Dari Pekarangan Kosong Menjadi Kebun Gizi dan Sumber Penghidupan Keluarga di Desa Waka


Waka, Ende, NTT – Ada kalanya perubahan besar tidak dimulai dari sesuatu yang besar.
Ia bisa dimulai dari sepetak tanah di samping rumah, beberapa benih sayuran, seember air, dan kemauan seseorang untuk mencoba.
Itulah yang saya rasakan selama mendampingi masyarakat di Desa Waka, Kabupaten Ende. Di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, ketika musim hujan dan kemarau sulit diprediksi, ketika air menjadi semakin terbatas dan harga kebutuhan pangan tidak selalu bersahabat, saya melihat bahwa keluarga sebenarnya memiliki kekuatan yang sering kali luput dari perhatian: pekarangan rumah mereka sendiri.
Dari situlah perjalanan ini dimulai.
Melalui program “Keluarga Tangguh di Tengah Perubahan Iklim”, Yayasan Tananua Flores (YTNF) bersama Yayasan Planet Indonesia, dengan dukungan Contingency Fund Trafigura (CFT), mendorong masyarakat mengembangkan Kebun Gizi Keluarga sebagai salah satu upaya memperkuat ketahanan pangan, kesehatan keluarga, ekonomi rumah tangga, sekaligus membangun kemampuan masyarakat beradaptasi dengan perubahan iklim.
Program ini berlangsung selama 12 bulan, Januari hingga Desember 2026, dengan pendekatan Konservasi yang Dipimpin Komunitas (Community-Led Conservation).
Namun bagi saya, program ini bukan sekadar tentang menanam sayuran. Ini adalah perjalanan belajar bersama masyarakat.
Tinggal Bersama, Belajar Bersama
Ketika pertama kali menjalankan tugas pendampingan di Desa Waka, saya menyadari bahwa bekerja bersama masyarakat tidak cukup hanya dengan datang membawa program.
Masyarakat bukan ruang kosong yang menunggu untuk diisi dengan pengetahuan dari luar.
Mereka memiliki pengalaman, pengetahuan, kebiasaan, kekuatan, bahkan cara sendiri dalam menghadapi persoalan hidup. Karena itu, tugas saya bukan datang sebagai orang yang paling tahu, melainkan hadir untuk mendengarkan, belajar, dan berjalan bersama mereka.
Nilai inilah yang saya pahami melalui pendekatan Live In yang diterapkan YTNF.
Saya tinggal dan hidup bersama masyarakat. Saya bertemu mereka bukan hanya ketika ada kegiatan program, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Saya berbicara dengan petani, ibu rumah tangga, kader kesehatan, kelompok Dasawisma, dan masyarakat lainnya.
Dari situ saya semakin memahami bahwa kepercayaan tidak bisa dibangun dalam satu kali pertemuan.
Kepercayaan tumbuh dari kehadiran.Ia tumbuh dari percakapan sederhana.
Ia tumbuh ketika masyarakat merasa bahwa kita datang bukan untuk memerintah, tetapi untuk menemani.
Saya masuk ke desa bukan hanya membawa pribadi saya, tetapi membawa nilai, prinsip, dan mandat Yayasan Tananua Flores sebagai NGO lokal yang memiliki sejarah panjang dalam proses pemberdayaan masyarakat selama kurang lebih 36 tahun di Kepulauan Sumba, Timor, dan Flores.
Bagi saya, menjadi pendamping masyarakat berarti bersedia hadir ketika proses berjalan mudah maupun ketika menghadapi kesulitan.
Ketika Pekarangan Mulai Berbicara


Salah satu hal yang menarik perhatian saya di Desa Waka adalah persoalan sederhana yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan keluarga: sayuran untuk kebutuhan sehari-hari.
Banyak keluarga masih membeli sayuran di pasar. Pada saat yang sama, saya melihat ada pekarangan rumah yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Saya kemudian berpikir: Kalau pekarangan tersedia dan dapat ditanami, mengapa kebutuhan sayur harus selalu dibeli?
Pertanyaan itu menjadi bahan percakapan bersama masyarakat.
