Refleksi dan Komitmen Baru: Tananua Flores Menyusun Langkah Perbaikan untuk Pendampingan yang Lebih Baik

Ende, 15 Juli 2025 — Dalam semangat meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan program, Yayasan Tananua Flores kembali menunjukkan komitmennya dalam mendampingi petani dan nelayan melalui evaluasi semestral yang dilaksanakan secara daring pada Selasa (15/07). Kegiatan ini diikuti oleh staf Livelihood Sustainable, Kelautan dan Perikanan, serta manajemen yayasan, berlangsung intens selama dua jam (10.00–12.00 WITA).

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan pertemuan semestral petani dan nelayan yang berlangsung di Desa Malawaru, Kecamatan Nangapenda, pada 24–27 Juni 2025 lalu. Evaluasi ini tidak sekadar menjadi momen refleksi, namun juga menjadi ruang strategis untuk menyusun Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) demi pendampingan yang lebih baik ke depan.

“Kegiatan ini penting untuk melihat apa saja yang sudah baik, apa yang perlu diperbaiki, dan apa pembelajaran menarik yang bisa menjadi bekal bagi kegiatan berikutnya,” ujar Pius Sai Jodho, Koordinator Program Perikanan Tananua Flores.

Catatan Kritis: Menemukan Ruang Perbaikan

Berbagai catatan penting muncul dari hasil refleksi bersama, antara lain:

  • Koordinasi Internal perlu diperkuat untuk mematangkan persiapan kegiatan di masa mendatang.
  • Materi Pertemuan dinilai perlu disesuaikan agar pembahasan isu pertanian dan perikanan lebih fokus, melalui pembagian kelas tematik.
  • Durasi Waktu yang sempit membuat beberapa sesi terasa terburu-buru. Usulan penambahan menjadi tiga hari efektif dinilai lebih ideal.
  • Peran Panitia harus diperjelas sejak awal antara tim lokal dan manajemen.
  • Dokumentasi dan Kehadiran masih perlu pembenahan agar lebih efisien dan tidak mengganggu kenyamanan peserta.
  • Kontribusi Peserta dari 13 desa berupa beras, ikan, kopi, gula, hingga uang tunai perlu dianalisis kembali dampaknya terhadap efektivitas kegiatan.
  • Fasilitator dan Tim Media diharapkan meningkatkan kesiapan, termasuk penguatan alat dokumentasi audio yang lebih andal.

Pembelajaran Positif yang Menginspirasi

Namun bukan hanya tantangan yang ditemukan. Banyak pembelajaran bermakna yang tercatat, seperti:

  • Terjadi transfer pengetahuan yang kuat antar petani dan nelayan.
  • Narasumber yang hadir sangat relevan dengan dinamika lokal hingga global.
  • Kehadiran peserta dari 13 desa membawa semangat solidaritas dan pertukaran pengalaman.
  • Keterlibatan anak muda menjadi energi baru dalam kegiatan lapangan.
  • Terobosan media seperti keikutsertaan peserta secara daring mendapat apresiasi tinggi.

Langkah Nyata: Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL)

Sebagai bentuk komitmen, Tananua Flores telah menyusun sejumlah langkah strategis pasca-evaluasi:

  1. Menerbitkan newsletter berisi materi dan hasil kegiatan untuk seluruh desa dampingan.
  2. Memperbaiki sistem notulensi agar lebih akurat dan layak dipublikasikan.
  3. Mendokumentasikan tindak lanjut peserta, seperti teknik budidaya hingga pengelolaan sampah.
  4. Mempersiapkan materi baru seperti pengolahan pangan lokal, latihan GPS, hingga pengelolaan sampah plastik.
  5. Pengadaan alat perekam audio berkualitas untuk kebutuhan dokumentasi kegiatan.
  6. Pelatihan peningkatan kapasitas staf, sebelum dan sesudah kegiatan.

