Menjaga Laut, Menyulam Harapan

Cerita Pendampingan Nelayan di Kecamatan Ndori
Oleh: Agnes Ngura – Yayasan Tananua Flores

Ende, Tananua Flores | 21 Agustus 2025, Di suatu sore berangin di Desa Maubasa, Kecamatan Ndori, suara anak-anak yang berlari di bibir pantai berpadu dengan sorak nelayan yang baru pulang melaut. Dari balik anyaman jala yang dijemur, tercium aroma asin khas laut yang selalu menemani kehidupan masyarakat pesisir. Bagi mereka, laut bukan sekadar hamparan biru, tetapi sumber hidup yang diwariskan dari leluhur.

Pada Juni 2021, saya mendapatkan tugas dari Yayasan Tananua Flores untuk melakukan pendampingan masyarakat nelayan di wilayah ini. Empat desa pesisir menjadi fokus kegiatan—Maubasa, Maubasa Timur, Serandori, dan Maubasa Barat. Namun, langkah awal saya tertuju terutama pada Desa Maubasa.

Tugas pertama adalah mengumpulkan data dasar. Dari hasil pendataan, saya menemukan jumlah nelayan gurita masih sedikit. Hanya ada 4 nelayan laki-laki dan 1 nelayan perempuan di Maubasa. Di Maubasa Timur, terdapat 4 laki-laki dan 2 perempuan. Serandori hanya punya 1 orang nelayan gurita, sementara pengepul gurita ada 2 orang—seorang perempuan di Maubasa dan seorang laki-laki di Maubasa Timur.

Data sederhana itu menjadi pintu masuk bagi pendampingan berikutnya. Yayasan Tananua lalu memfasilitasi pelatihan pembuatan alat pancing gurita yang ramah lingkungan, sekaligus memetakan lokasi tangkap gurita. Dari sini, nelayan mulai melihat bahwa laut mereka perlu dijaga agar tidak habis dikuras.

Pada Agustus 2021, dua enumerator direkrut—satu laki-laki di Maubasa, satu perempuan di Maubasa Timur—untuk mencatat hasil tangkapan gurita setiap hari. Catatan yang berlangsung hingga November 2021 membuka fakta pahit: tangkapan nelayan lokal sangat rendah dibandingkan nelayan pendatang dari Kabupaten Sikka yang menetap di wilayah itu.

Situasi ini menyadarkan kami bahwa ancaman nyata ada di depan mata. Tanpa langkah cepat, nelayan lokal bisa kehilangan sumber penghidupan.

Dari diskusi ke Aksi Bersama

Menyadari tantangan tersebut, kami memfasilitasi diskusi lintas desa. Hasilnya, terbentuklah Kelompok Kerja LMMA (Locally Managed Marine Area) beranggotakan 20 orang dari empat desa. Mereka bukan hanya kelompok kerja, tapi juga jembatan komunikasi antara masyarakat, pendamping, dan pemerintah.

Di forum-forum kecil, kami mulai membicarakan gagasan penutupan sementara lokasi tangkap gurita. Tidak mudah. Banyak nelayan menolak karena khawatir kehilangan mata pencaharian. Maka, strategi berubah: kami datang ke rumah-rumah, berbincang sambil duduk di teras, menjelaskan manfaat jangka panjang.

Perlahan, kepercayaan tumbuh. Pada Mei 2022, nelayan sepakat: “Kami coba tutup laut kami.”

Tanggal 15 Juni 2022 menjadi tonggak bersejarah. Seluas 410,18 hektar laut ditutup dari aktivitas penangkapan gurita hingga tiga bulan ke depan. Ritual adat “Kuwi Roe” mengawali penutupan, dipimpin oleh tokoh adat sebagai penghormatan pada leluhur dan penghuni laut.

Saat wilayah dibuka kembali pada 15 September 2022, empat nelayan pertama turun melaut. Hanya dalam 30 menit, mereka berhasil menangkap 4 ekor gurita dengan berat rata-rata lebih dari 1 kilogram. Kabar itu cepat menyebar. Nelayan lain bersemangat. Hasil tangkapan meningkat, keyakinan pun menguat: laut yang dijaga akan kembali memberi.

Dari Keberhasilan ke Gerakan Bersama

Karena sukses penutupan pertama, masyarakat sepakat melakukan penutupan kedua. Dimulai Desember 2022, seluas 136,946 hektar laut kembali dijaga. Saat dibuka pada Februari 2023, hasil tangkapan lebih melimpah.

