Nama saya Emilia Letek Kumanireng, orang sering memanggil saya dengan sebutan Emi. Saya Lahir di larantuka pada 7 Februari 1977. Saya saat ini Tinggal di Ende tepatnya Lorong PLTD kelurahan Mautapaga kecamatan Ende timur. Pendidikan terakhir saya Serjana Pertanian. Kepercayaan saya Katolik dan sudah berkeluarga.
Saya saat ini bekerja di sebuah LSM lokal yang bernama yayasan Tananua Flores. Posisi saya di Lembaga yayasan Tananua Flores sebagai ketua Devisi pengembangan Masyarakat desa.
Pengalaman Pendidikan:
a). Pendidikan Formal
Sekolah Dasar Katolik Lamika Kecamatan Larantuka
Sekolah Menengah Pertama Katolik Pati Beda Lewokluo- Larantuka,
Sekolah Menengah Atas PGRI Lewoleba Lembata
Fakultas Pertanian UKI- Paulus Makassar Sulawesi Selatan 1995 –2001
b). Pendidikan Non Formal
Pernah Mengikuti :
PelatihanTeknis Pertanian (pembuatan Pupuk dan Pestisida Organik, P3S Kopi dan Kakao, KTA, Pasca Panen)
Pelatihan Kesehatan (Manajemen POSYANDU, Sistem 5 Meja, Cara Mengisi KMS, Pengolahan Pangan Bergizi, Mdramu Obat Tradisional,
Pelatihan Administasi dan Pembukuan UBSP , Rencana Bisnis, Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga, Dinamika Kelompok
Ende, Tananua Flores| Demi menjaga kepercayaan masyarakat pesisir dan keterlibatan masyarakat dalam proses pendataan perikanan, kali ini Pendamping Lapangan Tananua Flores dan juga Enumerator Pendata Lakukan Umpan balik data di desanya masing-masing.
Umpan balik data gurita maupun ikan bertujuan untuk masyarakat desa dampingan bisa mengetahui sejauh mana data yang dikumpulkan dan bagaimana menggunakan data tersebut untuk perencanaan pembangunan.
Kegiatan Umpan balik data merupakan salah satu aktivitas dari pendampingan Tananua di desa. Dalam kegiatan tersebut yang harus ambil bagian adalah, Enumerator, masyarakat, dan pemerintah desa setempat.
Berikut ini kami Sajikan Kegiatan umpan balik data dari desa dampingan Tananua.
Lingkungan Arubara.
Kegiatan umpan balik data Arubara ( dok.Aldo)
Kegiatan dilakukan pada (2/5) bertempat di rumah bapak RT 04, lingkungan Arubara. Kegiatan tersebut dibuka oleh ketua RT 04 Fudin Ali.
Pada kesempatan tersebut fudin Ali juga menyampaikan kepada nelayan bahwa gurita sudah di terima kembali dengan harga yang di informasikan dari PT. AGRITA BEST di Paga sebesar Rp. 20.000 per kilogram.
Dengan perusahan menerima kembali gurita, Fudin Ali sebagai ketua RT dan juga selaku Pengepul mengharapkan nelayan pencari gurita tetap menjaga kualitas gurita.
Kata Fudin, “Komoditas Gurita adalah komuditas Ekspor dan agar produk kita tetap diterima di perusahaan maka, kita harus menjaga secara bersama untuk menjaga kualitas gurita sesuai dengan permintaan perusahaan”, ucapnya.
Sementara itu, Maya wahab selaku enumerator gurita Arubara menyampaikan data gurita yang didata selama 3 bulan dengan total tangkapan 357 kg dengan rincian bulan Januari 238,5 kg gurita, bulan februari 27,5 kg gurita dan di bulan maret berjumlah 91 kg gurita.
Menurut Maya bahwa dilihat dari data selama 3 bulan ini tertinggi hanya di bulan januari, yang paling rendah penangkapan terjadi pada bulan februari dan maret. Alasan mendasar terjadi karena situasi dan kondisi laut yang tidak bersahabat (cuaca buruk) dan juga dengan belum kembali dibukanya perusahaan sehingga ini menimbulkan semangat nelayan mencari gurita menurun.
Umpan balik data gurita nelayan Arubara, Wilhelmina Benge selaku penyuluh perikanan mengatakan bahwa kelompok nelayan gurita merupakan sebuah kelompok yang aktif di wilayah kelurahan dalam menjaga ekosistem laut secara baik.
Penyulu itu mengharapkan” kegiatan yang baik harus tetap dipertahankan untuk menjaga kelestarian lingkungan laut yang lebih baik, tidak hanya memanfaatkan laut, tetapi merawat dan menjaga untuk keberlanjutan , tidak boleh menggunakan alat tangkap yang merusak lingkungan seperti Bom, potassium, dan yang lainnya”,kata wilhelmina.