“Pertemuan ini menjadi cermin bagi kita semua, bukan hanya untuk mengevaluasi tetapi juga menegaskan komitmen kita dalam mendampingi petani dan nelayan. Mari kita perbaiki langkah dan terus belajar bersama masyarakat,” tegas Heri Se, Manajer Program Tananua Flores.

Jaga Waka Desa: Semangat yang Terus Menyala

Melalui evaluasi yang penuh makna ini, Tananua Flores menegaskan kembali semangat “Jaga Waka Desa”—merawat kehidupan dan keberlanjutan desa melalui kerja bersama yang partisipatif dan reflektif.

Dengan semangat kolaborasi, transparansi, dan pembelajaran terus-menerus, Tananua Flores terus melangkah untuk menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat dampingan. Karena setiap perbaikan kecil yang dilakukan hari ini, adalah fondasi bagi masa depan yang lebih baik. *** Tim Media

Refleksi dan Komitmen Baru: Tananua Flores Menyusun Langkah Perbaikan untuk Pendampingan yang Lebih Baik Read More »

Menuju Pertanian Berkelanjutan: Mautenda Barat sebagai Titik Awal Kebangkitan Pangan Organik

Ende, Mautenda Barat | 12 Juni 2025, Krisis pangan bukan lagi sekadar wacana global. Ia telah menyusup hingga ke pelosok-pelosok daerah, termasuk Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Di tengah tantangan perubahan iklim, kerusakan lahan, dan ketergantungan pada bahan kimia pertanian, isu ketahanan pangan membutuhkan lebih dari sekadar retorika. Ia memerlukan aksi nyata, terukur, dan berbasis ilmu pengetahuan.

Sayangnya, perhatian pemerintah daerah terhadap isu ini masih belum maksimal. Meski ketahanan pangan kerap disebut dalam berbagai forum, belum tampak adanya langkah sistematis untuk menjadikannya sebagai program prioritas yang menyentuh akar persoalan di tingkat desa.

Namun, harapan itu tak sepenuhnya sirna. Yayasan Tananua Flores, sebuah lembaga non-pemerintah yang konsisten memperjuangkan keadilan sosial dan ekologis, telah mengambil langkah maju. Bekerja sama dengan Universitas Flores (Unflor), pemerintah Desa Mautenda Barat, dan Kelompok Tani Sa Ate, Tananua memprakarsai sebuah kajian pertanian organik yang berpotensi menjadi tonggak perubahan dalam sektor pertanian Ende.

Kajian ini bukan sebatas eksperimen akademis. Ia adalah sebuah gerakan—gerakan hijau yang lahir dari kolaborasi lintas sektor: akademisi, petani lokal, tokoh adat (Mosalaki), dan birokrasi desa. Dengan semangat back to nature, kegiatan ini menanamkan nilai-nilai keberlanjutan di atas tanah yang selama ini lelah dibombardir oleh pupuk dan pestisida kimia.

Kebangkitan dari Desa

Kepala Desa Mautenda Barat menyebutnya sebagai transformasi pertanian desa. Setelah setahun penuh berfokus pada pertanian padi sawah, kini masyarakat desa mulai diajak untuk melihat ke depan: mengubah pola lama menuju pertanian modern yang berbasis riset ilmiah. Langkah ini sangat strategis, karena pertanian desa adalah tulang punggung pangan lokal.

Ketua Kelompok Tani Sa Ate, Fransiskus Seda, dengan penuh semangat mengakui bahwa ini adalah pengalaman pertama mereka mendapatkan pendampingan dari berbagai pihak. “Selama ini kami hanya mengandalkan pengetahuan turun-temurun,” ujarnya. “Kini kami berkomitmen untuk belajar bersama agar hasil panen meningkat dan tanah kembali subur.”

Dukungan moral dan spiritual datang dari Mosalaki Detuboti, Pius Pio, yang menegaskan pentingnya menjaga tana watu—tanah warisan leluhur—agar tetap lestari dan memberi kehidupan.

