Sosialisasi Program Hak Alam dan Hak Warga: Meningkatkan Produktivitas Pertanian Berkelanjutan di Desa Raburia

Ende, Raburia – Tananua flores | Sosialisasi Program Layanan Hak Alam dan Hak Warga, sebuah inisiatif yang bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian serta penguatan ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Yayasan Tananua Flores dan dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat, tokoh agama, pendidik, kelompok tani, serta perangkat desa.Pelaksanaan kegiatan tersebut bertempat di Aula Kantor Desa Raburia pada 31/01/2025

Dalam sambutannya, Kepala Desa Raburia, Ambrosius Mani, mengapresiasi peran Yayasan Tananua Flores dalam pemberdayaan petani di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa program ini merupakan tindak lanjut dari lokakarya sebelumnya di Aula Bina Kerahiman, Ende, yang juga melibatkan 13 desa dampingan lainnya.

“Harapan saya, peserta yang hadir dapat menindaklanjuti kegiatan ini di tingkat kelompok. Dalam waktu dekat, kami akan memasukkan beberapa program pendampingan ini ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) Raburia melalui forum review RPJMDes, sehingga dapat didanai melalui dana desa,” ujar Ambrosius.

Sosialisasi ini turut melibatkan Stefanus Aba, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Desa Raburia, yang menyoroti pentingnya revitalisasi tujuh kelompok tani di desa tersebut. Ia juga mengingatkan tentang perlunya konservasi mata air sebagai sumber utama kehidupan masyarakat.

“Saya berharap kelompok tani yang hadir bisa lebih aktif dan turut serta dalam upaya pelestarian alam kita,” tambah Stefanus.

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Raburia, Lukas Raja, juga menyampaikan apresiasinya terhadap pendampingan yang dilakukan Yayasan Tananua Flores. Ia berharap program ini mampu membawa perubahan nyata dalam peningkatan hasil pertanian sekaligus mendongkrak ekonomi masyarakat Desa Raburia.

Pada sesi pemaparan materi, Penyamin Gosa, Koordinator Program Layanan Hak Alam dan Hak Warga, bersama Hermanus Nebon Lion, staf Monitoring, Evaluasi, Akuntabilitas, dan Pembelajaran (MEAL) Yayasan Tananua Flores, menekankan pentingnya pembentukan Lembaga Perlindungan Hak Alam dan Hak Masyarakat (LPHAM).

Hermanus menjelaskan bahwa LPHAM akan berperan dalam menjaga keseimbangan antara hak masyarakat dan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Pendampingan dari Yayasan Tananua Flores akan berlangsung selama tiga tahun, sesuai perjanjian kerja sama yang telah disepakati.

“Kami berharap LPHAM ini nantinya dapat berdiri secara mandiri dan menjadi wadah perlindungan bagi kelompok tani serta masyarakat Desa Raburia,” tegas Hermanus.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDI Raburia, Yulius Minggus, S.Pd, menyoroti pentingnya edukasi konservasi bagi generasi muda. Menurutnya, anak-anak harus diperkenalkan dengan konsep pertanian berkelanjutan agar mereka memahami pentingnya menjaga keseimbangan alam sejak dini.

“Di era digital seperti sekarang, banyak anak-anak yang semakin jauh dari dunia pertanian dan konservasi lingkungan. Oleh karena itu, program ini sangat relevan untuk diterapkan di sekolah,” ungkap Yulius.

Sosialisasi ini menjadi langkah strategis dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan di Desa Raburia. Dengan adanya pendampingan dari Yayasan Tananua Flores, diharapkan masyarakat semakin memahami pentingnya memanfaatkan alam secara bijaksana demi kesejahteraan generasi mendatang.***

Kontributor : Ersin

Editor : Jhuan Mari

 

Sosialisasi Program Hak Alam dan Hak Warga: Meningkatkan Produktivitas Pertanian Berkelanjutan di Desa Raburia Read More »

Bertemu dan Berbagi Cerita Bersama Kelompok Tani Mbei Mbani di Desa Kamubheka

 

Ende, Kamubheka- Tananua | Tahun Baru 2025 menjadi momentum penuh harapan bagi masyarakat Desa Kamubheka. Salah satu kegiatan bermakna yang dilaksanakan adalah pertemuan perdana bersama Kelompok Tani Mbei Mbani, sebuah komunitas yang berkomitmen memajukan pertanian dan kesejahteraan anggotanya. Dalam suasana hangat, anggota kelompok berkumpul untuk merefleksikan perjalanan, mengidentifikasi tantangan, dan menyusun rencana masa depan (13/01/2025).