Saya tidak ingin memulai dengan ceramah panjang tentang ketahanan pangan atau perubahan iklim. Saya memilih cara yang lebih sederhana: mencoba terlebih dahulu.
Saya mulai mengembangkan kebun di rumah dan mengajak masyarakat melihat prosesnya.
Bersama masyarakat dan ibu-ibu Dasawisma, kami mulai menanam berbagai jenis tanaman yang dekat dengan kebutuhan keluarga: sawi, kangkung, tomat, cabai, pare, kacang panjang, terung, pisang, pepaya, serai, kunyit, serta berbagai tanaman obat keluarga.
Awalnya mungkin terlihat biasa saja,hanya tanaman di pekarangan.Namun dari situlah saya melihat sesuatu yang penting: masyarakat mulai memandang pekarangan mereka dengan cara berbeda.
Pekarangan yang sebelumnya hanya dipenuhi rumput mulai menjadi tempat menghasilkan pangan.
Tanah yang sebelumnya tidak memberikan apa-apa mulai memberikan sesuatu untuk dapur keluarga.
Dan yang lebih penting, masyarakat mulai menyadari bahwa ketahanan pangan ternyata dapat dibangun dari rumah sendiri.
Dari Menanam Sayur, Kami Belajar Tentang Kemandirian
Dalam proses pendampingan, saya belajar bahwa menanam bukan sekadar persoalan bibit dan tanah.
Menanam adalah proses membangun kebiasaan.Masyarakat perlu mencoba, mengalami kegagalan, memperbaiki cara, dan mencoba lagi.
Ada tanaman yang tumbuh baik. Ada pula yang terserang hama. Ada yang tidak berhasil karena kekurangan air. Ada masa ketika semangat masyarakat naik, tetapi ada pula saat perhatian mereka kembali kepada pekerjaan dan kebutuhan lainnya.
Di situlah saya semakin memahami bahwa perubahan sosial memang tidak pernah berjalan lurus.Ia membutuhkan kesabaran dan membutuhkan pendampingan yang terus-menerus.
Kami juga mulai belajar memanfaatkan bahan-bahan organik yang tersedia di sekitar rumah untuk membuat kompos dan pupuk organik. Limbah organik yang sebelumnya dianggap tidak berguna mulai dilihat sebagai sumber bahan yang dapat dikembalikan ke tanah.
Bagi saya, proses ini memiliki makna lebih jauh.Ketika masyarakat mulai memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar mereka, ketergantungan terhadap input dari luar perlahan dapat dikurangi.
Pekarangan tidak hanya menjadi tempat menanam. Ia menjadi ruang belajar tentang bagaimana keluarga mengelola sumber daya yang mereka miliki.
Mendampingi Bukan Berarti Menggurui

Salah satu pelajaran terbesar yang saya dapatkan di Desa Waka adalah bahwa keberhasilan pendampingan sangat ditentukan oleh cara kita membangun hubungan dengan masyarakat.
Dalam pendampingan, bahasa yang digunakan harus sederhana.
Kita harus mendengarkan.Kita tidak boleh menggurui apa yang mereka pikirkan dan kerjakan.Masyarakat harus merasa dilibatkan, bukan diperintah.
Saya menyadari bahwa terkadang kita sebagai pendamping terlalu cepat ingin melihat perubahan. Kita ingin masyarakat segera mengikuti apa yang direncanakan. Padahal perubahan membutuhkan waktu.
Masyarakat membutuhkan kesempatan untuk mencoba dan menemukan sendiri manfaat dari perubahan tersebut.
Karena itu, saya lebih memilih menunjukkan daripada sekadar menjelaskan. Ketika masyarakat melihat sendiri hasil kebun, mereka lebih mudah percaya. Ketika mereka memanen sendiri sayuran dari pekarangan, mereka merasakan manfaatnya. Dan ketika manfaat itu masuk ke meja makan keluarga, di situlah sebuah perubahan kecil mulai memiliki arti.
Tantangan yang Tidak Bisa Diabaikan
Tentu perjalanan ini tidak selalu mudah.
