Pengelaman Belajar dari Pontianak dalam Mendorong Program Hak Alam dan Hak Masyarakat

Ende, Tananua Flores | Dari desa Pemo Kecamatan Kelimutu kabupaten Ende saya Paskalis Ray dipercayakan oleh Yayasan Tananua Flores untuk pertukaran berlajar bersama ke Pontianak dalam pengelolaan Program Hak alam dan Hak Masyarakat. Saya sendiri keseharian tinggal di desa Pemo dengan posisi yang di percayakan oleh Yayasan Tananua sebagai penghubung antara Lembaga Tananua dan Masyarakat di desa.

Tananua mengutus saya dengan beberapa teman di wilayah desa lain yaitu mempunyai tujuan yang sama. Desa kami saat ini didampingi oleh Yayasan Tananua dengan berbagai kegiatan dalam mewujudkan kelestarian lingkungan, keberlanjutan dan akses hak masyarakat bisa terpenuhi.

Saya secara Pribadi memberikan apresiasi kepada Yayasan Tananua dan Yayasan Planet Indonesia karena sudah memberikan kesempatan kepada kami masyarakat dari desa belajar bersama dengan masyarakat di pulau lain.

Pengalaman pertukaran belajar dari Kabupaten Ende ke Pontianak yang berlangsung dari 17 hingga 22 Juli 2024 merupakan langkah penting dalam upaya mendorong program hak alam dan hak masyarakat. Pertukaran ini bertujuan untuk belajar dari praktik-praktik terbaik di Pontianak, terutama dalam hal pengelolaan sumber daya alam, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat lokal yang berkaitan dengan hak-hak mereka atas tanah, air, dan hutan.

Pertukaran Pembelajaran ini saya mendapatkan wawasan baru tentang cara-cara yang efektif dalam menyeimbangkan kebutuhan pembangunan dengan pelestarian lingkungan. Kami  juga mempelajari kebijakan-kebijakan lokal di Pontianak yang telah berhasil melindungi hak-hak alam dan masyarakat, termasuk perlindungan terhadap hutan adat dan pengakuan terhadap hak tanah masyarakat setempat. Alangkah baiknya ketika kita mau membuka diri untuk melihat dari jauh melihat perlindungan alam didaerah kita.

Masyarakat di pontianak khususnya desa yang telah kami kunjungi merasakan keseimbangan hidup antara alam dan masyarakat mempunyai hak yang sama dalam hidup, artinya masyarakat menyadari betapa pentingnya ketergantungan masyarakat terhadap Alam, hutan dan juga ekosistem lain yang saling berhubungan.

Kami berdiskusi dan saling bertukar pengetahuan, pengalaman, dan pendapat mengenai Profil Singkat PUMK Mentrap Pugan,Penerapan Dana Ketahanan,Dampak pendekatan PUMK pada sektor sosial, ekonomi,dan ekologi;

Kami juga mendapatkan pemahaman tentang  Pokja, cara kerja pokja yang diberikan oleh narasumber yang berpengelaman antara lain Ikwanto, Agustinus, Edi Chandra, Plasidus Sagiman.

Pada hari berikutnya kami belajar lapangan untuk melakukan observasi/pengamatan dan diskusi lapangan dengan fasilitator Ikwanto, Agustinus, Edi Chandra, Plasidus Sagiman.

Disini kami peserta melakukan Observasi Sekitar Dusun untuk pengamatan dan belajar, seperti Pertanian Lebah Kelulut, Kondisi pertanian Agroforestri. Kami juga diajarkan  Mini Coaching kepada Petani di Dusun Ladak  dan sebagai pemantik diskusi yakni dari  Yayasan Tananua Flores difasilitasi oleh Ikwanto dan Deki

Pada Sesi Mini Coaching yang dapat menjadi sebuah pembelajaran adalah Praktik Administrasi dan Pembukuan Kelompok, Pengorganisasian kelompok PUMK, Penyegaran Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga, Dana ketahanan untuk kelompok.

Hasil dari pertukaran ini diharapkan dapat menginspirasi LPHAM Kabupaten Ende dalam menerapkan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, serta mendorong program-program yang mendukung hak-hak masyarakat adat dan pelestarian lingkungan di wilayahnya sendiri. Pertukaran seperti ini juga membuka peluang bagi kerja sama yang lebih erat antara daerah-daerah dalam hal perlindungan hak alam dan masyarakat, serta pengembangan kebijakan berbasis kearifan lokal.

