Pertajam Pengelolaan Program Layanan Alam, Tananua & YPI Gelar Pembelajaran Bersama

Pontianak, Tananua Flores | Yayasan Tananua Flores (YTNF) belajar bersama Yayasan Planet Indonesia (YPI) tentang tata kelola program yang efektif dan efisien. Merujuk pada Kerangka Acuan Kegiatan (KAK), kegiatan ini dirancang untuk mendukung YPI dan YTNF dalam mengembangkan kapasitas pelaporan, pelacakan, dan implementasi program yang sejalan dengan target logframe yang telah disepakati.

Peningkatan kapasitas ini akan membantu kedua lembaga dalam mencapai tujuan program secara efisien dan efektif, serta memastikan bahwa anggaran yang digunakan dalam program dapat dikelola dengan transparan dan akuntabel. YPI dan YTNF juga akan berbagi pengetahuan dan praktik terbaik dalam manajemen organisasi, termasuk penguatan dalam bidang Monitoring, Evaluasi, dan Pembelajaran (MEL), pengelolaan keuangan, serta pengenalan terhadap konsep-konsep baru seperti Perhutanan Sosial dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Adaptif (PSDAA).

Bernadus Sambut, Direktur Yayasan Tananua Flores, pada kick off hari pertama (1/10) di Hall Neo Hotel, mengatakan, “Kemitraan ini dibangun atas dasar kesetaraan, di mana kedua lembaga saling mendukung dan belajar satu sama lain untuk mencapai hasil yang lebih baik dan berkelanjutan. Dengan adanya kegiatan ini, YPI dan YTNF berharap dapat memperkuat kerja sama dan memastikan bahwa program yang dijalankan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat dan lingkungan,” Ungkapnya dalam sapaan pembukaan yang mewakili rombongan.

Dok YTNF bersama YPI
Dok YTNF bersama YPI

Sementara itu  Rusli, Dewan Pengurus YPI menambahkan, “Kegiatan ini penting untuk berbagi melalui Model Transfer Exchange, sebuah pendekatan di mana peserta mengunjungi kelompok model untuk mempelajari metode dan manajemen yang telah terbukti efektif. Metode ini memungkinkan peserta melihat langsung implementasi dari praktik terbaik dan mendapatkan wawasan yang dapat diterapkan dalam konteks mereka sendiri. Pendampingan teknis langsung melalui bimbingan teknis juga diberikan kepada peserta dalam pelaporan, pengelolaan anggaran, dan implementasi konsep baru. Pendampingan ini membantu dalam penyusunan laporan yang akuntabel dan strategi implementasi yang efektif.”ujar Rusli.

Selain itu Hironimus Pala, Ketua Dewan Pengurus YTNF, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk:

Pertama, Menyusun kesepahaman dan kesepakatan bersama dalam Monitoring, Evaluasi, dan Pembelajaran (MEL) untuk logframe proyek bersama di bawah pendanaan Trafigura Foundation;

Kedua, Memastikan manajemen pelaporan dan pengelolaan anggaran yang akuntabel di YTNF, sesuai dengan persyaratan proyek dari Trafigura Foundation;

Ketiga, Membagikan pengalaman dalam manajemen organisasi yang efektif di YTNF, berdasarkan praktik terbaik yang diterapkan oleh YPI;

Ke empat, Memperkenalkan dan mendukung implementasi konsep-konsep baru dalam bidang kesehatan, literasi, dan perhutanan sosial di YTNF.

Halima Thus’Adya menambahkan bahwa kegiatan ini juga diharapkan dapat mewujudkan kesepahaman dan kesepakatan bersama dalam MEL yang diterapkan pada logframe proyek, sehingga memastikan keterpaduan dan kejelasan dalam pelaksanaan proyek.

Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mencapai kesepakatan manajemen pelaporan dan pengelolaan anggaran yang akuntabel di YTNF, dengan penerapan sistem pelaporan yang transparan dan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Trafigura Foundation.

Implementasi praktik manajemen organisasi yang lebih efektif di YTNF juga menjadi salah satu hasil yang diharapkan, hasil dari berbagi pengalaman dan praktik terbaik dari YPI. Kegiatan ini juga mendukung peningkatan kapasitas organisasi dalam mengelola program secara efisien dan produktif.

