Elias Mbani sapaan Akripnya Elias. Lahir di Worowona 24 Oktober 1968. Alamat tinggalnya di desa Ndorurea 1 Kecamatan Nangapanda Kabupaten Ende. Pendidikan terakhir Elias D3 ilmu Pembangunan, St. Ursula Ende. Saat ini Elias Bekerja di kantor Yayasan Tananua Flores sejak tahun 2025. Berikut ini CV Lengkapnya.
Nama : Elias Mbani
P a n g g i l a n : Elias
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat tanggal lahir : Worowona, 24 Oktober 1968.
Status : Sudah berkeluarga
Pendidikan Terakhir : D3 Ilmu Pembangunan
Alamat : Desa Ndorurea 1 Kecamatan Nangapanda.
Kantor : Jln Gatot Subroto lorong Bita Beach, gang 2 kiri Ende
PO.Box 32 – 86318, Telp./fax. 0381 23565
Email: mbanielias816@gmail.com
Rumah : Desa Ndorurea 1 Kecamatan Nangapanda.
Pengalaman Pendidikan:
a). Pendidikan Formal
Sekolah Dasar Katolik Tanajea.Kecamatan Nangapanda, 1977-1982
Sekolah Menengah Pertama Katolik Inemete Nangapanda, 1982–1985.
Sekolah Menengah Atas/ SMAK Andaluri Sumba Timur, 1985/1988
Akademi Administrasi Pembangunan AAP St. Ursula Ende, 1989/1992
b). Pendidikan Non Formal
Latihan gender
Latihan ternak sapi sistim penggemukan
Latihan UBSP
Latihan Manajemen Organisasi Sosial Bagi Pengurus Orsos di Kupang
Latihan Pengembangan Swadaya Masyarakat di Ende
Latihan PRA
Latihan Managemen Petugas Lapangan di Maumere
Magang Sistim pengairan sederhana di Maumere
Latihan Kesehatan Ibu dan Anak, Lokakaria Kesehatan di Maumere oleh VSO september 2005
Latihan Hukum Agraria di Ende 2005
Lokakarya Swadana Lembaga di Ende 2005.
Latihan kepemimpinan
Latihan perencanaan kebun
Latihan Konservasi Tanah dan Air
Latihan Managemen Posyandu
Latihan Pertanian Organik
Latihaan managemen organisasi
Latihan budidaya kopi
Latihan ics
Magang pengelolaan dan budidaya kopi di Aceh
Pengalaman kerja:
Sebagai Staf pada Yayasan Bina Masyarakat
Sebagai Koordinator Program pada Yayasan Bina Masyarakat Kerja Sama CCF Indonesia.sejak 1993 – 2001
Sebagai Petugas Lapangan di Yayasan Tananua Flores 2005- 2021
Sebagai Ketua Divisi Organisasi Petani dan Ekonomi Kerakyatan 2021 hingga sekarang.
Pengalaman lain :
Sebagai Ketua BPD Desa Ondorea 2001-2002.
Sebagai Kepala Desa Persiapan Desa Tiwerea di Kec. Nangapanda 2002-2004.
Pernah menjabat sebagai sekretaris Forum PPK Kec. Nangapanda 2002-2004.
Sebagai Tim Teknis proyek Air minum Bersih PPK Kecamatan Detusoko
Sebagai Ketua II Asosiasi Petani Kemiri Kabupaten Ende 2002-2006.
Ketrampilan :
Dapat mengoperasikan komputer.
Dapat mengendarai sepeda motor
Memfasilitasi kegiatan program maupun diluar program.
Bali, Indonesia. Tanaua Flores | Sebanyak 13 NGO mitra Misereor Indonesia bagian tengah dan timur mengikuti pelatihan Local Fundraising – Change the Game Academy yang digelar oleh Misereor yang bekerja sama dengan SATUNAMA .
Dalam Pelatihan tersebut yang menjadi trainer/Fasilitator Langsung oleh SATUNAMA yang dilaksanakan selama 5 hari di denpasar pada (22-26/4).
Peserta yang terlibat dalam kegiatan pelatihan antara lain utusan Magdalena Canossa Nurobo – Malaka, Yayasan Komodo Lestari Indonesia – Manggarai Barat, Yayasan Karya Murni – Ruteng,Yayasan Persekolahan Umat Khatolik – Sikka, Perguruan Tinggi UNIKA Waetabula,Yayasan Harapan Sumba,Yayasan Tananua Flores – Ende,Yayasan Dedikasi Tjipta Indonesia – Makasar ,Yayasan Kita Juga – Manggarai Barat,Perkumpulan Suara Papua – Papua,Yayasan Frans Lieshout Papua ( YAWU PAPUA ),JPIC SVD Ruteng dan SKPKC Fransiskan Papua
Program pelatihan ini dirancang secara menyeluruh dengan fokus pada peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta. Metode pelatihan secara partisipatif-adaptif menjadi landasan utama, didukung oleh pemanfaatan teknologi sebagai sarana pendukung. Pendekatan ini memungkinkan para peserta untuk aktif terlibat dalam proses pembelajaran, dan menjadikan pelatihan lebih relevan sesuai dengan dinamika kebutuhan masyarakat.
