Menabung dari Laut, Berbagi Sukacita Menjelang Lebaran

Shere Sekarang

Kisah Kelompok Simpan Pinjam Watukaka di Dusun Ippi

Ende, Ndori _ Tananua Flores |09 Maret 2026, Malam itu suasana di Dusun Ippi, Desa Serandori, Kecamatan Ndori terasa berbeda. Tawa kecil dan percakapan hangat terdengar dari rumah tempat anggota Kelompok Simpan Pinjam Watukaka berkumpul. Di tangan mereka ada buku catatan kecil, daftar simpanan, dan secercah harapan yang akhirnya menjadi nyata.

Hari itu bukan sekadar pertemuan biasa. Hari itu adalah momen share out saat ketika tabungan yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit akhirnya dibagikan kembali kepada para anggota, tepat menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya pembagian tabungan. Namun bagi anggota kelompok Watukaka, momen ini adalah buah dari kesabaran, disiplin, dan kebersamaan yang mereka bangun selama bertahun-tahun.

Kelompok Watukaka merupakan salah satu kelompok dampingan Tananua yang berdomisili di Dusun Ippi. Anggotanya terdiri dari nelayan, istri nelayan, serta enumerator perikanan. Kelompok ini dibentuk pada tahun 2022 dan mulai menjalankan kegiatan simpan pinjam pada September 2023.

Namun perjalanan menuju hari bahagia itu tidak selalu mudah. Di awal pembentukannya, kelompok ini memiliki 25 anggota untuk terlibat dalam pengelolaan perikanan. Dalam perjalanan 16 anggota terlibat dalam aktivitas simpan pinjam. Seiring waktu, berbagai keraguan muncul. Ada yang ragu apakah kegiatan menabung bersama benar-benar bisa berjalan lama. Ada pula yang merasa sulit menyisihkan uang di tengah kehidupan keluarga nelayan yang penghasilannya tidak selalu menentu.

Pelan-pelan jumlah anggota yang bertahan menjadi 10 orang. Tetapi justru dari sepuluh orang inilah komitmen itu tumbuh semakin kuat.

Mereka mulai belajar satu hal penting: menyisihkan sedikit penghasilan hari ini dapat menjadi penolong di hari esok. Kebiasaan menabung dalam kelompok mulai dirasakan manfaatnya. Ketika ada kebutuhan mendesak biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, atau perbaikan perahu anggota dapat meminjam dari kelompok sendiri tanpa harus bergantung pada koperasi mingguan yang biasanya mengenakan bunga cukup besar.

Sedikit demi sedikit tabungan itu terkumpul. Bulan demi bulan berlalu.

Hingga akhirnya, setelah hampir dua tahun menabung, kelompok Watukaka melaksanakan kegiatan share out pertama sesuai dengan SOP kelompok, yaitu pembagian tabungan secara periodik kepada seluruh anggota.

Momen ini terasa semakin istimewa karena dilaksanakan menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026.

Dalam pertemuan tersebut, pengurus kelompok menyampaikan laporan keuangan secara terbuka. Setiap angka dibacakan dengan jelas: jumlah tabungan yang terkumpul, hasil jasa kelompok, serta total dana yang akan diterima oleh masing-masing anggota sesuai dengan simpanan mereka. Transparansi ini menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan di antara anggota.

Ketika nama demi nama dipanggil untuk menerima bagiannya, wajah-wajah bahagia tak bisa disembunyikan. Tabungan yang terkumpul dari disiplin kecil setiap bulan kini berubah menjadi sesuatu yang nyata sesuatu yang dapat membantu mereka menyambut hari raya dengan lebih tenang.

Sahari Hamzah, salah satu anggota kelompok, mengungkapkan rasa syukurnya.

“Kami sangat bersyukur bisa menabung bersama di Kelompok Watukaka. Dengan adanya share out ini, kami bisa menggunakan tabungan untuk kebutuhan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Selama ini kami juga sangat terbantu karena bisa meminjam dari kelompok ketika ada kebutuhan keluarga yang mendesak. Kegiatan ini membuat kami lebih disiplin menabung,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan oleh Dasima, seorang ibu rumah tangga yang juga merupakan istri nelayan. Bagi dirinya, kelompok simpan pinjam ini bukan hanya tempat menabung, tetapi juga tempat belajar mengatur keuangan keluarga.

