Tiga Hari yang Menginspirasi di Wologai Dua: Menemukan Arti Pendampingan

Penulis : Maria Sisilia Virginia Wawo/ Staf YTNF

Ende Wologai Dua, —Tananua Flores | Tiga hari di Desa Wologai Dua menjadi perjalanan yang tak hanya mengubah cara pandang saya tentang pendampingan, tetapi juga menyalakan kembali semangat untuk bekerja dengan hati. Yayasan Tananua Flores (YTNF) menggelar Pertemuan Semesteral Petani pada tanggal 2–4 Oktober 2025, mempertemukan masyarakat tani dari 14 desa dampingan Program Peningkatan Hak Alam dan Hak Masyarakat (PHAM).

Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama mengikuti kegiatan lapangan seperti ini. Sebelumnya, saya lebih akrab dengan data dan laporan di balik meja. Namun tiga hari di Wologai Dua menghadirkan babak baru dalam perjalanan saya bersama YTNF.

Sambutan Hangat di Tanah Adat

Kedatangan tim YTNF dan peserta dari tiga belas desa disambut hangat oleh tokoh adat dan masyarakat Wologai Dua. Tarian dan alunan gong gendang “Nggo Wani” khas Ende mengiringi langkah kami menuju panggung acara.
Suasana sakral terasa ketika seorang tetua adat menyambut kami dalam bahasa daerah yang penuh wibawa — bukan sekadar formalitas, melainkan tanda pengakuan dan penerimaan.

Kegiatan resmi dibuka oleh Kepala Desa Wologai Dua, disaksikan oleh Direktur YTNF, seluruh staf, Kepala Desa Jeo Dua, serta perwakilan pengurus LPHAM (Lembaga Perlindungan Hak Alam dan Hak Masyarakat), kelompok tani, dan para penghubung desa.
Tujuan utama pertemuan ini: mengevaluasi perjalanan enam bulan program dan merancang keberlanjutan — dengan fokus pada organisasi LPHAM, konservasi lingkungan (ulu ola), pertanian organik, kesehatan, dan ketahanan ekonomi masyarakat.

Pertemuan yang Penuh Kehangatan

Suasana di balai desa Mbani, ibu kota Desa Wologai Dua, terasa hidup. Tawa, semangat, dan juga keheningan reflektif bergantian mengisi ruangan.
Para peserta datang bukan dengan tangan kosong: mereka membawa hasil bumi — ubi, jagung, sayur, benih sorgum, pala, dan entres kakao.
Inilah simbol kedaulatan pangan dan semangat berbagi antar desa.

“Saya pikir evaluasi akan tegang,” gumam saya dalam hati. Namun ternyata, pertemuan ini lebih mirip ruang bicara dari hati ke hati.
“Kami datang untuk mencari solusi atas masalah di desa kami, juga untuk berbagi jika ada kelebihan,” ucap Bapak Darius Deki, Ketua LPHAM Desa Tenda.

Momen itu terasa dalam: setiap kisah yang dibagikan mengandung perjuangan, kegagalan, keberhasilan, dan keberanian menjaga hak-hak mereka sebagai penjaga alam.
“Dulu saya tak berani berbicara di depan banyak orang,” ujar Bapak Aurelius Ratu, penghubung Desa Tiwusora, “tapi sejak bergabung dengan kelompok, saya belajar dan kini saya bisa.”

Saya mulai memahami: pendampingan bukan tentang memberi jawaban, melainkan menemani masyarakat menemukan kekuatannya sendiri.

Menapak Jejak di Dusun Boro

Hari kedua, peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk melakukan kunjungan ke tiga dusun: Mbani, Boro, dan Nuamue.
Saya bergabung dengan kelompok yang menuju Dusun Boro, berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat desa.
Kunjungan ini bertujuan memperdalam diskusi mengenai lingkungan, konservasi mata air, dan ketahanan pangan.

Sambutan warga Boro begitu hangat. Kami mendengarkan kisah Bapak Tomas Teke, tokoh adat setempat, tentang kearifan lokal yang masih dijaga dengan teguh.
Ia menceritakan bagaimana setiap siklus pertanian terhubung dengan nilai adat — mulai dari pembakaran kebun, penanaman padi, hingga upacara panen “Mi Are” yang sarat makna.
“Inilah cara kami menjaga waka nga topo wolo tana watu — warisan leluhur yang harus kami titipkan pada generasi berikutnya,” ujarnya dengan nada tegas dan penuh kebanggaan.

