Adat adalah bagian dari Jati Diri

Shere Sekarang

Ende, Wologai- Tananua  Flores |Komunitas adat Ngamu Zangga merupakan salah satu komunitas adat  yang berada di wilayah utara  desa wologai kecamatan Ende kabupaten Ende.  Jarak  tempu menuju komunitas itu sekitar 40 km dari kota kabupaten Ende. Komunitas adat ini  mempunyai kawasan hutan adat. Perjalanan dari kota Ende menuju komunitas  ini terbilang menarik karena bertepatan dengan momen adat Desa Wologai yakni Pati ka tana seti Uta watu (memberi makan para leluhur) di sebuah komunitas adat.

Nama Komunitas adat ini adalah Tanah Ngamu Zangga Ledaseko. Acara ini merupakan perayan syukur sehingga di sana kita bisa melihat anggota suku adat (Fai Walu Ana Kalo) membawa hasil usaha mereka berupa ayam, arak, dan beras (Moke Boti are wati) kepada pemangku adat (Mosa laki) yang kemudian akan dimasak dan diberikan kepada para leluhur. Nuansa sukacita serta kekeluargaan sangat dirasakan dalam momen ini. Desa Wologai serta keunikannya mengantarkan penulis untuk melukisnya dalam tulisan ini.

Wologai dan adat yang menjiwai kehidupan mereka

Ada beberap hal menarik yang hendak diuraikan dalam tulisan ini pertama terkait Wologai dan adat yang menjiwai kehidupan mereka. Sekilas seremonial adat memberi makan para leluhur memang bukan hal asing untuk beberapa komunitas adat di wilayah Kabupaten Ende. Namun, terbilang asing bagi beberapa generasi saat ini karena ada beberapa daerah memang tidak memiliki tradisi ini lagi sehingga mereka hanya menjumpainya pada perayaan di komunitas-komunitas lain.

Pati Ka Tana Seti Uta Watu (Memberi makan leluhur) bagi masyarakat adat Wologai khususnya bagi Suku Tanah Ngamu Zangga Ledaseko merupakan bentuk luapan rasa syukur masyarakat adat Wologai atas campur tangan para leluhur dalam setiap usaha dan kerja mereka dalam mengelola kebun/ladang yang wajib dilakukan setiap musim panen dan juga musim awal menanam ( Kornelis Keta, Mosalaki Tana Ngamu Zangga Ledaseko).

Oleh karena itu hal ini selalu dijalankan dengan penuh syukur dan sukacita oleh masyarakat  adat Tana Ngamu Zangga Ledaseko. Di sisi lain perayaan syukur ini juga menjadi momen komunal di mana semua anggota komunitas berkumpul dan dipanggil namanya satu demi satu untuk mempersembahkan hasil ladang mereka.  Persembahan yang dibawah adalah hasil kebun berupa beras, arak dan ayam dari hasil peliharaan.

Upacara memberi makan leluhur menjadi ruang musyawarah keluarga dalam memecahkan persoalan pangan serta berbagai rencana untuk musim tanam pada tahun berikutnya. Siklus ini dijalankan dan diwarisi secara turun-temurun.

Berbagai filosofi dan kearifan lokal dalam menjaga dan mengolah ladang digemakan dan dipertegas dengan tujuan agar dalam mengelolah ladang masyarakat tidak melupakan nilai-nilai penting menjaga lingkungan mereka. Nilai- nilai yang dibicarakan itu antara lain, setiap anggota komunitas diwajibkan untuk menanam tanaman pangan seperti padi dan jagung ataupun jenis pangan lokal lainnya.

Saat musim menanam setiap suku diwajibkan untuk melakukan aktivitas menanam dan berbagai nilai lainnya dalam mengolah dan menjaga lingkungan. Upacara ini diakhir dengan memberi makan leluhur oleh ketua adat dan juga makan bersama semua anggota komunitas.

Mengapa Kebudayaan Dan Tradisi Itu Penting

Bertolak dari upacara memberi makan para leluhur Tanah Ngamu Zangga desa wologai. Ada beberapa hal yang menimbulkan pertanyaan. Pertama, mengapa seremonial adat itu penting bagi mereka kehidupan masyarakat adat untuk memulai bercocok tanam.

Merasa Penting sebab kehidupan masyarakat adat sangat dekat hubungannya dengan Alam, leluhur atau kepercayaan kepada sang pencipta serta kehidupan sosial manusia. Hubungan itu saling berkaitan sebab manusia akan mendapatakan kehidupan harus berpijak dan bernaung pada alam serta seluruh makluk hidup .

Selanjutnya  tentang leluhur/sang pencipta adalah bagian dari keyakinan masyarakat bahwa setiap makluk hidup yang ada di bumi ini tidak muncul dengan sendirinya melainkan ada penciptanya. Sedangkan kehidupan sosial manusia, antara sesama manusia tentu hidupnya saling berinteraksi ,komunikasi antara satu dan lainnya.

Jadi berbicara seremonial tentu yang kelihatan adalah hubungan manusia untuk bersama-sama mengucapkan syukur atas keberhasilan serta memberikan penghargaan kepada sesama agar mempererat tali persaudaraan.