Sejak itu, pola penutupan sementara menjadi kebiasaan baru. Hingga kini, Kecamatan Ndori sudah melaksanakan 11 kali penutupan dengan sistem bergilir. Setiap kali satu lokasi dibuka, lokasi lain ditutup. Jadwal tiga bulanan ini membuat laut terus beristirahat dan pulih.

Dampaknya luar biasa. Jumlah nelayan gurita melonjak: Maubasa kini punya 45 nelayan, Maubasa Timur 30 nelayan, Serandori 16 nelayan. Pada pembukaan penutupan ke-7, hasil tangkapan hari pertama mencapai 972 kilogram gurita, bahkan ada yang berbobot 4,7 kilogram per ekor.

Menuju Komitmen Lebih Besar

Keberhasilan demi keberhasilan membawa pada keputusan berani: penutupan permanen. Nelayan, tokoh adat, pemerintah desa, hingga Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT menyepakati tiga lokasi—Nusa Ria, Nusa Te’e, dan Watu Magi—dengan luas total 101,214 hektar.

Keputusan ini menunjukkan bahwa nelayan Ndori telah melangkah lebih jauh. Mereka bukan hanya menjaga laut untuk hari ini, tetapi juga untuk anak cucu.

Pendampingan ini mengajarkan satu hal: perubahan tidak lahir dari intervensi semata, melainkan dari kesediaan masyarakat menjadi aktor utama. Data, pelatihan, diskusi, dan ritual adat hanyalah jembatan. Inti kekuatan ada pada nelayan yang percaya bahwa laut bisa pulih jika dijaga bersama.

Di Kecamatan Ndori, laut bukan hanya sumber ekonomi. Ia adalah ruang budaya, ruang doa, dan ruang harapan. Dan di balik setiap gurita yang diangkat dari karang, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan menjaga laut agar tetap memberi kehidupan. semoga

Menjaga Laut, Menyulam Harapan Read More »

Puskesmas Ndori Gelar Pemeriksaan Gratis dan Masal untuk Masyarakat Ndori

Dokter sedang Memberikan Penyuluhan kepada Masyarakat(15/08/24)

Ende, Ndori- 15 Agustus 2024, Kado dari HUT RI ke 79 Yayasan Tananua Flores yang bekerja sama dengan Puskesmas Ndori Gelar Pemeriksaan kesehatan Gratis untuk masyarakat ndori.

Kegiatan pemeriksaan dan pengobatan gratis ini ditujukan kepada masyarakat pesisir Ndori yang sebagian besar adalah nelayan. Salah satu tujuan dari kegiatan ini untuk mendeteksi dan mencegah sedini mungkin terkait penyakit rakyat dan juga memberikan penyuluhan kepada masyarakat akan pentingnya polah hidup sehat.

Pemeriksaan dan pengobatan tersebut diselenggarakan di Desa Maubasa tepatnya pasar lama Basa Ulu(15/8)

Masyarakat berdatangan dan sangat atusias terhadap kegiatan tersebut sangat tinggi sehingga mulai dari anak-anak hingga orang dewasa berkesempatan untuk mendapatkan Pelayanan pemeriksaan dan pengobatan itu.

Pemerikasaan itu dimulai pukul 09.00 wita sampai dengan 15,00 wita dengan Tim medis yang diturunkan langsung dari Puskesmas Ndori.

Dokter Bernadina Ivoni Bada, yang menangani pelayanan pemeriksaan itu mengungkapkan bahwa sebagian besar penyakit masyarakat yang mengidap yakni darah tinggi, kolestero, diabetes. Selain itu, kebanyak penyakit karena kerja berat yang tidak teratur.

Dokter sedang Periksa Pasien

Dengan melihat kondisi itu dr. Bernadina menyarankan Warga masyarakat Ndori harus melakukan pengontrolan secara terus menerus agar perlahan penyakit tersebut bisa dicagah.

“ saya menyarankan sebaiknya harus kontrol ke puskesmas secara rutin jika merasakan gejala agar bisa dicegah sedini mungkin, katanya.

Menurutnya penyakit yang mengidap ini belum membahayakan jika proses penangannya yang terus menerus dilakukan, dan masyarakat sebenarnya harus memilih puskesmas menjadi tempat pemeriksaan dan pengobatan biar mendapatkan pelayanan yang serius, tidak harus ada kegiatan seperti ini baru datang.

