Pembukaan Kembali Lokasi Tangkap Gurita di Kotodirumali: Menjaga Laut, Meningkatkan Ekonomi

Shere Sekarang

Nagekeo Kotodirumali, 19 Februari 2025 – Kelompok Nelayan Kodim Octopus melaksanakan pembukaan kembali lokasi tangkap gurita setelah penutupan sementara selama 3 bulan di lokasi penangkapan gurita Dowosude,Ipi Mbuu dan Ma’urao dengan luas keseluruham 86,77 ha. Acara ini diawali dengan ritual adat yang dipimpin oleh Sehe Mahmud, seorang Mosazaki Udu Wuwu Eko Koja.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Kotodirumali Maternus Mau, Ketua BPD Kotodirumali, para Mosazaki, tokoh masyarakat, serta Koordinator Program Kelautan dan Perikanan dari Yayasan Tananua Flores.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Kotodirumali, Maternus Mau, menyatakan bahwa pemerintah desa mendukung upaya pengelolaan perikanan gurita di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa pemerintah desa telah menetapkan peraturan desa (Perdes) yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang laut berbasis kearifan lokal. Maternus Mau juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Tananua Flores yang telah memfasilitasi penyusunan Perdes tersebut.

“Kodim Octopus harus menjadi contoh bagi kelompok lain di Kabupaten Nagekeo. Saya mengajak kelompok ini menjadi kelompok yang sejati, bukan kelompok yang hanya sekadar ada. Untuk itu, anggota dan pengurus harus bekerja sama dan membangun komunikasi yang baik. Jika ada persoalan, sebaiknya diselesaikan secara internal,” ujarnya.

Setelah ritual adat, sembilan nelayan turun menangkap gurita selama satu jam. Berdasarkan hasil catatan enumerator, total tangkapan nelayan mencapai 49,2 kg. Penangkapan terbanyak dilakukan oleh Yohanis Andu dan Fransiskus R. Mere. Berat gurita terendah yang tertangkap adalah 1,2 kg, sementara yang tertinggi mencapai 3,5 kg.

Koordinator Program Kelautan dan Perikanan Yayasan Tananua Flores Pius I Jodho menyampaikan bahwa Kodim Octopus merupakan salah satu kelompok masyarakat berbasis komunitas (CBO) di Kotodirumali yang perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam kegiatan pemberdayaan kelompok.

“Kelompok Kodim Octopus dan masyarakat perlu terus mengelola ruang laut secara berkelanjutan. Wilayah pesisir dan laut yang lestari akan meningkatkan ekonomi nelayan, menjaga ekosistem pesisir, serta memperkuat sosial budaya masyarakat,” ungkapnya.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan pengelolaan perikanan gurita di Kotodirumali semakin berkelanjutan dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat setempat.

Oleh: PJ

Pembukaan Kembali Lokasi Tangkap Gurita di Kotodirumali: Menjaga Laut, Meningkatkan Ekonomi Read More »

Program Perikanan Berbasis Masyarakat: Membangun Keberlanjutan dan Kesejahteraan

Shere Sekarang

Ende, Tananua Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan luas perairan yang mendominasi wilayahnya, memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Potensi ini tidak hanya menjadi sumber devisa negara tetapi juga berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Namun, agar sektor perikanan dapat memberikan manfaat yang optimal, diperlukan pengelolaan yang berkelanjutan serta berbasis pada keseimbangan ekologi dan ekonomi.

Di Kabupaten Ende, potensi perikanan yang dimiliki belum sepenuhnya dikelola secara baik untuk menopang perekonomian daerah. Pemerintah daerah belum memiliki kebijakan strategis dalam pengelolaan perikanan guna meningkatkan pendapatan daerah. Oleh karena itu, inisiatif dari berbagai pihak, termasuk organisasi non-pemerintah, menjadi sangat penting untuk mengembangkan sektor ini.

Peran Yayasan Tananua Flores dalam Pengelolaan Perikanan

Yayasan Tananua Flores, sebagai LSM lokal yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat petani dan nelayan, telah menjalankan berbagai program yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem perairan serta memastikan keberlanjutan sumber daya perikanan. Sejak berdiri pada tahun 1989, Tananua tetap konsisten dalam mendampingi masyarakat dengan visi program penghidupan berkelanjutan, baik di sektor pertanian maupun kelautan dan perikanan.

Sebagai bagian dari komitmennya, Tananua telah meluncurkan program perikanan berbasis masyarakat di delapan desa di Kabupaten Ende dan sekitarnya. Program ini menggunakan pendekatan pendampingan berbasis data serta berorientasi pada desa dan kawasan untuk memastikan efektivitas implementasi. Beberapa desa yang menjadi sasaran program ini meliputi Kelurahan Tetandara (Lingkungan Arubara, Kecamatan Ende Selatan), Desa Persiapan Maurongga (Kecamatan Nangapanda), Desa Kotodirumali (Kecamatan Keo Tengah), Desa Podenura (Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo), serta Desa Maubasa, Maubasa Timur, dan Serandori (Kecamatan Ndori).

