Data sebagai Fondasi Kebijakan: Arah Baru Pembangunan Pesisir Ndori

Shere Sekarang

Ende, Ndori- Tananua Flores | Pelaksanaan feedback data perikanan gurita dan ikan bersirip di Kecamatan Ndori pada 12 Februari 2025 bukan sekadar agenda rutin triwulanan. Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Camat Ndori dan dibuka langsung oleh Camat Ndori, Bapak Fidelis Sobha, S.IP., menjadi momentum penting yang menegaskan satu hal mendasar: data telah menjadi instrumen strategis dalam menentukan arah pembangunan wilayah pesisir.

Apresiasi Pemerintah Kecamatan Ndori kepada Yayasan Tananua menunjukkan adanya pola kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah dan masyarakat sipil. Pendampingan yang dilakukan bersama mitra seperti Bluventures tidak hanya berhenti pada pengumpulan data, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Data Mengubah Arah Kebijakan

Salah satu bukti paling konkret dari kekuatan data adalah ketika hasil presentasi yang disampaikan pada kunjungan Bupati bulan Agustus lalu berujung pada penetapan Kecamatan Ndori sebagai lokasi pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih tahun ini. Ini menunjukkan bahwa data yang akurat dan terukur mampu mendorong advokasi kebijakan hingga tingkat kabupaten.

Dalam konteks pembangunan daerah seperti di Kecamatan Ndori, data bukan hanya angka statistik. Ia menjadi dasar legitimasi untuk pengambilan keputusan, pengalokasian anggaran, dan penentuan prioritas pembangunan, sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Ende yang memprioritaskan sektor kelautan.

Membaca Tren: Penurunan yang Kontekstual

Secara kuantitatif, tren tiga bulan terakhir memang menunjukkan penurunan signifikan:

  • November ke Desember:
    Tangkapan turun ±54,7%, pendapatan turun ±15,3%.
  • Desember ke Januari:
    Tangkapan turun ±54,8%, pendapatan turun ±75%.
  • Akumulatif November–Januari:
    Tangkapan turun ±79,5%, pendapatan turun ±78,9%.

Angka-angka tersebut, jika dibaca secara parsial, dapat memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan stok sumber daya. Namun, analisis kontekstual menunjukkan bahwa faktor utama penurunan adalah kondisi cuaca ekstrem gelombang tinggi dan angin kencang yang membatasi aktivitas melaut.

Pernyataan perwakilan nelayan, Bapak Muhamad Hasan, mempertegas bahwa dinamika tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor musim. Dengan demikian, interpretasi data tidak boleh dilepaskan dari variabel lingkungan dan siklus musiman. Inilah pentingnya pendekatan ilmiah dan monitoring habitat yang kini telah berjalan lebih sistematis.

Gambaran Tiga Tahun: Fondasi yang Kuat

Jika dilihat dalam rentang tiga tahun terakhir, pengelolaan perikanan di Ndori justru menunjukkan tren positif:

  • Total tangkapan: 62,735 ton
  • Total pendapatan: Rp 1.917.959.774
  • Khusus gurita: 36.309,5 ton
  • Pendapatan dari gurita: Rp 1.511.954.986

Data ini mengindikasikan bahwa sektor gurita menjadi tulang punggung ekonomi pesisir. Artinya, intervensi kebijakan perlu diarahkan pada penguatan tata kelola perikanan gurita yang berkelanjutan, termasuk pengaturan musim tangkap, peningkatan alat tangkap ramah lingkungan, dan penguatan perlindungan habitat. Penurunan produksi akibat cuaca ekstrem juga membuka diskusi lebih luas mengenai aspek keselamatan dan perlindungan nelayan. Keterbatasan alat pelindung diri dan sarana keselamatan menjadi isu penting yang perlu mendapat perhatian dalam program Kampung Nelayan Merah Putih.

Jika pembangunan hanya berfokus pada infrastruktur fisik tanpa memperhatikan mitigasi risiko dan adaptasi terhadap perubahan iklim, maka dampak jangka panjangnya tidak akan optimal.