Kedua, adakah sesuatu yang mendorong masyarakat untuk tetap melakukan ritus-ritus kebudayaan yang kalau ditinjau dari segi Ekonomi justru nenelan biaya besar dan mengantarkan masyarakat pada jurang kemiskinan.  Dari segi budaya tentu sebuah dorongan untuk masyarakat adat selalu mengingat pada hubungan 3 unsur, Manusia, Kepercayaan dan alam semesta. Dan Masyarakat adat memulainnya dengan saling menghargai antara sesama manusia.

Sebagai manusia berbudaya, kebudayaan dan adat istiadat menjadi fondasi dan jati diri. Berbagai persoalan justru timbul ketika manusia meninggalkan kebudayaan yang merupakan jati dirinya. Sederhanya. Ketika melupakan kebudayaan manusia melupakan dirinya sendiri.

Berbagai perayaan seremonial adat di wilayah Ende dan Lio umumnya membutuhkan biaya yang cukup besar tetapi toh anggota masyarakat (Fai Walu ana kalo) tetap merasa ada keharusan untuk terlibat dalam ruang itu.

Ada berbagai persoalan terkait lingkungan hidup dewasa ini. Sebaliknya berbagai aksi serta solusi yang ditawarkan kepada kita. Kita seakan merasa asing dengan berbagai gagasan untuk melindungi lingkungan hidup. Tetapi sejatinya dalam diri kita, dalam kebudayaan dan adat istiadat hal itu merupakan urat nadi yang kehadiranya kita abaikan. Pola pertanian dalam kebudayaan kita yang sangat dipengaruhi oleh praktik religi dan magi juga hilang seiring dengan hilangnya kebudayaan.

Oleh karena itu tidak ada kata terlambat untuk kembali pada rel yang seharusnya. Mari kembali kepada diri, kembali kepada budaya dan dan adat istiadat dan kembali ke rahim di mana kita dibentuk untuk hidup bersama alam.

Penulis : ( Oscar haris)

Editor : Jhuan Mari

 

Adat adalah bagian dari Jati Diri Read More »

Menyibak Potensi Pangan “Gaplek” Desa Unggu

Shere Sekarang

Ende-Unggu, Tananua Flores| Waktu bergerak pasti membuka hari baru yang cerah. Matahari bergerak merangkak naik menyinari hamparan Dusun Pemowawi, Desa Unggu-Kecamatan Detukeli, Ende-Flores. Para ibu berbondong-bondong menuju lahan singkong untuk menuai hasil panen. Panenan hari ini melimpah. Singkong yang telah ditanam sembilan bulan yang lalu dipanen. Ceria nampak dalam raut wajah ketika kembali dari ladang. Umbi singkong dikupas dan dibersihkan lalu di potong menjadi beberapa bagian.

Ibu Katarina Vele (51) bertekun memotong singkong. Hari ini ibu 6 anak memanen sebanyak 8 rumpun singkong. Singkong yang telah diiris kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari. Singkong yang telah dikeringkan akan bertahan lama sebagai bahan cadangan pangan 3 bulan mendatang.

Katarina Vele (51) memotong singkong untuk dibuat menjadi Gaplek. Foto: Nining 13/7/2022

Sambil berbagi cerita bersama para ibu,  Nining Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores Desa Unggu bersama para ibu mengolah singkong menjadi Gaplek. Gaplek ini diolah secara sederhana dengan cara mengupas singkong, lalu dicuci bersih dan dipotong menjadi beberapa bagian sebesar 10 cm. Singkong itu kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari selama 1 Minggu.

Nikmatnya Gaplek akan terasa ketika dikukus lalu disantap bersama sambal kelapa dan ikan teri. Selain itu Gaplek akan diolah menjadi tepung sebagai bahan olahan kue untuk dihidangkan di meja makan keluarga. Meskipun demikian gaplek yang disimpan lama dapat rusak oleh hama gudang (Araecerus fasciculatus). Karena itu gaplek sebaiknya disimpan ditempat yang kering dengan suhu yang cukup.

Gaplek merupakan produk olahan singkong yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Umumnya gaplek terdiri dari dua jenis. Ada gaplek putih yang dapat ditepungkan atau dibuat thiwul dan gaplek hitam yang disebut gatot. Gatot yang berwarna hitam adalah bakteri hasil penjemuran pada waktu siang hingga malam hari. Tekstur Gatot lebih kenyal karena perombakan pati menjadi senyawa dan bakteri.

Ibu-ibu Dusun Pemowawi-Unggu menjemur singkong untuk dijadikan Gaplek. Foto: Nining, 13/7/2022

Diversifikasi pengolahan singkong memberikan cita rasa yang lebih disukai masyarakat dan juga akan manambah nilai gizi. Produk olahan dari tepung gaplek antara lain tepung Mocat (Modified Cassava Flour) dan pati seperti kerupuk, rerotian, mie, beras sintetik dan berbagai kue basah dan kering.

Gaplek memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi, memiliki serat yang tinggi dan kandungan gula yang rendah. Gaplek memiliki kandungan nutrisi, Per 1 Kg Gaplek terdapat 3000  Kalori, 3,3% protein kasar, 5,3% lemak kasar, 0,17% phospor, 0,57% Kalsium (Tillman et al, 1991).

