Pengelolaan Ekosistem laut Ndori harus berdampak pada Kesejahteraan Masyarakat

Tim Penyelam untuk Monitoring Habitat

Ende, Tananua Flores | Ekosistem di wilayah pesisir Ndori berperan sangat besar untuk menjaga kelestarian Habitat laut sekaligus menjaga sumber daya alam laut yang ada didalamnya. Keberlanjutan Habitat laut ndori akan sangat bergantung pada pengelolaan yang dilakukan masyarakat Ndori itu sendiri,

Siprianus Seru ,Kepala Seksi Konservasi perairan dan pengelolaan Wilayah pesisir dan Pulau-pulau Kecil pada Dinas kelautan dan perikanan Provinsi NTT cabang ende, Nagekeo dan Ngada Mengatakan, Pemerintah lewat Dinas Cabang Kelautan dan Perikanan yang ada di Ende sejak berkolaborasi dengan Tananua Flores sudah melakukan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan wilayah konservasi dan pemerintah sangat apresiasi dan berterima kasih kepada Tananua karena beberapa pekerjaan sudah dibantu dan kerjakan.(15/2)

“ Kami sangat bersyukur kepada Tananua sebab beberapa pekerjaan kami sudah dikerjakan oleh Tananua dan mitra nya, selain itu dengan kerja pendampingan yang dilakukan Tananua Masyarakat Ndori sudah merasakan dampak yang positif dengan peningkatan pendapatan mereka”, ungkap Dia pada kegiatan monitoring habitat laut di Ndori.

Menurutnya Target pendampingan Tananua pada khususnya pengelolaan ekosistem wilayah pesisir dengan pintu masuknya adalah gurita jenis Octopus Cyanea tetapi untuk menjaga kelestarian wilayah pesisir sudah dilakukan secara Umum dan manfaat dapat dirasakan oleh masyarakat Ndori.

Selain itu, dari pendampingan yang dilakukan oleh Tananua sudah mempengaruhi sebagian masyarakat Ndori di wilayah pesisir tidak hanya nelayan gurita tetapi secara umum masyarakat yang ada pesisir dengan tujuan Biota-biota laut lainnya selain gurita dengan sendirinya terjaga dengan baik.

Koordinator Program Yayasan Tananua Flores Pius I Jodho, menyatakan saat ini kondisi wilayah pesisir sangat mengkhawatirkan sebab wilayah itu tingkat abrasinya sangat tinggi. Penyebab utamanya bisa dibilang terkait dengan aktivitas Manusia yang tidak terbatas.

Untuk di wilayah Pesisir Ndori Perlu ada pengelolaan dan perlindungan agar seluruh potensi di pesisir ndori akan tetap terjaga dan masyarakat ndori bisa mengelolanya sesuai dengan kearifan setempat.

Situasi Terkini


Saat ini , Wilayah pesisir kecamatan ndori selalu diperhadapkan dengan Abrasi dan pengambilan Batu dan pasir di wilayah Pesisir secara liar. sementara, lewat Pendampingan yang dilakukan oleh Tananua telah memberikan beberapa pengetahuan tentang menjaga dan melestarikan wilayah pesisir, tentu hal itu menjadi perhatian semuanya jika kesadaran masyarakatnya belum terbangun secara baik.

Dari informasi yang disampaikan oleh Tananua untuk Wilayah pesisir kecamatan Ndori telah melakukan pengelolaan Ruang laut dengan metode yang dipakai adalah buka dan tutup lokasi penangkapan. Lokasi yang ditutup khusus untuk jenis biota Gurita ada 3 lokasi dan bentangannya sampai dengan 140 ha. Lokasi yang ditutup tersebut antara lain, Sera Hobakua, Sera Maubasa dan sera Ipi.

Lokasi yang ditutup selama 3 bulan hasilnya cukup tinggi, dan nelayan gurita sangat senang dan mendapatkan manfaat nya. Dampak dari Pengelolaan ruang laut berbasis masyarakat dengan Buka tutup lokasi tangkap, penangkapan yang tanpa batas dan penangkapan menggunakan alat tangkap yang tidak rama terhadap lingkungan sudah mulai berkurang.

Target dari Yayasan Tananua adalah pengelolaan ruang laut itu harus terus berlanjut yang dengan kesadaran penuh dilakukan oleh nelayan itu sendiri. Hal itu, telah dilakukan oleh nelayan gurita yang menginisiasi untuk melakukan Penutupan yang kedua.

“ kami dari nelayan gurita akan melakukan penutupan yang kedua, dan kami sudah ditentukan waktunya untuk penutupan itu,” Ujar Tato nelayan Gurita

Dia, menjelaskan bahwa dengan penutupan sementara lokasi tangkap nelayan telah banyak mendapatkan manfaatnya dan gurita yang dipanen sehari cukup banyak.

“ saya sebelumnya menangkap gurita lama sekali baru dapat gurita tetapi dengan penutupan sementara ini saya menangkap gurita dengan cepat dapatnya”, Tuturnya.