Empat Pilar Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat

Program perikanan berbasis masyarakat yang dijalankan oleh Tananua Flores berlandaskan pada empat pilar utama, yaitu:

  1. Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat
    Masyarakat nelayan didorong untuk secara aktif mengelola perikanan melalui pendataan yang sistematis, analisis data, serta implementasi strategi berbasis bukti. Selain itu, nelayan juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga ruang hidup ekosistem perairan dan mengintegrasikan kearifan lokal dalam pengambilan keputusan secara partisipatif.
  2. Mengamankan Hak
    Nelayan dan masyarakat pesisir perlu memahami serta mengamankan hak mereka dalam mengakses, memanfaatkan, dan mengelola lokasi tangkapan serta ekosistem pendukungnya. Selain itu, kelompok pengelola didorong untuk menjalin koordinasi dan advokasi dengan jejaring lainnya guna mempertahankan hak mereka dalam perencanaan dan kebijakan pemerintah daerah maupun nasional.
  3. Inklusif Keuangan
    Masyarakat diberdayakan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga dan usaha, termasuk sistem simpan pinjam kelompok serta akses layanan keuangan dasar untuk menabung, kredit, dan dana darurat. Program ini juga bertujuan untuk mengakui nelayan sebagai bagian dari ekonomi produktif yang berhak mendapatkan perlindungan usaha serta akses terhadap layanan keuangan formal dari lembaga keuangan dan pemerintah.
  4. Ketahanan Pangan
    Masyarakat nelayan diberikan edukasi mengenai pentingnya nilai gizi dalam konsumsi rumah tangga. Selain itu, mereka juga didorong untuk memahami peran spesies bernutrisi dalam pemenuhan kebutuhan gizi keluarga serta mengidentifikasi sumber tangkapan yang dapat memberikan manfaat optimal bagi kesehatan dan kedaulatan pangan lokal.

Dengan pendekatan berbasis komunitas ini, diharapkan pengelolaan perikanan di Kabupaten Ende dapat lebih optimal dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir serta menjamin keberlanjutan ekosistem perairan untuk generasi mendatang. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan organisasi pemberdayaan seperti Yayasan Tananua Flores menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan sektor perikanan yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

Program Perikanan Berbasis Masyarakat: Membangun Keberlanjutan dan Kesejahteraan Read More »

Tananua Flores Gelar Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal untuk Perkuat Kapasitas Pendamping Lapangan

Shere Sekarang

Dok.YTNf – Pelatihan pengolahan pangan lokal

Ende, Tananua Flores – Dalam upaya mempertahankan identitas petani sekaligus mendukung ketahanan pangan lokal, Yayasan Tananua Flores menggelar pelatihan pengolahan pangan lokal untuk memperkuat kapasitas staf pendamping lapangan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 21 November 2024.

Koordinator Program CRITICAL, Arnoldus R. Mage, menjelaskan bahwa pangan lokal memiliki nilai strategis bagi keberlanjutan pertanian dan kesehatan masyarakat. “Pangan lokal adalah pangan yang dapat diambil langsung dari kebun sesuai kebutuhan. Selain lebih aman karena tidak mengandung bahan kimia atau pengawet, pangan ini juga kaya gizi dan bermanfaat untuk kesehatan tubuh,” jelasnya.

Arnoldus menambahkan bahwa konsumsi beragam jenis pangan lokal mendukung kesehatan tubuh secara lebih baik. “Setiap jenis pangan mengandung kandungan gizi yang berbeda, dan dengan mengonsumsi variasi pangan, kita bisa memenuhi kebutuhan nutrisi yang lebih lengkap,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengembangan pangan lokal dapat mengurangi ketergantungan pada satu jenis makanan pokok seperti beras, sekaligus membantu melestarikan budaya, lingkungan, dan keanekaragaman hayati. Selain itu, hal ini juga berkontribusi pada pengurangan jejak karbon.

Pelatihan ini berfokus pada staf pendamping lapangan Tananua Flores yang terlibat dalam Program CRITICAL. Para pendamping akan mendampingi petani di desa-desa binaan untuk memaksimalkan potensi pangan lokal yang melimpah, seperti umbi-umbian, pisang, kacang-kacangan, dan labu kuning. Dengan pelatihan ini, diharapkan para pendamping dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada petani dalam mengolah hasil panen menjadi produk yang bernilai lebih tinggi, baik untuk konsumsi keluarga maupun sebagai sumber gizi.