Pelatihan LFR IV ini diselenggarakan melalui kerjasama SATUNAMA bersama Misereor dan Kindermissionswerk. Peserta pelatihan merupakan organisasi-organisasi mitra Misereor dan Kindermissionswerk di Indonesia yang akan mendapatkan penguatan kapasitas terkait Local Fundraising.
Pelatihan ini dijadwalkan sebagai langkah untuk terus memberikan pemahaman mendalam, keterampilan dan strategi dalam pengembangan sumber pendanaan lokal bagi mitra-mitra Misereor dan Kindermissionswerk di Indonesia. Dengan mengundang partisipasi lebih luas dari CSO, CBO, dan kelompok swadaya di seluruh Indonesia, pelatihan ini diharapkan dapat menciptakan dampak yang lebih besar dan berkelanjutan dalam memperkuat sektor nirlaba di tingkat lokal.
Pelatihan ini tidak hanya menjadi forum untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga sebagai wadah kolaboratif untuk merancang inovasi baru dalam mendukung pertumbuhan keberlanjutan organisasi masyarakat.
Selain itu, dengan pelatihan Local Fundraising, kedepannya dalam membangun dukungan yang lebih luas terhadap inisiatif dan program CSO/CBO akan semakin mampu menjalankan perannya dalam menciptakan perubahan yang positif di masyarakat.
SATUNAMA yang dipercayakan untuk menyelenggarakan kegiatan pelatihan ataupun kegiatan lain dalam mendorong peningkatan kapasitas antara sesama mitra berkomitmen untuk terus berlanjut dalam memperkuat kapasitas organisasi masyarakat di Indonesia.
Sementara sebagai Mitra Nasional untuk program CtGA di Indonesia, SATUNAMA bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pelatihan CtGA. Fokus utama pelatihan ini adalah memberikan penguatan dan pengembangan kapasitas bagi CSO dan CBO di Indonesia. Dua isu utama yang diangkat dalam pelatihan ini adalah Mobilizing Support (MS) dan Local Fundraising (LFR).
Situasi Terkini
Lembaga-Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO) menjalankan misi, visi dan programnya bersama masyarakat sumber pendanaannya selama ini sangat bergantung pada donor-donor luar negeri, termasuk mitra-mitra Misereor di Indonesia.
Kebergantungan pada donor yang sangat tinggi ini membuat Lembaga Lokal di indonesia tidak berkelanjutan dimana saat donor mengurangi atau setop bantuan dan tidak ada dana mandiri maka LSM-nya langsung bubar. Di tambah lagi dengan kebijakan Negara lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan dalam negeri, dan juga terkait dengan kebijakan bantuan bagi Negara-negara lain dilihat dari yang paling membutuhkan. Kondisi ini juga berpengaruh terhadap ketersediaan dana di Misereor untuk mitra-mitra lokal di indonesia yang didukung oleh misereor.
Namun, pada Prespektif Misereor dan KMW ditemukan banyak mitra penerima dana pemerintah Jerman / BMZ melalui KZE yang masih kesulitan memenuhi persyaratan adanya kontribusi local sebesar 25 – 30 % akan sangat sulit untuk membantu Mitra dalam menutupi kekuarangan dana. Harus memulai dari kontribusi local dalam proyek yang diluncurkan.
Melihat masalah dan potensi diatas maka Misereor dan KMW memilki komitmen yang tinggi untuk mengembangkan kapasitas mitranya dengan mempertimbangkan keberlanjutan organisasi. Maka langkah awal yang dilakukan adalah melakukan pelatihan bagi Mitra tentang pelatihan penggalangan dana local (Local Fund Raising/LFR) kerja sama dengan Yayayasan Satunama di Jogya.
Misereor juga memandang ini adalah sesuatu yang mendesak karena adanya tantangan global, pembatasan melalui peraturan dan kebijakan pemerintah, menyusutnya ruang bagi masyarakat sipil dan adanya kebutuhan diversifikasi pendanaan .
Tujuannya adalah agar mereka dapat melayani masyarakat dengan lebih efektif dan menciptakan perubahan yang berkelanjutan di berbagai sektor di Indonesia. SATUNAMA mengukuhkan kolaborasi strategisnya dengan menjadi Organisasi Mitra Nasional (NPO) untuk Wilde Ganzen Foundation melalui Program Change the Game Academy (CtGA). Keanggotaan ini, yang dimulai pada tahun 2022, menjadikan SATUNAMA sebagai mitra nasional untuk Indonesia dan anggota Change the Game Academy Global Alliance.