Wilayah Pesisir Ndori lokasi yang menjadi sasaran monitoring ada di lokasi penutupan sementara yakni lokasi sera maubasa. Dari keadaan habitat bawah laut, kondisi terumbu karang memang ada yang rusak dan karang yang ada saat ini sangat cocok untuk rumah gurita.

Amir, salah satu penyelam dari NTB yang melakukan monitoring di bawah laut mengatakan bahwa posisi karang di wilayah Ndori sangat baik untuk kepentingan keberlangsungan hidup gurita dan sementara untuk kepentingan ekowisata butuh waktu.

“ karang cukup baik untuk keberlangsungan hidup gurita, oleh karena itu nelayan harus menjaganya”, katannya

Pengelolaan Ruang Laut


Locally Managed Marine Area (LMMA ) adalah salah satu kelompok pengelola yang dibentuk oleh masyarakat untuk pengelolaan habitat laut secara berkelanjutan. Di wilayah kecamatan Ndori lembaga LMMA ini dibentuk dengan model pendekatan kawasan. Didalam LMMA itu sendiri kepengurusannya terdiri dari 5 desa yang ada di wilayah pesisir Ndori.

Tugas yang diembankan Lembaga pengelolaan ini melakukan proses pengawasan wilayah pesisir di lokasi-lokasi penutupan sementara, Monitoring Habitat Laut, Melakukan Penguatan kapasitas nelayan terkait dengan menjaga habitat laut , membangun koordinasi para pihak terkait pengawasan dan konservasi serta lainnya.

Kepala desa maubasa Azhar Banda mengatakan terkait dengan pengelolaan kawasan pesisir dan menjaga habitat laut, Desa pesisir di kecamatan Ndori telah membentuk Peraturan kepala Desa bersama.

Peraturan bersama kepala desa ini dibentuk untuk sebuah keberlanjutan dalam pengelolaan kawasan pesisir wilayah kecamatan Ndori.
“ Kami membentuk Permakades ini mempunyai dasar yang utama sesuai dengan UU desa yang memberikan kewenangan desa mengatur potensi desanya, “ Katannya,

Lanjut Dia, Wilayah Pesisir Ndori mempunyai potensi yang luar biasa, baik itu gurita, ikan dan jenis biota lain ini cukup banyak.

Kepala desa Maubasa itu menyatakan bawah tidak hanya mengatur soal pengelolaan tetapi mengatur soal perlindungan biota sebab, pesisir Ndori ini banyak nelayan luar yang menangkap di wilayah ndori baik menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan dan yang tidak ramah lingkungan.

Senada dengan program Tananua terkait pengelolaan ruang laut, “ kami juga mengatur soal pengelolaan sampah dan pengambilan Batu pasir di pesisir Ndori” ujar kades itu

Pesisir laut Ndori dengan potensi gurita telah memberikan dampak terhadap perekonomian nelayan Ndori. Dari data yang disampaikan Tananua Flores sejak pendampingan September 2021 – Februari 2023 saat ini Data gurita berjumlah 6151 ekor untuk Jantan dan 5318 ekor untuk Betina total 11.469 ekor sementara Produksi gurita 11,942,77 Kg. Data ini di himpun hanya 3 desa yaitu maubasa, maubasa timur dan Serandori.

Dari data itu kemudian menjadi rujukan bagi Pemerintah kecamatan ndori lewat 5 desa di wilayah pesisir Ndori membentuk Permakades bersama untuk menjaga dan mengelola agar lingkungan laut terus lestari dan berkelanjutan.

Oleh : JFM

Pengelolaan Ekosistem laut Ndori harus berdampak pada Kesejahteraan Masyarakat Read More »

Menggagas  Gerak Pagi  Kelompok Tani Lodolata Group Desa Detumbewa; Optimaliasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan

Pengembangan tanaman  pekarangan dapat dijadikan sebagai sumber pangan dan gizi keluarga. Lahan pekarangan juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan keluarga.  Riset menunjukkan bahwa lahan pekarangan rumah dapat menyumbangkan pendapatan keluarga sekitar 7- 45 %.

Tanaman yang dikembangkan disekitar rumah dikembangkan sesuai dengan potensi pekarangan. Dengan demikian Penggunaan lahan pekarangan sejatinya melihat nilai guna, kebutuhan keluarga dan potensi pasar.

Tanaman yang dikembangkan di pekarangan menjadi sumber oksigen. Lahan yang tersedia dipekarangan menjadi wahana kegiatan cinta lingkungan bagi keluarga. Penataan tanaman di sekitar rumah menjadi bagian dari estetika rumah.