Salah satu fasilitator, Emilia Kumanireng, menegaskan bahwa pangan lokal adalah bagian dari kehidupan dan identitas masyarakat Lio Ende. “Pangan bagi masyarakat Lio bukan sekadar kebutuhan, tetapi juga jati diri. Potensi pangan lokal di desa-desa binaan sangat besar, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Banyak hasil pertanian lokal yang hanya direbus, dibakar, atau digoreng, dan sebagian besar malah dijadikan pakan ternak,” ujarnya.

Menurut Emilia, tantangan utama yang dihadapi petani adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan pangan yang sehat. Ia berharap pelatihan ini mampu meningkatkan kapasitas staf pendamping sehingga mereka dapat memberikan dampak langsung di lapangan.

“Harapan kami, anak-anak mulai mencintai dan mengonsumsi pangan lokal, mengurangi ketergantungan pada makanan olahan pabrik yang dapat merusak kesehatan. Petani juga diharapkan terus menanam dan mengolah pangan lokal, tidak hanya untuk pasar tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga,” imbuhnya.

Yayasan Tananua Flores berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan pangan lokal sebagai solusi untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan mewujudkan pola konsumsi yang sehat dan berkelanjutan

Ditulis ; Tim Ytnf

Editor : Jhuan Mari

Tananua Flores Gelar Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal untuk Perkuat Kapasitas Pendamping Lapangan Read More »

Patroli Rutin di Lokasi Penutupan Tangkap Gurita: Langkah untuk Keberlanjutan

Shere Sekarang

Ende, Flores –  Tananua Flores | Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan patroli rutin, diperlukan persiapan dan arahan yang matang. Persiapan dimulai dengan melakukan analisis terhadap daerah yang akan di patroli. Tim patroli harus mengidentifikasi titik rawan dan melakukan pemetaan yang tepat untuk mengoptimalkan rute yang akan diambil. 

Selain itu, anggota tim juga diwajibkan untuk melakukan briefing sebelum pelaksanaan patroli, guna memastikan bahwa semua anggota memahami tujuan dan prosedur yang harus diikuti. Arahan yang jelas mengenai tugas dan tanggung jawab setiap anggota sangat penting untuk menciptakan koordinasi yang baik selama kegiatan berlangsung. 

Langka selanjutnya, pemberian informasi terkait ancaman yang mungkin dihadapi selama patroli juga harus disampaikan secara detail. Adanya dokumentasi dan laporan setelah selesai melakukan patroli akan menjadi referensi bagi perencanaan kegiatan di masa depan. 

Dengan memanfaatkan teknologi, seperti GPS dan aplikasi pelaporan, pekerjaan menjadi lebih terstruktur dan terorganisir. Melalui langkah-langkah persiapan dan arahan yang sistematis, diharapkan kegiatan patroli rutin tidak hanya dapat meningkatkan keamanan, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum.

Partisipasi dan peran masyarakat dalam patroli keamanan sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Dalam konteks ini, masyarakat tidak hanya sebagai objek pengamanan, tetapi juga sebagai subjek yang aktif berkontribusi dalam menjaga ketertiban. Salah satu cara partisipasi masyarakat dapat diwujudkan adalah melalui pembentukan kelompok-kelompok patroli swakarsa yang melibatkan warga setempat. Kelompok ini berfungsi untuk melakukan pengawasan secara rutin dan melaporkan berbagai potensi gangguan keamanan kepada pihak berwenang. 

Dengan adanya partisipasi ini, masyarakat akan merasa lebih memiliki tanggung jawab terhadap keamanan lingkungan mereka. selanjutnya, peran masyarakat juga dapat tercermin dalam program-program sosialisasi yang mengedukasi warga tentang pentingnya menjaga keamanan bersama. Dalam kerangka ini, keterlibatan masyarakat tidak hanya terbatas pada saat terjadinya masalah, tetapi juga berorientasi pada langkah pencegahan. 

Oleh karena itu, sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat sangat diperlukan agar patroli yang dilakukan dapat berjalan efektif. Melalui kolaborasi ini, diharapkan tercipta peningkatan rasa aman yang berkelanjutan serta kepedulian sosial yang tinggi di antara warga, yang pada gilirannya akan memperkuat solidaritas dan ukhwah antarwarga di suatu komunitas.

Pada proses patroli yang dilakukan oleh tim keamanan, fokus utama adalah untuk memastikan keamanan dan ketertiban di area yang menjadi tanggung jawab. Proses patroli dimulai dengan penentuan rute yang strategis, di mana petugas bertugas untuk memantau aktivitas mencurigakan dan mengidentifikasi potensi ancaman. 

Selama patroli, tim seringkali menggunakan teknologi terkini, seperti drone dan sistem pemantauan berbasis kamera, untuk mendukung observasi di lapangan. Selain itu, laporan harian yang mendetail disusun untuk mencatat semua temuan yang ditemukan selama patroli, termasuk berbagai insiden yang berpotensi mempengaruhi keselamatan publik. Tim juga berinteraksi dengan masyarakat setempat guna mendapatkan informasi tambahan mengenai lingkungan di sekitar dan untuk meningkatkan kesadaran terhadap faktor-faktor keamanan. 