Selama lima hari di Pontianak, peserta dari Yayasan Tananua Flores dan YPI berbagi pengalaman dalam mendesain program serta melakukan tata kelola program yang efektif, dengan memaksimalkan sumber daya yang dimiliki lembaga untuk mengembangkan kerja sama dengan donor yang memiliki tujuan yang harus dicapai.

Hari pertama, dilakukan penyelarasan dan pendalaman logframe program antara Tananua Flores dan Planet Indonesia dengan rujukan logframe Trafigura Foundation, untuk menyamakan pemahaman dan cara kerja sesuai nilai-nilai inti organisasi masing-masing.

Adam, yang mewakili Planet Indonesia, menyatakan, “Kita tidak akan memaksakan mitra kita dalam bekerja dengan program ini, namun kita harus saling percaya. Dengan kesetaraan yang dibangun, mitra kita dapat bekerja sesuai kemampuan dan kapasitas yang dimiliki. Saat ini yang harus kita pastikan adalah outcome, data, serta dokumen yang valid, akuntabel, dan transparan.”

Pada hari kedua, ketiga, dan keempat, peserta mendapat sharing pembelajaran tentang Perhutanan Sosial (PS), konsep dan pengalaman praksis, pengelolaan keuangan, narasi program, pengetahuan praksis literasi, pengembangan program kesehatan, serta evaluasi dan rencana tindak lanjut (RTL) kerja sama yang akan datang.

Kegiatan yang dihadiri oleh pengurus yayasan dan staf manajemen program ini penting untuk meningkatkan kapasitas serta semangat baru dalam mengatur dan mengembangkan program yang kolaboratif dengan koordinasi, komunikasi, akuntabilitas, dan transparansi. Herman Nebon Lion, salah satu peserta, mengatakan, “Saya sangat senang dengan kegiatan ini karena sebagai MEAL saya belajar langsung dari program MEAL di YPI yang telah mengembangkan sistem pendokumentasian yang mudah diakses.”tutup Herman

Kontributor :Hery Se

Pertajam Pengelolaan Program Layanan Alam, Tananua & YPI Gelar Pembelajaran Bersama Read More »

Patroli Rutin di Lokasi Penutupan Tangkap Gurita: Langkah untuk Keberlanjutan

Ende, Flores –  Tananua Flores | Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan patroli rutin, diperlukan persiapan dan arahan yang matang. Persiapan dimulai dengan melakukan analisis terhadap daerah yang akan di patroli. Tim patroli harus mengidentifikasi titik rawan dan melakukan pemetaan yang tepat untuk mengoptimalkan rute yang akan diambil. 

Selain itu, anggota tim juga diwajibkan untuk melakukan briefing sebelum pelaksanaan patroli, guna memastikan bahwa semua anggota memahami tujuan dan prosedur yang harus diikuti. Arahan yang jelas mengenai tugas dan tanggung jawab setiap anggota sangat penting untuk menciptakan koordinasi yang baik selama kegiatan berlangsung. 

Langka selanjutnya, pemberian informasi terkait ancaman yang mungkin dihadapi selama patroli juga harus disampaikan secara detail. Adanya dokumentasi dan laporan setelah selesai melakukan patroli akan menjadi referensi bagi perencanaan kegiatan di masa depan. 

Dengan memanfaatkan teknologi, seperti GPS dan aplikasi pelaporan, pekerjaan menjadi lebih terstruktur dan terorganisir. Melalui langkah-langkah persiapan dan arahan yang sistematis, diharapkan kegiatan patroli rutin tidak hanya dapat meningkatkan keamanan, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum.

Partisipasi dan peran masyarakat dalam patroli keamanan sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Dalam konteks ini, masyarakat tidak hanya sebagai objek pengamanan, tetapi juga sebagai subjek yang aktif berkontribusi dalam menjaga ketertiban. Salah satu cara partisipasi masyarakat dapat diwujudkan adalah melalui pembentukan kelompok-kelompok patroli swakarsa yang melibatkan warga setempat. Kelompok ini berfungsi untuk melakukan pengawasan secara rutin dan melaporkan berbagai potensi gangguan keamanan kepada pihak berwenang. 

Dengan adanya partisipasi ini, masyarakat akan merasa lebih memiliki tanggung jawab terhadap keamanan lingkungan mereka. selanjutnya, peran masyarakat juga dapat tercermin dalam program-program sosialisasi yang mengedukasi warga tentang pentingnya menjaga keamanan bersama. Dalam kerangka ini, keterlibatan masyarakat tidak hanya terbatas pada saat terjadinya masalah, tetapi juga berorientasi pada langkah pencegahan. 

