Tananua Flores Gelar Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal untuk Perkuat Kapasitas Pendamping Lapangan

Shere Sekarang
Dok.YTNf – Pelatihan pengolahan pangan lokal

Ende, Tananua Flores – Dalam upaya mempertahankan identitas petani sekaligus mendukung ketahanan pangan lokal, Yayasan Tananua Flores menggelar pelatihan pengolahan pangan lokal untuk memperkuat kapasitas staf pendamping lapangan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 21 November 2024.

Koordinator Program CRITICAL, Arnoldus R. Mage, menjelaskan bahwa pangan lokal memiliki nilai strategis bagi keberlanjutan pertanian dan kesehatan masyarakat. “Pangan lokal adalah pangan yang dapat diambil langsung dari kebun sesuai kebutuhan. Selain lebih aman karena tidak mengandung bahan kimia atau pengawet, pangan ini juga kaya gizi dan bermanfaat untuk kesehatan tubuh,” jelasnya.

Arnoldus menambahkan bahwa konsumsi beragam jenis pangan lokal mendukung kesehatan tubuh secara lebih baik. “Setiap jenis pangan mengandung kandungan gizi yang berbeda, dan dengan mengonsumsi variasi pangan, kita bisa memenuhi kebutuhan nutrisi yang lebih lengkap,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengembangan pangan lokal dapat mengurangi ketergantungan pada satu jenis makanan pokok seperti beras, sekaligus membantu melestarikan budaya, lingkungan, dan keanekaragaman hayati. Selain itu, hal ini juga berkontribusi pada pengurangan jejak karbon.

Pelatihan ini berfokus pada staf pendamping lapangan Tananua Flores yang terlibat dalam Program CRITICAL. Para pendamping akan mendampingi petani di desa-desa binaan untuk memaksimalkan potensi pangan lokal yang melimpah, seperti umbi-umbian, pisang, kacang-kacangan, dan labu kuning. Dengan pelatihan ini, diharapkan para pendamping dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada petani dalam mengolah hasil panen menjadi produk yang bernilai lebih tinggi, baik untuk konsumsi keluarga maupun sebagai sumber gizi.

Salah satu fasilitator, Emilia Kumanireng, menegaskan bahwa pangan lokal adalah bagian dari kehidupan dan identitas masyarakat Lio Ende. “Pangan bagi masyarakat Lio bukan sekadar kebutuhan, tetapi juga jati diri. Potensi pangan lokal di desa-desa binaan sangat besar, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Banyak hasil pertanian lokal yang hanya direbus, dibakar, atau digoreng, dan sebagian besar malah dijadikan pakan ternak,” ujarnya.

Menurut Emilia, tantangan utama yang dihadapi petani adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan pangan yang sehat. Ia berharap pelatihan ini mampu meningkatkan kapasitas staf pendamping sehingga mereka dapat memberikan dampak langsung di lapangan.

“Harapan kami, anak-anak mulai mencintai dan mengonsumsi pangan lokal, mengurangi ketergantungan pada makanan olahan pabrik yang dapat merusak kesehatan. Petani juga diharapkan terus menanam dan mengolah pangan lokal, tidak hanya untuk pasar tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga,” imbuhnya.

Yayasan Tananua Flores berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan pangan lokal sebagai solusi untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan mewujudkan pola konsumsi yang sehat dan berkelanjutan

Ditulis ; Tim Ytnf

Editor : Jhuan Mari

Tananua Flores Gelar Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal untuk Perkuat Kapasitas Pendamping Lapangan Read More »

Yayasan Tananua Flores Perkuat Kemitraan Melalui Aliansi Bumi Kita

Shere Sekarang

 

Lombok, 1 November 2024 – Yayasan Tananua Flores terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan dengan bergabung dalam Aliansi Bumi Kita (ALIBI). Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat jaringan kerja sama lintas mitra di Indonesia, khususnya dalam bidang konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Konsolidasi Mitra di Lombok

Pertemuan ALIBI yang berlangsung di Lombok, Mataram, menghadirkan tujuh organisasi masyarakat sipil (CSO) dari berbagai wilayah di Indonesia, antara lain Yayasan Planet Indonesia, Japesda-Gorontalo, KKI, AKAR, Yayasan Tananua Flores, Tolitoli Labengki Giant Clam Conservation (TLGC), dan JARI.