Marselina Gaa (kedua dari kanan, berbaju hijau) bersama Kelompok Tani Lodolata Group melakukan aktivitas gerak pagi. Foto MG 24/1/2023

Menggagas Gerak Pagi, Kelompok Tani Lodolata Group

Salah satu kerja Yayasan Tananua Flores (YTNF) adalah mendampingi masyarakat pedesaan untuk mengembangkan lahan pekarangan. Pendampingan petani di desa dilakukan bersama kelompok-kelompok tani. Kelompok Tani Lodolata Group bersama Staf  Lapangan YTNF Desa Detumbewa, Marselina Gaa bersama para kepala dusun menggagas aktivitas pengembangan lahan pekarangan. Kegiatan ini diberi nama gerak pagi. Gerak Pagi ini menjadi kegiatan kelompok tani selama satu jam dipagi hari.

Staf yang telah berkarya di YTNF sejak  1998 ini melihat hal ini menjadi moment berharga dalam mendampingi petani untuk mengembangkan tanaman di area pekarangan.  Sejak menjadi staf  Tananua Ibu Selly telah bertugas di Koperasi Kebekolo, Desa Taniwoda, Desa Wolondopo, Desa Lise Lowobora, Desa Nua Lise, Desa Tanalangi, Desa Kereselo, Desa Mukusaki, dan Desa Detuwulu.

Gerak pagi ini dilakukan oleh Kelompok Tani Lodolata Group sebanyak 13 orang. Kegiatan gerak pagi ini dilakukan selama 10 hari untuk 10 areal pekarangan  di Dusun Batebo, Kampung Nuabaru, Desa Detumbewa.  Kelompok Tani ini menyepakati iuran sebesar 10 ribu rupiah untuk pengadaan benih sayur.

Kelompok Tani merupakan kumpulan petani/peternak/pekebun yang memiliki kesamaan kondisi lingkungan dari segi sosial, ekonomi dan sumber daya. Kelompok Tani yang terbentuk memiliki kesamaan kepentingan dan akrab dalam mengembangkan usaha anggotanya. Manajemen Kelompok Tani terdiri dari Planning (perencanaan), Organizing (organisasi), Actuating (pelaksanaan) dan Evaluation (Evaluasi).

Kelompok Tani Lodolata Group Desa Detumbewa, Kecamatan Detukeli, Ende mengolah lahan pekarangan. Foto: MG 2/1/2023

Keberadaan Kelompok Tani menjadi forum belajar berorganisasi dan berusaha tani. Terbentuknya kelompok tani menjadi wahana kerja sama antara petani. Selain itu kelompok tani dapat dijadikan sebagai unit produksi usaha tani. Kelompok Tani dapat memberikan umpan balik tentang kinerja suatu teknologi pertanian.

Potensi Lahan Pekarangan

Sebagai sumber pangan hal yang dapat dikembangkan adalah tanaman holtikultura seperti sayur-sayuran, umbi-umbian dan kacang-kacangan. Selain itu sebagai pelengkap dapat dibudidayakan ternak dan ikan. Ternak yang dikembangkan dapat berupa unggas hias, unggas petelur dan unggas daging (ayam,bebek, dan itik). Ikan yang dapat dipelihara seperti ikan hias, dan ikan untuk produksi daging (lele dan mujair).

Potensi pekarangan amat baik untuk dapat dijadikan sebagai lahan untuk menanam tanaman buah, bumbu, dan tanaman obat. Lahan pekarangan menjadi warung, apotek, lumbung, dan bank. Pengembangan lahan pekarangan untuk konservasi dengan memerhatikan keanekaragaman hayati dapat mendukung agroekology dan pertanian yang berkelanjutan.

Meskipun demikian pemanfaatan lahan pekarangan kurang menjadi perhatian keluarga. Hal ini karena kurangnya pengetahuan dan minimnya pelatihan teknis budidaya tanaman pada lingkungan berskala kecil.

Dalam mengembangkan tanaman pekarangan ada beberapa tahapan yang dapat dilakukan antara lain: pengolahan tanah, penentuan jenis tanaman, proses pemeliharaan tanaman, dan penyiraman secara kontinyu.

Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan mencangkul dan membersihkannya dari tanaman liar. Sedapat mungkin dalam pengolahan tanah menggunakan bahan organik tanpa menggunakan bahan kimia. Selain itu dapat petani dapat pula memanfaatkan media tanam dengan komposisi kompos, tanah dan sekam padi dengan perbandingan 1:1:1.

Ketiga bahan ini kemudian dicampur lalu dimasukan ke dalam pot, polybag, atau limbah plasik (gelas dan botol). Media tanam yang telah disiapkan dibiarkan selama seminggu sebelum ditanami aneka tanaman. Kriteria tanah yang baik adalah memiliki PH yang netral, mendapatkan bahan organik yang cukup dan memiliki ketersediaan hara yang optimal.

Tanaman yang dipilih untuk ditanam di sekitar pekarangan rumah dapat bermanfaat untuk keperluan rumah tangga. Pengembangan tanaman untuk obat dan kesehatan baik untuk kelangsungan hidup keluarga. Tanaman obat khas Indonesia antara lain: sembung, saga, tapak dara, mahkota dewa, brotowali, sambiloto, temu-temuan, mengkudu, mangkokan dan meniran.

