Misereor/KZT-German Gelar Pelatihan Mobilizing Support untuk 9 mitra CSO Indonesia bagian Timur

Dok. Heri Se kegiatan MS 15 Juli 2024. SatunamA-Jogja

Yogyakarta, Tananua Flores| Dalam rangkap Mobilisasi dukungan dari 9 mitra CSO dari Indonesia bagian Timur  Misereor/KZT-German menyelenggarakan kegiatan pelatihan sebagai bentuk persiapan tantangan-tantangan situasi mendatang. Kegiatan tersebut difasilitasi oleh Yayasan SATUNAMA Yogyakarta selama 8 hari efektif, yang dimulai sejak 22 Juli 2024 sampai dengan tanggal 30 Juli 2024.

Yayasan Tananua Flores salah satu CSO mitra MISEREOR di kepulauan Flores- NTT-Indonesia yang berlokasi di Ende mengirim 2 (dua) orang staf untuk terlibat dalam pelatihan Mobilizing Support III Change the Game Academic tersebut.

Sebagai CSO local yang hadir sejak 34 tahun silam itu tetap berkomitmen dengan Isu Pemberdayaan komunitas petani/nelayan dan isu mitigasi dan adaptasi lingkungan hidup  dengan mendorong isu Konservasi Lingkungan berbasis Masyarakat.

Menurut Yayasan Tananua Flores dari hasil kerja lapangan serta mengadvokasi persoalan masyarakat Isu ini diyakini masih sangat relevan dengan sumberdaya lembaga dan kepentingan global. Misereor merupakan salah satu lembaga internasional di jerman yang memberikan dukungan utama kerja-kerja Tananua Flores.

Kegiatan Pelatihan ini menjadi titik awal sebuah perjalanan panjang oleh semua CSO untuk terus berlanjut.

Manager Program Yayasan Satunama Ariawan mengatakan Mobilizing Support adalah upaya menggerakkan berbagai pihak untuk mendukung tujuan bersama, penting bagi CSO/CBO untuk mencapai perubahan positif. Pada poin ini melibatkan pengumpulan, pengorganisasian, dan penggerakan dukungan dalam berbagai konteks, seperti sosial dan advokasi.

Dirinya, menegaskan dengan melibatkan publik, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya, mobilisasi dukungan untuk memperkuat argumen dan memperluas pengaruh politik bisa mencapai perubahan yang diinginkan.

Lanjut Ariawan, Mobilisasi Dukungan juga memungkinkan pengumpulan individu atau kelompok dengan minat atau tujuan yang sama, meningkatkan visibilitas, akses ke sumber daya, dan kekuatan tawar.

Peserta CSO yang terlibat dalam kegiatan pelatihan itu terdiri dari Yayasan Harapa Sumba-NTT, Yayasan Sanpukat Maumere-NTT, Yayasan Cannosa Malaka-NTT, Yayasan Kita Juga Manggarai Barat-NTT, Yayasan Sehati Manggarai-NTT, Yayasan Tananua Flores-NTT, Universitas Katolik Waitabula-NTT, SKPKC-Fransiskn Papua dan Yayasan Dedikasi Tjipta Indonesia (PERMATA)-Gowa Sulawesi Selatan. Dari Sembilan (9) Mitra dari Indonesia Timur saling berbagi dan memberi spirit-kolaboratif dengan berbagai isu yang dikerjakan bersama komunitas tapak.

Koordinator bidang Pelatihan Satunama Debora Dwi mengatakan Sebagai mitra nasional Program Change the Game Academy (CtGA) di Indonesia, SATUNAMA Yogyakarta berupaya membantu meningkatkan kemampuan dan kapasitas organisasi-organisasi masyarakat sipil, organisasi komunitas berbasis masyarakat, dan kelompok swadaya dalam hal Mobilizing Support (MS). Kegiatan pelatihan ini salah satu program yang diagendakan bersama dan fokus pada meningkatkan pengetahuan, keterampilan,  sikap melalui metode pelatihan partisipatif-adaptif yang didukung oleh teknologi.

