Kartu KUSUKA menjadi Kebutuhan Utama bagi Para nelayan

Ende, Tananua Flores| Dinas Perikanan Kabupaten Ende bekerja sama dengan Yayasan Tananua Flores gelar Sosialisasi Manfaat dari penggunaan Kartu KUSUKA bagi para nelayan yang ada di kabupaten Ende. Kegiatan sosialisasi tersebut di laksanakan di Aula kantor Desa maubasa timur kecamatan Ndori pada Kamis 23 September 2021.

Agnes Ngura  Staf Yayasan Tananua Flores mengatakan digelarnya sosialisasi  kartu KUSUKA karena di wilayah kecamatan ndori sebagian besar warga desa yang mata pencahariannya adalah menangkap ikan dan gurita.

Hal tersebut  perluh dilakukan Sosialisasi agar para nelayan bisa mengetahui manfaat dari kartu KUSUKA itu. Dan  Tananua Sendiri mempunyai program terkait perikanan gurita , maka pendataan nelayan yang belum memiliki kartu KUSUKA juga menjadi salah satu kegiatan di Tananua Flores.

Untuk saat ini data yang telah di input sebanyak 60 orang nelayan belum memiliki kartu KUSUKA karena sebelumnya hanya kartu Nelayan.

“  ada 3 desa  yang telah saya input datanya yaitu ada sebanyak 60 orang nelayan, terdiri dari bidang usahannya masing-masing, sementara itu masih banyak Nelayan yang belum terdata”, ungkapnya

Lanjut disampaikan Agnes “ Kegiatan Tananua salah satunnya adalah pendataan Kartu KUSUKA, dan saya melihat bahwa itu sangat penting, maka saya berkomunikasi dengan dinas perikanan kabupaten untuk datang melakukan Sosialisasi  diwilayah kecamatan Ndori”, Sahutnya

Menurutnya bahwa ketika nelayan sudah memiliki kartu itu  maka, manfaatnya sangat besar, dan sebagai nelayan tidak semestinnya ragu dalam melakukan berbagai aktivitas usaha di laut maupun di darat dalam pengolahan ikan.

Sementara itu Riatni A.H Husen, S.Pi dari dinas Perikanan Kabupaten Ende mengatakan bahwa Kartu KUSUKA adalah penting bagi Nelaya sebab kartu itu berfungsi untuk Identitas profesi Pelaku Usaha di bidang Kelautan dan Perikanan

Riatni juga menambahkan kartu KUSUKA juga bagian dari basis data untuk memudahkan perlindungan dan pemberdayaan, pelayanan, dan pembinaan kepada Pelaku Usaha di bidang Kelautan dan Perikanan; dan sarana untuk pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program Kementerian.

Penyuluh perikanan itu menjelaskan bahwa Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (KUSUKA) diterbitkan  oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Dan  itu berdasarkan Peraturan Menteri KKP Nomor 39 tahun 2017 tentang Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan sebagai Landasan hukum.

“Kartu Kusuka ini ditujukan untuk perlindungan dan pemberdayaan pelaku usaha kelautan dan perikanan, percepatan pelayanan, peningkatan kesejahteraan serta menciptakan efektivitas dan efisiensi program Kementerian Kelautan dan Perikanan agar tepat sasaran dan pendataan kepada pelaku usaha kelautan dan perikanan”, katanya

Selain itu didalam kartu KUSUKA terdapat beberapa informasi seperti  Nama pelaku usaha,Profesi pelaku usaha, Alamat pelaku usaha,Nomor Induk Kependudukan Orang Perseorangan,Masa berlaku, Kode QR Identitas dan Informasi Tambahan di Kartu KUSUKA

Wanita Mudah itu menambahkan bahwa Kartu Kusuka ini hanya berlaku untuk Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan,  seperti  nelayan kecil, nelayan tradisional, nelayan buruh, dan nelayan pemilik. Pembudi daya ikan, Petambak garam ,penggarap tambak garam, Pengolah ikan, Pemasar perikanan dan Penyedia jasa pengiriman produk kelautan dan perikanan.

Kepala desa Maubasa Barat yang membuka kegiatan sosialisasi tersebut memberikan apresiasi terhadap Yayasan Tananua Flores  karena sudah membantu pemerintah dan nelayan di wilayah kecamatan Ndori khususnya 3 tiga desa yang datanya sudah di ambil.