“Melalui kelompok ini kami belajar menabung sedikit demi sedikit. Kadang kami juga meminjam untuk kebutuhan darurat, seperti biaya sekolah anak atau memperbaiki sampan. Saat share out seperti ini kami merasa sangat senang karena hasil tabungan bisa membantu kebutuhan keluarga saat hari raya,” katanya dengan senyum.

Suasana pertemuan sore itu dipenuhi rasa syukur dan kebersamaan. Bagi anggota kelompok Watukaka, kegiatan share out bukan sekadar pembagian uang. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bukti bahwa kebersamaan dan disiplin kecil dapat membawa perubahan nyata dalam kehidupan keluarga mereka. Kini kelompok Watukaka telah melanjutkan kegiatan simpan pinjam ke siklus kedua. Bahkan mereka sepakat meningkatkan jumlah simpanan wajib. Jika sebelumnya simpanan wajib sebesar Rp20.000 dan dana sosial Rp5.000 per bulan, kini simpanan wajib ditingkatkan menjadi Rp45.000 per bulan, sementara dana sosial tetap Rp5.000.  Semoga Bermanfaat,***

Ditulis oleh : Agnes Ngura/ Pendamping di site Ndori

Menabung dari Laut, Berbagi Sukacita Menjelang Lebaran Read More »

Kripik Talas dan Harapan Baru Perempuan Mbobhenga

Shere Sekarang
Dok.Kripik Hasil Kerja Kelompok Perempuan Desa Mbobhenga

Perubahan besar kadang lahir dari hal-hal yang tampak kecil. Di Desa Mbobhenga, Kabupaten Ende, perubahan itu dimulai dari talas yang digoreng di dapur-dapur rumah warga. Dari kegiatan sederhana memproduksi kripik talas, sekelompok perempuan desa kini mulai membuka jalan baru menuju kemandirian ekonomi”.

Ende, Mbobhenga – Tananua Flores | Pemberdayaan perempuan telah lama menjadi bagian dari wacana pembangunan di Indonesia. Sejak diperkenalkan secara luas pada awal 1990-an oleh berbagai organisasi masyarakat sipil, diperkuat melalui berbagai forum global tentang kesetaraan gender, hingga menjadi bagian dari kebijakan pembangunan nasional di era Reformasi, konsep ini terus mendapat perhatian. Namun dalam praktiknya, pemberdayaan sering kali berhenti pada tingkat program atau proyek jangka pendek. Banyak kegiatan pelatihan digelar, bantuan diberikan, laporan dibuat, tetapi perubahan nyata di tingkat komunitas tidak selalu terlihat.

Di tengah dinamika tersebut, pengalaman kecil dari Desa Mbobhenga di Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, memberikan pelajaran penting tentang bagaimana pemberdayaan dapat bekerja secara nyata. Perubahan yang terjadi di desa ini tidak datang dari proyek besar atau investasi yang mahal. Ia tumbuh dari langkah sederhana yang dilakukan oleh sekelompok perempuan desa yang mulai mengolah talas menjadi kripik.

Desa Mbobhenga berada di wilayah pegunungan dengan potensi alam yang cukup kaya. Berbagai komoditas perkebunan seperti cengkeh, pala, kemiri, dan kopi tumbuh dengan baik di wilayah ini. Tanaman pangan seperti talas juga mudah ditemukan di lahan-lahan masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, akses infrastruktur di desa ini mulai membaik. Listrik sudah tersedia, jaringan telekomunikasi semakin menjangkau wilayah pedesaan, dan jalan penghubung antarwilayah perlahan berkembang.

Namun seperti banyak desa lainnya di Indonesia, potensi alam tidak selalu otomatis menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Tanpa pengelolaan yang tepat, sumber daya lokal sering hanya menjadi potensi yang belum tergarap. Masyarakat menjual hasil pertanian dalam bentuk bahan mentah dengan nilai tambah yang rendah, sementara peluang untuk mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi belum banyak dimanfaatkan.

