Tananua Flores Selenggarakan Pelatihan Enumerator

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores –  Yayasan Tananua Flores Selenggarakan Pelatihan Enumerator yang akan di jadikan sebagai petugas pendataan Gurita di masing-masing desa. Sebanyak 8 orang yang di rekrut dari desa untuk mengikuti pelatihan di kantor Tananua Ende pada 2-3 September 2021.

Turut terlibat dalam pelatihan tersebut 4 staf Lapangan Pendampingan di desa yang  nantinya menjadi salah satu bagian dalam proses pengawalan dan pendampingan kepada Enumerator pada saat proses pendataan.

Direktur Yayasan Tananua Flores Bernadus Sambut ketika membuka kegiatan pelatihan tersebut menuturkan bahwa Pelatihan ini dilaksanakan agar bapak ibu yang di percayakan sebagai Enumerator  bisa memahami terkait dengan Pendataan dan juga bisa mengetahui aktivitas Nelayan dalam menangkap Gurita.

Selain itu, Bernadus mengatakan 8 orang yang mengikuti pelatihan ini bisa memahami seberapa penting data dan apa tujuan Tananua Flores mendamping Nelayan Gurita.

Menurutnya bahwa  Gurita merupakan salah satu komuditas yang akan di Ekspor ke luar negeri, sebab Gurita adalah salah satu jenis makan yang disukai oleh orang-orang barat.

Sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat Yayasan Tananua Flores sudah Mendampingi banyak desa mulai dari desa yang ada di gunung hingga desa yang ada di pesisir.

Untuk Program Perikanan dan kelautan Tananua mulai mendampingi sejak tahun 2019 dengan mendampingi para nelayan penangkap Gurita. Tananua awali dengan 2 Desa yaitu Keluarahan Tetandara Lingkungan arubara dan Desa Maurongga di kecamatan Nangapanda. Dan Untuk Tahun 2021 Tananua menambah lagi 2 Desa Dampingan yaitu desa Pedonura di kabupaten Nagekeo dan Desa maubasa di kecamatan Ndori kabupaten Ende.

Lebih Jauh Bernadus Menjelaskan bahwa  “Tugas Enumerator kedepannya adalah melakukan pendataan terhadap nelayan yang menangkap gurita dan Pendataan itu dilakukan setiap hari ketika nelayan yang menangkap gurita pulang dari laut” Jelasnya.

Sementara itu Made Dharma dari Pesisir Lestari Menerangkan  bahwa Pendataan terhadap Gurita adalah penting dilakukan oleh enumerator karena data merupakan salah satu dasar dalam proses pengelolaan Lokal kawasaan di wilayah Pesisir.

Dalam pemaparan Materinya dharma menjelaskan Yayasan Pesisir Lestari adalah organisasi konservasi yang bertujuan mendorongkan pengelolaan sumber daya laut berbasis masyarakat pesisir untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dan melestarikan ekosistem laut yang berkelanjutan untuk generasi masa depan

Dan Pendekatan yang di bagun adalah Mendampingi Masyarakat,Mendukung Mitra dan Mendukung Jaringan. Semuannya itu menjadi satu pola pendekatan untuk membangun kesadaran masyarakat terkhususnya Nelayan pencari Gurita.

Terkait dengan Pendataan Gurita Dharma Mengungkapkan bahwa Data yang di ambil oleh enumerator nantinya akan di kaji dan dianalisis kemudian akan kembali ke masyarakat agar masyarakat bisa mengetahui potensi yang mereka miliki.

“Data yang di ambil oleh Enumerator nantinnya akan di teruskan ke Tananua dank e YPL untuk di analisisi dan setelah itu akan di kembalikan kemasyarakat untuk diketahui potensi yang mereka miliki”, Ungkapnya

 

Oleh : Jhuan Mari

 

 

Tananua Flores Selenggarakan Pelatihan Enumerator Read More »

Tananua Flores gelar diskusi Data Profil Perikanan dan Pembuatan alat Tangkap yang Ramah Lingkungan

Shere Sekarang

Nagekeo, Tananua Flores. | Yayasan Tananua Flores gelar diskusi profil data perikanan dan pembuatan peta partisipatif di desa Pedonura kabupaten Nagekeo NTT. Gelar diskusi tersebut diselenggarakan di kantor desa Pedonura pada (24/8)

Kegiatan tersebut dilaksanakan selama dua hari yang di mulai dari 24-25 agustus 2021. Peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut terdiri dari aparatus Pemerintah Desa Kotodirumali,  pemerintah desa Pedonura para Nelayan Gurita serta tim dari Tananua Flores Ende.