Lanjut Dokter proses pelayanan pemeriksaan dan pengobatan ini harus

terus berlanjut dimana sebelum melakukan pemeriksaan dari Tim Medis akan melakukan Penyuluhan kepada warga terkait dengan pola hidup yang sehat.

“ kita menyarankan kegiatan seperti ini harus terus berlanjut dan kita siap mendukung untuk melakukan pemeriksaan, dan kalau saya lihat warga/ masyarakat mau mengikuti pemeriksaan jika dilakukan seperti ini secara terbuka, mereka bisa mulai saling mengajak terhadap sesama warga yang lain,”ungkap Dokter

Sementara itu Ahmad Kanggo warga desa Maubasa Barat yang mendapatkan pelayan pemeriksaan itu sangat bersyukur dan berterimah kasih kepada petugas Puskesmas Ndori karena turun langsung menemui masyarakat dan memberikan pelayanan.

“Kami sangat bersyukur, karna mereka mau turun langsung menemui kami, kami berterimah kasih kepada petugas kesehatan karena sudah melakukan pengobatan terhadap kami”, Ucap bapak ahmad dengan penuh gembira.

Sambung Dia, “kami mendapatkan pengobatan, kami juga di periksa mata, Tensi darah, timbang berat badan,Tes kolesterol dan gula”,katanya.

Bapak Ahamad selain berterimah kasih dan memberi apresiasi kepada petugas kesehatan dan Tananua juga mengharapkan kedepan bisa terus berlanjut dan turun kebawah temui warga dan memberikan pelayanan kesehatan.

“Saya juga mengharapkan kedepan petugas kesehatan bisa dilakukan secara rutin dengan pengobatan seperti ini sehingga kami bisa mendapatkan pengarahan yang baik tentang kesehatan, dan mendapatkan pengobatan,”Harapan Ahmad.

Selain Itu koordinator Program Yayasan Tananua Flores Pius I Jodho menutukan dengan melihat antusia masyarakat sangat banyak maka dirinya berharap kedepannya kontribusi yang diberikan oleh Tananua dan Mitranya Blueventures dapat berdampak positif untuk masyarakat Ndori.

Pius menjelaskan Masyarakat Ndori kali ini partisipasinya sangat tinggi dan ini merupakan salah satu nilai sangat postif untuk tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang berfokus dalam memberikan kontribusi positif sebagai mitra pemerintah dan agent of development.

Sambung Dia Seluruh isu kesehatan dalam SDGs diintegrasikan dengan satu tujuan yakni tujuan yang menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat di segala usia.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masayarakat dapat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan yang komprehensif dan bermutu, baik upaya promotif, preventif , deteksi dini, pengobatan, hingga rehabilitatif tanpa terkendala masalah biaya.

Oleh : Jfm

Puskesmas Ndori Gelar Pemeriksaan Gratis dan Masal untuk Masyarakat Ndori Read More »

Enumerator Gelar Kegiatan Umpan Balik Data Gurita Bersama Masyarakat

Ende, Tananua Flores| Demi menjaga kepercayaan masyarakat pesisir dan keterlibatan masyarakat dalam proses pendataan perikanan, kali ini Pendamping Lapangan Tananua Flores dan juga Enumerator Pendata Lakukan Umpan balik data di desanya masing-masing.

Umpan balik data gurita maupun ikan bertujuan untuk masyarakat desa dampingan bisa mengetahui sejauh mana data yang dikumpulkan dan bagaimana menggunakan data tersebut untuk perencanaan pembangunan.

Kegiatan Umpan balik data merupakan salah satu aktivitas dari pendampingan Tananua di desa. Dalam kegiatan tersebut yang harus ambil bagian adalah, Enumerator, masyarakat, dan pemerintah desa setempat.

Berikut ini kami Sajikan Kegiatan umpan balik data dari desa dampingan Tananua.

Lingkungan Arubara.

Kegiatan umpan balik data Arubara ( dok.Aldo)

Kegiatan dilakukan pada (2/5) bertempat di rumah bapak RT 04, lingkungan Arubara. Kegiatan tersebut dibuka oleh ketua RT 04 Fudin Ali.

Pada kesempatan tersebut fudin Ali juga menyampaikan kepada nelayan bahwa gurita sudah di terima  kembali  dengan harga yang di informasikan dari PT. AGRITA BEST di Paga sebesar Rp. 20.000 per kilogram.