Khusus pelatihan Mobilizing support, mencakup beberapa langkah-langkah trajectory yakni: Pertama, pertemuan pengantar (Leaders Meeting) merupakan kesempatan bagi pimpinan organisasi untuk memberikan dukungan dan motivasi kepada anggota tim yang akan terlibat dalam pelatihan, serta memastikan bahwa organisasi memiliki kesiapan untuk mengikuti pelatihan dengan maksimal. Pertemuan ini, pimpinan organisasi dapat membahas strategi dan rencana tindak lanjut yang akan dilakukan setelah pelatihan selesai, serta memastikan bahwa seluruh anggota tim memahami tujuan dan manfaat dari pelatihan yang akan diikuti.

Kedua pelatihan tatap muka (Face to face training). Kegiatan ini dilakukan selama 8 hari kick off dari tanggal, 22-30 Juli 2024 yang berlokasi di balai pelatihan SATUNAMA-Jogjakarta, dengan tujuan memberikan pengetahuan dan skill yang dibutuhkan dalam ranah Mobilizing support. Ini merupakan pelatihan untuk membekali peserta dengan berbagai pengetahuan fundamental dan strategis serta keterampilan Mobilizing support.

Ketiga, Tindak Lanjut Coaching. Pasca pelatihan tatap muka selesai, peserta akan menjalankan aktivitas/project Mobilizing support bagi lembaganya dan akan mendapatkan coaching selama 11 bulan. Tahap ini merupakan program coaching yang bertujuan untuk membantu peserta pelatihan memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan membangun sikap dan mindset (pola pikir) yang tepat pada diri peserta pelatihan.

Keempat, Graduation (Face to face) Trajectory Pelatihan Mobilizing support akan ditutup dengan pelaksanaan MS Graduation selama 2 hari yang merupakan bagian dari pembelajaran, peningkatan keterampilan dan pembangunan mindset sebagai seorang (Game Changer).

Lanjut Debora “Keseluruhan trajectory berlangsung selama 11 bulan, dimulai sejak Pertemuan Pengantar (Leaders Meeting) dilakukan. Trajectory ini dimaksudkan untuk memberikan secara penuh, tidak hanya materi pelatihan namun juga memberikan keterampilan serta membangun mindset terkait yang dapat mendukung keberlanjutan kerja-kerja organisasi CBO, CSO dan kelompok Swadaya.

Dok. Heri Se kegiatan MS 15 Juli 2024. SatunamA-Jogja

Kunjungan Lapangan Mitra SATUNAMA.

Ada hal menarik untuk menjadi pembelajaran penting dalam mengembangkan MS ini yakni belajar dari Yayasan Kebaya . Poin pentingnya adalah berkolaborasi dengan semua stakeholder yang ada disekitar komunitas, pemerintah dari level tapak sampai Nasional, Akademisi (professor dan kampus) dan juga Dokter, sehingga terus eksis sampai sekarang.

Selain itu Tantangan  yang dihadapi SANKEBAYA ada keberlanjutan lembaga dan regenerasi kepemimpinan masa depan yang militant dan memiliki pession serta keberlanjutan, sehingga system yang dikembangan sekarang lebih terbuka dan tersistematis untuk keberlanjutan lembaga.

Pada kegiatan pelatihan MS peserta diperkuat dengan Teknik-teknik membuat berita dan video sebagai model dan Bahasa advokasi untuk kampanye dan promosi kerja-kerja bersama untuk menjacapi tujuan bersama.

Pupu Perwaningsi Koordinator/Konsultan program untuk mitra Indonesia mengungkapkan bahwa Latihan MS ini terjadi didasari hasil refleksi tahunan MISEREOR yang melihat Lembaga-lembaga yang terus bergantung pada Donor dan belum memiliki kemandirian yang berkelanjutan dalam penelolaan program atau isu yang dikerjakan.

Konsultan Misereor itu mengharpakan semua dari Latihan ini bisa memberi dampak pada masing masing organisasi mitra untuk berpikir dan memulai menggerakan lokomotif sumberdaya (potensi) organisasi secara efektif.

