Petani dan Nelayan harus menjadi Subyek dalam menjalan program Penghidupan berkelanjutan

Ende, Tananua Flores  | Petani dan Nelayan harus menjadi subyek dalam menjalankan Program Penghidupan berkelanjutan di desa. Sebab Program yang ada di desa itu berawal dari potensi yang ada di desa. Agar tidak terjadi tumpang tindih program Tananua dan Program Desa maka perlu ada sinergisitas antar program.

Hal tersebut disampaikan Bernadus Sambut, Direktur Yayasan Tananua Flores dalam sambutannya pada Kegiatan  Lokakarya terkait dengan Sinergisitas Program Tananua dan Program Desa di Aula Bina Kerahiman Ilahi jalan Wirajaya Ende pada kamis 10/02/2022.

Menurutnya bahwa dari pengalaman Yayasan Tananua selama  32 tahun  dalam implementasi program di desa seringkali dianggap sebagai programnya Tananua Flores, begitu pun sebaliknya kegiatan yang difasilitasi Tananua Flores dipikir itu program desa, sehingga hal ini menimbulkan terjadinya tumpang tindih program atau ego antar Program. Selain itu juga selama ini kebanyak pelaksanaan Program Petani ataupun nelayan  di posisi pelaksana sebagai obyek bukan sebagai Subyek sehingga banyak keterlibatan sangat kurang dan rasa memiliki terhadap program sangat sedikit.

“Padahal kalau mau dilihat tujuannya sama yaitu untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kalau tujuannya untuk kesejahteraan masyarakat, mengapa tidak disinergikan saja,  atau mengapa rasa memiliki terhadap program itu sangat sedikit,”kata Bernadus

Lanjut dia “Kedepannya kita harus mensinergiskan program ini dengan pola pendekatan masyarakat petani dan nelayan harus menjadi subyek dalam menjalankan Program sehingga merekapu mempunyai rasa memiliki”, tuturnya.

Melihat tantangan dan potensi di atas maka Yayasan Tananua Flores sangat mengharapkan bahwa kegiatan- kegiatan yang direncanakan bersama masyarakat yang ada dalam Program kerja Yayasan Tananua Flores, juga menjadi bagian dalam perencanaan desa yang akan tertuang dalam RPJMDes dan kesepakatan kerja antara Yayasan Tananua Flores dengan Pemerintah Desa.

Kegiatan tersebut di hadiri oleh utusan Perwakilan Pemerintah kecamatan di desa dampingan Tananua, Pemerintah Desa, Dinas dan SKPD terkait, BPD , Pemerintah kecamatan kabupaten Nagekeo, pemerintah desa di kabupaten Nagekeo dan Staf Tananua Flores.

Sementara itu Saiful mengatakan  bahwa  melalui  otonomi desa, pemerintah  desa bisa bekerjasama dengan  pihak manapun sesuai dengan  potensi  yang  ada di desa. Namun kerja sama itu harus dilakukan sesuai dengan regulasi.

Kata Syaiful, Proses pendampingan  oleh  Yayasan Tananua Flores dalam melakukan kerja-kerja   dan pemberdayaan di desa sangat bagus karena sesuai dengan potensi yang dimiliki desa itu. Dinas PMD kabupaten Ende sangat mendukung  program  pendampingan yang di lakukan oleh Yayasan  Tananua karena  program tersebut berpijak pada potensi  yang desa miliki.

“Jangan hanya 32 desa tetapi  bisa dilakukan  di ratusan desa di Kabupaten Ende karena desa- desa membutuhkan proses  pendampingan seperti yang dilakukan oleh  Tananua Flores,” katanya.

Syaiful juga mengatakan terkait dengan sinergitas program, Yayasan Tananua Flores sebagai lembaga penyedia jasa layanan teknis juga sudah dilibatkan dalam kegiatan Musrenbang.

Lukas lawa kepala desa Golulada ketika menyampaikan testimoni  kerja Pendampingan Tananua Flores di desa golulada, menuturkan bahwa  kerja pendampingan sangat baik artinya mendamping kelompok petani di desa, kelompok ibu-ibu dasawisma terkait peningkatan ekonomi keluarga, kesehatan dan desa golulada sudah mendapatkan hasilnya.