Saat ini proses pendataan gurita di arubara terus dilakukan oleh enumerator dan datanya dapat digunakan untuk proses perencanaan pembangunan daerah pesisir.
Desa maubasa, maubasa timur dan Serandori
Umban balik data Ndori (dok.Agnes)
Kegiatan umpan balik data di desa maubasa,maubasa timur dan serandori dilakukan pada (02/05) bertempat di desa serandori.
Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini adalah nelayan yang terdiri dari 3 Desa yaitu Desa Maubasa, Desa Maubasa Timur dan Desa Sera Ndori. Proses dari kegiatan ini enumerator melakukan rekapitulasi kemudian membuat presentasi untuk dibagikan kepada masyarakat nelayan.
Agnes Ngura selaku PL di Ndori Menyampaikan tujuan dari kegiatan Umpan balik data gurita sehingga peserta dapat mengetahui apa yang menjadi tujuan adanya umpan balik data. Selain itu PL menyampaikan beberapa kegiatan terkait dengan sistem tutup buka lokasi tangkap.
Selain itu Enumerator memaparkan data selama 6 bulan, berikut data rekapan untuk data nelayan Maubasa Timur total Produksi gurita (kg) adalah 5.674,3 kg dengan jumlah pendapatan Rp 160.324.500,00. Untuk Desa Maubasa berjumlah 2.234,4 kg dengan jumlah pendapatan sebesar Rp 91.932.500,00. Untuk Desa Maubasa Barat 64,2kg dengan jumlah pendapatan Rp 2.032.000,00 sedangkan untuk Serandori berjumlah 2.553,4 kg dengan jumlah pendapatan Rp94.644.500,00.
Menurut Oyan yang adalah salah satu dari nelayan yang berasal dari desa Maubasa timur menyampaikan bahwa apresiasi disampaikan kepada Tananua dan enumerator yang telah mendata hasil tangkapan nelayan sehingga mereka dapat mengetahui data tangkapan dan pendapatan mereka, baginya selama ini Tananua sudah bekerja sangat maksimal dan sangat bermanfaat bagi mereka. Dengan sistem tutup-buka lokasi tangkapan gurita kami sebagai nelayan merasakan dampak yang sangat baik terutama peningkatan hasil tangkapan dan yang paling penting pada area penangkapan yang kami miliki sudah tidak terganggu dengan nelayan pendatang.
Desa Persiapan Maurongga
Umpan balik data di desa persiapan maurongga( dok.Iren)
Kegiatan dilakukan di rumah Bapak Imbran (salah satu nelayan gurita) pada hari Jumat 10 Mei 2024. Pukul 08.00 WITA.
Sebelum kegiatan, PL berkoordinasi dengan Enumerator untuk kegiatan umpan balik data, selanjutnya PL dan Enumerator merekapitulasi data gurita selama 6 bulan dan data Ikan selama 3 bulan untuk kegiatan feedback data.
Selanjutnya, PL bersama Enumerator berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan Enumerator mengajak Nelayan bersama – sama menghadiri kegiatan feadback data waktu yang sudah ditentukan.
Kegiatan dibuka oleh Bapak Muhammad Nuhu selaku sekdes dan dilanjutkan PL untuk memberi gambaran mengenai kegiatan ini dan memberi kesempatan kepada Enumerator untuk melaporkan kembali data hasil tangkapan gurita selama 6 bulan ( November 2023-April 2024) menggunakan kertas Pleno.
Data yang dijelaskan Enumerator berupa jumlah tangkapan dari masing-masing nelayan serta total secara keseluruhan dari hasil tangkapan nelayan dalam kelompok dan jumlah nelayan yang melakukan penangkapan.
Dari Data tersebut yang disampaikan oleh Enumerator selama 6 bulan sebagai berikut:
Bulan November 2023 : berat gurita 153,7 kg, 105 ekor dan pendapatan nelayan Rp6.155.000.
Bulan Desember 2023 : berat gurita 47.9 kg, 34 ekor dan pendapatan nelayan Rp1.680.000.
Bulan Januari 2024 : berat gurita 60,4 kg, 41 ekor dan pendapatan nelayan Rp2.100.000.
Bulan Februari 2024 : berat gurita 35,1 kg, 29 ekor dan pendapatan nelayan Rp1.230.000.
Bulan Maret 2024 : berat gurita 26,4 kg, 20 ekor dan pendapatan nelayan Rp920.000.
Bulan April 2024 : berat gurita 44,8 kg, 30 ekor dan pendapatan nelayan Rp1.570.000.