Dengan perusahan menerima kembali gurita, Fudin Ali sebagai ketua RT dan juga selaku Pengepul mengharapkan nelayan pencari gurita tetap menjaga kualitas gurita.

Kata Fudin, “Komoditas Gurita adalah komuditas Ekspor dan agar produk kita tetap diterima di perusahaan maka, kita harus menjaga secara bersama untuk menjaga kualitas gurita sesuai dengan permintaan perusahaan”, ucapnya.

Sementara itu, Maya wahab selaku enumerator  gurita Arubara menyampaikan data gurita  yang didata selama 3 bulan dengan total tangkapan 357 kg  dengan rincian bulan Januari 238,5 kg gurita, bulan februari 27,5 kg gurita dan di bulan maret berjumlah 91 kg gurita.

Menurut Maya bahwa dilihat dari data selama 3 bulan ini tertinggi hanya di bulan januari, yang paling rendah penangkapan terjadi pada bulan februari dan maret.  Alasan mendasar terjadi  karena situasi dan kondisi laut yang tidak bersahabat (cuaca buruk) dan juga dengan belum kembali dibukanya perusahaan sehingga ini menimbulkan semangat nelayan mencari gurita menurun.

Umpan balik data gurita nelayan Arubara, Wilhelmina Benge selaku penyuluh perikanan mengatakan bahwa kelompok nelayan gurita merupakan sebuah kelompok yang aktif di wilayah kelurahan dalam menjaga ekosistem laut secara baik.

Penyulu itu mengharapkan” kegiatan yang baik harus tetap dipertahankan untuk menjaga kelestarian lingkungan laut yang lebih baik, tidak hanya memanfaatkan laut, tetapi merawat dan menjaga untuk keberlanjutan , tidak boleh menggunakan alat tangkap yang merusak lingkungan seperti Bom, potassium, dan yang lainnya”,kata wilhelmina.

Saat ini proses pendataan gurita di arubara  terus dilakukan oleh enumerator dan datanya dapat digunakan untuk proses perencanaan pembangunan daerah pesisir.

Desa maubasa, maubasa timur dan Serandori

Umban balik data Ndori (dok.Agnes)

Kegiatan umpan balik data di desa maubasa,maubasa timur dan serandori dilakukan pada (02/05) bertempat di desa serandori.

Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini adalah nelayan yang terdiri dari 3 Desa yaitu Desa Maubasa, Desa Maubasa Timur dan Desa Sera Ndori. Proses dari kegiatan ini enumerator melakukan rekapitulasi kemudian membuat presentasi untuk dibagikan kepada masyarakat nelayan.

Agnes Ngura selaku PL di Ndori Menyampaikan tujuan dari kegiatan Umpan balik data gurita sehingga peserta dapat mengetahui apa yang menjadi tujuan adanya umpan balik data. Selain itu PL menyampaikan beberapa kegiatan terkait dengan sistem tutup buka lokasi tangkap.

Selain itu Enumerator memaparkan data selama 6 bulan, berikut data rekapan untuk data nelayan Maubasa Timur total Produksi gurita (kg) adalah 5.674,3 kg dengan jumlah pendapatan Rp 160.324.500,00. Untuk Desa Maubasa berjumlah 2.234,4 kg dengan jumlah pendapatan sebesar Rp 91.932.500,00. Untuk Desa Maubasa Barat 64,2kg dengan jumlah pendapatan Rp 2.032.000,00 sedangkan untuk Serandori berjumlah 2.553,4 kg dengan jumlah pendapatan Rp94.644.500,00.

Menurut Oyan yang adalah salah satu dari nelayan yang berasal dari desa Maubasa timur menyampaikan bahwa apresiasi disampaikan kepada Tananua dan enumerator yang telah mendata hasil tangkapan nelayan sehingga mereka dapat mengetahui data tangkapan dan pendapatan mereka, baginya selama ini Tananua sudah bekerja sangat maksimal dan sangat bermanfaat bagi mereka. Dengan sistem tutup-buka lokasi tangkapan gurita kami sebagai nelayan merasakan dampak yang sangat baik terutama peningkatan hasil tangkapan dan yang paling penting pada area penangkapan yang kami miliki sudah tidak terganggu dengan nelayan pendatang.