Oleh karena itu, sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat sangat diperlukan agar patroli yang dilakukan dapat berjalan efektif. Melalui kolaborasi ini, diharapkan tercipta peningkatan rasa aman yang berkelanjutan serta kepedulian sosial yang tinggi di antara warga, yang pada gilirannya akan memperkuat solidaritas dan ukhwah antarwarga di suatu komunitas.

Pada proses patroli yang dilakukan oleh tim keamanan, fokus utama adalah untuk memastikan keamanan dan ketertiban di area yang menjadi tanggung jawab. Proses patroli dimulai dengan penentuan rute yang strategis, di mana petugas bertugas untuk memantau aktivitas mencurigakan dan mengidentifikasi potensi ancaman. 

Selama patroli, tim seringkali menggunakan teknologi terkini, seperti drone dan sistem pemantauan berbasis kamera, untuk mendukung observasi di lapangan. Selain itu, laporan harian yang mendetail disusun untuk mencatat semua temuan yang ditemukan selama patroli, termasuk berbagai insiden yang berpotensi mempengaruhi keselamatan publik. Tim juga berinteraksi dengan masyarakat setempat guna mendapatkan informasi tambahan mengenai lingkungan di sekitar dan untuk meningkatkan kesadaran terhadap faktor-faktor keamanan. 

Penemuan terkait pelanggaran hukum, seperti vandalism atau penyalahgunaan narkoba, akan segera dilaporkan kepada pihak berwenang untuk ditindaklanjuti. Dengan pendekatan yang sistematis dan profesional, proses patroli tidak hanya berfungsi sebagai upaya preventif, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun hubungan positif dengan komunitas dan mendorong partisipasi aktif dalam menjaga keamanan lingkungan.

Pelanggaran yang terjadi di lokasi penutupan harus ditangani dengan cepat dan efisien untuk memastikan keselamatan serta kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Tindakan pertama yang perlu diambil adalah melakukan identifikasi terhadap jenis pelanggaran yang terjadi, baik itu pelanggaran administratif maupun pelanggaran keselamatan kerja. Setelah identifikasi, langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi terhadap dampak dari pelanggaran tersebut.

 Dalam konteks ini, penting bagi pihak berwenang untuk mengadakan investigasi menyeluruh untuk mengumpulkan bukti-bukti yang relevan. Penanganan pelanggaran dapat melibatkan beberapa aspek, seperti pemberian sanksi, pengawasan tambahan, atau bahkan penutupan permanen dari lokasi, tergantung pada tingkat keparahan pelanggaran. Selain itu, komunikasi yang jelas dan terbuka dengan semua pihak terkait, termasuk karyawan dan masyarakat sekitar, sangat penting untuk menjaga transparansi dalam proses ini. Menerapkan tindakan pencegahan di masa depan juga harus menjadi bagian dari rencana tindakan, termasuk pelatihan dan sosialisasi mengenai peraturan yang ada. Tujuan keseluruhan dari tindakan dan penanganan ini adalah untuk menciptakan lingkungan yang aman dan sesuai dengan regulasi yang berlaku, sehingga mencegah terjadinya pelanggaran serupa di masa yang akan datang.

Penutupan lokasi tangkap gurita memiliki manfaat jangka panjang yang signifikan bagi keberlanjutan ekosistem laut dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dengan memberikan waktu bagi populasi gurita untuk pulih, penutupan ini dapat meningkatkan biomassa dan keragaman spesies di area tersebut. Untuk itu, pengelolaan yang lebih baik terhadap sumber daya ini dapat mengurangi tekanan terhadap populasi gurita, yang seringkali dieksploitasi secara berlebihan. 

Pengembalian keanekaragaman hayati di habitat yang dilindungi dapat memperkuat jaringan makanan laut dan meningkatkan kesehatan ekosistem secara keseluruhan. Tidak hanya itu, penutupan lokasi tangkap gurita juga membuka kesempatan untuk penelitian dan pendidikan lingkungan yang lebih mendalam. Masyarakat lokal dapat menjadi lebih sadar akan pentingnya konservasi laut dan berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan. 