Hasil panen Singkong Desa Unggu setelah dipotong, siap dijemur dan hasil olahan singkong untuk siap disantap. Foto: Nining 17/7/2022

Potensi Singkong di Indonesia amat menjanjikan. 58% akan dimanfaatkan sebagai bahan pangan, 28% sebagai bahan baku industri, 2% sebagai bahan pakan, dan 8% diekspor dalam bentuk gaplek. Produk yang diekspor adalah Cassava Dried (Chip, Sawut, Gaplek) dan produk antara (tepung singkong dan pati). Produk Cassava Dried dapat diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia, Jepang, China, Korea, dan negara-negara Eropa (Yenny, 2018). (Edi-BW)

 

 

Menyibak Potensi Pangan “Gaplek” Desa Unggu Read More »

Para Ibu Desa Detumbewa menghidangkan hasil olahan pangan lokal. Maria Elsin paling kiri tampak depan. Foto:EK

Pejuang Pangan Perempuan untuk Gizi Seimbang Anak-anak Detumbewa

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores| Catatan sejarah Ende Lio mengisahkan dengan jelas perjuangan Pahlawan Marilonga. Marilonga berasal dari Detukeli, Desa Watunggere. Kisah historis itu nampak jelas dalam Benteng Marilonga, suatu benteng pertahanan melawan bangsa Belanda. Narasi heroik untuk merebut kemerdekaan tampak dalam puing-puing benteng dalam rupa tumpukan batu.

Kini ada kisah perjuangan dari satu desa di Detukeli, Desa Detumbewa dalam membebaskan masyarakat dari masalah kekurangan gizi. Dari Desa Detumbewa hadir sosok seorang pejuang pangan yang dengan tekun dan setia berkarya memenuhi kebutuhan gizi anak.  Dialah Maria Elsin (24) seorang perempuan di Dusun Serofai, Desa Detumbewa  yang penuh semangat bertekad untuk mengentaskan masalah kekurangan gizi di desanya. Ibu dari Aprilio (5) ini Sehari-hari ia bekerja sebagai ibu rumah tangga. Di sela kesibukannya, ia aktif sebagai Kader Posyandu dan dipercayakan sebagai Sekretaris BPD (Badan Permusyawaratan Desa) di Desa Detumbewa. Istri dari Yohanes ini pernah mengalami kesulitan lantaran anaknya mengalami kekurangan gizi. Anak aprilio menderita gizi buruk karena tidak menyukai sayuran dan kerap mengonsumsi kue (snack) yang mengandung pengawet dan pewarna. Namun berbekalkan pengetahuan yang diperoleh dari Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores dan Bidan Desa anak menjadi sehat dan kuat. Setiap hari Elsin menyedikan makanan yang bergizi seimbang untuk putranya.

Perkedel, Saus dan Kroket Ubi Kayu hasil olahan para ibu di Desa Detumbewa. Foto: EK

Pengalaman memulihkan kesehatan anaknya dari masalah gizi buruk ini membuat Elsin aktif Bersama pemerintah Desa, Bidan Desa, Pendamping Tananua, Kader Posyandu dan KPM (Kader pembangunan Manusia) mensosialisasikan tentang makanan yang bergizi seimbang bagi Balita.  Mereka secara bergilir melakukan kunjungan ke 4 dusun di Detumewa untuk mengajarkan cara  mengolah pangan lokal seperti pisang, singkong, keladi, kacang-kacangan serta sayur-sayuran. Bahan pangan itu diolahan secara kreatif menjadi bakwan sayur, kroket ubi kayu ( terbuat dari bahan dasar singkong dan sayur-sayuran),  talam labu  (talam yang terbuat dari buah waluh kuning ), paha ayam (terbuat dari singkong). Makanan sehat nan bergizi tinggi itu kemudian dibagikan kepada ibu hamil dan balita. Kegiatan  Pemberian Makanan Tambahan (PMT)  ini berlangsung setiap bulan di setiap dusun. Maria Elsin berhasil menjadi motivator bagi para ibu di Detumbewa untuk selalu menyediakan makanan yang sehat dari pangan lokal bagi keluarga. Keluarga bisa sehat dan sejahtera berkat pangan lokal, kata Elsin.

Anak-anak Dusun Serofai mendapat makanan tambahan bergizi dari hasil olahan pangan lokal. Foto: EK

Desa Detumewa terletak di wilayah utara Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende, Flores, NTT. Perjalanan menuju  desa ini ditempuh sejauh 65 Km dari kota Kabupaten Ende. Warga Desa maupun para tamu yang hendak menuju Detumbewa dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Sepanjang jalan terdapat area persawahan yang eksotik. Tatapan mata akan dimanjakan oleh hijaunya tanaman kemiri dan kopi, serta semarak hutan pinus di Hutan Wisata Kebesani di puncak Kajundara. Sejuknya hutan wisata Kajundara menjadi pertanda bahwa Desa Detumbewa sudah semakin dekat.

Penduduk Detumbewa berjumlah  490 Jiwa dengan  117 KK, laki-laki 256 jiwa dan perempuan 234 jiwa (Data Desa Detumbewa Agustus; 2021). Sekitar 90 persen warga berprofesi sebagai petani lahan kering. Mayarakat hidup dari mengolah tanaman pangan dan tanaman umur panjang. Tanaman pangan yang dibudidayakan seperti padi, jagung, umbi umbian, kacang-kacangan, dan pisang. Selain itu para petani juga memiliki tanaman umur panjang seperti kemiri, kakao, dan jambu mete. Hasil dari tanaman pangan digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, sedangkan hasil penjualan  tanaman umur panjang digunakan untuk menunjang kebutuhan jangka menengah seperti biaya kesehatan, pendidikan anak, dan juga biaya-biaya sosial.

