Pembukaan Kembali Lokasi Tangkap Gurita di Kotodirumali: Menjaga Laut, Meningkatkan Ekonomi

Nagekeo Kotodirumali, 19 Februari 2025 – Kelompok Nelayan Kodim Octopus melaksanakan pembukaan kembali lokasi tangkap gurita setelah penutupan sementara selama 3 bulan di lokasi penangkapan gurita Dowosude,Ipi Mbuu dan Ma’urao dengan luas keseluruham 86,77 ha. Acara ini diawali dengan ritual adat yang dipimpin oleh Sehe Mahmud, seorang Mosazaki Udu Wuwu Eko Koja.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Kotodirumali Maternus Mau, Ketua BPD Kotodirumali, para Mosazaki, tokoh masyarakat, serta Koordinator Program Kelautan dan Perikanan dari Yayasan Tananua Flores.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Kotodirumali, Maternus Mau, menyatakan bahwa pemerintah desa mendukung upaya pengelolaan perikanan gurita di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa pemerintah desa telah menetapkan peraturan desa (Perdes) yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang laut berbasis kearifan lokal. Maternus Mau juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Tananua Flores yang telah memfasilitasi penyusunan Perdes tersebut.

“Kodim Octopus harus menjadi contoh bagi kelompok lain di Kabupaten Nagekeo. Saya mengajak kelompok ini menjadi kelompok yang sejati, bukan kelompok yang hanya sekadar ada. Untuk itu, anggota dan pengurus harus bekerja sama dan membangun komunikasi yang baik. Jika ada persoalan, sebaiknya diselesaikan secara internal,” ujarnya.

Setelah ritual adat, sembilan nelayan turun menangkap gurita selama satu jam. Berdasarkan hasil catatan enumerator, total tangkapan nelayan mencapai 49,2 kg. Penangkapan terbanyak dilakukan oleh Yohanis Andu dan Fransiskus R. Mere. Berat gurita terendah yang tertangkap adalah 1,2 kg, sementara yang tertinggi mencapai 3,5 kg.

Koordinator Program Kelautan dan Perikanan Yayasan Tananua Flores Pius I Jodho menyampaikan bahwa Kodim Octopus merupakan salah satu kelompok masyarakat berbasis komunitas (CBO) di Kotodirumali yang perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam kegiatan pemberdayaan kelompok.

“Kelompok Kodim Octopus dan masyarakat perlu terus mengelola ruang laut secara berkelanjutan. Wilayah pesisir dan laut yang lestari akan meningkatkan ekonomi nelayan, menjaga ekosistem pesisir, serta memperkuat sosial budaya masyarakat,” ungkapnya.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan pengelolaan perikanan gurita di Kotodirumali semakin berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat setempat.

Oleh: PJ

Pembukaan Kembali Lokasi Tangkap Gurita di Kotodirumali: Menjaga Laut, Meningkatkan Ekonomi Read More »

Program Perikanan Berbasis Masyarakat: Membangun Keberlanjutan dan Kesejahteraan

Ende, Tananua Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan luas perairan yang mendominasi wilayahnya, memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Potensi ini tidak hanya menjadi sumber devisa negara tetapi juga berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Namun, agar sektor perikanan dapat memberikan manfaat yang optimal, diperlukan pengelolaan yang berkelanjutan serta berbasis pada keseimbangan ekologi dan ekonomi.

Di Kabupaten Ende, potensi perikanan yang dimiliki belum sepenuhnya dikelola secara baik untuk menopang perekonomian daerah. Pemerintah daerah belum memiliki kebijakan strategis dalam pengelolaan perikanan guna meningkatkan pendapatan daerah. Oleh karena itu, inisiatif dari berbagai pihak, termasuk organisasi non-pemerintah, menjadi sangat penting untuk mengembangkan sektor ini.