Momen Refleksi: Meninjau Perjalanan Kelompok

Diskusi dimulai dengan meninjau perjalanan Kelompok Tani Mbei Mbani selama ini. Berbagai pencapaian disoroti, mulai dari peningkatan hasil panen hingga penguatan solidaritas antaranggota. Evaluasi ini menjadi pijakan penting untuk melihat dampak positif yang telah dirasakan masyarakat.

Namun, perjalanan tentu tidak bebas dari tantangan. Dalam suasana diskusi yang terbuka, anggota kelompok berbagi cerita tentang kendala yang mereka hadapi, baik dari aspek teknis pertanian maupun hambatan pemasaran. Dengan semangat kebersamaan, berbagai solusi kemudian didiskusikan dan disepakati untuk diimplementasikan ke depan.

Lima Fokus Utama Pendampingan

Hasil diskusi menghasilkan lima fokus pendampingan yang akan menjadi prioritas kelompok selama dua tahun ke depan:

  1. Pengembangan Usaha Komoditi
    Kelompok berkomitmen memperkuat produksi dan pemasaran komoditi unggulan, sehingga kesejahteraan anggota dapat meningkat secara signifikan.
  2. Pengelolaan dan Pengembangan Pangan Lokal
    Pangan lokal, seperti ubi ungu dan jagung, menjadi fokus utama. Diversifikasi dan pengolahan pangan akan didorong untuk meningkatkan nilai tambah.
  3. Konservasi Sumber Daya Alam
    Upaya menjaga kelestarian lingkungan menjadi prioritas utama. Kelompok merencanakan aksi konservasi untuk memastikan keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi mendatang.
  4. Pengembangan Usaha Kelompok
    Untuk menciptakan kemandirian, usaha kelompok diarahkan menjadi lebih profesional melalui penguatan manajemen, pemasaran, dan inovasi usaha.
  5. Peningkatan Pengetahuan tentang Pertanian dan Bisnis
    Melalui pelatihan dan pendampingan, anggota kelompok akan dibekali wawasan baru mengenai teknik pertanian modern dan strategi pengelolaan bisnis.

Inspirasi dari Anggota Kelompok

Salah satu kisah inspiratif datang dari Ibu Maria, seorang anggota Kelompok Tani Mbei Mbani. Dengan luas lahan terbatas, ia berhasil mempraktikkan metode pertanian berkelanjutan yang didapat dari pendampingan kelompok. Fokusnya pada budidaya ubi ungu dan jagung lokal memberikan hasil luar biasa.

“Saya sangat bersyukur bisa bergabung di kelompok ini. Bimbingan yang kami terima memberikan banyak pengetahuan baru. Kami jadi tahu cara bercocok tanam yang lebih baik dan cara menjual produk kami dengan harga yang lebih adil,” ujar Ibu Maria penuh semangat. Pendapatannya yang meningkat kini memungkinkan ia menabung untuk pendidikan anak-anaknya.

Dokumentasi Momen Bermakna

Sebagai bagian dari pertemuan ini, berbagai momen penting diabadikan melalui foto:

  • Diskusi Kelompok: Anggota duduk bersama, berdiskusi, dan berbagi cerita penuh kehangatan.
  • Kegiatan di Lahan Pertanian: Foto anggota menunjukkan lahan mereka yang subur, bukti nyata keberhasilan pendampingan.
  • Foto Kebersamaan: Seluruh anggota kelompok berfoto bersama, merayakan awal baru yang penuh harapan.

Harapan untuk Masa Depan

Pertemuan ini adalah langkah awal yang menjanjikan untuk menciptakan perubahan positif di Desa Kamubheka. Dengan semangat kebersamaan dan rencana kerja yang terarah, Kelompok Tani Mbei Mbani diharapkan terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi komunitas lainnya. Momentum ini membuktikan bahwa dengan kerja keras, dukungan yang tepat, dan solidaritas, perubahan nyata dapat tercipta.

