Enumerator Gelar Kegiatan Umpan Balik Data Gurita Bersama Masyarakat

Ende, Tananua Flores| Demi menjaga kepercayaan masyarakat pesisir dan keterlibatan masyarakat dalam proses pendataan perikanan, kali ini Pendamping Lapangan Tananua Flores dan juga Enumerator Pendata Lakukan Umpan balik data di desanya masing-masing.

Umpan balik data gurita maupun ikan bertujuan untuk masyarakat desa dampingan bisa mengetahui sejauh mana data yang dikumpulkan dan bagaimana menggunakan data tersebut untuk perencanaan pembangunan.

Kegiatan Umpan balik data merupakan salah satu aktivitas dari pendampingan Tananua di desa. Dalam kegiatan tersebut yang harus ambil bagian adalah, Enumerator, masyarakat, dan pemerintah desa setempat.

Berikut ini kami Sajikan Kegiatan umpan balik data dari desa dampingan Tananua.

Lingkungan Arubara.

Kegiatan umpan balik data Arubara ( dok.Aldo)

Kegiatan dilakukan pada (2/5) bertempat di rumah bapak RT 04, lingkungan Arubara. Kegiatan tersebut dibuka oleh ketua RT 04 Fudin Ali.

Pada kesempatan tersebut fudin Ali juga menyampaikan kepada nelayan bahwa gurita sudah di terima  kembali  dengan harga yang di informasikan dari PT. AGRITA BEST di Paga sebesar Rp. 20.000 per kilogram.

Dengan perusahan menerima kembali gurita, Fudin Ali sebagai ketua RT dan juga selaku Pengepul mengharapkan nelayan pencari gurita tetap menjaga kualitas gurita.

Kata Fudin, “Komoditas Gurita adalah komuditas Ekspor dan agar produk kita tetap diterima di perusahaan maka, kita harus menjaga secara bersama untuk menjaga kualitas gurita sesuai dengan permintaan perusahaan”, ucapnya.

Sementara itu, Maya wahab selaku enumerator  gurita Arubara menyampaikan data gurita  yang didata selama 3 bulan dengan total tangkapan 357 kg  dengan rincian bulan Januari 238,5 kg gurita, bulan februari 27,5 kg gurita dan di bulan maret berjumlah 91 kg gurita.

Menurut Maya bahwa dilihat dari data selama 3 bulan ini tertinggi hanya di bulan januari, yang paling rendah penangkapan terjadi pada bulan februari dan maret.  Alasan mendasar terjadi  karena situasi dan kondisi laut yang tidak bersahabat (cuaca buruk) dan juga dengan belum kembali dibukanya perusahaan sehingga ini menimbulkan semangat nelayan mencari gurita menurun.

Umpan balik data gurita nelayan Arubara, Wilhelmina Benge selaku penyuluh perikanan mengatakan bahwa kelompok nelayan gurita merupakan sebuah kelompok yang aktif di wilayah kelurahan dalam menjaga ekosistem laut secara baik.

Penyulu itu mengharapkan” kegiatan yang baik harus tetap dipertahankan untuk menjaga kelestarian lingkungan laut yang lebih baik, tidak hanya memanfaatkan laut, tetapi merawat dan menjaga untuk keberlanjutan , tidak boleh menggunakan alat tangkap yang merusak lingkungan seperti Bom, potassium, dan yang lainnya”,kata wilhelmina.

Saat ini proses pendataan gurita di arubara  terus dilakukan oleh enumerator dan datanya dapat digunakan untuk proses perencanaan pembangunan daerah pesisir.

Desa maubasa, maubasa timur dan Serandori

Umban balik data Ndori (dok.Agnes)

Kegiatan umpan balik data di desa maubasa,maubasa timur dan serandori dilakukan pada (02/05) bertempat di desa serandori.

Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini adalah nelayan yang terdiri dari 3 Desa yaitu Desa Maubasa, Desa Maubasa Timur dan Desa Sera Ndori. Proses dari kegiatan ini enumerator melakukan rekapitulasi kemudian membuat presentasi untuk dibagikan kepada masyarakat nelayan.

Agnes Ngura selaku PL di Ndori Menyampaikan tujuan dari kegiatan Umpan balik data gurita sehingga peserta dapat mengetahui apa yang menjadi tujuan adanya umpan balik data. Selain itu PL menyampaikan beberapa kegiatan terkait dengan sistem tutup buka lokasi tangkap.

