Tananua Flores Sosialisasikan Program Ketahanan Iklim di Desa Aemuri dan Waka

EndeTananua Flores | Yayasan Tananua Flores melaksanakan sosialisasi Program Peningkatan Ketahanan Warga terhadap Risiko Iklim di Kabupaten Ende, yang dipusatkan di Desa Aemuri dan Desa Waka, pada Selasa, 28 Januari 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat desa dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan, terutama pada sektor lingkungan, pertanian,Kelautan dan ekonomi.

Sosialisasi di Desa Aemuri berlangsung pukul 09.00–12.00 WITA dan bertempat di Kantor Desa Aemuri, sementara kegiatan di Desa Waka dilaksanakan pukul 16.00–18.00 WITA di Kantor Desa Waka. Peserta yang terlibat terdiri dari anggota kelompok masyarakat, pemerintah desa, tokoh perempuan, serta tokoh masyarakat Desa Aemuri.

Ketua Pengurus Tananua Flores, Hironimus Pala, dalam pemaparannya menekankan bahwa persoalan lingkungan, pertanian, dan ekonomi masyarakat desa saling berkaitan dan semakin rentan akibat perubahan iklim. Menurutnya, ketahanan masyarakat hanya dapat dibangun jika warga dilibatkan secara aktif yang berangkat dari kekuatan lokal.

“Tananua mendorong masyarakat untuk memahami bahwa krisis iklim berdampak langsung pada ekonomi keluarga dan pertanian. Karena itu, pendekatan pemberdayaan berbasis masyarakat menjadi kunci,” ujar Hironimus.

Dalam sosialisasi tersebut, Hironimus menjelaskan empat pilar utama program Tananua, yakni:

  1. Pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam berbasis masyarakat,
  2. Pengorganisasian kelompok dan peningkatan kapasitas masyarakat,
  3. Literasi keuangan keluarga, dan
  4. Kesadaran dini masyarakat terhadap pola hidup sehat.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mulai dari langkah sederhana, salah satunya dengan menghargai dan mengonsumsi pangan lokal sebagai bagian dari kedaulatan pangan dan ketahanan keluarga.

Salah satu peserta, Longginus, petani dari Kelompok Sa Are Desa Aemuri, mengaku tertarik dengan program yang dipaparkan Tananua. Ia menyampaikan bahwa meskipun usianya sudah lanjut, banyak praktik yang selama ini telah ia lakukan sejalan dengan prinsip-prinsip yang disampaikan dalam program tersebut.

“Banyak hal yang disampaikan sebenarnya sudah kami praktekkan, hanya perlu diperkuat dan dikembangkan bersama,” katanya.

Sementara itu, dalam pertemuan di Desa Waka, Kepala Desa Waka, Karolus Arianto, menyatakan dukungan penuh terhadap program Tananua dan menyambut baik rencana kerja sama ke depan. Ia berharap kolaborasi tersebut dapat membawa dampak positif bagi pembangunan desa dan kesejahteraan masyarakat.

Desa Waka sendiri memiliki karakteristik unik dengan dua musim kehidupan, yakni laut dan darat. Potensi desa meliputi sektor perikanan, ekosistem mangrove, dan padang lamun, yang dinilai sangat besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

“Potensi laut dan darat di Desa Waka sangat luar biasa, termasuk potensi ikan yang melimpah. Kami siap bekerja sama dengan Tananua demi kebaikan masyarakat,” ujar Karolus.

Melalui kegiatan ini, Tananua Flores menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi desa dan masyarakat dalam membangun ketahanan iklim berbasis potensi lokal, dengan harapan terciptanya masyarakat yang lebih mandiri, tangguh, dan berkelanjutan di Kabupaten Ende.


