Dari Gaga Gili ke Koperasi: Merawat Harapan di Tanah Wonda

Shere Sekarang

Ende, Wonda – Tananua Flores | Di tanah Wonda yang tenang, harapan tidak pernah datang dengan gegap gempita. Ia lahir perlahan dari langkah kaki yang menyusuri kebun, dari tangan-tangan yang bekerja tanpa lelah, dan dari kebersamaan yang dirawat dalam tradisi sederhana: Gaga Gili.

Tradisi kerja bergilir membersihkan kebun itu bukan sekadar rutinitas. Ia adalah ruang perjumpaan, tempat orang-orang saling menguatkan, berbagi cerita, dan menanam harapan. Dari sanalah, tanpa disadari, sebuah mimpi bersama mulai tumbuh.

Mimpi itu kini dikenal sebagai Koperasi Tani Sinar Harapan.Semua berawal di akhir tahun 1990-an. Saat itu, hanya ada sembilan orang petani yang sepakat untuk tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Mereka tidak memiliki modal besar, tidak pula fasilitas memadai. Yang mereka punya hanyalah tekad dan kepercayaan.

Dengan iuran sederhana(1000) seribu rupiah.

Jumlah yang mungkin terasa kecil, bahkan nyaris tak berarti. Namun bagi mereka, itu adalah simbol: bahwa kebersamaan lebih kuat daripada keterbatasan.

“Kami mulai dari kerja bersama, dari iuran kecil,” kenang Bapak Wifridus, salah satu anggota lama. Seiring waktu, iuran itu meningkat menjadi lima ribu rupiah tanda bahwa semangat mereka juga ikut bertumbuh.

Tahun 1998 menjadi langkah penting. Dari kelompok tani sederhana, mereka mulai berani memasuki dunia pengelolaan ekonomi dengan membentuk Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP). Dari tanah dan cangkul, mereka melangkah ke pengelolaan keuangan sesuatu yang sebelumnya terasa jauh dari kehidupan mereka.

Perjalanan itu tidak mudah. Namun mereka bertahan. Hingga akhirnya, pada tahun 2015, UBSP itu resmi bertransformasi menjadi koperasi. Sebuah tonggak penting yang lahir bukan dari kemudahan, tetapi dari kesabaran panjang, kerja keras, dan keyakinan akan masa depan.

Kini, hingga Desember 2025, koperasi ini memiliki 58 anggota. Jumlah yang mungkin tidak besar, tetapi setiap orang di dalamnya adalah bagian dari cerita perjuangan yang sama.

Pengurus memilih berjalan dengan hati-hati. Mereka tidak tergesa-gesa menambah anggota, karena yang mereka jaga bukan sekadar jumlah, melainkan kepercayaan. Di sisi lain, tantangan tetap ada terutama dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya berkoperasi.

Namun bagi mereka yang sudah merasakan manfaatnya, koperasi bukan lagi sekadar lembaga. Ia adalah penopang hidup.

“Saya bisa menyekolahkan tiga anak,” ujar seorang anggota dengan mata berbinar. Kalimat sederhana itu menyimpan makna yang dalam tentang harapan yang akhirnya menemukan jalannya.

Ibu Ros juga memiliki kisahnya sendiri. Di saat genting, ketika kebutuhan mendesak datang tanpa aba-aba, koperasi menjadi tempat ia berpaling.

“Sangat membantu,” katanya singkat. Namun dari nada suaranya, terasa betapa besar arti kehadiran koperasi dalam hidupnya.

Meski demikian, perjalanan Koperasi Tani Sinar Harapan masih jauh dari kata sempurna. Berbagai rencana pengembangan unit usaha mulai dari pertanian, peternakan, hingga pertokoan dan jasa belum sepenuhnya terwujud. Hingga kini, baru unit simpan pinjam yang berjalan aktif.

Keterbatasan sumber daya manusia, minimnya sarana prasarana, dan tantangan permodalan masih menjadi hambatan nyata.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tidak pernah goyah yakni memiliki tekad.

“Kita jaga dan rawat koperasi ini,” tegas Bernadus Sambut, Direktur Yayasan Tananua, dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT). Baginya, koperasi ini bukan sekadar tempat usaha, melainkan harapan yang harus dijaga bersama.