“Saya mengharapkan kita semua dari Latihan ini bisa memberi dampak pada masing masing organisasi mitra untuk berpikir dan memulai menggerakan lokomotif sumberdaya (potensi) organisasi secara efektif,Mabilizing support akan kelihatan jika kita bekerja sungguh-sungguh secara secara kolaboratif”, Ungkapnya.

Oleh : Heri Se

Misereor/KZT-German Gelar Pelatihan Mobilizing Support untuk 9 mitra CSO Indonesia bagian Timur Read More »

Pertukaran Belajar ke Pontianak Dorong Program Perbaikan Hak Alam dan Hak Masyarakat di Kabupaten Ende

Pontianak, Tananua Flores|Dalam menjalin Kemitraan yang strategi Yayasan Tananua Flores dan Yayasan Planet Indonesia Dorong Program Perbaikan Hak Alam dan Hak Masyarakat sebagai upaya menjaga dan melindungi lingkungan agar tetap lestari dan berkelanjutan.

Kegiatan itu diwujudkan dalam Petukaran belajar bersama kedua Lembaga di Pontianak Kalimantan Barat pada 17-22 juli 2024 lalu.

Peserta yang turut terlibat dalam pertukaran belajar bersama itu terdiri dari utusan Perwakilan dari pemerintah desa, Masyarakat di desa dampingan,lembaga LPHAM dan Tananua Flores.

Tujuan dari kegiatan pertukaran belajar tersebut yakni untuk Memperkuat pemahaman konseptual dan penerapan Pendekatan PUMK yang akan diteruskan pada model pendekatan LPHAM dari 6 desa, Memperluas pengetahuan dan pemahaman peserta dari 6 desa serta staf YTNF tentang manajemen keorganisasian berbasis masyarakat, dana ketahanan, dan pelaksanaan Smart Patrol dan pertukaran pembelajaran dan inspirasi antara Perwakilan Desa Dampingan YTNF dan kelompok PUMK di Dusun Ladak Desa Meragun Kabupaten Sekadau.

Direktur Yayasan Tananua Flores Bernadus Sambut dalam kesempatan awal Memperkenal organisasi Yayasan Tananua Flores sekaligus menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan ke YPI di Pontianak, dengan harapan semoga proses berlajar dapat berjalan dengan baik dalam program Ketahanan alam dan warga di Flores khususnya Kabupaten Ende.

Menurutnya,Pertukaran  belajar ke Yayasan Plent Indonesia sebagai bagian dari Transfer Pengetahuan dan pengamatan secara langsung kondisi masyarakat di pontianak dari program YPI bekerja secara langsung dengan Masyarakat.

Dokumen Belajar Bersama/Dok Ytnf

Harapan Tananua yang disampaikan oleh Direktur yakni, Meningkatnya pemahaman dalam konseptual dan dampak penerapan pendekatan PUMK & LPHAM dengan terbangunnya dokumen Perencanaan Penerapan Pendekatan PUMK ke dalam Pendekatan LPHAM di 6 Desa Dampingan, Meningkatnya manajemen keorganisasian berbasis masyarakat, khususnya dana ketahanan dan SMART Patrol dengan terbangunnya Dokumen Strategi Penerapan di dalam LPHAM, Terbentuknya jaringan komunikasi dan koordinasi antar desa dampingan YTNF yang terinspirasi dari pertukaran pembelajaran dalam bentuk komitmen Pengelolaan Sumber Daya Alam Adaptif yang akan difasilitasi oleh YTNF; sesuai konteks dan strategi lokal

Sementara itu Adam dari YPI menyampaikan Apresiasi kepada Tananua atas kunjungan ke Komunitas masyarakat dampingan YPI dan menilai Tananua Sangat terbuka untuk berbagi dan memanfaatkan waktu untuk belajar dan berdiskusi bersama.

Yayasan Planet Indonesia mengajak peserta pertukaran belajar agar berlajar dan memanfaatkan waktu kunjungan secara baik untuk lebih mengenal dan memahami dengan baik pembelajaran positif bersama masyarakat di pontianak.