Ditulis oleh : Jhuan Mari

Tananua Flores Sosialisasikan Program Ketahanan Iklim di Desa Aemuri dan Waka Read More »

Dari Desa untuk Bumi: Gerakan Konservasi Berbasis Komunitas di kabupaten Ende

Ende, Tananua Flores | Krisis ekologis bukan lagi ancaman yang jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Flores. Kerusakan mata air, berkurangnya tutupan hutan, dan melemahnya daya dukung lingkungan telah menjadi kenyataan yang langsung dirasakan, terutama oleh masyarakat desa. Dalam konteks inilah, inisiatif Yayasan Tananua Flores bersama masyarakat desa dampingan melalui Gerakan Serentak Konservasi Kolaboratif patut dibaca bukan sekadar sebagai kegiatan lingkungan, melainkan sebagai pernyataan sikap moral dan spiritual terhadap masa depan Bumi.

Gerakan yang dilaksanakan sepanjang bulan ini di berbagai wilayah Kabupaten Ende tersebut mencerminkan pendekatan konservasi yang berpijak pada spiritualitas ekologis—sebuah cara pandang yang menempatkan Bumi sebagai Ibu sekaligus Rumah Bersama. Pandangan ini menolak relasi eksploitatif manusia terhadap alam dan menggantikannya dengan relasi saling merawat dan bertanggung jawab.

Pelaksanaan gerakan ini menjangkau sejumlah desa di berbagai kecamatan, mulai dari Wewaria, Detukeli, Wolojita, Kelimutu, Ende, Lepembusu Kelisoke, Detusoko, hingga Kota Baru. Luasnya sebaran wilayah menunjukkan bahwa konservasi tidak lagi dipahami sebagai isu sektoral, tetapi sebagai agenda bersama lintas komunitas dan lintas wilayah.

Lebih penting lagi, pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif dan kolaboratif. LPHAM, Penghubung Desa, Tim Patroli/Pengawas Kawasan, serta masyarakat desa terlibat langsung dalam aksi penanaman pohon di sekitar mata air, kebun rakyat, dan lahan kritis. Di sinilah letak kekuatan utama gerakan ini: konservasi tidak dipaksakan dari luar, melainkan tumbuh dari kesadaran dan keterlibatan masyarakat sendiri.

Namun, gerakan ini melampaui aspek teknis penanaman pohon. Ia dimaknai sebagai tindakan iman dan harapan—sebuah pernyataan bahwa menanam hari ini berarti menjaga kehidupan esok hari. Penanaman pohon menjadi simbol pertobatan ekologis, terlebih dimaknai dalam semangat Tahun Yubileum, sebagai momentum refleksi dan pembaruan relasi manusia dengan alam.

Nama gerakan, “Gerakan Konservasi Menanam Harapan untuk Ibu Bumi”, menegaskan pesan tersebut: alam yang terluka hanya dapat dipulihkan melalui komitmen kolektif dan kesetiaan jangka panjang, bukan melalui aksi seremonial semata.

Gerakan di Desa Tiwusora

Gambaran konkret dari semangat ini terlihat jelas dalam kegiatan konservasi mata air Kela Lo’o di Desa Tiwusora, Kecamatan Lepembusu Kelisoke, yang dilaksanakan pada Minggu, 14 Desember 2025. Sekitar 40 orang—terdiri dari LPHAM, Penghubung Desa, Tim Patroli Kawasan, dan Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Deturia—bersatu dalam kerja bersama merawat sumber air sebagai denyut kehidupan desa.

Penanaman berbagai jenis tanaman konservasi seperti munti, murbau, sengon, dan stek waru dilakukan dengan pertimbangan ekologis yang matang: menjaga struktur tanah, memperkuat resapan air, dan melindungi mata air dari degradasi. Pilihan jenis tanaman ini menunjukkan bahwa konservasi dijalankan dengan pengetahuan lokal dan kesadaran lingkungan yang terus berkembang.

Keterlibatan Orang Muda Katolik menjadi catatan penting. Bagi mereka, kegiatan ini dimaknai sebagai “bank air”—sebuah tabungan kehidupan bagi generasi mendatang. Pemaknaan ini menunjukkan bahwa kesadaran ekologis mulai berakar kuat di kalangan generasi muda, yang selama ini kerap dianggap jauh dari isu-isu lingkungan.

