Sebanyak 25 orang Nelayan Gurita Ende dan Nagekeo Ikut pelatihan Keselamatan laut di Maumere

MAUMERE, Tananua Flores | Sebanyak 25 orang nelayan Gurita yang berasal dari kabupaten Nagekeo dan Ende mengikuti pelatihan keselamatan dilaut yang bertempat di pangkalan TNI angkatan Laut Maumere . Dalam melaksanakan Pelatihan tersebut Tananua Flores menggandeng TNI Angkatan Laut Pangkalan Maumere.
Pelatihan itu di gelar selama tiga hari yakni sejak Senin (17/1/2022) hingga Rabu (19/1/2022) di Aula Serbaguna Pangkalan TNI Angkatan Laut Maumere dan praktek lapangan di sekitar perairan dermaga tambat Pangkalan TNI AL Maumere.

25 orang Peserta yang mengikuti pelatihan ini adalah utusan nelayan dampingan Tananua Flores mulai dari kecamatan Nangaroro Kabupaten Nagekeo Sebanyak 5 orang dan Kabupaten Ende sebanyak 20 orang. Dengan rincian Ndori 5 orang, kotodirumali 5 orang, Arubara 5 orang dan maurongga 3 orang dan sisanya adalah staft tananua flores sebanyak 7 orang yang terdiri dari pak direktur, koordinator program, 1 orang keuangan dan 4 staff lapangan.

Bernadus Sambut Direktur Tananua Flores di Pangkalan TNI AL Maumere saat diwawancarai media pada Selasa (18/1/2022) mengatakan Yayasan Tananua Flores hadir di pulau Flores khususnya kabupaten Ende sejak tahun 1989 dengan isu utama program adalah pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat dengan pendekatan program lingkungan lestari masyarakat sejahtera melalui program pertanian berkelanjutan, kesehatan primer, organisasi petani dan ekonomi kerakyatan untuk daerah hulu dan sejak tahun 2019 untuk masyarakat pesisir dengan isu Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) dengan pintu masuknya adalah pendampingan terhadap nelayan gurita.

Menurutnya bahwa Saat ini Program Pengelolaan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan dengan fokus pendampingan pada 4 site yakni (1) Lingkungan Arubara Kelurahan Tetandara Kecamatan Ende Selatan, (2) Desa Persiapan Maurongga Kecamatan Nangapanda, (3) Ndori untuk desa Maubasa, maubasa Timur, dan Serandori Kecamatan Ndori, di kabupaten Ende dan (4) Nangaroro untuk desa Podenura, Tonggo kecamatan Nangaroro dan Kotodirumali kecamatan Keo Tengah di Kabupaten Nagekeo.

“Kegiatan utama yang dilakukan adalah pendampingan nelayan gurita dan pendataan gurita, feedback data, penutupan sementara area penangkapan gurita sebagai upaya untuk konservasi laut selain itu untuk masyarakat pesisir Tananua Flores juga bekerja di bidang, kesehatan yaitu pendampingan posyandu, pendampingan kelompok ibu”, ungkap Nadus.

Dikatakan Nadus tekanan utama program adalah pemberdayaan masyarakat dengan peningkatan sumber daya manusia khususnya para nelayan. Dan masalah utama yang dialami oleh masyarakat pesisir dan para nelayan pada umumnya terutama nelayan gurita adalah kurangnya perhatian dari Pemerintah dan juga program-program pemberdayaan dalam peningkatan kesejahteraan para nelayan.

Lanjut dia, Kurangnya pengetahuan dan ketrampilan nelayan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan terutama dalam menjaga kelestarian ekosistem laut serta keselamatan dirinya saat melaut. Yang terpenting bagi nelayan memiliki perlatan tangkap seadanya untuk menangkap ikan maupun gurita sebagai sumber pendapatan.