Petani sebagai Guru

Yang paling mengesankan, para petani menjadi narasumber utama.
Bapak Nikolaus De Ja dari Desa Tonggopapa memimpin sesi berbagi tentang budidaya pala.
“Berjuang di kebun itu tak mudah, tapi pala adalah pohon bernilai ratusan tahun. Ia memberi keberlanjutan bagi keluarga,” katanya.

Setelah sesi diskusi, kami bergerak menuju mata air Ratendare. Di sana, masyarakat bersama tim YTNF menanam bibit pohon pelindung.
“Mata air ini bukan milik satu orang, tapi milik bersama — milik alam dan generasi mendatang,” ujar Bapak Don, tokoh adat Boro.

Tak berhenti di situ, kami melanjutkan aksi nyata dengan praktik P3S Kakao (pemangkasan, pemupukan, panen sering, dan sanitasi) serta pembuatan rorak, lubang fermentasi dedaunan hasil pemangkasan untuk konservasi lahan.
Saya tersadar: keberlanjutan bukan sekadar teori, melainkan sinergi antara nilai adat, inovasi pertanian, dan kerja bersama menjaga alam.

Menutup dengan Syukur dan Tawa

Tanggal 4 Oktober, seluruh peserta kembali ke balai desa untuk mempresentasikan hasil kunjungan, temuan, dan ide-ide baru.
Evaluasi berubah menjadi ruang berbagi penuh inspirasi. Kepala Desa Wologai Dua menutup kegiatan dengan pesan hangat dan ucapan terima kasih.

Namun suasana belum berakhir.
“Jangan pulang dulu, belum seru tanpa joget perpisahan,” ujar Bapak Valentinus Doa, tokoh penting desa.
Kami tertawa, lalu menuruti ajakan itu. Malam itu, di bawah langit Wologai Dua, staf, petani, orang tua, dan anak muda menari bersama. Musik, tawa, dan persaudaraan menjadi penutup yang sempurna.

Kami pulang keesokan harinya — bukan hanya membawa catatan evaluasi, tapi membawa keyakinan baru: bahwa pembangunan berkelanjutan lahir dari hati yang gembira dan jiwa yang bersatu.

Refleksi: Pendampingan yang Menghidupkan

Pekerjaan pendampingan adalah jembatan antara kearifan masa lalu dan harapan masa depan.
Meski saya bukan pendamping lapangan, pengalaman tiga hari ini memberi kesan mendalam: pendampingan bukan sekadar laporan atau data, tetapi tentang menumbuhkan kader, ilmu, dan harapan di antara para petani.

Kini, meskipun saya kembali bekerja di belakang meja, semangat itu tetap menyala.
Saya siap melanjutkan peran kecil saya, dengan hati yang lebih peka dan mata yang telah melihat: bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah-langkah sederhana — dari desa yang bernama Wologai Dua.

Sampai jumpa di pertemuan semesteral berikutnya. Tujuan selanjutnya: Desa Jeo Dua.

Tiga Hari yang Menginspirasi di Wologai Dua: Menemukan Arti Pendampingan Read More »

Panen Perdana Padi Sawah Hasil Kajian Partisipatif di Desa Mautenda Barat Disambut Positif Pemerintah

Ende,Mautenda Barat, Tananua Flores | 21 Oktober 2025 ,- Kegiatan panen perdana padi sawah hasil kajian partisipatif yang dilakukan oleh Kelompok Tani Sa Ate Desa Mautenda Barat mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Kegiatan ini difasilitasi oleh Yayasan Tananua Flores, Universitas Flores (Uniflor), dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), serta dihadiri oleh Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Pemerintah Kecamatan Wewaria, Pemerintah Desa Mautenda Barat, dan Pastor Kuasi Paroki Tanali.

Panen perdana ini dilaksanakan di lahan-lahan sawah petani setempat dan menjadi hasil nyata dari proses pembelajaran bersama yang menekankan pada penggunaan pupuk organik lokal serta metode pertanian berkelanjutan.

Apresiasi Dinas Pertanian

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, H. Ibrahim Hadir Dean menyampaikan apresiasi tinggi terhadap proses kajian yang dilakukan masyarakat bersama lembaga akademik dan pendamping lapangan.