Peran Yayasan Tananua Flores dalam Pengelolaan Perikanan

Yayasan Tananua Flores, sebagai LSM lokal yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat petani dan nelayan, telah menjalankan berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem perairan serta memastikan keberlanjutan sumber daya perikanan. Sejak berdiri pada tahun 1989, Tananua tetap konsisten dalam mendampingi masyarakat dengan visi program penghidupan berkelanjutan, baik di sektor pertanian maupun kelautan dan perikanan.

Sebagai bagian dari komitmennya, Tananua telah meluncurkan program perikanan berbasis masyarakat di delapan desa di Kabupaten Ende dan sekitarnya. Program ini menggunakan pendekatan pendampingan berbasis data serta berorientasi pada desa dan kawasan untuk memastikan efektivitas implementasi. Beberapa desa yang menjadi sasaran program ini meliputi Kelurahan Tetandara (Lingkungan Arubara, Kecamatan Ende Selatan), Desa Persiapan Maurongga (Kecamatan Nangapanda), Desa Kotodirumali (Kecamatan Keo Tengah), Desa Podenura (Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo), serta Desa Maubasa, Maubasa Timur, dan Serandori (Kecamatan Ndori).

Empat Pilar Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat

Program perikanan berbasis masyarakat yang dijalankan oleh Tananua Flores berlandaskan pada empat pilar utama, yaitu:

  1. Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat
    Masyarakat nelayan didorong untuk secara aktif mengelola perikanan melalui pendataan yang sistematis, analisis data, serta implementasi strategi berbasis bukti. Selain itu, nelayan juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga ruang hidup ekosistem perairan dan mengintegrasikan kearifan lokal dalam pengambilan keputusan secara partisipatif.
  2. Mengamankan Hak
    Nelayan dan masyarakat pesisir perlu memahami serta mengamankan hak mereka dalam mengakses, memanfaatkan, dan mengelola lokasi tangkapan serta ekosistem pendukungnya. Selain itu, kelompok pengelola didorong untuk menjalin koordinasi dan advokasi dengan jejaring lainnya guna mempertahankan hak mereka dalam perencanaan dan kebijakan pemerintah daerah maupun nasional.
  3. Inklusif Keuangan
    Masyarakat diberdayakan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga dan usaha, termasuk sistem simpan pinjam kelompok serta akses layanan keuangan dasar untuk menabung, kredit, dan dana darurat. Program ini juga bertujuan untuk mengakui nelayan sebagai bagian dari ekonomi produktif yang berhak mendapatkan perlindungan usaha serta akses terhadap layanan keuangan formal dari lembaga keuangan dan pemerintah.
  4. Ketahanan Pangan
    Masyarakat nelayan diberikan edukasi mengenai pentingnya nilai gizi dalam konsumsi rumah tangga. Selain itu, mereka juga didorong untuk memahami peran spesies bernutrisi dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga serta mengidentifikasi sumber tangkapan yang dapat memberikan manfaat optimal bagi kesehatan dan kedaulatan pangan lokal.

Dengan pendekatan berbasis komunitas ini, diharapkan pengelolaan perikanan di Kabupaten Ende dapat lebih optimal dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir serta menjamin keberlanjutan ekosistem perairan untuk generasi mendatang. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan organisasi pemberdayaan seperti Yayasan Tananua Flores menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan sektor perikanan yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

Program Perikanan Berbasis Masyarakat: Membangun Keberlanjutan dan Kesejahteraan Read More »

Sebanyak 20 Organisasi Konservasi Asia Pasifik Gelar Lokakarya Pemantauan Kondisi Ekosistem Pesisir untuk Memperkuat Pengelolaan Perikanan berbasis Masyarakat

Denpasar, Tananua Flores | Dalam Memperkuat Pengelolaan Perikanan berbasis Masyarakat, sebanyak 20 Organisasi konservasi se Asia pasifik  yang bermitra dengan Blue ventures Indonesia gelar Lokakarya Pemantauan Kondisi Ekosistem Pesisir dan sekaligus mendorong masyarakat   dalam pengelolaan wilayah pesisir yang adaptif, kolaborasi dan berkelanjutan. 