Masih ada keluarga yang belum terbiasa memanfaatkan pekarangan. Ada keterbatasan pengetahuan tentang budidaya di lahan sempit. Ada keterbatasan modal untuk membeli benih dan sarana produksi. Ada serangan hama dan penyakit tanaman.
Air juga menjadi persoalan penting, terutama ketika musim kemarau datang.
Perubahan iklim membuat tantangan tersebut menjadi semakin nyata. Pola musim yang tidak menentu membuat masyarakat harus lebih adaptif dalam menentukan waktu tanam dan mengelola sumber daya air.
Namun justru dari tantangan itu saya belajar bahwa program ketahanan pangan tidak boleh hanya berbicara tentang produksi.
Ia harus berbicara tentang kemampuan keluarga bertahan dan beradaptasi.
Kebun Gizi harus menjadi bagian dari strategi yang lebih luas: memperbaiki konsumsi pangan keluarga, meningkatkan kesehatan, mengurangi pengeluaran, menjaga lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi.
Delapan Bulan yang Mengubah Cara Pandang
Setelah sekitar delapan bulan proses pendampingan berjalan, saya mulai melihat perubahan yang sebelumnya mungkin sulit dibayangkan. Pekarangan yang sebelumnya belum produktif mulai ditanami. Keluarga mulai memiliki akses yang lebih dekat terhadap sayuran.
Pengetahuan masyarakat mengenai budidaya tanaman dan pemanfaatan bahan organik mulai berkembang. Yang paling menggembirakan bagi saya adalah munculnya perubahan cara pandang.
Masyarakat mulai melihat bahwa hasil kebun tidak hanya untuk dimakan. Jika produksinya berlebih, hasil tersebut dapat dijual, ditukar, atau dikembangkan menjadi bagian dari usaha keluarga.
Di sinilah saya melihat hubungan antara Kebun Gizi dan penghidupan keluarga.
Awalnya kami berbicara tentang sayuran.Kemudian kami berbicara tentang kesehatan. Lalu kami berbicara tentang pengeluaran rumah tangga.
Dan akhirnya kami mulai berbicara tentang pendapatan. Ternyata sebuah kebun kecil dapat membuka percakapan yang jauh lebih besar tentang masa depan keluarga.
Dari “Membeli” Menjadi “Menanam”
Bagi saya, salah satu perubahan paling sederhana tetapi paling bermakna dari proses ini adalah perubahan dari “membeli” menjadi “menanam.”
Sebelumnya, ketika membutuhkan sayur, keluarga pergi ke pasar.
Sekarang, sebagian kebutuhan dapat diambil dari halaman rumah. Perubahan itu mungkin terlihat kecil.
Tetapi bagi keluarga, setiap sayuran yang dipanen dari pekarangan berarti ada pengeluaran yang dapat dikurangi.
Setiap tanaman yang tumbuh berarti ada sumber pangan yang lebih dekat. Setiap pengetahuan baru berarti ada kemampuan yang dapat digunakan kembali.
Dan setiap hasil kebun yang dijual berarti ada peluang tambahan bagi ekonomi keluarga.
Saya belajar bahwa kemandirian tidak selalu berarti keluarga mampu memenuhi semua kebutuhannya sendiri.
Kemandirian dapat dimulai dari kemampuan untuk mengurangi ketergantungan dan memanfaatkan potensi yang sudah dimiliki.
Kebun Gizi Bukan Sekadar Kebun
Semakin lama saya mendampingi masyarakat, semakin saya memahami bahwa Kebun Gizi sebenarnya bukan hanya tentang tanaman.
Ia adalah tentang keluarga, tentang kesehatan anak. Ia tentang makanan yang lebih beragam. Ia tentang penghematan pengeluaran rumah tangga. Ia tentang pemanfaatan pekarangan. Ia tentang lingkungan. Ia juga tentang peluang ekonomi.
Karena itu, saya melihat Kebun Gizi sebagai salah satu bentuk nyata dari adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim.
Ketika kondisi lingkungan berubah dan ketidakpastian meningkat, keluarga perlu memiliki lebih banyak pilihan.
Salah satunya adalah memiliki sumber pangan yang berada dekat dengan rumah.