Pertukaran belajar antara Tananua dan YPI ada beberapa pembelajaran Positif yang menjadi poin untuk ditindak lanjuti didaerah masing-masing antara lain

Pertama, Yayasan Planet Indonesia adalah sebuah NGO Nasional dan Internasional yang mendampingi masyarakat di Daerah Hulu dan Pesisir dengan Pendekatan PUMK ; YPI bekerja langsung dengan Masyarakat dan bekerja sama dengan beberapa NGO Lokal yang ada di Indonesia.

Kedua, Kondisi Pontianak sedikit berbeda dengan Nusa Tenggara Timur khususnya Ende .  Wilayah luas dan masih banyak lahan kosong , jumlah penduduknya di satu desa bisa 5 kali besar dari jumlah penduduk satu desa di Ende dan dodominasi oleh Tanaman sawit , karet dan kebun berpindah pindan dan tebas bakar.

Ketiga, YPI memulai program di Dusun Ladak dengan Pendekatan PUMK kondisi Dusun Ladak sulit dijangkau dari Pusat Desa apalagi Kecamatan dan belum ada organisasi lain yang masuk disana dan belum ada kelompok atau asosiasi apapun yang dibentuk baik oleh Pemerintah atau Swasta lain. YPI mendampingi seluruh masyarakat di Dusun Ladak dengan program Litersi , Kesehatan , Dana Ketahanan , Smart Patrol dan Program Pertanuan Berkelanjutan

Ke Empat,Program Literasi bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan baik ditingkat Kabupaten dan Kecamatan. Peran YPI Memfasilitasi ( menemukan masyarakat akan ikut paket A, B , mencari tutor , menyediakan alat peraga untuk belajar mengajar ) . Program ini ada dengan pertimbangan keberlanjutan program. Program ini yang belum menjadi perhatian Tananua Flores selama ini . Dari diskusi Panjang dalam perjalanan ini menjadi pertimbnagan Tananua Flores  ke Depan .

Ke lima,Program Kesehatan  mendampingi keluarga sehat  – 1 kader mendampingi 1- 5 Keluarga . Kader kader dilatih oleh YPI sebelum mereka mendampingi keluarga sehat . Kader Kesehatan ini berbeda dengan Kader Kesehatan yang ada dan dibiayai oleh Desa . Kondisi di Wilayah Dampingan Yayasan Tananua Flores yang juga mengembangkan program Kesehatan tidak merekrut kader baru tapi memperkuat kader posyandu, kader KB yang dibiayai oleh Desa Peran Tananua peningkatan Kapasitas Kader melalui Pelatihan , kunjungan Silang dan Pertemuan.

Ke Enam,Dana Ketahanan, melihat kondisi Dusun Ladak yang aksesnya sangat sulit YPI berinisiatif membentuk kelompok Dana Ketahanan masyarakat dusun ladak di sisi Ekonomi dengan satu tujuan mulia saling membantu diantara orang-orang didalam dusun ketika ada situasi yang emergensi . Keuntungan tidak menjadi tujuan utama mereka akan tetapo paling tidak ada dana mandiri yang ada ditingkat mereka tanpa tergantung dari pihak manapun, sebab akses dari desa ke Kota Kecamatan membutuhkan waktu 2 jam dengan biaya transportasi ojek Rp 400.000.

Ke tujuh, Smart Patrol di Dusun Ladak ,anak- anak muda terorganisir untuk melakukan pengawas secara berkala dan membuat laporan untuk disampekan kepada YPI dan Pemerintahan Desa .Untuk Proses ini YPI dan orang-orang Muda yang melakukan Patroli dan mengorganizir orang muda, memperkuat kapasitas , menyiapkan apa yang menjadi kebutuhan patroli dan melinkkan kelompok smart patrol dengan dinas atau badan terkait untuk kebutuhan di wilayah tersebut. ***

Ditulis oleh : Halimah Tus’adyah

Editor : JFM

 

Pertukaran Belajar ke Pontianak Dorong Program Perbaikan Hak Alam dan Hak Masyarakat di Kabupaten Ende Read More »

Catatan Refleksi Spiritual

Kegiatan Refleksi Spiritual  Relawan Komunitas, Kader Kesehatan dan Orang Muda  ini rutin dilakukan setiap tahun dan kali ini dilakukan di Wisma St Fransiskus Detusoko, pada (21/6)

Relawan komunitas dan Kader Kesehatan serta orang muda  dalam melakukan tugasnya pasti akan menghadapi berbagai tantangan dan kritik , namun hal ini jangan membuat kita menyerah.

