetap tersedia hingga kapanpun, sampai menjadi masyarakat yang tidak memiliki kekurangan sedikitpun terutama berhubungan dengan ketersediaan pangan.

Usai misa bersama dilanjutkan dengan Kegiatan Talk Show untuk mendiskusikan berbagai persoalan masyarakat desa dalam mengembang dan pempertahankan pangan lokal. Acara Talk Show itu dipandu oleh Heribertus Se Manajer Program Yayasan Tananua Flores.

Hery Se, mengawali acara tersebut mengungkapkan bahwa Talk show ini adalah salah satu highlight dari festival  dengan menghadirkan narasumber-narasumber kompeten mewakili berbagai pihak (Tiga Batu Tungku) seperti agama, pemerintah dan tokoh adat.

Manager itu menjelaskan, Talk show ini menjadi platform bagi toko-toko atau narasumber lokal untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar keberadaan pangan lokal di tengah masyarakat  kondisi pangan lokal yang kian menghilang kemudian harus dibudidayakan serta didorong untu dilestarikan kembali.

Menyambung dari Penjelasan Manager Program kemudian dipertegas kembali oleh pater Charles Beraf dalam sesi Talkshow dengan mengatakan bahwa “pangan lokal itu waka (gengsi) kita”.

Menurutnya ketika masyarakat merawat, menjaga dan menggunakan pangan lokal sebagai sesuatu yang menjadi identitasnya, secara tidak langsung masyarakat juga sedang  menunjukan dan menjaga wakanya sendiri.

Pater carles yang juga Pembina Tananua itu menegaskan” kita  menggunakan bahan olahan dari luar merupakan salah satu tindakan merusak harga diri kita sendiri, kita menjunjung tinggi nilai dan kebesaran yang bukan bagian dari kita, kita hanya akan merasa berharga ketika kita menggunakan apa yang kita miliki bukan meminjam apa yang orang lain miliki dan mengklaim sebagai milik kita”, tegasnya

Selain itu Toko adat(mosalaki) Detuwulu Petrus Bata,  menjelaskan bahwa dirinya lebih melihat pangan lokal sebagai sumber utama pemberian persembahan kepada leluhur dan Tanawatu. Dalam Refleksinya bahwa saat ini pengembangan pangan lokal sudah mulai pergeseran dengan tanaman komoditi ditengah arus masifnya kebutuhan industri. Sehingga dampaknya adalah ana kalo fai walu (masyarakatnya) kian jauh dari pangan lokal.

Pertama,  mereka tidak memiliki lahan cukup luas dan banyak untuk membudayakan pangan lokal karena lahan-lahan yang sudah ada telah ditanami dengan tanaman umur panjang (komoditi).

Kedua, ada beberapa jenis pangan lokal yang tidak cocok untuk ditanami di wilayah Detuwulu. Ketiga banyaknya anak-anak yang sudah sekolah lebih memilih kerja kantoran ketimbang harus terjun ke kebun dan mengolah hasil kebun di kampung sendiri.

Dengan Alasan-alasan tersebut sebagai Tokoh adat merasa dilematis antara membiarkan ana kalo fai walu berjalan sesuai dengan apa yang mereka kehendaki dan itu berarti melenyapkan nila-nilai budaya yang asli seperti are wati manu eko dari hasil usaha dan keringat sendiri atau memaksa ana kali fai walu kembali membudidayakan keragaman pangan lokal sebagai kekayaan dari masyarakat adat dalam melestarikan nilai luhur budayanya.

Disisi yang lain kata Mosalaki itu saat ini mereka tidak memiliki lahan yang cukup untuk maksud tersebut, tetapi sebagai mosalaki kemudian merasa ditantang dan memutuskan satu kebun pribadi yang telah ditanam dengan tanaman komoditi akan digantikan dengan menanam dan membudidayakan pangan lokal yang sesuai dengan jenis tanah dan tuntutan seremonial adat.

Tokoh adat juga menyinggung terkait dengan peran dari pemerintah tentang pentingnya kebijakan dan langkah-langkah dalam mendukung ketahanan pangan lokal. Pemerintah di tuntun untuk sesekali memberikan kebiasaan, pengalaman dan pengetahuan mereka tentang pangan lokal.  Pemerintah juga harus mempunyai kebijakan khusus terkait dengan pangan lokal. Tutupnya.

Oleh : Mikel, Staf Tananua.

Tananua Flores Gelar Festival Pangan Lokal “Tedo Tembu Wesa Wela, Gaga Bo.O Kewi Ae” Read More »

Translate »