Selain itu Enumerator memaparkan data selama 6 bulan, berikut data rekapan untuk data nelayan Maubasa Timur total Produksi gurita (kg) adalah 5.674,3 kg dengan jumlah pendapatan Rp 160.324.500,00. Untuk Desa Maubasa berjumlah 2.234,4 kg dengan jumlah pendapatan sebesar Rp 91.932.500,00. Untuk Desa Maubasa Barat 64,2kg dengan jumlah pendapatan Rp 2.032.000,00 sedangkan untuk Serandori berjumlah 2.553,4 kg dengan jumlah pendapatan Rp94.644.500,00.

Menurut Oyan yang adalah salah satu dari nelayan yang berasal dari desa Maubasa timur menyampaikan bahwa apresiasi disampaikan kepada Tananua dan enumerator yang telah mendata hasil tangkapan nelayan sehingga mereka dapat mengetahui data tangkapan dan pendapatan mereka, baginya selama ini Tananua sudah bekerja sangat maksimal dan sangat bermanfaat bagi mereka. Dengan sistem tutup-buka lokasi tangkapan gurita kami sebagai nelayan merasakan dampak yang sangat baik terutama peningkatan hasil tangkapan dan yang paling penting pada area penangkapan yang kami miliki sudah tidak terganggu dengan nelayan pendatang.

Desa Persiapan Maurongga

Umpan balik data di desa persiapan maurongga( dok.Iren)

Kegiatan dilakukan di rumah Bapak Imbran (salah satu nelayan gurita)  pada hari Jumat 10 Mei 2024. Pukul 08.00 WITA.

Sebelum kegiatan, PL berkoordinasi dengan Enumerator untuk kegiatan umpan balik data, selanjutnya PL dan Enumerator merekapitulasi data gurita selama 6 bulan dan data Ikan selama 3 bulan untuk kegiatan feedback data.

Selanjutnya, PL bersama Enumerator berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan Enumerator mengajak Nelayan  bersama – sama menghadiri kegiatan  feadback data waktu yang sudah ditentukan.

Kegiatan dibuka oleh Bapak Muhammad Nuhu selaku sekdes dan dilanjutkan PL untuk memberi gambaran mengenai kegiatan ini dan memberi kesempatan kepada Enumerator untuk melaporkan kembali data hasil tangkapan gurita selama 6 bulan ( November 2023-April 2024) menggunakan kertas Pleno.

Data yang dijelaskan Enumerator berupa  jumlah tangkapan dari masing-masing nelayan serta total secara keseluruhan dari hasil tangkapan nelayan dalam kelompok dan jumlah nelayan yang melakukan penangkapan.

Dari Data tersebut yang disampaikan oleh Enumerator selama 6 bulan sebagai berikut:

  1. Bulan November 2023 : berat gurita 153,7 kg, 105 ekor dan pendapatan nelayan Rp6.155.000.
  2. Bulan Desember 2023 : berat gurita 47.9 kg, 34 ekor dan pendapatan nelayan Rp1.680.000.
  3. Bulan Januari 2024 : berat gurita 60,4 kg, 41 ekor dan pendapatan nelayan Rp2.100.000.
  4. Bulan Februari 2024 : berat gurita 35,1 kg, 29 ekor dan pendapatan nelayan Rp1.230.000.
  5. Bulan Maret 2024 : berat gurita 26,4 kg, 20 ekor dan pendapatan nelayan Rp920.000.
  6. Bulan April 2024 : berat gurita 44,8 kg, 30 ekor dan pendapatan nelayan Rp1.570.000.

Dari data yang ada, Imran mengakui hasil tangkapannya menurun karena kawasan pencariannya tercemar oleh material galian dari proyek jalan negara. Sekdes desa persiapan maurongga mengapresiasi kegiatan ini karena dapat membantu pemerintah desa untuk mengetahui potensi Perikanan. Nelayan atas nama Adi Baba, mengaku senang karena yang didata tidak hanya gurita tetapi juga ikan sehingga dia dapat mengetahui jumlah dan jenis ikan yang sudah ditangkap selama ini

Desa Podenura dan Kotodirumali.  

Kegiatan umpan balik data di kodim ( Dok. Nelson )

Kegiatan umpan balik data ke dua desa tersebut dilakukan pada selasa 14 Mei 2024. Tempat dilakukan kegiatan umpan balik data di Ndetumali desa kotodirumali.

Peserta yang terlibat dalam kegiatan umpan balik data tersebut terdiri dari nelayan dari desa podenura dan nelayan dari kotodirumali. Turut ambil bagian dalam kegiatan itu utusan pemerintah desa dikedua desa.