“Saya sangat tertarik dengan kajian partisipatif ini. Proses seperti ini penting untuk mendorong Desa Mautenda Barat memiliki satu produk unggulan, yakni padi organik. Namun, perlu diingat bahwa menjadi benar-benar organik membutuhkan waktu, kesabaran, dan komitmen untuk meninggalkan pupuk kimia sepenuhnya,” tegasnya

Beliau menambahkan, Pemerintah Kabupaten Ende mendukung penuh upaya ini dan berharap agar proses kajian terus berlanjut hingga petani benar-benar mampu menghasilkan padi organik bersertifikat.

“Kita bukan hanya menanam padi, tetapi juga menanam masa depan yang lebih sehat bagi tanah, alam, dan manusia,” ujarnya.

Dukungan Pemerintah Kecamatan

Sementara itu, Camat Wewaria, Fidelis Bela, S.Sos., turut memberikan apresiasi kepada Dinas Pertanian, Yayasan Tananua Flores, dan Universitas Flores atas pendampingan aktif kepada masyarakat.

“Mautenda Barat dikenal sebagai daerah pertanian yang potensial. Kini saatnya potensi itu diolah dengan cara yang berkelanjutan. Ini adalah titik balik bagi Wewaria. Kami mendorong agar pendampingan seperti ini tidak hanya menyentuh satu desa, tetapi juga menjangkau wilayah lain sesuai potensi lokal,” ungkapnya.

Kontribusi Akademik Universitas Flores

Dari pihak akademisi, Ketua Program Studi Agroteknologi Universitas Flores Josina I.B.Hutubessy menjelaskan bahwa pihaknya melakukan analisis terhadap kandungan pupuk organik yang digunakan serta memantau variabel pertumbuhan tanaman selama tiga bulan.

“Kami sudah melihat hasilnya dan akan melanjutkan penanaman tahap kedua. Analisis unsur hara akan terus kami lakukan agar data yang diperoleh dapat menjadi bukti ilmiah bahwa produk ini benar-benar organik,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari kajian ini bukan hanya edukasi bagi masyarakat, tetapi juga menghasilkan data ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Tidak cukup hanya mengatakan produk kita organik. Harus ada bukti dari hasil kajian. Karena itu, mahasiswa kami dilibatkan untuk memantau proses pertumbuhan tanaman setiap dua minggu sekali,” tambahnya.

Refleksi Pastoral dan Dorongan Perubahan

RD. Yohanes Risantos Rengu (Romo Safan), Pastor Kuasi Paroki Tanali, turut memberikan refleksi pastoral yang menyentuh. Ia menilai, perubahan pola pikir petani merupakan tantangan besar dalam membangun pertanian berkelanjutan.

“Kebanyakan petani menyerahkan 90% hasil pada Tuhan dan hanya 10% pada usahanya sendiri. Karena itu, perubahan mental dan kebiasaan butuh waktu. Petani sering hanya tahu menanam, tetapi belum mampu merawat tanah dengan baik,” ujarnya.

Romo menekankan bahwa penggunaan bahan kimia yang berlebihan telah “memaksa” tanah untuk terus memberi hasil tanpa pemulihan. Ia mendorong agar masyarakat mulai membuka diri terhadap pengetahuan dan teknologi baru, termasuk melalui kajian seperti ini.

“Sebagai pastor, saya tidak hanya ingin memimpin dari mimbar, tetapi juga turun langsung melihat kondisi petani. Kami akan bekerja sama dengan pengurus DPP, stasi, dan KUB untuk memperhatikan pola kerja petani yang masih perlu diperbarui,” tambahnya.

Suara dari Kelompok Tani

Ketua Kelompok Tani Sa Ate Fransiskus Seda menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas pendampingan dari berbagai pihak selama proses kajian ini.

“Kami menjalankan semua proses sesuai petunjuk pendamping. Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut dan kami siap melanjutkan pada tahap-tahap berikutnya,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi petani Mautenda Barat dalam mengenal proses kajian pupuk organik, dan mereka berkomitmen untuk terus belajar serta meningkatkan produksi padi sawah secara berkelanjutan.