“Kerja pendampingan tananua sangat baik dan pendampingnya tinggal bersama masyarakat di desa sehingga sentuhan pendampingan itu benar-benar dirasakan petani di desa”tuturnya

Saat ini  pemerintah Desa harus berani membuka diri untuk berkeja sama dengan mitra luar untuk pembangunan masyarakat desa.

Kata Lukas  bahwa Regulasi tidak membatasi untuk bermintra dengan siapa pun,hal ini tergantung keberania dari pemerintah desa saja untuk membangun kerja sama dengan lembaga –lembaga luar.

Kegiatan lokakarya tersebut di akhiri dengan penandatangan berita acara kesepakatan bersama yang di tanda tangani oleh perwakilan pemerintah kecamatan, Desa, BPD dan SKPD dan Tananua.

Berikut Poin-poin yang tertuang dalam berita acara kesepakatan bersama

Pertama, Siap mendukung, bekerja sama dan bersinergi secara sistemik dengan Yayasan Tananua Flores dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat yang selaras dengan program-program pembangunan Desa.

Kedua, Bersedia mengalokasikan dana untuk program sesuai kebutuhan petani dan nelayan.

Ketiga,Ikut bertanggungjawab atas program-program yang difasilitasi oleh Yayasan Tananua Flores maupun lembaga mitra lainnya untuk kemajuan masyarakat dan Desa

Ke Empat,Siap berkolaborasi dan berbagi peran bersama Yayasan Tananua Flores dalam program-program pemberdayaan petani, nelayan, kaum muda dan perempuan.

Ke Lima, Bersedia mengembangkan koordinasi dan komunikasi yang efektif serta efisien dengan Yayasan Tananua Flores dan mitra lain demi kemajuan pembangunan Desa

Oleh  : Jhuan Mari

 

 

 

Petani dan Nelayan harus menjadi Subyek dalam menjalan program Penghidupan berkelanjutan Read More »

Meraup Jutaan Rupiah hanya menjadi seorang Petani

  • Profesi petani merupakan profesi yang mulia karena petani mampu merawat bumi dan memberi makan bagi bilion manusia dimuka bumi ini.
  • Petani merupakan tokoh penting dalam memainkan peran dalam mengelola bumi/tanah karena dia yang berhubungan langsung dengan habitat hidup semua makluk hidup.
  • Hasil-hasil yang berasal dari kebun para petani berdampak pada pemenuhan kebutuhan pokok atau utama dalam membangun peradaban manusia dan relasi hidup manusia dengan alam dan penciptanya.

Realitas berbicara bagi kebanyakan orang dimuka bumi ini berpendapat dan berpandangan bahwasannya profesi petani sebagai profesi yang kotor, tidak beruntung dan tidak seksi untuk gauli/digeluti. Orang yang berprofesi sebagai petani adalah orang- orang yang tidak beruntung. Cara pandang ini membuat kebanyakan generasi muda bermigrasi ke kota dan tidak tertarik dengan profesi Petani.

Seorang petani muda bernama Emanuel mari (39) tahun yang berasal dari desa Numba kecamatan wewaria, Kabupaten Ende dalam keseharian hidup bersama keluarganya berjuang dan menapaki hidup dengan merawat kebun demi mendapatkan hasil untuk memunuhi kebutuhan hidup keluargannya. Seperti petani pada umumnya pergi kerja pagi pagi dan pulang hampir malam dengan kayu seikat dibahu parang bersarung dipinggang, pisang, ubi dan sayuran ditas yang terbuat dari karung platik. Rutinitas biasa masyarakat petani desa Numba teringat akan adegium klasik orang Lio “Poa no’o koka nai no’o manu, nugu raka bupu tau paga Fai No’o ana” atinya pergi pagi pulang malam kerja sampai mati untuk menghidupkan istri dan anak”.