Berbicara terkait data saat ini adalah penting sebab dalam melakukan proses pembangunan di bidang apapun di mulai dari data. Data menjadi sumber utama bagi siapapun baik itu pemerintah, swasta  untuk memulai proses perencanaan, proses pembangunan semuannya berbasis pada data.

Pius Jodho dari Tananua Flores menuturkan bahwa untuk Program Perikanan dan kelautan ini Tananua sendiri mengawali dengan data, bersama masyarakat Tananua mulai melakukan survey dan pengambilan data awal sebagai dasar untuk melakukan program Pendampingan.

“Kami Tananua Flores dalam program perikanan dan kelautan itu dimulai dengan Pendataan, yaitu dengan pembuatan profil perikanan dan database lainnya yang berhubungan dengan rencana program pendampingan bisa terarah pada tujuan yang ingin di capai” tuturnya.

Lebih jauh Pius Menjelaskan  di program perikanan ini data profil yang dimaksudkan adalah situasi kehidupan para nelayan  khususnya gurita, jenis alat tangkap, lokasi memancing, hasil tangkapan, waktu memancing, logistik memancing, fasilitas perikanan, rantai pasokan, pendapatan, sumber daya ikan, kalender musim, kelembagaan dan tata kelola,

“ Data yang di maksudkan untuk awal kami memulai seperti situasi kehidupan para nelayan  khususnya gurita, jenis alat tangkap, lokasi memancing, hasil tangkapan, waktu memancing, logistik memancing, fasilitas perikanan, rantai pasokan, pendapatan, sumber daya ikan, kalender musim, kelembagaan dan tata kelola” jelas pius

Sementara itu menurut Pius bahwa informasi tentang data profil perikanan harus dimulai dari awal agar ketikan dalam menjalankan program kedepan bisa bermanfaat untuk masyarakat dan nelayan. Selain itu juga bisa memperoleh klarifikasi atau umpan balik dari masyarakat yang berkaitan dengan informasi yang di sampaikan

Yang diharapkan dari kegiatan tersebut adalah dengan tersedianya data awal dan menjadi dokumen, agar dalam menyusun sebuah perencanaan di masa yang akan datang dapat sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Data yang telah disajikan dapat memberikan gambaran yang lengkap dan dapat terpercaya.

Alat tangkap yang ramah lingkungan

Tananua flores juga memfasilitasi Pelatihan pembuatan alat tangkap yang ramah lingkungan. Dalam kegiatan tersebut di ikuti oleh para nelayan pencari gurita.

Pelatihan pembuatan alat tangkap itu adalah bagian dari para nelayan yang mencari gurita saling belajar bersama dalam pembuatan alat tangkap yang ramah lingkungan.

Untuk kali ini yang melatih para nelayan di desa pedonura, desa kotodurimali, desa tongggo adalah para nelayan gurita dari lingkungan arubara kabupaten ende.

Belajar membuat alat tangkap Gurita tersebut di fasilitasi langsung oleh Doyan dari arubara. Dalam Penjelasannya bahwa ada 3 alat tangkap yang perluh digunakan oleh nelayan pencari gurita yaitu alat tangakap kepiting, alat tangkap pocong, dan alat tangkap terong.

Menurutnya bahwa jenis alat tangkap ini yang ramah lingkungan tidak merusak ekosistem yang ada di laut, dan bahan-bahan yang dipakai mudah ditemukan oleh para nelayan dan tersedia di pasaran.

Yang diharapkan dari kegiatan tersebut adalah agar masyarakat nelayan gurita di desa podenura, tonggo, dan kotodirumali bisa membuat alat tangkap gurita yang ramah lingkungan dan tetap menjaga ekosistim laut dengan baik.