Kita dituntut untuk tetap semangat dalam menjalankan tugas perutusannya kita masing masing. Sebagai kader kesehatan , peran kita adalah melayani masyarakat khususnya Ibu hamil, bayi balita dan orang sakit agar sehat dan selamat.

Walaupun cuaca buruk atau hujan angin, Kader Kesehatan  tetap menjalankan tugasnya dengan baik demi menyelamatkan Ibu dan anak.(menyelamatkan jiwa-jiwa). Perjuangan dan rasa tanggung jawab tidak memerlukan pujian dari siapapun, karena hasil dari kerja dan perjuangan kita menjadi pelajaran dan contoh bagi orang lain.  Mari, sebagai Relawan Komunitas , Kader kesehatan dan orang Muda melangkah bersama untuk terus menebarkan kasih dan kebaikan bagi sesama kita

Kegiatan Refleksi spiritualitas ini di isi dengan misa Perutusan dan Selesai Misa Perutusan dilanjutkan dengan kegiatan Pelatihan peningkatan Kapasitas Relawan Komunitas , kader kesehatan dan Orang yang di fasilitasi oleh  Heribertus Se, Manajer Program Yayasan Tananua Flores.

Misa Perutusan

Kegiatan ini diawali dengan Brainstorming. Adapun poin poin penting yang dibahas adalah Bagaimana memecahkan masalah,mengembangkan inovasi  atau gagasan baru, menemukan dan mengenali diri dengan kekuatan dan kelemahan diri serta mendorong kreativitas dan melatih diri untuk berpikir kritis.  Relawan Komunitas dan kader Kesehatan, kita diajak untuk mengenal diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Kelebihan dan kekuatan yang kita miliki dapat kita gunakan untuk melakukan hal hal baik. Sebagai Relawan Komunitas dan kader Kesehatan, kita dituntut untuk berperan aktif, menyumbangkan segala pengetahuan dan keterampilan yang kita miliki untuk masyarakat kita. Berani  menerima tantangan dalam karya pelayanan kita.

Selain itu, Pada hari kedua 21 Juni 2024 dilanjutkan dengan  Pelatihan Kepemimpinan, dan Seni Memfasilitasi bagi Relawan Komunitas , Kader Kesehatan dan Orang Muda. Orang Muda diharapkan sebagai  Pemimpin masa depan diharapkan memiliki beberapa kriteria yaitu berani, percaya diri, memiliki kemampuan  ( pengetahuan dan keterampilan ), mampu mengorganisir dan menggerakkan masyarakat dalam membangun desa. Seorang Pemimpin juga diharapkan sebagai role model atau panutan bagi masyarakat di desanya. Menjadi Pemimpin besar, tidak mudah, perlu ditempa dan butuh proses yang panjang. Untuk itu sebagai Relawan kita harus terus berproses dan belajar true agar dapat melakukan sesuatu untuk masyarakat kita.

Dalam kegiatan ini juga  ada Pelatihan Kader kesehatan yang difasilitasi oleh Emilia  L Kumanireng dengan topik  Peran dan Fungsi Tugas Kader serta Sistem Lima Meja.

Hal ini diterapkan dalam kegiatan  Pendampingan POSYANDU dimana  mereka berbagi Peran  mulai dari Pendaftaran peserta POSYANDU,  Penimbangan Berat Badan, Pencatatan dan Pengukuran, Penyuluhan Kesehatan dan Pemberian Makanan Tambahan dan meja ke 5 ada Pelayanan Kesehatan yang dilakukan oleh tenaga medis.