Ketersediaan pangan di Desa Detumbewa terbilang cukup. Disini masih terdapat masalah pemenuhan gizi keluarga, terutama gizi balita.  Penyebabnya adalah pola asuh yang salah serta kurangnya pengetahuan orang tua balita tentang makanan bergizi. Menurut penjelasan dari Kementerian Kesehatan penyebab masalah gizi buruk dan stunting antara lain rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi, pola asuh yang kurang baik terutama pada perilaku dan praktek pemberian makan bayi dan anak, dan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk akses sanitasi dan air bersih (Izwardy, 2018).

Anak pada usia dini membutuhkan gizi yang seimbang untuk tumbuh kembangnya, terutama pada perkembangan otak. Pada usia emas (golden age) 0-6 tahun menjadi masa yang penting dan membutuhkan perhatian dari seorang ibu. Nutrisi yang seimbang menjadi faktor penting dalam proses tumbuh kembang anak. Makanan yang bernutrisi adalah makanan yang tidak mengandung pengawet, pewarna buatan dan pemanis buatan. Anak yang sehat mengonsumsi makanan yang bergizi. Nutrisi yang seimbang bergantung pada tingkat kualitas dan kuantitas makanan. Pada masa pertumbuhan anak membutuhkan konsumsi pangan yang cukup dan bergizi seimbang. Komponen pangan dengan gizi yang seimbang mengandung karbohidrat, protein, lemak, air, vitamin, mineral dan serat  (Badan POM RI, 2013).

Penulis: Emilia Kumanireng

Editor: Edi Woda

.

Pejuang Pangan Perempuan untuk Gizi Seimbang Anak-anak Detumbewa Read More »

Meraup Jutaan Rupiah hanya menjadi seorang Petani

Shere Sekarang
  • Profesi petani merupakan profesi yang mulia karena petani mampu merawat bumi dan memberi makan bagi bilion manusia dimuka bumi ini.
  • Petani merupakan tokoh penting dalam memainkan peran dalam mengelola bumi/tanah karena dia yang berhubungan langsung dengan habitat hidup semua makluk hidup.
  • Hasil-hasil yang berasal dari kebun para petani berdampak pada pemenuhan kebutuhan pokok atau utama dalam membangun peradaban manusia dan relasi hidup manusia dengan alam dan penciptanya.

Realitas berbicara bagi kebanyakan orang dimuka bumi ini berpendapat dan berpandangan bahwasannya profesi petani sebagai profesi yang kotor, tidak beruntung dan tidak seksi untuk gauli/digeluti. Orang yang berprofesi sebagai petani adalah orang- orang yang tidak beruntung. Cara pandang ini membuat kebanyakan generasi muda bermigrasi ke kota dan tidak tertarik dengan profesi Petani.

Seorang petani muda bernama Emanuel mari (39) tahun yang berasal dari desa Numba kecamatan wewaria, Kabupaten Ende dalam keseharian hidup bersama keluarganya berjuang dan menapaki hidup dengan merawat kebun demi mendapatkan hasil untuk memunuhi kebutuhan hidup keluargannya. Seperti petani pada umumnya pergi kerja pagi pagi dan pulang hampir malam dengan kayu seikat dibahu parang bersarung dipinggang, pisang, ubi dan sayuran ditas yang terbuat dari karung platik. Rutinitas biasa masyarakat petani desa Numba teringat akan adegium klasik orang Lio “Poa no’o koka nai no’o manu, nugu raka bupu tau paga Fai No’o ana” atinya pergi pagi pulang malam kerja sampai mati untuk menghidupkan istri dan anak”.

Dalam perjalanan pendampingan Tananua Flores di desa Numba berjumpah dengan petani Bernama Emanuel Mari yang bercerita tetang pengelaman hidupnya pergi merantau sebanyak dua kali untuk mencari uang di Malaysia,  di tahun 2010 yang pulang dan tinggal dikampung bergabung dengan kelompok tani dan mulai tanam kopi dan kakao. Dengan sangat antusias Eman Mari atau Igen akrabnya dikalangan pemuda kampung bercerita yang disertai dengan pertanyaan pertanyaan yang membuat diskusi makin alot dan seru untuk menggali pengelaman hidupnya. Dalam beberapa kesepatan ceritanya kami berinteraksi dengan menjelaskan kisah kisah sukses beberapa petani dapingan terdahulu dalam merawat kebun samapai pada hasil usahaa tani dari berbagai jenis tanaman mengalami peningkatan produksinya. Tentu ini hanyalah kisah cerita petani lain di desa petani lain tersirat diraut wajanya tentu harus dibuktikan dengan kerja nyata bersama petani benama Eman ini.