Kegiatan difasilitasi oleh Enumerator dan Pendamping lapangan Tananua flores yang bertugas di wilayah itu.

Dari laporan Enumerator pendata gurita jumlah tangkapan selama 4 bulan berjumlah 666 ekor 814 kg, dan total pendapatan nelayan sebesar Rp. 17.805.000

Dari data menunjukan jumlah produksi gurita tinggi, sementara faktor lainyang menjadi kendala adalah harga gurita yang menurun dan cuaca ekstrim. Selain itu juga beberapa bulan terakhir perusahan belum menerima pembelian gurita.

Kesimpulan akhir dari kegiatan tersebut para nelayan mengharapkan ada intervensi pemerintah baik kabupaten maupun Desa untuk menangani persoalan yang dihadapi para nelayan. Data telah menujukan ada potensi yang cukup tinggi dari komuditas gurita namun sampai saat ini belum ada keseriusan dari pemerintah daerah dalam menangani dan mengelola potensi itu.

Tim Tananua Flores

 

 

Enumerator Gelar Kegiatan Umpan Balik Data Gurita Bersama Masyarakat Read More »

Pemdes Persiapan Maurongga Gandeng ACIL dan Tananua Gelar Pelatihan Pengolahan Sampah Plastik

Ende, Tananua Flores| Lingkungan bersih, laut bersih itu semua adalah tanggung jawab semua unsur di wilayah kabupaten Ende. Sampah Plastik saat ini menjadi momok yang membuat pemandangan tidak indah di pandang mata, karena sampah berserakan dimana-mana.

Bebicara terkait dengan Masalah sampah kali ini Pemerintah Desa persiapan Maurongga Gandeng Tananua dan Acil Ende untuk selenggarakan Pelatihan pengolahan Sampah Plastik yang bernilai Ekonomis. Kegiatan tersebut diselenggarakan selama 2 hari yang dimulai dari Maurongga di hari pertama dan sekretariat ACIL Ende di hari kedua. Peserta yang terlibat di kegiatan itu terdiri dari kelompok dasawisma Maurongga dan kelompok perikanan di lingkungan Arubara,kelurahan Tetandara ende.(23/8)

Umar Hamdan Pimpinan ACIL Ende dalam kegiatan pelatihan itu mengatakan  bahwa Sampah plastik yang  dihasilkan dari rumah tangga berkisar 110 ton Per Hari itu terdiri dari sampah anorganik (sampah plastik).

“Kami Secara lembaga mendorong semua stakeholder bahwa masalah Sampah bukan masalah perorangan melainkan masalah bersama,  saat ini Sampah Plastik bukan lagi masalah lokal tetapi sudah menjadi isu Dunia”ujar Hamdan ketua ACIL Ende.

Kegiatan yang digelar oleh Tananua dan pemerintah desa ini agar kelompok dasawisma bisa memanfaatkan sampah plastik menjadi peluang usaha baru dalam peningkatan ekonomi rumah tangga.

” Saat ini masalah Sampah harus menjadi masalah kita bersama, dan untuk meminimalisir juga kita sendiri,apalagi dengan mengolah sampah sekarang juga bisa mempunyai pendapatan”, katanya

Selain itu dia juga menjelaskan bahwa ACIL sendiri sudah mulai bergerak dengan melakukan pengolahan Sampah Plastik sejak tahun 2013.

Menurutnya ACIL Ende bahwa banyak orang merasa Sampah Plastik yang kotor dan  terbuang itu sudah tidak dimanfaatkan lagi namun saat ini sampah plastik yang dibuang sudah punya nilai ekonomis.

Sedikit melihat kembali ke belakang Kantong plastik pertama kali ditemukan dan dikembangkan oleh ilmuwan asal Swedia, Sten Gustaf Thulin pada 1959 oleh. Awalnya, kemunculan kantong plastik bertujuan sebagai media pengganti kantong kertas yang proses produksinya dianggap mengancam keberlanjutan alam.

Seiring dengan berjalannya waktu, saat ini kenyamanan dan kepraktisan membuat kantong plastik menjadi sampah yang menumpuk. Orang-orang sering memakai kantong plastik sekali lalu membuangnya, tidak lagi menggunakan kantong plastik berulang kali.

Perjalanan dalam pemanfaatan barang plastik semakin tinggi disaat Perang Dunia II berkecamuk, industri plastik sintetis sedang dalam titik puncak produksi karena adanya tuntutan untuk melestarikan sumber daya alam. Dengan demikian, produksi alternatif sintetis menjadi prioritas.