Menuju Pembangunan Berbasis Bukti

Apa yang terjadi di Ndori memperlihatkan transformasi penting: dari pembangunan berbasis asumsi menuju pembangunan berbasis bukti

Data tidak lagi berhenti sebagai laporan administratif, tetapi telah menjadi alat advokasi, instrumen dialog kebijakan, sekaligus dasar perencanaan ekonomi masyarakat pesisir.

Ke depan, konsistensi dalam pengumpulan data triwulanan harus diiringi dengan:

  1. Penguatan literasi data bagi kelompok nelayan.
  2. Integrasi data perikanan dengan perencanaan desa dan kecamatan.
  3. Pengembangan sistem peringatan dini cuaca dan perlindungan nelayan.
  4. Diversifikasi sumber pendapatan untuk mengurangi ketergantungan musiman.

Jika sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendamping terus dijaga, maka Ndori berpotensi menjadi model pengelolaan perikanan berbasis komunitas di Kabupaten Ende.

Akhirnya, pengalaman Ndori mengajarkan satu pelajaran penting:
Data yang dikelola dengan baik bukan hanya mencatat realitas, tetapi mampu mengubah arah masa depan pembangunan.

Penulis : Agnes Ngura- Staf Pendamping di kecamatan Ndori

Editor : Jhuan Mari

Data sebagai Fondasi Kebijakan: Arah Baru Pembangunan Pesisir Ndori Read More »

Pembukaan Kembali Lokasi Tangkap Gurita di Kotodirumali: Menjaga Laut, Meningkatkan Ekonomi

Shere Sekarang

Nagekeo Kotodirumali, 19 Februari 2025 – Kelompok Nelayan Kodim Octopus melaksanakan pembukaan kembali lokasi tangkap gurita setelah penutupan sementara selama 3 bulan di lokasi penangkapan gurita Dowosude,Ipi Mbuu dan Ma’urao dengan luas keseluruham 86,77 ha. Acara ini diawali dengan ritual adat yang dipimpin oleh Sehe Mahmud, seorang Mosazaki Udu Wuwu Eko Koja.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Kotodirumali Maternus Mau, Ketua BPD Kotodirumali, para Mosazaki, tokoh masyarakat, serta Koordinator Program Kelautan dan Perikanan dari Yayasan Tananua Flores.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Kotodirumali, Maternus Mau, menyatakan bahwa pemerintah desa mendukung upaya pengelolaan perikanan gurita di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa pemerintah desa telah menetapkan peraturan desa (Perdes) yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang laut berbasis kearifan lokal. Maternus Mau juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Tananua Flores yang telah memfasilitasi penyusunan Perdes tersebut.

“Kodim Octopus harus menjadi contoh bagi kelompok lain di Kabupaten Nagekeo. Saya mengajak kelompok ini menjadi kelompok yang sejati, bukan kelompok yang hanya sekadar ada. Untuk itu, anggota dan pengurus harus bekerja sama dan membangun komunikasi yang baik. Jika ada persoalan, sebaiknya diselesaikan secara internal,” ujarnya.

Setelah ritual adat, sembilan nelayan turun menangkap gurita selama satu jam. Berdasarkan hasil catatan enumerator, total tangkapan nelayan mencapai 49,2 kg. Penangkapan terbanyak dilakukan oleh Yohanis Andu dan Fransiskus R. Mere. Berat gurita terendah yang tertangkap adalah 1,2 kg, sementara yang tertinggi mencapai 3,5 kg.

Koordinator Program Kelautan dan Perikanan Yayasan Tananua Flores Pius I Jodho menyampaikan bahwa Kodim Octopus merupakan salah satu kelompok masyarakat berbasis komunitas (CBO) di Kotodirumali yang perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam kegiatan pemberdayaan kelompok.

“Kelompok Kodim Octopus dan masyarakat perlu terus mengelola ruang laut secara berkelanjutan. Wilayah pesisir dan laut yang lestari akan meningkatkan ekonomi nelayan, menjaga ekosistem pesisir, serta memperkuat sosial budaya masyarakat,” ungkapnya.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan pengelolaan perikanan gurita di Kotodirumali semakin berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat setempat.