“ Terkait dengan kelestarian ekosistem laut kami telah melakukan beberapa pelatihan dan pendampingan dengan melibatkan mitra, dan saat ini sudah mulai muncul kesadaran kritis masyarakat untuk menjaganya. Namun untuk persoalan keselamatan nelayan dilaut dari gelombang atau badai ekstrim, kerusakan perahu ditengah laut, serangan ikan buas dan atau yang lainnya yang berpengaruh atas nyawa mereka, hal ini belum dimiliki masyarakat, nelayan dan menjadi satu kebutuhan penting bagi mereka,” Ujarnya

Dan Lebih jauh tujuan dari pelatihan keselamatan laut adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan nelayan dalam upaya melakukan keselamatan diri dan sesama nelayan dilaut saat musibah tak terduga datang.
Sementara itu Danlanal Maumere, Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi, M.Tr.Hanla,MM,CTMP, kepada media ini beliau mengapresiasi kepada Yayasan Tananua Flores yang telah berinisiatif untuk menjalin kerja sama dengan menggandeng lanal Maumere dalam kegiatan pelatihan keselamatan laut bagi para nelayan gurita di wilayah dampingannya.

Tentunya kami akan memberikan pelatihan baik teori maupun praktek sesuai dengan pengetahuan yang kami miliki.

“Materi-materi yang kami berikan berupa teori pembekalan pelatihan keselamatan dilaut, Sea Survival, Rescue, pembentukan tim persiapan praktek. Sedangkan materi prakteknya adalah Sea Survival: renang tanpa alpung, cara buat alpung sendiri, Rescue: naik turun Perahu Karet, cara mendekati korban,cara tolong korban, bela diri di air, P3K, Dayung Pk dump boat, Kajul, FMP (Full Mission Profile), Pembuatan rumah ikan/rumpon”, ungkap Dwi Yoga.

Selanjutnya Pius Jodho Koordinator bidang kelautan pada Yayasan Tananua Flores Menyampaikan terimakasih kepada Lanal Maumere yang telah memfasilitasi kegiatan pelatihan keselamatan laut bagi para nelayan gurita dibawah dampingan Yayasan Tananua Flores ini.

Pius juga berharap semoga dengan pelatihan ini dapat memberikan ilmu dan pengetahuan baru ketika mereka mengalami bahaya dilaut, mereka dapat melakukan pertolongan pertama dan untuk mengatasi kecelakaan di laut.
Semoga kerja sama ini kata Pius akan terus berlanjut dengan pihak Lanal Maumere dan juga pemerintah dalam hal memberikan edukasi yang baik kepada para nelayan gurita untuk kelangsungan hidup mereka,”ucap dia. ( Laurens)

Sebanyak 25 orang Nelayan Gurita Ende dan Nagekeo Ikut pelatihan Keselamatan laut di Maumere Read More »

Kisah Inspiratif Seorang Kepala Desa dalam Mengembangkan Pangan

“ Jabatan saya adalah seorang kepala desa, namun Kartu Tanda Penduduk ( KTP ) saya profesi sebagai petani, jadi saya tetap taat profesi dasar saya adalah seorang petani”

Ungkapan sederhana tersebut sering kali diucapkan dalam guyonan keseharian bersama Pendamping Tananua. Antonius Rani  adalah seorang sosok inspiratif yang juga salah satu tokoh panutan di Desa kebirangga selatan.  Keseharianny tinggal di desa kebirangga selatan kecamatan Maukaro kabupaten. Selain menjadi petani Anton Rani adalah salah seorang Pemimpin di desa yaitu menjadi kepala desa.

Ungkapan sederhana itu memiliki makna spirit identitas yang tertanam pada sosok sebagai petani.  Ya tidak sekedar ungkapan semata, namun lebih dari itu ada tindakan nyata yang diterapkan beliau sewaktu mengembankan tugas sebagai kepala desa.

Keberadaan Yayasan Tananua Flores di desa Kebirangga Selatan kurang lebih selama 7 tahun telah menunjukan banyak kegiatan inspiratif bersama masyarakat baik pada bidang kemasyarakatan, kelompok tani, kesehatan primer, ekonomi kreatif bahkan salah  satu kekhasan dari berbagai agenda pendampingan yakni pengembangan pangan dan pangan lokal terhadap petani setempat.

Sejak tahun 2015 sampai tahun pertengahan tahun 2019, status desa setempat belum tercantum jenis pertanian lahan basah, karena masyarakat setempat lebih cendrung mengelolah tanaman komoditi dan pangan pada area perkebunan lahan kering, katakanlah bahwa pengembangan pangan jenis padi ladang sebagai satu – satunya kebiasaan petani setempat setiap tahun.