Desa Persiapan Maurongga

Umpan balik data di desa persiapan maurongga( dok.Iren)

Kegiatan dilakukan di rumah Bapak Imbran (salah satu nelayan gurita)  pada hari Jumat 10 Mei 2024. Pukul 08.00 WITA.

Sebelum kegiatan, PL berkoordinasi dengan Enumerator untuk kegiatan umpan balik data, selanjutnya PL dan Enumerator merekapitulasi data gurita selama 6 bulan dan data Ikan selama 3 bulan untuk kegiatan feedback data.

Selanjutnya, PL bersama Enumerator berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan Enumerator mengajak Nelayan  bersama – sama menghadiri kegiatan  feadback data waktu yang sudah ditentukan.

Kegiatan dibuka oleh Bapak Muhammad Nuhu selaku sekdes dan dilanjutkan PL untuk memberi gambaran mengenai kegiatan ini dan memberi kesempatan kepada Enumerator untuk melaporkan kembali data hasil tangkapan gurita selama 6 bulan ( November 2023-April 2024) menggunakan kertas Pleno.

Data yang dijelaskan Enumerator berupa  jumlah tangkapan dari masing-masing nelayan serta total secara keseluruhan dari hasil tangkapan nelayan dalam kelompok dan jumlah nelayan yang melakukan penangkapan.

Dari Data tersebut yang disampaikan oleh Enumerator selama 6 bulan sebagai berikut:

  1. Bulan November 2023 : berat gurita 153,7 kg, 105 ekor dan pendapatan nelayan Rp6.155.000.
  2. Bulan Desember 2023 : berat gurita 47.9 kg, 34 ekor dan pendapatan nelayan Rp1.680.000.
  3. Bulan Januari 2024 : berat gurita 60,4 kg, 41 ekor dan pendapatan nelayan Rp2.100.000.
  4. Bulan Februari 2024 : berat gurita 35,1 kg, 29 ekor dan pendapatan nelayan Rp1.230.000.
  5. Bulan Maret 2024 : berat gurita 26,4 kg, 20 ekor dan pendapatan nelayan Rp920.000.
  6. Bulan April 2024 : berat gurita 44,8 kg, 30 ekor dan pendapatan nelayan Rp1.570.000.

Dari data yang ada, Imran mengakui hasil tangkapannya menurun karena kawasan pencariannya tercemar oleh material galian dari proyek jalan negara. Sekdes desa persiapan maurongga mengapresiasi kegiatan ini karena dapat membantu pemerintah desa untuk mengetahui potensi Perikanan. Nelayan atas nama Adi Baba, mengaku senang karena yang didata tidak hanya gurita tetapi juga ikan sehingga dia dapat mengetahui jumlah dan jenis ikan yang sudah ditangkap selama ini

Desa Podenura dan Kotodirumali.  

Kegiatan umpan balik data di kodim ( Dok. Nelson )

Kegiatan umpan balik data ke dua desa tersebut dilakukan pada selasa 14 Mei 2024. Tempat dilakukan kegiatan umpan balik data di Ndetumali desa kotodirumali.

Peserta yang terlibat dalam kegiatan umpan balik data tersebut terdiri dari nelayan dari desa podenura dan nelayan dari kotodirumali. Turut ambil bagian dalam kegiatan itu utusan pemerintah desa dikedua desa.

Kegiatan difasilitasi oleh Enumerator dan Pendamping lapangan Tananua flores yang bertugas di wilayah itu.

Dari laporan Enumerator pendata gurita jumlah tangkapan selama 4 bulan berjumlah 666 ekor 814 kg, dan total pendapatan nelayan sebesar Rp. 17.805.000

Dari data menunjukan jumlah produksi gurita tinggi, sementara faktor lainyang menjadi kendala adalah harga gurita yang menurun dan cuaca ekstrim. Selain itu juga beberapa bulan terakhir perusahan belum menerima pembelian gurita.

Kesimpulan akhir dari kegiatan tersebut para nelayan mengharapkan ada intervensi pemerintah baik kabupaten maupun Desa untuk menangani persoalan yang dihadapi para nelayan. Data telah menujukan ada potensi yang cukup tinggi dari komuditas gurita namun sampai saat ini belum ada keseriusan dari pemerintah daerah dalam menangani dan mengelola potensi itu.