Bersama perjalanan waktu pendampingan, tahun 2015 Tananua Flores menyelenggarakan kegiatan bersama petani dampingan dari 23 Desa dampingan Tananua Flores. Pendamping Lapangan diwajibkan hadir bersama beberapa petani dari Desa dampingan untuk mengikuti kegiatan forum Petani Kebupaten yang berlokasi Didesa Wolosambi Kecamatan Lio Timur Kabupaten Ende. Forum ini sebagai ajang Evaluasi dan sharing pengetahuan dan pengelaman petani sekebupaten Ende yang difasilitasi oleh petani bersama Tananua Flores. Dengan kesempatan ini Emanuel hadir tanpa ada misi khusus tapi ia mengatakan “saya coba dan ikut-ikut saja” serta belum tau apa tujuan ikut kegiatan itu. Eman Mari petani Energik dan berberapa petani melewati semua proses kegiatan diselenggarakan selama 3 hari efektif dengan berbagai cerita.

Inisiatif dan antusia para petani dalam proses kegiatan selama 3 hari yang mewakili petani dari desa Numba untuk mengevaluasi Kegiatan bersama Tananua Flores selama 6 bulan dimasing masing desa; Pelatihan Ternak; Pelatihan Penguatan Kapasitas Kader dan Praktek Lapangan /Kunjungan Lapangan dikebun kakao memberikan harapan bagi pendamping yang bertugas di Desa tersebut.

Semua peserta berkesempatan berbagi pengetahuan dan mendapat pengetahuan dan keterampilan baru mulai aktif dan kreatif berbagi dan bercertia dengan petani lainnya. Dan menjadi tantangan pasca Forum Petani itu ada juga petani yang dengan pertimbangan dan perhitungan tertentu mulai mudur karena melepaskan pekerjaan dan  ada beberapa narasi penolakan yang muncul setelah kegiatan berakhir.

Sabtu 10/8/2015 Eman Mari petani muda pemiliki kebun kakao mengundang Pendamping Tananua Flores berkunjunga ke kebun miliknya. Bersama Eman dan istrinya kami menyusuri lembah dan bukit menuju kebun yang berjarak kurang lebih 1500 meter dari rumah pemukiman Desa. Sambil bercerita dan bercanda berbagai kisah perjalanan hidup tidak terasa lelah dan haus kami sampai dikebun tujuan Ae Lemo.

Ae lemo lokasi hamparan pertanian dan perkebunan warga desa diantarannya kebun Emanuel yang terisi dengan berbagai jenis tanaman seperti kakao, kopi, kemiri, marica, pinang, vanili, Lombok, talas, tetapi yang menjadi tanaman dominannya adalah kopi dan kakao. Namun Kondisi kebunnya tidak diatur dan belum dirawat secara baik sebagai mana standard kebun wanatani yang diatur dirawat dengan pemangkasan, dan Pengolahan lahan, sanitasi dan pemupukan serta pengelolaan kebun yang selaras alam/organic.

Petani Kelahiran 1980an mengajak ke pondok lalau bertanya “menurut ame/bapak   Apa yang harus dibuat dengan kebun ini? Dengan senyaum dan santai pendamping Tananua menjawab harus “dirubah”, saya bisa mendampingi untuk merubah ini sampai jadi dan mendapatkan hasil yang banyak. tergantung Eman saja mau atau tidak? tegasnya. Karena semua ini harus bermula dari kemaun dan Komitmen serta kerja keras dan sungguh sungguh untuk merawat secara intens dengan teknologi pertanian yang selaras alam Pemangkasan, Pemupukan, Panen Sering dan Sanitasi (P3S), rehabilitasi, Pergantian Klon/Bibit unggul serta Konsevasi Tanah dan air (Pembuatan Teras, Rorak/Jebakan air, pengembangan Tanaman selah seperti keladi, sereh, Porang dan Pisang untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Kita bersama akan melakukan menggunakan teknologi dan praktek praktek praktis lungsung dikebun agar lebih focus dan berkelanjutan. Semangat kerja dan keseringan kunjungan kebun menjadi kunci utama kata pendampign Tananua Flores. Kita akan merubah kebun ini menjadi kebun impian keluarga dan tempat wisata serta tempat penyelesai masalah dalam keluarga Eman bersama Istri. Pada saat itu juga dikebun kami berkomitmen untuk menjadikan kebun ini sebagai kebun contoh dan uji terap teknologi pertanian organic yang rama akan lingkungan dan pemilik kebun.

Rawat kebun.

Kegiatan kelompok tani sa ate satu terbentuk pada tahun 2014 beranggotakan 17 orang dengan jumlah perempuan 2 dan Laki-laki 15. Kelompok ini melakukan kegiatan Gaga Gili/ kerja bergilir dikebun anggota kelompok. Melalui akativitas dalam kelompok lahirlah beberapa kesepakatan kesepakatan dan program kerja kelompok untuk membantu sesame anggota kelompok dengan prinsip “ yang ada membantu yang tidak ada dan yang mampu membantu yang tidak mampu”.

Melalui semangat hidup berkelompok ini kreatifitas dan inisiatif mulai muncul untuk melihat kekuatan sumberdaya (potensi-potensi; peluang-peluang kerjasama dan pengembangan potensi lainnya). Maka bersama berjalannya waktu kelompok ini mulai menemukan mimpi bersama mereka untuk mengembangkan potensi unggulan yaitu komoditi kakao dan kopi. Dari hasil pengembangan dan juga pendampingan kelompok tani yang dilalukan ada telihat ada sebuah perubahan cara berpikir cara berindak tetang dunia kehidupan petani. Karena dari sekian banyak petani yang dilatih dan didampingi ada satu orang petani yang dengan kesungguhan hati melihat proses ini sebagai gerakan perubahan yaitu Emanuel mari (39) tahun.