Sekarang ini Plastik sudah tidak lagi menjadi solusi tetapi sudah sebuah masalah, optimisme terhadap kantong plastik dinilai berlebihan. Kantong plastik dan produk yang berkemasan plastik tak lagi dipandang positif dan solutif, terutama setelah puing-puing plastik menjadi lautan sampah.

Nah, dengan gambaran itu maka menjadi tujuan dari kegiatan tersebut adalah mendorong masyarakat desa persiapan Maurongga agar bisa memanfaatkan sampah plastik sebagai peluang baru untuk sumber pendapatan ekonomi. Sehingga plastik sampah yang dianggap sebuah masalah tetapi dengan mengolah kembali bisa mendapatkan pendapatan.

” Ya saat inikan sampah yang kotor tentu semua orang merasa tidak mempunyai nilai, tetapi kami sudah membuktikan sampah plastik yang kotor dan terbuang juga memiliki nilai ekonomis”, Ungkap Hamdan.

Lanjut dia bahwa jika semua orang membuang sampah plastik tidak pada tempatnya maka sampah tersebut akan membawa penyakit baru yang saat ini banyak dialami masyarakat.

Kegiatan pelatihan pilah pilih sampah untuk kelestarian tersebut diawali dengan cleaning up(pemilahan sampah) yang dipimpin oleh sekretaris desa persiapan Maurongga.

Kepala Desa Maurongga yang diwakili oleh sekretaris Desa Muhamad Nuhu mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada ACIL Ende dan Tananua Flores yang telah memberikan perhatian khusus kepada warga desa persiapan Maurongga.

Katanya ACIL telah memberikan peluang usaha baru bagi masyarakat jika mau konsentrasi menangani masalah Sampah, jujur di wilayah kecamatan Nangapanda tidak ada yang mulai usaha dengan barang -barang kotor.

Dalam gerakan menjaga lingkungan hidup dan kelestarian lingkungan ACIL Ende telah bekerja sama dengan pemerintah kabupaten Ende, lembaga pendidikan dan juga lembaga kesehatan untuk menangani masalah Sampah. Namun, hal itu masih belum banyak memberikan dampak yang positif. Masih sebagai besar yang belum merasa bahwa sampah bukan menjadi sebuah masalah.

Sampah tidak lagi menjadi masalah baru melainkan masalah yang harus ditangani secara bersama dan itu semua harus mulai dari Rumah.

Kata pimpinan ACIL Ende bahwa Bahaya membuang sampah sembarangan tempat khusus sampah plastik akan mendatangkan penyakit yang sadar tidak sadar selama ini dialami oleh masyarakat dan kita semua.

Selain itu, Sampah mengancam kelestarian lingkungan Laut akan tercemar, banjir, ekosistem laut jadi rusak dan muncul penyakit baru.

“Bahaya sekali kalau kita membuang sampah tidak pada tempatnya, karena itu bisa menimbulkan dampak pada kesehatan dan juga akan merusak ekosistem yang ada di laut”, katanya.

Lebih jauh lembaga yang menangani masalah Sampah di Ende menjelaskan bahwa sampah plastik akan hilang dan hancur 500san tahun dan itu memakan waktu cukup lama. Ada Jenis sampah styrofoam yang terbuat dari gabus  bisa hancur 1000an tahun,” Kata mereka.

Sementara itu Heribertus Se manager program Yayasan Tananua Flores menuturkan bahwa Tananua Flores secara lembaga konsen terhadap masalah Sampah. Dorongan Tananua adalah konservasi dan kelestarian lingkungan hidup baik area laut maupun darat.

Pria yang keseharian bergelut dengan masyarakat desa itu mengatakan pihak lembaga yayasan Tananua akan terus mendorong dan mendampingi masyarakat untuk terus menjaga lingkungan.

Persoalan sampah plastik agar pelan-pelan berkurang harus mulai dari diri rumah tangga kita masing -masing sebab pemahaman terkait penanganan sampah harus di bangun dari keluarga, dan Persoalan Sampah saat ini menjadi permasalahan yang harus menjadi fokus untuk diperhatikan semua orang. Selain itu untuk Kabupaten Ende persoalan sampah sudah menjadi masalah setiap tahun yang terus menerus dibicarakan.