Tim Tananua Flores

 

 

Enumerator Gelar Kegiatan Umpan Balik Data Gurita Bersama Masyarakat Read More »

Kado HUT RI ke 78 : Tananua Flores Gelar Pemerikasaan Kesehatan Dasar secara Gratis untuk Masyarakat Ndori

Ende Ndori, Tananua Flores | HUT RI ke 78, Yayasan Tananua Flores memberikan kado terbaik kepada masyarakat Ndori dengan menggelar pemerikasaan kesehatan dasar secara gratis. Hal itu disampaikan oleh direktur Yayasan tananua bernadus Sambut pada( 22/8)  ketika dimintai keterangan terkait dengan kegiatan tersebut .

Menurutnya, Tananua dalam kerja pendampingannya menginginkan masyarakat itu sehat, karena tanggung jawab sosial, masyarakat sehat itu adalah penting dan menjadi tugas bersama.

Katanya, “ Kami dari Tananua Flores ingin memberikan yang terbaik bagi masyarakat ndori dengan kegiatan pemeriksaan kesehatan dasar, yang artinya dengan pemeriksaan ini kita bersama-sama mulai mendeteksi dini terkait penyakit yang dialami masyarakat itu sendiri”,ujarnya.

Direktur Tananua itu menjelaskan bahwa Setiap orang menginginkan hidup yang sehat, diperhatikan dan dilayani secara biak oleh negara dan siapa saja. Jika kesehatan merupakan tanggung jawab setiap pribadi akan tetapi demi kesejahteraan semua orang maka juga menjadi kewajiban untuk turut ambil bagian dalam menjamin kesehatan masyarakat itu sendiri.

Lanjut Dia, Melihat kekurangan ini Tananua sebagai lembaga Pendamping mencoba memberi warna lain dengan berusaha memfasilitasi pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat terlebih khusus di desa dampingan Tananua.

Pimpinan Tananua itu mengutarakan bahwa Tananua secara lembaga melihat jangkau dan akses masyarakat terhadap pos-pos kesehatan susah dan tidak terjangkau maka dengan melihat kondisi ini Tananua membangun kerja sama dengan tenaga kesehatan untuk terjun langsung di tengah-tengah masyarakat agar bisa mendapatkan keluhan secara langsung dari masyarakat itu sendiri.

Bernadus berharap agar masyarakat atau nelayan bisa menyadari dan mengetahui terkait penyakit yang dialimi serta mendapatkan penanganan lebih lanjut. Tidak hanya itu, tetapi masyarakat nelayan bisa terbangun kesadarannya untuk secara inisiatif jika mengalami gengguan kesehatan dan bisa memeriksa kesehatannya di pusat kesehatan terdekat.

Selain itu camat Ndori Paul Marsel Frederikus, dalam sapaannya memberikan apresiasi kepada Tananua yang telah berjuang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat ndori.

Paul juga mengucapkan terimah kasih kepada masyarakat ndori yang sudah turut mengambil bagian dalam  pemeriksaan kesehatan tersebut.

“hari ini luar biasa Tananua menghadirkan Dokter di wilayah kami, terimah kasih banyak kepada Tananua yang telah berjuang untuk masyarakat kami di ndori”

Pimpinanan wilayah kecamatan Ndori itu menegaskan, “Kedepan jika masih ada kegiatan seperti ini, masyarakat harus datang lebih banyak karena ini menjadi penting untuk menjaga kesehatan kita, pencegahan dini itu lebih baik dari pada mengobati” Tegas Camat

Dari pantauan Media Tananua Flores, Pemeriksaan kesehatan itu masih banyak sebagian besar  masyarakat belum terlibat secara penuh, ada sebagian masyarakat nelayan yang belum banyak partisipasi.

Oleh karena itu, Camat Frederikus berharap agar kegiatan pemerikasa kesehatan dasar seperti ini harus terus berlanjut sehingga seluruh masyarakat Ndori bisa mendapatkan pelayanan. Hari ini mungkin masih belum banyak yang mendapatkan informasi, sehingga kedepannya mungkin sudah dengan sendirinya.

Kegiatan pemerikasaan kesehatan dasar itu Tananua Flores mendatangkan Dokter dari puskesmas Wolowaru, dan juga bekerja sama dengan puskemas Ndori. Dari infomasi yang di peroleh sampai saat ini di puskesmas ndori belum ada Dokter yang menempati dan bertugas di puskemas itu, sehingga banyak masyarakat yang ketika sakit enggan berkunjung ke puskemas itu.