Selain itu untuk tanaman yang dimanfaatkan untuk memenuhi keperluan dapur seperti: cabe, tomat, sayuran, bayam, kangkung, mentimun, kacang panjang, umbi-umbian dan terung. Sebagai pelengkap gizi keluarga pekarangan dapat ditumbuhi papaya, pisang, dan jeruk. Demi tujuan estetika dapat ditata aneka tanaman hias yang menarik.

Optimalisasi Lahan Pekarangan

Penentuan tata letak tanaman disesuaikan dengan habitat hidupnya. Pancaran sinar matahari yang cukup akan membantu proses fotosintesis tanaman.  Untuk itu di bagian timur pekarangan dapat ditanami jenis tanaman yang berukuran kecil dan tanaman yang berukuran besar di sebelah barat. Hal ini dilakukan agar tanaman yang berukuran besar tidak menutupi sinar matahari. Tambahan pula populasi tanaman dan jarak antar tanaman akan memengaruhi pemanfaatan air dan unsur hara.

Pemeliharaan tanaman dikerjakan secara teratur dilakukan dengan melakukan penyiangan untuk tujuan kebersihan, keindahan dan mencegah perolehan kompetisi nutrisi tanaman. Sisa tumbuhan liar yang dibersihkan dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau pupuk kompos dengan cara dikuburkan ke dalam tanah.

Lahan Pekarangan Kelompok Tani Lodolata Group diolah secara organik menggunakan daun gamal. Foto MG 23/1/2023

Pada tanaman muda dan baru tumbuh penyiraman dilakukan secara berkelanjutan sesuai dengan kondisi lahan pekarangan. Tambahan pula penting untuk menanam beberapa jenis bunga untuk membantu penyerbukan secara organik oleh lebah. Sebab proses perkembangan tanaman tergantung pada sifat alam.

Tingkat kesuburan dan kelembapan tanah dapat terjaga dengan memanfaatkan kompos dan mulsa nabati seperti dari campuran daun, potongan rumput, kulit telur dan bubuk kopi. Posisi tanaman dengan arah angin yang sesuai untuk pertahanan tanaman. Tanaman yang dikelilingi oleh pagar akan terasa lebih aman dari gangguan angin dan hama. Sementara itu untuk sayuran membutuhkan tanaman pendamping jenis sayuran lainnya untuk mencegah serangga, meminimalisir penyakit dan meningkatkan rasa sayuran.

Pembuatan bedengan akan memperpanjang musim tanam secara signifikan. Namun dalam proses pembuatan hindari penggunaan kayu yang dirawat dengan bahan kimia. Jika area perkebunannya terbatas dapat diterapkan teknik berkebun vertikal untuk meningkatkan sirkulasi dan mencegah jamur. Oleh karena itu pengolahan lahan yang optimal akan menciptakan keberlanjutan pemanfaatan lahan pekarangan. (ed.EWB)

Sumber:

Data Laporan Marselina Gaa Staf  YTNF

Solihin, Eso.,dkk.(2018). Pemanfaatan Pekarangan Rumah Untuk Budidaya Sayuran Sebagai Penyedia Gizi Sehat Keluarga. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Ekawati, Rina, dkk. (2021). Optimalisasi Lahan Pekarangan dengan Budidaya Tanaman Sayuran sebagai salah Satu Alternatif dalam Mencapai Strategi Kemandirian Pangan. PRIMA: Journal of Community Empowering and Services. Universitas Negeri Solo

Cybex.pertanian.go.id

 

Menggagas  Gerak Pagi  Kelompok Tani Lodolata Group Desa Detumbewa; Optimaliasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan Read More »

Jaga Lingkungan kita, Siapa yang menguasai Benih Pangan Dialah yang menguasai Sumber Penghidupan

Doc. Presentasi Kadis Ketahanan pangan

Ende, Mbobhengga, Tananua Flores | Siapa yang menguasai benih pangan dialah yang menguasai sumber penghidupan. Pangan adalah harga diri, karena pangan merupakan sumber utama manusia hidup. 

Berkaca pada sejarah masa lampau yang bercocok tanam dan menjaga benih adalah nenek moyang/leluhur kita . Mereka menyimpan benihnya di lumbung-lumbung. Sehingga ketika musim tanam, mereka akan ambil benih itu kemudian menanam kembali. 

Itulah kutipan penjelasan Ketua pengurus Yayasan Tananua Flores Hironimus Pala ketika awal membawakan materi  pada kegiatan pertemuan semesteran petani dan nelayan di desa Mbobhenga pada (sabtu 10/12/2022). 

Menurutnya bahwa saat ini petani sudah Enggan menguasai lagi benih, dan bahkan pangan lokal yang menjadi sumber insani bagi petani itu sendiri sudah mulai hilang. Banyak petani sudah dimanjakan dan ketergantungan kepada pangan hasil rekayasa genetika yang datang dari bantuan-bantuan dari pihak ketiga. 

Saat ini petani memahami pangan itu hanya sebatas pada di kebun ladang dan sawah, mungkin saja hanya beberapa jenis. Padahal, yang diwariskan oleh  leluhur dan hasil hutan begitu banyak. 