Oleh: PJ

Pembukaan Kembali Lokasi Tangkap Gurita di Kotodirumali: Menjaga Laut, Meningkatkan Ekonomi Read More »

Program Perikanan Berbasis Masyarakat: Membangun Keberlanjutan dan Kesejahteraan

Shere Sekarang

Ende, Tananua Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan luas perairan yang mendominasi wilayahnya, memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Potensi ini tidak hanya menjadi sumber devisa negara tetapi juga berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Namun, agar sektor perikanan dapat memberikan manfaat yang optimal, diperlukan pengelolaan yang berkelanjutan serta berbasis pada keseimbangan ekologi dan ekonomi.

Di Kabupaten Ende, potensi perikanan yang dimiliki belum sepenuhnya dikelola secara baik untuk menopang perekonomian daerah. Pemerintah daerah belum memiliki kebijakan strategis dalam pengelolaan perikanan guna meningkatkan pendapatan daerah. Oleh karena itu, inisiatif dari berbagai pihak, termasuk organisasi non-pemerintah, menjadi sangat penting untuk mengembangkan sektor ini.

Peran Yayasan Tananua Flores dalam Pengelolaan Perikanan

Yayasan Tananua Flores, sebagai LSM lokal yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat petani dan nelayan, telah menjalankan berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem perairan serta memastikan keberlanjutan sumber daya perikanan. Sejak berdiri pada tahun 1989, Tananua tetap konsisten dalam mendampingi masyarakat dengan visi program penghidupan berkelanjutan, baik di sektor pertanian maupun kelautan dan perikanan.

Sebagai bagian dari komitmennya, Tananua telah meluncurkan program perikanan berbasis masyarakat di delapan desa di Kabupaten Ende dan sekitarnya. Program ini menggunakan pendekatan pendampingan berbasis data serta berorientasi pada desa dan kawasan untuk memastikan efektivitas implementasi. Beberapa desa yang menjadi sasaran program ini meliputi Kelurahan Tetandara (Lingkungan Arubara, Kecamatan Ende Selatan), Desa Persiapan Maurongga (Kecamatan Nangapanda), Desa Kotodirumali (Kecamatan Keo Tengah), Desa Podenura (Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo), serta Desa Maubasa, Maubasa Timur, dan Serandori (Kecamatan Ndori).

Empat Pilar Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat

Program perikanan berbasis masyarakat yang dijalankan oleh Tananua Flores berlandaskan pada empat pilar utama, yaitu:

  1. Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat
    Masyarakat nelayan didorong untuk secara aktif mengelola perikanan melalui pendataan yang sistematis, analisis data, serta implementasi strategi berbasis bukti. Selain itu, nelayan juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga ruang hidup ekosistem perairan dan mengintegrasikan kearifan lokal dalam pengambilan keputusan secara partisipatif.
  2. Mengamankan Hak
    Nelayan dan masyarakat pesisir perlu memahami serta mengamankan hak mereka dalam mengakses, memanfaatkan, dan mengelola lokasi tangkapan serta ekosistem pendukungnya. Selain itu, kelompok pengelola didorong untuk menjalin koordinasi dan advokasi dengan jejaring lainnya guna mempertahankan hak mereka dalam perencanaan dan kebijakan pemerintah daerah maupun nasional.
  3. Inklusif Keuangan
    Masyarakat diberdayakan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga dan usaha, termasuk sistem simpan pinjam kelompok serta akses layanan keuangan dasar untuk menabung, kredit, dan dana darurat. Program ini juga bertujuan untuk mengakui nelayan sebagai bagian dari ekonomi produktif yang berhak mendapatkan perlindungan usaha serta akses terhadap layanan keuangan formal dari lembaga keuangan dan pemerintah.
  4. Ketahanan Pangan
    Masyarakat nelayan diberikan edukasi mengenai pentingnya nilai gizi dalam konsumsi rumah tangga. Selain itu, mereka juga didorong untuk memahami peran spesies bernutrisi dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga serta mengidentifikasi sumber tangkapan yang dapat memberikan manfaat optimal bagi kesehatan dan kedaulatan pangan lokal.