Oleh : Mikael

Kado HUT RI ke 78 : Tananua Flores Gelar Pemerikasaan Kesehatan Dasar secara Gratis untuk Masyarakat Ndori Read More »

Pengelolaan Ekosistem laut Ndori harus berdampak pada Kesejahteraan Masyarakat

Tim Penyelam untuk Monitoring Habitat

Ende, Tananua Flores | Ekosistem di wilayah pesisir Ndori berperan sangat besar untuk menjaga kelestarian Habitat laut sekaligus menjaga sumber daya alam laut yang ada didalamnya. Keberlanjutan Habitat laut ndori akan sangat bergantung pada pengelolaan yang dilakukan masyarakat Ndori itu sendiri,

Siprianus Seru ,Kepala Seksi Konservasi perairan dan pengelolaan Wilayah pesisir dan Pulau-pulau Kecil pada Dinas kelautan dan perikanan Provinsi NTT cabang ende, Nagekeo dan Ngada Mengatakan, Pemerintah lewat Dinas Cabang Kelautan dan Perikanan yang ada di Ende sejak berkolaborasi dengan Tananua Flores sudah melakukan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan wilayah konservasi dan pemerintah sangat apresiasi dan berterima kasih kepada Tananua karena beberapa pekerjaan sudah dibantu dan kerjakan.(15/2)

“ Kami sangat bersyukur kepada Tananua sebab beberapa pekerjaan kami sudah dikerjakan oleh Tananua dan mitra nya, selain itu dengan kerja pendampingan yang dilakukan Tananua Masyarakat Ndori sudah merasakan dampak yang positif dengan peningkatan pendapatan mereka”, ungkap Dia pada kegiatan monitoring habitat laut di Ndori.

Menurutnya Target pendampingan Tananua pada khususnya pengelolaan ekosistem wilayah pesisir dengan pintu masuknya adalah gurita jenis Octopus Cyanea tetapi untuk menjaga kelestarian wilayah pesisir sudah dilakukan secara Umum dan manfaat dapat dirasakan oleh masyarakat Ndori.

Selain itu, dari pendampingan yang dilakukan oleh Tananua sudah mempengaruhi sebagian masyarakat Ndori di wilayah pesisir tidak hanya nelayan gurita tetapi secara umum masyarakat yang ada pesisir dengan tujuan Biota-biota laut lainnya selain gurita dengan sendirinya terjaga dengan baik.

Koordinator Program Yayasan Tananua Flores Pius I Jodho, menyatakan saat ini kondisi wilayah pesisir sangat mengkhawatirkan sebab wilayah itu tingkat abrasinya sangat tinggi. Penyebab utamanya bisa dibilang terkait dengan aktivitas Manusia yang tidak terbatas.

Untuk di wilayah Pesisir Ndori Perlu ada pengelolaan dan perlindungan agar seluruh potensi di pesisir ndori akan tetap terjaga dan masyarakat ndori bisa mengelolanya sesuai dengan kearifan setempat.

Situasi Terkini


Saat ini , Wilayah pesisir kecamatan ndori selalu diperhadapkan dengan Abrasi dan pengambilan Batu dan pasir di wilayah Pesisir secara liar. sementara, lewat Pendampingan yang dilakukan oleh Tananua telah memberikan beberapa pengetahuan tentang menjaga dan melestarikan wilayah pesisir, tentu hal itu menjadi perhatian semuanya jika kesadaran masyarakatnya belum terbangun secara baik.

Dari informasi yang disampaikan oleh Tananua untuk Wilayah pesisir kecamatan Ndori telah melakukan pengelolaan Ruang laut dengan metode yang dipakai adalah buka dan tutup lokasi penangkapan. Lokasi yang ditutup khusus untuk jenis biota Gurita ada 3 lokasi dan bentangannya sampai dengan 140 ha. Lokasi yang ditutup tersebut antara lain, Sera Hobakua, Sera Maubasa dan sera Ipi.

Lokasi yang ditutup selama 3 bulan hasilnya cukup tinggi, dan nelayan gurita sangat senang dan mendapatkan manfaat nya. Dampak dari Pengelolaan ruang laut berbasis masyarakat dengan Buka tutup lokasi tangkap, penangkapan yang tanpa batas dan penangkapan menggunakan alat tangkap yang tidak rama terhadap lingkungan sudah mulai berkurang.