Memasuki pertenganhan tahun 2019 kepala desa mendapat inspirasi baru untuk  pengembangan pangan  dan mulai diskusi dengan pendamping Tananua. Menurutnya bahwa ada lahan kurang lebih 1 Ha  yang sebelumnnya di manfaatkan sebagai  persawahan  namun sejak tahun 1998 lahan tersebut sudah tidak di manfaatkan lagi. Dengan lahan itu kades mulai bersepakat untuk lahan itu di jadikan daerah persawahan.

Dengan memanfaatkan area seluas satu hektar dengan menghasilkan padi yang cukup meyakinkan jumlahnya, maka beliapun berupaya untuk kembali menambah luas lahan sebanyak 1 ha pada tahun 2021, sehingga total luas lahan saat ini sebanyak 2 ha dengan kodisi irigasi yang memadai.

Melihat dengan perubahan yang terjadi sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat setempat kades itu  meyakinkan bahwa keberlanjutan pengembangan sawah kedepannya akan terus dilakukan secara rutin. Beliau mulai melibatkan tiga petani untuk menggarap pada lahan tersebut dengan sistem pembagian lahan dan proses kerja dilakukan secara gotong-royong oleh penggarap tersebut.  Model penerapan yang dilakukan ini adalah sebagai spirit dalam upaya membangun gerakan kesadaran bersama dalam mengembangkan dan mempertahankan pangan sebagai jati diri petani.

Eksistensi petani dan pangan desa Kebirangga Selatan

Perkembangan Industrialisasi dan Teknologi Saat ini telah mengantarkan kita  berada pada era digitalisasi ( 4,0 ) ,  masyarakat  Pun mulai  beranjak dari pola tradisional menuju pola moderen seiring dengan dampak dari  perkembangan arus globalisasi yang kian cepat merambat pada poros kehidupan masyarakat baik skala pusat maupun daerah/desa.

Sebagai masyarakat petani tentu tidak mungkin mengabaikan kondisi ini, tentu masyarakat dituntut untuk terus beradaptasi dari waktu-kewaktu sehingga akan berindikasi pada pergeseran pola kerja, kebiasaan dan cara pandang.

Bila kita cermati kondisi sosial masyarakat desa hari ini, tentu ada banyak perubahan yang datang dari luar baik melalui sistem yang tertata dalam kebijakan pemerintah maupun melalui media-media sosial yang dapat diakses secara langsung oleh petani.

Perubahan yang datang dari luar sering kali mengancam eksistensi masyarakat desa bahkan sampai pada petani, salah satu contohnya adalah saat ini banyak tawaran dari berbagai investor besar dari berbagai negara maju melalui pintu bisnis dan ekonomi yang bermuara langsung pada petani lokal di desa.

Sebut saja ada berbagai infestor yang bergerak pada bidang komoditi dengan tawaran jenis komoditi petani yang bersifa cepat dan harga yang menjangkau. Tawaran tersebut seringkali petani terobsesi dengan kondisi sosial yang sedang dirasakan sehingga mengharuskan mereka untuk menerima tawaran dari berbagai pihak dari luar untuk peningkatan ekonomi mereka melalui pintu bisnis.  Dan kondisi ini merupakan pola penjajahan Gaya baru dari aspek ekonomi, dan mulai secara perlahan menghilangkan esensi dari pola kerja petani

Dan kalau di lihat tanaman pangan merupakan tanaman substansi bagi petani, karena pangan adalah isi perut yang menghidupkan manusia secara langsung. Sedangkan komoditi adalah tanaman penunjang yang menghasilkan uang untuk pemenuhan kebutuhan kehidupan yang bersifat tambahan.

Dari aspek histori, tentu tanaman pangan adalah tanaman tradisional sebab petani jaman dahulu bercocok tanam hanya untuk jenis tanaman pangan, sementara tanaman komoditi mulai dilihat penting seiring perkembangan sarana infrastruktur dan transportasi  telah memadai.

Dari aspek kebutuhan dan historis menggambarkan bahwa tanaman pangan juga sebagai tanaman prioritas setiap musim kerja.