Ilmu Pengetahuan untuk Tanah yang Lelah

Pentingnya perspektif ilmiah dalam pertanian organik ditegaskan oleh Alan, Ketua Program Studi Agroteknologi Universitas Flores. Ia menyampaikan bahwa tanah bukan benda mati, melainkan makhluk hidup yang harus diberi “makan” berupa bahan organik. “Salah satunya dengan menanam kacang-kacangan untuk memperkaya nitrogen,” jelasnya.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) menganggap kajian ini sebagai bentuk tanggung jawab ilmiah atas kerusakan tanah akibat penggunaan pupuk kimia selama ini. Bersama mahasiswa Unflor dari berbagai spesialisasi, mereka akan memantau secara berkala perkembangan lahan yang ditanami secara organik.

Membangun Visi Bersama: Pertanian untuk Masa Depan

Bagi Yayasan Tananua Flores, inisiatif ini lebih dari sekadar program lapangan. Ia lahir dari kegelisahan terhadap ekosistem pertanian yang terus rusak dan dari keresahan masyarakat atas mahal dan langkanya bahan pangan sehat. Seperti yang ditegaskan oleh Heri Se, Manajer Program Tananua:
“Kami ingin membuka cara pandang baru, yakni melihat pertanian dan lingkungan secara positif, sehat, dan berkelanjutan melalui kolaborasi lintas sektor.”

Semua pihak dilibatkan secara aktif, dengan harapan bahwa suatu saat kelak, penggunaan pupuk dan pestisida kimia benar-benar bisa dihentikan.

Apa yang dimulai di Mautenda Barat pada 12 Juni 2025 adalah sebuah langkah kecil, namun strategis. Ia menggabungkan kekuatan lokal dan ilmu pengetahuan, membangun jembatan antara tradisi dan inovasi. Bila dijalankan konsisten, kajian pertanian organik ini bukan hanya akan menyuburkan tanah—tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa ketahanan pangan harus dimulai dari bawah.

Semoga inisiatif ini menjadi model yang direplikasi di desa-desa lain. Karena sejatinya, masa depan pangan tidak bisa menunggu. Ia harus ditanam hari ini.***

Ditulis oleh : HS

Menuju Pertanian Berkelanjutan: Mautenda Barat sebagai Titik Awal Kebangkitan Pangan Organik Read More »

Saatnya Kampus dan Masyarakat Bahu Membahu Merawat Bumi

Ende, 9 Juli 2025 — Yayasan Tananua Flores dan Universitas Flores secara resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU), Perjanjian Kerja Sama, dan Implementation Agreement pada Rabu, 9 Juli 2025. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Pedagogi, Lantai 3, Kampus 2 Universitas Flores, Ende.

Penandatanganan ini menjadi bentuk konkret sinergi antara lembaga pendidikan dan organisasi masyarakat sipil dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan dan mendorong pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Ende dan sekitarnya.

Rektor Universitas Flores, Dr. Wilybrodus Lanamana, SE., MMA, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kerja sama antara kedua institusi sejatinya telah terjalin sejak lama, jauh sebelum diformalkan melalui perjanjian tertulis. Ia mencontohkan kegiatan reboisasi bersama di sekitar mata air dan kebun warga sebagai wujud nyata kolaborasi.

“Kegiatan ini harus menjadi program berkelanjutan sebagai wujud kepedulian kampus dalam memelihara kehidupan dan merawat bumi,” ujar Dr. Wilybrodus.

Ia juga menyoroti sejumlah tantangan yang perlu dihadapi bersama, antara lain:

  • Musim kemarau berkepanjangan yang mengancam keberhasilan program reboisasi.
  • Gangguan hama ternak yang memerlukan regulasi melalui Peraturan Desa (Perdes) dengan dukungan program “Kampus Berdampak”.
  • Pentingnya membangun visi lingkungan lestari untuk jangka panjang, setidaknya dalam 15 tahun ke depan, yang memerlukan komitmen berkelanjutan dari semua pihak.
  • Perlunya melibatkan pihak ketiga yang relevan untuk memperkuat kerja sama, termasuk lembaga donor dan organisasi mitra.