Ditulis oleh : Paskalis Rai dari Desa Pemo

Pengelaman Belajar dari Pontianak dalam Mendorong Program Hak Alam dan Hak Masyarakat Read More »

Misereor/KZT-German Gelar Pelatihan Mobilizing Support untuk 9 mitra CSO Indonesia bagian Timur

Dok. Heri Se kegiatan MS 15 Juli 2024. SatunamA-Jogja

Yogyakarta, Tananua Flores| Dalam rangkap Mobilisasi dukungan dari 9 mitra CSO dari Indonesia bagian Timur  Misereor/KZT-German menyelenggarakan kegiatan pelatihan sebagai bentuk persiapan tantangan-tantangan situasi mendatang. Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Yayasan SATUNAMA Yogyakarta selama 8 hari efektif, yang dimulai sejak 22 Juli 2024 sampai dengan tanggal 30 Juli 2024.

Yayasan Tananua Flores salah satu CSO mitra MISEREOR di kepulauan Flores- NTT-Indonesia yang berlokasi di Ende mengirim 2 (dua) orang staf untuk terlibat dalam pelatihan Mobilizing Support III Change the Game Academic tersebut.

Sebagai CSO local yang hadir sejak 34 tahun silam itu tetap berkomitmen dengan Isu Pemberdayaan komunitas petani/nelayan dan isu mitigasi dan adaptasi lingkungan hidup  dengan mendorong isu Konservasi Lingkungan berbasis Masyarakat.

Menurut Yayasan Tananua Flores dari hasil kerja lapangan serta mengadvokasi persoalan masyarakat Isu ini diyakini masih sangat relevan dengan sumberdaya lembaga dan kepentingan global. Misereor merupakan salah satu lembaga internasional di jerman yang memberikan dukungan utama kerja-kerja Tananua Flores.

Kegiatan Pelatihan ini menjadi titik awal sebuah perjalanan panjang oleh semua CSO untuk terus berlanjut.

Manager Program Yayasan Satunama Ariawan mengatakan Mobilizing Support adalah upaya menggerakkan berbagai pihak untuk mendukung tujuan bersama, penting bagi CSO/CBO untuk mencapai perubahan positif. Pada poin ini melibatkan pengumpulan, pengorganisasian, dan penggerakan dukungan dalam berbagai konteks, seperti sosial dan advokasi.

Dirinya, menegaskan dengan melibatkan publik, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya, mobilisasi dukungan untuk memperkuat argumen dan memperluas pengaruh politik bisa mencapai perubahan yang diinginkan.

Lanjut Ariawan, Mobilisasi Dukungan juga memungkinkan pengumpulan individu atau kelompok dengan minat atau tujuan yang sama, meningkatkan visibilitas, akses ke sumber daya, dan kekuatan tawar.

Peserta CSO yang terlibat dalam kegiatan pelatihan itu terdiri dari Yayasan Harapa Sumba-NTT, Yayasan Sanpukat Maumere-NTT, Yayasan Cannosa Malaka-NTT, Yayasan Kita Juga Manggarai Barat-NTT, Yayasan Sehati Manggarai-NTT, Yayasan Tananua Flores-NTT, Universitas Katolik Waitabula-NTT, SKPKC-Fransiskn Papua dan Yayasan Dedikasi Tjipta Indonesia (PERMATA)-Gowa Sulawesi Selatan. Dari Sembilan (9) Mitra dari Indonesia Timur saling berbagi dan memberi spirit-kolaboratif dengan berbagai isu yang dikerjakan bersama komunitas tapak.

Koordinator bidang Pelatihan Satunama Debora Dwi mengatakan Sebagai mitra nasional Program Change the Game Academy (CtGA) di Indonesia, SATUNAMA Yogyakarta berupaya membantu meningkatkan kemampuan dan kapasitas organisasi-organisasi masyarakat sipil, organisasi komunitas berbasis masyarakat, dan kelompok swadaya dalam hal Mobilizing Support (MS). Kegiatan pelatihan ini salah satu program yang diagendakan bersama dan fokus pada meningkatkan pengetahuan, keterampilan,  sikap melalui metode pelatihan partisipatif-adaptif yang didukung oleh teknologi.