Agenda utama pertemuan ini adalah pembentukan struktur organisasi Aliansi Bumi Kita, termasuk Badan Pengawas dan Badan Pengurus untuk periode 2025-2029. Selain itu, anggota ALIBI menunjuk tiga Koordinator Bidang untuk mendukung implementasi program, menetapkan goal dan kerangka logis (logframe) program untuk periode 2025-2026, serta menyusun langkah konkret menuju Deklarasi Aliansi Bumi Kita.

Visi Bersama untuk Kelestarian Lingkungan

Aliansi Bumi Kita bertujuan membangun sinergi antarorganisasi untuk menjawab tantangan lingkungan yang kian mendesak. Kolaborasi ini menitikberatkan pada konservasi alam, pemberdayaan masyarakat, dan pemanfaatan sumber daya secara bijak, terutama di wilayah terdampak seperti Nusa Tenggara Timur.

Kerja sama ini juga menjadi upaya kolektif untuk mempercepat implementasi program pelestarian lingkungan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Dengan jaringan yang lebih solid, Aliansi Bumi Kita berharap dapat menciptakan dampak nyata yang selaras dengan kebutuhan lingkungan dan sosial-ekonomi.

Harapan ke Depan

Melalui jaringan Aliansi Bumi Kita, Yayasan Tananua Flores dan mitra lainnya diharapkan dapat mendorong pembentukan komunitas yang lebih sadar lingkungan. Selain itu, aliansi ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan serta menjaga ekosistem pendukung kehidupan.

Konsolidasi lintas organisasi ini menjadi langkah penting dalam memperkuat kerja sama demi mewujudkan keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan visi menjaga bumi Indonesia agar tetap lestari, Aliansi Bumi Kita optimis dapat menciptakan perubahan nyata untuk generasi mendatang.

Oleh : Heri Se

 

 

Yayasan Tananua Flores Perkuat Kemitraan Melalui Aliansi Bumi Kita Read More »

Refleksi Spiritualitas dan Sosialisasi Deteksi Dini Penyakit Rakyat untuk Kader Kesehatan

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores –| Yayasan Tananua Flores mengadakan kegiatan Refleksi Spiritualitas Kader Kesehatan dan Sosialisasi Deteksi Dini Penyakit yang diikuti oleh 50 kader Posyandu dari 10 desa dampingan di Kabupaten Ende. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, mulai Jumat hingga Sabtu, 25-26 Oktober 2024, di Aula Bina Ola Nggari, Jalan Melati, Ende.

Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Desa Tou Barat dan Pastor Rekan Paroki Roh Kudus Detukeli, Pater Chello Lamatapo, SVD. Dalam sambutannya, Direktur Yayasan Tananua Flores menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader kesehatan untuk mendeteksi dini penyakit umum yang sering terjadi di masyarakat. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi di antara para kader agar dapat saling mendukung dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal.

Refleksi Spiritualitas Kader Kesehatan

Bagian utama kegiatan ini adalah Refleksi Spiritualitas Kader Kesehatan, yang bertujuan memperkuat nilai-nilai spiritual para kader dalam menjalankan tugas. Kegiatan ini membahas berbagai aspek penting, seperti:

  1. Makna Pelayanan: Menggali motivasi di balik pilihan menjadi kader kesehatan.

  2. Nilai-nilai Spiritual: Mengintegrasikan nilai empati, kasih sayang, dan pengabdian dalam praktik sehari-hari.

  3. Kesehatan Holistik: Menekankan pentingnya keseimbangan fisik, mental, dan spiritual dalam pelayanan kesehatan.

  4. Peran dalam Masyarakat: Menyadari dampak yang ditimbulkan oleh kader terhadap komunitas.

  5. Penguatan Komunitas: Mendorong kerjasama antara kader dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencapai tujuan kesehatan bersama.

Dalam refleksi tersebut, Pater Chello mengingatkan bahwa kader kesehatan perlu memiliki pikiran dan hati yang sehat agar dapat melayani masyarakat dengan penuh kasih dan pengabdian. “Pelayanan yang efektif dan tulus merupakan bagian dari mewartakan kebaikan serta kerajaan Allah kepada sesama,” ujarnya.