Kegiatan panen perdana ini bukan hanya menjadi simbol keberhasilan petani Desa Mautenda Barat, tetapi juga bukti bahwa pendekatan kajian partisipatif mampu menghubungkan masyarakat, akademisi, dan pemerintah dalam satu visi: membangun pertanian berkelanjutan yang sehat bagi manusia dan alam.***

Ditulis oleh : J.Mari

Panen Perdana Padi Sawah Hasil Kajian Partisipatif di Desa Mautenda Barat Disambut Positif Pemerintah Read More »

Renstra Tananua 2025: Momentum Pembaruan dan Semangat Kolektif untuk Bergerak Maju

Ende – Tananua Flores| Proses penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Tananua 2025 menjadi momentum penting yang membawa semangat baru dalam cara kerja lembaga. Setelah melalui tiga tahap panjang yang berlangsung selama enam bulan, seluruh proses akhirnya tiba pada puncak refleksi bersama. Proses ini tidak hanya menghasilkan dokumen strategis, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan, semangat belajar, dan komitmen bersama untuk membawa Tananua ke arah yang lebih maju.

Salah satu peserta Agnes Ngura, di Bina Kerahiman kamis 9 Oktober 2025, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada para fasilitator dan tim pengurus yang telah memfasilitasi seluruh rangkaian proses Renstra dari tahap pertama hingga ketiga.

“Secara pribadi, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru. Harapan saya, ke depan rencana dalam Renstra ini bisa berjalan sesuai kesepakatan bersama. Terima kasih kepada pengurus yang telah bekerja keras. Semoga kita semua tetap kompak agar program kerja bisa berjalan baik,” ujarnya penuh semangat.

Senada dengan itu, Laurens Naja Staf Tananua juga memberikan ucapan terima kasih kepada pengurus, pembina, dan tim pengawasan yang telah mendukung seluruh proses penyusunan Renstra.

“Kami sangat menghargai kerja keras semua pihak. Harapan kami, Pak Lugas dan Ibu Selma tetap mendampingi Tananua ke depan. Dukungan dan bimbingan mereka sangat berarti untuk keberlanjutan lembaga ini,” ungkapnya.

Sementara itu, Ibu Selma, perwakilan dari lembaga Menjadi, mengungkapkan kesan positifnya terhadap atmosfer kerja di Tananua.

“Sejak pertama saya datang, suasananya sudah berbeda. Tananua menyambut kami dengan hangat dan memberi kesempatan luas bagi kami bereksplorasi dan berkenalan dengan banyak staf Tananua, dan yang berbeda di Tananua staf muda Tananua diberi kesempatan untuk belajar dan berinovasi. Nilai ini harus terus dipertahankan, karena di sinilah letak kekuatan Tananua,” katanya.

Ia menambahkan bahwa Tananua memiliki energi besar untuk berkembang, dan kolaborasi yang telah terjalin perlu terus diperkuat.

“Kami dari Menjadi siap terus berkolaborasi dan berbagi metode yang kompetitif agar Tananua semakin maju,” tambahnya.

Dari sisi pengawasan, Dr. Imaculata Fatima selaku pengawas Tananua, mengaku sangat terkesan dengan proses penyusunan Renstra tahap ketiga.

“Tidak mudah menyusun Renstra, tapi saya melihat semangat dan proses yang luar biasa dari tim. Saya semakin mencintai Tananua karena kerja keras dan komitmennya. Renstra ini akan membawa Tananua semakin jaya,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Ketua Pengurus Tananua, Hironimus Pala, menyebut Renstra kali ini sebagai proses terpanjang dan paling berkesan dalam perjalanan organisasi.

“Selama enam bulan, kami berproses, berdiskusi, dan bertemu sembilan kali dalam satu ruang. Banyak pengetahuan dan inspirasi yang muncul. Jika organisasi ingin kuat, banyak aspek harus diperhatikan. Kita bermimpi agar dalam lima tahun ke depan, Tananua bisa menjangkau wilayah yang lebih luas, bahkan seluruh Flores,” jelasnya.

Ia menegaskan pentingnya membangun lumbung data Tananua sebagai pusat pengetahuan dan dokumentasi bersama.

Dari sisi pembina, Bapak Flavianus Senda menegaskan bahwa proses Renstra kali ini sangat berkesan karena dimulai dari refleksi akar permasalahan dan dilandasi semangat kebersamaan.

“Saya menemukan Renstra yang luar biasa, karena dibangun dari akar dan cara pandang yang menyatukan perbedaan. Saya yakin Tananua telah banyak berbuat bagi masyarakat. Renstra adalah kesepakatan bersama untuk mencapai tujuan bersama. Jika sudah ditulis, kita harus berani melakukannya,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para fasilitator yang telah memimpin diskusi dengan baik, saya secara pribadi mengakui bahwa pengalaman bersama Tananua telah menjadi proses pembelajaran dan bahkan pertobatan pribadi.