Di sisi lain, perempuan di pedesaan masih menghadapi berbagai hambatan struktural. Budaya patriarki yang kuat sering membatasi ruang perempuan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi dan pengambilan keputusan. Beban kerja ganda dalam rumah tangga, keterbatasan akses pelatihan, serta minimnya kesempatan untuk mengembangkan usaha menjadi tantangan yang umum ditemui.

Dalam konteks inilah pendekatan pemberdayaan perempuan menjadi penting. Di Dusun Orakose, Desa Mbobhenga, lima belas ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Tani Setia memulai sebuah langkah kecil yang kemudian berkembang menjadi harapan baru. Mereka mencoba memproduksi kripik talas sebagai usaha ekonomi rumah tangga.

Pilihan talas sebagai bahan baku bukan tanpa alasan. Tanaman ini mudah ditemukan di desa, biaya produksinya relatif rendah, dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk olahan yang diminati pasar. Di tengah berkembangnya sektor pariwisata di Kabupaten Ende dan wilayah Flores secara umum, produk pangan lokal memiliki peluang untuk dipasarkan kepada wisatawan maupun masyarakat perkotaan yang mulai tertarik pada produk tradisional.

Namun memulai usaha bukan perkara mudah. Para ibu di Orakose pada awalnya belum memiliki pengalaman dalam pengolahan produk pangan secara komersial. Pengetahuan tentang manajemen usaha, perhitungan biaya produksi, serta strategi pemasaran masih sangat terbatas. Tanpa dukungan yang tepat, inisiatif kecil seperti ini berisiko berhenti di tengah jalan.

Pendampingan dari organisasi masyarakat sipil kemudian menjadi faktor penting dalam proses ini. Yayasan Tananua Flores hadir mendampingi kelompok perempuan tersebut melalui serangkaian pelatihan dan penguatan kapasitas. Para anggota kelompok dilatih untuk meningkatkan kualitas produksi, memperbaiki teknik pengemasan, serta memahami cara menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual produk.

Pendampingan juga dilakukan dalam hal penguatan organisasi kelompok. Para ibu didorong untuk bekerja secara kolektif, membagi peran dalam proses produksi, serta merencanakan pengembangan usaha secara bersama. Selain itu, kelompok juga mulai diperkenalkan pada peluang pemasaran melalui media sosial dan jaringan pasar lokal.

Hasilnya mulai terlihat. Produk kripik talas yang dihasilkan oleh kelompok perempuan di Orakose kini mulai dipasarkan di tingkat kabupaten. Meskipun skalanya masih kecil, kegiatan ini memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga sekaligus membuka ruang baru bagi perempuan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi produktif.

Lebih dari sekadar kegiatan ekonomi, proses ini membawa perubahan sosial yang penting. Para perempuan yang sebelumnya hanya terlibat dalam aktivitas domestik kini mulai memiliki ruang untuk belajar, berdiskusi, dan mengambil keputusan bersama. Mereka belajar menghitung keuntungan, memahami pasar, serta mengembangkan kepercayaan diri sebagai pelaku usaha.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dari program yang besar dan kompleks. Perubahan dapat dimulai dari langkah kecil yang relevan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Ketika masyarakat terlibat secara aktif dan memiliki rasa kepemilikan terhadap kegiatan yang dijalankan, proses pemberdayaan menjadi lebih berkelanjutan.

Tentu saja perjalanan kelompok perempuan di Mbobhenga masih menghadapi berbagai tantangan. Keterbatasan modal usaha masih menjadi hambatan utama dalam meningkatkan kapasitas produksi. Proses pengurusan izin usaha dan legalitas produk juga memerlukan waktu serta dukungan dari berbagai pihak. Selain itu, akses distribusi ke pasar yang lebih luas masih perlu diperkuat agar produk lokal dapat bersaing dengan produk industri yang lebih besar.