Dia menuturkankan dengan kehadiran Lembaga Yayasan Tananua Flores di wilayah ini semua unsur yang ada di wilayah ini harus mendukung secara penuh agar  program yang di luncurkan Tananua bisa berjalan dengan sukses dan bisa membantu masyarakat untuk peningkatan ekonomi mereka. (Agnes)

Kartu KUSUKA menjadi Kebutuhan Utama bagi Para nelayan Read More »

Kelompok Tani Desa Randoria dan Wolotolo Tengah Gelar rapat Koordinasi Membahas Isu-isu Pertanian

Ende, Tananua Flores | Kelompok Tani di desa Randoria dan wolotolo Tengah Gelar rapat koordinasi Membahas Isu-siu Pertanian untuk di jadikan Agenda perencanaan Desa dan kelompok Tani di tahun yang akan Datang. Dalam kegiatan rapat koordinasi kelompok Tani  di dua desa tersebut unsur yang terlibat adalah kelompok Tani, Pemerintah Desa, tokoh adat, tokoh Agama, dan utusan dari Yayasan Tananua Flores

Rakor itu diselenggarakan selama dua hari mulai dari kamis 2-3 september 2021 di desa Randori dan Wolotolo Tengah kabupaten Ende.

Pada kesempatan itu Elias Mbani mengatakan bahwa Rakor kelompok tani ini adalah untuk melihat kembali sudah sejauh mana program- program yang dikembangkan Yayasan Tananua bermenfaat atau membawa perubahan bagi masyarakat desa khususnya pada Kelompok Tani, Petani, dan masyarakat desa dalam hal peningkatan Ekonomi.

“ Kita menyelenggarakan Rakor ini adalah untuk melihat sejauh mana program yang di Kembangkan Yayasan tananua dan bermanfaat atau tidak dan juga membawa perubahan atau tidak untuk kelompok tani atau masyarakat di desa”, katannya

Menurutnya bahwasannya fokus pendampingan tananua pada tiga tiang kehidupan petani yaitu UMA SAO dan REGA yang lokusnya pada ORGANISASI PETANI yaitu Kelompok tani dan kelompok sasaran lainya yang ada di desa.

Mendorong Perubahan pola piker, pola kerja di masyarakat khususnya di kelompok tani bukan hal yang gampang membalik telapak tangan namun membangun pemberdayaan di petani merupakan sebuah pekerjaan yang berat, semuannya membutukan Proses panjang untuk mewujudkan itu.

Rakor yang di selenggarakan oleh kelompok tani ini adalah sebuah agenda kerja untuk melihat kembali perjalanan program yang di jalankan oleh kelompok tani dan juga membahas kembali isu-isu pertanian yang bisa menjadi peluang untuk pendampingan. Isu Pertanian yang di maksud seperti Isu pangan, konservasi air dan tanah, isu ekonomi kerakyatan dan juga isu kesehatan.

Efrendiakon Dolo kepala Desa Wolotolo tengah memberi apresiasi kepada Yayasan Tananua dalam proses pendampingan dengan selalu bersama masyarakat terutama petani dengan kegiatan bersama kelompok secara nyata.

Kepala Desa itu mengungkapkan Ada beberapa kelompok sudah sangat bagus dalam kegiatannya bersama Tananua, Itu sangat bagus. Tapi untuk kelompok lain yang belum aktif, segera melakukan pertemuan dan mengaktifkan kembali kegiatan kelompoknya.

“ saya sebagai pemerintah di desa berterimah kasih kepada Yayasan Tananua Flores, sebeb program pendampingan yang di terapkan Tananua bersama kelompok itu sangatlah bagus dan harapanya kelompok lain yang belum aktif bisa di aktifkan kembali,”ungkapnya

Lebih lanjut Dolo menuturkan “Terkait dana desa saya bisa alokasihkan dan gampang saja terkecuali kelompok aktif dan berperan bersama dalam kegiatan musyawara desa untuk kita usulkan bersama melalui dana desa,” Tutur Dolo.

Rakor tersebut telah menghasilkan beberapa rekomendasi diantaranya melaksanakan rakor setiap 2 bulan sekali dan dilakukan secara bergilir dari koptan  dan pendampingan tananua mengambil peran dalam pembenahan administrasi kelompok serta kegiatan usaha produktif lainnya.