Dengan adanya pelatihan pembuatan alat tangkap gurita yang ramah lingkungan bisa mendorong nelayan gurita tetap menjaga ekosistem terumbu krang dengan baik, dan diharapkan nelayan gurita bisa membagikan ilmu yg mereka pelajari dari proses pelatihan pembuatan alat tangkap yang ramah lingkungan kepada sesama nelayan gurita yang belum memahami dan belum bisa membuat alat tersebut

Langkah yang perlu di tindak lanjuti, harus adanya dorongan ,motivasi, bimbingan,pengawasan kepada nelayan gurita, agar mereka bisa memanfaatkan alat tangakap gurita yang ramah lingkungan tersebut tanpa harus merusak ekosistim laut.

Oleh : Nelson

Tananua Flores gelar diskusi Data Profil Perikanan dan Pembuatan alat Tangkap yang Ramah Lingkungan Read More »

Gambaran Umum Kondisi Desa Kolikapa

Shere Sekarang

Sejarah Desa

Pada mulanya wilayah ini masih berstatus Dusun dengan tiga rukun tetangga (RT) yakni : Rt Kolikapa I,kolikapa II dan Rt Ndetundopo. Dan pada tahun 2000-2021 wilayah ini akan terjadi pemekaran dari Desa indu yaitu Desa Kebirangga, guna pelayanan kepada masyarakat lebih dekat dan pada saat itu juga wilayah desa kebirangga sudah sangat luas, sehingga wilayah dusun di Kolikapa menjadi Desa Persiapan.

Dari keadaan diatas maka tergeraklah seluruh masyarakat bersama para Mosalaki dan tokoh masyarakat untuk duduk dan bermusawarah dalam hal ini membentuk wilayah dusun menjadi sebuah desa persiapan. Pada saat itu juga masyrakat,mosalaki,tokoh masyarakat bersepakat untuk memberi nama diambil dari sebuah pohon yaitu Koli dan Kapa, kata Koli artinya lontar dan kapa artinya Banyak.

Dihubungkan menjadi KOLIKAPA artinya banyak lontar. Pohon ini juga di jaman duluh nenek moyang di jadikan arak, daunya dijadikan atap ruma, juga dijadikan tas ( rembi ) sebagai tempat untuk simpan barang-barang.

Setelah menyepakati nama itu masyarakat juga memilih Pemimpin sementara menjadi desa persiapan yaitu bapak Aloysius Segu, warga masyarakat Kolikapa.nama desa dan nama pemimpin tersebut  langsung di ajukan ke kabupaten melalui bapak Aloysius Segu kepada bapak Bupati Ende yaitu Bapak Paulinus Domi, pada tahun 2000.Nama tersebut di setujui oleh bapak bupati ende sehingga terjadi desa persiapan selama tiga tahun yaitu tahun 2000-2003.

Setelah persaratan dipenuhi maka bapak bupati ende mengeluarkan peraturah bahawa desa-desa persiapan se kabupaten ende segarah menjadi desa defenitif, saat itu juga masyarakat desa kolikapa membentuk panitia pemiliha kepala desa.tepatnya di bulan mei tahun 2000 masyarakat kolikapa mempunyai pemimpin kepala desa yang baru. Yakni Bapak Aloysiu Segu.

Ditahun 2004 bapak Aloysius Segu di lantik oleh Bapak Paulinus Domi selaku Bupati Ende, menjadi kepala desa kolikapa untuk memimpin selama kurang lebih lima (5) Tahun, dari tahun 2004-2008.

Selanjutnya pergantian pemimpin sebagai berikut:

NO Nama Tahun Keterangan
1. Aloysius Segu 2003-2004 Persiapan
2. Aloisius Segu 2004-2009 Kepala Desa
1. Andreas Renggi 2010-2011 Penjabat
2. Basilius Lima 2011-2016 Kepala Desa
3. Antonius Radja 2017-2019 Penjaba
4. Antonius Radja 2020-2026 Kepala Desa

Demikian Gambaran Umum Desa Kolikapa dari tahun ke Tahun yang bisa kamisampaikan terima kasih.

Download Dokumen : profil desa kolikapa 2021

 

Gambaran Umum Kondisi Desa Kolikapa Read More »

Petani Desa Randoria Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende Lakukan Konservasi Tanah dan Air

Shere Sekarang

Ende, TananuaFlores –  Petani desa Randoria Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende lakukan Konservasi Tanah dan Air. Konservasi ini merupakan hal penting dan  berarti bagi petani desa Randoria Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende untuk  menjaga  humus Tanah agar tetap terjaga dan menjaga kualitas tanah dan air tetap terlindungi .