Kegiatan tersebut digelar di Hotel Mercure sanur Denpasar selama 5 hari dari tanggal 10-15 september 2024.

Steven Box dari Blue Ventures dalam sambutan membuka kegiatan tersebut mengungkapkan Blue Ventures telah bekerja bersama mitra dan masyarakat pesisir sudah 20 an tahun dengan memberikan berbagai program kegiatan bersama masyarakat. 

Pemimpin Blue Ventures itu menjelaskan bahwa Pendekatan yang dibangun bersama mitra itu mengangkat isu-isu pengelolaan wilayah pesisir, Degradasi terhadap ekosistem perikanan, perubahan iklim dan juga membangun kualitas SDM masyarakat nelayan untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki. 

“kami telah bekerja bersama masyarakat dengan mengangkat isu pengelolaan wilayah pesisir dan laut berbasis Masyarakat, kami juga mengangkat isu terkait dengan mitigasi terhadap Ekosistem perikanan yang cenderung mulai rusak dan kami juga membangun kualitas sumber daya masyarakat untuk memahami potensi yang dimiliki agar bisa dikelola secara berkelanjutan,”Jelas Steve.

Sambung dia “ dengan kegiatan Lokakarya ini semua peserta  dari utusan mitra beloh berdiskusi dan berbagi kerja program bersama masyarakat dan juga  dengan forum ini bisa menjadi penyambung persoalan masyarakat nelayan agar didiskusikan secara bersama”, Ungkapnya. 

Steve Box juga kembali menegaskan Poin penting yang menjadi konsentrasi kerja program bersama masyarakat antara lain Data dan pendataan(data collection system), pengelolaan perikanan(Fisheries Management),Inklusif Keuangan (Financial inclusion), Perbaikan Rantai nilai (Value chain improvement). Ke empat pilar ini menjadi Konsentrasi kerja-kerja kolaborasi bersama masyarakat dan juga rujukan pegangan bagi mitra-mitra Blue ventures.

Harapannya, Lokakarya teknis ini menjadi ajang untuk berbagi dan belajar bersama , membangkitkan gagasan-gagasan baru serta mendiskusikan berbagai temuan bekerja bersama masyarakat.

“ saya senang sekali dengan partisipasi semua peserta dan saya  berharap, mari menggunakan peluang ini untuk saling berbagi, berdiskusi dan belajar bersama”,ujar dia

Perlu diketahui bahwa di wilayah Asia Pasifik, Blue Ventures mendukung organisasi konservasi seperti di Indonesia, Filipina, Thailand, India serta bekerja dengan masyarakat di Timor Leste dalam bidang pengelolaan perikanan berbasis masyarakat dan konservasi laut. Dukungan yang diberikan oleh Blue Ventures adalah teknis dan pendanaan. 

Dan lokakarya ini sudah tahap ketiga yang dimulai sejak tahun 2022 lalu. Kegiatan Lokakarya teknis ini berfungsi sebagai platform (media) untuk pembelajaran langsung, berbagi pengetahuan, dan pengembangan keterampilan, serta menumbuhkan budaya perbaikan berkelanjutan.

Peserta lokakarya mendapatkan pengalaman praktis yang melampaui pengetahuan teoritis. Melalui latihan langsung, demonstrasi, dan sesi interaktif, peserta mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep teknis dan memperoleh keterampilan untuk menerapkannya secara efektif. Lokakarya membantu menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta.

Lokakarya tahun 2024 berfokus pada implementasi program berdasarkan pilar-pilar (strategi) Blue Ventures bersama mitra dalam pendampingan masyarakat untuk mengelola perikanan demi keberlanjutan sumber daya perikanan yang bermanfaat bagi manusia dan lingkungan, terutama dalam konteks pemantauan kondisi ekosistem pesisir yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam sebuah pengelolaan perikanan. Dengan menghadiri lokakarya, peserta dapat memperoleh keterampilan baru, meningkatkan keterampilan yang sudah ada, dan terus mengikuti perkembangan strategi Blue Ventures. 