Peningkatan Kapasitas Kader Kesehatan

Kegiatan ini juga memberikan ruang bagi para kader untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, kerja sama, dan deteksi dini penyakit. Salah satu peserta, Mery dari Desa Mautenda Barat, mengungkapkan bahwa pelatihan ini membantu mereka lebih percaya diri dalam berbicara dan bekerja sama dengan berbagai pihak di bidang kesehatan.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami, terutama dalam meningkatkan keterampilan berbicara dan kepercayaan diri. Kami berharap Yayasan Tananua dapat terus menyelenggarakan pelatihan serupa di masa mendatang,” ujar Mery.

Yayasan Tananua Flores berharap, melalui kegiatan ini, para kader kesehatan dapat kembali ke komunitas masing-masing dengan semangat baru, wawasan yang lebih mendalam, dan keterampilan yang lebih baik untuk melayani masyarakat.

Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya Yayasan Tananua Flores dalam membangun kapasitas kader kesehatan desa untuk mendukung kesehatan masyarakat secara holistik. Dengan adanya kolaborasi antara kader, pemerintah desa, dan lembaga keagamaan, diharapkan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik dan bermakna.

 

Refleksi Spiritualitas dan Sosialisasi Deteksi Dini Penyakit Rakyat untuk Kader Kesehatan Read More »

Pertajam Pengelolaan Program Layanan Alam, Tananua & YPI Gelar Pembelajaran Bersama

Shere Sekarang

Pontianak, Tananua Flores | Yayasan Tananua Flores (YTNF) belajar bersama Yayasan Planet Indonesia (YPI) tentang tata kelola program yang efektif dan efisien. Merujuk pada Kerangka Acuan Kegiatan (KAK), kegiatan ini dirancang untuk mendukung YPI dan YTNF dalam mengembangkan kapasitas pelaporan, pelacakan, dan implementasi program yang sejalan dengan target logframe yang telah disepakati.

Peningkatan kapasitas ini akan membantu kedua lembaga dalam mencapai tujuan program secara efisien dan efektif, serta memastikan bahwa anggaran yang digunakan dalam program dapat dikelola dengan transparan dan akuntabel. YPI dan YTNF juga akan berbagi pengetahuan dan praktik terbaik dalam manajemen organisasi, termasuk penguatan dalam bidang Monitoring, Evaluasi, dan Pembelajaran (MEL), pengelolaan keuangan, serta pengenalan terhadap konsep-konsep baru seperti Perhutanan Sosial dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Adaptif (PSDAA).

Bernadus Sambut, Direktur Yayasan Tananua Flores, pada kick off hari pertama (1/10) di Hall Neo Hotel, mengatakan, “Kemitraan ini dibangun atas dasar kesetaraan, di mana kedua lembaga saling mendukung dan belajar satu sama lain untuk mencapai hasil yang lebih baik dan berkelanjutan. Dengan adanya kegiatan ini, YPI dan YTNF berharap dapat memperkuat kerja sama dan memastikan bahwa program yang dijalankan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat dan lingkungan,” Ungkapnya dalam sapaan pembukaan yang mewakili rombongan.

Dok YTNF bersama YPI
Dok YTNF bersama YPI

Sementara itu  Rusli, Dewan Pengurus YPI menambahkan, “Kegiatan ini penting untuk berbagi melalui Model Transfer Exchange, sebuah pendekatan di mana peserta mengunjungi kelompok model untuk mempelajari metode dan manajemen yang telah terbukti efektif. Metode ini memungkinkan peserta melihat langsung implementasi dari praktik terbaik dan mendapatkan wawasan yang dapat diterapkan dalam konteks mereka sendiri. Pendampingan teknis langsung melalui bimbingan teknis juga diberikan kepada peserta dalam pelaporan, pengelolaan anggaran, dan implementasi konsep baru. Pendampingan ini membantu dalam penyusunan laporan yang akuntabel dan strategi implementasi yang efektif.”ujar Rusli.