Sebagai Kader Kesehatan ,mereka dituntut bekerja dengan hati  untuk melayani dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kader Kesehatan, harus  memiliki pengetahuan  pengetahuan tentang kesehatan  sehingga mampu memberi motivasi kepada Ibu hamil dan  Ibu menyusui agar  bisa memberikan pola asuh yang baik kepada anaknya.

Kader Kesehatan juga dituntut untuk memiliki keterampilan yang memadai dalam mengolah makanan bergizi dari pangan lokal sebagai Makanan Tambahan bagi Ibu hamil dan Menyusui untuk meningkatkan status gizi anak.

Dengan tanggung jawab yang diembannya, Kader bersama tenaga medis mampu memotivasi dan meningkatkan kesehatan ,masyarakat.

Selesai kegiatan yang dilakukan selama dua hari peserta  bersama sama membuat RTL ( Rencana Tidak Lanjut ). Adapun beberapa Rencana penting  akan dilakukan adalah :

  1. Mendorong Pemerintah Desa agar mengalokasikan Dana Desa untuk  Kegiatan Pemberdayaan (Peningkatan Kapasitas Relawan Komunitas dan Kader  Kesehatan serta Orang Muda).
  2. Mendorong Pemerintah Desa untuk memanfaatkan bahan Pangan lokal sebagai menu PMT Pemberian Makanan Tambahan bergizi bagi bayi balita dan Ibu hamil  saat posyandu.
  3. Menjaga kelestarian Lingkungan dengan menerapkan Pertanian ramah lingkungan serta melakukan penghijauan pada sumber mata air dan lahan kering.

Kontributor,

Emilia L. Kumanireng

Catatan Refleksi Spiritual Read More »

Misereor Gelar Pelatihan Local Fundraising Batch IV Change the Game Academy

Dok.Halimah, Kegiatan Pelatihan LFR

Bali, Indonesia. Tanaua Flores | Sebanyak 13 NGO mitra Misereor Indonesia bagian tengah dan timur mengikuti pelatihan Local Fundraising – Change the Game Academy yang digelar oleh Misereor yang bekerja sama dengan SATUNAMA .

Dalam Pelatihan tersebut yang menjadi trainer/Fasilitator Langsung oleh  SATUNAMA yang dilaksanakan selama 5 hari di denpasar pada (22-26/4).

Peserta yang terlibat dalam kegiatan pelatihan antara lain utusan Magdalena Canossa Nurobo – Malaka, Yayasan Komodo Lestari Indonesia – Manggarai Barat, Yayasan Karya Murni – Ruteng,Yayasan Persekolahan Umat Khatolik – Sikka, Perguruan Tinggi UNIKA Waetabula,Yayasan Harapan Sumba,Yayasan Tananua Flores – Ende,Yayasan Dedikasi Tjipta Indonesia – Makasar ,Yayasan Kita Juga – Manggarai Barat,Perkumpulan Suara Papua  – Papua,Yayasan Frans Lieshout Papua ( YAWU PAPUA ),JPIC SVD Ruteng dan SKPKC Fransiskan Papua

Program pelatihan ini dirancang secara menyeluruh dengan fokus pada peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta. Metode pelatihan secara partisipatif-adaptif menjadi landasan utama, didukung oleh pemanfaatan teknologi sebagai sarana pendukung. Pendekatan ini memungkinkan para peserta untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran, dan menjadikan pelatihan lebih relevan sesuai dengan dinamika kebutuhan masyarakat.

Pelatihan LFR IV ini diselenggarakan melalui kerjasama SATUNAMA bersama Misereor dan Kindermissionswerk. Peserta pelatihan merupakan organisasi-organisasi mitra Misereor dan Kindermissionswerk di Indonesia yang akan mendapatkan penguatan kapasitas terkait Local Fundraising.