Melalui seluruh proses panjang ini, Renstra Tananua 2025 bukan hanya sekadar dokumen strategis, tetapi juga cermin semangat kolaborasi, refleksi mendalam, dan komitmen bersama untuk membawa perubahan nyata bagi masyarakat. Dengan dukungan pembina, pengurus, pengawas, dan mitra seperti Menjadi, Tananua siap melangkah menuju masa depan yang lebih kuat dan berdaya Saing.***Jhuan

Renstra Tananua 2025: Momentum Pembaruan dan Semangat Kolektif untuk Bergerak Maju Read More »

Belajar Pertanian Organik di Tou Barat: Tantangan dan Solusi

Ende, Kota Baru – Tananua Flores. Desa Tou Barat, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Ende, menjadi tuan rumah kegiatan kunjungan belajar pertanian organik dan cerdas iklim pada 21–22 Agustus 2025. Dengan mengusung tema “Berbagi Itu Asik dan Lestari Sambil Bermesraan dengan Alam”, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar langsung bagi para petani setempat.

Dari sharing pembelajaran dapat disimpulkan bahwa sebagian besar warga Tou Barat menggantungkan hidup pada kebun kakao, tanaman pangan, dan hortikultura. Lahan mereka masih subur, namun mulai terancam akibat praktik pertanian intensif pada masa lalu. Kegiatan ini dinilai relevan untuk membangun kesadaran baru tentang cara bertani yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kepala Desa Tou Barat, Frans Seda, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran petani.

“Pejabat bisa berganti, tapi petani selalu hadir memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh umat manusia,” ujarnya.

Menurutnya, profesi petani merupakan panggilan hidup yang mulia dan perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak.

Tantangan Perubahan Iklim

Manajer Program Tananua Flores, Heribertus Se, menyoroti persoalan perubahan iklim yang semakin nyata. Ia menyebut ketidakpastian musim, kekeringan, banjir, dan serangan hama sebagai tantangan besar yang dihadapi petani saat ini.

“Pertanian cerdas iklim bukan pilihan, melainkan keharusan. Desa Tou Barat punya kekuatan khas. Dengan belajar bersama, kita bisa melahirkan inovasi yang relevan bagi masa depan,” jelasnya.

Heribertus juga mendorong keberanian petani untuk saling berbagi pengalaman. Menurutnya, berbagi merupakan jalan menuju kekuatan bersama dalam menghadapi tantangan pertanian.

Kegiatan belajar pertanian organik di isi dengan materi-materi ini yang merupakan kehidupan dunia pertanian antara teori, Praktik dan juga refleksi pengalaman dari masing-masing individu. Dalam Sesi inti ini dibawakan oleh Benyamin, praktisi pertanian organik. Ia memaparkan lima strategi penting:

  1. Menggunakan varietas unggul tahan iklim ekstrim.
  2. Melakukan pemupukan berimbang dengan pupuk organik.
  3. Mengelola sumber daya air secara bijak.
  4. Mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia dengan ramuan alami.
  5. Melakukan diversifikasi tanaman untuk menjaga ketahanan ekonomi keluarga.

Peserta menilai materi tersebut tidak hanya sebatas teori, tetapi langsung menyentuh realitas kehidupan mereka sehari-hari.

Jaga Tanah Leluhur

Di akhir kegiatan, Heribertus mengingatkan pentingnya menjaga tanah dan air dari ancaman proyek besar yang merusak lingkungan.

“Tuhan titipkan tanah ini untuk dikelola dengan baik. Mari kita jaga tanah leluhur dari proyek multinasional yang merusak lingkungan,” katanya.

Kepala Desa Frans Seda menambahkan pesan kuat kepada masyarakatnya.

“Orang luar saja mau belajar di desa ini. Masa kita, masyarakat sendiri, menyia-nyiakan pengetahuan yang kita miliki? Mari kita kembangkan, demi anak cucu, demi tanah leluhur kita, demi bangsa,” tegasnya.

Kunjungan belajar di Tou Barat bukan sekadar pertemuan singkat, melainkan proses membangun kesadaran bersama. Kegiatan ini menekankan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil: menanam pohon, merawat tanah, berbagi pengalaman, dan mencintai kebun. Tou Barat kini memiliki cerita baru. Dari desa kecil dengan infrastruktur terbatas, ia tumbuh menjadi ruang pembelajaran bagi banyak orang. Dari petani sederhana, lahir guru kehidupan yang menyalakan harapan untuk masa depan pertanian yang lebih hijau, adil, dan lestari.

