

Ende, Ndori , 14 September 2026 — Seekor ikan tuna tidak harus berakhir di atas piring sebagai ikan goreng, bakar, atau sup. Di tangan masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan pengolahan, ikan dapat berubah menjadi berbagai produk pangan yang lebih beragam, memiliki nilai tambah, dan berpeluang dikembangkan menjadi usaha kelompok.
Gagasan inilah yang menjadi semangat dalam Pelatihan Diversifikasi Produk Perikanan yang dilaksanakan di rumah Ketua Kelompok Watukaka, Dusun Ipi, pada Senin, 14 September 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian pendampingan Yayasan Tananua Flores. Sebanyak 25 orang mengikuti kegiatan tersebut, terdiri dari 4 laki-laki dan 21 perempuan.
Pelatihan tidak hanya berbicara tentang cara mengolah ikan. Lebih dari itu, kegiatan ini mengajak peserta melihat kembali potensi yang ada di sekitar mereka: hasil perikanan sebagai sumber pangan keluarga sekaligus sebagai bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Ketika Ikan Tidak Hanya untuk Dijual
Bagi masyarakat pesisir, ikan memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Ikan menjadi sumber pangan dan sekaligus bagian dari mata pencaharian keluarga nelayan. Namun, hasil tangkapan sering kali lebih banyak dimanfaatkan dalam bentuk segar dan dikonsumsi atau dijual secara langsung.
Melalui pengolahan, ikan dapat memiliki bentuk pemanfaatan yang lebih beragam. Hasil tangkapan dapat disimpan lebih lama, diolah menjadi pangan keluarga, dan apabila dikembangkan dengan baik, dapat menjadi produk yang memiliki peluang pasar.
Karena itu, pelatihan ini diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota kelompok dalam mengolah hasil perikanan, memperkenalkan berbagai jenis produk olahan, serta mendorong pemanfaatan ikan tuna menjadi pangan dengan nilai tambah.
Peserta terlebih dahulu mendapatkan materi mengenai pemilihan bahan baku, kualitas ikan, teknik pengolahan, kebersihan dan sanitasi, serta peluang pengembangan produk olahan sebagai usaha kelompok.
Dua produk menjadi fokus praktik dalam pelatihan ini: abon tuna asap dan rolade ikan tuna.
Pada pembuatan abon tuna asap, peserta belajar mempersiapkan bahan baku, menyuwir daging ikan, mencampurkannya dengan bumbu, memasak, hingga mengaduk adonan sampai menghasilkan abon dengan tekstur dan cita rasa yang sesuai.
Setiap tahapan dilakukan bersama. Peserta tidak hanya melihat fasilitator bekerja, tetapi ikut mempraktikkan proses pengolahan.
Pendekatan yang sama dilakukan dalam pembuatan rolade ikan tuna. Daging ikan tuna yang telah dihaluskan dicampur dengan bahan tambahan dan bumbu, kemudian dibentuk menjadi rolade dan dimasak hingga matang.
Proses sederhana tersebut memberikan pengalaman baru bagi peserta: bahwa ikan tuna yang selama ini dikenal sebagai hasil tangkapan dapat diolah menjadi produk pangan yang berbeda.
Pembelajaran melalui praktik menjadi penting karena keterampilan pengolahan pangan membutuhkan pengalaman langsung. Peserta dapat mengetahui bagaimana memilih bahan, mengolahnya, menjaga kebersihan, mengatur proses pemasakan, sekaligus mengenali hal-hal yang perlu diperhatikan agar produk yang dihasilkan berkualitas.
Perempuan Menguatkan Pangan Keluarga
Dari 25 peserta, 21 orang merupakan perempuan. Keterlibatan tersebut memperlihatkan ruang penting perempuan dalam pemanfaatan dan pengembangan pangan di tingkat keluarga dan kelompok.
Bagi perempuan di tingkat rumah tangga, kemampuan mengolah hasil perikanan dapat memberikan manfaat ganda. Di satu sisi, hasil olahan dapat menjadi pilihan pangan bagi keluarga. Di sisi lain, keterampilan tersebut dapat menjadi modal awal untuk mengembangkan usaha apabila dikelola secara berkelompok.
Hal ini dirasakan oleh Ibu Jamia Fowo, salah seorang peserta pelatihan.