Dengan pendekatan berbasis komunitas ini, diharapkan pengelolaan perikanan di Kabupaten Ende dapat lebih optimal dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir serta menjamin keberlanjutan ekosistem perairan untuk generasi mendatang. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan organisasi pemberdayaan seperti Yayasan Tananua Flores menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan sektor perikanan yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

Program Perikanan Berbasis Masyarakat: Membangun Keberlanjutan dan Kesejahteraan Read More »

Sebanyak 20 Organisasi Konservasi Asia Pasifik Gelar Lokakarya Pemantauan Kondisi Ekosistem Pesisir untuk Memperkuat Pengelolaan Perikanan berbasis Masyarakat

Shere Sekarang

Denpasar, Tananua Flores | Dalam Memperkuat Pengelolaan Perikanan berbasis Masyarakat, sebanyak 20 Organisasi konservasi se Asia pasifik  yang bermitra dengan Blue ventures Indonesia gelar Lokakarya Pemantauan Kondisi Ekosistem Pesisir dan sekaligus mendorong masyarakat   dalam pengelolaan wilayah pesisir yang adaptif, kolaborasi dan berkelanjutan. 

Kegiatan tersebut digelar di Hotel Mercure sanur Denpasar selama 5 hari dari tanggal 10-15 september 2024.

Steven Box dari Blue Ventures dalam sambutan membuka kegiatan tersebut mengungkapkan Blue Ventures telah bekerja bersama mitra dan masyarakat pesisir sudah 20 an tahun dengan memberikan berbagai program kegiatan bersama masyarakat. 

Pemimpin Blue Ventures itu menjelaskan bahwa Pendekatan yang dibangun bersama mitra itu mengangkat isu-isu pengelolaan wilayah pesisir, Degradasi terhadap ekosistem perikanan, perubahan iklim dan juga membangun kualitas SDM masyarakat nelayan untuk memanfaatkan potensi yang dimiliki. 

“kami telah bekerja bersama masyarakat dengan mengangkat isu pengelolaan wilayah pesisir dan laut berbasis Masyarakat, kami juga mengangkat isu terkait dengan mitigasi terhadap Ekosistem perikanan yang cenderung mulai rusak dan kami juga membangun kualitas sumber daya masyarakat untuk memahami potensi yang dimiliki agar bisa dikelola secara berkelanjutan,”Jelas Steve.

Sambung dia “ dengan kegiatan Lokakarya ini semua peserta  dari utusan mitra beloh berdiskusi dan berbagi kerja program bersama masyarakat dan juga  dengan forum ini bisa menjadi penyambung persoalan masyarakat nelayan agar didiskusikan secara bersama”, Ungkapnya. 

Steve Box juga kembali menegaskan Poin penting yang menjadi konsentrasi kerja program bersama masyarakat antara lain Data dan pendataan(data collection system), pengelolaan perikanan(Fisheries Management),Inklusif Keuangan (Financial inclusion), Perbaikan Rantai nilai (Value chain improvement). Ke empat pilar ini menjadi Konsentrasi kerja-kerja kolaborasi bersama masyarakat dan juga rujukan pegangan bagi mitra-mitra Blue ventures.

Harapannya, Lokakarya teknis ini menjadi ajang untuk berbagi dan belajar bersama , membangkitkan gagasan-gagasan baru serta mendiskusikan berbagai temuan bekerja bersama masyarakat.

“ saya senang sekali dengan partisipasi semua peserta dan saya  berharap, mari menggunakan peluang ini untuk saling berbagi, berdiskusi dan belajar bersama”,ujar dia

Perlu diketahui bahwa di wilayah Asia Pasifik, Blue Ventures mendukung organisasi konservasi seperti di Indonesia, Filipina, Thailand, India serta bekerja dengan masyarakat di Timor Leste dalam bidang pengelolaan perikanan berbasis masyarakat dan konservasi laut. Dukungan yang diberikan oleh Blue Ventures adalah teknis dan pendanaan. 

Dan lokakarya ini sudah tahap ketiga yang dimulai sejak tahun 2022 lalu. Kegiatan Lokakarya teknis ini berfungsi sebagai platform (media) untuk pembelajaran langsung, berbagi pengetahuan, dan pengembangan keterampilan, serta menumbuhkan budaya perbaikan berkelanjutan.