RAT bukan hanya agenda rutin. Ia adalah ruang di mana semua suara bertemu. Di sanalah para anggota mengevaluasi perjalanan, mengakui kekurangan, dan merancang masa depan. Dalam pertemuan terakhir, berbagai hal dibicarakan mulai dari keterbatasan anggota yang masih berasal dari lingkup dusun, hingga kebutuhan akan tambahan modal untuk mengembangkan usaha. Di tengah diskusi itu, hadir pula harapan dari pemerintah. Camat Ndori, Fidelis Sobha, S.IP, menyampaikan tentang Program Koperasi Merah Putih sebagai peluang, bukan ancaman.

Ia menegaskan bahwa kekuatan koperasi terletak pada anggotanya. “Anggota harus tetap semangat,” pesannya.

Baginya, program pemerintah tidak dimaksudkan untuk menggantikan usaha yang sudah ada, melainkan memperkuat pelayanan bagi masyarakat, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan dasar seperti sembako.

Perjalanan koperasi ini juga tidak lepas dari tangan-tangan yang setia mendampingi. Yayasan Tananua Flores hadir sejak awal dari masa kelompok tani hingga menjadi koperasi. Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Ende pun terus memberikan bimbingan dan membuka peluang kerja sama.

Dari sinilah, harapan itu terus dijaga.

Koperasi Tani Sinar Harapan mungkin belum besar. Usahanya masih terbatas, anggotanya belum banyak. Namun di dalamnya, tersimpan sesuatu yang jauh lebih penting: semangat kebersamaan.

Dari iuran seribu rupiah, dari kerja bergilir di kebun, dari mimpi sederhana untuk hidup lebih baik semuanya telah menjelma menjadi kekuatan. Dan di tanah Wonda, harapan itu tidak pernah benar-benar padam. Ia terus tumbuh, dirawat, dan diwariskan.

“Selamat untuk koperasi kita,” ucap seorang anggota dengan penuh keyakinan.

“Semoga tetap hidup dan terus berkembang.”

Ditulis oleh : Bernadus S

Dari Gaga Gili ke Koperasi: Merawat Harapan di Tanah Wonda Read More »

Menabung dari Laut, Berbagi Sukacita Menjelang Lebaran

Shere Sekarang

Kisah Kelompok Simpan Pinjam Watukaka di Dusun Ippi

Ende, Ndori _ Tananua Flores |09 Maret 2026, Malam itu suasana di Dusun Ippi, Desa Serandori, Kecamatan Ndori terasa berbeda. Tawa kecil dan percakapan hangat terdengar dari rumah tempat anggota Kelompok Simpan Pinjam Watukaka berkumpul. Di tangan mereka ada buku catatan kecil, daftar simpanan, dan secercah harapan yang akhirnya menjadi nyata.

Hari itu bukan sekadar pertemuan biasa. Hari itu adalah momen share out saat ketika tabungan yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit akhirnya dibagikan kembali kepada para anggota, tepat menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya pembagian tabungan. Namun bagi anggota kelompok Watukaka, momen ini adalah buah dari kesabaran, disiplin, dan kebersamaan yang mereka bangun selama bertahun-tahun.

Kelompok Watukaka merupakan salah satu kelompok dampingan Tananua yang berdomisili di Dusun Ippi. Anggotanya terdiri dari nelayan, istri nelayan, serta enumerator perikanan. Kelompok ini dibentuk pada tahun 2022 dan mulai menjalankan kegiatan simpan pinjam pada September 2023.

Namun perjalanan menuju hari bahagia itu tidak selalu mudah. Di awal pembentukannya, kelompok ini memiliki 25 anggota untuk terlibat dalam pengelolaan perikanan. Dalam perjalanan 16 anggota terlibat dalam aktivitas simpan pinjam. Seiring waktu, berbagai keraguan muncul. Ada yang ragu apakah kegiatan menabung bersama benar-benar bisa berjalan lama. Ada pula yang merasa sulit menyisihkan uang di tengah kehidupan keluarga nelayan yang penghasilannya tidak selalu menentu.

Pelan-pelan jumlah anggota yang bertahan menjadi 10 orang. Tetapi justru dari sepuluh orang inilah komitmen itu tumbuh semakin kuat.