Penulis : JF

Editor : Jhuan Mari

Pemdes Persiapan Maurongga Gandeng ACIL dan Tananua Gelar Pelatihan Pengolahan Sampah Plastik Read More »

Pengelolaan Perikanan Gurita di Maurongga Menjadi Sumber Peningkatan Ekonomi 

Ende, Tananua Flores | Desa Maurongga adalah salah satu desa dampingan Tananua Flores yang sedang  berkembang khususnya dalam bidang perikanan.  Dilihat dari potensi yang ada, desa ini memiliki sumberdaya perikanan dengan keanekaragaman spesies yang tinggi. Salah satu jenis perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi adalah gurita. Perikanan gurita di desa Persiapan Maurongga saat ini dimanfaatkan oleh nelayan kecil yang tinggal di wilayah desa Maurongga guna memenuhi kebutuhan ekonomi dan protein keluarga mereka masing-masing. 

Melihat kondisi tersebut, sebenarnya Desa persiapan maurongga mempunyai potensi yang luar biasa jika dikelolah dan dimanfaatkan oleh masyarakat  secara baik. Oleh karena itu Yayasan Tananua dan Yayasan Pesisir Lestari dalam programnya mencoba berkolaborasi bersama masyarakat Maurongga membuat sebuah pengelolaan yang berkelanjutan terkait potensi laut yang mereka miliki. 

Inisiasi pengelolaan perikanan gurita berbasis masyarakat di desa persiapan Maurongga sedianya telah dimulai sejak tahun 2019.  Inisiasi tersebut dilakukan oleh Yayasan Pesisir Lestari (YPL) bersama dengan Yayasan Tananua.  Untuk diketahui Yayasan Tananua adalah  salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang berada di Flores yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat. 

 Adapun Program yang dilakukan oleh Yayasan Tananua dalam mewujudkan pengelolaan perikanan gurita berbasis masyarakat antara lain; site selection calon lokasi pengelolaan perikanan, penyusunan profil perikanan, pendataan perikanan gurita secara partisipatif, melakukan pertemuan diskusi umpan balik data serta memfasilitasi pelaksanaan penutupan sementara lokasi penangkapan gurita.

Dalam kurun waktu 2019 – 2021 Yayasan Tananua telah melakukan inisiasi pengelolaan perikanan gurita berbasis masyarakat di desa persiapan Maurongga. 

Pengelolaan perikanan gurita berbasis masyarakat di provinsi NTT secara umum sangat penting dilakukan demi menjaga keberlanjutan perikanan gurita sebagai sumber ekonomi masyarakat pesisir dan sumber protein masyarakat. Oleh Karena itu akan dilakukan usaha  perluasan model pengelolaan perikanan gurita berbasis masyarakat ke beberapa desa lainnya. Kegiatan ini diawali dengan survei pemilihan desa dampingan baru di provinsi NTT.

Berdasarkan data yang diperoleh dari staf enumerator Yayasan Tananua terdapat delapan nelayan khusus gurita dari total 16 orang nelayan yang ada di desa Maurongga 

Dalam proses pendampingan dan pemberdayaan sejak tahun 2019, Yayasan Tananua juga mendapat dukungan dari mitranya Yayasan Pantai Lestari. Kedua Yayasan ini bekerja dengan model yang sama yakni Pengelolaan perikanan berbasis Masyarakat dengan menekankan keterlibatan serta partisipasi masyarakat secara utuh. 

Adapun jumlah tangkapan gurita yang terdata sejak tahun 2019- 2021 berjumlah 856 ekor dengan berat total gurita 1.553,76 kg. Dengan rinciang; tahun 2019 sebanyak 709,80 kg (361 ekor), tahun 2020 sebanyak 418,56 kg (221 ekor)  dan tahun 2021  berjumlah 425,31 kg ( 274 ekor). 

Proses penangkapan gurita yang dilakukan oleh Nelayan khususnya di wilayah Maurongga saat ini tergolong sederhana. Nelayan umumnya menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan yakni menggunakan pocong sehingga tidak mengaggu dan bahkan merusak lingkungan di mana gurita berkembang biak. Hasil tangkapan tersebut di jual ke pengepul ataupun dijual langsung ke konsumen sehingga harganyapun realtif murah. 

Berdasarkan data yang diperoleh terkait pendapatan nelayan penangkap gurita di Maurongga jika dikalkulasikan sesuai standar harga yang dijual ke perusahan Agrita yang berlokasi di kabupaten Sikka maka pendapatan mereka tergolong cukup meningkat. Rata-rata pendapatan nelayan  dihitung dari proses penangkapan gurita sejak tahun 2019 total berjumlah Rp.14.196.000, tahun 2020 total pendapatan berjumlah Rp. 6.487.000 dan tahun 2021 pendapatan nelayan berjumlah Rp.10.864.000.  Pendapatan ini dihitung dengan harga kisaran  Rp,20.000/ekor- Rp 50.000/ekor. 

