Kisah Inspiratif Seorang Kepala Desa dalam Mengembangkan Pangan

Shere Sekarang

“ Jabatan saya adalah seorang kepala desa, namun Kartu Tanda Penduduk ( KTP ) saya profesi sebagai petani, jadi saya tetap taat profesi dasar saya adalah seorang petani”

Ungkapan sederhana tersebut sering kali diucapkan dalam guyonan keseharian bersama Pendamping Tananua. Antonius Rani  adalah seorang sosok inspiratif yang juga salah satu tokoh panutan di Desa kebirangga selatan.  Keseharianny tinggal di desa kebirangga selatan kecamatan Maukaro kabupaten. Selain menjadi petani Anton Rani adalah salah seorang Pemimpin di desa yaitu menjadi kepala desa.

Ungkapan sederhana itu memiliki makna spirit identitas yang tertanam pada sosok sebagai petani.  Ya tidak sekedar ungkapan semata, namun lebih dari itu ada tindakan nyata yang diterapkan beliau sewaktu mengembankan tugas sebagai kepala desa.

Keberadaan Yayasan Tananua Flores di desa Kebirangga Selatan kurang lebih selama 7 tahun telah menunjukan banyak kegiatan inspiratif bersama masyarakat baik pada bidang kemasyarakatan, kelompok tani, kesehatan primer, ekonomi kreatif bahkan salah  satu kekhasan dari berbagai agenda pendampingan yakni pengembangan pangan dan pangan lokal terhadap petani setempat.

Sejak tahun 2015 sampai tahun pertengahan tahun 2019, status desa setempat belum tercantum jenis pertanian lahan basah, karena masyarakat setempat lebih cendrung mengelolah tanaman komoditi dan pangan pada area perkebunan lahan kering, katakanlah bahwa pengembangan pangan jenis padi ladang sebagai satu – satunya kebiasaan petani setempat setiap tahun.

Memasuki pertenganhan tahun 2019 kepala desa mendapat inspirasi baru untuk  pengembangan pangan  dan mulai diskusi dengan pendamping Tananua. Menurutnya bahwa ada lahan kurang lebih 1 Ha  yang sebelumnnya di manfaatkan sebagai  persawahan  namun sejak tahun 1998 lahan tersebut sudah tidak di manfaatkan lagi. Dengan lahan itu kades mulai bersepakat untuk lahan itu di jadikan daerah persawahan.

Dengan memanfaatkan area seluas satu hektar dengan menghasilkan padi yang cukup meyakinkan jumlahnya, maka beliapun berupaya untuk kembali menambah luas lahan sebanyak 1 ha pada tahun 2021, sehingga total luas lahan saat ini sebanyak 2 ha dengan kodisi irigasi yang memadai.

Melihat dengan perubahan yang terjadi sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat setempat kades itu  meyakinkan bahwa keberlanjutan pengembangan sawah kedepannya akan terus dilakukan secara rutin. Beliau mulai melibatkan tiga petani untuk menggarap pada lahan tersebut dengan sistem pembagian lahan dan proses kerja dilakukan secara gotong-royong oleh penggarap tersebut.  Model penerapan yang dilakukan ini adalah sebagai spirit dalam upaya membangun gerakan kesadaran bersama dalam mengembangkan dan mempertahankan pangan sebagai jati diri petani.

Eksistensi petani dan pangan desa Kebirangga Selatan

Perkembangan Industrialisasi dan Teknologi Saat ini telah mengantarkan kita  berada pada era digitalisasi ( 4,0 ) ,  masyarakat  Pun mulai  beranjak dari pola tradisional menuju pola moderen seiring dengan dampak dari  perkembangan arus globalisasi yang kian cepat merambat pada poros kehidupan masyarakat baik skala pusat maupun daerah/desa.

Sebagai masyarakat petani tentu tidak mungkin mengabaikan kondisi ini, tentu masyarakat dituntut untuk terus beradaptasi dari waktu-kewaktu sehingga akan berindikasi pada pergeseran pola kerja, kebiasaan dan cara pandang.

Bila kita cermati kondisi sosial masyarakat desa hari ini, tentu ada banyak perubahan yang datang dari luar baik melalui sistem yang tertata dalam kebijakan pemerintah maupun melalui media-media sosial yang dapat diakses secara langsung oleh petani.

Perubahan yang datang dari luar sering kali mengancam eksistensi masyarakat desa bahkan sampai pada petani, salah satu contohnya adalah saat ini banyak tawaran dari berbagai investor besar dari berbagai negara maju melalui pintu bisnis dan ekonomi yang bermuara langsung pada petani lokal di desa.