Bagi Masyarakat Desa Randoria  untuk menunjang kebutuhan rumah tangga dan keseharian mereka sangat bergantung pada hasil pertanian. Hasil pertanian tersebut diantaranya seperti hasil komoditi, ternak besar maupun ternak kecil dan Lebih dari itu banyak  petani yang mendapat hasil olahan pertaniannya melalui hasil pangan.

Berbicara tentang hasil pangan yang menjadi kebutuhan masyarakat Desa Randoria agar bisa meningkat sangat erat kaitannya dengan  bagaimana Petani melakukan Konservasi Tanah dan Air (KTA). Hal ini menjadi penting karena pola pengolahan lahan dengan sistim teras bangku dan teras guludan merupakan salah satu metode untuk tanah dan Air tetap terjaga kualitasnya.

Perluh di ketahui bahwa Perlakuan petani dalam olahan lahan harus tetap memperhatikan Konservasi Tanah dan Air, sehingga pada saat mamasuki musim tanam tahun berjalan maka, yang menjadi faktor penentu terhadap banyaknya hasil panen tergantung dari petani itu sendiri melakukan olahan yang sesuai dengan kondisi tanah tersebut .

Sebanyak 14 orang Petani yang tergabung dalam kelompok Ingin Maju melakukan kegiatan kerja konservasi Tanah dan air. Kegiatan tersebut di laksankan pada 19/8 Lalu di desa Randoria tepatnnya di salah satu kebun anggota Kelompok.  Konservasi tanah dan air tersebut merupakan yang pertama dilakukan di kelompok Ingin maju dan yang pertama pula di desa itu.

Gerardus Gedu  ketua Kelompok Ingin Maju Mengatakan Kegiatan hari ini meliputi penyiangan dengan luas lahan 0.25 ha, pengaturan kembali bedengan sebanyak 5 bedeng serta melakukan pembenaman rumput yang akan bermanfaat sebagai pupuk dasar.

Menurutnya Ketua Kelompok itu bahwa dengan Melakukan kembali Konservasi Tanah maka dengan sendirinya Petani akan memulai pola pertanian modern yang tetap menjaga kualitas humus tanah dan menjaga air tanah tetap bertahan sebagai penyuburan atas tanaman.

Sementara itu Theresia Ngela Menjelaskan bahwa Cara pembenaman rumput harus dilakukan  sebab setelah rumput hancur dan akan menjadi humus manfaatnya  sangat  baik untuk menjaga agar tanah tetap subur.

Lanjut di katakannya bahwa Pembenaman juga harus dilakukan di kebun masing-masing ataupun di kebun kelompok, baik dilakukan perorangan maupun dilakukan secara berkelompok. Sehingga tanah di kebun masing-masing akan subur dan kualitas tanah terurai dengan baik.

“ cara pembenaman rumput perlu dibuat di Kebun kita baik dilakukan secara kelompok maupun seorangan sebab sangat bermanfaat untuk menjaga agar tanah tetap subur seteleh rumput hancur dan menjadi humus”, katannya. ( Elias)

Petani Desa Randoria Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende Lakukan Konservasi Tanah dan Air Read More »

PRESS RELEASE PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN BERBASIS MASYARAKAT

Shere Sekarang

Ende, Tananua Flores- Sejak tahun 2019 Yayasan Tananua Flores bekerjasama dengan Yayasan Pesisir Lestari dalam kemitraan dengan Blue Ventures merintis sebuah program Pengelolaan Sumber daya Kelautan dan Perikanan berbasis masyarakat.

Program ini lahir karena melihat terjadinya degradasinya sumber daya pesisir dan laut disebabkan oleh perilaku manusia karena terbatasnya pengetahuan akan pentingnya ekosistem laut bagi penghidupan yang berkelanjutan dan keterampilan dalam mengelola sumber daya yang ada secara berkelanjutan.

Keterbatasan pengetahuan akan pentingnya ekosistem laut ditunjukkan dengan adanya perilaku pemboman ikan, penebangan bakau, pengambilan pasir/batu hijau yang berlebihan.