Dari data yang ada, Imran mengakui hasil tangkapannya menurun karena kawasan pencariannya tercemar oleh material galian dari proyek jalan negara. Sekdes desa persiapan maurongga mengapresiasi kegiatan ini karena dapat membantu pemerintah desa untuk mengetahui potensi Perikanan. Nelayan atas nama Adi Baba, mengaku senang karena yang didata tidak hanya gurita tetapi juga ikan sehingga dia dapat mengetahui jumlah dan jenis ikan yang sudah ditangkap selama ini
Desa Podenura dan Kotodirumali.
Kegiatan umpan balik data di kodim ( Dok. Nelson )
Kegiatan umpan balik data ke dua desa tersebut dilakukan pada selasa 14 Mei 2024. Tempat dilakukan kegiatan umpan balik data di Ndetumali desa kotodirumali.
Peserta yang terlibat dalam kegiatan umpan balik data tersebut terdiri dari nelayan dari desa podenura dan nelayan dari kotodirumali. Turut ambil bagian dalam kegiatan itu utusan pemerintah desa dikedua desa.
Kegiatan difasilitasi oleh Enumerator dan Pendamping lapangan Tananua flores yang bertugas di wilayah itu.
Dari laporan Enumerator pendata gurita jumlah tangkapan selama 4 bulan berjumlah 666 ekor 814 kg, dan total pendapatan nelayan sebesar Rp. 17.805.000
Dari data menunjukan jumlah produksi gurita tinggi, sementara faktor lainyang menjadi kendala adalah harga gurita yang menurun dan cuaca ekstrim. Selain itu juga beberapa bulan terakhir perusahan belum menerima pembelian gurita.
Kesimpulan akhir dari kegiatan tersebut para nelayan mengharapkan ada intervensi pemerintah baik kabupaten maupun Desa untuk menangani persoalan yang dihadapi para nelayan. Data telah menujukan ada potensi yang cukup tinggi dari komuditas gurita namun sampai saat ini belum ada keseriusan dari pemerintah daerah dalam menangani dan mengelola potensi itu.
Ende, Tananua Flores | Dalam rangka memperkuat program penghidupan berkelanjutan bersama Yayasan Tananua Flores di kabupaten Ende, MISEREOR salah satu Lembaga Katolik di Jerman kembali menyapa Yayasan Tananua Flores. Misereor menyapa Tananua Via Daring dengan Translator ibu Triarani S Utamy pada 6 Mei 2024.
Kegiatan diskusi Via daring itu dimulai pukul 14.00-15.30 wita dengan peserta yang hadir yakni mewakili Tim MISEREOR ibu Christine Kogel dan Ibu Pupu Purwaningsih, dari Yayasan Tananua Flores terdiri atas unsur Pengurus Hironimus Pala, Halimah Tus’adya, Elias Mbani dan Manajemen Bernadus Sambut, Heribertus Se, serta Ibu Emilia Kumanireng.
Perlu diketahui bahwa misi MISEREOR adalah membangun sumber daya manusia agar bisa mendapatkan keadilan dan kesetaraan. Hubungan kemitraan antara MISEREOR Jerman dan Yayasan Tananua Flores dimulai sejak tahun 1994 dengan program kesehatan (kurang lebih 20 tahun). Berbagai isu yang telah dikerjakan secara bersama terlebih Khususnya Isu Pangan, Lingkungan dan Kemiskinan Pedesaan daerah Hulu yang berlokasi di Kabupaten Ende.
Pertemuan Koordinasi dan konsolidasi Kemitraan ini diinisiasi oleh MISEREOR sejak tanggal 4 April 2024 pasca kegiatan Evaluasi Eksternal pada tanggal 7 -24 Januari 2024 dengan agenda Refleksi Hasil Evaluasi, Rekomendasi dan Perencanaan Prioritas-Prioritas yang harus dikerjakan pada sisa Program Livelihood 8 bulan dan Untuk dimasukan dalam rencana program baru kedepannya dengan durasi 2 tahun. Serta menjelang proyek yang sedang berlangsung akan berakhir tanggal 31 Oktober 2024.
Christine Kogel Project Dask Officer untuk Wilayah ASIA mengatakan hasil laporan dengan Kriteria OECD DAC dalam proses evaluasi yang digunakan dari Sisi relevansi isu-isu Lingkungan, Gender, social inclusion, dan perencanaan desa dan lain lain dalam program yang dikembangkan Tananua masih sangat relevan dan membutuhkan dukungan lebih lanjut.
Lanjut dia bahwa” hasil dan dampak kerja-kerja program yang dilakukan oleh Tananua sangat kelihatan pada Bidang Program Kesehatan primer dan pertanian berkelanjutan dan ini sangat baik.”katanya
Menurut Christine, Yayasan Tananua Flores sudah sangat serius dan sungguh -sungguh dalam menyelesaikan masalah dibidang kesehatan dan pertanian berkelanjutan bersama komunitas, sedangkan bidang organisasi petani dan Ekonomi hampir sama dengan program kerja sama sebelumnya dan situasinya sama dengan mitra MISEREOR lainnya.