Pelatihan ini dijadwalkan sebagai langkah untuk terus memberikan pemahaman mendalam, keterampilan dan strategi dalam pengembangan sumber pendanaan lokal bagi mitra-mitra Misereor dan Kindermissionswerk di Indonesia. Dengan mengundang partisipasi lebih luas dari CSO, CBO, dan kelompok swadaya di seluruh Indonesia, pelatihan ini diharapkan dapat menciptakan dampak yang lebih besar dan berkelanjutan dalam memperkuat sektor nirlaba di tingkat lokal.

Pelatihan ini tidak hanya menjadi forum untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga sebagai wadah kolaboratif untuk merancang inovasi baru dalam mendukung pertumbuhan keberlanjutan organisasi masyarakat.

Selain itu, dengan pelatihan Local Fundraising, kedepannya dalam membangun dukungan yang lebih luas terhadap inisiatif dan program CSO/CBO akan semakin mampu menjalankan perannya dalam menciptakan perubahan yang positif di masyarakat.

SATUNAMA yang dipercayakan untuk menyelenggarakan kegiatan pelatihan ataupun kegiatan lain dalam mendorong peningkatan kapasitas antara sesama mitra berkomitmen untuk terus berlanjut dalam memperkuat kapasitas organisasi masyarakat di Indonesia.

Sementara sebagai Mitra Nasional untuk program CtGA di Indonesia, SATUNAMA bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pelatihan CtGA. Fokus utama pelatihan ini adalah memberikan penguatan dan pengembangan kapasitas bagi CSO dan CBO di Indonesia. Dua isu utama yang diangkat dalam pelatihan ini adalah Mobilizing Support (MS) dan Local Fundraising (LFR).

Situasi Terkini

Lembaga-Lembaga Swadaya  Masyarakat (NGO) menjalankan misi, visi dan programnya bersama masyarakat sumber pendanaannya selama ini sangat bergantung pada donor-donor luar negeri, termasuk mitra-mitra Misereor di Indonesia.

Kebergantungan pada donor yang sangat tinggi ini membuat Lembaga Lokal di indonesia tidak berkelanjutan dimana saat donor mengurangi atau setop bantuan dan tidak ada dana mandiri maka LSM-nya langsung bubar.  Di tambah lagi dengan kebijakan Negara lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan dalam negeri, dan juga terkait dengan kebijakan bantuan bagi Negara-negara lain dilihat dari yang paling membutuhkan. Kondisi ini juga berpengaruh terhadap ketersediaan dana di Misereor untuk mitra-mitra lokal di indonesia yang didukung oleh misereor.

Namun, pada Prespektif Misereor dan KMW ditemukan banyak mitra  penerima dana pemerintah Jerman  / BMZ melalui KZE yang masih kesulitan memenuhi persyaratan adanya kontribusi local sebesar 25 – 30 % akan sangat sulit untuk membantu Mitra dalam menutupi kekuarangan dana. Harus memulai dari kontribusi local dalam proyek yang diluncurkan.

Melihat masalah dan potensi diatas maka Misereor dan KMW memilki komitmen yang tinggi untuk mengembangkan kapasitas mitranya dengan mempertimbangkan keberlanjutan organisasi. Maka langkah awal yang dilakukan adalah melakukan pelatihan bagi Mitra  tentang pelatihan  penggalangan dana local (Local Fund Raising/LFR) kerja sama dengan Yayayasan Satunama di Jogya.

Misereor juga memandang ini adalah sesuatu yang mendesak karena adanya tantangan global, pembatasan melalui peraturan dan kebijakan pemerintah, menyusutnya ruang bagi masyarakat sipil dan adanya kebutuhan diversifikasi pendanaan .

Tujuannya adalah agar mereka dapat melayani masyarakat dengan lebih efektif dan menciptakan perubahan yang berkelanjutan di berbagai sektor di Indonesia. SATUNAMA mengukuhkan kolaborasi strategisnya dengan menjadi Organisasi Mitra Nasional (NPO) untuk Wilde Ganzen Foundation melalui Program Change the Game Academy (CtGA). Keanggotaan ini, yang dimulai pada tahun 2022, menjadikan SATUNAMA sebagai mitra nasional untuk Indonesia dan anggota Change the Game Academy Global Alliance.