Lokakarya juga menyediakan platform untuk berjejaring, berkolaborasi, dan bertukar ide di antara individu-individu yang memiliki visi yang sama. Peserta dari berbagai latar belakang bertemu dan membentuk komunitas belajar yang dinamis.

Lokakarya teknis merupakan katalis yang kuat untuk memberdayakan individu dan mendorong inovasi. Selain itu, organisasi mendapatkan manfaat dari meningkatnya keahlian tenaga kerja mereka dan lahirnya ide-ide inovatif yang berkontribusi terhadap peningkatan layanan bagi masyarakat yang kita dukung.

Berikut ini daftar Organisasi Konverasi yang terlibat di kegiatan Lokakarya yakni Komunitas Nelayan Wangi-wangi (KOMANANGI),Forum Nelayan Binongko (FONEB),Forum Kahedupa Toudani (FORKANI),Yayasan Alam Indonesia Lestari (LINI),Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (JAPESDA),Yayasan Pendidikan Konservasi Alam (YAPEKA),Yayasan Ecosystem Impact (EI),Lembaga Juang Laut Lestari (JARI),Yayasan Tananua Flores (YTNF),Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM),Akar Global Inisiatif,Yayasan,Hutan Biru (YHB),Yayasan Planet Indonesia (YPI),Yayasan Mitra Insani (YMI),People and The Sea (PEPSEA),Blue Ventures (United Kingdom),Konservasaun Flora no Fauna (KFF),Lembaga Partisipasi Pembangunan Masyarakat (LPPM),Blue Ventures (Timor – Leste),Blue Ventures (Madagascar) *** Jhuan M

Sebanyak 20 Organisasi Konservasi Asia Pasifik Gelar Lokakarya Pemantauan Kondisi Ekosistem Pesisir untuk Memperkuat Pengelolaan Perikanan berbasis Masyarakat Read More »

Rumah gurita di Arubara kembali dibuka usai 3 bulan ditutup

Ende, Arubara-Tananua Flores | Rumah Gurita yang ditutup selama 3 bulan di Lingkungan arubara kembali di buka oleh lurah Tetandara.  Kali ini Penutupan Rumah Gurita dilakukan oleh kelompok nelayan dan pemerintah kelurahan yang ke dua. 3 Lokasi yang di tutup itu yakni maubhanda, Maungazu dan Ana No’o.

Kegiatan pembukaan Lokasi tangkap ini dilakukan pada Sabtu 13 Agustus 2022 di lingkungan Arubara, kecamatan Ende selatan kabupaten Ende.

Lurah tetandara Anwar Hama diacara Seremonial pembukaan Lokasi penutupan sementara Rumah Gurita tersebut mengatakan bahwa kali ini dari pemerintah kelurahan resmi membuka lokasi tangkap gurita yang di tutup selama 3 bulan dan nelayan boleh masuk di area itu untuk menangkap kembali gurita.

Anwar Lurah Tendara ” hari ini saya manyampaikan secara resmi bahwa silakan nelayan gurita boleh memasuki dan menangkap kembali gurita di lokasi yang telah di buka itu”,katanya

Lanjut Dia ” Nelayan yang tangkap gurita hasilnya bisa di laporkan kepada enumerator untuk mencatatnnya agar kita bisa mengetahui di 3 lokasi tersebut hasilnya ada atau tidak dan seberapa banyak.” ujar Lurah itu

Menurutnya bahwa dengan membuka kembali Lokasi penutupan mudah-mudahan nelayan gurita bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, kemudian bisa berdampak pada peningkatan sumber pendapatan bagi nelayan.

Membuka Lokasi penutupan sementara ini  adalah persetujuan oleh semua pihak  dan stakeholder yang ada di wilayah kelurahan Tetandara lingkungan Arubara.  Buka tutup adalah salah satu model pengelolaan Ruang laut yang berbasis masyarakat. Buka tutup lokasi tangkap gurita juga bagian dari model konservasi untuk meningkatkan produksi gurita dan jumlah individu gurita.