Mereka mulai belajar satu hal penting: menyisihkan sedikit penghasilan hari ini dapat menjadi penolong di hari esok. Kebiasaan menabung dalam kelompok mulai dirasakan manfaatnya. Ketika ada kebutuhan mendesak biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, atau perbaikan perahu anggota dapat meminjam dari kelompok sendiri tanpa harus bergantung pada koperasi mingguan yang biasanya mengenakan bunga cukup besar.

Sedikit demi sedikit tabungan itu terkumpul. Bulan demi bulan berlalu.

Hingga akhirnya, setelah hampir dua tahun menabung, kelompok Watukaka melaksanakan kegiatan share out pertama sesuai dengan SOP kelompok, yaitu pembagian tabungan secara periodik kepada seluruh anggota.

Momen ini terasa semakin istimewa karena dilaksanakan menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026.

Dalam pertemuan tersebut, pengurus kelompok menyampaikan laporan keuangan secara terbuka. Setiap angka dibacakan dengan jelas: jumlah tabungan yang terkumpul, hasil jasa kelompok, serta total dana yang akan diterima oleh masing-masing anggota sesuai dengan simpanan mereka. Transparansi ini menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan di antara anggota.

Ketika nama demi nama dipanggil untuk menerima bagiannya, wajah-wajah bahagia tak bisa disembunyikan. Tabungan yang terkumpul dari disiplin kecil setiap bulan kini berubah menjadi sesuatu yang nyata sesuatu yang dapat membantu mereka menyambut hari raya dengan lebih tenang.

Sahari Hamzah, salah satu anggota kelompok, mengungkapkan rasa syukurnya.

“Kami sangat bersyukur bisa menabung bersama di Kelompok Watukaka. Dengan adanya share out ini, kami bisa menggunakan tabungan untuk kebutuhan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Selama ini kami juga sangat terbantu karena bisa meminjam dari kelompok ketika ada kebutuhan keluarga yang mendesak. Kegiatan ini membuat kami lebih disiplin menabung,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan oleh Dasima, seorang ibu rumah tangga yang juga merupakan istri nelayan. Bagi dirinya, kelompok simpan pinjam ini bukan hanya tempat menabung, tetapi juga tempat belajar mengatur keuangan keluarga.

“Melalui kelompok ini kami belajar menabung sedikit demi sedikit. Kadang kami juga meminjam untuk kebutuhan darurat, seperti biaya sekolah anak atau memperbaiki sampan. Saat share out seperti ini kami merasa sangat senang karena hasil tabungan bisa membantu kebutuhan keluarga saat hari raya,” katanya dengan senyum.

Suasana pertemuan sore itu dipenuhi rasa syukur dan kebersamaan. Bagi anggota kelompok Watukaka, kegiatan share out bukan sekadar pembagian uang. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi bukti bahwa kebersamaan dan disiplin kecil dapat membawa perubahan nyata dalam kehidupan keluarga mereka. Kini kelompok Watukaka telah melanjutkan kegiatan simpan pinjam ke siklus kedua. Bahkan mereka sepakat meningkatkan jumlah simpanan wajib. Jika sebelumnya simpanan wajib sebesar Rp20.000 dan dana sosial Rp5.000 per bulan, kini simpanan wajib ditingkatkan menjadi Rp45.000 per bulan, sementara dana sosial tetap Rp5.000.  Semoga Bermanfaat,***

Ditulis oleh : Agnes Ngura/ Pendamping di site Ndori

Menabung dari Laut, Berbagi Sukacita Menjelang Lebaran Read More »

Tiga Hari yang Menginspirasi di Wologai Dua: Menemukan Arti Pendampingan

Shere Sekarang

Penulis : Maria Sisilia Virginia Wawo/ Staf YTNF

Ende Wologai Dua, —Tananua Flores | Tiga hari di Desa Wologai Dua menjadi perjalanan yang tak hanya mengubah cara pandang saya tentang pendampingan, tetapi juga menyalakan kembali semangat untuk bekerja dengan hati. Yayasan Tananua Flores (YTNF) menggelar Pertemuan Semesteral Petani pada tanggal 2–4 Oktober 2025, mempertemukan masyarakat tani dari 14 desa dampingan Program Peningkatan Hak Alam dan Hak Masyarakat (PHAM).

Bagi saya, ini adalah pengalaman pertama mengikuti kegiatan lapangan seperti ini. Sebelumnya, saya lebih akrab dengan data dan laporan di balik meja. Namun tiga hari di Wologai Dua menghadirkan babak baru dalam perjalanan saya bersama YTNF.