Oleh : El.Mbani

Kelompok Tani Desa Randoria dan Wolotolo Tengah Gelar rapat Koordinasi Membahas Isu-isu Pertanian Read More »

Tananua Flores Selenggarakan Pelatihan Enumerator

Ende, Tananua Flores –  Yayasan Tananua Flores Selenggarakan Pelatihan Enumerator yang akan di jadikan sebagai petugas pendataan Gurita di masing-masing desa. Sebanyak 8 orang yang di rekrut dari desa untuk mengikuti pelatihan di kantor Tananua Ende pada 2-3 September 2021.

Turut terlibat dalam pelatihan tersebut 4 staf Lapangan Pendampingan di desa yang  nantinya menjadi salah satu bagian dalam proses pengawalan dan pendampingan kepada Enumerator pada saat proses pendataan.

Direktur Yayasan Tananua Flores Bernadus Sambut ketika membuka kegiatan pelatihan tersebut menuturkan bahwa Pelatihan ini dilaksanakan agar bapak ibu yang di percayakan sebagai Enumerator  bisa memahami terkait dengan Pendataan dan juga bisa mengetahui aktivitas Nelayan dalam menangkap Gurita.

Selain itu, Bernadus mengatakan 8 orang yang mengikuti pelatihan ini bisa memahami seberapa penting data dan apa tujuan Tananua Flores mendamping Nelayan Gurita.

Menurutnya bahwa  Gurita merupakan salah satu komuditas yang akan di Ekspor ke luar negeri, sebab Gurita adalah salah satu jenis makan yang disukai oleh orang-orang barat.

Sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat Yayasan Tananua Flores sudah Mendampingi banyak desa mulai dari desa yang ada di gunung hingga desa yang ada di pesisir.

Untuk Program Perikanan dan kelautan Tananua mulai mendampingi sejak tahun 2019 dengan mendampingi para nelayan penangkap Gurita. Tananua awali dengan 2 Desa yaitu Keluarahan Tetandara Lingkungan arubara dan Desa Maurongga di kecamatan Nangapanda. Dan Untuk Tahun 2021 Tananua menambah lagi 2 Desa Dampingan yaitu desa Pedonura di kabupaten Nagekeo dan Desa maubasa di kecamatan Ndori kabupaten Ende.

Lebih Jauh Bernadus Menjelaskan bahwa  “Tugas Enumerator kedepannya adalah melakukan pendataan terhadap nelayan yang menangkap gurita dan Pendataan itu dilakukan setiap hari ketika nelayan yang menangkap gurita pulang dari laut” Jelasnya.

Sementara itu Made Dharma dari Pesisir Lestari Menerangkan  bahwa Pendataan terhadap Gurita adalah penting dilakukan oleh enumerator karena data merupakan salah satu dasar dalam proses pengelolaan Lokal kawasaan di wilayah Pesisir.

Dalam pemaparan Materinya dharma menjelaskan Yayasan Pesisir Lestari adalah organisasi konservasi yang bertujuan mendorongkan pengelolaan sumber daya laut berbasis masyarakat pesisir untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dan melestarikan ekosistem laut yang berkelanjutan untuk generasi masa depan

Dan Pendekatan yang di bagun adalah Mendampingi Masyarakat,Mendukung Mitra dan Mendukung Jaringan. Semuannya itu menjadi satu pola pendekatan untuk membangun kesadaran masyarakat terkhususnya Nelayan pencari Gurita.

Terkait dengan Pendataan Gurita Dharma Mengungkapkan bahwa Data yang di ambil oleh enumerator nantinya akan di kaji dan dianalisis kemudian akan kembali ke masyarakat agar masyarakat bisa mengetahui potensi yang mereka miliki.