Konservasi laut adalah perlindungan spesies dan ekosistem laut di lautan. Ini melibatkan tidak hanya perlindungan dan pemulihan spesies, populasi dan habitat, tetapi juga mengurangi aktivitas manusia seperti penangkapan berlebih, perusakan habitat, polusi, penangkapan dengan menggunakan alat tangkap terlarang dan hal-hal lain yang mempengaruhi kehidupan dan habitat laut.

Pekerjaan konservasi laut dapat dilakukan dengan menegakkan dan menciptakan undang-undang, seperti Endangered Species Act dan Marine Mammal Protection Act. Hal ini juga dapat dilakukan dengan membangun kawasan lindung laut, mempelajari populasi melalui melakukan penilaian stok dan mengurangi aktivitas manusia dengan tujuan memulihkan populasi.

Bagian penting dari konservasi laut adalah penjangkauan dan pendidikan. Kutipan pendidikan lingkungan yang populer oleh ahli konservasi Baba Dioum menyatakan bahwa “Pada akhirnya kita akan melestarikan hanya apa yang kita cintai, kita hanya akan mencintai apa yang kita pahami, dan kita hanya akan mengerti apa yang kita diajarkan.

Gambaran ini menunjukan hal yang sangat penting dalam Pengelolaan Ruang laut dan ini menjadi baik jika keterlibatan penuh nelayan itu sendiri. Selain menjaga lingkungan juga menjadi sebuah pembelajaran yang baik bagi masyarakat. Tujuannya dari konservasi dengan metode buka tutup area penangkapan akan berdampak pada produksi gurita meningkatkan, ekosistem laut terjaga dan ekonomi nelayan dengan sendirinya meningkatkan.

” Saya berharap dengan metode pengelolaan seperti ini akan berdampak pada pelestarian lingkungan dan peningkatan pendapatan bagi nelayan itu sendiri,” ungkap Jhuan mari dari Tananua Flores.

Lebih jauh Dia menjelaskan bahwa  gurita adalah komoditas yang mahal nilai jualnya dan mempunyai nilai ekspor yang tinggi.

Selain itu, kalau di lihat kampung Arubara saat ini di kenal dengan komoditi gurita, dan seharusnya peluang usaha musti di dorong untuk kemajuan kampung Arubara. Menjadi pertanyaan siapa yang harus memulai saat ini tentulah nelayan itu sendiri.

Jhuan Mari Staf Dokumentasi dari Yayasan Tananua Flores menjelaskan bahwa data gurita dari 5 desa untuk wilayah kabupaten Ende dengan Pendataan yang dilakukan mulai dari November 2019 hingga Juni 2022 gurita yang tercatat 15,919 Ekor dengan total produksi gurita 21 ton lebih.

5 Desa yang mulai pendataan gurita yakni Kelurahan Tetandara Lingkungan arubara dan Maurongga dimulai sejak November 2019 dan Maubasa, maubasa timur dan serandori dimulai sejak September 2021.

Dari data yang di sampaikan bukan angka kecil tetapi angka yang cukup besar jumlah produksi guritanya. Selain itu, angka itu sudah mewakili kalau Arubara mempunyai nilai jual tersendiri untuk membawa kabupaten Ende menjadi salah satu penghasil gurita.

Kabupaten Ende saat ini mempunyai Produk yang memiliki nilai jual ke luar negeri dan sekarang tinggal bagaimana peran pemerintah untuk menjalankan itu secara baik. ( Clarisa)

Rumah gurita di Arubara kembali dibuka usai 3 bulan ditutup Read More »

Nelayan 4 Desa di Wilayah Kecamatan Ndori Antusias Melaksanakan Kegiatan Penutupan Rumah Gurita

Ende, Tananua Flores| Tokoh Masyarakat paran Nelayan Gurita 4 Desa di kecamatan Ndori sangat Antusias melaksanakan kegiatan penutupan rumah gurita. Kegiatan penutupan Rumah gurita di wilayah kecamatan Ndori merupakan pembelajaran yang sangat berharga bagi mereka yang ada di 4 desa yakni desa Maubasa, Sera Ndori, Maubasa Timur dan Maubasa barat.