Fokus dari program ini adalah pengelolaan perikanan gurita dengan penguatan kelembagaan nelayan. Tujuan program adalah meningkatkan kesejahteraan ekonomi, kualitas kesehatan masyarakat nelayan dan konservasi daerah pesisir. Pada Tahun 2019  Yayasan Tananua Flores (YTNF)  memulai program ini di Lingkungan Arubara, Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende selatan dan di Desa persiapan Maurongga, Kecamatan Nangapanda.  Dan tahun 2021 YTNF (kami) memperluas wilayah pendampingan di Kecamatan Ndori (Desa Maubasa, Maubasa Timur dan Serandori) dan di Desa Tonggo, Podenura (Kecamatan Nangaroro), Desa Kotodurimali Kecamatan Keo Tengah Kabupaten Nagekeo.

Sampai saat ini YTNF kami sedang dan akan mendampingi 36 nelayan di lingkungan Arubara yang sudah terorganisir dalam satu kelompok dengan nama Kelompok Nelayan gurita Arubara, 1 kelompok nelayan di Maurongga yang beranggotakan 13 orang nelayan, Kelompok Kerja Locally-Managed Marine Area (LMMA)/Wilayah Kelautan yang Dikelola secara Lokal di Lingkungan Arubara dan kelompok kelompok perikanan di wilayah Desa Podenura, Tonggo dan Kotodirumali di kabupaten Nagekeo dan 3 desa di Kecamatan Ndori.

Program Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan ini adalah program baru bagi Yayasan Tananua Flores, tetapi dengan bimbingan teknis dari Yayasan Pesisir Lestari dalam kemitraan dengan Blue Ventures, ada beberapa tahapan kegiatan yang dilakukan bersama dengan masyarakat nelayan dan salah satu kegiatannya adalah pendataan perikanan gurita. Kami memulai program dengan pendataan perikanan gurita berbasis masyarakat dimana masyarakat adalah pelaku utama pendataan. Dari data yang kami kumpulkan secara sensus (semua nelayan dan semua gurita hasil tangkapan didata setiap hari) memberikan gambaran bahwa potensi perikanan gurita di wilayah pesisir selatan Kabupaten Ende menjanjikan. Potensi perikanan gurita telah dimanfaatkan oleh nelayan di Lingkungan Arubara dan nelayan di Desa Persiapan Maurongga.  Hasil pendataan Gurita dalam periode Oktober 2019 – Mei 2021 terdata 59 nelayan gurita dengan jumlah tangkapan gurita sebanyak 9.359 kg,  yaitu gurita dengan ukuran di atas 2 kg sebanyak 3.292 kg,  1-2 kg total tangkapan sebanyak 5.876 kg dan di bawah 1 kg 190 kg. jumlah total  individu gurita yang di tangkap sebanyak 5.652 ekor. Dengan rincian gurita betina 2.844  ekor, dan jantan sebanyak 2.808 ekor. Total pendapatan nelayan gurita (pendapatan desa dari perikanan gurita) yaitu Rp170.693.250 (seratus tujuh puluh juta enam ratus sembilan puluh tiga ribu dua ratus lima puluh rupiah) dengan rincian per tahun 2019 (Oktober-Desember) sebanyak Rp75.420.000 (tujuh puluh lima juta empat ratus dua puluh ribu rupiah) dengan harga gurita Rp40.000/kg. Pada Tahun 2020 terjadi penurunan  harga gurita per kg menjadi Rp 15.000 – Rp20.000 sehingga total pendapatan di tahun 2000 (Januari – Desember) adalah Rp68.495.250 (enam puluh delapan juta empat ratus sembilan puluh lima ribu dua ratus lima puluh rupiah) dan di tahun 2021 kisaran harga gurita Rp20.000/kg, total pendapatan nelayan  tahun 2021 (Januari – Mei) adalah Rp26.778.000 (dua puluh enam juta tujuh ratus tujuh puluh delapan ribu rupiah).