Ancaman terhadap kebiasaan masyarakat atau petani setempat makin terlihat saat ini, petani seringkali mendapat tawaran untuk fokus pada usaha komoditi sebagai kegiatan pokok, sementara identitas petani tentu sangat melekat dengan usaha pangan dan pangan lokal sebagai kegiatan tradisional yang telah ada dan memberikan keyakinan akan ketahanan hidup dalam kondisi apapun jika persediaan pangan tetap memadai.

Usaha dari berbagai pihak yang berperan langsung pada kehidupan petani tidak cukup pada tahap sosialisasi dan ilustrasi akan pentingnya pangan bagi kehidupan yang berkelanjutan. Karena akan ada alasan yang terlahir dari pikiran petani terkait kemauan memilih jenis usaha dan kegiatan petani. Akan ada ungkapan bahwa ” kami akan memlihi cara agar mendapatkan uang dengan cepat lalu membeli pangan dari pada menanam pangan”. Maka cara yang lebih tepat adalah kita memberikan contoh berupa aksi bahwa pengembangan pangan itu sebagai hal yang substansi dan fundamental dalam kehidupan sebagai petani.

Petani di desa Kebirangga selatan

Kondisi petani desa Kebirangga Selatan saat ini menjadi catatan dan contoh bagi petani diwilayah desa lain, hal ini terlihat bahwa pengembangan pangan dan komoditi sangat seimbang dilakukan oleh petani setempat, meski desa tersebut saat ini sebagai salah satu desa target keberadaan komoditi dari pasaran lokal maupun regional.

Melihat potensi alam yang cukup potensial maka mengharuskan petani setempat untuk lebih jelih memilih  jenis tanaman yang hendak dikerjakan pada lahan kebun mereka masing-masing. Kolaborasi tanaman komoditi seperti porang, kopi dan kemiri dengan pangan ( Padi,jagung dan ubi-ubian )menjadi sebuah keyakinan akan ada upaya untuk menahan keadaan pola kerja tradisional yang berasaskan gotong- royong akan terus hidup.

Selain mengancam pola kerja dan kebiasaa petani, tentu kita mengakui akan ada pengaruh terhadap budaya dalam adat dan istiadat masyarakat setempat, bahwasannya ritual adat yang sangat melekat dengan petani setempat seperti ‘’POO’’ (upacara persiapan tanam menanam) yang didalamnya terdapat kewajiban petani untuk berkontribusi terhadap  Ritual adat yaitu bagi masyarakat tersebut mempunyai lahan garap di wilayah tanah itu. Ritual tersebut sebagai kegiatan rutinitas tahunan menjelang persiapana musim tanam menanam bagi petani setempat. Jika pola kerja petani telah dicermati oleh tawaran pengembangan komoditi sebagai sebuah solusi, maka akan ada kesenjangan antara penggarap dan pemilik lahan garapan atau Pemangku adat. Kesenjangan tersebut terjadi jika penggarap mengabaiakan atauran adat setempat.

Ancaman kedua yang mengharuskan masyarakat/ petani di himpit dengan persoalan global, dan mulai tahun 2019 – 2021 dunia dihebokan dengan masalah fenomenal covid-19  dan itu berdampak pada mobilitas sosial dibatasi sampai pada ekonomi dunia mengalami terganggu dan ekonomi nasional mengalami kemerosotan, sehingga daya beli masyarakat kecil sangat sulit dijangkau baik untuk kebutuhan primer maupun sekunder.

Fenomena tersebut telah melahirkan pembelajaran baru bahwa pangan adalah urusan yang mendasar dalam kehidupan ini. Pangan menjadi perhatian utama disaat mobilitas sosial dibatasi dan kekhawatiran terbesar adalah persediaan pangan bila tidak cukup atau terpakai habis. Kondisi tersebut juga dialami oleh masayarakat desa Kebirangga Selatan meski tidak sampai ada keterbatasan stok pangan namun sempat beralih pada proses pengahematan makanan. Hal ini menunjukan akan ada indikasi keterbatasan pangan bila petani mengabaikan pangan dan mengutamakan komoditi sebagai tanaman populer saat ini.