“ kita petani saat ini ketergantungan pada benih bantuan, dan menghilangkan benih lokal kita sendiri. Perbedaan antara benih bantuan dan benih lokal itu sangat jauh berbeda, Benih lokal jika ditanam hasilnya cukup berbeda dengan benih yang datang dari bantuan.  Benih bantuan jika ditanam ketergantungan lagi pada pupuk dan hasilnya pun harus selesai digunakan, tidak bisa simpan dengan jangka waktu yang lama”, jelas Hiro. 

Lebih jauh ketua Pengurus Tananua itu mengungkapkan bahwa realitas sekarang yang terjadi  adalah petani di desa banyak sekali alih fungsi lahan, dari kebun tanaman pangan di alihkan menjadi kebun komoditi dan lain-lain. Untuk benih pangan dan pengembangan pangan sudah tidak lagi diperhatikan lagi oleh petani-petani yang ada di desa. Hampir sebagian besar, bibit pangan lokal di desa sudah mulai hilang dan petani sudah mulai ketergantungan kepada benih hibrida. 

“ Kita petani di desa- desa sudah mulai ketergantungan pada benih hibrida, tidak lagi pada benih lokal kita sendiri, Puluhan bibit benih pangan lokal tidak lagi dikembangkan, dan wajar jika situasi krisis pangan maka kita sudah mengalami gangguan”, ujarnya.

Menoleh sedikit terkait situasi pangan dunia, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menilai angka krisis pangan cukup mengkhawatirkan. Diperkirakan 179 sampai 181 juta orang di 41 negara akan menghadapi krisis pangan. Namun ada hal yang lebih mengerikan lagi, adanya aspek yang sering luput dari perhatian, yakni krisis pupuk.

“Ini menjadi masukan bagi peserta untuk melihat apa dampak krisis pupuk bagi ketahanan pangan ke depan, di tahun-tahun depan, karena dari data yang kita peroleh, krisis pupuk ini kalau tidak di address, maka tahun depan dampaknya akan dapat memicu krisis beras,” kata Menlu Retno di jakarta pada Selasa, (11/10/2022).

Berbicara mengenai krisis beras, maka akan terkait dengan dua milyar orang yang sebagian tinggal di Asia. Itu bagian pertama bahwa inilah situasi dunia saat presidensi Indonesia dijalankan.

Krisis pangan, energi, keuangan dengan cepat menjadi bagian dari realitas dunia dan Rusia serta Ukraina memiliki posisi yang cukup penting dalam rantai pasok pangan dan energi global. Sehingga, lonjakan harga pangan dan energi tidak dapat dihindari akibat perang antara Rusia dan Ukraina.

Indeks harga pangan naik 20,8 persen dari tahun sebelumnya dan sempat mencapai titik tertinggi pada Maret 2022. Harga minyak mentah menembus angka 12USD per barel. Harga energi meningkat 50 persen dibanding tahun lalu. Di Eropa, harga gas bahkan meningkat 10 kali lipat jika dibandingkan tahun 2022. Sementara pupuk dunia meningkat 2 kali lipat dibandingkan rata-rata sepuluh tahun belakangan ini.

Dari situasi tersebut di atas Pertemuan semesteran Petani dan nelayan yang diselenggarakan di Desa Mbo bhenga menjadi sebuah langkah agar petani dan nelayan harus memulai menjaga benih pangan dan mulai kembali kembangkan pangan lokal. 

Sementara itu, kepala dinas ketahanan pangan kabupaten Ende Mathilda G. Ilmu menuturkan” mulai saat ini harus membangun gerak bersama untuk mengembangkan kembali pangan lokal,di kabupaten Ende sendiri banyak sekali pangan lokal yang kita miliki mulai dari yang kita sendiri budidaya ataupun dari hasil hutan. 

Kepala Dinas Ketahanan pangan menyadari bahwa saat ini Petani jauh sekali untuk mengembangkan pangan lokal, sehingga gerakan untuk memulai kembali perlu dilakukan. 

Kata Mathilda kadis ketahanan pangan, “selain persoalan pangan kita juga diperhadapkan dengan pola konsumsi yang serba instan, makanan yang berasal dari pangan lokal kita sendiri tidak lagi dikonsumsi. Padahal, makanan dari pangan lokal mempunyai nutrisi yang gizi sangat tinggi tidak mengandung zat-zat kimia dan lainnya”. 

Kabupaten Ende saat ini sedang mendorong peraturan daerah terkait dengan penyelenggaraan pangan. Produk hukum ini dibuat agar benih pangan lokal dari petani dilindungi dan juga petani harus mempunyai lumbung benih. 

Kedepannya, “ jika perda ini sudah ditetapkan, maka produk pangan lokal harus dikembangkan kembali oleh petani,” tegasnya. 

 

Oleh : Jhuan Mari. 