Dalam perjalanan pendampingan Tananua Flores di desa Numba berjumpah dengan petani Bernama Emanuel Mari yang bercerita tetang pengelaman hidupnya pergi merantau sebanyak dua kali untuk mencari uang di Malaysia,  di tahun 2010 yang pulang dan tinggal dikampung bergabung dengan kelompok tani dan mulai tanam kopi dan kakao. Dengan sangat antusias Eman Mari atau Igen akrabnya dikalangan pemuda kampung bercerita yang disertai dengan pertanyaan pertanyaan yang membuat diskusi makin alot dan seru untuk menggali pengelaman hidupnya. Dalam beberapa kesepatan ceritanya kami berinteraksi dengan menjelaskan kisah kisah sukses beberapa petani dapingan terdahulu dalam merawat kebun samapai pada hasil usahaa tani dari berbagai jenis tanaman mengalami peningkatan produksinya. Tentu ini hanyalah kisah cerita petani lain di desa petani lain tersirat diraut wajanya tentu harus dibuktikan dengan kerja nyata bersama petani benama Eman ini.

Bersama perjalanan waktu pendampingan, tahun 2015 Tananua Flores menyelenggarakan kegiatan bersama petani dampingan dari 23 Desa dampingan Tananua Flores. Pendamping Lapangan diwajibkan hadir bersama beberapa petani dari Desa dampingan untuk mengikuti kegiatan forum Petani Kebupaten yang berlokasi Didesa Wolosambi Kecamatan Lio Timur Kabupaten Ende. Forum ini sebagai ajang Evaluasi dan sharing pengetahuan dan pengelaman petani sekebupaten Ende yang difasilitasi oleh petani bersama Tananua Flores. Dengan kesempatan ini Emanuel hadir tanpa ada misi khusus tapi ia mengatakan “saya coba dan ikut-ikut saja” serta belum tau apa tujuan ikut kegiatan itu. Eman Mari petani Energik dan berberapa petani melewati semua proses kegiatan diselenggarakan selama 3 hari efektif dengan berbagai cerita.

Inisiatif dan antusia para petani dalam proses kegiatan selama 3 hari yang mewakili petani dari desa Numba untuk mengevaluasi Kegiatan bersama Tananua Flores selama 6 bulan dimasing masing desa; Pelatihan Ternak; Pelatihan Penguatan Kapasitas Kader dan Praktek Lapangan /Kunjungan Lapangan dikebun kakao memberikan harapan bagi pendamping yang bertugas di Desa tersebut.

Semua peserta berkesempatan berbagi pengetahuan dan mendapat pengetahuan dan keterampilan baru mulai aktif dan kreatif berbagi dan bercertia dengan petani lainnya. Dan menjadi tantangan pasca Forum Petani itu ada juga petani yang dengan pertimbangan dan perhitungan tertentu mulai mudur karena melepaskan pekerjaan dan  ada beberapa narasi penolakan yang muncul setelah kegiatan berakhir.

Sabtu 10/8/2015 Eman Mari petani muda pemiliki kebun kakao mengundang Pendamping Tananua Flores berkunjunga ke kebun miliknya. Bersama Eman dan istrinya kami menyusuri lembah dan bukit menuju kebun yang berjarak kurang lebih 1500 meter dari rumah pemukiman Desa. Sambil bercerita dan bercanda berbagai kisah perjalanan hidup tidak terasa lelah dan haus kami sampai dikebun tujuan Ae Lemo.

Ae lemo lokasi hamparan pertanian dan perkebunan warga desa diantarannya kebun Emanuel yang terisi dengan berbagai jenis tanaman seperti kakao, kopi, kemiri, marica, pinang, vanili, Lombok, talas, tetapi yang menjadi tanaman dominannya adalah kopi dan kakao. Namun Kondisi kebunnya tidak diatur dan belum dirawat secara baik sebagai mana standard kebun wanatani yang diatur dirawat dengan pemangkasan, dan Pengolahan lahan, sanitasi dan pemupukan serta pengelolaan kebun yang selaras alam/organic.