“Data yang di ambil oleh Enumerator nantinnya akan di teruskan ke Tananua dank e YPL untuk di analisisi dan setelah itu akan di kembalikan kemasyarakat untuk diketahui potensi yang mereka miliki”, Ungkapnya

 

Oleh : Jhuan Mari

 

 

Tananua Flores Selenggarakan Pelatihan Enumerator Read More »

Tananua Flores gelar diskusi Data Profil Perikanan dan Pembuatan alat Tangkap yang Ramah Lingkungan

Nagekeo, Tananua Flores. | Yayasan Tananua Flores gelar diskusi profil data perikanan dan pembuatan peta partisipatif di desa Pedonura kabupaten Nagekeo NTT. Gelar diskusi tersebut diselenggarakan di kantor desa Pedonura pada (24/8)

Kegiatan tersebut dilaksanakan selama dua hari yang di mulai dari 24-25 agustus 2021. Peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut terdiri dari aparatus Pemerintah Desa Kotodirumali,  pemerintah desa Pedonura para Nelayan Gurita serta tim dari Tananua Flores Ende.

Berbicara terkait data saat ini adalah penting sebab dalam melakukan proses pembangunan di bidang apapun di mulai dari data. Data menjadi sumber utama bagi siapapun baik itu pemerintah, swasta  untuk memulai proses perencanaan, proses pembangunan semuannya berbasis pada data.

Pius Jodho dari Tananua Flores menuturkan bahwa untuk Program Perikanan dan kelautan ini Tananua sendiri mengawali dengan data, bersama masyarakat Tananua mulai melakukan survey dan pengambilan data awal sebagai dasar untuk melakukan program Pendampingan.

“Kami Tananua Flores dalam program perikanan dan kelautan itu dimulai dengan Pendataan, yaitu dengan pembuatan profil perikanan dan database lainnya yang berhubungan dengan rencana program pendampingan bisa terarah pada tujuan yang ingin di capai” tuturnya.

Lebih jauh Pius Menjelaskan  di program perikanan ini data profil yang dimaksudkan adalah situasi kehidupan para nelayan  khususnya gurita, jenis alat tangkap, lokasi memancing, hasil tangkapan, waktu memancing, logistik memancing, fasilitas perikanan, rantai pasokan, pendapatan, sumber daya ikan, kalender musim, kelembagaan dan tata kelola,

“ Data yang di maksudkan untuk awal kami memulai seperti situasi kehidupan para nelayan  khususnya gurita, jenis alat tangkap, lokasi memancing, hasil tangkapan, waktu memancing, logistik memancing, fasilitas perikanan, rantai pasokan, pendapatan, sumber daya ikan, kalender musim, kelembagaan dan tata kelola” jelas pius

Sementara itu menurut Pius bahwa informasi tentang data profil perikanan harus dimulai dari awal agar ketikan dalam menjalankan program kedepan bisa bermanfaat untuk masyarakat dan nelayan. Selain itu juga bisa memperoleh klarifikasi atau umpan balik dari masyarakat yang berkaitan dengan informasi yang di sampaikan

Yang diharapkan dari kegiatan tersebut adalah dengan tersedianya data awal dan menjadi dokumen, agar dalam menyusun sebuah perencanaan di masa yang akan datang dapat sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Data yang telah disajikan dapat memberikan gambaran yang lengkap dan dapat terpercaya.

Alat tangkap yang ramah lingkungan

Tananua flores juga memfasilitasi Pelatihan pembuatan alat tangkap yang ramah lingkungan. Dalam kegiatan tersebut di ikuti oleh para nelayan pencari gurita.

Pelatihan pembuatan alat tangkap itu adalah bagian dari para nelayan yang mencari gurita saling belajar bersama dalam pembuatan alat tangkap yang ramah lingkungan.

Untuk kali ini yang melatih para nelayan di desa pedonura, desa kotodurimali, desa tongggo adalah para nelayan gurita dari lingkungan arubara kabupaten ende.

Belajar membuat alat tangkap Gurita tersebut di fasilitasi langsung oleh Doyan dari arubara. Dalam Penjelasannya bahwa ada 3 alat tangkap yang perluh digunakan oleh nelayan pencari gurita yaitu alat tangakap kepiting, alat tangkap pocong, dan alat tangkap terong.

Menurutnya bahwa jenis alat tangkap ini yang ramah lingkungan tidak merusak ekosistem yang ada di laut, dan bahan-bahan yang dipakai mudah ditemukan oleh para nelayan dan tersedia di pasaran.

Yang diharapkan dari kegiatan tersebut adalah agar masyarakat nelayan gurita di desa podenura, tonggo, dan kotodirumali bisa membuat alat tangkap gurita yang ramah lingkungan dan tetap menjaga ekosistim laut dengan baik.