Peserta lokakarya mendapatkan pengalaman praktis yang melampaui pengetahuan teoritis. Melalui latihan langsung, demonstrasi, dan sesi interaktif, peserta mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep teknis dan memperoleh keterampilan untuk menerapkannya secara efektif. Lokakarya membantu menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik, meningkatkan kemampuan pemecahan masalah peserta.

Lokakarya tahun 2024 berfokus pada implementasi program berdasarkan pilar-pilar (strategi) Blue Ventures bersama mitra dalam pendampingan masyarakat untuk mengelola perikanan demi keberlanjutan sumber daya perikanan yang bermanfaat bagi manusia dan lingkungan, terutama dalam konteks pemantauan kondisi ekosistem pesisir yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam sebuah pengelolaan perikanan. Dengan menghadiri lokakarya, peserta dapat memperoleh keterampilan baru, meningkatkan keterampilan yang sudah ada, dan terus mengikuti perkembangan strategi Blue Ventures. 

Lokakarya juga menyediakan platform untuk berjejaring, berkolaborasi, dan bertukar ide di antara individu-individu yang memiliki visi yang sama. Peserta dari berbagai latar belakang bertemu dan membentuk komunitas belajar yang dinamis.

Lokakarya teknis merupakan katalis yang kuat untuk memberdayakan individu dan mendorong inovasi. Selain itu, organisasi mendapatkan manfaat dari meningkatnya keahlian tenaga kerja mereka dan lahirnya ide-ide inovatif yang berkontribusi terhadap peningkatan layanan bagi masyarakat yang kita dukung.

Berikut ini daftar Organisasi Konverasi yang terlibat di kegiatan Lokakarya yakni Komunitas Nelayan Wangi-wangi (KOMANANGI),Forum Nelayan Binongko (FONEB),Forum Kahedupa Toudani (FORKANI),Yayasan Alam Indonesia Lestari (LINI),Jaring Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (JAPESDA),Yayasan Pendidikan Konservasi Alam (YAPEKA),Yayasan Ecosystem Impact (EI),Lembaga Juang Laut Lestari (JARI),Yayasan Tananua Flores (YTNF),Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM),Akar Global Inisiatif,Yayasan,Hutan Biru (YHB),Yayasan Planet Indonesia (YPI),Yayasan Mitra Insani (YMI),People and The Sea (PEPSEA),Blue Ventures (United Kingdom),Konservasaun Flora no Fauna (KFF),Lembaga Partisipasi Pembangunan Masyarakat (LPPM),Blue Ventures (Timor – Leste),Blue Ventures (Madagascar) *** Jhuan M

Sebanyak 20 Organisasi Konservasi Asia Pasifik Gelar Lokakarya Pemantauan Kondisi Ekosistem Pesisir untuk Memperkuat Pengelolaan Perikanan berbasis Masyarakat Read More »

Rumah gurita di Arubara kembali dibuka usai 3 bulan ditutup

Shere Sekarang

Ende, Arubara-Tananua Flores | Rumah Gurita yang ditutup selama 3 bulan di Lingkungan arubara kembali di buka oleh lurah Tetandara.  Kali ini Penutupan Rumah Gurita dilakukan oleh kelompok nelayan dan pemerintah kelurahan yang ke dua. 3 Lokasi yang di tutup itu yakni maubhanda, Maungazu dan Ana No’o.

Kegiatan pembukaan Lokasi tangkap ini dilakukan pada Sabtu 13 Agustus 2022 di lingkungan Arubara, kecamatan Ende selatan kabupaten Ende.

Lurah tetandara Anwar Hama diacara Seremonial pembukaan Lokasi penutupan sementara Rumah Gurita tersebut mengatakan bahwa kali ini dari pemerintah kelurahan resmi membuka lokasi tangkap gurita yang di tutup selama 3 bulan dan nelayan boleh masuk di area itu untuk menangkap kembali gurita.

Anwar Lurah Tendara ” hari ini saya manyampaikan secara resmi bahwa silakan nelayan gurita boleh memasuki dan menangkap kembali gurita di lokasi yang telah di buka itu”,katanya

Lanjut Dia ” Nelayan yang tangkap gurita hasilnya bisa di laporkan kepada enumerator untuk mencatatnnya agar kita bisa mengetahui di 3 lokasi tersebut hasilnya ada atau tidak dan seberapa banyak.” ujar Lurah itu

Menurutnya bahwa dengan membuka kembali Lokasi penutupan mudah-mudahan nelayan gurita bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, kemudian bisa berdampak pada peningkatan sumber pendapatan bagi nelayan.