Rekomendasi tindak lanjut berupa pembuatan pagar pelindung sumber air serta rencana penanaman lanjutan menandakan bahwa gerakan ini tidak berhenti pada satu momentum. Pernyataan Penghubung Desa Tiwusora dan Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores memperkuat pesan bahwa konservasi hanya akan berhasil jika dijalankan secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh unsur masyarakat, termasuk pemerintah desa dan pemangku adat.

Pada akhirnya, gerakan ini menyampaikan satu pesan editorial yang tegas: menjaga Bumi berarti menjaga kehidupan manusia itu sendiri. Konservasi bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendasar. Menanam hari ini bukan sekadar menanam pohon,tetapi menanam harapan agar air tetap mengalir,alam tetap hidup,dan masa depan tetap memiliki pijakan.

Ditulis Oleh : Heri Se

Dari Desa untuk Bumi: Gerakan Konservasi Berbasis Komunitas di kabupaten Ende Read More »

Ketika Adat dan Alam Mengetuk Pintu Desa

Ende, Tananua Flores| Di tengah laju perubahan zaman dan tekanan terhadap alam yang kian terasa, sebuah pertemuan empat hari di Ende pada 02-05 Desember 2025 lalu telah memberikan harapan baru. Bertempat di Bina Olangari Ende para mosalaki, pemerintah desa, perempuan, pemuda, dan para pegiat adat berkumpul mengikuti Workshop Penyusunan Peraturan Desa. Mereka datang membawa sebuah persoalan yang sama yakni bagaimana memastikan adat istiadat  tetap hidup dan Alam terjaga dengan baik di tengah gempuran modernitas.

Yayasan Tananua Flores (YTNF) mungkin hanya menyebutnya sebagai pelatihan teknis. Namun bagi para peserta, inilah ruang penyadaran kolektif—ruang yang mengembalikan ingatan tentang siapa mereka dan apa yang harus mereka jaga.

Pada hari pertama, para mosalaki membuka ruang dengan cerita-cerita yang mengandung pesan mendalam. Ritual adat yang kian jarang, generasi muda yang makin jauh dari akar budaya, hutan dan mata air yang perlahan hilang dari kehidupan desa.

Salah satu mosalaki berkata pelan namun tegas:

“Kami menjaga tanah ini bukan untuk kami sendiri, tetapi untuk mereka yang belum lahir.”

Kalimat itu menjadi pengingat keras bahwa desa bukan hanya ruang geografis—ia adalah warisan moral.

Kolaborasi yang Nyaris Hilang, Kini Menemukan Bentuknya

Ketika pemerintah desa dan BPD ikut bergabung pada hari kedua, suhu diskusi berubah. Bukan lagi sekadar laporan kekeringan atau hama, tetapi kesadaran bahwa persoalan desa tidak bisa diselesaikan sendirian.

Ada desa yang menawarkan benih lokal untuk desa lain. Ada pemuda yang ingin mempelajari kembali adat. BPD menyatakan dukungan untuk Perdes berbasis kearifan lokal.

Kolaborasi yang dulu terasa sebagai wacana kosong, kini mulai menunjukkan wujudnya.

Materi teknis pada hari ketiga justru menjadi titik balik. Peserta disadarkan bahwa aturan desa bukan soal pasal, ayat, atau sanksi semata. Aturan adalah bentuk cinta dan tanggung jawab terhadap desa.

Tanpa Perdes yang kuat, mata air dapat hilang dalam satu keputusan sepihak, hutan dapat rusak dalam satu musim. Desa membutuhkan pagar yang disepakati bersama.

Menulis Perdes, Menulis Masa Depan

Hari keempat memperlihatkan bahwa peserta bukan hanya mampu memahami, tetapi juga dapat merumuskan aturan mereka sendiri. Pasal demi pasal lahir dari diskusi panjang, tawa, perdebatan kecil, dan semangat yang tak bisa dipalsukan.

Mereka menulis Perdes, tetapi sebenarnya mereka sedang menulis ulang masa depan desa.