Di sinilah peran pemerintah daerah menjadi sangat penting. Dukungan kebijakan yang berpihak pada usaha mikro dan kecil dapat membantu kelompok-kelompok usaha masyarakat berkembang lebih jauh. Program pelatihan, akses permodalan, kemudahan perizinan, serta dukungan pemasaran melalui jaringan pasar daerah dapat menjadi faktor penentu keberlanjutan usaha seperti ini.

Desa Mbobhenga memberikan pelajaran bahwa pemberdayaan yang efektif membutuhkan kolaborasi antara masyarakat, organisasi pendamping, dan pemerintah. Ketika ketiga unsur ini bekerja bersama, potensi lokal yang sebelumnya terabaikan dapat berkembang menjadi sumber kekuatan ekonomi baru bagi desa.

Kripik talas yang diproduksi oleh kelompok perempuan di Orakose mungkin terlihat sederhana. Namun di balik produk kecil tersebut tersimpan cerita tentang keberanian untuk mencoba, semangat untuk belajar, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Dari dapur-dapur sederhana di desa, perempuan Mbobhenga sedang membangun jalan baru menuju kemandirian ekonomi.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari kota-kota besar atau proyek-proyek raksasa. Kadang-kadang, perubahan justru tumbuh dari desa-desa kecil yang perlahan menemukan kekuatannya sendiri. Jika inisiatif seperti ini terus didukung dan direplikasi di berbagai daerah, maka pemberdayaan perempuan tidak lagi sekadar wacana pembangunan, melainkan menjadi gerakan nyata menuju kesejahteraan masyarakat.

Oleh: Anselmus Kaki Reku, S.Sos
Staf Lapangan Tananua Flores

Kripik Talas dan Harapan Baru Perempuan Mbobhenga Read More »

Data sebagai Fondasi Kebijakan: Arah Baru Pembangunan Pesisir Ndori

Shere Sekarang

Ende, Ndori- Tananua Flores | Pelaksanaan feedback data perikanan gurita dan ikan bersirip di Kecamatan Ndori pada 12 Februari 2025 bukan sekadar agenda rutin triwulanan. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Camat Ndori dan dibuka langsung oleh Camat Ndori, Bapak Fidelis Sobha, S.IP., menjadi momentum penting yang menegaskan satu hal mendasar: data telah menjadi instrumen strategis dalam menentukan arah pembangunan wilayah pesisir.

Apresiasi Pemerintah Kecamatan Ndori kepada Yayasan Tananua menunjukkan adanya pola kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah dan masyarakat sipil. Pendampingan yang dilakukan bersama mitra seperti Bluventures tidak hanya berhenti pada pengumpulan data, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Data Mengubah Arah Kebijakan

Salah satu bukti paling konkret dari kekuatan data adalah ketika hasil presentasi yang disampaikan pada kunjungan Bupati bulan Agustus lalu berujung pada penetapan Kecamatan Ndori sebagai lokasi pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih tahun ini. Ini menunjukkan bahwa data yang akurat dan terukur mampu mendorong advokasi kebijakan hingga tingkat kabupaten.

Dalam konteks pembangunan daerah seperti di Kecamatan Ndori, data bukan hanya angka statistik. Ia menjadi dasar legitimasi untuk pengambilan keputusan, pengalokasian anggaran, dan penentuan prioritas pembangunan, sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Ende yang memprioritaskan sektor kelautan.

Membaca Tren: Penurunan yang Kontekstual

Secara kuantitatif, tren tiga bulan terakhir memang menunjukkan penurunan signifikan:

  • November ke Desember:
    Tangkapan turun ±54,7%, pendapatan turun ±15,3%.
  • Desember ke Januari:
    Tangkapan turun ±54,8%, pendapatan turun ±75%.
  • Akumulatif November–Januari:
    Tangkapan turun ±79,5%, pendapatan turun ±78,9%.

Angka-angka tersebut, jika dibaca secara parsial, dapat memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan stok sumber daya. Namun, analisis kontekstual menunjukkan bahwa faktor utama penurunan adalah kondisi cuaca ekstrem gelombang tinggi dan angin kencang yang membatasi aktivitas melaut.