Petani Kelahiran 1980an mengajak ke pondok lalau bertanya “menurut ame/bapak   Apa yang harus dibuat dengan kebun ini? Dengan senyaum dan santai pendamping Tananua menjawab harus “dirubah”, saya bisa mendampingi untuk merubah ini sampai jadi dan mendapatkan hasil yang banyak. tergantung Eman saja mau atau tidak? tegasnya. Karena semua ini harus bermula dari kemaun dan Komitmen serta kerja keras dan sungguh sungguh untuk merawat secara intens dengan teknologi pertanian yang selaras alam Pemangkasan, Pemupukan, Panen Sering dan Sanitasi (P3S), rehabilitasi, Pergantian Klon/Bibit unggul serta Konsevasi Tanah dan air (Pembuatan Teras, Rorak/Jebakan air, pengembangan Tanaman selah seperti keladi, sereh, Porang dan Pisang untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Kita bersama akan melakukan menggunakan teknologi dan praktek praktek praktis lungsung dikebun agar lebih focus dan berkelanjutan. Semangat kerja dan keseringan kunjungan kebun menjadi kunci utama kata pendampign Tananua Flores. Kita akan merubah kebun ini menjadi kebun impian keluarga dan tempat wisata serta tempat penyelesai masalah dalam keluarga Eman bersama Istri. Pada saat itu juga dikebun kami berkomitmen untuk menjadikan kebun ini sebagai kebun contoh dan uji terap teknologi pertanian organic yang rama akan lingkungan dan pemilik kebun.

Rawat kebun.

Kegiatan kelompok tani sa ate satu terbentuk pada tahun 2014 beranggotakan 17 orang dengan jumlah perempuan 2 dan Laki-laki 15. Kelompok ini melakukan kegiatan Gaga Gili/ kerja bergilir dikebun anggota kelompok. Melalui akativitas dalam kelompok lahirlah beberapa kesepakatan kesepakatan dan program kerja kelompok untuk membantu sesame anggota kelompok dengan prinsip “ yang ada membantu yang tidak ada dan yang mampu membantu yang tidak mampu”.

Melalui semangat hidup berkelompok ini kreatifitas dan inisiatif mulai muncul untuk melihat kekuatan sumberdaya (potensi-potensi; peluang-peluang kerjasama dan pengembangan potensi lainnya). Maka bersama berjalannya waktu kelompok ini mulai menemukan mimpi bersama mereka untuk mengembangkan potensi unggulan yaitu komoditi kakao dan kopi. Dari hasil pengembangan dan juga pendampingan kelompok tani yang dilalukan ada telihat ada sebuah perubahan cara berpikir cara berindak tetang dunia kehidupan petani. Karena dari sekian banyak petani yang dilatih dan didampingi ada satu orang petani yang dengan kesungguhan hati melihat proses ini sebagai gerakan perubahan yaitu Emanuel mari (39) tahun.

Petani yang akrab disapa Igen Jui petani seusianya memulai gerakan merawat kebun yang baik dengan tahapan Penyedian benih, persiapan Lubang, Persiapan Pupuk, Penanaman anakan, Perawatan dengan teknologi teknologi yang sudah dilatih dan dipraktekan bersama dalam kelompok tani Sa Ate I seperti P3S (Pemangkasan; Pemupukan; Panen sering; sanitasi; Pengendalian hama dan penyakit;) dan teknologi lainnya dicoba dan dipraktik serta aplikasi sacara rutin. Hal ini dibuktikan Eman Mari mengatakan “hasil panen tahun 2017 dari komoditi kakao dan kopi meningkat, ia mendapatkan hasil panen raya buah kakao pada bulan 6-7 berjumlah 517kg berat bersih  dari total 83 pohon kakao produktif, jika dinominalkan dalam angkah uang kurang lebih Rp. 12.925.000 (dua belas juta Sembilan ratus dua puluh lima ribu rupiah) dengan harga @Rp 25.000/kg dan saya memperbaiki rumah dan saya sangat bangga dengan hasil ini tandasnya dengan sunyumannya yang khas.

hasil panen ini membuat saya menjadi bahan cerita warga setempat dan ada warga tani secara sembunyi sembunyi mereka masuk ke kebun saya untuk melihat apa yang saya kerjakan jika saya tidak ada dikebun kata Eman. Peristiwa kunjungan kekebun bpk eman sampai saat ini terus dilakukan oleh warga tani yang ingin mencari tau apa yang dilakukan oleh bpk eman.