“Saya sangat nyaman dengan kerja sama ini karena memberikan dampak nyata bagi kampus, Yayasan Tananua Flores, dan masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Yayasan Tananua Flores, Bernadus Sambut, A.Md, menegaskan bahwa kolaborasi ini telah dimulai sejak tahun 2006 melalui program pengembangan komoditas kopi dan kakao serta penguatan layanan ekosistem.

“Mulai tahun 2025, kerja sama ini semakin diperkuat melalui pelaksanaan program magang mahasiswa di lokasi dampingan Yayasan. Saya berharap kerja sama ini tidak berhenti pada periode lima tahun, tetapi terus berlanjut secara berkesinambungan,” ungkap Bernadus.

Ia juga mendorong adanya kajian hukum bersama Taman Nasional Kelimutu (TNK) oleh Fakultas Hukum Universitas Flores untuk mendukung advokasi atas hak-hak masyarakat di sekitar kawasan konservasi.

Penandatanganan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan dan organisasi masyarakat sipil demi masa depan lingkungan yang lebih baik.

Oleh : Hery Se

Saatnya Kampus dan Masyarakat Bahu Membahu Merawat Bumi Read More »

Dari Kampus ke Kampung: Gerakan ‘Merawat Bumi’ Jawab Tantangan Krisis Iklim

Ende, Tananua Flores |Di lereng sejuk Kabupaten Ende, pada Sabtu pagi yang teduh, Sejumlah warga, tokoh adat, perempuan, pemuda, dan akademisi menyatu dalam satu semangat: merawat bumi, memelihara kehidupan. Di tengah krisis iklim global yang semakin mendesak, sebuah gerakan lokal tumbuh dari akar komunitas dengan kerja kolaborasi antara Tananua Flores, Universitas Flores, dan pemerintah desa melakukan aksi konservasi lintas desa.

Gerakan ini bukan sekadar bagian dari perayaan menyongsong 50 tahun Universitas Flores (5/7), melainkan representasi nyata bahwa cinta pada bumi harus dijalankan bersama, melampaui batas institusi dan generasi. Dengan mengusung tema “Merawat Bumi, Memelihara Kehidupan!”, aksi menanam pohon ini menyentuh empat desa di dua kecamatan yakni desa Detubela(140 orang) dan Mautenda Barat (148 orang)di Wewaria, serta desa Mbobhenga (196 orang) dan Malawaru (108 orang) di Nangapanda.

Dari kampus ke ladang, dari ruang kelas ke hutan, lebih dari 14.000 anakan pohon (Muntin, Merbau, Sengon, hingga durian) dibagikan. Sebanyak 2.189 anakan berhasil ditanam pada hari itu, menyebar di 16 titik konservasi strategis, mulai dari sumber mata air, kebun warga, hingga bantaran sungai.

Bagi Universitas Flores, ini bukan sekadar program pengabdian masyarakat. Ini adalah pengejawantahan dari filosofi Kampus Berdampak, di mana ilmu pengetahuan tidak berhenti di bangku kuliah. “Kami tidak hanya ingin mendidik di kelas, tetapi juga belajar bersama masyarakat, ikut membangun masa depan yang lebih lestari,” ujar Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores, Lori Gadi Djou, saat melakukan penanaman pohon di desa Detubela

Lori bahkan membayangkan satu desa Detubela menjadi ikon agrowisata lokal, yang dikenal bukan hanya karena konservasi, tetapi juga karena potensi ekonominya. “Bayangkan, kelak orang datang ke Detubela untuk makan durian. Itu bisa terjadi,” ujarnya penuh harap.