Sebut saja ada berbagai infestor yang bergerak pada bidang komoditi dengan tawaran jenis komoditi petani yang bersifa cepat dan harga yang menjangkau. Tawaran tersebut seringkali petani terobsesi dengan kondisi sosial yang sedang dirasakan sehingga mengharuskan mereka untuk menerima tawaran dari berbagai pihak dari luar untuk peningkatan ekonomi mereka melalui pintu bisnis.  Dan kondisi ini merupakan pola penjajahan Gaya baru dari aspek ekonomi, dan mulai secara perlahan menghilangkan esensi dari pola kerja petani

Dan kalau di lihat tanaman pangan merupakan tanaman substansi bagi petani, karena pangan adalah isi perut yang menghidupkan manusia secara langsung. Sedangkan komoditi adalah tanaman penunjang yang menghasilkan uang untuk pemenuhan kebutuhan kehidupan yang bersifat tambahan.

Dari aspek histori, tentu tanaman pangan adalah tanaman tradisional sebab petani jaman dahulu bercocok tanam hanya untuk jenis tanaman pangan, sementara tanaman komoditi mulai dilihat penting seiring perkembangan sarana infrastruktur dan transportasi  telah memadai.

Dari aspek kebutuhan dan historis menggambarkan bahwa tanaman pangan juga sebagai tanaman prioritas setiap musim kerja.

Ancaman terhadap kebiasaan masyarakat atau petani setempat makin terlihat saat ini, petani seringkali mendapat tawaran untuk fokus pada usaha komoditi sebagai kegiatan pokok, sementara identitas petani tentu sangat melekat dengan usaha pangan dan pangan lokal sebagai kegiatan tradisional yang telah ada dan memberikan keyakinan akan ketahanan hidup dalam kondisi apapun jika persediaan pangan tetap memadai.

Usaha dari berbagai pihak yang berperan langsung pada kehidupan petani tidak cukup pada tahap sosialisasi dan ilustrasi akan pentingnya pangan bagi kehidupan yang berkelanjutan. Karena akan ada alasan yang terlahir dari pikiran petani terkait kemauan memilih jenis usaha dan kegiatan petani. Akan ada ungkapan bahwa ” kami akan memlihi cara agar mendapatkan uang dengan cepat lalu membeli pangan dari pada menanam pangan”. Maka cara yang lebih tepat adalah kita memberikan contoh berupa aksi bahwa pengembangan pangan itu sebagai hal yang substansi dan fundamental dalam kehidupan sebagai petani.

Petani di desa Kebirangga selatan

Kondisi petani desa Kebirangga Selatan saat ini menjadi catatan dan contoh bagi petani diwilayah desa lain, hal ini terlihat bahwa pengembangan pangan dan komoditi sangat seimbang dilakukan oleh petani setempat, meski desa tersebut saat ini sebagai salah satu desa target keberadaan komoditi dari pasaran lokal maupun regional.

Melihat potensi alam yang cukup potensial maka mengharuskan petani setempat untuk lebih jelih memilih  jenis tanaman yang hendak dikerjakan pada lahan kebun mereka masing-masing. Kolaborasi tanaman komoditi seperti porang, kopi dan kemiri dengan pangan ( Padi,jagung dan ubi-ubian )menjadi sebuah keyakinan akan ada upaya untuk menahan keadaan pola kerja tradisional yang berasaskan gotong- royong akan terus hidup.

Selain mengancam pola kerja dan kebiasaa petani, tentu kita mengakui akan ada pengaruh terhadap budaya dalam adat dan istiadat masyarakat setempat, bahwasannya ritual adat yang sangat melekat dengan petani setempat seperti ‘’POO’’ (upacara persiapan tanam menanam) yang didalamnya terdapat kewajiban petani untuk berkontribusi terhadap  Ritual adat yaitu bagi masyarakat tersebut mempunyai lahan garap di wilayah tanah itu. Ritual tersebut sebagai kegiatan rutinitas tahunan menjelang persiapana musim tanam menanam bagi petani setempat. Jika pola kerja petani telah dicermati oleh tawaran pengembangan komoditi sebagai sebuah solusi, maka akan ada kesenjangan antara penggarap dan pemilik lahan garapan atau Pemangku adat. Kesenjangan tersebut terjadi jika penggarap mengabaiakan atauran adat setempat.

Ancaman kedua yang mengharuskan masyarakat/ petani di himpit dengan persoalan global, dan mulai tahun 2019 – 2021 dunia dihebokan dengan masalah fenomenal covid-19  dan itu berdampak pada mobilitas sosial dibatasi sampai pada ekonomi dunia mengalami terganggu dan ekonomi nasional mengalami kemerosotan, sehingga daya beli masyarakat kecil sangat sulit dijangkau baik untuk kebutuhan primer maupun sekunder.