Dalam jangka panjang, ini dapat mendorong pengembangan ekonomi berbasis ekowisata, yang menawarkan alternatif pendapatan bagi nelayan, sekaligus memastikan bahwa generasi mendatang dapat menikmati kekayaan laut yang sama. Oleh karena itu, penutupan lokasi tangkap gurita tidak hanya menguntungkan secara ekologis, tetapi juga memberikan dampak positif secara sosial dan ekonomi bagi komunitas pesisir.

 

Oleh : Jhuan Mari

Patroli Rutin di Lokasi Penutupan Tangkap Gurita: Langkah untuk Keberlanjutan Read More »

Pengelaman Belajar dari Pontianak dalam Mendorong Program Hak Alam dan Hak Masyarakat

Ende, Tananua Flores | Dari desa Pemo Kecamatan Kelimutu kabupaten Ende saya Paskalis Ray dipercayakan oleh Yayasan Tananua Flores untuk pertukaran berlajar bersama ke Pontianak dalam pengelolaan Program Hak alam dan Hak Masyarakat. Saya sendiri keseharian tinggal di desa Pemo dengan posisi yang di percayakan oleh Yayasan Tananua sebagai penghubung antara Lembaga Tananua dan Masyarakat di desa.

Tananua mengutus saya dengan beberapa teman di wilayah desa lain yaitu mempunyai tujuan yang sama. Desa kami saat ini didampingi oleh Yayasan Tananua dengan berbagai kegiatan dalam mewujudkan kelestarian lingkungan, keberlanjutan dan akses hak masyarakat bisa terpenuhi.

Saya secara Pribadi memberikan apresiasi kepada Yayasan Tananua dan Yayasan Planet Indonesia karena sudah memberikan kesempatan kepada kami masyarakat dari desa belajar bersama dengan masyarakat di pulau lain.

Pengalaman pertukaran belajar dari Kabupaten Ende ke Pontianak yang berlangsung dari 17 hingga 22 Juli 2024 merupakan langkah penting dalam upaya mendorong program hak alam dan hak masyarakat. Pertukaran ini bertujuan untuk belajar dari praktik-praktik terbaik di Pontianak, terutama dalam hal pengelolaan sumber daya alam, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat lokal yang berkaitan dengan hak-hak mereka atas tanah, air, dan hutan.

Pertukaran Pembelajaran ini saya mendapatkan wawasan baru tentang cara-cara yang efektif dalam menyeimbangkan kebutuhan pembangunan dengan pelestarian lingkungan. Kami  juga mempelajari kebijakan-kebijakan lokal di Pontianak yang telah berhasil melindungi hak-hak alam dan masyarakat, termasuk perlindungan terhadap hutan adat dan pengakuan terhadap hak tanah masyarakat setempat. Alangkah baiknya ketika kita mau membuka diri untuk melihat dari jauh melihat perlindungan alam didaerah kita.

Masyarakat di pontianak khususnya desa yang telah kami kunjungi merasakan keseimbangan hidup antara alam dan masyarakat mempunyai hak yang sama dalam hidup, artinya masyarakat menyadari betapa pentingnya ketergantungan masyarakat terhadap Alam, hutan dan juga ekosistem lain yang saling berhubungan.

Kami berdiskusi dan saling bertukar pengetahuan, pengalaman, dan pendapat mengenai Profil Singkat PUMK Mentrap Pugan,Penerapan Dana Ketahanan,Dampak pendekatan PUMK pada sektor sosial, ekonomi,dan ekologi;

Kami juga mendapatkan pemahaman tentang  Pokja, cara kerja pokja yang diberikan oleh narasumber yang berpengelaman antara lain Ikwanto, Agustinus, Edi Chandra, Plasidus Sagiman.

Pada hari berikutnya kami belajar lapangan untuk melakukan observasi/pengamatan dan diskusi lapangan dengan fasilitator Ikwanto, Agustinus, Edi Chandra, Plasidus Sagiman.

Disini kami peserta melakukan Observasi Sekitar Dusun untuk pengamatan dan belajar, seperti Pertanian Lebah Kelulut, Kondisi pertanian Agroforestri. Kami juga diajarkan  Mini Coaching kepada Petani di Dusun Ladak  dan sebagai pemantik diskusi yakni dari  Yayasan Tananua Flores difasilitasi oleh Ikwanto dan Deki

Pada Sesi Mini Coaching yang dapat menjadi sebuah pembelajaran adalah Praktik Administrasi dan Pembukuan Kelompok, Pengorganisasian kelompok PUMK, Penyegaran Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga, Dana ketahanan untuk kelompok.