Membuka Lokasi penutupan sementara ini  adalah persetujuan oleh semua pihak  dan stakeholder yang ada di wilayah kelurahan Tetandara lingkungan Arubara.  Buka tutup adalah salah satu model pengelolaan Ruang laut yang berbasis masyarakat. Buka tutup lokasi tangkap gurita juga bagian dari model konservasi untuk meningkatkan produksi gurita dan jumlah individu gurita.

Konservasi laut adalah perlindungan spesies dan ekosistem laut di lautan. Ini melibatkan tidak hanya perlindungan dan pemulihan spesies, populasi dan habitat, tetapi juga mengurangi aktivitas manusia seperti penangkapan berlebih, perusakan habitat, polusi, penangkapan dengan menggunakan alat tangkap terlarang dan hal-hal lain yang mempengaruhi kehidupan dan habitat laut.

Pekerjaan konservasi laut dapat dilakukan dengan menegakkan dan menciptakan undang-undang, seperti Endangered Species Act dan Marine Mammal Protection Act. Hal ini juga dapat dilakukan dengan membangun kawasan lindung laut, mempelajari populasi melalui melakukan penilaian stok dan mengurangi aktivitas manusia dengan tujuan memulihkan populasi.

Bagian penting dari konservasi laut adalah penjangkauan dan pendidikan. Kutipan pendidikan lingkungan yang populer oleh ahli konservasi Baba Dioum menyatakan bahwa “Pada akhirnya kita akan melestarikan hanya apa yang kita cintai, kita hanya akan mencintai apa yang kita pahami, dan kita hanya akan mengerti apa yang kita diajarkan.

Gambaran ini menunjukan hal yang sangat penting dalam Pengelolaan Ruang laut dan ini menjadi baik jika keterlibatan penuh nelayan itu sendiri. Selain menjaga lingkungan juga menjadi sebuah pembelajaran yang baik bagi masyarakat. Tujuannya dari konservasi dengan metode buka tutup area penangkapan akan berdampak pada produksi gurita meningkatkan, ekosistem laut terjaga dan ekonomi nelayan dengan sendirinya meningkatkan.

” Saya berharap dengan metode pengelolaan seperti ini akan berdampak pada pelestarian lingkungan dan peningkatan pendapatan bagi nelayan itu sendiri,” ungkap Jhuan mari dari Tananua Flores.

Lebih jauh Dia menjelaskan bahwa  gurita adalah komoditas yang mahal nilai jualnya dan mempunyai nilai ekspor yang tinggi.

Selain itu, kalau di lihat kampung Arubara saat ini di kenal dengan komoditi gurita, dan seharusnya peluang usaha musti di dorong untuk kemajuan kampung Arubara. Menjadi pertanyaan siapa yang harus memulai saat ini tentulah nelayan itu sendiri.

Jhuan Mari Staf Dokumentasi dari Yayasan Tananua Flores menjelaskan bahwa data gurita dari 5 desa untuk wilayah kabupaten Ende dengan Pendataan yang dilakukan mulai dari November 2019 hingga Juni 2022 gurita yang tercatat 15,919 Ekor dengan total produksi gurita 21 ton lebih.

5 Desa yang mulai pendataan gurita yakni Kelurahan Tetandara Lingkungan arubara dan Maurongga dimulai sejak November 2019 dan Maubasa, maubasa timur dan serandori dimulai sejak September 2021.

Dari data yang di sampaikan bukan angka kecil tetapi angka yang cukup besar jumlah produksi guritanya. Selain itu, angka itu sudah mewakili kalau Arubara mempunyai nilai jual tersendiri untuk membawa kabupaten Ende menjadi salah satu penghasil gurita.

Kabupaten Ende saat ini mempunyai Produk yang memiliki nilai jual ke luar negeri dan sekarang tinggal bagaimana peran pemerintah untuk menjalankan itu secara baik. ( Clarisa)

Rumah gurita di Arubara kembali dibuka usai 3 bulan ditutup Read More »