Fenomena tersebut telah melahirkan pembelajaran baru bahwa pangan adalah urusan yang mendasar dalam kehidupan ini. Pangan menjadi perhatian utama disaat mobilitas sosial dibatasi dan kekhawatiran terbesar adalah persediaan pangan bila tidak cukup atau terpakai habis. Kondisi tersebut juga dialami oleh masayarakat desa Kebirangga Selatan meski tidak sampai ada keterbatasan stok pangan namun sempat beralih pada proses pengahematan makanan. Hal ini menunjukan akan ada indikasi keterbatasan pangan bila petani mengabaikan pangan dan mengutamakan komoditi sebagai tanaman populer saat ini.

Adanya pengembangan pangan padi sawah sejumlah 2 ha, telah memberikan catatan baru bagi petani kebirangga selatan bahwa eksistensi petani sebagai petani tradisional tetap ditumbuhkan dengan semangat kerja dan gotong- royong dalam kodisi apapun. Sehingga persediaan pangan dan benih akan selalu ada dari waktu ke waktu.

Sosok seorang kepala desa dalam upaya pengembangan pangan sebagi sebuah aksi penyadaran bersama mamsyarakat petani  di desa  adalah hal yang mendasar dalam kehidupan manusia, meski ada banyak tawaran dari berbagai pasar yang hendak mengalihakan perhatian petani setempat dalam mengembangkan pangan dan pangan lokal, namun adanya pengerjaan sawah sebanyak 2 ha  tersebut dilihat sebagai spirit baru bagi petani masyarakat desa setempat. Dengan demikian eksistensi petani setempat dalam mengembangkan pangan semakin dibendungi dengan solusi melalui aksi produktif selain pengembangan lahan juga jumlah produksi yang akan dicapai.

 

Ditulis oleh : Anselmus Kaki Reku, staf Lapangan Yayasan Tananua Flores

Kisah Inspiratif Seorang Kepala Desa dalam Mengembangkan Pangan Read More »

Sepenggal Cerita Penggalangan Bantuan untuk Korban Bencana Adonara Dan Lembata

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores | Berangkat dari rasa kepedulian terhadap sesame, rasa cinta kepada keluarga sanak saudara dan saudari yang terdampak bencana Banjir Bandang pada minggu 4 April 2021, Membuat Yayasan Tananua  Flores menjadi terpanggil dalam merespon, menfasilitasi uluran kasih kepada sesame keluarga yang menggalami korban.

Yayasan Tananua adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bekerja mendampingi masyarakat Pedesaan untuk mencapai kesejahteraan bersama. Disamping itu Yayasan Tananua Flores juga Terlibat aktif dalam penangan-penangan kebencanaan yang menimpah kehidupan Manusia. Dengan Moto Kita satu keluarga maka dalam Perespon Kebencanaan di Flores Timur Dan Lembata merupakan bagian dari Keluarga.

Peristiwa Bencana alam banjir Bandang yang terjadi pada Minggu 4 April 2021 itu, yayasan Tananua tidak tinggal diam, Secara lembaga yang di Pimpin oleh Bernadus Sambut langsung Menginisiasi untuk Pembentukan Posko Kemanusiaan dengan tujuan untuk bisa mengihimpun saudara-saudara kita yang dari jauh untuk bisa berbelas kasih lewat Posko kemanusiaan Tananua Flores.

Pembukaan Posko itu di Ketua oleh Hironimus Pala untuk melakukan kerja-kerja Solidaritas mengajak sahabat, mitra Tananua baik secara individu maupun dengan Lembaga-lembaga NGO. Dalam Kerja Posko kemanusia semua Staf Yayasan Tananua terlibat untuk berdonasi. Tidak juga hanya staf tetapi seluruh desa dampingan Yayasan Tananua yang terdiri dari 25 Desa di wiayah kabupaten Ende juga ikut ambil bagian untuk berkontribusi terhadap tanggap bencana di Flores Timur dan Lembata.

Posko Kemanusian tersebut langsung bertempat di kantor Yayasan Tananua Flores. Aktivitas open donasi Posko kemanusian itu kurang lebih 1 bulan. Selama aktivitas Kerja-kerja Posko seluruh Staf di lapangan yang mendampingi desa untuk mengajak sesame keluraga di desa agar berdonasi terhadap keluarga korban banjir Bandang. Dan Puji syukur masyarakat di Desa pun turut menyumbang, mulai dari Beras, ubi-ubian, sayuran sampai  Pakian. Selain itu individu-individu yang peduli di luar pulau Flores juga ikut menyumbang yaitu  Pakian dan Uang.