Khusus pelatihan Mobilizing support, mencakup beberapa langkah-langkah trajectory yakni: Pertama, pertemuan pengantar (Leaders Meeting) merupakan kesempatan bagi pimpinan organisasi untuk memberikan dukungan dan motivasi kepada anggota tim yang akan terlibat dalam pelatihan, serta memastikan bahwa organisasi memiliki kesiapan untuk mengikuti pelatihan dengan maksimal. Pertemuan ini, pimpinan organisasi dapat membahas strategi dan rencana tindak lanjut yang akan dilakukan setelah pelatihan selesai, serta memastikan bahwa seluruh anggota tim memahami tujuan dan manfaat dari pelatihan yang akan diikuti.

Kedua pelatihan tatap muka (Face to face training). Kegiatan ini dilakukan selama 8 hari kick off dari tanggal, 22-30 Juli 2024 yang berlokasi di balai pelatihan SATUNAMA-Jogjakarta, dengan tujuan memberikan pengetahuan dan skill yang dibutuhkan dalam ranah Mobilizing support. Ini merupakan pelatihan untuk membekali peserta dengan berbagai pengetahuan fundamental dan strategis serta keterampilan Mobilizing support.

Ketiga, Tindak Lanjut Coaching. Pasca pelatihan tatap muka selesai, peserta akan menjalankan aktivitas/project Mobilizing support bagi lembaganya dan akan mendapatkan coaching selama 11 bulan. Tahap ini merupakan program coaching yang bertujuan untuk membantu peserta pelatihan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan membangun sikap dan mindset (pola pikir) yang tepat pada diri peserta pelatihan.

Keempat, Graduation (Face to face) Trajectory Pelatihan Mobilizing support akan ditutup dengan pelaksanaan MS Graduation selama 2 hari yang merupakan bagian dari pembelajaran, peningkatan keterampilan dan pembangunan mindset sebagai seorang (Game Changer).

Lanjut Debora “Keseluruhan trajectory berlangsung selama 11 bulan, dimulai sejak Pertemuan Pengantar (Leaders Meeting) dilakukan. Trajectory ini dimaksudkan untuk memberikan secara penuh, tidak hanya materi pelatihan namun juga memberikan keterampilan serta membangun mindset terkait yang dapat mendukung keberlanjutan kerja-kerja organisasi CBO, CSO dan kelompok Swadaya.

Dok. Heri Se kegiatan MS 15 Juli 2024. SatunamA-Jogja

Kunjungan Lapangan Mitra SATUNAMA.

Ada hal menarik untuk menjadi pembelajaran penting dalam mengembangkan MS ini yakni belajar dari Yayasan Kebaya . Poin pentingnya adalah berkolaborasi dengan semua stakeholder yang ada disekitar komunitas, pemerintah dari level tapak sampai Nasional, Akademisi (professor dan kampus) dan juga Dokter, sehingga terus eksis sampai sekarang.

Selain itu Tantangan  yang dihadapi SANKEBAYA ada keberlanjutan lembaga dan regenerasi kepemimpinan masa depan yang militant dan memiliki pession serta keberlanjutan, sehingga system yang dikembangan sekarang lebih terbuka dan tersistematis untuk keberlanjutan lembaga.

Pada kegiatan pelatihan MS peserta diperkuat dengan Teknik-teknik membuat berita dan video sebagai model dan Bahasa advokasi untuk kampanye dan promosi kerja-kerja bersama untuk menjacapi tujuan bersama.

Pupu Perwaningsi Koordinator/Konsultan program untuk mitra Indonesia mengungkapkan bahwa Latihan MS ini terjadi didasari hasil refleksi tahunan MISEREOR yang melihat Lembaga-lembaga yang terus bergantung pada Donor dan belum memiliki kemandirian yang berkelanjutan dalam penelolaan program atau isu yang dikerjakan.

Konsultan Misereor itu mengharpakan semua dari Latihan ini bisa memberi dampak pada masing masing organisasi mitra untuk berpikir dan memulai menggerakan lokomotif sumberdaya (potensi) organisasi secara efektif.

“Saya mengharapkan kita semua dari Latihan ini bisa memberi dampak pada masing masing organisasi mitra untuk berpikir dan memulai menggerakan lokomotif sumberdaya (potensi) organisasi secara efektif,Mabilizing support akan kelihatan jika kita bekerja sungguh-sungguh secara secara kolaboratif”, Ungkapnya.