Petani yang akrab disapa Igen Jui petani seusianya memulai gerakan merawat kebun yang baik dengan tahapan Penyedian benih, persiapan Lubang, Persiapan Pupuk, Penanaman anakan, Perawatan dengan teknologi teknologi yang sudah dilatih dan dipraktekan bersama dalam kelompok tani Sa Ate I seperti P3S (Pemangkasan; Pemupukan; Panen sering; sanitasi; Pengendalian hama dan penyakit;) dan teknologi lainnya dicoba dan dipraktik serta aplikasi sacara rutin. Hal ini dibuktikan Eman Mari mengatakan “hasil panen tahun 2017 dari komoditi kakao dan kopi meningkat, ia mendapatkan hasil panen raya buah kakao pada bulan 6-7 berjumlah 517kg berat bersih  dari total 83 pohon kakao produktif, jika dinominalkan dalam angkah uang kurang lebih Rp. 12.925.000 (dua belas juta Sembilan ratus dua puluh lima ribu rupiah) dengan harga @Rp 25.000/kg dan saya memperbaiki rumah dan saya sangat bangga dengan hasil ini tandasnya dengan sunyumannya yang khas.

hasil panen ini membuat saya menjadi bahan cerita warga setempat dan ada warga tani secara sembunyi sembunyi mereka masuk ke kebun saya untuk melihat apa yang saya kerjakan jika saya tidak ada dikebun kata Eman. Peristiwa kunjungan kekebun bpk eman sampai saat ini terus dilakukan oleh warga tani yang ingin mencari tau apa yang dilakukan oleh bpk eman.

Rasa keingintahuan dari warga tani ini membuat Eman mulai memikirkan bagaiman cara untuk berbagi informasi dan cerita sukses bertani dikebun kakao dan kopi dengan pendekatan pertanian yang selaras alami. Keberhasilan usaha pengelolaan kebun yang dibuat Eman bersama kelompok tani Sa Ate I ditanggap oleh Pemerintah dengan menyelenggarakan forum Koptan ditingkat desa Numba dengan  Eman bersama Pengurus Kelompok Tani Sa Ate 1 sebagai Informen/Narasumber untuk bercerita tentang keberhasilan Kelompok dan pengelolaan kebun usaha tani khususnya Kakao dan kopi dengan Teknologi pertanian selaras alam/organik.  Atas dasar apresiasi dan dukungan Pemerintah setempat Kelompok tani Sa ate satu diberi penghargaan dengan mendapatkan bantuan SAPRODI dan kunjungan belajar serta anakan kakao unggul dari pemerintah setempat.

Keberhasilan kelompok Tani Sa Ate 1 dan Eman Mari memotivasi dan mendorong kelompok tani lain dan semua warga desa kembali mengembangkan komoditi kopi dan kakao secara kelompok dan juga individu serta mulai merawat kebun dengan pertanian selaras alam/organik. Kader pertanian asal Kelompok Sa Ate 1 ini menjadi petani Trampil yang selalu diundang dari kebun ke kebun warga untuk melatih dan melakukan praktek bersama petani. Semangat berbagi ini menjadikan kelompok tani sa ate dan Eman Mari sebagai Kader Pertanian kelompok diakui di Desa Oleh pemerintah Desa dengan member SK kepada Kelompok Tani dan EMAN MARI sebagai Kader Pertanian Desa.

Kini Eman sebagai Kader pertanian dan Kelompok Sa Ate telah mendapatkan emas hijau untuk saling menghidupkan diantara petani dari komoditi kakao dan kopi berbasis pangan dan rempah rempah. Kelompok Tani dan Eman berkewajiban untuk mempertahankan dan terus mengembangkan pengembangan pertanian yang selaras alam dengan kelompok tani sebagai wadah untuk belajar bersama, bekerja bersama dan usaha bersama untuk kualitas, kuantitas dan kontinuitas hidup para petani dan usaha tani. Petani hebat, kebun terawat, lingkungan lestari, “Merawat bumi memelihara kehidupan” *****HSLikaLapu****

Meraup Jutaan Rupiah hanya menjadi seorang Petani Read More »

Kisah Inspiratif Seorang Kepala Desa dalam Mengembangkan Pangan

Shere Sekarang

“ Jabatan saya adalah seorang kepala desa, namun Kartu Tanda Penduduk ( KTP ) saya profesi sebagai petani, jadi saya tetap taat profesi dasar saya adalah seorang petani”

Ungkapan sederhana tersebut sering kali diucapkan dalam guyonan keseharian bersama Pendamping Tananua. Antonius Rani  adalah seorang sosok inspiratif yang juga salah satu tokoh panutan di Desa kebirangga selatan.  Keseharianny tinggal di desa kebirangga selatan kecamatan Maukaro kabupaten. Selain menjadi petani Anton Rani adalah salah seorang Pemimpin di desa yaitu menjadi kepala desa.