Terdapat 69 fishing site atau lokasi yang menjadi area tangkapan nelayan. Lokasi memancing nelayan  Arubara dengan jumlah tangkapan yang paling tinggi di lokasi Ngalupolo sebanyak 1.079,5 kg, Wolo topo 879,5 kg dan yang paling rendah adalah lokasi tangkapan Loworongga dengan jumlah hasil tangkapan 4 kg. Dengan total tangkapan selama periode oktober 2019 – mei 2021 sebanyak 8.117 Kg.  Hasil tangkapan nelayan di Maurongga pada periode yang sama sebanyak 1.242,45 kg. dengan jumlah tangkapan paling tinggi di lokasi Mau rongga sebanyak 1.014,75 Kg, lokasi tangkap Nangalala 83,7 Kg sedangkan lokasi dengan tangkapan paling rendah di Nagakeo 13,5 Kg.  Lokasi terfavorit yang sering dikunjungi nelayan gurita Arubara yaitu Mauwaru, ada 47 orang nelayan sebanyak 104 trip dan lokasi favorit lainnya yang  dikunjungi nelayan yaitu Wolotopo 40 nelayan dengan 104  trip dan lokasi yang paling jarang didatangi yaitu Mbomba oleh 1 orang nelayan dan 1 kali trip. Sedangkan Lokasi terfavorit nelayan Maurongga adalah lokasi tangkap maurongga yang dikunjungi oleh 7 nelayan dengan 218 trip. Para nelayan biasanya menggunakan alat tangkap yang berbeda. Data menunjukkan bahwa hasil tangkapan menggunakan alat pancing 4.101 ekor, menggunakan pocong saja 1.232 ekor, pocong dan pancing 151 ekor, menggunakan ganco 154 ekor,  dan menggunakan baka besi 14 ekor.

 

Melihat potensi perikanan gurita yang sangat besar ini maka kami mulai melakukan pendampingan, penguatan kapasitas masyarakat nelayan, pembentukan dan organisasi nelayan serta membangun kerjasama dengan berbagai stakeholder di Kabupaten Ende, Nagekeo dan Pemerintahan Provinsi NTT.

Kegiatan – Kegiatan yang dilakukan adalah:

    1. Survey desa, membuat profil desa dan nelayan gurita, sosialisasi program,dan rencana kerja yang disepakati bersama dengan nelayan di desa,  sharing pembelajaran bersama nelayan ataupun mitra.
    2. Membuat profil perikanan gurita.
    3. Pelatihan masyarakat pendata.
    4. Pendataan gurita dan presentasi umpan balik data (data feedback session) perikanan gurita serta pemetaan lokasi tangkap gurita.

Pendataan gurita dan feedback data sangat membantu nelayan dalam mengetahui potensi dan pendapatan nelayan gurita serta potensi pengelolaan perikanan gurita secara berkelanjutan.

    1. Pemetaan rantai pasokan dan rantai nilai perikanan gurita.
    2. Pembentukan dan penguatan organisasi nelayan melalui berbagai pelatihan dan sosialisasi.
    3. Membangun kerja sama kemitraan.

 

Penutupan Sementara Perikanan Gurita Octopus cyanea

Tahun 2020, Yayasan Tananua Flores bersama nelayan dari Arubara dan Maurongga melakukan kunjungan belajar tentang pengelolaan perikanan gurita berbasis masyarakat di Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Kunjungan belajar ini memperkuat pemahaman dan merubah pola pikir, cara menangkap dan sistem pengelolaan perikanan gurita yang selama ini dilakukan oleh para nelayan di Arubara dan Maurongga. Kunjungan  ini juga telah berpengaruh positif kepada masyarakat di Lingkungan Arubara yang memberikan respons positif untuk pembentukan kelompok LMMA dan pengelolaan perikanan gurita berupa penutupan sementara selama 3 bulan.

Penjualan gurita ke pedagang pengumpul selama ini dengan sistem timbang, dibayar per kg. Semakin berat gurita maka harganya semakin tinggi juga. Hal inilah yang memotivasi nelayan untuk tidak menangkap gurita kecil yang beratnya di bawah 0,5 kg, membiarkannya tumbuh lebih besar baru kemudian ditangkap dengan menggunakan alat tangkap yang lebih ramah lingkungan.