Pernyataan perwakilan nelayan, Bapak Muhamad Hasan, mempertegas bahwa dinamika tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor musim. Dengan demikian, interpretasi data tidak boleh dilepaskan dari variabel lingkungan dan siklus musiman. Inilah pentingnya pendekatan ilmiah dan monitoring habitat yang kini telah berjalan lebih sistematis.

Gambaran Tiga Tahun: Fondasi yang Kuat

Jika dilihat dalam rentang tiga tahun terakhir, pengelolaan perikanan di Ndori justru menunjukkan tren positif:

  • Total tangkapan: 62,735 ton
  • Total pendapatan: Rp 1.917.959.774
  • Khusus gurita: 36.309,5 ton
  • Pendapatan dari gurita: Rp 1.511.954.986

Data ini mengindikasikan bahwa sektor gurita menjadi tulang punggung ekonomi pesisir. Artinya, intervensi kebijakan perlu diarahkan pada penguatan tata kelola perikanan gurita yang berkelanjutan, termasuk pengaturan musim tangkap, peningkatan alat tangkap ramah lingkungan, dan penguatan perlindungan habitat. Penurunan produksi akibat cuaca ekstrem juga membuka diskusi lebih luas mengenai aspek keselamatan dan perlindungan nelayan. Keterbatasan alat pelindung diri dan sarana keselamatan menjadi isu penting yang perlu mendapat perhatian dalam program Kampung Nelayan Merah Putih.

Jika pembangunan hanya berfokus pada infrastruktur fisik tanpa memperhatikan mitigasi risiko dan adaptasi terhadap perubahan iklim, maka dampak jangka panjangnya tidak akan optimal.

Menuju Pembangunan Berbasis Bukti

Apa yang terjadi di Ndori memperlihatkan transformasi penting: dari pembangunan berbasis asumsi menuju pembangunan berbasis bukti

Data tidak lagi berhenti sebagai laporan administratif, tetapi telah menjadi alat advokasi, instrumen dialog kebijakan, sekaligus dasar perencanaan ekonomi masyarakat pesisir.

Ke depan, konsistensi dalam pengumpulan data triwulanan harus diiringi dengan:

  1. Penguatan literasi data bagi kelompok nelayan.
  2. Integrasi data perikanan dengan perencanaan desa dan kecamatan.
  3. Pengembangan sistem peringatan dini cuaca dan perlindungan nelayan.
  4. Diversifikasi sumber pendapatan untuk mengurangi ketergantungan musiman.

Jika sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendamping terus dijaga, maka Ndori berpotensi menjadi model pengelolaan perikanan berbasis komunitas di Kabupaten Ende.

Akhirnya, pengalaman Ndori mengajarkan satu pelajaran penting:
Data yang dikelola dengan baik bukan hanya mencatat realitas, tetapi mampu mengubah arah masa depan pembangunan.

Penulis : Agnes Ngura- Staf Pendamping di kecamatan Ndori

Editor : Jhuan Mari

Data sebagai Fondasi Kebijakan: Arah Baru Pembangunan Pesisir Ndori Read More »

Tananua Flores Sosialisasikan Program Ketahanan Iklim di Desa Aemuri dan Waka

Shere Sekarang

EndeTananua Flores | Yayasan Tananua Flores melaksanakan sosialisasi Program Peningkatan Ketahanan Warga terhadap Risiko Iklim di Kabupaten Ende, yang dipusatkan di Desa Aemuri dan Desa Waka, pada Selasa, 28 Januari 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat desa dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin dirasakan, terutama pada sektor lingkungan, pertanian,Kelautan dan ekonomi.

Sosialisasi di Desa Aemuri berlangsung pukul 09.00–12.00 WITA dan bertempat di Kantor Desa Aemuri, sementara kegiatan di Desa Waka dilaksanakan pukul 16.00–18.00 WITA di Kantor Desa Waka. Peserta yang terlibat terdiri dari anggota kelompok masyarakat, pemerintah desa, tokoh perempuan, serta tokoh masyarakat Desa Aemuri.