Andre Ngera

Bertemu dan Berbagi Cerita Bersama Kelompok Tani Mbei Mbani di Desa Kamubheka Read More »

Mengatasi Tantangan Administrasi: Pertemuan Bersama Pengurus Kelompok Iwa Tolo dan Dasawisma Gae Imu

Ende, Rutujeja- Tananua |– Pertemuan bersama pengurus kelompok Iwa Tolo 1, 2, dan Dasawisma Gae Imu menjadi momen refleksi dan evaluasi penting dalam pengelolaan administrasi organisasi. Sapaan pembuka dari Maria Sepi (Nining) mengawali diskusi yang membahas berbagai tantangan pengisian dokumen administrasi dan keuangan kelompok.(18 /1/ 2025)

Tantangan yang Dihadapi Pengurus

Kesulitan Mengisi Buku Administrasi Buku-buku administrasi seperti buku kas, buku tamu, buku notulen, dan SIMPIN PUMK untuk Dasawisma Gae Imu masih banyak yang belum terisi. Ibu Natalia, salah satu pengurus, mengungkapkan bahwa banyak anggota belum memahami cara pengisian yang benar. Akibatnya, dokumen penting seperti buku SIMPIN-PINJAM sama sekali belum digunakan.

Minimnya Peran dan Tugas Pengurus Pengisian buku administrasi sebagian besar masih menjadi tanggung jawab ketua kelompok. Beban kerja yang berat ini membuat ketua harus membagi waktu antara pekerjaan kelompok dan aktivitas pribadi seperti mengurus kebun dan ekonomi keluarga.

Dokumen Resmi yang Belum Diperbarui Robertus Gati mengungkapkan bahwa Surat Keputusan (SK) kelompok masih tertahan di tangan sekretaris desa. Selain itu, daftar anggota aktif dalam SK belum mencerminkan kondisi terkini, menambah kerumitan dalam pengelolaan administrasi.

Kurangnya Kebiasaan Dokumentasi Buku tamu yang seharusnya digunakan untuk mencatat kunjungan sering kali terabaikan. Buku notulen juga jarang diisi, sehingga hasil rapat tidak terdokumentasi dengan baik.

Rencana Aksi untuk Mengatasi Tantangan

Dari diskusi yang berlangsung, beberapa langkah strategis diusulkan untuk memperbaiki situasi:

  1. Pelatihan Pengisian Buku Administrasi Pelatihan khusus akan diberikan kepada pengurus untuk memahami cara pengisian buku administrasi dengan benar. Pendekatan ini diharapkan dapat meringankan beban ketua dengan mendistribusikan tanggung jawab ke pengurus lain.
  2. Distribusi Tugas yang Jelas Setiap pengurus akan diberi tanggung jawab untuk mengelola dokumen tertentu, seperti buku kas, buku tamu, atau buku notulen, sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya.
  3. Mempercepat Penyerahan dan Pembaruan SK Kelompok Kelompok akan segera berkoordinasi dengan sekretaris desa untuk mendapatkan SK yang masih tertahan. Setelah itu, daftar anggota aktif akan diperbarui agar relevan dengan kondisi terkini.
  4. Meningkatkan Kebiasaan Dokumentasi Pengurus diajak untuk membangun kebiasaan mencatat secara rutin, baik dalam buku notulen maupun buku tamu, guna memastikan kegiatan kelompok terdokumentasi dengan baik.

Kisah Inspiratif Mama Nata: Ketulusan di Balik Tantangan

Salah satu momen penuh makna dalam pertemuan ini adalah cerita dari Mama Nata, seorang pengurus yang setia menjalankan tugas meskipun menghadapi banyak keterbatasan. Dengan rendah hati, Mama Nata mengakui bahwa selama ini pengisian buku administrasi hanya dilakukan oleh ketua kelompok karena pengurus lain belum memahami caranya.

Namun, Mama Nata tidak menyerah. Ia berinisiatif belajar sedikit demi sedikit dari pendamping dan anggota kelompok lainnya. “Saya yakin kalau kita belajar pelan-pelan, lama-lama akan bisa. Tidak apa-apa terlambat, yang penting mau mulai,” ujarnya dengan senyum optimis.

Cerita ini menginspirasi seluruh anggota kelompok untuk terus berusaha, meskipun banyak tantangan yang harus dihadapi.