Dia mengungkapkan dengan situasi sosial lalu kesibukan masyarakat yang belum tercapai maka masih banyak membutuhkan strategi-strategi secara berkelanjutan untuk menangani problem ini dan Tananua sudah kerja banyak membantu masyarakat.
“Kita perlu banyak strategi-strategi secara berkelanjutan untuk menangani problem yang dialami masyarakat dengan melihat situasi sosial dan kesibukan di tengah masyarakat desa” ungkapnya.
Sementara itu Hironimus Pala, Ketua dewan pengurus Yayasan Tananua Flores dalam kesempatan itu memberi Apresiasi kepada MISEREOR yang telah memberi 2 kali kesempatan Tananua Flores melakukan Evaluasi Eksternal pada tahun 2014 dan tahun 2024.
Hironimus mengungkapkan Proses evaluasi kali ini sangat partisipasi dan terbuka mulai dari persiapan yang sangat baik, pada pelaksanaan dan Yayasan Tananua Flores secara internal diberi kesempatan untuk melihat kemampuan dan kelemahan organisasi. Tim evaluator juga melakukan kunjungan dan wawancara dengan mitra kerja Tananua Flores di beberapa lembaga antara lain Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Ende, Camat dan kepala desa pada wilayah terpilih untuk evaluasi, Perguruan Tinggi, Lembaga Agama dan NGO lainnya, dan kunjungan lapangan untuk melihat langsung kerja lapangan di desa desa dampingan.
Ketua Badan Pengurus itu juga menuturkan dari hasil evaluasi diketahui “Yayasan Tananua Flores diakui kerja-kerja baik bersama masyarakat baik oleh pemerintah, lembaga Agama, Perguruan Tinggi maupun masyarakat desa dampingan sehingga ada desa yang menginginkan agar didampingi dalam waktu yang panjang.”tutur Hironimus sapaan akrab nya.
Hasil Evaluasi Kerja harus Lanjut
Dari hasil evaluasi yang dilakukan oleh misereor terhadap kerja program dampingan Yayasan Tananua flores di masyarakat menunjukan nilai positif. Hal ini dilihat dari beberapa pernyataan dari Tim Misereor bahwa kerja Tananua harus terus didukung.
Tananua Flores sendiri melihat bahwa dari proses Evaluasi yang sudah dilakukan dapat dilihat beberapa capain dan yang belum dicapai, hal ini perlu sebuah strategi kedepannya yang lebih baik dalam menjalankan program pendampingan kepada masyarakat.
“Hasil evaluasi kali ini sangat membantu Yayasan Tananua Flores untuk melihat apa yang sudah dicapai dan apa yang belum dicapai serta apa yang harus dilakukan selanjutnya”,Kata Bernardus Sambut direktur Tananua Flores.
Lanjut Bernadus ”Kedepannya banyak perbaikan yang harus kami kerjakan dalam sisa waktu program ini terutama pada tahapan-tahapan untuk memulai mendampingi sampai mengakhiri pendampingan, dan Sistem pemantauan, perencanaan, analisis dan pendokumentasian program yang dikerjakan akan dilakukan secara sistematis, untuk sekarang sedang kami diskusikan dan dikerjakan, tegasnya.
Selain itu, Pupu Purwaningsih konsultan MISEREOR untuk Indonesia mengatakan dalam persiapan rencana kerja baru Tananua Flores harus mengkolaborasikan data, hasil evaluasi dan pengalaman-pengalaman pembelajaran Jaringan seperti sharing Pembelajaran (IJL, Apex dan lainnya) dalam rencana 6 bulan sisa program dan program baru.
Ada beberapa pertanyaan dan rekomendasi yang harus diselaraskan dan dikonsolidasikan lagi untuk program yang akan datang dan masa konsolidasi program, sembari memberi kepastian waktu untuk bertemu di Ende bersama Tananua Flores pada Bulan Mei 2024. Tandasnya.
Sambung ibu Christine, apa yang mau Tananua Flores buat ke depan supaya kerja-kerja yang sudah dilakukan lebih baik lagi? Satu hal penting yang perlu dilakukan oleh Yayasan Tananua Flores adalah peningkatan “Perencanaan, monitoring dan evaluasi serta dokumentasi yang lebih baik”.
Diakhir pertemuan Daring Tim MISEREOR memberikan ekspektasi dengan mengatakan kerja sama antara Yayasan Tananua dan MISEREOR bisa berlanjut dengan selalu berkomunikasi dan koordinasi yang tidak putus untuk berjuang dan bekerja dalam membantu masyarakat yang membutuhkan. Terima kasih salam untuk semua Tim Tananua Flores dari kami MISEREOR. Dan sebaliknya Tim Tananua Flores juga menyampaikan terimakasih dan salam dari Tananua Flores untuk semua crew Misereor.