Sambutan Hangat di Tanah Adat

Kedatangan tim YTNF dan peserta dari tiga belas desa disambut hangat oleh tokoh adat dan masyarakat Wologai Dua. Tarian dan alunan gong gendang “Nggo Wani” khas Ende mengiringi langkah kami menuju panggung acara.
Suasana sakral terasa ketika seorang tetua adat menyambut kami dalam bahasa daerah yang penuh wibawa — bukan sekadar formalitas, melainkan tanda pengakuan dan penerimaan.

Kegiatan resmi dibuka oleh Kepala Desa Wologai Dua, disaksikan oleh Direktur YTNF, seluruh staf, Kepala Desa Jeo Dua, serta perwakilan pengurus LPHAM (Lembaga Perlindungan Hak Alam dan Hak Masyarakat), kelompok tani, dan para penghubung desa.
Tujuan utama pertemuan ini: mengevaluasi perjalanan enam bulan program dan merancang keberlanjutan — dengan fokus pada organisasi LPHAM, konservasi lingkungan (ulu ola), pertanian organik, kesehatan, dan ketahanan ekonomi masyarakat.

Pertemuan yang Penuh Kehangatan

Suasana di balai desa Mbani, ibu kota Desa Wologai Dua, terasa hidup. Tawa, semangat, dan juga keheningan reflektif bergantian mengisi ruangan.
Para peserta datang bukan dengan tangan kosong: mereka membawa hasil bumi — ubi, jagung, sayur, benih sorgum, pala, dan entres kakao.
Inilah simbol kedaulatan pangan dan semangat berbagi antar desa.

“Saya pikir evaluasi akan tegang,” gumam saya dalam hati. Namun ternyata, pertemuan ini lebih mirip ruang bicara dari hati ke hati.
“Kami datang untuk mencari solusi atas masalah di desa kami, juga untuk berbagi jika ada kelebihan,” ucap Bapak Darius Deki, Ketua LPHAM Desa Tenda.

Momen itu terasa dalam: setiap kisah yang dibagikan mengandung perjuangan, kegagalan, keberhasilan, dan keberanian menjaga hak-hak mereka sebagai penjaga alam.
“Dulu saya tak berani berbicara di depan banyak orang,” ujar Bapak Aurelius Ratu, penghubung Desa Tiwusora, “tapi sejak bergabung dengan kelompok, saya belajar dan kini saya bisa.”

Saya mulai memahami: pendampingan bukan tentang memberi jawaban, melainkan menemani masyarakat menemukan kekuatannya sendiri.

Menapak Jejak di Dusun Boro

Hari kedua, peserta dibagi dalam beberapa kelompok kecil untuk melakukan kunjungan ke tiga dusun: Mbani, Boro, dan Nuamue.
Saya bergabung dengan kelompok yang menuju Dusun Boro, berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat desa.
Kunjungan ini bertujuan memperdalam diskusi mengenai lingkungan, konservasi mata air, dan ketahanan pangan.

Sambutan warga Boro begitu hangat. Kami mendengarkan kisah Bapak Tomas Teke, tokoh adat setempat, tentang kearifan lokal yang masih dijaga dengan teguh.
Ia menceritakan bagaimana setiap siklus pertanian terhubung dengan nilai adat — mulai dari pembakaran kebun, penanaman padi, hingga upacara panen “Mi Are” yang sarat makna.
“Inilah cara kami menjaga waka nga topo wolo tana watu — warisan leluhur yang harus kami titipkan pada generasi berikutnya,” ujarnya dengan nada tegas dan penuh kebanggaan.

Petani sebagai Guru

Yang paling mengesankan, para petani menjadi narasumber utama.
Bapak Nikolaus De Ja dari Desa Tonggopapa memimpin sesi berbagi tentang budidaya pala.
“Berjuang di kebun itu tak mudah, tapi pala adalah pohon bernilai ratusan tahun. Ia memberi keberlanjutan bagi keluarga,” katanya.

Setelah sesi diskusi, kami bergerak menuju mata air Ratendare. Di sana, masyarakat bersama tim YTNF menanam bibit pohon pelindung.
“Mata air ini bukan milik satu orang, tapi milik bersama — milik alam dan generasi mendatang,” ujar Bapak Don, tokoh adat Boro.