Kepedulian para nelayan dan tokoh masyarakat  yang berada di kecamatan itu terlihat dari mulai dari proses perencanaan, sosialisasi dan sampai pada implemntasi kegiatan penutupan sementara. Dengan Kelompok LMMA ( Locally Managed Marine Area) yang di bentuk tersebut, para nelayan dan tokoh masyarakat sangat mendukung agar Kelompok LMMA bisa berjalan maksimal untuk bekerja menjaga dan mengelolah perikanan gurita yang berdampak pada peningkatan ekonomi para nelayan dan masyarakat 4 desa di kecamatan Ndori.

Kali ini penutupan lokasi tangkap Gurita tersebut di Fasilitasi langsung oleh Kelompok LMMA dan Tananua Flores  yang dilakukan pada sabtu 4 Juni 2022 di Desa Maubasa, kecamatan Ndori, kabupaten Ende, NTT

Yang terlibat dalam kegiatan itu terdiri dari gabungan para nelayan gurita,nelayan ikan pemerintah desa dan pemerintah kecamatan, Dinas Cabang Kelautan dan Perikatan Propinsi NTT wilayah Ende, nagekeo dan Ngada beserta tokoh masyarakat yang ada diwilayah itu.

Penutupan sementara lokasi tangkap Gurita disepakti selama 3 bulan terhitung mulai tanggal 4 Juni hingga 4 september 2022.

Penutupan sementara perikanan gurita selama tiga bulan yang dilakukan memiliki tujuan edukatif yakni menjadi pembelajaran bagi masyarakat mengenai tata cara pengelolaan perikanan berbasis masyarakat serta bagaimana memberikan waktu dan tempat bagi gurita untuk tumbuh lebih besar dan untuk bertelur/berkembang biak karena gurita (Octopus cyanea) mempunyai masa hidup yang singkat yakni sekitar 18 bulan.

Gurita dewasa betina mampu bertelur 150.000-170.000 telur dan merawatnya sampai menetas. Octopus cyanea diyakini bertelur sepanjang tahun dengan periode pemijahan puncak terjadi pada bulan Juni dan Desember di Tanzania (Guard dan Mgaya, 2015). Dengan siklus hidup gurita yang singkat ini, penutupan sementara menjadi solusi pengelolaan perikanan yang cocok untuk diimplementasikan. Dengan harapan dan targetnya adalah ketika pembukaan penutupan sementara, gurita sudah tumbuh dengan besar dan mempunyai nilai lebih.

Model pengelolaan perikanan yang dilakukan di kecamatan Ndori ini adalah model partisipatif artinya realisasinya konservasi wilayah tangkapan gurita akan berjalan apabila masyarakat sendiri terlibat dalam proses pengelolaan serta ikut mengambil keputusan untuk setiap pilihan yang direncanakan.

Berbicara terkait Kelompok LMMA Pius  I Jodho Menerangkan bahwa Kelompok Pengelolaan perikanan tangkap khususnya gurita adalah sebuah kelompok kerja untuk melakukan upaya yang terintegrasi yakni mulai dari pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumber daya ekosistem dan Hewani, dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundang-undangan di bidang perikanan yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumber daya hayati perairan dan tujuan yang telah disepakati.

Lanjut dia “ Kelompok ini memiliki peranan penting dalam melakukan pengumpulan informasi, analisis, perencanaan dan bersama mitra melakukan proses pengawasan lapangan di area yang disepakati sebagai wilayah konservasi. Kelompok LMMA ini telah bekerja di empat desa yang menjadi desa di kecamatan Ndori”.Jelasnya

Penutupan sementara area penangkapan gurita bertujuan agar Lokasi tersebut diatur dan di jaga secara baik sehingga gurita bisa berkembang biak yang nantinya akan berdampak pada peningkatan produksi dan pendapatan nelayan itu sendiri.