Dari perhitungan ini ada beberapa hal yang menjadi catatan penting bagi Yayasan Tananua dan juga  pemerintah kabupaten Ende. Pertama, masyarakat Maurongga khususnya belum punya pasar khusus tersentral di mana masyarakat dapat memperoleh harga gurita yang lebih baik. Kedua, perlu pendekatan yang lebih intens antara pemeritah dan masyarakat Maurongga sehingga masyarakt benar-benar melihat usaha kelautan mereka ini sebagai peluang perekonomian mereka di masa yang akan datang.

Pembukaan Penutupan Sementara oleh Bupati

Kegiatan Pembukaan Lokasi penutupan sementara di Maurongga merupakan momen yang sangat berharga bagi Nelayan maurongga untuk menyampaikan aspirasi mereka terkait peralatan tangkap gurita yang masih sederhana serta intervensi dari nelayan dari luar wilayah kabupaten yang menangkap  gurita di wilayah mereka. 

Hal itu disampaikan oleh Ismail Usnan Ketua LMMA (Locally Managed Marine Area), Kelompok pengelolaan perikanan berbasis masyarakat di desa persiapan Maurongga kepada Bupati dan Wakil bupati Ende dalam kegiatan pembukaan lokasi tangkap Gurita, pada Rabu 23 Februari 2022. 

Ismail dalam sambutannya menyampaikan kepada Bapak Bupati Ende bahwa “saat ini di wilayah pantai Maurongga  dijumpai banyak  nelayan asing dari luar kabupaten yang menangkap Gurita, umumnya mereka menggunakan alat tangkap yang lebih modern sehingga hasil tangkapanya lebih banyak,  sementara nelayan di Maurongga memperoleh tangkapan gurita dengan jumlah sedikit karena alat tangkap yang sangat sederhana”.

Lebih lanjut Ismail selaku ketua LMMA meminta bantuan sumbangan alat tangkap sehingga masyarakat dan nelayan Maurongga khususnya dapat memperoleh hasil tangkapan yang maksimal. 

 

Ketua LMMA dalam ulasanya juga menjelaskan bahwa dengan kehadiran yayasan Tananua Flores di desa maurongga banyak hal yang sudah dilakukan Yayasan Tananua kepada masyarakat Desa persiapan Maurongga.

“ kami yang sebelumnya masih belum mengenal alat tangkap yang ramah lingkungan sekarang kami sudah bisa mengenalnya, kami sudah bisa membedakan jenis kelamin gurita dan kami mempunyai pemahaman yang baru terkait dengan pengelolaan perikananan gurita dengan tetap melestarikan lingkungan,” jelas ketua LMMA.

Menjawabi, permintaan masyarakat Maurongga, Bupati Ende Djafar Ahmad dan Wakil Bupati Ende Erikos E.Rede menyanggupi permintaan warga masyarakat Maurongga dengan memberikan bantuan peralatan tangkap komplit  berupa Perahu 1 GT sebanyak 3 buah. 

Bupati dalam sambutannya menuturkan bahwa pemerintah kabupaten Ende akan memenuhi permintaan warga masyarakat desa persiapan Maurongga, dan tentu melalui perantara dinas terkait. 

Selain itu dalam acar pembukaan lokasi Tangkapan gurita, Bupati Ende mengatakan bahwa kegiatan  yang dilakukan hari ini merupakan salah satu bentuk komitmen dan tanggung jawab semua komponen masyarakat untuk menjaga spesies gurita agar dapat meningkatkan jumlah produksi yang kemudian  berdampak pada nilai ekonomis bagi para nelayan. 

 “ Hari ini sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen kita bersama  komponen masyarakat  yang terlibat dalam kegiatan ini, kita harus menjaga spesies gurita ini, bahasa daerah Ende disebutnya dengan Kubi, Sehingga Kubi ini jumlah produksinya meningkat  berdampak pada nilai ekonomis bagi para nelayan”, Ungkap Bupati Ende. 