Adanya pengembangan pangan padi sawah sejumlah 2 ha, telah memberikan catatan baru bagi petani kebirangga selatan bahwa eksistensi petani sebagai petani tradisional tetap ditumbuhkan dengan semangat kerja dan gotong- royong dalam kodisi apapun. Sehingga persediaan pangan dan benih akan selalu ada dari waktu ke waktu.

Sosok seorang kepala desa dalam upaya pengembangan pangan sebagi sebuah aksi penyadaran bersama mamsyarakat petani  di desa  adalah hal yang mendasar dalam kehidupan manusia, meski ada banyak tawaran dari berbagai pasar yang hendak mengalihakan perhatian petani setempat dalam mengembangkan pangan dan pangan lokal, namun adanya pengerjaan sawah sebanyak 2 ha  tersebut dilihat sebagai spirit baru bagi petani masyarakat desa setempat. Dengan demikian eksistensi petani setempat dalam mengembangkan pangan semakin dibendungi dengan solusi melalui aksi produktif selain pengembangan lahan juga jumlah produksi yang akan dicapai.

 

Ditulis oleh : Anselmus Kaki Reku, staf Lapangan Yayasan Tananua Flores

Kisah Inspiratif Seorang Kepala Desa dalam Mengembangkan Pangan Read More »

Program Penghidupan berkelanjutan  menjadi issu Utama dalam Kerja sama Tananua Flores dan Misereor Jerman

Ende, Tananua Flores, | Tananua Flores di akhir tahun 2021 gelar jumpah Pers terkait program kerja sama dengan Misereor Jerman yang rencananya akan di laksanakan di tahun 2022 mendatang. Dalam Program kerja sama tersebut Issu yang di angkat adalah  Penghidupan Berkelanjutan Daerah Hulu kabupaten Ende.

Di desa Nanganesa, kecamatan Ndona kabupaten Ende tepatnya di Mbu’u beach pada (22/12)Tananua Flores gelar jumpah Pers

Bernadus Sambut  direktur Tananua dalam jumpa pers  tersebut mengatakan Yayasan Tananua Flores mendampingi masyarakat dengan issu  utama adalah pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat, dengan visi lingkungan Lestari, masyarakat sejahtera.

Direktur  juga menyebutkan issu dan visi tersebut dikemas dalam  sebuah pendekatan”Uma Sao Rega”. Sebuah pendekatan yang menjadi pijakan dan Prinsip Tananua dalam melakukan pendampingan kepada masyarakat di wilayah dampingannya.

“Pendekatan dan konsep Uma Sao Rega yang kami lakukan maka melahirkan 4 program utama yaitu Organisasi Petani, pertanian berkelanjutan, ekonomi kerakyatan, dan kesehatan Primer”, katanya.

Bernadus menjelaskan sampai saat ini desa yang Tananua damping dengan  program Penghidupan berkelanjutan sebanyak 23 desa di 8 kecamatan  wilayah kabupaten Ende. Sedangkan di program kelautan dan perikanan ada 6 desa yang tersebar di 5 kecamatan di 2 kabupaten yaitu Nagekeo dan Ende. Jumlah penerima manfaat langsung sebanyak 1995 orang di program pertanian, ada sebanyak 150 kelompok, 350 kader Pembangunan Desa dan ada 15 BUMDES yang di dampingi staf lapangan Tananua.

Jumpah pers juga dalam rangkah memberitahukan kepada publik sebagai bagian dalam proses pengawasan.

” Kami Tananua Flores di awal tahun  2022 dengan program baru ini, apa yang di kerjakan Tananua harus publik atau masyarakat di kabupaten Ende bisa mengetahuinya”,kata Bernadus

Lanjut Dia bahwa dengan diselenggaran jumpah Pers ini kita menyadari bahwa dengan program kerjasama harus butuh pengawasan dari masyarakat selain lembaga-lembaga pengawasan yang ada.

Menjawab pertanyaan wartawan, mengapa program Penghidupan berkelanjutan harus memilih desa-desa yang ada di hulu?

Hironimus Pala menjelaskan bahwa masyarakat desa yang ada di hulu masih banyak membutuhkan pendampingan secara rutin sebab, di hulu seluruh akses pengetahuan dan pembangunan masih sangat sulit.

Kedepannya Program yang akan dijalankan ke desa dampingan Tananua terdiri dari program petani berkelanjutan, kesehatan primer, organisasi petani dan konservasi lingkungan hidup.

Menurutnya bahwa sejak 32 tahun di hulu tempatnya memang jauh dari kota, dan berada di wilayah pedalaman. Semua sumber informasi sulit di jangkau, pengetahuan juga terbatas.

Dijelaskannya praktek kerja untuk penghidupan berkelanjutan yang di lakukan petani di hulu sangat terbatas dan yang di kerjakan sekarang masih praktek kerja warisan dari orang tua mereka. Praktek kerja juga masih juga sangat tradisional dan itu membuat peningkatan pada taraf hidup akan sangat lamban.

” Kami damping desa yang ada di hulu karena disana praktek kerja masih sangat manual masih mengikuti warisan orang tua terdahulu, lalu sumber benih pangan masih sangat tersedia “, ungkap Nimus.

Selain itu, Nimus pala juga menyampaikan dari data yang ada kabupaten Ende ada puluhan desa yang rentan terhadap persoalan pangan. Dan dari data tersebut sebanyak 13 desa yang rentan terhadap persoalan pangan.

” 13 desa yang sangat rentan dengan persoalan pangan dan dari desa itu salah satu juga ada di desa dampingan Tananua dan juga di luar desa dampingan”, ungkap Nimus.

Untuk membiayai program yang direncanakan selama 3 tahun yang akan datang Halima Tus’dyah menjelaskan untuk program kerjasama Tananua dan Misereor Jerman yang baru ini terdiri dari beberapa sumber pendanaan. Pertama, dana sebesar euro 100,000 dari Misereor, dana sebesar euro 215,000 dari pemerintah Jerman dan dana dari Tananua sebesar euro 15.000.

Dengan besar dana ini akan membiaya seluruh kerja-kerja program yang telah di sepakati.

” Tananua berkomitmen untuk selalu membangun kerja sama dan berkolaborasi bersama pemerintah setempat agar bisa bersama mewujudkan tujuan dari program”, Tutup Halimah.

Program Penghidupan berkelanjutan  menjadi issu Utama dalam Kerja sama Tananua Flores dan Misereor Jerman Read More »

Ibu-ibu di Arubara ikut Latihan Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga

Ende, Tananua | Tananua Flores Fasilitasi Latihan Pengelolaan Ekonomi Rumah tangga bagi Kelompok Perempuan 88 Arubara Kelurahan Tetandara Kecamatan Ende Selatan Kabupaten Ende Provinsi NTT  Pada 29  November 2021

Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga sebagai usaha dan tindakan untuk mengatur keuangan keluarga Pendapatan dan pengeluaran agar cita cita dan kebutuhan keluarga terpenuhi dan tercukupi.

Kegiatan  tersebut  88 bertujuan agar perempuan/ibu rumah tangga mampu memahami dan mengatur arus keuangan keluarga keluarga Pendapatan dan pengeluaran keluarga Nelayan.

“ Kegiatan ini sangat penting dan harus dilakukan bagi keluarga nelayan karena jika kita tidak mengatur uang secara baik dan benar sesuai dengan kebutuhan kita tidak akan mengalami kekurangan “kata Heri Se.

Hery menyebutkan bahwa dalam mengurus Ekonomi Rumah Tangga yang berperan sangat penting ada Istri dan kita adalah Mentri Keuangan Keluarga”, Sebutnya.

Lebih jauh dia menjelaskan Keluarga harus memiliki rencana Arus kas Keluarga yakni catatan sumber-sumber pendapatan keluarga dan mencatat biaya untuk tiap bulan, 6 bulan dan 1 tahun”,  jelasnya.

Setelah pelatihan salah satu peserta kegiatan bernama Fatima Rejab yang akrab di sampa mama Tima Menuturkan “kegiatan ini  sangat penting untuk kami dan yang dibicarakan hari ini saya dan kami semua ini belum perna kami buat dengan catat segala macam, dan terima kasih sudah beri pemahaman bagi kami serta kami coba untuk buat dirumah kami masing masing”,Tutur Tima

Menurut Tima kegiatan ini penting  seharusnya dihadiri juga dengan suami- suami mereka dan kalau ada kelanjutan ke depannya harus dihadiri bersama para suami.

Harapannya Kegiatan ini harus terus dibuat secara berkelanjutan dan dikontrol langsung oleh pendamping Arubara.(Hr)

 

Ibu-ibu di Arubara ikut Latihan Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga Read More »

Tananua Flores Luncurkan Buku Perdana di HUT ke 32

 

Ende, Tananua Flores | Selama 32 tahun Yayasan Tananua Flores telah berkiprah di bumi Flores-Lembata. Kisah- kisah atau jejak perjalanan Kerja Pemberdayaan Masyarakat dikisahkan dalam buku  yang  berjudul “Bergumul Bersama Masyarakat Membangun Penghidupan  yang Layak”.

Buku kisah perjalanan gerakan pemberdayaan  Masyarakat di Flores dan Lembata oleh Yayasan Tananua Flores ini yang diterbitkan oleh Tananua dan diluncurkan saat perayaan syukuran HUT ke -32 di Wisma Emaus Ende, Selasa (9/11/2021).

Karya Tananua dalaam bentuk Buku tersebut diluncurkan secara bersama oleh Uskup Agung Ende, Mgr Vincentius Sensi Potokota, Asisten II Setda Ende, Derson Duka, organ Yayasan Tananua Flores serta perwakilan tamu undangan

Bernadus Sambut Direktur YTNF, dalam keterangannya menyebutkan melalui moment tersebut YTNF ingin memberikan sosialisasi serta edukasi kepada semua desa dampingan tananua terkait dengan kehadiran YTNF di tengah Masyarakat di wilayah kabupaten End3e

” Yayasan tananua flores sudah memberikan dampak  positif di tengah masyarakat petani dan nelayan dan masyarakat dengan menciptakan gebrakan baru bagi perbaikan kualitas hidup bersama” Ungkapnya

Uskup Agung Ende, Mgr Vincentius Sensi Potokota menyampaikan apresiasi kepada  Yayasan Tananua Flores yang telah melakukan pendampingan kepada masyarakat selama 32 tahun. Uskup menambahkan bahwa dalam kiprahnya Tananua Flores telah memulai dengan hal kecil, namun dampaknya sangat besar dan dirasakan oleh masyarakat yang dilayani.

“Proficiat untuk Tana Nua Flores yang ke-32. Usia ini tidak muda lagi dan sudah melakukan banyak hal untuk masyarakat. Tetap eksis dan berkarya untuk kaum marginal,” kata Uskup Sensi.

Uskup  juga menyampaikan terimah kasih banyak kepada Yayasan Tananua Flores yang telah membantuk Gereja dalam pewartaan ke kampong-kampung yang sulit terjangkau oleh Para pastor karena kekurangan Risors. Dan Tananua sudah Mewartakan hal baik kepada Umat di Keuskupan Agung Ende untuk hidup dalam kebersamaan cinta terhadap sesame, alam semesta dan Makluk hidup yang ada di bumi.

Sementara itu Bupati Ende, Djafar Achmad mengatakan bahwa momen ulang tahun ke-32 ini dimanfaatkan untuk merefleksi sejauh mana kehadiran Tana Nua Flores memberikan manfaat positif bagi peningkatan ekonomi masyarakat.

“Peristiwa berahmat ini menjadi catatan penting sejarah perjalanan Yayasan Tana Nua Flores dalam kiprahnya,” kata Bupati Djafar

Senada dengan pernyataan tersebut perwakilan Akademisi dari STPM St. Ursula Ende Yulita Eme juga memberikan apresiasi kepada Yayasan Tana Nua Flores. menurutnya apa yang sudah dilakukan oleh YTNF selama ini sudah membawa dampak postif bagi masyarakat bertani dan nelayan

“Saya berharap dengan lahirnya usia baru ini serta kembali dilakukan pengukuhan kepada organ YTNF ini, program YTNF dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang telah di impikan oleh YTNF dan Masyarat bertani maupun nelayan”. Imbuhnya.

Oleh : Jf

Tananua Flores Luncurkan Buku Perdana di HUT ke 32 Read More »

Translate »