Pius Jodho dari Tananua Flores mengungkapkan bahwa Penutupan lokasi tangkap gurita ini merupakan bagian dari konservasi wilayah pesisir bagi lokasi-lokasi yang telah di tentukan. Yang perluh dipahami adalah penutupan lokasi tersebut bukan semua jenis komuditas perikanan di tutup tetapi hanya satu jenis saja yaitu Gurita.

“Untuk jenis komuditas lain tidak di tutup dan para nelayan yang kesehariannya mencari gurita tentu bisa mencari di tempat lain lokasi yang tidak masuk dalam area penutupan” ungkapnya

Sementara itu Camat Ndori Paul Marsel Frederikus dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa Pemerintah kecamatan Ndori dan ke 4 desa di wilayah kecamatan itu mendukung penuh terkait dengan kegiatan yang dilakukan oleh para nelayan gurita dan kelompok LMMA

“Kami pemerintah kecamatan dan pemerintah desa mendukung penuh terkait kegiatan penutupan sementara lokasi tangkap gurita ini, sebab dengan kegiatan ini kedepannya akan berdampak pada peningkatan produksi gurita dan pendapatan bagi para nelayan gurita di Ndori”, kata Camat  Ndori itu.

Menurutnya dengan kegiatan penutupan sementara lokasi tangkap gurita maka lokasi yang di tutup tersebut harus dijaga secara bersama oleh semua masyarakat di 4 desa, khususnya nelayan-nelayan yang melakukan aktivitas penangkap gurita.

“ kita juga harus menjaga secara bersama terhadap lokasi yang telah ditutup ini, karena jika selama 3 bulan ini kita menahan diri untuk jangan dulu tangkap saya yakin ketika di buka nanti tentuh hasil penangkapan akan lebih banyak dan itu akan berdampak pada peningkatan pendapatan nelayan itu sendiri”, ujar camat .

Camat itu berharapa kepada kelompok LMMA dan Nelayan yang ada di ndori agar bersama-sama melakukan pengawasan pada lokasi yang telah di tutup sampai 3 bulan baru dibuka untuk melakukan penangkapan kembali.

Lokasi yang di tutup yakni, lokasi Sera Hobakua, Sera Maubasa dan Sera Ipi dari ke 3 lokasi ini kemudian perikanan gurita secara berkelanjutan.

Sementara itu Burhannudin Jua Ketua LMMA di wilayah kecamatan Ndori mangatakan Gurita di Ndori potensinya sangat tinggi hal ini dilihat dari proses pendataan yang dilakukan Enumerator sejak September 2021- april 2022, Jumlah individu gurita yang di tangkap berjumlah 5,706 ekor dengan jumlah produksi gurita 5,864,92 Kg. Lokasi yang paling tinggi jumlah produksinya terdiri dari , Mau mole 1682 Kg dengan jumlah individu gurita 1429 Ekor, Taka 338,10 Kg dengan jumlah individu yang ditangkap 364 ekor dan Ipi Taka Jumlah Produksi 638,60 Kg dengan Jumlah individu gurita yang di tangkap 604 Ekor.

“ Di Ndori ini potensi guritanya sangat tinggi sehingga banyak sekali nelayan dari luar kecamatan Ndori yang melakukan penangkapan disini, dan dari data yang ada sejak September- april ini sudah mencapai 5 ton lebih dan itu belum terhitung sebelum Tananua masuk mendamping disini”, Kata Burhanudin.

Anak mudah yang di percayakan sebagai ketua Kelompok pengelolah perikanan berbasis masyarakat itu menuturkan bahwa nalayan di Ndori melakukan penangkapan gurita sudah lama dan pengetahuan terkait penagkapan gurita banyak belajar dari nelayan luar.

“Nelayan disini banyak belajar menangkap gurita  dari nelayan yang datang dari luar dan mereka menangkap gurita sudah lama sebelum Tananua masuk , dan hasilnya pun sangat banyak”,tuturnya

Nelayan 4 Desa di Wilayah Kecamatan Ndori Antusias Melaksanakan Kegiatan Penutupan Rumah Gurita Read More »

Translate »