Di sisi lain, Tananua Flores memainkan peran vital sebagai jembatan antara kearifan lokal dan strategi ekologi modern. Ketua Pengurus Yayasan, Hironimus Pala, menekankan pentingnya memperkenalkan hutan keluarga sebagai solusi alternatif—memberi akses kayu bagi warga tanpa merusak hutan alam. “Ini adalah bentuk adaptasi terhadap krisis iklim, yang dampaknya paling dulu dirasakan petani di pelosok,” ungkapnya.

Kepemimpinan Ekologis dari Desa

Kesadaran ekologis tidak hanya datang dari kampus atau NGO, tetapi juga dari pemimpin desa. Kepala Desa Detubela, Eustakheus Kota, menjadi contoh kepemimpinan ekologis yang visioner. Ia memahami betul pentingnya menjaga dua mata air utama Lou dan Muru Menge yang tidak hanya menyuplai kebutuhan warganya, tetapi juga desa tetangga seperti Tanali dan Welamosa.

“Menjaga sumber air bukan untuk hari ini saja, tapi untuk anak cucu kita. Kalau kita rusak sekarang, ke depan kita sendiri yang susah,” ujarnya tegas.

Sementara itu kegiatan penanaman pohon juga dilakukan di Desa Malawaru, langkah bijak diambil dengan menunda sebagian penanaman hingga curah hujan mencukupi. Keputusan ini mencerminkan kedewasaan ekologis dan pengelolaan konservasi yang adaptif—bahwa merawat alam juga butuh kesabaran dan perhitungan jangka panjang. Desa Malawaru yang saat ini cuacanya mengalami kekeringan, Namun wujut nyata dalam gerakan ini tetap melakukan proses penanaman.

Salah satu kekuatan utama dari gerakan ini adalah Partisipatif. Tidak hanya para tokoh dan akademisi, tetapi juga perempuan dan pemuda terlibat aktif. Agnes Inemete (52), tokoh perempuan dari Malawaru, menyampaikan rasa syukurnya, “Saya merasa dihargai. Konservasi ini bukan hanya urusan orang penting, tapi juga urusan kami, para ibu.”

Semangat gotong royong yang mengalir dalam kegiatan ini membuktikan bahwa konservasi tidak hanya berbicara soal teknik, melainkan juga tentang ruang partisipasi dan keadilan sosial.

Tantangan ke depan tentu tidak kecil. Menanam hanyalah langkah awal. Pertanyaan krusial kemudian muncul: Siapa yang akan merawat? Bagaimana menjamin keberlanjutan?

Para inisiator sadar bahwa tanpa sistem pemeliharaan, pemantauan, dan dukungan kebijakan yang konsisten, upaya ini bisa kembali menjadi proyek sesaat. Dibutuhkan pelibatan sekolah, kelompok pemuda, tokoh agama, dan pembiayaan yang lebih stabil—tidak hanya menggantung pada hibah.

Tananua dan Universitas Flores tengah merintis jalan itu. Bukan sekadar seremoni tanam pohon, tapi model konservasi sosial-ekologis yang menyatu dengan kehidupan masyarakat. Bila upaya ini bisa dijadikan kebijakan desa atau bahkan replikasi lintas wilayah, maka harapan untuk perubahan sistemik bukanlah angan-angan.

Kolaborasi Bersama

Di tengah ladang, di pinggir hutan, dan di balik jemari tangan-tangan yang kotor oleh tanah basah, harapan itu tumbuh. Gerakan ini bukan milik satu lembaga, bukan milik satu tokoh. Ini milik semua akademisi, petani, ibu rumah tangga, pemuda desa.

Dan seperti pepatah bijak: “Siapa yang menanam, dia yang memetik.” Mungkin kita bukan yang akan menikmati rindangnya pohon ini. Tapi kelak, anak cucu akan berteduh di bawahnya.