Ungkapan sederhana itu memiliki makna spirit identitas yang tertanam pada sosok sebagai petani.  Ya tidak sekedar ungkapan semata, namun lebih dari itu ada tindakan nyata yang diterapkan beliau sewaktu mengembankan tugas sebagai kepala desa.

Keberadaan Yayasan Tananua Flores di desa Kebirangga Selatan kurang lebih selama 7 tahun telah menunjukan banyak kegiatan inspiratif bersama masyarakat baik pada bidang kemasyarakatan, kelompok tani, kesehatan primer, ekonomi kreatif bahkan salah  satu kekhasan dari berbagai agenda pendampingan yakni pengembangan pangan dan pangan lokal terhadap petani setempat.

Sejak tahun 2015 sampai tahun pertengahan tahun 2019, status desa setempat belum tercantum jenis pertanian lahan basah, karena masyarakat setempat lebih cendrung mengelolah tanaman komoditi dan pangan pada area perkebunan lahan kering, katakanlah bahwa pengembangan pangan jenis padi ladang sebagai satu – satunya kebiasaan petani setempat setiap tahun.

Memasuki pertenganhan tahun 2019 kepala desa mendapat inspirasi baru untuk  pengembangan pangan  dan mulai diskusi dengan pendamping Tananua. Menurutnya bahwa ada lahan kurang lebih 1 Ha  yang sebelumnnya di manfaatkan sebagai  persawahan  namun sejak tahun 1998 lahan tersebut sudah tidak di manfaatkan lagi. Dengan lahan itu kades mulai bersepakat untuk lahan itu di jadikan daerah persawahan.

Dengan memanfaatkan area seluas satu hektar dengan menghasilkan padi yang cukup meyakinkan jumlahnya, maka beliapun berupaya untuk kembali menambah luas lahan sebanyak 1 ha pada tahun 2021, sehingga total luas lahan saat ini sebanyak 2 ha dengan kodisi irigasi yang memadai.

Melihat dengan perubahan yang terjadi sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat setempat kades itu  meyakinkan bahwa keberlanjutan pengembangan sawah kedepannya akan terus dilakukan secara rutin. Beliau mulai melibatkan tiga petani untuk menggarap pada lahan tersebut dengan sistem pembagian lahan dan proses kerja dilakukan secara gotong-royong oleh penggarap tersebut.  Model penerapan yang dilakukan ini adalah sebagai spirit dalam upaya membangun gerakan kesadaran bersama dalam mengembangkan dan mempertahankan pangan sebagai jati diri petani.

Eksistensi petani dan pangan desa Kebirangga Selatan

Perkembangan Industrialisasi dan Teknologi Saat ini telah mengantarkan kita  berada pada era digitalisasi ( 4,0 ) ,  masyarakat  Pun mulai  beranjak dari pola tradisional menuju pola moderen seiring dengan dampak dari  perkembangan arus globalisasi yang kian cepat merambat pada poros kehidupan masyarakat baik skala pusat maupun daerah/desa.

Sebagai masyarakat petani tentu tidak mungkin mengabaikan kondisi ini, tentu masyarakat dituntut untuk terus beradaptasi dari waktu-kewaktu sehingga akan berindikasi pada pergeseran pola kerja, kebiasaan dan cara pandang.

Bila kita cermati kondisi sosial masyarakat desa hari ini, tentu ada banyak perubahan yang datang dari luar baik melalui sistem yang tertata dalam kebijakan pemerintah maupun melalui media-media sosial yang dapat diakses secara langsung oleh petani.

Perubahan yang datang dari luar sering kali mengancam eksistensi masyarakat desa bahkan sampai pada petani, salah satu contohnya adalah saat ini banyak tawaran dari berbagai investor besar dari berbagai negara maju melalui pintu bisnis dan ekonomi yang bermuara langsung pada petani lokal di desa.

Sebut saja ada berbagai infestor yang bergerak pada bidang komoditi dengan tawaran jenis komoditi petani yang bersifa cepat dan harga yang menjangkau. Tawaran tersebut seringkali petani terobsesi dengan kondisi sosial yang sedang dirasakan sehingga mengharuskan mereka untuk menerima tawaran dari berbagai pihak dari luar untuk peningkatan ekonomi mereka melalui pintu bisnis.  Dan kondisi ini merupakan pola penjajahan Gaya baru dari aspek ekonomi, dan mulai secara perlahan menghilangkan esensi dari pola kerja petani

Dan kalau di lihat tanaman pangan merupakan tanaman substansi bagi petani, karena pangan adalah isi perut yang menghidupkan manusia secara langsung. Sedangkan komoditi adalah tanaman penunjang yang menghasilkan uang untuk pemenuhan kebutuhan kehidupan yang bersifat tambahan.

Dari aspek histori, tentu tanaman pangan adalah tanaman tradisional sebab petani jaman dahulu bercocok tanam hanya untuk jenis tanaman pangan, sementara tanaman komoditi mulai dilihat penting seiring perkembangan sarana infrastruktur dan transportasi  telah memadai.

Dari aspek kebutuhan dan historis menggambarkan bahwa tanaman pangan juga sebagai tanaman prioritas setiap musim kerja.