Hasil dari pertukaran ini diharapkan dapat menginspirasi LPHAM Kabupaten Ende dalam menerapkan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, serta mendorong program-program yang mendukung hak-hak masyarakat adat dan pelestarian lingkungan di wilayahnya sendiri. Pertukaran seperti ini juga membuka peluang bagi kerja sama yang lebih erat antara daerah-daerah dalam hal perlindungan hak alam dan masyarakat, serta pengembangan kebijakan berbasis kearifan lokal.

Ditulis oleh : Paskalis Rai dari Desa Pemo

Pengelaman Belajar dari Pontianak dalam Mendorong Program Hak Alam dan Hak Masyarakat Read More »

Kunjungan Belajar ke Komunitas, Pengurus Tananua Flores Apresiasi terhadap 7 Mitra CSO Misereor

Dok YTNF

Ende, Tananua Flores | Dalam menjalin gerakan advokasi untuk penguatan hak rakyat atas pembangunan, Ketua Pengurus Yayasan Tananua Flores Hironimus Pala memberikan Apresiasi kepada 7 mitra CSO Misereor atas kunjungan belajar(Join Learning Workshop) ke Yayasan Tananua Flores. Apresiasi tersebut diberikan atas pemilihan tempat sebagai kegiatan belajar bersama dari ke 7 mitra Misereor di Indonesia selama 4 hari.

“Saya Apresesia terhadap Teman-teman mitra CSO dan SATARA yang mempercayakan kepada Tananua Flores sebagai tempat kegiatan belajar  kali ini, Selamat datang di wilayah kami dan saya berharap peserta CSO dari semua mitra dapat berproses secara baik dan dapat berbagi kerja-kerja sukses bersama komunitas masyarakat Desa ada di desa dampingan kita”,Ucap ketua pengurus Tananua.

Hironimus ketua pengurus mengatakan Yayasan Tananua Flores merasa sangat terhormat mendapat kunjungan dari para mitra apalagi sampai berkunjung ke masyarakat desa yang menjadi bagian dari kerja-kerja  pendampingan oleh Tananua.

“Kami Tananua Flores merasa sangat terhormat Ketika dikunjungi oleh para mitra, apalagi kita juga akan mengunjungi ke Desa Rutujeja sebagai salah satu Desa dampingan Tananua dalam Kerjasama dengan MISEREOR dengan Program PSDABM (Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat)-Sustainable Livelihood,”katanya.

Kunjungan belajar tersebut diselenggarakan selama 4 hari dari tanggal 9-12 september 2024 di Ende dan Desa Rutujeja. Mitra yang terlibat Bina Desa-Jakarta, Gemawan-Kalimatan, JPIC-Kalimantan, JPIC-Ruteng-NTT, Tananua Flores-NTT, SATTARA-Jambi, CAPPA-Jambi, WAHLI-Jambi, dan juga Tim Misereor-German.

Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi pengalaman sukses dan gagal melindungi multikrisis di kampung serta Membangun strategi advokasi bersama. Kegiatan Belajar bersama (Join Learning) yang diselenggarakan di Ende dengan Tananua Flores sebagai Panitia Tananua Flores.

Sementara itu Koordinator IJL Tian Manager Program SATARA-Jambi mengatakan bahwa kegiatan kunjungan belajar bersama masyarakat ini sudah dipersiapkan kurang lebih 3 bulan berdasarkan kesepakatan semua Mitra.

Jadi,kegiatan ini akan mencapai beberapa hasil rekomendasi untuk keberlanjutan kegiatan kunjungan belajar bersama( Join Learning) antara lain Peta Landscape Kebijakan dan Regulasi yang Berdampak, Peta Krisis Kampung akibat kerusakan ekosistem, perubahan iklim dan kerawanan pangan, Cerita Perubahan dalam mengelola krisis kampung (People Led Development) dan Rumusan Strategi Advokasi Bersama untuk melindungi hak-hak rakyat atas pembangungn.