Dalam sela-sela sambutanya, Bupati Djafar juga mengucapkan terimah kasih kepada Yayasan Tananua dan yayasan Pesisir Lestari yang telah membantu pemerintah kabupaten Ende dalam memberdayakan masyarakat di desa-desa. Kedepannya diupayakan untuk terus bermitra dengan pemerintah agar program pemberdayaan masyarakat akan tetap berjalan guna membangun Sumber daya manusia ke arah yang lebih baik. 

Berdasarkan data dari Yayasan Tananua Flores selama pendampingan mereka yang diawali dengan proses survei hingga pendataan gurita, tercatat produksi gurita di desa Maurongga sejak tahun 2019 telah mencapai 1,8 ton lebih. Bernadus Sambut selaku direktur Tananua Flores dalam sambutanya mengatakan bahwa “ Jumlah tangkapan gurita yang terdata ini tergolong tinggi karena para nelayan pencari gurita sangat terbatas, sebagimana terjadi di daerah lain pada umumnya.” 

Tananua melihat peluang ini jika di kelolah secara baik tentu akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Dan jujur saja dari proses kebijakan pemerintah sampai saat ini terkait dengan spesies jenis gurita ini sama sekali belum di perhatikan pemerintah. 

“ kita bicara ditataran kebijakan perikanan secara umum tetapi khusus untuk Spesies jenis gurita ini sama sekali belum di lakukan”, kata Bernadus.

 Terkait dengan peningkatan Ekonomi kata Bernadus  “ gurita adalah salah satu potensi yang sangat menguntungkan, sebab saat sekarang ini harga gurita perkilo sudah Rp.50.000- 70.000  dan untuk gurita sendiri 1 ekor bisa mencapai 3-5 kg. 

Di akhir sambutanya, Bernadus Sambut selaku direktur Tananua Flores mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang sudah bermitra dan berkolaborasi mendukung program dan kegiatan yang dilakukan Tananua. 

Kegiatan pembukaan  dan penutupan  lokasi tangkapan gurita ini juga dihadiri oleh beberapa peserta dari instansi-instansi terkait di antaranya badan Dinas dan SKPD terkait, pemerintah Kecamatan , Anggota DPRD Ende, Pihak kepolisian, TNI, pemerintah desa perbatasan, kelompok Nelayan dan masyarakat di desa Maurongga.

Oleh: J.Mari

Editor: Haris

 

 

 

Pengelolaan Perikanan Gurita di Maurongga Menjadi Sumber Peningkatan Ekonomi  Read More »

Profil Singkat Desa Raparendu, Kecamatan Nangapanda

Gambaran Kondisi Desa Raparendu

Desa Raporendu merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Nangapenda kabupaten Ende- Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Luas wilayah desa ini adalah 6.24 km² termasuk wilayah yang masih luas dalam Kecamatan Nangapenda Kabupaten Ende. Dengan jumlah   penduduk sebanyak 2.189 jiwa dengan perincian sebagai berikut:  laki – laki  sebanyak 1.077 jiwa dan perempuan sebanyak 1.112 jiwa. Jumlah Kepala Keluarga sebanyak 639 KK. Jumlah rumah tangga miskin sebanyak 148 KK, termasuk penerima raskin dan yang menerima PKH berjumlah 133 KK. Desa ini merupakan satu dari 17 desa dan kelurahan yang memiliki kode pos 86352. Desa Raporendu secara administrasi berbatasan dengan:

Utara               : Desa Rapowawo

Selatan            : Laut sawu

Timur               : Desa Bheramari

Barat               : Desa Anaraja

Keadaan Topografi

Topografi desa Raporendu berbukit bergelombang dengan tingkat kemiringan di atas 45 % dan ketinggian 0 – 100 mdpl. Kondisi tanahnya lempung berpasir. Untuk mencapai ke ibukota kecamatan dengan jarak sekitar 10 km dan dari kota Kabupaten Ende 20 km. Jarak tempuh dari Kota Ende ke Desa Raporendu sekitar 45 menit, baik menggunakan roda dua maupun roda empat. Dengan keadaan jalan hotmiks membuat mobilitas masyarakat dari dalam dan keluar desa repurendu semakin tinggi. Desa Raporendu berada di jalan tran flores Ende- Bajawa.  Pasar terdekat yang dapat diakses oleh masyarakat desa Raporendu adalah pasar nangapanda yang ada di ibu kota kecamatan. Pasar Nangapanda merupakan pasar mingguan dan biasanya dilakukan setiap hari senin. Kondisi jalan adalah hotmiks karena desa ini berada di jalur trans Flores bagian barat, dan kondisi jalan desa antar dusun adalah rabat beton 99%. Ada 5 Dusun yaitu Dusun Maunggora, Dusun Numba Raba Timur, dusun Raba, dusun Numba, dusun Numba Besa.