Oleh : Heri Se

Misereor/KZT-German Gelar Pelatihan Mobilizing Support untuk 9 mitra CSO Indonesia bagian Timur Read More »

Catatan Refleksi Spiritual

Kegiatan Refleksi Spiritual  Relawan Komunitas, Kader Kesehatan dan Orang Muda  ini rutin dilakukan setiap tahun dan kali ini dilakukan di Wisma St Fransiskus Detusoko, pada (21/6)

Relawan komunitas dan Kader Kesehatan serta orang muda  dalam melakukan tugasnya pasti akan menghadapi berbagai tantangan dan kritik , namun hal ini jangan membuat kita menyerah.

Kita dituntut untuk tetap semangat dalam menjalankan tugas perutusannya kita masing masing. Sebagai kader kesehatan , peran kita adalah melayani masyarakat khususnya Ibu hamil, bayi balita dan orang sakit agar sehat dan selamat.

Walaupun cuaca buruk atau hujan angin, Kader Kesehatan  tetap menjalankan tugasnya dengan baik demi menyelamatkan Ibu dan anak.(menyelamatkan jiwa-jiwa). Perjuangan dan rasa tanggung jawab tidak memerlukan pujian dari siapapun, karena hasil dari kerja dan perjuangan kita menjadi pelajaran dan contoh bagi orang lain.  Mari, sebagai Relawan Komunitas , Kader kesehatan dan orang Muda melangkah bersama untuk terus menebarkan kasih dan kebaikan bagi sesama kita

Kegiatan Refleksi spiritualitas ini di isi dengan misa Perutusan dan Selesai Misa Perutusan dilanjutkan dengan kegiatan Pelatihan peningkatan Kapasitas Relawan Komunitas , kader kesehatan dan Orang yang di fasilitasi oleh  Heribertus Se, Manajer Program Yayasan Tananua Flores.

Misa Perutusan

Kegiatan ini diawali dengan Brainstorming. Adapun poin poin penting yang dibahas adalah Bagaimana memecahkan masalah,mengembangkan inovasi  atau gagasan baru, menemukan dan mengenali diri dengan kekuatan dan kelemahan diri serta mendorong kreativitas dan melatih diri untuk berpikir kritis.  Relawan Komunitas dan kader Kesehatan, kita diajak untuk mengenal diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Kelebihan dan kekuatan yang kita miliki dapat kita gunakan untuk melakukan hal hal baik. Sebagai Relawan Komunitas dan kader Kesehatan, kita dituntut untuk berperan aktif, menyumbangkan segala pengetahuan dan keterampilan yang kita miliki untuk masyarakat kita. Berani  menerima tantangan dalam karya pelayanan kita.

Selain itu, Pada hari kedua 21 Juni 2024 dilanjutkan dengan  Pelatihan Kepemimpinan, dan Seni Memfasilitasi bagi Relawan Komunitas , Kader Kesehatan dan Orang Muda. Orang Muda diharapkan sebagai  Pemimpin masa depan diharapkan memiliki beberapa kriteria yaitu berani, percaya diri, memiliki kemampuan  ( pengetahuan dan keterampilan ), mampu mengorganisir dan menggerakkan masyarakat dalam membangun desa. Seorang Pemimpin juga diharapkan sebagai role model atau panutan bagi masyarakat di desanya. Menjadi Pemimpin besar, tidak mudah, perlu ditempa dan butuh proses yang panjang. Untuk itu sebagai Relawan kita harus terus berproses dan belajar true agar dapat melakukan sesuatu untuk masyarakat kita.

Dalam kegiatan ini juga  ada Pelatihan Kader kesehatan yang difasilitasi oleh Emilia  L Kumanireng dengan topik  Peran dan Fungsi Tugas Kader serta Sistem Lima Meja.

Hal ini diterapkan dalam kegiatan  Pendampingan POSYANDU dimana  mereka berbagi Peran  mulai dari Pendaftaran peserta POSYANDU,  Penimbangan Berat Badan, Pencatatan dan Pengukuran, Penyuluhan Kesehatan dan Pemberian Makanan Tambahan dan meja ke 5 ada Pelayanan Kesehatan yang dilakukan oleh tenaga medis.