Tak berhenti di situ, kami melanjutkan aksi nyata dengan praktik P3S Kakao (pemangkasan, pemupukan, panen sering, dan sanitasi) serta pembuatan rorak, lubang fermentasi dedaunan hasil pemangkasan untuk konservasi lahan.
Saya tersadar: keberlanjutan bukan sekadar teori, melainkan sinergi antara nilai adat, inovasi pertanian, dan kerja bersama menjaga alam.

Menutup dengan Syukur dan Tawa

Tanggal 4 Oktober, seluruh peserta kembali ke balai desa untuk mempresentasikan hasil kunjungan, temuan, dan ide-ide baru.
Evaluasi berubah menjadi ruang berbagi penuh inspirasi. Kepala Desa Wologai Dua menutup kegiatan dengan pesan hangat dan ucapan terima kasih.

Namun suasana belum berakhir.
“Jangan pulang dulu, belum seru tanpa joget perpisahan,” ujar Bapak Valentinus Doa, tokoh penting desa.
Kami tertawa, lalu menuruti ajakan itu. Malam itu, di bawah langit Wologai Dua, staf, petani, orang tua, dan anak muda menari bersama. Musik, tawa, dan persaudaraan menjadi penutup yang sempurna.

Kami pulang keesokan harinya — bukan hanya membawa catatan evaluasi, tapi membawa keyakinan baru: bahwa pembangunan berkelanjutan lahir dari hati yang gembira dan jiwa yang bersatu.

Refleksi: Pendampingan yang Menghidupkan

Pekerjaan pendampingan adalah jembatan antara kearifan masa lalu dan harapan masa depan.
Meski saya bukan pendamping lapangan, pengalaman tiga hari ini memberi kesan mendalam: pendampingan bukan sekadar laporan atau data, tetapi tentang menumbuhkan kader, ilmu, dan harapan di antara para petani.

Kini, meskipun saya kembali bekerja di belakang meja, semangat itu tetap menyala.
Saya siap melanjutkan peran kecil saya, dengan hati yang lebih peka dan mata yang telah melihat: bahwa perubahan besar sering dimulai dari langkah-langkah sederhana — dari desa yang bernama Wologai Dua.

Sampai jumpa di pertemuan semesteral berikutnya. Tujuan selanjutnya: Desa Jeo Dua.

Tiga Hari yang Menginspirasi di Wologai Dua: Menemukan Arti Pendampingan Read More »

Belajar Pertanian Organik di Tou Barat: Tantangan dan Solusi

Shere Sekarang

Ende, Kota Baru – Tananua Flores. Desa Tou Barat, Kecamatan Kota Baru, Kabupaten Ende, menjadi tuan rumah kegiatan kunjungan belajar pertanian organik dan cerdas iklim pada 21–22 Agustus 2025. Dengan mengusung tema “Berbagi Itu Asik dan Lestari Sambil Bermesraan dengan Alam”, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar langsung bagi para petani setempat.

Dari sharing pembelajaran dapat disimpulkan bahwa sebagian besar warga Tou Barat menggantungkan hidup pada kebun kakao, tanaman pangan, dan hortikultura. Lahan mereka masih subur, namun mulai terancam akibat praktik pertanian intensif pada masa lalu. Kegiatan ini dinilai relevan untuk membangun kesadaran baru tentang cara bertani yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kepala Desa Tou Barat, Frans Seda, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran petani.

“Pejabat bisa berganti, tapi petani selalu hadir memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh umat manusia,” ujarnya.

Menurutnya, profesi petani merupakan panggilan hidup yang mulia dan perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak.

Tantangan Perubahan Iklim

Manajer Program Tananua Flores, Heribertus Se, menyoroti persoalan perubahan iklim yang semakin nyata. Ia menyebut ketidakpastian musim, kekeringan, banjir, dan serangan hama sebagai tantangan besar yang dihadapi petani saat ini.

“Pertanian cerdas iklim bukan pilihan, melainkan keharusan. Desa Tou Barat punya kekuatan khas. Dengan belajar bersama, kita bisa melahirkan inovasi yang relevan bagi masa depan,” jelasnya.

Heribertus juga mendorong keberanian petani untuk saling berbagi pengalaman. Menurutnya, berbagi merupakan jalan menuju kekuatan bersama dalam menghadapi tantangan pertanian.