Langkah Awal yang Disepakati

Sebagai tindak lanjut, beberapa langkah awal telah dirancang untuk membantu kelompok memperbaiki pengelolaan administrasi:

  • Workshop Pengisian Dokumen: Pendamping akan mengadakan workshop kecil untuk melatih pengurus mengisi buku administrasi, termasuk buku notulen, buku tamu, dan SIMPIN PUMK. Pendekatan ini dilakukan dengan simulasi langsung agar mudah dipahami.
  • Distribusi Buku Administrasi ke Tiap Pengurus: Tugas administrasi akan dibagi ke beberapa pengurus. Sebagai contoh, Mama Nata akan mengelola buku tamu, sementara pengurus lain bertanggung jawab atas buku notulen dan buku kas.
  • Koordinasi dengan Sekretaris Desa: Kelompok akan segera menghubungi sekretaris desa untuk mempercepat penyerahan SK kelompok.
  • Meningkatkan Kesadaran Dokumentasi: Pengurus diajak untuk mencatat setiap kegiatan, mulai dari rapat kecil hingga kunjungan tamu. Hal ini diharapkan menjadi kebiasaan yang memperkuat manajemen kelompok di masa depan.

Harapan untuk Kelompok

Melalui evaluasi ini, diharapkan kelompok Iwa Tolo dan Dasawisma Gae Imu dapat memperkuat manajemen administrasinya. Dengan pendampingan intensif, para pengurus diharapkan mampu menjalankan tugas mereka secara lebih mandiri. Administrasi yang kuat akan mendukung pengembangan kegiatan ekonomi dan sosial yang bermanfaat bagi seluruh anggota.

“Kita semua punya peran masing-masing. Kalau setiap orang mau ambil bagian, kelompok kita pasti bisa jadi lebih baik,” kata Mama Nata penuh harapan.

Cerita ini membuktikan bahwa perubahan membutuhkan waktu, tetapi bisa dimulai dari langkah kecil. Dengan semangat dan komitmen dari pengurus kelompok serta dukungan dari pendamping dan pihak desa, kelompok ini mampu membangun sistem administrasi yang lebih kokoh dan mencapai tujuan bersama.

Nining

Mengatasi Tantangan Administrasi: Pertemuan Bersama Pengurus Kelompok Iwa Tolo dan Dasawisma Gae Imu Read More »

Kebun Pangan Bapak Yosep Natalis Yono: Mengelola Keanekaragaman di Lahan Satu Hektar

Ende, Tananua – Di Dusun Lioboto, Desa Detuwulu, sebuah kebun pangan milik Bapak Yosep Natalis Yono menjadi contoh keberhasilan dalam pengelolaan lahan secara bijaksana. Dengan memanfaatkan lahan seluas satu hektar, Bapak Yosep berhasil mengembangkan berbagai jenis tanaman pangan seperti padi, jagung, porang, singkong, dan pisang. Kombinasi tanaman ini tidak hanya memastikan keberlanjutan pangan keluarga tetapi juga menjadi strategi cerdas untuk meningkatkan pendapatan.

Keanekaragaman Tanaman yang Dikembangkan

Padi dan Jagung Sebagai dua tanaman pokok di banyak wilayah Indonesia, padi dan jagung menjadi prioritas utama dalam kebun ini. Padi ditanam untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, sementara jagung, selain untuk konsumsi, juga dipasarkan sebagai komoditas lokal yang bernilai ekonomi.

Porang, Porang menjadi salah satu tanaman unggulan di kebun ini. Dengan permintaan pasar yang terus meningkat, terutama untuk ekspor, tanaman ini memiliki nilai ekonomi tinggi. Bagi Bapak Yosep, porang adalah salah satu kunci keberhasilan kebunnya.

Singkong, Tanaman serbaguna ini ditanam sebagai sumber pangan alternatif dan bahan baku untuk produk olahan seperti tepung singkong. Keberadaan singkong menambah variasi hasil panen sekaligus memberikan jaminan ketahanan pangan.

Pisang, Pisang menjadi tanaman pendukung yang memberikan hasil panen buah secara berkala. Selain itu, akar dan struktur tanaman pisang membantu mencegah erosi tanah, terutama di area yang curam.

Sistem Terasering Kayu yang Inovatif

Salah satu keunikan dari kebun ini adalah penggunaan sistem terasering dengan kayu. Sistem ini dirancang dengan beberapa tujuan:

Mengurangi Erosi, Dengan kondisi lahan yang cenderung miring, terasering kayu menjadi solusi efektif untuk mencegah erosi tanah, terutama saat musim hujan tiba.

Mengoptimalkan Penggunaan Lahan, Sistem terasering memungkinkan seluruh bagian lahan digunakan secara efisien untuk menanam berbagai jenis tanaman, sehingga produktivitas lahan meningkat.

Menjaga Kesuburan Tanah, Penahan kayu pada terasering membantu menjaga kesuburan tanah dengan meminimalkan hilangnya nutrisi akibat aliran air.