Yayasan Tananua Flores juga telah memfasilitasi terbentuknya kelompok LMMA. Kelompok ini yang akan mengorganisir para nelayan untuk menjaga ekosistem, mengawasi pelaksanaan sistem buka tutup area tangkapan gurita, menjalin kerjasama dengan stakeholder untuk upaya-upaya pengelolaan perikanan gurita secara berkelanjutan di wilayah Arubara.

Pengelolaan perikanan berbasis masyarakat dengan sistem buka tutup sudah dilakukan pada tanggal 29 Juli 2021 dimana masyarakat menutup sementara 5 area penangkapan yaitu Maubhanda, Mauwaru, Maugago, Ngazu Dola dan Tengumanu. Area penutupan sementara seluas 7,52 Ha. Pembukaan area tersebut akan dilakukan tanggal 29 Oktober 2021. Tujuan penutupan sementara perikanan gurita selama tiga bulan adalah sebagai pembelajaran bagi masyarakat tentang pengelolaan perikanan berbasis masyarakat serta untuk memberikan waktu dan tempat bagi gurita untuk tumbuh lebih besar dan untuk bertelur/berkembang biak karena gurita dalam hal ini spesies Octopus cyanea, mempunyai masa hidup yang singkat sekitar 12 bulan (Herwig et al. 2012). Gurita dewasa betina mampu bertelur 150.000 – 170.000 telur dan merawatnya sampai menetas. Octopus cyanea diyakini bertelur sepanjang tahun dengan periode pemijahan puncak selama bulan Juni dan Desember di Tanzania (Guard dan Mgaya, 2015).

Dengan siklus hidup gurita Octopus cyanea yang singkat, penutupan sementara merupakan pengelolaan perikanan yang sesuai untuk diimplementasikan, sehingga harapannya ketika pembukaan penutupan sementara, gurita sudah tumbuh dengan besar dan mempunyai nilai lebih.

Proses penutupan area ini dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama kelompok LMMA, para nelayan yang didukung oleh stakeholder seperti Bappeda Ende, Kantor Cabang Dinas Perikanan dan Kelautan Wilayah Ende, Nagakeo dan Ngada, Kesyahbandaran, Camat Ende Selatan, Lurah Tetandara dan Babinsa Kelurahan Tetandara.

Selain itu Yayasan Tananua Flores juga bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Ende melalui Puskesmas Nangapanda, Ndori dan Rukun Lima untuk program kesehatan dasar seperti pelatihan manajemen Posyandu bagi kader dan PKK, pemanfaatan pekarangan untuk gizi keluarga, latihan kader kesehatan tentang pendataan kesehatan dan respon darurat kesehatan, penyadaran gender dan pendampingan kelompok perempuan.

Dalam melakukan pendampingan masyarakat dibutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak terutama dalam hal perikanan dan kelautan guna memberikan pemahaman tentang pentingnya laut bagi kehidupan mendatang karena masih ditemukan tantangan berikut ini:

 

  1. Masih ada nelayan yang menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti melakukan pemboman ikan di daerah pesisir pantai.
  2. Terbatasnya sarana alat tangkap yang digunakan oleh nelayan seperti perahu
  3. Belum terjangkaunya informasi yang berkaitan dengan regulasi/peraturan perundang undangan, keputusan menteri dan jaminan sosial kepada masyarakat nelayan.
  4. Terbatasnya sarana perikanan lainnya misalnya tempat pelelangan ikan, pabrik es, perusahan pengolahan hasil tangkapan dan gudang pembekuan.
  5. Kesadaran nelayan dalam menjaga ekosistem laut masih rendah

 

Yayasan Tananua Flores

Tananua Flores merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang didirikan di Waingapu Sumba Timur pada tanggal 11 September 1985, oleh alm. Nelson Sinaga, Ibu Roslin Dine Manabung dan Huki Rada Ndima. Yayasan Tananua Flores berbasis di Kabupaten Ende Flores Nusa Tenggara Timur. Hadirnya Yayasan Tananua merupakan wujud keprihatinan dan kepedulian  terhadap kondisi kemiskinan dan degradasi lingkungan di daerah hulu kabupaten Sumba Timur secara khusus dan propinsi Nusa Tenggara Timur umumnya.

Visi Kesejahteraan lahir batin adalah hak dan tujuan semua manusia (Laki-laki & perempuan), kesejahteraan tersebut diperoleh bukan karena pemberian orang lain tetapi berkat hasil usaha manusia (masyarakat) itu sendiri bersama orang lain.