Kegiatan belajar pertanian organik di isi dengan materi-materi ini yang merupakan kehidupan dunia pertanian antara teori, Praktik dan juga refleksi pengalaman dari masing-masing individu. Dalam Sesi inti ini dibawakan oleh Benyamin, praktisi pertanian organik. Ia memaparkan lima strategi penting:

  1. Menggunakan varietas unggul tahan iklim ekstrim.
  2. Melakukan pemupukan berimbang dengan pupuk organik.
  3. Mengelola sumber daya air secara bijak.
  4. Mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia dengan ramuan alami.
  5. Melakukan diversifikasi tanaman untuk menjaga ketahanan ekonomi keluarga.

Peserta menilai materi tersebut tidak hanya sebatas teori, tetapi langsung menyentuh realitas kehidupan mereka sehari-hari.

Jaga Tanah Leluhur

Di akhir kegiatan, Heribertus mengingatkan pentingnya menjaga tanah dan air dari ancaman proyek besar yang merusak lingkungan.

“Tuhan titipkan tanah ini untuk dikelola dengan baik. Mari kita jaga tanah leluhur dari proyek multinasional yang merusak lingkungan,” katanya.

Kepala Desa Frans Seda menambahkan pesan kuat kepada masyarakatnya.

“Orang luar saja mau belajar di desa ini. Masa kita, masyarakat sendiri, menyia-nyiakan pengetahuan yang kita miliki? Mari kita kembangkan, demi anak cucu, demi tanah leluhur kita, demi bangsa,” tegasnya.

Kunjungan belajar di Tou Barat bukan sekadar pertemuan singkat, melainkan proses membangun kesadaran bersama. Kegiatan ini menekankan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil: menanam pohon, merawat tanah, berbagi pengalaman, dan mencintai kebun. Tou Barat kini memiliki cerita baru. Dari desa kecil dengan infrastruktur terbatas, ia tumbuh menjadi ruang pembelajaran bagi banyak orang. Dari petani sederhana, lahir guru kehidupan yang menyalakan harapan untuk masa depan pertanian yang lebih hijau, adil, dan lestari.

Ditulis : HS

Belajar Pertanian Organik di Tou Barat: Tantangan dan Solusi Read More »

Menjaga Laut, Menyulam Harapan

Shere Sekarang

Cerita Pendampingan Nelayan di Kecamatan Ndori
Oleh: Agnes Ngura – Yayasan Tananua Flores

Ende, Tananua Flores | 21 Agustus 2025, Di suatu sore berangin di Desa Maubasa, Kecamatan Ndori, suara anak-anak yang berlari di bibir pantai berpadu dengan sorak nelayan yang baru pulang melaut. Dari balik anyaman jala yang dijemur, tercium aroma asin khas laut yang selalu menemani kehidupan masyarakat pesisir. Bagi mereka, laut bukan sekadar hamparan biru, tetapi sumber hidup yang diwariskan dari leluhur.

Pada Juni 2021, saya mendapatkan tugas dari Yayasan Tananua Flores untuk melakukan pendampingan masyarakat nelayan di wilayah ini. Empat desa pesisir menjadi fokus kegiatan—Maubasa, Maubasa Timur, Serandori, dan Maubasa Barat. Namun, langkah awal saya tertuju terutama pada Desa Maubasa.

Tugas pertama adalah mengumpulkan data dasar. Dari hasil pendataan, saya menemukan jumlah nelayan gurita masih sedikit. Hanya ada 4 nelayan laki-laki dan 1 nelayan perempuan di Maubasa. Di Maubasa Timur, terdapat 4 laki-laki dan 2 perempuan. Serandori hanya punya 1 orang nelayan gurita, sementara pengepul gurita ada 2 orang—seorang perempuan di Maubasa dan seorang laki-laki di Maubasa Timur.

Data sederhana itu menjadi pintu masuk bagi pendampingan berikutnya. Yayasan Tananua lalu memfasilitasi pelatihan pembuatan alat pancing gurita yang ramah lingkungan, sekaligus memetakan lokasi tangkap gurita. Dari sini, nelayan mulai melihat bahwa laut mereka perlu dijaga agar tidak habis dikuras.