Dalam berdonasi dengan jumlah angka sumbangan yang basar adalah Mitra Tananua di Jerman yang Namannya Missereor dengan besar dana sebesar Rp 25000 USD disamping itu ada Mitra lain yang juga ikut berdonasi.

Dari Donasi yang di himpun Posko Kemanusiaan maka,diputuskan untuk pengadakan Prabot Rumah tangga bagi korban bencana di Flores timur Dan Lembata. Sebanyak 574 paket probot Rumah Tangga dan bahan makanan yang di sumbangkan ke keluarga korban di Flores Timur dan Lembata.

Dalam urusan kemanusiaan Tananua Flores berprinsip bantun yang di himpun Posko harus tepat sasaran. Artinya bantuan yang di berikan harus mengena pada kk atau orang yang korban bencana, dan Tananua melakukan hal itu.

Pada tanggal 6-7 Mei 2021 Posko Kemanusian Tananua Flores berserta Staf  berangkat dari Ende untuk mengantarkan bantuan ke Lokasi kejadian yaitu Flores Timur dan Lembata. Dari Ende dalam mengantarkan bantuan Relawan Posko di bagi dalam dua Tim. Tim Lembata di Pimpin oleh Bapak Benyamin dan Ibu Metty sedang Tim Flores Timur di pimpin oleh Bapak Hironimus dan Ibu Halimah.

Tananua berani mengantarkan Langsung bantuan tersebut kepada keluarga korban sebab jauh sebelumnnya dari Posko Kemanusian Tananua sudah mengantongi data keluarga korban di flores timur dan Lembata. Sehingga dari data tersebut kemudian dari tananua menentukan Sumbangan tersebut di Prioritaskan kepada korban bencana benar-benar kehilangan.

Menurut Direktur Yayasan Tananua Flores dalam menentukan sumbangan itu memilihnya Prabot Dapur sebab dari informasi mitra di lokasi kejadian sudah banyak bantuan dalam bentuk makan dan minum serta pakayan sudah banyak.  Sementara Situasi daruratnya sudah lewat oleh karena itu, Kami berpikir bahwa mengantar bantuan dengan klaster terakhir harus bisa menyentuh kepada kebutuhan pokok. Dan kami memilih Prabot Dapur agar korban bisa berusaha untuk mengatasi kemelutan di kemudian harinnya.

Cerita Berlanjut

Bencana Banjir bandang yang berada di kabupaten Flores timur cukup menarik perhatian bagi Dunia. Dan lokasi yang tertimpah bencana berada di pulau adonara dengan titik Kejaadian ada di Kelurahan Waiwerang, Desa Oyan Baran, desa Waiburak dan beberapa perkampungan yang ada di kepulauan adonara tersebut.

Tananua Mengantar bantuan Prabot Dapur kepada keluarga korban sekaligus bertemu langsung untuk membagikan barang bantuan itu kepada kk yang terdampak. Sambil memberi semangat dan motivasi kepada sesame sekaligus mengunjung keluarga-keluarga yang jauh dari sumbangan Pemberintah. Sampai saat ini Banyak bantuan  dari pihak lain  yang tertumpuk Posko Umum dari Pemerintah yang ada di kota larantuka, sehingga masih banyak yang belum tersalurkan dan mengena kepada keluarga korban.

Seluruh Tim mengunjungi seluru titik yang tertimpah bencana dan bertemu keluarga yang korban. Tim Tananua di sambut baik oleh pemerintah  desa dan Kelurahan , sekaligus membantu untuk mendisrtibuskan barang kepada Keluarga yang benar-benar kehilangan semuannya.

Suka duka dan rasa prihatin di Rasakan ketika melihat situasi yang ada di lapangan. Dari fakta yang terjadi semuanya hancur lululantahkan perkampungan dan Rumah-rumah warga di hantam badai banjir bandang. Jalan yang menjadi akses transportasi dan aktivitas Warga rusak parah, Rumah-rumah Warga Rusak dan sebagian di tutup dengan Tanah dan Lumpur.

Dari informasi yang di peroleh puluhan Warga masyarakat yang meninggal dunia. Sementara itu memiluhkan ada keluarga yang 1 orang meninggal, ada yang selamat dari banjir serta ada yang satu keluarga semuannya meninggal.

Inilah Fakta peristiwa bencana banjir bandang yang terjadi di Flores timur dan Lembata. Dan peristiwa itulah yang membuat Tananua terpanggil untuk terjun langsung ke lokasi kejadian.

 

Oleh : Jhuan

Sepenggal Cerita Penggalangan Bantuan untuk Korban Bencana Adonara Dan Lembata Read More »