Jaga Lingkungan kita, Siapa yang menguasai Benih Pangan Dialah yang menguasai Sumber Penghidupan Read More »

Pemdes Persiapan Maurongga Gandeng ACIL dan Tananua Gelar Pelatihan Pengolahan Sampah Plastik

Ende, Tananua Flores| Lingkungan bersih, laut bersih itu semua adalah tanggung jawab semua unsur di wilayah kabupaten Ende. Sampah Plastik saat ini menjadi momok yang membuat pemandangan tidak indah di pandang mata, karena sampah berserakan dimana-mana.

Bebicara terkait dengan Masalah sampah kali ini Pemerintah Desa persiapan Maurongga Gandeng Tananua dan Acil Ende untuk selenggarakan Pelatihan pengolahan Sampah Plastik yang bernilai Ekonomis. Kegiatan tersebut diselenggarakan selama 2 hari yang dimulai dari Maurongga di hari pertama dan sekretariat ACIL Ende di hari kedua. Peserta yang terlibat di kegiatan itu terdiri dari kelompok dasawisma Maurongga dan kelompok perikanan di lingkungan Arubara,kelurahan Tetandara ende.(23/8)

Umar Hamdan Pimpinan ACIL Ende dalam kegiatan pelatihan itu mengatakan  bahwa Sampah plastik yang  dihasilkan dari rumah tangga berkisar 110 ton Per Hari itu terdiri dari sampah anorganik (sampah plastik).

“Kami Secara lembaga mendorong semua stakeholder bahwa masalah Sampah bukan masalah perorangan melainkan masalah bersama,  saat ini Sampah Plastik bukan lagi masalah lokal tetapi sudah menjadi isu Dunia”ujar Hamdan ketua ACIL Ende.

Kegiatan yang digelar oleh Tananua dan pemerintah desa ini agar kelompok dasawisma bisa memanfaatkan sampah plastik menjadi peluang usaha baru dalam peningkatan ekonomi rumah tangga.

” Saat ini masalah Sampah harus menjadi masalah kita bersama, dan untuk meminimalisir juga kita sendiri,apalagi dengan mengolah sampah sekarang juga bisa mempunyai pendapatan”, katanya

Selain itu dia juga menjelaskan bahwa ACIL sendiri sudah mulai bergerak dengan melakukan pengolahan Sampah Plastik sejak tahun 2013.

Menurutnya ACIL Ende bahwa banyak orang merasa Sampah Plastik yang kotor dan  terbuang itu sudah tidak dimanfaatkan lagi namun saat ini sampah plastik yang dibuang sudah punya nilai ekonomis.

Sedikit melihat kembali ke belakang Kantong plastik pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh ilmuwan asal Swedia, Sten Gustaf Thulin pada 1959 oleh. Awalnya, kemunculan kantong plastik bertujuan sebagai media pengganti kantong kertas yang proses produksinya dianggap mengancam keberlanjutan alam.

Seiring dengan berjalannya waktu, saat ini kenyamanan dan kepraktisan membuat kantong plastik menjadi sampah yang menumpuk. Orang-orang sering memakai kantong plastik sekali lalu membuangnya, tidak lagi menggunakan kantong plastik berulang kali.

Perjalanan dalam pemanfaatan barang plastik semakin tinggi disaat Perang Dunia II berkecamuk, industri plastik sintetis sedang dalam titik puncak produksi karena adanya tuntutan untuk melestarikan sumber daya alam. Dengan demikian, produksi alternatif sintetis menjadi prioritas.

Sekarang ini Plastik sudah tidak lagi menjadi solusi tetapi sudah sebuah masalah, optimisme terhadap kantong plastik dinilai berlebihan. Kantong plastik dan produk yang berkemasan plastik tak lagi dipandang positif dan solutif, terutama setelah puing-puing plastik menjadi lautan sampah.

Nah, dengan gambaran itu maka menjadi tujuan dari kegiatan tersebut adalah mendorong masyarakat desa persiapan Maurongga agar bisa memanfaatkan sampah plastik sebagai peluang baru untuk sumber pendapatan ekonomi. Sehingga plastik sampah yang dianggap sebuah masalah tetapi dengan mengolah kembali bisa mendapatkan pendapatan.

” Ya saat inikan sampah yang kotor tentu semua orang merasa tidak mempunyai nilai, tetapi kami sudah membuktikan sampah plastik yang kotor dan terbuang juga memiliki nilai ekonomis”, Ungkap Hamdan.

Lanjut dia bahwa jika semua orang membuang sampah plastik tidak pada tempatnya maka sampah tersebut akan membawa penyakit baru yang saat ini banyak dialami masyarakat.

Kegiatan pelatihan pilah pilih sampah untuk kelestarian tersebut diawali dengan cleaning up(pemilahan sampah) yang dipimpin oleh sekretaris desa persiapan Maurongga.

Kepala Desa Maurongga yang diwakili oleh sekretaris Desa Muhamad Nuhu mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada ACIL Ende dan Tananua Flores yang telah memberikan perhatian khusus kepada warga desa persiapan Maurongga.