Rasa keingintahuan dari warga tani ini membuat Eman mulai memikirkan bagaiman cara untuk berbagi informasi dan cerita sukses bertani dikebun kakao dan kopi dengan pendekatan pertanian yang selaras alami. Keberhasilan usaha pengelolaan kebun yang dibuat Eman bersama kelompok tani Sa Ate I ditanggap oleh Pemerintah dengan menyelenggarakan forum Koptan ditingkat desa Numba dengan  Eman bersama Pengurus Kelompok Tani Sa Ate 1 sebagai Informen/Narasumber untuk bercerita tentang keberhasilan Kelompok dan pengelolaan kebun usaha tani khususnya Kakao dan kopi dengan Teknologi pertanian selaras alam/organik.  Atas dasar apresiasi dan dukungan Pemerintah setempat Kelompok tani Sa ate satu diberi penghargaan dengan mendapatkan bantuan SAPRODI dan kunjungan belajar serta anakan kakao unggul dari pemerintah setempat.

Keberhasilan kelompok Tani Sa Ate 1 dan Eman Mari memotivasi dan mendorong kelompok tani lain dan semua warga desa kembali mengembangkan komoditi kopi dan kakao secara kelompok dan juga individu serta mulai merawat kebun dengan pertanian selaras alam/organik. Kader pertanian asal Kelompok Sa Ate 1 ini menjadi petani Trampil yang selalu diundang dari kebun ke kebun warga untuk melatih dan melakukan praktek bersama petani. Semangat berbagi ini menjadikan kelompok tani sa ate dan Eman Mari sebagai Kader Pertanian kelompok diakui di Desa Oleh pemerintah Desa dengan member SK kepada Kelompok Tani dan EMAN MARI sebagai Kader Pertanian Desa.

Kini Eman sebagai Kader pertanian dan Kelompok Sa Ate telah mendapatkan emas hijau untuk saling menghidupkan diantara petani dari komoditi kakao dan kopi berbasis pangan dan rempah rempah. Kelompok Tani dan Eman berkewajiban untuk mempertahankan dan terus mengembangkan pengembangan pertanian yang selaras alam dengan kelompok tani sebagai wadah untuk belajar bersama, bekerja bersama dan usaha bersama untuk kualitas, kuantitas dan kontinuitas hidup para petani dan usaha tani. Petani hebat, kebun terawat, lingkungan lestari, “Merawat bumi memelihara kehidupan” *****HSLikaLapu****

Meraup Jutaan Rupiah hanya menjadi seorang Petani Read More »

Sebanyak 25 orang Nelayan Gurita Ende dan Nagekeo Ikut pelatihan Keselamatan laut di Maumere

MAUMERE, Tananua Flores | Sebanyak 25 orang nelayan Gurita yang berasal dari kabupaten Nagekeo dan Ende mengikuti pelatihan keselamatan dilaut yang bertempat di pangkalan TNI angkatan Laut Maumere . Dalam melaksanakan Pelatihan tersebut Tananua Flores menggandeng TNI Angkatan Laut Pangkalan Maumere.
Pelatihan itu di gelar selama tiga hari yakni sejak Senin (17/1/2022) hingga Rabu (19/1/2022) di Aula Serbaguna Pangkalan TNI Angkatan Laut Maumere dan praktek lapangan di sekitar perairan dermaga tambat Pangkalan TNI AL Maumere.

25 orang Peserta yang mengikuti pelatihan ini adalah utusan nelayan dampingan Tananua Flores mulai dari kecamatan Nangaroro Kabupaten Nagekeo Sebanyak 5 orang dan Kabupaten Ende sebanyak 20 orang. Dengan rincian Ndori 5 orang, kotodirumali 5 orang, Arubara 5 orang dan maurongga 3 orang dan sisanya adalah staft tananua flores sebanyak 7 orang yang terdiri dari pak direktur, koordinator program, 1 orang keuangan dan 4 staff lapangan.