Dengan demikian, perubahan iklim tidak hanya dihadapi melalui pembicaraan besar tentang lingkungan, tetapi juga melalui tindakan-tindakan sederhana yang dapat dilakukan keluarga setiap hari.
Mimpi Berikutnya: Dari Kebun Gizi Menjadi Sumber Penghidupan
Perjalanan ini belum selesai.Delapan bulan pendampingan baru merupakan awal.
Ke depan, saya berharap masyarakat tidak berhenti pada tahap menanam untuk konsumsi keluarga. Kebun yang sudah dibangun dapat berkembang menjadi bagian dari usaha rumah tangga.
Sayuran yang berlebih dapat dijual.Hasil kebun dapat dipertukarkan antarwarga. Kelompok masyarakat dapat belajar mengatur produksi dan pemasaran. Dengan begitu, Kebun Gizi tidak berhenti sebagai program.
Ia menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Saya membayangkan suatu saat nanti ketika orang berbicara tentang Desa Waka, mereka tidak hanya melihat desa yang menghadapi tantangan perubahan iklim, tetapi juga melihat masyarakat yang mampu menemukan cara sendiri untuk menghadapinya.
Refleksi Seorang Pendamping
Dari proses ini saya belajar satu hal penting:
Pendamping bukanlah orang yang membawa perubahan kepada masyarakat. Pendamping adalah orang yang menemani masyarakat menemukan kekuatan untuk berubah.
Saya datang ke Desa Waka dengan membawa pengalaman dan mandat organisasi. Namun dalam prosesnya, masyarakat juga mengajarkan banyak hal kepada saya. Mereka mengajarkan bahwa perubahan membutuhkan kesabaran. Mereka mengajarkan bahwa solusi tidak selalu harus mahal.
Mereka mengajarkan bahwa sesuatu yang sederhana dapat menjadi penting ketika benar-benar digunakan.
Dan mereka mengajarkan bahwa perubahan yang bertahan lama adalah perubahan yang tumbuh dari masyarakat sendiri.
Saya semakin percaya bahwa pendekatan Live In bukan hanya tentang tinggal di desa.
Lebih dari itu, Live In berarti berusaha memahami kehidupan masyarakat dari dekat, merasakan persoalan mereka, membangun kepercayaan, dan berjalan bersama dalam proses mencari jalan keluar.
Dari Pekarangan, Tumbuh Harapan
Hari ini, ketika saya melihat pekarangan yang mulai hijau, saya tidak hanya melihat tanaman.
Saya melihat sebuah proses.Saya melihat keluarga yang mulai percaya bahwa mereka memiliki kemampuan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangannya sendiri.
Saya melihat masyarakat yang mulai belajar mengelola sumber daya lokal. Saya melihat peluang ekonomi yang perlahan tumbuh. Dan saya melihat harapan itu.
Perubahan iklim adalah persoalan besar. Kita tidak mungkin menyelesaikannya hanya dengan satu program atau satu kegiatan.
Tetapi saya percaya, perubahan besar dapat dibangun dari banyak perubahan kecil. Dari satu rumah, satu keluarga, satu kebun dan satu benih. Dan dari satu orang yang bersedia mulailah untuk menanam.
Pengalaman di Desa Waka membuat saya semakin yakin bahwa menghadapi perubahan iklim tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar.
Ia dapat dimulai dari rumah, dari keluarga, dan dari kemampuan masyarakat untuk mengelola apa yang sudah mereka miliki.
Pekarangan yang dahulu kosong kini mulai memberi kehidupan. Kebun kecil mulai memberi pangan. Pangan mulai memperkuat keluarga.
Dan dari keluarga yang lebih kuat, tumbuh harapan untuk masa depan yang lebih tangguh.
Inilah cerita kecil dari Desa Waka: tentang sebuah pekarangan yang berubah, tentang masyarakat yang belajar, dan tentang harapan yang tumbuh bersama.
Ditulis oleh
Kristoforus Wara (Kris Wara)
Staf Program – Yayasan Tananua Flores
Eksplorasi konten lain dari Tananua Flores
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