Katanya ACIL telah memberikan peluang usaha baru bagi masyarakat jika mau konsentrasi menangani masalah Sampah, jujur di wilayah kecamatan Nangapanda tidak ada yang mulai usaha dengan barang -barang kotor.

Dalam gerakan menjaga lingkungan hidup dan kelestarian lingkungan ACIL Ende telah bekerja sama dengan pemerintah kabupaten Ende, lembaga pendidikan dan juga lembaga kesehatan untuk menangani masalah Sampah. Namun, hal itu masih belum banyak memberikan dampak yang positif. Masih sebagai besar yang belum merasa bahwa sampah bukan menjadi sebuah masalah.

Sampah tidak lagi menjadi masalah baru melainkan masalah yang harus ditangani secara bersama dan itu semua harus mulai dari Rumah.

Kata pimpinan ACIL Ende bahwa Bahaya membuang sampah sembarangan tempat khusus sampah plastik akan mendatangkan penyakit yang sadar tidak sadar selama ini dialami oleh masyarakat dan kita semua.

Selain itu, Sampah mengancam kelestarian lingkungan Laut akan tercemar, banjir, ekosistem laut jadi rusak dan muncul penyakit baru.

“Bahaya sekali kalau kita membuang sampah tidak pada tempatnya, karena itu bisa menimbulkan dampak pada kesehatan dan juga akan merusak ekosistem yang ada di laut”, katanya.

Lebih jauh lembaga yang menangani masalah Sampah di Ende menjelaskan bahwa sampah plastik akan hilang dan hancur 500san tahun dan itu memakan waktu cukup lama. Ada Jenis sampah styrofoam yang terbuat dari gabus  bisa hancur 1000an tahun,” Kata mereka.

Sementara itu Heribertus Se manager program Yayasan Tananua Flores menuturkan bahwa Tananua Flores secara lembaga konsen terhadap masalah Sampah. Dorongan Tananua adalah konservasi dan kelestarian lingkungan hidup baik area laut maupun darat.

Pria yang keseharian bergelut dengan masyarakat desa itu mengatakan pihak lembaga yayasan Tananua akan terus mendorong dan mendampingi masyarakat untuk terus menjaga lingkungan.

Persoalan sampah plastik agar pelan-pelan berkurang harus mulai dari diri rumah tangga kita masing -masing sebab pemahaman terkait penanganan sampah harus di bangun dari keluarga, dan Persoalan Sampah saat ini menjadi permasalahan yang harus menjadi fokus untuk diperhatikan semua orang. Selain itu untuk Kabupaten Ende persoalan sampah sudah menjadi masalah setiap tahun yang terus menerus dibicarakan.

Penulis : JF

Editor : Jhuan Mari

Pemdes Persiapan Maurongga Gandeng ACIL dan Tananua Gelar Pelatihan Pengolahan Sampah Plastik Read More »

Adat adalah bagian dari Jati Diri

Ende, Wologai- Tananua  Flores |Komunitas adat Ngamu Zangga merupakan salah satu komunitas adat  yang berada di wilayah utara  desa wologai kecamatan Ende kabupaten Ende.  Jarak  tempu menuju komunitas itu sekitar 40 km dari kota kabupaten Ende. Komunitas adat ini  mempunyai kawasan hutan adat. Perjalanan dari kota Ende menuju komunitas  ini terbilang menarik karena bertepatan dengan momen adat Desa Wologai yakni Pati ka tana seti Uta watu (memberi makan para leluhur) di sebuah komunitas adat.

Nama Komunitas adat ini adalah Tanah Ngamu Zangga Ledaseko. Acara ini merupakan perayan syukur sehingga di sana kita bisa melihat anggota suku adat (Fai Walu Ana Kalo) membawa hasil usaha mereka berupa ayam, arak, dan beras (Moke Boti are wati) kepada pemangku adat (Mosa laki) yang kemudian akan dimasak dan diberikan kepada para leluhur. Nuansa sukacita serta kekeluargaan sangat dirasakan dalam momen ini. Desa Wologai serta keunikannya mengantarkan penulis untuk melukisnya dalam tulisan ini.

Wologai dan adat yang menjiwai kehidupan mereka

Ada beberap hal menarik yang hendak diuraikan dalam tulisan ini pertama terkait Wologai dan adat yang menjiwai kehidupan mereka. Sekilas seremonial adat memberi makan para leluhur memang bukan hal asing untuk beberapa komunitas adat di wilayah Kabupaten Ende. Namun, terbilang asing bagi beberapa generasi saat ini karena ada beberapa daerah memang tidak memiliki tradisi ini lagi sehingga mereka hanya menjumpainya pada perayaan di komunitas-komunitas lain.

Pati Ka Tana Seti Uta Watu (Memberi makan leluhur) bagi masyarakat adat Wologai khususnya bagi Suku Tanah Ngamu Zangga Ledaseko merupakan bentuk luapan rasa syukur masyarakat adat Wologai atas campur tangan para leluhur dalam setiap usaha dan kerja mereka dalam mengelola kebun/ladang yang wajib dilakukan setiap musim panen dan juga musim awal menanam ( Kornelis Keta, Mosalaki Tana Ngamu Zangga Ledaseko).