Selain itu Hironimus Pala, Ketua Dewan Pengurus YTNF, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk:

Pertama, Menyusun kesepahaman dan kesepakatan bersama dalam Monitoring, Evaluasi, dan Pembelajaran (MEL) untuk logframe proyek bersama di bawah pendanaan Trafigura Foundation;

Kedua, Memastikan manajemen pelaporan dan pengelolaan anggaran yang akuntabel di YTNF, sesuai dengan persyaratan proyek dari Trafigura Foundation;

Ketiga, Membagikan pengalaman dalam manajemen organisasi yang efektif di YTNF, berdasarkan praktik terbaik yang diterapkan oleh YPI;

Ke empat, Memperkenalkan dan mendukung implementasi konsep-konsep baru dalam bidang kesehatan, literasi, dan perhutanan sosial di YTNF.

Halima Thus’Adya menambahkan bahwa kegiatan ini juga diharapkan dapat mewujudkan kesepahaman dan kesepakatan bersama dalam MEL yang diterapkan pada logframe proyek, sehingga memastikan keterpaduan dan kejelasan dalam pelaksanaan proyek.

Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mencapai kesepakatan manajemen pelaporan dan pengelolaan anggaran yang akuntabel di YTNF, dengan penerapan sistem pelaporan yang transparan dan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Trafigura Foundation.

Implementasi praktik manajemen organisasi yang lebih efektif di YTNF juga menjadi salah satu hasil yang diharapkan, hasil dari berbagi pengalaman dan praktik terbaik dari YPI. Kegiatan ini juga mendukung peningkatan kapasitas organisasi dalam mengelola program secara efisien dan produktif.

Selama lima hari di Pontianak, peserta dari Yayasan Tananua Flores dan YPI berbagi pengalaman dalam mendesain program serta melakukan tata kelola program yang efektif, dengan memaksimalkan sumber daya yang dimiliki lembaga untuk mengembangkan kerja sama dengan donor yang memiliki tujuan yang harus dicapai.

Hari pertama, dilakukan penyelarasan dan pendalaman logframe program antara Tananua Flores dan Planet Indonesia dengan rujukan logframe Trafigura Foundation, untuk menyamakan pemahaman dan cara kerja sesuai nilai-nilai inti organisasi masing-masing.

Adam, yang mewakili Planet Indonesia, menyatakan, “Kita tidak akan memaksakan mitra kita dalam bekerja dengan program ini, namun kita harus saling percaya. Dengan kesetaraan yang dibangun, mitra kita dapat bekerja sesuai kemampuan dan kapasitas yang dimiliki. Saat ini yang harus kita pastikan adalah outcome, data, serta dokumen yang valid, akuntabel, dan transparan.”

Pada hari kedua, ketiga, dan keempat, peserta mendapat sharing pembelajaran tentang Perhutanan Sosial (PS), konsep dan pengalaman praksis, pengelolaan keuangan, narasi program, pengetahuan praksis literasi, pengembangan program kesehatan, serta evaluasi dan rencana tindak lanjut (RTL) kerja sama yang akan datang.

Kegiatan yang dihadiri oleh pengurus yayasan dan staf manajemen program ini penting untuk meningkatkan kapasitas serta semangat baru dalam mengatur dan mengembangkan program yang kolaboratif dengan koordinasi, komunikasi, akuntabilitas, dan transparansi. Herman Nebon Lion, salah satu peserta, mengatakan, “Saya sangat senang dengan kegiatan ini karena sebagai MEAL saya belajar langsung dari program MEAL di YPI yang telah mengembangkan sistem pendokumentasian yang mudah diakses.”tutup Herman

Kontributor :Hery Se

Pertajam Pengelolaan Program Layanan Alam, Tananua & YPI Gelar Pembelajaran Bersama Read More »

Pengelaman Belajar dari Pontianak dalam Mendorong Program Hak Alam dan Hak Masyarakat

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores | Dari desa Pemo Kecamatan Kelimutu kabupaten Ende saya Paskalis Ray dipercayakan oleh Yayasan Tananua Flores untuk pertukaran berlajar bersama ke Pontianak dalam pengelolaan Program Hak alam dan Hak Masyarakat. Saya sendiri keseharian tinggal di desa Pemo dengan posisi yang di percayakan oleh Yayasan Tananua sebagai penghubung antara Lembaga Tananua dan Masyarakat di desa.