Sebagai Kader Kesehatan ,mereka dituntut bekerja dengan hati  untuk melayani dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kader Kesehatan, harus  memiliki pengetahuan  pengetahuan tentang kesehatan  sehingga mampu memberi motivasi kepada Ibu hamil dan  Ibu menyusui agar  bisa memberikan pola asuh yang baik kepada anaknya.

Kader Kesehatan juga dituntut untuk memiliki keterampilan yang memadai dalam mengolah makanan bergizi dari pangan lokal sebagai Makanan Tambahan bagi Ibu hamil dan Menyusui untuk meningkatkan status gizi anak.

Dengan tanggung jawab yang diembannya, Kader bersama tenaga medis mampu memotivasi dan meningkatkan kesehatan ,masyarakat.

Selesai kegiatan yang dilakukan selama dua hari peserta  bersama sama membuat RTL ( Rencana Tidak Lanjut ). Adapun beberapa Rencana penting  akan dilakukan adalah :

  1. Mendorong Pemerintah Desa agar mengalokasikan Dana Desa untuk  Kegiatan Pemberdayaan (Peningkatan Kapasitas Relawan Komunitas dan Kader  Kesehatan serta Orang Muda).
  2. Mendorong Pemerintah Desa untuk memanfaatkan bahan Pangan lokal sebagai menu PMT Pemberian Makanan Tambahan bergizi bagi bayi balita dan Ibu hamil  saat posyandu.
  3. Menjaga kelestarian Lingkungan dengan menerapkan Pertanian ramah lingkungan serta melakukan penghijauan pada sumber mata air dan lahan kering.

Kontributor,

Emilia L. Kumanireng

Catatan Refleksi Spiritual Read More »

Menuju Kemandirian Pangan : Anak Muda harus Menjadi Pelopor Pertanian Konservasi

Pertani yang Bijak Agar Mewariskan Tanah Subur untuk Generasi Berikutnya

Noberta Daflorensia Tua

Ende,Tananua Flores |Saya Noberta Daflorensia Tua (Ayu) 26 tahun, saya adalah gadis desa yang tinggal di Dusun Kekambero. Saya sebelumnya pernah bekerja di dinas Sosial Kabupaten Ende Sebagai Honorer dan relawan TAGANA.

Pada tahun 2023 pemerintah kabupaten Ende memberhentikan semua tenaga honorer yang bekerja di instansi pemerintah kabupaten Ende. Saya Kembali ke kampung dan berani mengalikan profesi sebagai petani. Pada waktu malam hari saya di ceritakan oleh orang tua saya mengenai kegiatan bersama Yayasan Tananua Flores yang bekerja sama dengan WN.

Ketika orang tua saya menceritakan mengenai teknik teknik pertanian seperti olah lubang, olah jalur, irigasi tetes, penggunaan pupuk organik sempai dengan cara melakukan pengamatan hama tanaman, saya sangat tertarik serta ingin mencoba dan saya diberi tantangan oleh orang tua saya. Tunjukan bahwa yang sukses itu bukan hanya yang berdasi, petani juga bisa.

Setelah mendengar tantangan tersebut saya bergabung dengan program Incident pada bulan Maret tahun 2023.

Pada pertengahan tahun 2023 saya sudah mengikuti kegiatan dengan Yayasan Tananua Flores dan saya mulai melakukan praktik teknik pertanian cerdas iklim.

Saya awalnya sangat ragu akan kegagalan yang mungkin terjadi, yah mau tidak mau saya harus kerja dan mencoba soal gagal hal biasa, bangkit dan berjuang hal yang sangat luar biasa. Orang tua saya membantu saya untuk menggambar kebun impian yang akan kami olah. Kami memberanikan diri bekerja di lahan yang sangat kritis di mana banyak tanaman tidak tumbuh apabila ditanam di lahan tersebut.

Setelah memilih lahan saya bersama orang tua bersepakat menaruh target 1.000 Lubang dan 500 Jalur. Saat ini kami sudah mulai mengerjakan dan target baru bisa tercapai 300 Lubang dan 50 jalur. Praktik olah lubang dan olah jalur kami melakukan dengan cara penggalian manual dan mesin bor yang di pinjamkan oleh Tananua Flores.

Kami belum bisa mencapai target yang disepakati karena fisik saya dan orang tua saya kurang stabil. Semua lubang dan jalur tersebut telah kami isi dengan pupuk organik, kotoran sapi, daun hijau, kulit Kakao dan batang pisang dan kemudian ditutup kembalai dengan tanah.