Bernadus Sambut Direktur Tananua Flores di Pangkalan TNI AL Maumere saat diwawancarai media pada Selasa (18/1/2022) mengatakan Yayasan Tananua Flores hadir di pulau Flores khususnya kabupaten Ende sejak tahun 1989 dengan isu utama program adalah pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat dengan pendekatan program lingkungan lestari masyarakat sejahtera melalui program pertanian berkelanjutan, kesehatan primer, organisasi petani dan ekonomi kerakyatan untuk daerah hulu dan sejak tahun 2019 untuk masyarakat pesisir dengan isu Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) dengan pintu masuknya adalah pendampingan terhadap nelayan gurita.

Menurutnya bahwa Saat ini Program Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan dengan fokus pendampingan pada 4 site yakni (1) Lingkungan Arubara Kelurahan Tetandara Kecamatan Ende Selatan, (2) Desa Persiapan Maurongga Kecamatan Nangapanda, (3) Ndori untuk desa Maubasa, maubasa Timur, dan Serandori Kecamatan Ndori, di kabupaten Ende dan (4) Nangaroro untuk desa Podenura, Tonggo kecamatan Nangaroro dan Kotodirumali kecamatan Keo Tengah di Kabupaten Nagekeo.

“Kegiatan utama yang dilakukan adalah pendampingan nelayan gurita dan pendataan gurita, feedback data, penutupan sementara area penangkapan gurita sebagai upaya untuk konservasi laut selain itu untuk masyarakat pesisir Tananua Flores juga bekerja di bidang, kesehatan yaitu pendampingan posyandu, pendampingan kelompok ibu”, ungkap Nadus.

Dikatakan Nadus tekanan utama program adalah pemberdayaan masyarakat dengan peningkatan sumber daya manusia khususnya para nelayan. Dan masalah utama yang dialami oleh masyarakat pesisir dan para nelayan pada umumnya terutama nelayan gurita adalah kurangnya perhatian dari Pemerintah dan juga program-program pemberdayaan dalam peningkatan kesejahteraan para nelayan.

Lanjut dia, Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan nelayan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan terutama dalam menjaga kelestarian ekosistem laut serta keselamatan dirinya saat melaut. Yang terpenting bagi nelayan memiliki perlatan tangkap seadanya untuk menangkap ikan maupun gurita sebagai sumber pendapatan.

“ Terkait dengan kelestarian ekosistem laut kami telah melakukan beberapa pelatihan dan pendampingan dengan melibatkan mitra, dan saat ini sudah mulai muncul kesadaran kritis masyarakat untuk menjaganya. Namun untuk persoalan keselamatan nelayan dilaut dari gelombang atau badai ekstrim, kerusakan perahu ditengah laut, serangan ikan buas dan atau yang lainnya yang berpengaruh atas nyawa mereka, hal ini belum dimiliki masyarakat, nelayan dan menjadi satu kebutuhan penting bagi mereka,” Ujarnya

Dan Lebih jauh tujuan dari pelatihan keselamatan laut adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan nelayan dalam upaya melakukan keselamatan diri dan sesama nelayan dilaut saat musibah tak terduga datang.
Sementara itu Danlanal Maumere, Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi, M.Tr.Hanla,MM,CTMP, kepada media ini beliau mengapresiasi kepada Yayasan Tananua Flores yang telah berinisiatif untuk menjalin kerja sama dengan menggandeng lanal Maumere dalam kegiatan pelatihan keselamatan laut bagi para nelayan gurita di wilayah dampingannya.

Tentunya kami akan memberikan pelatihan baik teori maupun praktek sesuai dengan pengetahuan yang kami miliki.

“Materi-materi yang kami berikan berupa teori pembekalan pelatihan keselamatan dilaut, Sea Survival, Rescue, pembentukan tim persiapan praktek. Sedangkan materi prakteknya adalah Sea Survival: renang tanpa alpung, cara buat alpung sendiri, Rescue: naik turun Perahu Karet, cara mendekati korban,cara tolong korban, bela diri di air, P3K, Dayung Pk dump boat, Kajul, FMP (Full Mission Profile), Pembuatan rumah ikan/rumpon”, ungkap Dwi Yoga.

Selanjutnya Pius Jodho Koordinator bidang kelautan pada Yayasan Tananua Flores Menyampaikan terimakasih kepada Lanal Maumere yang telah memfasilitasi kegiatan pelatihan keselamatan laut bagi para nelayan gurita dibawah dampingan Yayasan Tananua Flores ini.