Kemudian sambung Herman Rupp mengungkapkan Advokasi harus dilakukan dengan Komunikasi yang baik. Komunikasi mengembangkan organisasi harus yang positif dengan menyorotkan pada solusi-solusi yang ditawarkan

“Kita berkomunikasi harus dapat mengembangkan organisasi secara positif, dalam advokasi harus memberikan solusinya. Komunikasi tidak hanya melihat Niat Anda tetapi niat dari mitra anda dan advokasi Tidak menyodorkan Masalah tetapi menyodorkan solusiny,”Ucap Rupp

Selain itu Cristine perwakilan dari mesereor Jerman mengatakan bahawa isu kemiskinan, system pangan, mewujudkan kehidupan yang beradilanan terhadap iklim dan melindungi keanekaragaman hayati masih relevan, namun dukungan Misereor mulai konsentrasi memperthankan dinamika yang terjadi di Negaranya Sendiri sebagai dampak dari perang Rusia-ukraina dan juga dampak Covid-19.

Dia menuturkan saat ini “Anda semua harus mulai cari cara seperti bagaimana melobi pemerintah beserta lembaga perlemen dan lainnya kemudia jangan berhenti disini dan terus menerus melakukan lobi,”tutur Cristine.

Lanjut Cristine Meningkatkan kesadaran secara terus menerus terkait apa yang dibutuhkan oleh masyarakat kita yakni Kampanye sosial, konferensi pers dan penyadaran melalui media dan kegiatan yang melibatkan banyak orang.

“Saya berharap Lembaga anda lebih mandiri melakukan menghemat uang dan mencari kontribusi local dan keuangan yang lebih baik dan Tantangan bahwasannya berkomunikasi dengan baik dan berkoordinasi membuat kita lebih tanggu ke depannya. Kita harus selamat bersama-sama dengan kesadaran bersama-sama, atau tidak ada yang selamat,”tutupnya.

Lebih jauh Tim Misereor Jerman  itu menegaskan Kemiskinan, kemarosotan moral, dan penderitaan merupakan salah satu bagian bumi yang diam-diam akan menjadi tempat berkembangnya masalah- masalah dan pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh planet.”tegasnya.

****Heri Se****

 

Kunjungan Belajar ke Komunitas, Pengurus Tananua Flores Apresiasi terhadap 7 Mitra CSO Misereor Read More »

Sebanyak 20 Organisasi Konservasi Asia Pasifik Gelar Lokakarya Pemantauan Kondisi Ekosistem Pesisir untuk Memperkuat Pengelolaan Perikanan berbasis Masyarakat

Denpasar, Tananua Flores | Dalam Memperkuat Pengelolaan Perikanan berbasis Masyarakat, sebanyak 20 Organisasi konservasi se Asia pasifik  yang bermitra dengan Blue ventures Indonesia gelar Lokakarya Pemantauan Kondisi Ekosistem Pesisir dan sekaligus mendorong masyarakat   dalam pengelolaan wilayah pesisir yang adaptif, kolaborasi dan berkelanjutan. 

Kegiatan tersebut digelar di Hotel Mercure sanur Denpasar selama 5 hari dari tanggal 10-15 september 2024.

Steven Box dari Blue Ventures dalam sambutan membuka kegiatan tersebut mengungkapkan Blue Ventures telah bekerja bersama mitra dan masyarakat pesisir sudah 20 an tahun dengan memberikan berbagai program kegiatan bersama masyarakat. 

Pemimpin Blue Ventures itu menjelaskan bahwa Pendekatan yang dibangun bersama mitra itu mengangkat isu-isu pengelolaan wilayah pesisir, Degradasi terhadap ekosistem perikanan, perubahan iklim dan juga membangun kualitas SDM masyarakat nelayan untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki. 

“kami telah bekerja bersama masyarakat dengan mengangkat isu pengelolaan wilayah pesisir dan laut berbasis Masyarakat, kami juga mengangkat isu terkait dengan mitigasi terhadap Ekosistem perikanan yang cenderung mulai rusak dan kami juga membangun kualitas sumber daya masyarakat untuk memahami potensi yang dimiliki agar bisa dikelola secara berkelanjutan,”Jelas Steve.

Sambung dia “ dengan kegiatan Lokakarya ini semua peserta  dari utusan mitra beloh berdiskusi dan berbagi kerja program bersama masyarakat dan juga  dengan forum ini bisa menjadi penyambung persoalan masyarakat nelayan agar didiskusikan secara bersama”, Ungkapnya. 