Ditulis : HS

Belajar Pertanian Organik di Tou Barat: Tantangan dan Solusi Read More »

Menjaga Laut, Menjaga Masa Depan: Sosialisasi Perdes Pemanfaatan Sumber daya Pesisir Berbasis Kearifan Lokal di Kotodirumali

Negekeo Kotodirumali, Tananua Flores | Pemerintah Desa Kotodirumali menyelenggarakan kegiatan sosialisasi Peraturan Desa Nomor 1 Tahun 2025 tentang Pemanfaatan Ruang Laut dan Perlindungan Ekosistem Wilayah Pesisir selama dua hari, yakni pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 1–2 Agustus 2025. Kegiatan ini berlangsung di Dusun A dan Dusun D, dan akan dilanjutkan di dua dusun lainnya.

Kegiatan ini difasilitasi oleh para Kepala Dusun, Ketua RT dan RW setempat, serta turut melibatkan mahasiswa Universitas Flores yang sedang menjalankan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Kotodirumali. Sosialisasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya para nelayan, tentang pentingnya menjaga ekosistem laut demi keberlanjutan sumber daya alam desa.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Kotodirumali, Bapak Maternus Ma’u, menyampaikan bahwa Peraturan Desa ini merupakan langkah penting dalam menjaga kelestarian lingkungan laut di wilayah desa. Beliau mengimbau seluruh masyarakat, khususnya para nelayan, untuk menaati aturan tersebut dan bersama-sama mencegah segala bentuk pelanggaran yang dapat merusak ekosistem laut, seperti penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan, bom ikan, maupun racun seperti potasium.

Ketua BPD, Yohanes Donbosko, menambahkan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga laut sebagai sumber kehidupan. Ia juga menyarankan agar pemerintah desa menyurati desa-desa tetangga agar turut menghormati dan mendukung pelaksanaan peraturan ini demi kebaikan bersama.

Regulasi untuk Melindungi Masa Depan

Perwakilan dari Yayasan Tananua, Yulius Fanus Mari, dalam penjelasannya menyatakan bahwa Perdes ini adalah regulasi progresif yang lahir dari kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan. Menurutnya, apa yang dilakukan masyarakat hari ini adalah investasi untuk masa depan anak cucu. Ia menegaskan bahwa pemanfaatan sumber daya pesisir harus dilakukan secara bijak dan berbasis nilai-nilai lokal.

Dalam penjelasannya perluh mengacu pada Pasal 5 Peraturan Desa, tentang Desa memiliki wewenang yakni:

  • Menerbitkan keputusan kepala desa sebagai turunan dari Peraturan Desa;
  • Memfasilitasi perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya berbasis masyarakat;
  • Menyelesaikan sengketa pengelolaan wilayah pesisir di luar jalur pengadilan;
  • Memberdayakan masyarakat dan kelompok pemanfaat melalui alokasi dana dan fasilitasi berbasis kearifan lokal;
  • Mengajukan pertimbangan pengelolaan berbasis kearifan lokal kepada tokoh masyarakat, agama, dan instansi terkait.

Ia juga menambahkan, Pemerintah Desa juga dapat menyusun perencanaan kawasan, menyusun kebijakan pelestarian dan pendokumentasian kawasan. Dalam perdes pada Pasal 6 dan 7 menyebutkan bahwa kawasan pemanfaatan meliputi wilayah laut dan pesisir, termasuk terumbu karang dan padang lamun yang berada dalam wilayah administratif Desa Kotodirumali. Adapun Pasal 8 secara tegas melarang: Penggunaan bom atau racun untuk menangkap ikan,Pembuangan sampah di laut atau pesisir,Pengambilan batu karang, pasir, atau batu laut.

Kegiatan sosialisasi ini menjadi tonggak penting bagi Desa Kotodirumali untuk memperkuat kesadaran bersama dalam pengelolaan sumber daya pesisir secara adil, lestari, dan berbasis nilai-nilai lokal. Pemerintah desa berharap, seluruh elemen masyarakat mampu menjadi pelindung utama ekosistem laut demi kesejahteraan bersama kini dan masa depan***

Kontributor : Nelson

Editor : JF(Redaksi Tananua)

Menjaga Laut, Menjaga Masa Depan: Sosialisasi Perdes Pemanfaatan Sumber daya Pesisir Berbasis Kearifan Lokal di Kotodirumali Read More »

Translate »