Pius juga berharap semoga dengan pelatihan ini dapat memberikan ilmu dan pengetahuan baru ketika mereka mengalami bahaya dilaut, mereka dapat melakukan pertolongan pertama dan untuk mengatasi kecelakaan di laut.
Semoga kerja sama ini kata Pius akan terus berlanjut dengan pihak Lanal Maumere dan juga pemerintah dalam hal memberikan edukasi yang baik kepada para nelayan gurita untuk kelangsungan hidup mereka,”ucap dia. ( Laurens)

Sebanyak 25 orang Nelayan Gurita Ende dan Nagekeo Ikut pelatihan Keselamatan laut di Maumere Read More »

Program Penghidupan berkelanjutan  menjadi issu Utama dalam Kerja sama Tananua Flores dan Misereor Jerman

Ende, Tananua Flores, | Tananua Flores di akhir tahun 2021 gelar jumpah Pers terkait program kerja sama dengan Misereor Jerman yang rencananya akan di laksanakan di tahun 2022 mendatang. Dalam Program kerja sama tersebut Issu yang di angkat adalah  Penghidupan Berkelanjutan Daerah Hulu kabupaten Ende.

Di desa Nanganesa, kecamatan Ndona kabupaten Ende tepatnya di Mbu’u beach pada (22/12)Tananua Flores gelar jumpah Pers

Bernadus Sambut  direktur Tananua dalam jumpa pers  tersebut mengatakan Yayasan Tananua Flores mendampingi masyarakat dengan issu  utama adalah pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat, dengan visi lingkungan Lestari, masyarakat sejahtera.

Direktur  juga menyebutkan issu dan visi tersebut dikemas dalam  sebuah pendekatan”Uma Sao Rega”. Sebuah pendekatan yang menjadi pijakan dan Prinsip Tananua dalam melakukan pendampingan kepada masyarakat di wilayah dampingannya.

“Pendekatan dan konsep Uma Sao Rega yang kami lakukan maka melahirkan 4 program utama yaitu Organisasi Petani, pertanian berkelanjutan, ekonomi kerakyatan, dan kesehatan Primer”, katanya.

Bernadus menjelaskan sampai saat ini desa yang Tananua damping dengan  program Penghidupan berkelanjutan sebanyak 23 desa di 8 kecamatan  wilayah kabupaten Ende. Sedangkan di program kelautan dan perikanan ada 6 desa yang tersebar di 5 kecamatan di 2 kabupaten yaitu Nagekeo dan Ende. Jumlah penerima manfaat langsung sebanyak 1995 orang di program pertanian, ada sebanyak 150 kelompok, 350 kader Pembangunan Desa dan ada 15 BUMDES yang di dampingi staf lapangan Tananua.

Jumpah pers juga dalam rangkah memberitahukan kepada publik sebagai bagian dalam proses pengawasan.

” Kami Tananua Flores di awal tahun  2022 dengan program baru ini, apa yang di kerjakan Tananua harus publik atau masyarakat di kabupaten Ende bisa mengetahuinya”,kata Bernadus

Lanjut Dia bahwa dengan diselenggaran jumpah Pers ini kita menyadari bahwa dengan program kerjasama harus butuh pengawasan dari masyarakat selain lembaga-lembaga pengawasan yang ada.

Menjawab pertanyaan wartawan, mengapa program Penghidupan berkelanjutan harus memilih desa-desa yang ada di hulu?

Hironimus Pala menjelaskan bahwa masyarakat desa yang ada di hulu masih banyak membutuhkan pendampingan secara rutin sebab, di hulu seluruh akses pengetahuan dan pembangunan masih sangat sulit.

Kedepannya Program yang akan dijalankan ke desa dampingan Tananua terdiri dari program petani berkelanjutan, kesehatan primer, organisasi petani dan konservasi lingkungan hidup.

Menurutnya bahwa sejak 32 tahun di hulu tempatnya memang jauh dari kota, dan berada di wilayah pedalaman. Semua sumber informasi sulit di jangkau, pengetahuan juga terbatas.