Oleh : Tim Media Tananua

Dari Kampus ke Kampung: Gerakan ‘Merawat Bumi’ Jawab Tantangan Krisis Iklim Read More »

Dari Malawaru Menjaga Bumi: Suara Petani dan Nelayan untuk Generasi Mendatang

Malawaru, 28 Juni 2025 — Di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks, Desa Malawaru kembali menjadi panggung penting bagi suara-suara akar rumput. Pertemuan semester petani dan nelayan yang digelar secara rutin setiap enam bulan oleh Yayasan Tananua Flores menjadi bagian dari merefleksi seluruh problem social dan lingkungan yang terjadi di masyarakat desa.  Kali ini membawa sorotan tajam pada isu-isu keberlanjutan bumi dan keadilan ekologis yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat pesisir dan pedalaman.

Direktur Yayasan Tananua Flores, Bernadus Sambut, (25/6) dalam sambutannya membuka ruang refleksi mendalam. Ia menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar ajang laporan kerja, tetapi merupakan ruang strategis untuk menggali solusi bersama atas persoalan krusial lingkungan hidup.

“Menanam pohon bukan sekadar aktivitas fisik. Itu adalah komitmen menjaga kehidupan generasi muda. Ketika kita menjaga tanah dan air hari ini, kita sedang memastikan masa depan yang layak untuk anak-cucu kita,” tegas Bernadus.

Dua program utama yang saat ini dijalankan Tananua—konservasi laut dan pengelolaan daratan berkelanjutan—disandingkan untuk saling melengkapi. Isu pencemaran laut, overfishing, hingga praktik pertanian yang tidak ramah lingkungan, menjadi perhatian bersama.

Bernadus tidak hanya menyampaikan keprihatinan, tapi juga mendorong aksi konkret. Ia mengajak masyarakat dan pemerintah lokal untuk merumuskan kebijakan daerah yang berpihak pada perlindungan sumber daya alam, seperti hutan, mata air, dan tanah pertanian.

“Kita harus mulai dari desa. Perubahan besar dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil hari ini,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Pertemuan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Malawaru, Patrianus Tonda, yang dalam pidatonya menekankan pentingnya forum ini sebagai jembatan dialog antara masyarakat dan pemangku kebijakan.

“Kami datang dengan harapan, bukan sekadar diskusi. Tapi untuk mendapatkan pencerahan tentang keberlangsungan hidup masyarakat kami yang menggantungkan hidup pada tanah dan laut,” kata Patrianus.

Ia juga menyinggung persoalan tapal batas hutan lindung yang belum jelas, serta minimnya pemahaman warga terhadap wilayah yang diklaim sebagai kawasan hutan negara. Situasi ini dinilai berdampak langsung pada ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat.

Tak hanya itu, isu batas wilayah kelautan juga mengemuka. Patrianus secara tegas meminta kejelasan sistem pemetaan laut agar hak nelayan kecil terlindungi.

“Ketika kita bicara tentang petani, kita bicara tentang tanah. Dan ketika kita bicara tentang nelayan, kita bicara tentang laut. Kedua ruang ini adalah hidup kami,” tegasnya.

Dalam suasana penuh semangat, dialog yang dihadiri oleh petani, nelayan, aparat desa, dan lembaga pendamping ini ditutup dengan ajakan untuk memperkuat solidaritas lokal dan memperjuangkan hak-hak ekologis secara kolektif.

Pertemuan seperti ini perlu menjadi inspirasi bagi wilayah-wilayah lain di Indonesia. Ketika masyarakat diberi ruang untuk bersuara dan terlibat dalam pengambilan keputusan, di situlah harapan tumbuh. Malawaru menunjukkan bahwa keberlanjutan bumi bukan semata tanggung jawab global, melainkan bermula dari langkah kecil di desa-desa yang menjaga tanah, air, dan lautnya dengan cinta dan kesadaran.

Oleh :  Jhuan Mari

Dari Malawaru Menjaga Bumi: Suara Petani dan Nelayan untuk Generasi Mendatang Read More »