Dalam sesi penutupan, seorang perwakilan perempuan berkata lirih namun mantap:

“Kami ingin anak-anak kami tumbuh dengan adat yang kuat dan alam yang sehat.”

Pernyataan ini bukan sekadar harapan, melainkan tekad kolektif bahwa desa harus kembali menjadi ruang hidup yang melindungi warganya—bukan sekadar wilayah administratif.

YTNF menutup kegiatan dengan komitmen untuk mendampingi desa hingga Perdes benar-benar lahir dan diterapkan.

Empat hari pelatihan memang singkat, tetapi jejaknya panjang. Peserta pulang membawa bukan hanya rancangan Perdes, tetapi kesadaran baru bahwa adat dan alam bukan beban masa lalu, melainkan cahaya yang menuntun masa depan.

Jika desa-desa di Ende mampu merawat kerja bersama ini, maka hutan, mata air, dan pangan lokal bukan hanya cerita nostalgia—mereka akan tetap hidup sebagai sumber kehidupan generasi mendatang.***

Kontributor: Herman N Lion

 

Ketika Adat dan Alam Mengetuk Pintu Desa Read More »

Gerakan Hijau dari Malawaru: Anak SDI Tanam Pohon untuk Selamatkan Lingkungan

Ende, Malawaru – Tananua Flores | Di tengah meningkatnya kerusakan hutan serta eksploitasi alam yang terus terjadi akibat tuntutan ekonomi, sebuah inisiatif kecil namun penuh harapan muncul dari lingkungan SDI Malawaru. Pada Kamis, 11 Desember 2025, Yayasan Tananua Flores bersama para siswa SDI Malawaru melaksanakan kegiatan penanaman anakan kayu marabau sebagai wujud nyata gerakan konservasi lingkungan sejak usia dini. Program ini bertujuan menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap alam sekaligus memperkenalkan pentingnya menanam pohon bagi keberlanjutan hidup.

Kegiatan penanaman pohon ini menyampaikan pesan besar bahwa kesadaran lingkungan perlu ditanam sebelum alam kehilangan suaranya.

Kepala SDI Malawaru, Yulius Kaju, S.Pd, menyatakan bahwa pendidikan lingkungan tidak boleh berhenti pada teori di kelas.

“Anak-anak harus tumbuh dengan kesadaran peduli lingkungan dan kecintaan terhadap alam sekitarnya. Penanaman pohon ini bukan hanya soal menambah tutupan hijau, tetapi juga menumbuhkan mental investasi ekonomi masa depan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa potensi alam bukan sekadar komoditas, melainkan titipan yang harus dikelola secara bijaksana. Dalam perkembangan zaman yang cepat, peserta didik perlu memahami bahwa aspek ekonomi dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan seiring.

“Dalam dunia pendidikan saat ini, praktik langsung di lapangan sangat penting agar anak-anak memahami pengetahuan alam secara nyata,” jelas Yulius.

Sementara itu, Anselmus Kaki Reku, staf Yayasan Tananua Flores, menilai kegiatan ini sebagai langkah strategis meningkatkan kembali kesadaran ekologis masyarakat.
“Banyak kerusakan hutan hari ini terjadi karena tuntutan ekonomi tanpa mempertimbangkan keberlanjutan. Evaluasi kami menunjukkan bahwa akar persoalan ini muncul karena nilai cinta alam tidak ditanam sejak usia dini,” ungkapnya.

Anselmus menambahkan, mendorong anak menanam pohon sejak kecil akan membentuk kedekatan mereka dengan alam. “Dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, generasi sekarang sangat mudah jauh dari alam. Karena itu, gerakan seperti ini penting untuk mengembalikan kesadaran ekologis mereka,” jelasnya.