Oleh karena itu hal ini selalu dijalankan dengan penuh syukur dan sukacita oleh masyarakat  adat Tana Ngamu Zangga Ledaseko. Di sisi lain perayaan syukur ini juga menjadi momen komunal di mana semua anggota komunitas berkumpul dan dipanggil namanya satu demi satu untuk mempersembahkan hasil ladang mereka.  Persembahan yang dibawah adalah hasil kebun berupa beras, arak dan ayam dari hasil peliharaan.

Upacara memberi makan leluhur menjadi ruang musyawarah keluarga dalam memecahkan persoalan pangan serta berbagai rencana untuk musim tanam pada tahun berikutnya. Siklus ini dijalankan dan diwarisi secara turun-temurun.

Berbagai filosofi dan kearifan lokal dalam menjaga dan mengolah ladang digemakan dan dipertegas dengan tujuan agar dalam mengelolah ladang masyarakat tidak melupakan nilai-nilai penting menjaga lingkungan mereka. Nilai- nilai yang dibicarakan itu antara lain, setiap anggota komunitas diwajibkan untuk menanam tanaman pangan seperti padi dan jagung ataupun jenis pangan lokal lainnya.

Saat musim menanam setiap suku diwajibkan untuk melakukan aktivitas menanam dan berbagai nilai lainnya dalam mengolah dan menjaga lingkungan. Upacara ini diakhir dengan memberi makan leluhur oleh ketua adat dan juga makan bersama semua anggota komunitas.

Mengapa Kebudayaan Dan Tradisi Itu Penting

Bertolak dari upacara memberi makan para leluhur Tanah Ngamu Zangga desa wologai. Ada beberapa hal yang menimbulkan pertanyaan. Pertama, mengapa seremonial adat itu penting bagi mereka kehidupan masyarakat adat untuk memulai bercocok tanam.

Merasa Penting sebab kehidupan masyarakat adat sangat dekat hubungannya dengan Alam, leluhur atau kepercayaan kepada sang pencipta serta kehidupan sosial manusia. Hubungan itu saling berkaitan sebab manusia akan mendapatakan kehidupan harus berpijak dan bernaung pada alam serta seluruh makluk hidup .

Selanjutnya  tentang leluhur/sang pencipta adalah bagian dari keyakinan masyarakat bahwa setiap makluk hidup yang ada di bumi ini tidak muncul dengan sendirinya melainkan ada penciptanya. Sedangkan kehidupan sosial manusia, antara sesama manusia tentu hidupnya saling berinteraksi ,komunikasi antara satu dan lainnya.

Jadi berbicara seremonial tentu yang kelihatan adalah hubungan manusia untuk bersama-sama mengucapkan syukur atas keberhasilan serta memberikan penghargaan kepada sesama agar mempererat tali persaudaraan.

Kedua, adakah sesuatu yang mendorong masyarakat untuk tetap melakukan ritus-ritus kebudayaan yang kalau ditinjau dari segi Ekonomi justru nenelan biaya besar dan mengantarkan masyarakat pada jurang kemiskinan.  Dari segi budaya tentu sebuah dorongan untuk masyarakat adat selalu mengingat pada hubungan 3 unsur, Manusia, Kepercayaan dan alam semesta. Dan Masyarakat adat memulainnya dengan saling menghargai antara sesama manusia.

Sebagai manusia berbudaya, kebudayaan dan adat istiadat menjadi fondasi dan jati diri. Berbagai persoalan justru timbul ketika manusia meninggalkan kebudayaan yang merupakan jati dirinya. Sederhanya. Ketika melupakan kebudayaan manusia melupakan dirinya sendiri.

Berbagai perayaan seremonial adat di wilayah Ende dan Lio umumnya membutuhkan biaya yang cukup besar tetapi toh anggota masyarakat (Fai Walu ana kalo) tetap merasa ada keharusan untuk terlibat dalam ruang itu.

Ada berbagai persoalan terkait lingkungan hidup dewasa ini. Sebaliknya berbagai aksi serta solusi yang ditawarkan kepada kita. Kita seakan merasa asing dengan berbagai gagasan untuk melindungi lingkungan hidup. Tetapi sejatinya dalam diri kita, dalam kebudayaan dan adat istiadat hal itu merupakan urat nadi yang kehadiranya kita abaikan. Pola pertanian dalam kebudayaan kita yang sangat dipengaruhi oleh praktik religi dan magi juga hilang seiring dengan hilangnya kebudayaan.

Oleh karena itu tidak ada kata terlambat untuk kembali pada rel yang seharusnya. Mari kembali kepada diri, kembali kepada budaya dan dan adat istiadat dan kembali ke rahim di mana kita dibentuk untuk hidup bersama alam.

Penulis : ( Oscar haris)

Editor : Jhuan Mari

 

Adat adalah bagian dari Jati Diri Read More »