Dok.Tanaman Sayur

Setelah satu bulan kami mulai menanam pada lubang dan jalur yang telah disediakan. Pada kebun tersebut pendamping lapangan YTNF memberikan kami edukasi kembali bawasanya pangan yang ada desa kami seperti padi, jagung serta sayur hijau sudah cukup lengkap memenuhi nutrisi keluarga namun kami juga perlu nutrisi protein yang kami peroleh dari potensi yang yang di di desa kami lalu saya bertanya kira kira apa yang bisa kami lakukan.

Saran dari YTN kami sebaiknya membuat kolam ikan serta tempat penampungan air peyiraman. Saran ini sudah kami sepakati dan akan dikerjakan pada bulan Maret 2024.

Setelah kami menerap polah pertanian cerdas iklim, kami merasa bahwa pola ini yang sangat cocok untuk daerah kami dengan kondisi tanah kritis, kurang air, panas panjang yang sering terjadi dan melanda masyarakat kami saat ini.

Dari hasil Holtikultura olah lubang dan olah jalur sangat membantu keluraga saya dari persoalan ekonomi. Perhari ini kami sudah mendapat Rp. 3.000.000 dari hasil penjualan peria dan Rp.1.000.000 dari hasil penjualan terong. Semua hasil sayuran tersebut kami jual di masyrakat dusun Kekambero sehingga. Demplot sayur organikk ini juga membantu masyarakat untuk tidak membeli sayur dari pasar yang mengandung bahan kimia.

Kami juga tidak susah untuk mendapat sayur sehat dan ekonomi kami sudah meningkat di mana sebelumnya ekonomi keluarga kami sangat memprihatikan ketika musim panas panjang tiba karena semua komuditi tidak berbuah.

Kami ucapkan terima kasih banyak kepada Yayasan Tananua Flores yang bekerja sama dengan World Neighbord yang sudah mebantu kami di dusun Kekambero desa Ja Mokeasa, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende. Untuk kegiatan Incident ini kami didamping langsung oleh PL Yayasan Tananua Flores

Marselinus Jago.

Sumber : https://www.tananuaflores.id/2024/05/petani-muda-menjadi-perlopor-pertanian.html

Menuju Kemandirian Pangan : Anak Muda harus Menjadi Pelopor Pertanian Konservasi Read More »

Tananua Flores Gelar Festival Pangan Lokal “Tedo Tembu Wesa Wela, Gaga Bo.O Kewi Ae”

Detuwulu, Tananua Flores.|Dalam rangka memperingati hari raya pangan sedunia Yayasan Tananua Flores bersama dengan masyarakat desa dampingan pada program livelihood Menggelar festival pangan Lokal yang berlangsung selama dua hari.

Kegiatan Festival itu  dilaksanakan di Detuwulu, Kecamatan Maurole Pada Tanggal 15 – 16 Oktober 2023.

Tananua dan Desa dampingan Gelar Festival Pangan Lokal ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kesadaran dan apresiasi terhadap keberkelanjutan makanan lokal serta manfaat dari pangan lokal untuk Kesehatan Manusia.

Festival pangan lokal ini mengusung tema Tedo Tembu Wesa Wela, Gaga Bo.o Kewi Ae.  Selain itu ada beberapa acara dalam memeriahkan Festival antara lain seperti Talk Show, seminar pangan lokal dan PCH, dan lomba masak makanan pangan lokal yang diikuti oleh warga desa setempat. Dengan tujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya melestarikan kembali keragaman pangan lokal agar tidak punah digilas modernisasi secara global.

Kegiatan Festival tersebut juga diawali dengan misa bersama yang dipimpin oleh Pater Charles Beraf, SVD.

Pater Charles, dalam khotbah mengatakan bahwa dalam hal kegiatan seperti ini Dirinya terinspirasi dari bacaan injil Perjamuan kawin di Kana.

Katanya, apakah umat sekalian mampu menyediakan anggur terbaik hingga akhir pesta?, Maksudnya ialah bahwa segala yang terbaik dari usaha masyarakat terutama berkaitan dengan ketersediaan pangan lokal tetap tersedia hingga kapanpun, sampai menjadi masyarakat yang tidak memiliki kekurangan sedikitpun terutama berhubungan dengan ketersediaan pangan.