Gerakan menanam pohon di SDI Malawaru menjadi pengingat bahwa memperbaiki hubungan manusia dengan alam harus dimulai dari generasi paling muda. Anak-anak yang menanam pohon hari ini adalah penjaga hutan di masa depan. Mereka tidak hanya menanam bibit marabau, tetapi juga menanam harapan akan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Dengan langkah kecil namun penuh makna ini, SDI Malawaru dan Yayasan Tananua Flores menunjukkan bahwa perubahan besar dapat bertumbuh dari benih yang ditanam dengan cinta dan pengharapan.***

Kontributor : A.Reku

Gerakan Hijau dari Malawaru: Anak SDI Tanam Pohon untuk Selamatkan Lingkungan Read More »

Tiga Hari yang Menginspirasi di Wologai Dua: Menemukan Arti Pendampingan

Penulis : Maria Sisilia Virginia Wawo/ Staf YTNF

Ende Wologai Dua, —Tananua Flores | Tiga hari di Desa Wologai Dua menjadi perjalanan yang tak hanya mengubah cara pandang saya tentang pendampingan, tetapi juga menyalakan kembali semangat untuk bekerja dengan hati. Yayasan Tananua Flores (YTNF) menggelar Pertemuan Semesteral Petani pada tanggal 2–4 Oktober 2025, mempertemukan masyarakat tani dari 14 desa dampingan Program Peningkatan Hak Alam dan Hak Masyarakat (PHAM).

Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama mengikuti kegiatan lapangan seperti ini. Sebelumnya, saya lebih akrab dengan data dan laporan di balik meja. Namun tiga hari di Wologai Dua menghadirkan babak baru dalam perjalanan saya bersama YTNF.

Sambutan Hangat di Tanah Adat

Kedatangan tim YTNF dan peserta dari tiga belas desa disambut hangat oleh tokoh adat dan masyarakat Wologai Dua. Tarian dan alunan gong gendang “Nggo Wani” khas Ende mengiringi langkah kami menuju panggung acara.
Suasana sakral terasa ketika seorang tetua adat menyambut kami dalam bahasa daerah yang penuh wibawa — bukan sekadar formalitas, melainkan tanda pengakuan dan penerimaan.

Kegiatan resmi dibuka oleh Kepala Desa Wologai Dua, disaksikan oleh Direktur YTNF, seluruh staf, Kepala Desa Jeo Dua, serta perwakilan pengurus LPHAM (Lembaga Perlindungan Hak Alam dan Hak Masyarakat), kelompok tani, dan para penghubung desa.
Tujuan utama pertemuan ini: mengevaluasi perjalanan enam bulan program dan merancang keberlanjutan — dengan fokus pada organisasi LPHAM, konservasi lingkungan (ulu ola), pertanian organik, kesehatan, dan ketahanan ekonomi masyarakat.

Pertemuan yang Penuh Kehangatan

Suasana di balai desa Mbani, ibu kota Desa Wologai Dua, terasa hidup. Tawa, semangat, dan juga keheningan reflektif bergantian mengisi ruangan.
Para peserta datang bukan dengan tangan kosong: mereka membawa hasil bumi — ubi, jagung, sayur, benih sorgum, pala, dan entres kakao.
Inilah simbol kedaulatan pangan dan semangat berbagi antar desa.

“Saya pikir evaluasi akan tegang,” gumam saya dalam hati. Namun ternyata, pertemuan ini lebih mirip ruang bicara dari hati ke hati.
“Kami datang untuk mencari solusi atas masalah di desa kami, juga untuk berbagi jika ada kelebihan,” ucap Bapak Darius Deki, Ketua LPHAM Desa Tenda.

Momen itu terasa dalam: setiap kisah yang dibagikan mengandung perjuangan, kegagalan, keberhasilan, dan keberanian menjaga hak-hak mereka sebagai penjaga alam.
“Dulu saya tak berani berbicara di depan banyak orang,” ujar Bapak Aurelius Ratu, penghubung Desa Tiwusora, “tapi sejak bergabung dengan kelompok, saya belajar dan kini saya bisa.”

Saya mulai memahami: pendampingan bukan tentang memberi jawaban, melainkan menemani masyarakat menemukan kekuatannya sendiri.