Dijelaskannya praktek kerja untuk penghidupan berkelanjutan yang di lakukan petani di hulu sangat terbatas dan yang di kerjakan sekarang masih praktek kerja warisan dari orang tua mereka. Praktek kerja juga masih juga sangat tradisional dan itu membuat peningkatan pada taraf hidup akan sangat lamban.

” Kami damping desa yang ada di hulu karena disana praktek kerja masih sangat manual masih mengikuti warisan orang tua terdahulu, lalu sumber benih pangan masih sangat tersedia “, ungkap Nimus.

Selain itu, Nimus pala juga menyampaikan dari data yang ada kabupaten Ende ada puluhan desa yang rentan terhadap persoalan pangan. Dan dari data tersebut sebanyak 13 desa yang rentan terhadap persoalan pangan.

” 13 desa yang sangat rentan dengan persoalan pangan dan dari desa itu salah satu juga ada di desa dampingan Tananua dan juga di luar desa dampingan”, ungkap Nimus.

Untuk membiayai program yang direncanakan selama 3 tahun yang akan datang Halima Tus’dyah menjelaskan untuk program kerjasama Tananua dan Misereor Jerman yang baru ini terdiri dari beberapa sumber pendanaan. Pertama, dana sebesar euro 100,000 dari Misereor, dana sebesar euro 215,000 dari pemerintah Jerman dan dana dari Tananua sebesar euro 15.000.

Dengan besar dana ini akan membiaya seluruh kerja-kerja program yang telah di sepakati.

” Tananua berkomitmen untuk selalu membangun kerja sama dan berkolaborasi bersama pemerintah setempat agar bisa bersama mewujudkan tujuan dari program”, Tutup Halimah.

Program Penghidupan berkelanjutan  menjadi issu Utama dalam Kerja sama Tananua Flores dan Misereor Jerman Read More »

Buka Lowongan Kerja sampai dengan 22 Desember 2021

Pengumuman  Lowongan Kerja

Di tujukan Kepada Seluruh Pencari Kerja di mana saja berada.

Isi Pengumuman :

Disampaikan bahwa Yayasan Tananua Flores  Sedang Membuka Lowongan Kerja pada Posisi “ Staf Administrasi dan Komunikasi Bahasa Inggris ”

Syarat Umum

  1. Pendidikan Minimal S1, Bahasa Inggris
  2. Umur maksimal 35 Tahun
  3. Menguasai Komputer ( Word, Exel, Power Point,dll)
  4. Memiliki sertivikat Kursus Bahasa Inggris
  5. Mampu bekerja dalam Tim
  6. Dapat Mengendarai Sepeda Motor dan memiliki Sim C
  7. Fasih bahasa Inggris baik lisan maupun Tulisan
  8. Pengelaman Kerja minimal 1 tahun

Persyaratan Khusus   

  1. Foto kopy ijasah terakhir 1 lembar
  2. Foto kopy transkip nilai 1 lembar
  3. Foto kopi KTP
  4. Foto Pas ukuran 3×4, 1 lembar
  5. Foto Kopi Sertivikat Kursus Bahasa Inggris
  6. Memiliki sertivikat Kursus Bahasa Inggris
  7. Surat keterangan pengelaman bekerja , bagi yang sudah pernah bekerja
  8. Daftar Riwayat Hidup, disertai Alamat Tinggal Lengkap dan Nomor HP, email

Penerimaan ini di buka setiap Jam kerja , sejak tanggal 15 – 22  Desember 2021 Pukul 09.00 -16.00 Wita dan Lamaran juga di antar langsung ke Kantor yayasan Tananua Flores disetiap Jam kerja.

Lamaran Langsung Ditujuan Kepada : Direktur Yayasan Tananua Flores, Dengan Alamat : Jl. Gatot Subroto, Lorong Bita Beach. Gang Ke 3 Kiri, Ende, NTT.

 

Demikian Pengumuman ini atas Perhatian dan kerja samannya di ucapkan Terimah Kasih.

Ende, 15 Desember 2021

 

Ttd

Bernadus Sambut

Direktur Yayasan Tananua Flores

 

Buka Lowongan Kerja sampai dengan 22 Desember 2021 Read More »