“Kami sangat senang mengikuti pelatihan ini karena mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru dalam mengolah ikan menjadi produk yang lebih beragam.”
Menurutnya, praktik membuat abon tuna asap dan rolade ikan tuna memberikan gambaran bahwa hasil perikanan dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
“Kami dapat melihat bahwa hasil perikanan bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan berpotensi untuk dikembangkan sebagai usaha kelompok.”
Sementara itu, Ibu Mohani Ali mengaku mendapatkan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diperoleh.
“Ternyata ikan dapat diolah menjadi berbagai macam produk. Selama ini, kami hanya mengetahui cara mengolah ikan dengan digoreng, dibakar, atau dimasak menjadi sup.”
Pelatihan membuatnya melihat bahwa ikan juga dapat dimanfaatkan menjadi produk lain seperti abon dan rolade.
“Dengan adanya pelatihan ini, kami mendapatkan pengetahuan baru yang sangat bermanfaat.”
Bagi Mohani, manfaat pelatihan bahkan dapat langsung diterapkan dalam kehidupan keluarga. Abon ikan dapat digunakan sebagai makanan bagi anak-anak maupun bekal ketika bepergian, sedangkan rolade dapat menjadi alternatif makanan keluarga dengan bahan yang sederhana dan mudah diperoleh.
Dari Keterampilan Menjadi Peluang


Salah satu pembelajaran penting dari kegiatan ini adalah bahwa diversifikasi bukan sekadar membuat jenis makanan baru.
Diversifikasi merupakan bagian dari proses meningkatkan nilai guna dan nilai tambah hasil perikanan.
Ketika ikan diolah menjadi produk seperti abon dan rolade, masyarakat mulai belajar mengenai berbagai aspek yang sebelumnya mungkin belum menjadi perhatian utama: kualitas bahan baku, kebersihan, sanitasi, komposisi bahan, teknik pengolahan, hingga kemungkinan pemasaran.
Kelompok Watukaka telah memiliki pengalaman awal dalam mengolah ikan tuna. Pengalaman tersebut dapat menjadi dasar untuk pembelajaran berikutnya, misalnya terkait pengemasan, penentuan harga, pencatatan biaya produksi, pengembangan identitas produk, hingga pemasaran.
Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti ketika produk selesai dibuat. Justru, produk yang dihasilkan menjadi titik awal untuk melihat kemungkinan pengembangan lebih lanjut.
Ketahanan pangan sering kali dibicarakan dalam konteks ketersediaan pangan. Namun, ketersediaan saja tidak cukup. Masyarakat juga membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengolah serta memanfaatkan pangan yang tersedia secara optimal.
Ikan tersedia sebagai bagian dari sumber daya perikanan masyarakat. Yang kemudian dibutuhkan adalah pengetahuan untuk mengolahnya, kreativitas untuk mengembangkan produk, dan kerja sama kelompok untuk menjaga keberlanjutan prosesnya.
Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pengetahuan mengenai pentingnya diversifikasi, memahami teknik dasar pengolahan ikan yang baik, serta mampu mempraktikkan pembuatan abon tuna asap dan rolade ikan tuna.
Lebih jauh, peserta mulai melihat peluang pemanfaatan hasil perikanan sebagai bagian dari penguatan pangan keluarga dan pengembangan usaha kelompok.
Kelompok Watukaka untuk Pembelajaran ke Depan
Apa yang dilakukan di kelompok Watukaka mungkin dimulai dari dua produk sederhana: abon tuna asap dan rolade ikan tuna. Namun, nilai pembelajarannya lebih luas daripada dua jenis makanan tersebut.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan ketahanan pangan dapat dimulai dari apa yang sudah dimiliki masyarakat.
Hasil laut tidak hanya dipandang sebagai komoditas yang ditangkap dan dijual, tetapi juga sebagai sumber pangan yang dapat diolah, dikembangkan, dan memberikan nilai tambah.
Tantangan berikutnya adalah bagaimana keterampilan yang telah diperoleh dapat terus dipraktikkan dan dikembangkan. Kelompok membutuhkan konsistensi dalam menjaga kualitas, kebersihan, produksi, pengemasan, pencatatan, dan pemasaran agar produk olahan perikanan dapat berkembang secara berkelanjutan.
Ditulis oleh : Agnes Ngura
Editor : Jhuan Mari
Eksplorasi konten lain dari Tananua Flores
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