Keberlanjutan Pangan dan Ekonomi

Melalui pendekatan ini, Bapak Yosep tidak hanya menjamin kebutuhan pangan keluarga tetapi juga menciptakan peluang pendapatan tambahan. Porang, pisang, dan jagung menjadi tiga komoditas utama yang diharapkan memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan. Keanekaragaman tanaman di kebun ini juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem lahan, menjadikannya model keberhasilan bagi petani lain di Dusun Lioboto.

Inspirasi bagi Petani Lain

Kebun pangan milik Bapak Yosep Natalis Yono adalah bukti nyata bahwa sebuah lahan satu hektar bisa dimanfaatkan secara maksimal dengan pendekatan yang beragam dan berkelanjutan. Semangat kerja keras dan kreativitasnya dalam mengelola kebun ini menjadi inspirasi bagi petani lain di Desa Detuwulu.

“Saya ingin kebun ini tidak hanya bermanfaat untuk keluarga, tetapi juga menjadi contoh bagi petani lain bahwa kita bisa memanfaatkan lahan dengan lebih baik,” ungkap Bapak Yosep penuh semangat.

Dengan keanekaragaman tanaman, sistem terasering kayu, dan dedikasi tinggi, kebun pangan ini menggambarkan harapan bagi masa depan pertanian yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Bagi Desa Detuwulu, kebun ini bukan sekadar sumber pangan, tetapi juga simbol keberhasilan dan inovasi yang menginspirasi.

Ansel Sa

Kebun Pangan Bapak Yosep Natalis Yono: Mengelola Keanekaragaman di Lahan Satu Hektar Read More »

Pengembangan Tanaman Pala Berbasis Pangan: Langkah Menuju Pertanian Diversifikasi Berkelanjutan


Lioboto, Detuwulu, Maurole – 17 Januari 2025 Sebuah inisiatif pertanian berkelanjutan mulai berkembang di Dusun Lioboto, Desa Detuwulu, tepatnya di lokasi Seroria. Urbanus Paru Wara, Kepala Desa Detuwulu terpilih, memimpin langkah strategis dengan mengembangkan tanaman pala di kebunnya seluas satu hektare. Pendekatan ini diharapkan menjadi model bagi para petani dalam mempraktikkan pertanian yang efisien dan berkelanjutan.

Pendampingan Strategis
Menurut Ansel Sa, staf program dari Yayasan Tananua Flores yang mendampingi Desa Tou Barat dan Desa Detuwulu, kebun pala ini dirancang dengan menerapkan jarak tanam antar pohon 7 meter x 7 meter. Langkah ini bertujuan untuk:

Optimalisasi Ruang: Setiap pohon mendapatkan sinar matahari, air, dan nutrisi tanah secara merata.

Pencegahan Persaingan Nutrisi: Jarak yang teratur meminimalkan kompetisi antar akar pohon.

Kemudahan Perawatan: Pola tanam ini memudahkan proses pemupukan, penyiangan, dan panen.

Pemilihan Lokasi Strategis
Dusun Lioboto di Seroria dipilih karena kondisi tanah yang subur, iklim yang cocok, dan akses air yang memadai, faktor penting bagi pertumbuhan tanaman pala.

Urbanus Paru Wara menjelaskan bahwa tanaman pala memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar lokal dan internasional. Namun, di Desa Detuwulu, pengelolaannya masih membutuhkan pendekatan strategis. Oleh karena itu, ia berharap kebun pala ini menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi serupa.

Harapan dan Dampak
Pengembangan ini diharapkan membawa dampak positif, seperti:

Konservasi Lahan: Jarak tanam yang terencana menjaga kesuburan tanah.

Pendapatan Berkelanjutan: Tanaman pala menawarkan nilai ekonomi tinggi untuk jangka panjang.

Model Replikasi: Kebun ini dapat menjadi contoh bagi petani lain untuk menerapkan praktik pertanian berkelanjutan.

Urbanus menyampaikan, “Kami ingin menunjukkan bahwa pertanian yang direncanakan dengan baik bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan.”

Langkah yang diambil oleh Urbanus Paru Wara ini membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari tindakan kecil yang terencana dengan baik. Pengembangan kebun pala ini tidak hanya tentang penanaman, tetapi juga harapan untuk masa depan pertanian yang lebih baik di Desa Detuwulu.

Ansel Sa

Pengembangan Tanaman Pala Berbasis Pangan: Langkah Menuju Pertanian Diversifikasi Berkelanjutan Read More »

Translate »