Dari Tanah yang Dirawat, Tumbuh Harapan: Panen Bersama Uskup Agung Ende dan Petani Detuboti

Shere Sekarang

Surat Gembala Uskup dan Panggilan untuk Merawat Kehidupan

Dalam Surat Gembala Yubileum, Uskup Agung Ende telah menegaskan bahwa pertobatan ekologis menuntut tindakan nyata untuk mencegah alam dari kehancuran dan melindungi orang miskin yang paling rentan.

Sementara itu juga perlu melakukan aksi bersama untuk mengurangi sampah plastik, memisahkan sampah dan membuangnya pada tempatnya. Penghijauan dan perawatan tanaman dapat menjadi inisiatif dari lembaga-lembaga pendidikan. 

Selain itu Uskup Juga Para petani didorong untuk mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia. Salah satu hal yang membutuhkan perhatian khusus adalah eksplorasi-eksploitasi panas bumi (geothermal). Kita tidak bisa berdiam diri di hadapan kenyataan ini. Penolakan terhadap geotherma/lahir dari keprihatinan akan konteks Keuskupan ini. Wilayah kita terdiri dari gunung dan bukit, serta menyisakan lahan yang terbatas untuk pemukiman dan pertanian warga. Untuk pertanian, bagian terbesarnya bergantung pada curah hujan, sebab sumber air tanah pun tidaklah banyak.” (kutipan Artikel di Pos-Kupang.com dengan judul Surat Gembala Uskup Agung Ende Serukan Pertobatan Ekologis)

Kehadiran Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, Uskup Agung Ende, di tengah para petani Detuboti memberi dimensi reflektif pada kegiatan panen bersama. Gereja hadir di ruang kehidupan masyarakat, menyaksikan kerja keras petani, dan mengambil bagian dalam percakapan tentang pangan, tanah, serta masa depan bersama.

Kehadiran tersebut menjadi semakin bermakna ketika dihubungkan dengan pesan ekologis Gereja dan Surat Gembala Uskup yang mengajak umat memperhatikan tanggung jawab terhadap ciptaan.

Pesan pastoral tentang kepedulian terhadap bumi tidak seharusnya berhenti sebagai ajakan moral. Pesan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam tindakan nyata: merawat tanah, mengurangi pemborosan pangan, mengembangkan kebun keluarga, melindungi sumber air, mendukung petani lokal, dan membangun pola konsumsi yang bertanggung jawab.

Dalam terang iman, tanah dan pangan berkaitan erat dengan penghormatan terhadap kehidupan. Ketika petani berjuang menjaga kesuburan tanah, mereka turut memelihara sumber kehidupan bagi banyak orang. Ketika masyarakat mendukung pertanian yang bertanggung jawab, mereka mengambil bagian dalam menjaga rumah bersama.

Paroki, komunitas umat basis, sekolah, dan lembaga-lembaga Gereja dapat menjadi ruang pembelajaran ekologis. Melalui kebun pangan, pendidikan lingkungan, pertukaran pengetahuan, dan solidaritas dengan kelompok tani, kesadaran ekologis dapat tumbuh menjadi kebiasaan hidup.

Namun, kepedulian ekologis perlu berjalan bersama keadilan sosial. Petani tidak boleh dibiarkan menanggung sendiri seluruh biaya dan risiko perubahan menuju sistem pertanian yang lebih berkelanjutan. Mereka membutuhkan akses terhadap pengetahuan, sarana produksi, pembiayaan, pendampingan, dan pasar yang layak.

Karena itu, kehadiran Gereja di tengah petani juga mengingatkan semua pihak agar mendengarkan pengalaman mereka dan memahami tantangan yang dihadapi. Merawat bumi berarti pula menghargai martabat orang-orang yang bekerja untuk menyediakan pangan.

Agar hubungan antara kegiatan di Detuboti dan Surat Gembala Uskup dapat disampaikan secara tepat, isi serta judul Surat Gembala yang dimaksud perlu menjadi rujukan langsung dalam publikasi. Dengan demikian, refleksi pastoral yang disajikan benar-benar mencerminkan pesan Uskup, bukan sekadar penafsiran umum tentang ekologi.


Eksplorasi konten lain dari Tananua Flores

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Share your love

Tinggalkan Balasan

Translate »

Eksplorasi konten lain dari Tananua Flores

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca