Pengembangan Usaha Mikro Sebagai Upaya Adaptasi Perubahan Iklim

Oleh: Arnoldus Rada Mage (YTNF, Ende, NTT)

Ende, Tananua Flores | Di Desa Ja Mokeasa, Kabupaten Ende, denyut kehidupan petani berpacu dengan perubahan musim yang tak menentu. Langit yang dulu dapat dibaca dengan kearifan lama, kini kerap berubah arah. Namun, dari tanah pegunungan yang subur itu, tumbuh pula semangat baru — semangat inovasi dan daya tahan yang lahir dari kebersamaan, cinta tanah, serta bimbingan Yayasan Tananua Flores (YTNF) dengan dukungan World Neighbors (WN) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI).

Di tengah tantangan iklim yang mengguncang, para perempuan desa bangkit dengan tangan mereka sendiri, menanam harapan dalam setiap rumpun sayur, dan memupuk keteguhan hati melalui usaha mikro hortikultura yang ramah lingkungan. Kisah Mama Thresia Ima dan kelompok UBSP menjadi saksi bahwa adaptasi bukan sekadar bertahan, tetapi juga berinovasi. Dengan pupuk organik, pestisida nabati, dan kerja kolektif yang berakar dari kearifan lokal, mereka menumbuhkan ketahanan pangan, memperkuat ekonomi keluarga, dan menyalakan obor inspirasi bagi seluruh komunitas desa.

Kondisi awal lahan kelompok  sebelum ada intervensi dari pendamping YTN F

Jejak Desa di Lereng Bukit

Desa Ja Mokeasa lahir dari rahim Desa Mbotutenda pada tahun 1997 dan menjadi desa definitif pada 15 Oktober 2012. Dari Kota Ende, jaraknya sekitar 28 kilometer, ditempuh dalam satu jam perjalanan melewati jalan berkelok yang menanjak dan menurun. Desa ini berada di ketinggian 727 meter di atas permukaan laut, dikelilingi pegunungan, bukit, dan dataran rendah yang subur — tanah yang cocok bagi segala jenis tanaman, terutama hortikultura.

Namun, perubahan iklim membuat para petani seolah kehilangan kompas. Hujan turun tak menentu, matahari menyengat di waktu yang tak biasa. Dari kegelisahan itu, tumbuh kesadaran baru: bahwa alam tidak bisa dilawan, tetapi bisa diajak berdamai. Petani belajar membaca tanda-tanda, menyesuaikan waktu tanam, dan memilih jenis tanaman yang sesuai dengan perubahan cuaca.

Pendampingan yang Menumbuhkan Harapan

Program pendampingan dari Yayasan Tananua Flores bersama World Neighbors dan KLHK RI menumbuhkan daya tahan baru di enam desa sasaran. Di Ja Mokeasa, terbentuklah Kelompok UBSP pada 1 Maret 2023, beranggotakan 21 orang — satu laki-laki dan dua puluh perempuan. Modal awal kelompok sebesar Rp 4.615.000, hasil dari simpanan pokok, wajib, dan sukarela anggota. Dana ini diputar kembali untuk usaha mikro dan kebutuhan keluarga, terutama untuk pengembangan kebun sayur.

Desa di ketinggian ini memang anugerah bagi pertanian. Dari lahan yang sejuk itu tumbuh terung, buncis, sawi, kangkung, dan cabai. Dalam satu musim tanam yang singkat, hasil panen bisa mendatangkan keuntungan hingga setengah juta rupiah, dan untuk tanaman tahunan seperti cabai dan terung, bisa mencapai satu juta rupiah. Sebagian hasil dijual, sebagian lagi dibagikan dan dikonsumsi bersama tetangga — menanam bukan hanya untuk hidup, tetapi juga untuk berbagi.

Perempuan-perempuan Penanam Harapan

Dua nama mencuat dari kelompok UBSP: Mama Thresia Ima (Mama Tres) dan Mama Yasinta Leta (Mama Ayu). Mereka bukan sekadar petani, melainkan penabur semangat bagi yang lain. Mama Tres memandang perubahan iklim bukan sebagai ancaman, tetapi tantangan untuk berinovasi. Ia mengolah sisa tanaman dan kotoran ternak menjadi pupuk organik, meramu daun pepaya dan daun kerinyu menjadi pestisida alami. Dari kebun kecilnya, tumbuh sayuran subur yang tak hanya memberi hasil, tapi juga menjaga keseimbangan bumi.

“Dulu kami belajar dari alam, kini kami kembali berdamai dengannya,” tutur Mama Tres.
Usahanya membuahkan hasil nyata. Dari lahan yang sederhana, ia meraih pendapatan hingga Rp 3.600.000 per musim tanam. Sawi, kangkung, dan buncisnya laku di Pasar Wolowona dan desa tetangga, Raburia. Hasil panen bukan hanya untuk dijual, tapi juga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, agar meja makan selalu terisi sayuran sehat tanpa bahan kimia.

Pupuk dari Alam, Panen dari Hati

Bagi Mama Tres, pupuk bukanlah benda yang dibeli, melainkan hasil dari kreativitas. Ia mencampur dedaunan dan air beras, memfermentasikannya tiga hari hingga berubah menjadi cairan subur. Ia percaya, kesuburan tanah adalah kesuburan kehidupan. Dengan alat seadanya, ia menyiapkan bedengan, menggemburkan tanah, dan menanam benih dengan penuh cinta.

“Tanah harus kita rawat seperti tubuh kita sendiri,” katanya lembut sambil tersenyum.

Dari kebun itu pula, Mama Tres membiayai kebutuhan keluarga. Ia bahkan menyiapkan acara sambut baru anaknya tanpa harus berutang, hasil dari panen sayur yang ia kelola sendiri. Dari sawi dan kangkung ia peroleh Rp 1.500.000, dari terung Rp 2.500.000, dan dari buncis Rp 1.200.000. “Itu hasil nyata,” ujarnya bangga, “meski sering saya beri bonus bagi yang membeli langsung di kebun.”

Menanam untuk Desa, Bukan Sekadar untuk Diri

Walau tidak semua anggota mampu menjalankan usaha bersama karena kesibukan rumah tangga dan lahan pribadi, semangat individu tetap menyala. Beberapa warga mulai membuka kios sembako dan usaha kecil lainnya. Dari langkah-langkah kecil itu, tumbuh kemandirian baru di tengah perubahan besar.

Mama Tres menutup kisahnya dengan pesan yang sederhana namun dalam maknanya:

“Saya berharap, kita para petani tidak lagi membeli sayur, tapi memproduksinya sendiri. Jangan pikir harus banyak, mulai saja dari yang kecil. Jangan dulu bermimpi menjual ke luar desa — penuhi dulu kebutuhan di dalam desa kita. Bila tanah kita subur, orang luar akan datang mencari hasil dari desa ini.”

Kisah Desa Ja Mokeasa adalah kisah keteguhan dan pembelajaran. Di tengah ketidakpastian iklim, tumbuh kepastian lain: bahwa manusia mampu beradaptasi bila ia mau belajar, berkolaborasi, dan mencintai alamnya. Dari kebun kecil di lereng bukit, lahir harapan besar untuk masa depan yang lestari.

Kunjungi Artikel kami

Pengembangan Usaha Mikro Sebagai Upaya Adaptasi Perubahan Iklim Read More »

Panen Perdana Padi Sawah Hasil Kajian Partisipatif di Desa Mautenda Barat Disambut Positif Pemerintah

Ende,Mautenda Barat, Tananua Flores | 21 Oktober 2025 ,- Kegiatan panen perdana padi sawah hasil kajian partisipatif yang dilakukan oleh Kelompok Tani Sa Ate Desa Mautenda Barat mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Kegiatan ini difasilitasi oleh Yayasan Tananua Flores, Universitas Flores (Uniflor), dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), serta dihadiri oleh Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Pemerintah Kecamatan Wewaria, Pemerintah Desa Mautenda Barat, dan Pastor Kuasi Paroki Tanali.

Panen perdana ini dilaksanakan di lahan-lahan sawah petani setempat dan menjadi hasil nyata dari proses pembelajaran bersama yang menekankan pada penggunaan pupuk organik lokal serta metode pertanian berkelanjutan.

Apresiasi Dinas Pertanian

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, H. Ibrahim Hadir Dean menyampaikan apresiasi tinggi terhadap proses kajian yang dilakukan masyarakat bersama lembaga akademik dan pendamping lapangan.

“Saya sangat tertarik dengan kajian partisipatif ini. Proses seperti ini penting untuk mendorong Desa Mautenda Barat memiliki satu produk unggulan, yakni padi organik. Namun, perlu diingat bahwa menjadi benar-benar organik membutuhkan waktu, kesabaran, dan komitmen untuk meninggalkan pupuk kimia sepenuhnya,” tegasnya

Beliau menambahkan, Pemerintah Kabupaten Ende mendukung penuh upaya ini dan berharap agar proses kajian terus berlanjut hingga petani benar-benar mampu menghasilkan padi organik bersertifikat.

“Kita bukan hanya menanam padi, tetapi juga menanam masa depan yang lebih sehat bagi tanah, alam, dan manusia,” ujarnya.

Dukungan Pemerintah Kecamatan

Sementara itu, Camat Wewaria, Fidelis Bela, S.Sos., turut memberikan apresiasi kepada Dinas Pertanian, Yayasan Tananua Flores, dan Universitas Flores atas pendampingan aktif kepada masyarakat.

“Mautenda Barat dikenal sebagai daerah pertanian yang potensial. Kini saatnya potensi itu diolah dengan cara yang berkelanjutan. Ini adalah titik balik bagi Wewaria. Kami mendorong agar pendampingan seperti ini tidak hanya menyentuh satu desa, tetapi juga menjangkau wilayah lain sesuai potensi lokal,” ungkapnya.

Kontribusi Akademik Universitas Flores

Dari pihak akademisi, Ketua Program Studi Agroteknologi Universitas Flores Josina I.B.Hutubessy menjelaskan bahwa pihaknya melakukan analisis terhadap kandungan pupuk organik yang digunakan serta memantau variabel pertumbuhan tanaman selama tiga bulan.

“Kami sudah melihat hasilnya dan akan melanjutkan penanaman tahap kedua. Analisis unsur hara akan terus kami lakukan agar data yang diperoleh dapat menjadi bukti ilmiah bahwa produk ini benar-benar organik,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari kajian ini bukan hanya edukasi bagi masyarakat, tetapi juga menghasilkan data ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Tidak cukup hanya mengatakan produk kita organik. Harus ada bukti dari hasil kajian. Karena itu, mahasiswa kami dilibatkan untuk memantau proses pertumbuhan tanaman setiap dua minggu sekali,” tambahnya.

Refleksi Pastoral dan Dorongan Perubahan

RD. Yohanes Risantos Rengu (Romo Safan), Pastor Kuasi Paroki Tanali, turut memberikan refleksi pastoral yang menyentuh. Ia menilai, perubahan pola pikir petani merupakan tantangan besar dalam membangun pertanian berkelanjutan.

“Kebanyakan petani menyerahkan 90% hasil pada Tuhan dan hanya 10% pada usahanya sendiri. Karena itu, perubahan mental dan kebiasaan butuh waktu. Petani sering hanya tahu menanam, tetapi belum mampu merawat tanah dengan baik,” ujarnya.

Romo menekankan bahwa penggunaan bahan kimia yang berlebihan telah “memaksa” tanah untuk terus memberi hasil tanpa pemulihan. Ia mendorong agar masyarakat mulai membuka diri terhadap pengetahuan dan teknologi baru, termasuk melalui kajian seperti ini.

“Sebagai pastor, saya tidak hanya ingin memimpin dari mimbar, tetapi juga turun langsung melihat kondisi petani. Kami akan bekerja sama dengan pengurus DPP, stasi, dan KUB untuk memperhatikan pola kerja petani yang masih perlu diperbarui,” tambahnya.

Suara dari Kelompok Tani

Ketua Kelompok Tani Sa Ate Fransiskus Seda menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas pendampingan dari berbagai pihak selama proses kajian ini.

“Kami menjalankan semua proses sesuai petunjuk pendamping. Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut dan kami siap melanjutkan pada tahap-tahap berikutnya,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi petani Mautenda Barat dalam mengenal proses kajian pupuk organik, dan mereka berkomitmen untuk terus belajar serta meningkatkan produksi padi sawah secara berkelanjutan.

Kegiatan panen perdana ini bukan hanya menjadi simbol keberhasilan petani Desa Mautenda Barat, tetapi juga bukti bahwa pendekatan kajian partisipatif mampu menghubungkan masyarakat, akademisi, dan pemerintah dalam satu visi: membangun pertanian berkelanjutan yang sehat bagi manusia dan alam.***

Ditulis oleh : J.Mari

Panen Perdana Padi Sawah Hasil Kajian Partisipatif di Desa Mautenda Barat Disambut Positif Pemerintah Read More »

Dari Kampus ke Kampung: Gerakan ‘Merawat Bumi’ Jawab Tantangan Krisis Iklim

Ende, Tananua Flores |Di lereng sejuk Kabupaten Ende, pada Sabtu pagi yang teduh, Sejumlah warga, tokoh adat, perempuan, pemuda, dan akademisi menyatu dalam satu semangat: merawat bumi, memelihara kehidupan. Di tengah krisis iklim global yang semakin mendesak, sebuah gerakan lokal tumbuh dari akar komunitas dengan kerja kolaborasi antara Tananua Flores, Universitas Flores, dan pemerintah desa melakukan aksi konservasi lintas desa.

Gerakan ini bukan sekadar bagian dari perayaan menyongsong 50 tahun Universitas Flores (5/7), melainkan representasi nyata bahwa cinta pada bumi harus dijalankan bersama, melampaui batas institusi dan generasi. Dengan mengusung tema “Merawat Bumi, Memelihara Kehidupan!”, aksi menanam pohon ini menyentuh empat desa di dua kecamatan yakni desa Detubela(140 orang) dan Mautenda Barat (148 orang)di Wewaria, serta desa Mbobhenga (196 orang) dan Malawaru (108 orang) di Nangapanda.

Dari kampus ke ladang, dari ruang kelas ke hutan, lebih dari 14.000 anakan pohon (Muntin, Merbau, Sengon, hingga durian) dibagikan. Sebanyak 2.189 anakan berhasil ditanam pada hari itu, menyebar di 16 titik konservasi strategis, mulai dari sumber mata air, kebun warga, hingga bantaran sungai.

Bagi Universitas Flores, ini bukan sekadar program pengabdian masyarakat. Ini adalah pengejawantahan dari filosofi Kampus Berdampak, di mana ilmu pengetahuan tidak berhenti di bangku kuliah. “Kami tidak hanya ingin mendidik di kelas, tetapi juga belajar bersama masyarakat, ikut membangun masa depan yang lebih lestari,” ujar Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores, Lori Gadi Djou, saat melakukan penanaman pohon di desa Detubela

Lori bahkan membayangkan satu desa Detubela menjadi ikon agrowisata lokal, yang dikenal bukan hanya karena konservasi, tetapi juga karena potensi ekonominya. “Bayangkan, kelak orang datang ke Detubela untuk makan durian. Itu bisa terjadi,” ujarnya penuh harap.

Di sisi lain, Tananua Flores memainkan peran vital sebagai jembatan antara kearifan lokal dan strategi ekologi modern. Ketua Pengurus Yayasan, Hironimus Pala, menekankan pentingnya memperkenalkan hutan keluarga sebagai solusi alternatif—memberi akses kayu bagi warga tanpa merusak hutan alam. “Ini adalah bentuk adaptasi terhadap krisis iklim, yang dampaknya paling dulu dirasakan petani di pelosok,” ungkapnya.

Kepemimpinan Ekologis dari Desa

Kesadaran ekologis tidak hanya datang dari kampus atau NGO, tetapi juga dari pemimpin desa. Kepala Desa Detubela, Eustakheus Kota, menjadi contoh kepemimpinan ekologis yang visioner. Ia memahami betul pentingnya menjaga dua mata air utama Lou dan Muru Menge yang tidak hanya menyuplai kebutuhan warganya, tetapi juga desa tetangga seperti Tanali dan Welamosa.

“Menjaga sumber air bukan untuk hari ini saja, tapi untuk anak cucu kita. Kalau kita rusak sekarang, ke depan kita sendiri yang susah,” ujarnya tegas.

Sementara itu kegiatan penanaman pohon juga dilakukan di Desa Malawaru, langkah bijak diambil dengan menunda sebagian penanaman hingga curah hujan mencukupi. Keputusan ini mencerminkan kedewasaan ekologis dan pengelolaan konservasi yang adaptif—bahwa merawat alam juga butuh kesabaran dan perhitungan jangka panjang. Desa Malawaru yang saat ini cuacanya mengalami kekeringan, Namun wujut nyata dalam gerakan ini tetap melakukan proses penanaman.

Salah satu kekuatan utama dari gerakan ini adalah Partisipatif. Tidak hanya para tokoh dan akademisi, tetapi juga perempuan dan pemuda terlibat aktif. Agnes Inemete (52), tokoh perempuan dari Malawaru, menyampaikan rasa syukurnya, “Saya merasa dihargai. Konservasi ini bukan hanya urusan orang penting, tapi juga urusan kami, para ibu.”

Semangat gotong royong yang mengalir dalam kegiatan ini membuktikan bahwa konservasi tidak hanya berbicara soal teknik, melainkan juga tentang ruang partisipasi dan keadilan sosial.

Tantangan ke depan tentu tidak kecil. Menanam hanyalah langkah awal. Pertanyaan krusial kemudian muncul: Siapa yang akan merawat? Bagaimana menjamin keberlanjutan?

Para inisiator sadar bahwa tanpa sistem pemeliharaan, pemantauan, dan dukungan kebijakan yang konsisten, upaya ini bisa kembali menjadi proyek sesaat. Dibutuhkan pelibatan sekolah, kelompok pemuda, tokoh agama, dan pembiayaan yang lebih stabil—tidak hanya menggantung pada hibah.

Tananua dan Universitas Flores tengah merintis jalan itu. Bukan sekadar seremoni tanam pohon, tapi model konservasi sosial-ekologis yang menyatu dengan kehidupan masyarakat. Bila upaya ini bisa dijadikan kebijakan desa atau bahkan replikasi lintas wilayah, maka harapan untuk perubahan sistemik bukanlah angan-angan.

Kolaborasi Bersama

Di tengah ladang, di pinggir hutan, dan di balik jemari tangan-tangan yang kotor oleh tanah basah, harapan itu tumbuh. Gerakan ini bukan milik satu lembaga, bukan milik satu tokoh. Ini milik semua akademisi, petani, ibu rumah tangga, pemuda desa.

Dan seperti pepatah bijak: “Siapa yang menanam, dia yang memetik.” Mungkin kita bukan yang akan menikmati rindangnya pohon ini. Tapi kelak, anak cucu akan berteduh di bawahnya.

Oleh : Tim Media Tananua

Dari Kampus ke Kampung: Gerakan ‘Merawat Bumi’ Jawab Tantangan Krisis Iklim Read More »

Pelatihan Keselamatan Laut di Kecamatan Ndori: Langkah Awal Menuju Nelayan yang Lebih Siap Hadapi Bahaya

Ende Ndori, 24 April 2025 –Tananua Flores | Kesadaran akan pentingnya keselamatan di laut semakin menguat di Kecamatan Ndori setelah 60 nelayan dari empat desa pesisir mengikuti Pelatihan Keselamatan di Laut, yang digelar pada 23–24 April 2025. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Tananua Flores, Basarnas Ende, dan mitra Blue Ventures, serta didukung penuh oleh pemerintah kecamatan dan pemerintah desa setempat.

Pelatihan yang dilaksanakan di Aula Kantor Camat Ndori dan Pantai Maubasa ini bertujuan membekali nelayan dengan kemampuan dasar penyelamatan diri dan pertolongan terhadap sesama saat menghadapi kecelakaan laut. Dalam sambutannya, Direktur Yayasan Tananua Flores menegaskan pentingnya pelatihan ini mengingat keterampilan nelayan yang masih terbatas dalam menangani situasi darurat di laut.

Sementara itu,Sekretaris Kecamatan Ndori, Suryanto Jara, dalam sambutannya menekankan bahwa meskipun profesi nelayan sudah melekat di masyarakat pesisir Ndori, pengetahuan tentang keselamatan laut masih sangat minim.

“Pelatihan ini menjadi kesempatan emas untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat pesisir,” ujarnya.

Selama pelatihan, peserta tidak hanya mendengarkan teori di ruangan, tetapi juga melakukan praktik langsung di pesisir, mulai dari teknik berenang penyelamatan hingga pertolongan pertama di laut. Antusiasme peserta tampak tinggi, namun sejumlah tantangan menjadi catatan penting.

Meski secara umum kegiatan berjalan lancar, beberapa hambatan muncul, terutama terkait dengan latar belakang peserta. Banyak peserta merupakan nelayan lansia dan memiliki keterbatasan dalam membaca dan menulis, sehingga materi berbasis teori sulit mereka serap sepenuhnya. Kondisi ini menuntut pendekatan pelatihan yang lebih aplikatif dan berbasis praktik ke depan.

Selain itu, lima orang peserta tidak hadir pada hari kedua pelatihan karena khawatir menghadapi post test, yang menunjukkan perlunya metode evaluasi yang lebih memberdayakan dari pada menakutkan.

Suara Nelayan: Harapan dan Kebutuhan Nyata
Pua Jumad, salah satu peserta, menyampaikan bahwa pelatihan ini membuka wawasan baru bagi para nelayan. “Kami selama ini hanya bisa berenang, tapi tidak tahu cara menyelamatkan diri atau orang lain. Kami sangat bersyukur dengan pelatihan ini,” ungkapnya. Ia juga menyoroti kebutuhan mendesak akan perlengkapan keselamatan seperti life jacket yang hingga kini belum dimiliki sebagian besar nelayan Ndori.

Fakta ini mengungkap adanya celah besar antara peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan ketersediaan sarana penunjang keselamatan yang memadai. Tanpa dukungan peralatan keselamatan, keterampilan yang diperoleh nelayan berpotensi tidak dapat diaplikasikan secara optimal saat terjadi insiden nyata di laut.

Pelatihan keselamatan laut ini menandai langkah penting dalam memperkuat kesiapsiagaan nelayan di Ndori. Namun, keberlanjutan program, adaptasi metode pelatihan untuk kelompok usia tua dan rendah literasi, serta penyediaan peralatan keselamatan menjadi kebutuhan mendesak agar dampak pelatihan benar-benar berjangka panjang.

Komitmen berkelanjutan dari pemerintah daerah, lembaga mitra, dan komunitas lokal menjadi kunci untuk memastikan bahwa upaya meningkatkan keselamatan nelayan ini tidak berhenti di tingkat pengetahuan, melainkan benar-benar terwujud dalam praktik penyelamatan nyata di perairan Ndori.

Ditulis Oleh : Agnes Staf Tananua

Pelatihan Keselamatan Laut di Kecamatan Ndori: Langkah Awal Menuju Nelayan yang Lebih Siap Hadapi Bahaya Read More »

Pembukaan Kembali Lokasi Tangkap Gurita di Kotodirumali: Menjaga Laut, Meningkatkan Ekonomi

Nagekeo Kotodirumali, 19 Februari 2025 – Kelompok Nelayan Kodim Octopus melaksanakan pembukaan kembali lokasi tangkap gurita setelah penutupan sementara selama 3 bulan di lokasi penangkapan gurita Dowosude,Ipi Mbuu dan Ma’urao dengan luas keseluruham 86,77 ha. Acara ini diawali dengan ritual adat yang dipimpin oleh Sehe Mahmud, seorang Mosazaki Udu Wuwu Eko Koja.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Kotodirumali Maternus Mau, Ketua BPD Kotodirumali, para Mosazaki, tokoh masyarakat, serta Koordinator Program Kelautan dan Perikanan dari Yayasan Tananua Flores.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Kotodirumali, Maternus Mau, menyatakan bahwa pemerintah desa mendukung upaya pengelolaan perikanan gurita di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa pemerintah desa telah menetapkan peraturan desa (Perdes) yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang laut berbasis kearifan lokal. Maternus Mau juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Tananua Flores yang telah memfasilitasi penyusunan Perdes tersebut.

“Kodim Octopus harus menjadi contoh bagi kelompok lain di Kabupaten Nagekeo. Saya mengajak kelompok ini menjadi kelompok yang sejati, bukan kelompok yang hanya sekadar ada. Untuk itu, anggota dan pengurus harus bekerja sama dan membangun komunikasi yang baik. Jika ada persoalan, sebaiknya diselesaikan secara internal,” ujarnya.

Setelah ritual adat, sembilan nelayan turun menangkap gurita selama satu jam. Berdasarkan hasil catatan enumerator, total tangkapan nelayan mencapai 49,2 kg. Penangkapan terbanyak dilakukan oleh Yohanis Andu dan Fransiskus R. Mere. Berat gurita terendah yang tertangkap adalah 1,2 kg, sementara yang tertinggi mencapai 3,5 kg.

Koordinator Program Kelautan dan Perikanan Yayasan Tananua Flores Pius I Jodho menyampaikan bahwa Kodim Octopus merupakan salah satu kelompok masyarakat berbasis komunitas (CBO) di Kotodirumali yang perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam kegiatan pemberdayaan kelompok.

“Kelompok Kodim Octopus dan masyarakat perlu terus mengelola ruang laut secara berkelanjutan. Wilayah pesisir dan laut yang lestari akan meningkatkan ekonomi nelayan, menjaga ekosistem pesisir, serta memperkuat sosial budaya masyarakat,” ungkapnya.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan pengelolaan perikanan gurita di Kotodirumali semakin berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat setempat.

Oleh: PJ

Pembukaan Kembali Lokasi Tangkap Gurita di Kotodirumali: Menjaga Laut, Meningkatkan Ekonomi Read More »