Pada Agustus 2021, dua enumerator direkrut—satu laki-laki di Maubasa, satu perempuan di Maubasa Timur—untuk mencatat hasil tangkapan gurita setiap hari. Catatan yang berlangsung hingga November 2021 membuka fakta pahit: tangkapan nelayan lokal sangat rendah dibandingkan nelayan pendatang dari Kabupaten Sikka yang menetap di wilayah itu.

Situasi ini menyadarkan kami bahwa ancaman nyata ada di depan mata. Tanpa langkah cepat, nelayan lokal bisa kehilangan sumber penghidupan.

Dari diskusi ke Aksi Bersama

Menyadari tantangan tersebut, kami memfasilitasi diskusi lintas desa. Hasilnya, terbentuklah Kelompok Kerja LMMA (Locally Managed Marine Area) beranggotakan 20 orang dari empat desa. Mereka bukan hanya kelompok kerja, tapi juga jembatan komunikasi antara masyarakat, pendamping, dan pemerintah.

Di forum-forum kecil, kami mulai membicarakan gagasan penutupan sementara lokasi tangkap gurita. Tidak mudah. Banyak nelayan menolak karena khawatir kehilangan mata pencaharian. Maka, strategi berubah: kami datang ke rumah-rumah, berbincang sambil duduk di teras, menjelaskan manfaat jangka panjang.

Perlahan, kepercayaan tumbuh. Pada Mei 2022, nelayan sepakat: “Kami coba tutup laut kami.”

Tanggal 15 Juni 2022 menjadi tonggak bersejarah. Seluas 410,18 hektar laut ditutup dari aktivitas penangkapan gurita hingga tiga bulan ke depan. Ritual adat “Kuwi Roe” mengawali penutupan, dipimpin oleh tokoh adat sebagai penghormatan pada leluhur dan penghuni laut.

Saat wilayah dibuka kembali pada 15 September 2022, empat nelayan pertama turun melaut. Hanya dalam 30 menit, mereka berhasil menangkap 4 ekor gurita dengan berat rata-rata lebih dari 1 kilogram. Kabar itu cepat menyebar. Nelayan lain bersemangat. Hasil tangkapan meningkat, keyakinan pun menguat: laut yang dijaga akan kembali memberi.

Dari Keberhasilan ke Gerakan Bersama

Karena sukses penutupan pertama, masyarakat sepakat melakukan penutupan kedua. Dimulai Desember 2022, seluas 136,946 hektar laut kembali dijaga. Saat dibuka pada Februari 2023, hasil tangkapan lebih melimpah.

Sejak itu, pola penutupan sementara menjadi kebiasaan baru. Hingga kini, Kecamatan Ndori sudah melaksanakan 11 kali penutupan dengan sistem bergilir. Setiap kali satu lokasi dibuka, lokasi lain ditutup. Jadwal tiga bulanan ini membuat laut terus beristirahat dan pulih.

Dampaknya luar biasa. Jumlah nelayan gurita melonjak: Maubasa kini punya 45 nelayan, Maubasa Timur 30 nelayan, Serandori 16 nelayan. Pada pembukaan penutupan ke-7, hasil tangkapan hari pertama mencapai 972 kilogram gurita, bahkan ada yang berbobot 4,7 kilogram per ekor.

Menuju Komitmen Lebih Besar

Keberhasilan demi keberhasilan membawa pada keputusan berani: penutupan permanen. Nelayan, tokoh adat, pemerintah desa, hingga Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT menyepakati tiga lokasi—Nusa Ria, Nusa Te’e, dan Watu Magi—dengan luas total 101,214 hektar.

Keputusan ini menunjukkan bahwa nelayan Ndori telah melangkah lebih jauh. Mereka bukan hanya menjaga laut untuk hari ini, tetapi juga untuk anak cucu.

Pendampingan ini mengajarkan satu hal: perubahan tidak lahir dari intervensi semata, melainkan dari kesediaan masyarakat menjadi aktor utama. Data, pelatihan, diskusi, dan ritual adat hanyalah jembatan. Inti kekuatan ada pada nelayan yang percaya bahwa laut bisa pulih jika dijaga bersama.

Di Kecamatan Ndori, laut bukan hanya sumber ekonomi. Ia adalah ruang budaya, ruang doa, dan ruang harapan. Dan di balik setiap gurita yang diangkat dari karang, tersimpan cerita panjang tentang perjuangan menjaga laut agar tetap memberi kehidupan. semoga

Menjaga Laut, Menyulam Harapan Read More »