Ancaman terhadap kebiasaan masyarakat atau petani setempat makin terlihat saat ini, petani seringkali mendapat tawaran untuk fokus pada usaha komoditi sebagai kegiatan pokok, sementara identitas petani tentu sangat melekat dengan usaha pangan dan pangan lokal sebagai kegiatan tradisional yang telah ada dan memberikan keyakinan akan ketahanan hidup dalam kondisi apapun jika persediaan pangan tetap memadai.

Usaha dari berbagai pihak yang berperan langsung pada kehidupan petani tidak cukup pada tahap sosialisasi dan ilustrasi akan pentingnya pangan bagi kehidupan yang berkelanjutan. Karena akan ada alasan yang terlahir dari pikiran petani terkait kemauan memilih jenis usaha dan kegiatan petani. Akan ada ungkapan bahwa ” kami akan memlihi cara agar mendapatkan uang dengan cepat lalu membeli pangan dari pada menanam pangan”. Maka cara yang lebih tepat adalah kita memberikan contoh berupa aksi bahwa pengembangan pangan itu sebagai hal yang substansi dan fundamental dalam kehidupan sebagai petani.

Petani di desa Kebirangga selatan

Kondisi petani desa Kebirangga Selatan saat ini menjadi catatan dan contoh bagi petani diwilayah desa lain, hal ini terlihat bahwa pengembangan pangan dan komoditi sangat seimbang dilakukan oleh petani setempat, meski desa tersebut saat ini sebagai salah satu desa target keberadaan komoditi dari pasaran lokal maupun regional.

Melihat potensi alam yang cukup potensial maka mengharuskan petani setempat untuk lebih jelih memilih  jenis tanaman yang hendak dikerjakan pada lahan kebun mereka masing-masing. Kolaborasi tanaman komoditi seperti porang, kopi dan kemiri dengan pangan ( Padi,jagung dan ubi-ubian )menjadi sebuah keyakinan akan ada upaya untuk menahan keadaan pola kerja tradisional yang berasaskan gotong- royong akan terus hidup.

Selain mengancam pola kerja dan kebiasaa petani, tentu kita mengakui akan ada pengaruh terhadap budaya dalam adat dan istiadat masyarakat setempat, bahwasannya ritual adat yang sangat melekat dengan petani setempat seperti ‘’POO’’ (upacara persiapan tanam menanam) yang didalamnya terdapat kewajiban petani untuk berkontribusi terhadap  Ritual adat yaitu bagi masyarakat tersebut mempunyai lahan garap di wilayah tanah itu. Ritual tersebut sebagai kegiatan rutinitas tahunan menjelang persiapana musim tanam menanam bagi petani setempat. Jika pola kerja petani telah dicermati oleh tawaran pengembangan komoditi sebagai sebuah solusi, maka akan ada kesenjangan antara penggarap dan pemilik lahan garapan atau Pemangku adat. Kesenjangan tersebut terjadi jika penggarap mengabaiakan atauran adat setempat.

Ancaman kedua yang mengharuskan masyarakat/ petani di himpit dengan persoalan global, dan mulai tahun 2019 – 2021 dunia dihebokan dengan masalah fenomenal covid-19  dan itu berdampak pada mobilitas sosial dibatasi sampai pada ekonomi dunia mengalami terganggu dan ekonomi nasional mengalami kemerosotan, sehingga daya beli masyarakat kecil sangat sulit dijangkau baik untuk kebutuhan primer maupun sekunder.

Fenomena tersebut telah melahirkan pembelajaran baru bahwa pangan adalah urusan yang mendasar dalam kehidupan ini. Pangan menjadi perhatian utama disaat mobilitas sosial dibatasi dan kekhawatiran terbesar adalah persediaan pangan bila tidak cukup atau terpakai habis. Kondisi tersebut juga dialami oleh masayarakat desa Kebirangga Selatan meski tidak sampai ada keterbatasan stok pangan namun sempat beralih pada proses pengahematan makanan. Hal ini menunjukan akan ada indikasi keterbatasan pangan bila petani mengabaikan pangan dan mengutamakan komoditi sebagai tanaman populer saat ini.

Adanya pengembangan pangan padi sawah sejumlah 2 ha, telah memberikan catatan baru bagi petani kebirangga selatan bahwa eksistensi petani sebagai petani tradisional tetap ditumbuhkan dengan semangat kerja dan gotong- royong dalam kodisi apapun. Sehingga persediaan pangan dan benih akan selalu ada dari waktu ke waktu.

Sosok seorang kepala desa dalam upaya pengembangan pangan sebagi sebuah aksi penyadaran bersama mamsyarakat petani  di desa  adalah hal yang mendasar dalam kehidupan manusia, meski ada banyak tawaran dari berbagai pasar yang hendak mengalihakan perhatian petani setempat dalam mengembangkan pangan dan pangan lokal, namun adanya pengerjaan sawah sebanyak 2 ha  tersebut dilihat sebagai spirit baru bagi petani masyarakat desa setempat. Dengan demikian eksistensi petani setempat dalam mengembangkan pangan semakin dibendungi dengan solusi melalui aksi produktif selain pengembangan lahan juga jumlah produksi yang akan dicapai.

 

Ditulis oleh : Anselmus Kaki Reku, staf Lapangan Yayasan Tananua Flores

Kisah Inspiratif Seorang Kepala Desa dalam Mengembangkan Pangan Read More »