Misi Mendampingi masyarakat yang masih tertinggal untuk meningkatkan kesejahteraan serta mengungkapkan pikiran, pendapat dan sikap secara mandiri.

Tujuan : Meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama masyarakat pedesaan dan mengembangkan swadaya masyarakat.

Tananua Flores adalah sebuah badan hukum yang bersifat independen dan tidak berafiliasi pada kelompok, partai dan golongan tertentu.

Prinsip pengembangan program:

  • Keswadayaan masyarakat.
  • Keterbukaan dan kekeluargaan.
  • Tinggal bersama masyarakat.
  • Mulai dari apa yang ada dan dimiliki masyarakat.
  • Uji coba oleh petani/nelayan dalam skala kecil.
  • Penyuluhan dari petani ke petani.
  • Mengutamakan kaum marginal pedesaan.

Legalitas:

  • Akta Notaris No 06, tanggal 09 Nopember tahun 2009 oleh Klemens Nggotu,SH
  • Pengesahan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia RI No. AHU-795.AH.01.04. IN 2010 Program Berkarya di Kabupaten Ende sejak tahun 1989 dan saat ini sudah bekerja pada 103 desa pada 15 wilayah Kecamatan. Dengan pendekatan “Uma, Sao, Rega” (Kebun, Rumah dan Pasar) dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat (PSDABM), memfasilitasi petani melalui program:

Penghidupan Berkelanjutan

  • Pertanian Lahan Kering Berkelanjutan (Konservasi Tanah dan air, pengembangan tanaman pangan local, tanaman umur panjang, hutan keluarga, pupuk dan pestisida organic, konservasi mata air).
  • Kesehatan Primer (obat tradisional, posyandu, makanan lokal untuk pengembangan gizi, kesehatan reproduksi, penyakit rakyat, air bersih, kesehatan Ekonomi Kerakyatan (Koperasi, Usaha Bersama Simpan pinjam).
  • Penguatan institusi petani dan Tananua (SDM personalia, managemen organisasi, manajemen keuangan, usaha swadana lembaga).

Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan

Untuk program pengelolaan sumber daya kelautan dan Perikanan, Yayasan Tananua Flores bekerja sama dengan Yayasan Pesisir Lestari yang bermitra dengan Blue Ventures.

Kerjasama kemitraan dan Jaringan

Yayasan Pesisir Lestari: https://www.pesisirlestari.org/

Pesisir Lestari adalah organisasi konservasi berbasis di Bali yang bertujuan mendorongkan pengelolaan sumber daya laut berbasis masyarakat pesisir untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dan melestarikan ekosistem laut yang berkelanjutan untuk generasi masa depan. Bermitra dengan Blue Ventures, organisasi konservasi laut yang berbasis di Inggris, kami membangun kemitraan dengan 12 organisasi lokal yang bekerja sama dengan masyarakat pesisir di 9 provinsi di Indonesia.

Blue Ventures: https://blueventures.org/

Blue Ventures mengembangkan pendekatan transformatif untuk mempercepat dan mendukung konservasi laut yang digerakkan secara lokal. Blue Ventures bergerak di wilayah tropis pesisir, di lokasi-lokasi di mana laut menjadi hal yang sangat penting bagi budaya dan perekonomian setempat, serta berkomitmen untuk melindungi keanekaragaman hayati dengan cara yang bermanfaat bagi masyarakat pesisir. Model Blue Ventures memainkan peran sangat penting dalam membangun kembali perikanan skala kecil, dengan memberikan pendekatan yang efektif dan dapat direplikasi untuk mengembalikan keanekaragaman hayati yang hilang, meningkatkan ketahanan pangan dan membangun ketahanan sosio-ekologis terhadap perubahan iklim.

 

Kontak:

Yayasan Tananua Flores: Bernadus Sambut ytananuaflores@gmail.com & Pius Jodho piusjodho89954@gmail.com

Yayasan Pesisir Lestari dalam kemitraan dengan Blue Ventures: Indah Rufiati indah@pesisirlestari.org & Made Dharma dharma@pesisirlestari.org

PRESS RELEASE PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN BERBASIS MASYARAKAT Read More »