Ketua Pengurus Tananua Flores, Hironimus Pala, dalam pemaparannya menekankan bahwa persoalan lingkungan, pertanian, dan ekonomi masyarakat desa saling berkaitan dan semakin rentan akibat perubahan iklim. Menurutnya, ketahanan masyarakat hanya dapat dibangun jika warga dilibatkan secara aktif yang berangkat dari kekuatan lokal.

“Tananua mendorong masyarakat untuk memahami bahwa krisis iklim berdampak langsung pada ekonomi keluarga dan pertanian. Karena itu, pendekatan pemberdayaan berbasis masyarakat menjadi kunci,” ujar Hironimus.

Dalam sosialisasi tersebut, Hironimus menjelaskan empat pilar utama program Tananua, yakni:

  1. Pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam berbasis masyarakat,
  2. Pengorganisasian kelompok dan peningkatan kapasitas masyarakat,
  3. Literasi keuangan keluarga, dan
  4. Kesadaran dini masyarakat terhadap pola hidup sehat.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mulai dari langkah sederhana, salah satunya dengan menghargai dan mengonsumsi pangan lokal sebagai bagian dari kedaulatan pangan dan ketahanan keluarga.

Salah satu peserta, Longginus, petani dari Kelompok Sa Are Desa Aemuri, mengaku tertarik dengan program yang dipaparkan Tananua. Ia menyampaikan bahwa meskipun usianya sudah lanjut, banyak praktik yang selama ini telah ia lakukan sejalan dengan prinsip-prinsip yang disampaikan dalam program tersebut.

“Banyak hal yang disampaikan sebenarnya sudah kami praktekkan, hanya perlu diperkuat dan dikembangkan bersama,” katanya.

Sementara itu, dalam pertemuan di Desa Waka, Kepala Desa Waka, Karolus Arianto, menyatakan dukungan penuh terhadap program Tananua dan menyambut baik rencana kerja sama ke depan. Ia berharap kolaborasi tersebut dapat membawa dampak positif bagi pembangunan desa dan kesejahteraan masyarakat.

Desa Waka sendiri memiliki karakteristik unik dengan dua musim kehidupan, yakni laut dan darat. Potensi desa meliputi sektor perikanan, ekosistem mangrove, dan padang lamun, yang dinilai sangat besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan.

“Potensi laut dan darat di Desa Waka sangat luar biasa, termasuk potensi ikan yang melimpah. Kami siap bekerja sama dengan Tananua demi kebaikan masyarakat,” ujar Karolus.

Melalui kegiatan ini, Tananua Flores menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi desa dan masyarakat dalam membangun ketahanan iklim berbasis potensi lokal, dengan harapan terciptanya masyarakat yang lebih mandiri, tangguh, dan berkelanjutan di Kabupaten Ende.


Ditulis oleh : Jhuan Mari

Tananua Flores Sosialisasikan Program Ketahanan Iklim di Desa Aemuri dan Waka Read More »

Dari Desa untuk Bumi: Gerakan Konservasi Berbasis Komunitas di kabupaten Ende

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores | Krisis ekologis bukan lagi ancaman yang jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Flores. Kerusakan mata air, berkurangnya tutupan hutan, dan melemahnya daya dukung lingkungan telah menjadi kenyataan yang langsung dirasakan, terutama oleh masyarakat desa. Dalam konteks inilah, inisiatif Yayasan Tananua Flores bersama masyarakat desa dampingan melalui Gerakan Serentak Konservasi Kolaboratif patut dibaca bukan sekadar sebagai kegiatan lingkungan, melainkan sebagai pernyataan sikap moral dan spiritual terhadap masa depan Bumi.

Gerakan yang dilaksanakan sepanjang bulan ini di berbagai wilayah Kabupaten Ende tersebut mencerminkan pendekatan konservasi yang berpijak pada spiritualitas ekologis—sebuah cara pandang yang menempatkan Bumi sebagai Ibu sekaligus Rumah Bersama. Pandangan ini menolak relasi eksploitatif manusia terhadap alam dan menggantikannya dengan relasi saling merawat dan bertanggung jawab.