Steve Box juga kembali menegaskan Poin penting yang menjadi konsentrasi kerja program bersama masyarakat antara lain Data dan pendataan(data collection system), pengelolaan perikanan(Fisheries Management),Inklusif Keuangan (Financial inclusion), Perbaikan Rantai nilai (Value chain improvement). Ke empat pilar ini menjadi Konsentrasi kerja-kerja kolaborasi bersama masyarakat dan juga rujukan pegangan bagi mitra-mitra Blue ventures.

Harapannya, Lokakarya teknis ini menjadi ajang untuk berbagi dan belajar bersama , membangkitkan gagasan-gagasan baru serta mendiskusikan berbagai temuan bekerja bersama masyarakat.

“ saya senang sekali dengan partisipasi semua peserta dan saya  berharap, mari menggunakan peluang ini untuk saling berbagi, berdiskusi dan belajar bersama”,ujar dia

Perlu diketahui bahwa di wilayah Asia Pasifik, Blue Ventures mendukung organisasi konservasi seperti di Indonesia, Filipina, Thailand, India serta bekerja dengan masyarakat di Timor Leste dalam bidang pengelolaan perikanan berbasis masyarakat dan konservasi laut. Dukungan yang diberikan oleh Blue Ventures adalah teknis dan pendanaan. 

Dan lokakarya ini sudah tahap ketiga yang dimulai sejak tahun 2022 lalu. Kegiatan Lokakarya teknis ini berfungsi sebagai platform (media) untuk pembelajaran langsung, berbagi pengetahuan, dan pengembangan keterampilan, serta menumbuhkan budaya perbaikan berkelanjutan.

Peserta lokakarya mendapatkan pengalaman praktis yang melampaui pengetahuan teoritis. Melalui latihan langsung, demonstrasi, dan sesi interaktif, peserta mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep teknis dan memperoleh keterampilan untuk menerapkannya secara efektif. Lokakarya membantu menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta.

Lokakarya tahun 2024 berfokus pada implementasi program berdasarkan pilar-pilar (strategi) Blue Ventures bersama mitra dalam pendampingan masyarakat untuk mengelola perikanan demi keberlanjutan sumber daya perikanan yang bermanfaat bagi manusia dan lingkungan, terutama dalam konteks pemantauan kondisi ekosistem pesisir yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam sebuah pengelolaan perikanan. Dengan menghadiri lokakarya, peserta dapat memperoleh keterampilan baru, meningkatkan keterampilan yang sudah ada, dan terus mengikuti perkembangan strategi Blue Ventures. 

Lokakarya juga menyediakan platform untuk berjejaring, berkolaborasi, dan bertukar ide di antara individu-individu yang memiliki visi yang sama. Peserta dari berbagai latar belakang bertemu dan membentuk komunitas belajar yang dinamis.

Lokakarya teknis merupakan katalis yang kuat untuk memberdayakan individu dan mendorong inovasi. Selain itu, organisasi mendapatkan manfaat dari meningkatnya keahlian tenaga kerja mereka dan lahirnya ide-ide inovatif yang berkontribusi terhadap peningkatan layanan bagi masyarakat yang kita dukung.

Berikut ini daftar Organisasi Konverasi yang terlibat di kegiatan Lokakarya yakni Komunitas Nelayan Wangi-wangi (KOMANANGI),Forum Nelayan Binongko (FONEB),Forum Kahedupa Toudani (FORKANI),Yayasan Alam Indonesia Lestari (LINI),Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (JAPESDA),Yayasan Pendidikan Konservasi Alam (YAPEKA),Yayasan Ecosystem Impact (EI),Lembaga Juang Laut Lestari (JARI),Yayasan Tananua Flores (YTNF),Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM),Akar Global Inisiatif,Yayasan,Hutan Biru (YHB),Yayasan Planet Indonesia (YPI),Yayasan Mitra Insani (YMI),People and The Sea (PEPSEA),Blue Ventures (United Kingdom),Konservasaun Flora no Fauna (KFF),Lembaga Partisipasi Pembangunan Masyarakat (LPPM),Blue Ventures (Timor – Leste),Blue Ventures (Madagascar) *** Jhuan M

Sebanyak 20 Organisasi Konservasi Asia Pasifik Gelar Lokakarya Pemantauan Kondisi Ekosistem Pesisir untuk Memperkuat Pengelolaan Perikanan berbasis Masyarakat Read More »

Translate »