Sarana dan Prasarana Pendukung Kehidupan Berkelanjutan:

Ada dua sumber air yang dinikmati oleh masyarakat raporendu yakni: air leding dan air sumur.

Sarana kesehatan

Untuk mendukung kesehatan masyarakat Sarana kesehatan yang dimiliki di desa Raporendu berupa Pusat kesehatan masyarakat Pembantu (PUSTU) yang ada bidan desa.

Sarana Pendidikan:

Pendidikan merupakan salah satu hak dasar yang perlu dimiliki oleh setiap masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut di desa raporendu memiliki tersedia sarana pendidikan berupa Taman Kanak kanak sebanyak 1 buah,  Sekolah Dasar ada 3 buah dan  Sekolah Menengah Pertama ada (1) buah.

Keadaan sosial

Ada 8 kelompok tani dan nelayan namun kelompok hanya sebatas nama kelompoknya saja,tidak ada kegiatan lanjutan dari masyarakat setempat,kecuali ada proyek masuk desa atau bantuan yang datang maka kelompok dapat dihidupkan kembali. Ada beberapa lembaga yang ada di desa Raporendu  Program keluarga Harapan (PKH) , Lembaga Masyarakat Desa, LIMAS, Balai Penyuluham Pertanian, Badan Permusyawaratan Desa, Desa Siaga, Desa Wisata,  Karang taruna dan kelompok tenun ikat. Lembaga – lembaga ini berperan dalam hal meningkatan kapasitas masyarakat desa melalui pelatihan pemberdayaan melalui musyawarah desa (Musdes). Masyarakat desa raporendu pada umumnya memiliki partisipasinya yang sangat besar dalam hal pembangunan rumah, acara pernikahan, khitanan/ sunat, dan kematian didalam lingkungan desa setempat. Semangat gotong royong masih hidup ditengah masyarakat raporendu. Peran perempuan selain mengurus rumah tangga, mereka juga dapat menenun untuk mendapatkan pendapatan ekonomi rumah tangga, menjual kakao, kelapa.dll

Keadaan pangan

Makanan pokok masyarakat desa raporendu dari 20 tahun yang silam sampai sekarang adalah nasi, jagung, ubi kayu, pisang dan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka selalu membelinya dipasar, sebagian masyarakat desa di desa Raporendu juga petani selain nelayan

Keadaan ekonomi

Sumber pendapatan utama masyarakat raporendu berasal dari kebun dan laut dan bagi nelayan sumbernya dari ikan, gurita, cumi dan bagi petani adalah sumber pendapatan dari hasil  pertanian kakao, ubikayu, kelapa, pisang dan sumber pendapatan tambahan adalah dari tenun ikat.

Untuk rantai penjualan gurita, yaitu ada yang jual di jalan, dan ada yang jual ke pengumpul gurita ke arubara. Hasil jualan gurita, digunakan untuk biaya hidup sehari-hari, biaya pendidikan anak, biaya kesehatan dan simpan untuk kebutuhan hidup sosial lainnya seperti membangun rumah, wurumana dan lain-lain.

Kesehatan

Angka kelahiran dalam setahun sekitar 10 orang dan angka kematian 4-6 orang setahun.penyakit yang sering diderita oleh warga masyarakat raporendu seperti Infeksi Saluran Pernafasan Akut (Ispa) dan sedikit malaria kedua penyakit ini biasanya disaat pergantian musim,baik musim kemarau maupun musim hujan. Sarana kesehatan ada 4 posyandu dan masyarakat berobatnya ke postu ndorurea puskesmas nangapenda dilakukan minggu ke dua dalam bulan oleh kader posyandu  yang berjumlah 22 orang, perawat,bidan desa mereka melakukan peran untuk memberi motifasi penyuluhan tentang pentingnya kesehatan dan timbang balita, ada beberapa KK yang belum memiliki MCK sekitar 60 KK ini yang termasuk KK miskin terdapat pada dusun maurongga dan dusun Numba untuk menjaga kebersihan bersama dalam desa tersebut maka mereka melakukan gerakkan pembersihan bersama dalam satu bulan sekali dan lebih rutin pembersihannya biasanya mau menjelang hari- hari raya seperti hari ulang tahun Negara Republik Indonesia.

 

 

Profil Singkat Desa Raparendu, Kecamatan Nangapanda Read More »

Translate »