Tananua mengutus saya dengan beberapa teman di wilayah desa lain yaitu mempunyai tujuan yang sama. Desa kami saat ini didampingi oleh Yayasan Tananua dengan berbagai kegiatan dalam mewujudkan kelestarian lingkungan, keberlanjutan dan akses hak masyarakat bisa terpenuhi.

Saya secara Pribadi memberikan apresiasi kepada Yayasan Tananua dan Yayasan Planet Indonesia karena sudah memberikan kesempatan kepada kami masyarakat dari desa belajar bersama dengan masyarakat di pulau lain.

Pengalaman pertukaran belajar dari Kabupaten Ende ke Pontianak yang berlangsung dari 17 hingga 22 Juli 2024 merupakan langkah penting dalam upaya mendorong program hak alam dan hak masyarakat. Pertukaran ini bertujuan untuk belajar dari praktik-praktik terbaik di Pontianak, terutama dalam hal pengelolaan sumber daya alam, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat lokal yang berkaitan dengan hak-hak mereka atas tanah, air, dan hutan.

Pertukaran Pembelajaran ini saya mendapatkan wawasan baru tentang cara-cara yang efektif dalam menyeimbangkan kebutuhan pembangunan dengan pelestarian lingkungan. Kami  juga mempelajari kebijakan-kebijakan lokal di Pontianak yang telah berhasil melindungi hak-hak alam dan masyarakat, termasuk perlindungan terhadap hutan adat dan pengakuan terhadap hak tanah masyarakat setempat. Alangkah baiknya ketika kita mau membuka diri untuk melihat dari jauh melihat perlindungan alam didaerah kita.

Masyarakat di pontianak khususnya desa yang telah kami kunjungi merasakan keseimbangan hidup antara alam dan masyarakat mempunyai hak yang sama dalam hidup, artinya masyarakat menyadari betapa pentingnya ketergantungan masyarakat terhadap Alam, hutan dan juga ekosistem lain yang saling berhubungan.

Kami berdiskusi dan saling bertukar pengetahuan, pengalaman, dan pendapat mengenai Profil Singkat PUMK Mentrap Pugan,Penerapan Dana Ketahanan,Dampak pendekatan PUMK pada sektor sosial, ekonomi,dan ekologi;

Kami juga mendapatkan pemahaman tentang  Pokja, cara kerja pokja yang diberikan oleh narasumber yang berpengelaman antara lain Ikwanto, Agustinus, Edi Chandra, Plasidus Sagiman.

Pada hari berikutnya kami belajar lapangan untuk melakukan observasi/pengamatan dan diskusi lapangan dengan fasilitator Ikwanto, Agustinus, Edi Chandra, Plasidus Sagiman.

Disini kami peserta melakukan Observasi Sekitar Dusun untuk pengamatan dan belajar, seperti Pertanian Lebah Kelulut, Kondisi pertanian Agroforestri. Kami juga diajarkan  Mini Coaching kepada Petani di Dusun Ladak  dan sebagai pemantik diskusi yakni dari  Yayasan Tananua Flores difasilitasi oleh Ikwanto dan Deki

Pada Sesi Mini Coaching yang dapat menjadi sebuah pembelajaran adalah Praktik Administrasi dan Pembukuan Kelompok, Pengorganisasian kelompok PUMK, Penyegaran Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga, Dana ketahanan untuk kelompok.

Hasil dari pertukaran ini diharapkan dapat menginspirasi LPHAM Kabupaten Ende dalam menerapkan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, serta mendorong program-program yang mendukung hak-hak masyarakat adat dan pelestarian lingkungan di wilayahnya sendiri. Pertukaran seperti ini juga membuka peluang bagi kerja sama yang lebih erat antara daerah-daerah dalam hal perlindungan hak alam dan masyarakat, serta pengembangan kebijakan berbasis kearifan lokal.

Ditulis oleh : Paskalis Rai dari Desa Pemo

Pengelaman Belajar dari Pontianak dalam Mendorong Program Hak Alam dan Hak Masyarakat Read More »