Penemuan terkait pelanggaran hukum, seperti vandalism atau penyalahgunaan narkoba, akan segera dilaporkan kepada pihak berwenang untuk ditindaklanjuti. Dengan pendekatan yang sistematis dan profesional, proses patroli tidak hanya berfungsi sebagai upaya preventif, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun hubungan positif dengan komunitas dan mendorong partisipasi aktif dalam menjaga keamanan lingkungan.

Pelanggaran yang terjadi di lokasi penutupan harus ditangani dengan cepat dan efisien untuk memastikan keselamatan serta kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku. Tindakan pertama yang perlu diambil adalah melakukan identifikasi terhadap jenis pelanggaran yang terjadi, baik itu pelanggaran administratif maupun pelanggaran keselamatan kerja. Setelah identifikasi, langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi terhadap dampak dari pelanggaran tersebut.

 Dalam konteks ini, penting bagi pihak berwenang untuk mengadakan investigasi menyeluruh untuk mengumpulkan bukti-bukti yang relevan. Penanganan pelanggaran dapat melibatkan beberapa aspek, seperti pemberian sanksi, pengawasan tambahan, atau bahkan penutupan permanen dari lokasi, tergantung pada tingkat keparahan pelanggaran. Selain itu, komunikasi yang jelas dan terbuka dengan semua pihak terkait, termasuk karyawan dan masyarakat sekitar, sangat penting untuk menjaga transparansi dalam proses ini. Menerapkan tindakan pencegahan di masa depan juga harus menjadi bagian dari rencana tindakan, termasuk pelatihan dan sosialisasi mengenai peraturan yang ada. Tujuan keseluruhan dari tindakan dan penanganan ini adalah untuk menciptakan lingkungan yang aman dan sesuai dengan regulasi yang berlaku, sehingga mencegah terjadinya pelanggaran serupa di masa yang akan datang.

Penutupan lokasi tangkap gurita memiliki manfaat jangka panjang yang signifikan bagi keberlanjutan ekosistem laut dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Dengan memberikan waktu bagi populasi gurita untuk pulih, penutupan ini dapat meningkatkan biomassa dan keragaman spesies di area tersebut. Untuk itu, pengelolaan yang lebih baik terhadap sumber daya ini dapat mengurangi tekanan terhadap populasi gurita, yang seringkali dieksploitasi secara berlebihan. 

Pengembalian keanekaragaman hayati di habitat yang dilindungi dapat memperkuat jaringan makanan laut dan meningkatkan kesehatan ekosistem secara keseluruhan. Tidak hanya itu, penutupan lokasi tangkap gurita juga membuka kesempatan untuk penelitian dan pendidikan lingkungan yang lebih mendalam. Masyarakat lokal dapat menjadi lebih sadar akan pentingnya konservasi laut dan berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan. 

Dalam jangka panjang, ini dapat mendorong pengembangan ekonomi berbasis ekowisata, yang menawarkan alternatif pendapatan bagi nelayan, sekaligus memastikan bahwa generasi mendatang dapat menikmati kekayaan laut yang sama. Oleh karena itu, penutupan lokasi tangkap gurita tidak hanya menguntungkan secara ekologis, tetapi juga memberikan dampak positif secara sosial dan ekonomi bagi komunitas pesisir.

 

Oleh : Jhuan Mari

Patroli Rutin di Lokasi Penutupan Tangkap Gurita: Langkah untuk Keberlanjutan Read More »

Tananua Flores Membuka Kesempatan Magang Tahun 2024

Shere Sekarang

Ende, Tananua flores | Yayasan Tananua Flores pada tahun 2024 ini membuka kesempatan bagi para pencari kerja yang belum bekerja atau terikat kontrak agar bisa mempunyai peluang untuk magang di Tananua Flores. Hal ini disampaikan oleh Ketua  pengurus Tananua Flores Hironimus pala disela-sela kegiatan dikantor tananua. Menurutnya, program magang ini sangat penting agar para pencari kerja bisa mendapatkan pengelaman ketika melamar dilembaga manapun dengan pengelaman yang sudah ada disaat magang di tananua.

Berikut ini, ketentuan magang dapat baca di bawah ini. Jika tertarik langsung hubung kontak yang tertera pada flayer ini, atau klik di link ini https://forms.gle/Dfoaudy3rudhoEhp8.

Form dalam link ini lengkap, namun bisa mengisi sesuai dengan ketentuan yang ada dalam flayer. Terimah kasih

Tananua Flores Membuka Kesempatan Magang Tahun 2024 Read More »