Target dari Yayasan Tananua adalah pengelolaan ruang laut itu harus terus berlanjut yang dengan kesadaran penuh dilakukan oleh nelayan itu sendiri. Hal itu, telah dilakukan oleh nelayan gurita yang menginisiasi untuk melakukan Penutupan yang kedua.

“ kami dari nelayan gurita akan melakukan penutupan yang kedua, dan kami sudah ditentukan waktunya untuk penutupan itu,” Ujar Tato nelayan Gurita

Dia, menjelaskan bahwa dengan penutupan sementara lokasi tangkap nelayan telah banyak mendapatkan manfaatnya dan gurita yang dipanen sehari cukup banyak.

“ saya sebelumnya menangkap gurita lama sekali baru dapat gurita tetapi dengan penutupan sementara ini saya menangkap gurita dengan cepat dapatnya”, Tuturnya.

Wilayah Pesisir Ndori lokasi yang menjadi sasaran monitoring ada di lokasi penutupan sementara yakni lokasi sera maubasa. Dari keadaan habitat bawah laut, kondisi terumbu karang memang ada yang rusak dan karang yang ada saat ini sangat cocok untuk rumah gurita.

Amir, salah satu penyelam dari NTB yang melakukan monitoring di bawah laut mengatakan bahwa posisi karang di wilayah Ndori sangat baik untuk kepentingan keberlangsungan hidup gurita dan sementara untuk kepentingan ekowisata butuh waktu.

“ karang cukup baik untuk keberlangsungan hidup gurita, oleh karena itu nelayan harus menjaganya”, katannya

Pengelolaan Ruang Laut


Locally Managed Marine Area (LMMA ) adalah salah satu kelompok pengelola yang dibentuk oleh masyarakat untuk pengelolaan habitat laut secara berkelanjutan. Di wilayah kecamatan Ndori lembaga LMMA ini dibentuk dengan model pendekatan kawasan. Didalam LMMA itu sendiri kepengurusannya terdiri dari 5 desa yang ada di wilayah pesisir Ndori.

Tugas yang diembankan Lembaga pengelolaan ini melakukan proses pengawasan wilayah pesisir di lokasi-lokasi penutupan sementara, Monitoring Habitat Laut, Melakukan Penguatan kapasitas nelayan terkait dengan menjaga habitat laut , membangun koordinasi para pihak terkait pengawasan dan konservasi serta lainnya.

Kepala desa maubasa Azhar Banda mengatakan terkait dengan pengelolaan kawasan pesisir dan menjaga habitat laut, Desa pesisir di kecamatan Ndori telah membentuk Peraturan kepala Desa bersama.

Peraturan bersama kepala desa ini dibentuk untuk sebuah keberlanjutan dalam pengelolaan kawasan pesisir wilayah kecamatan Ndori.
“ Kami membentuk Permakades ini mempunyai dasar yang utama sesuai dengan UU desa yang memberikan kewenangan desa mengatur potensi desanya, “ Katannya,

Lanjut Dia, Wilayah Pesisir Ndori mempunyai potensi yang luar biasa, baik itu gurita, ikan dan jenis biota lain ini cukup banyak.

Kepala desa Maubasa itu menyatakan bawah tidak hanya mengatur soal pengelolaan tetapi mengatur soal perlindungan biota sebab, pesisir Ndori ini banyak nelayan luar yang menangkap di wilayah ndori baik menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan dan yang tidak ramah lingkungan.

Senada dengan program Tananua terkait pengelolaan ruang laut, “ kami juga mengatur soal pengelolaan sampah dan pengambilan Batu pasir di pesisir Ndori” ujar kades itu

Pesisir laut Ndori dengan potensi gurita telah memberikan dampak terhadap perekonomian nelayan Ndori. Dari data yang disampaikan Tananua Flores sejak pendampingan September 2021 – Februari 2023 saat ini Data gurita berjumlah 6151 ekor untuk Jantan dan 5318 ekor untuk Betina total 11.469 ekor sementara Produksi gurita 11,942,77 Kg. Data ini di himpun hanya 3 desa yaitu maubasa, maubasa timur dan Serandori.

Dari data itu kemudian menjadi rujukan bagi Pemerintah kecamatan ndori lewat 5 desa di wilayah pesisir Ndori membentuk Permakades bersama untuk menjaga dan mengelola agar lingkungan laut terus lestari dan berkelanjutan.

Oleh : JFM

Pengelolaan Ekosistem laut Ndori harus berdampak pada Kesejahteraan Masyarakat Read More »

Translate »