Pelaksanaan gerakan ini menjangkau sejumlah desa di berbagai kecamatan, mulai dari Wewaria, Detukeli, Wolojita, Kelimutu, Ende, Lepembusu Kelisoke, Detusoko, hingga Kota Baru. Luasnya sebaran wilayah menunjukkan bahwa konservasi tidak lagi dipahami sebagai isu sektoral, tetapi sebagai agenda bersama lintas komunitas dan lintas wilayah.

Lebih penting lagi, pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif dan kolaboratif. LPHAM, Penghubung Desa, Tim Patroli/Pengawas Kawasan, serta masyarakat desa terlibat langsung dalam aksi penanaman pohon di sekitar mata air, kebun rakyat, dan lahan kritis. Di sinilah letak kekuatan utama gerakan ini: konservasi tidak dipaksakan dari luar, melainkan tumbuh dari kesadaran dan keterlibatan masyarakat sendiri.

Namun, gerakan ini melampaui aspek teknis penanaman pohon. Ia dimaknai sebagai tindakan iman dan harapan—sebuah pernyataan bahwa menanam hari ini berarti menjaga kehidupan esok hari. Penanaman pohon menjadi simbol pertobatan ekologis, terlebih dimaknai dalam semangat Tahun Yubileum, sebagai momentum refleksi dan pembaruan relasi manusia dengan alam.

Nama gerakan, “Gerakan Konservasi Menanam Harapan untuk Ibu Bumi”, menegaskan pesan tersebut: alam yang terluka hanya dapat dipulihkan melalui komitmen kolektif dan kesetiaan jangka panjang, bukan melalui aksi seremonial semata.

Gerakan di Desa Tiwusora

Gambaran konkret dari semangat ini terlihat jelas dalam kegiatan konservasi mata air Kela Lo’o di Desa Tiwusora, Kecamatan Lepembusu Kelisoke, yang dilaksanakan pada Minggu, 14 Desember 2025. Sekitar 40 orang—terdiri dari LPHAM, Penghubung Desa, Tim Patroli Kawasan, dan Orang Muda Katolik (OMK) Stasi Deturia—bersatu dalam kerja bersama merawat sumber air sebagai denyut kehidupan desa.

Penanaman berbagai jenis tanaman konservasi seperti munti, murbau, sengon, dan stek waru dilakukan dengan pertimbangan ekologis yang matang: menjaga struktur tanah, memperkuat resapan air, dan melindungi mata air dari degradasi. Pilihan jenis tanaman ini menunjukkan bahwa konservasi dijalankan dengan pengetahuan lokal dan kesadaran lingkungan yang terus berkembang.

Keterlibatan Orang Muda Katolik menjadi catatan penting. Bagi mereka, kegiatan ini dimaknai sebagai “bank air”—sebuah tabungan kehidupan bagi generasi mendatang. Pemaknaan ini menunjukkan bahwa kesadaran ekologis mulai berakar kuat di kalangan generasi muda, yang selama ini kerap dianggap jauh dari isu-isu lingkungan.

Rekomendasi tindak lanjut berupa pembuatan pagar pelindung sumber air serta rencana penanaman lanjutan menandakan bahwa gerakan ini tidak berhenti pada satu momentum. Pernyataan Penghubung Desa Tiwusora dan Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores memperkuat pesan bahwa konservasi hanya akan berhasil jika dijalankan secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh unsur masyarakat, termasuk pemerintah desa dan pemangku adat.

Pada akhirnya, gerakan ini menyampaikan satu pesan editorial yang tegas: menjaga Bumi berarti menjaga kehidupan manusia itu sendiri. Konservasi bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendasar. Menanam hari ini bukan sekadar menanam pohon,tetapi menanam harapan agar air tetap mengalir,alam tetap hidup,dan masa depan tetap memiliki pijakan.

Ditulis Oleh : Heri Se

Dari Desa untuk Bumi: Gerakan Konservasi Berbasis Komunitas di kabupaten Ende Read More »