Langkah ini bukan hanya untuk memberikan dampak positif di tingkat nasional, tetapi juga untuk berkontribusi pada pengembangan CSO/CBO secara global bersama mitra internasional, membangun jaringan kolaboratif yang dapat memperkuat peran organisasi nirlaba dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, serta membuka pintu terhadap inovasi dan kolaborasi pengembangan sumber daya manusia dan kapasitas CSO/CBO di Indonesia dan skala global. Sementara sebagai Mitra Nasional untuk program CtGA di Indonesia, SATUNAMA bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pelatihan CtGA. Fokus utama pelatihan ini adalah memberikan penguatan dan pengembangan kapasitas bagi CSO dan CBO di Indonesia. Dua isu utama yang diangkat dalam pelatihan ini adalah Mobilizing Support (MS) dan Local Fundraising (LFR).

Tahun 2023 menjadi momentum bersejarah dengan terselenggaranya Pelatihan Change the Game Academy pertama di Indonesia, yaitu pelatihan Local Fundraising Batch I, yang diikuti oleh lembaga CSO, CBO, dan kelompok swadaya di berbagai wilayah Indonesia. Pelatihan ini menjadi titik awal sebuah perjalanan panjang yang terus berlanjut. Selama tahun 2023, pelatihan Change the Game Academy telah terlaksana 4 (empat) kali dengan 3 (tiga) kali pelatihan Local Fundraising dan 1 (satu) kali pelatihan Mobilizing Support. Jumlah peserta total pelatihan CtGA (LFR dan MS) telah mencapai 68 orang dari 33 organisasi yang berasal dari seluruh Indonesia.  Khusus untuk pelatihan Local Fundraising, dengan peningkatan kapasitas dalam ranah Local Fundraising, diharapkan bahwa organisasi-organisasi tersebut dapat mengembangkan sumber pendanaan mereka secara berkelanjutan, memperkuat keuangan mereka, dan meraih dampak yang lebih luas di masyarakat.

Dok.Halimah, (Diskusi paskah Pelatihan LFR di kantor Tananua)

Refleksi Tananua Flores

Secara organisasi Yayasan Tananua Flores dan semua  mitra Misereor berkembang  dalam memperkuat kapasitas masyarakat untuk penghidupan yang berkelanjutan.

Namun ada beberapa kelemahan utama yang dihadapi antara lain:

Pertama, Tananua Flores merupakan salah satu dari lembaga mitra peserta pelatihan yang sangat rentan karena 80% operasional organisasi dan program sangat tergantung pada donor asing. Dan apabila donor berhenti mendadak maka lembaga bisa langsung mati atau bubar.

Kedua, Tananua Flores bersama semua lembaga peserta pelatihan selama ini mengakses dana besar kerja sama Misereor dan pemerintah Jerman dengan dana talangan 30% sebagian besar dipenuhi Misereor. Dengan demikian mitra belum mampu memenuhi kontribusi 30% chas.

Ketiga, Tananua Flores dan beberapa lembaga mitra peserta pelatihan selama ini belum belum banyak memanfaatkan sumber dana nasional dan sumber dana local, penelitian dari suatu lembaga menyatakan Indonesia Negara penderma di dunia.

Harapan tananua flores dari hasil refleksi terkait situasi kekinian dari organisasi pemberdayaan masyarakat yakni :

Pertama, Agar yayasan tetap hdiup dan berkembang bersama masyarakat maka sangat penting adanya dana mandiri organisasi.

Kedua, Untuk mendapatkan dana mandiri maka yayasan perlu menggalang Dana-dan dari pemerintah dan juga penggalangan dana lokal dari masyarakat sekitar.

Ketiga, Setiap organisasi perlu memasukan  program penggalangan Dana lokal dalam organisasi masing-masing.

Ke empat, Setiap organisasi perluh membentuk tim penggalangan dana lokal.

Oleh : Hironimus & Halimah

Misereor Gelar Pelatihan Local Fundraising Batch IV Change the Game Academy Read More »