Dengan adanya pelatihan pembuatan alat tangkap gurita yang ramah lingkungan bisa mendorong nelayan gurita tetap menjaga ekosistem terumbu krang dengan baik, dan diharapkan nelayan gurita bisa membagikan ilmu yg mereka pelajari dari proses pelatihan pembuatan alat tangkap yang ramah lingkungan kepada sesama nelayan gurita yang belum memahami dan belum bisa membuat alat tersebut

Langkah yang perlu di tindak lanjuti, harus adanya dorongan ,motivasi, bimbingan,pengawasan kepada nelayan gurita, agar mereka bisa memanfaatkan alat tangakap gurita yang ramah lingkungan tersebut tanpa harus merusak ekosistim laut.

Oleh : Nelson

Tananua Flores gelar diskusi Data Profil Perikanan dan Pembuatan alat Tangkap yang Ramah Lingkungan Read More »

Gambaran Umum Kondisi Desa Kolikapa

Sejarah Desa

Pada mulanya wilayah ini masih berstatus Dusun dengan tiga rukun tetangga (RT) yakni : Rt Kolikapa I,kolikapa II dan Rt Ndetundopo. Dan pada tahun 2000-2021 wilayah ini akan terjadi pemekaran dari Desa indu yaitu Desa Kebirangga, guna pelayanan kepada masyarakat lebih dekat dan pada saat itu juga wilayah desa kebirangga sudah sangat luas, sehingga wilayah dusun di Kolikapa menjadi Desa Persiapan.

Dari keadaan diatas maka tergeraklah seluruh masyarakat bersama para Mosalaki dan tokoh masyarakat untuk duduk dan bermusawarah dalam hal ini membentuk wilayah dusun menjadi sebuah desa persiapan. Pada saat itu juga masyrakat,mosalaki,tokoh masyarakat bersepakat untuk memberi nama diambil dari sebuah pohon yaitu Koli dan Kapa, kata Koli artinya lontar dan kapa artinya Banyak.

Dihubungkan menjadi KOLIKAPA artinya banyak lontar. Pohon ini juga di jaman duluh nenek moyang di jadikan arak, daunya dijadikan atap ruma, juga dijadikan tas ( rembi ) sebagai tempat untuk simpan barang-barang.

Setelah menyepakati nama itu masyarakat juga memilih Pemimpin sementara menjadi desa persiapan yaitu bapak Aloysius Segu, warga masyarakat Kolikapa.nama desa dan nama pemimpin tersebut  langsung di ajukan ke kabupaten melalui bapak Aloysius Segu kepada bapak Bupati Ende yaitu Bapak Paulinus Domi, pada tahun 2000.Nama tersebut di setujui oleh bapak bupati ende sehingga terjadi desa persiapan selama tiga tahun yaitu tahun 2000-2003.

Setelah persaratan dipenuhi maka bapak bupati ende mengeluarkan peraturah bahawa desa-desa persiapan se kabupaten ende segarah menjadi desa defenitif, saat itu juga masyarakat desa kolikapa membentuk panitia pemiliha kepala desa.tepatnya di bulan mei tahun 2000 masyarakat kolikapa mempunyai pemimpin kepala desa yang baru. Yakni Bapak Aloysiu Segu.

Ditahun 2004 bapak Aloysius Segu di lantik oleh Bapak Paulinus Domi selaku Bupati Ende, menjadi kepala desa kolikapa untuk memimpin selama kurang lebih lima (5) Tahun, dari tahun 2004-2008.

Selanjutnya pergantian pemimpin sebagai berikut:

NO Nama Tahun Keterangan
1. Aloysius Segu 2003-2004 Persiapan
2. Aloisius Segu 2004-2009 Kepala Desa
1. Andreas Renggi 2010-2011 Penjabat
2. Basilius Lima 2011-2016 Kepala Desa
3. Antonius Radja 2017-2019 Penjaba
4. Antonius Radja 2020-2026 Kepala Desa

Demikian Gambaran Umum Desa Kolikapa dari tahun ke Tahun yang bisa kamisampaikan terima kasih.

Download Dokumen : profil desa kolikapa 2021

 

Gambaran Umum Kondisi Desa Kolikapa Read More »

Translate »