Usai misa bersama dilanjutkan dengan Kegiatan Talk Show untuk mendiskusikan berbagai persoalan masyarakat desa dalam mengembang dan pempertahankan pangan lokal. Acara Talk Show itu dipandu oleh Heribertus Se Manajer Program Yayasan Tananua Flores.

Hery Se, mengawali acara tersebut mengungkapkan bahwa Talk show ini adalah salah satu highlight dari festival  dengan menghadirkan narasumber-narasumber kompeten mewakili berbagai pihak (Tiga Batu Tungku) seperti agama, pemerintah dan tokoh adat.

Manager itu menjelaskan, Talk show ini menjadi platform bagi toko-toko atau narasumber lokal untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman seputar keberadaan pangan lokal di tengah masyarakat  kondisi pangan lokal yang kian menghilang kemudian harus dibudidayakan serta didorong untu dilestarikan kembali.

Menyambung dari Penjelasan Manager Program kemudian dipertegas kembali oleh pater Charles Beraf dalam sesi Talkshow dengan mengatakan bahwa “pangan lokal itu waka (gengsi) kita”.

Menurutnya ketika masyarakat merawat, menjaga dan menggunakan pangan lokal sebagai sesuatu yang menjadi identitasnya, secara tidak langsung masyarakat juga sedang  menunjukan dan menjaga wakanya sendiri.

Pater carles yang juga Pembina Tananua itu menegaskan” kita  menggunakan bahan olahan dari luar merupakan salah satu tindakan merusak harga diri kita sendiri, kita menjunjung tinggi nilai dan kebesaran yang bukan bagian dari kita, kita hanya akan merasa berharga ketika kita menggunakan apa yang kita miliki bukan meminjam apa yang orang lain miliki dan mengklaim sebagai milik kita”, tegasnya

Selain itu Toko adat(mosalaki) Detuwulu Petrus Bata,  menjelaskan bahwa dirinya lebih melihat pangan lokal sebagai sumber utama pemberian persembahan kepada leluhur dan Tanawatu. Dalam Refleksinya bahwa saat ini pengembangan pangan lokal sudah mulai pergeseran dengan tanaman komoditi ditengah arus masifnya kebutuhan industri. Sehingga dampaknya adalah ana kalo fai walu (masyarakatnya) kian jauh dari pangan lokal.

Pertama,  mereka tidak memiliki lahan cukup luas dan banyak untuk membudayakan pangan lokal karena lahan-lahan yang sudah ada telah ditanami dengan tanaman umur panjang (komoditi).

Kedua, ada beberapa jenis pangan lokal yang tidak cocok untuk ditanami di wilayah Detuwulu. Ketiga banyaknya anak-anak yang sudah sekolah lebih memilih kerja kantoran ketimbang harus terjun ke kebun dan mengolah hasil kebun di kampung sendiri.

Dengan Alasan-alasan tersebut sebagai Tokoh adat merasa dilematis antara membiarkan ana kalo fai walu berjalan sesuai dengan apa yang mereka kehendaki dan itu berarti melenyapkan nila-nilai budaya yang asli seperti are wati manu eko dari hasil usaha dan keringat sendiri atau memaksa ana kali fai walu kembali membudidayakan keragaman pangan lokal sebagai kekayaan dari masyarakat adat dalam melestarikan nilai luhur budayanya.

Disisi yang lain kata Mosalaki itu saat ini mereka tidak memiliki lahan yang cukup untuk maksud tersebut, tetapi sebagai mosalaki kemudian merasa ditantang dan memutuskan satu kebun pribadi yang telah ditanam dengan tanaman komoditi akan digantikan dengan menanam dan membudidayakan pangan lokal yang sesuai dengan jenis tanah dan tuntutan seremonial adat.

Tokoh adat juga menyinggung terkait dengan peran dari pemerintah tentang pentingnya kebijakan dan langkah-langkah dalam mendukung ketahanan pangan lokal. Pemerintah di tuntun untuk sesekali memberikan kebiasaan, pengalaman dan pengetahuan mereka tentang pangan lokal.  Pemerintah juga harus mempunyai kebijakan khusus terkait dengan pangan lokal. Tutupnya.

Oleh : Mikel, Staf Tananua.

Tananua Flores Gelar Festival Pangan Lokal “Tedo Tembu Wesa Wela, Gaga Bo.O Kewi Ae” Read More »