Menapak Jejak di Dusun Boro

Hari kedua, peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk melakukan kunjungan ke tiga dusun: Mbani, Boro, dan Nuamue.
Saya bergabung dengan kelompok yang menuju Dusun Boro, berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat desa.
Kunjungan ini bertujuan memperdalam diskusi mengenai lingkungan, konservasi mata air, dan ketahanan pangan.

Sambutan warga Boro begitu hangat. Kami mendengarkan kisah Bapak Tomas Teke, tokoh adat setempat, tentang kearifan lokal yang masih dijaga dengan teguh.
Ia menceritakan bagaimana setiap siklus pertanian terhubung dengan nilai adat — mulai dari pembakaran kebun, penanaman padi, hingga upacara panen “Mi Are” yang sarat makna.
“Inilah cara kami menjaga waka nga topo wolo tana watu — warisan leluhur yang harus kami titipkan pada generasi berikutnya,” ujarnya dengan nada tegas dan penuh kebanggaan.

Petani sebagai Guru

Yang paling mengesankan, para petani menjadi narasumber utama.
Bapak Nikolaus De Ja dari Desa Tonggopapa memimpin sesi berbagi tentang budidaya pala.
“Berjuang di kebun itu tak mudah, tapi pala adalah pohon bernilai ratusan tahun. Ia memberi keberlanjutan bagi keluarga,” katanya.

Setelah sesi diskusi, kami bergerak menuju mata air Ratendare. Di sana, masyarakat bersama tim YTNF menanam bibit pohon pelindung.
“Mata air ini bukan milik satu orang, tapi milik bersama — milik alam dan generasi mendatang,” ujar Bapak Don, tokoh adat Boro.

Tak berhenti di situ, kami melanjutkan aksi nyata dengan praktik P3S Kakao (pemangkasan, pemupukan, panen sering, dan sanitasi) serta pembuatan rorak, lubang fermentasi dedaunan hasil pemangkasan untuk konservasi lahan.
Saya tersadar: keberlanjutan bukan sekadar teori, melainkan sinergi antara nilai adat, inovasi pertanian, dan kerja bersama menjaga alam.

Menutup dengan Syukur dan Tawa

Tanggal 4 Oktober, seluruh peserta kembali ke balai desa untuk mempresentasikan hasil kunjungan, temuan, dan ide-ide baru.
Evaluasi berubah menjadi ruang berbagi penuh inspirasi. Kepala Desa Wologai Dua menutup kegiatan dengan pesan hangat dan ucapan terima kasih.

Namun suasana belum berakhir.
“Jangan pulang dulu, belum seru tanpa joget perpisahan,” ujar Bapak Valentinus Doa, tokoh penting desa.
Kami tertawa, lalu menuruti ajakan itu. Malam itu, di bawah langit Wologai Dua, staf, petani, orang tua, dan anak muda menari bersama. Musik, tawa, dan persaudaraan menjadi penutup yang sempurna.

Kami pulang keesokan harinya — bukan hanya membawa catatan evaluasi, tapi membawa keyakinan baru: bahwa pembangunan berkelanjutan lahir dari hati yang gembira dan jiwa yang bersatu.

Refleksi: Pendampingan yang Menghidupkan

Pekerjaan pendampingan adalah jembatan antara kearifan masa lalu dan harapan masa depan.
Meski saya bukan pendamping lapangan, pengalaman tiga hari ini memberi kesan mendalam: pendampingan bukan sekadar laporan atau data, tetapi tentang menumbuhkan kader, ilmu, dan harapan di antara para petani.

Kini, meskipun saya kembali bekerja di belakang meja, semangat itu tetap menyala.
Saya siap melanjutkan peran kecil saya, dengan hati yang lebih peka dan mata yang telah melihat: bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah-langkah sederhana — dari desa yang bernama Wologai Dua.

Sampai jumpa di pertemuan semesteral berikutnya. Tujuan selanjutnya: Desa Jeo Dua.

Tiga Hari yang Menginspirasi di Wologai Dua: Menemukan Arti Pendampingan Read More »