Langkah ini bukan hanya untuk memberikan dampak positif di tingkat nasional, tetapi juga untuk berkontribusi pada pengembangan CSO/CBO secara global bersama mitra internasional, membangun jaringan kolaboratif yang dapat memperkuat peran organisasi nirlaba dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, serta membuka pintu terhadap inovasi dan kolaborasi pengembangan sumber daya manusia dan kapasitas CSO/CBO di Indonesia dan skala global. Sementara sebagai Mitra Nasional untuk program CtGA di Indonesia, SATUNAMA bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pelatihan CtGA. Fokus utama pelatihan ini adalah memberikan penguatan dan pengembangan kapasitas bagi CSO dan CBO di Indonesia. Dua isu utama yang diangkat dalam pelatihan ini adalah Mobilizing Support (MS) dan Local Fundraising (LFR).
Tahun 2023 menjadi momentum bersejarah dengan terselenggaranya Pelatihan Change the Game Academy pertama di Indonesia, yaitu pelatihan Local Fundraising Batch I, yang diikuti oleh lembaga CSO, CBO, dan kelompok swadaya di berbagai wilayah Indonesia. Pelatihan ini menjadi titik awal sebuah perjalanan panjang yang terus berlanjut. Selama tahun 2023, pelatihan Change the Game Academy telah terlaksana 4 (empat) kali dengan 3 (tiga) kali pelatihan Local Fundraising dan 1 (satu) kali pelatihan Mobilizing Support. Jumlah peserta total pelatihan CtGA (LFR dan MS) telah mencapai 68 orang dari 33 organisasi yang berasal dari seluruh Indonesia. Khusus untuk pelatihan Local Fundraising, dengan peningkatan kapasitas dalam ranah Local Fundraising, diharapkan bahwa organisasi-organisasi tersebut dapat mengembangkan sumber pendanaan mereka secara berkelanjutan, memperkuat keuangan mereka, dan meraih dampak yang lebih luas di masyarakat.
Dok.Halimah, (Diskusi paskah Pelatihan LFR di kantor Tananua)
Refleksi Tananua Flores
Secara organisasi Yayasan Tananua Flores dan semua mitra Misereor berkembang dalam memperkuat kapasitas masyarakat untuk penghidupan yang berkelanjutan.
Namun ada beberapa kelemahan utama yang dihadapi antara lain:
Pertama, Tananua Flores merupakan salah satu dari lembaga mitra peserta pelatihan yang sangat rentan karena 80% operasional organisasi dan program sangat tergantung pada donor asing. Dan apabila donor berhenti mendadak maka lembaga bisa langsung mati atau bubar.
Kedua, Tananua Flores bersama semua lembaga peserta pelatihan selama ini mengakses dana besar kerja sama Misereor dan pemerintah Jerman dengan dana talangan 30% sebagian besar dipenuhi Misereor. Dengan demikian mitra belum mampu memenuhi kontribusi 30% chas.
Ketiga, Tananua Flores dan beberapa lembaga mitra peserta pelatihan selama ini belum belum banyak memanfaatkan sumber dana nasional dan sumber dana local, penelitian dari suatu lembaga menyatakan Indonesia Negara penderma di dunia.
Harapan tananua flores dari hasil refleksi terkait situasi kekinian dari organisasi pemberdayaan masyarakat yakni :
Pertama, Agar yayasan tetap hdiup dan berkembang bersama masyarakat maka sangat penting adanya dana mandiri organisasi.
Kedua, Untuk mendapatkan dana mandiri maka yayasan perlu menggalang Dana-dan dari pemerintah dan juga penggalangan dana lokal dari masyarakat sekitar.
Ketiga, Setiap organisasi perlu memasukan program penggalangan Dana lokal dalam organisasi masing-masing.
Ke empat, Setiap organisasi perluh membentuk tim penggalangan dana lokal.
Nagekeo, Tananua Flores | Menjaga Produksi Perikanan agar terus berlanjut Nelayan dan masyarakat Desa kotodirumali melakukan penutupan permanen ke 2 di 3 lokasi tangkap gurita. Kegiatan awal implementasi penutupan permanen tersebut bertempat di kantor Desa kotodirumali dan dilanjutkan dengan seremonial adat di lokasi Ngadutangi pada(19 /01/2023)
Menurut kepala desa Kotodirumali Maternus Mau kegiatan implementasi dan seremonial untuk melakukan penutupan permanen Lokasi tangkap sebenarnya sudah direncanakan sejak November 2023 namun, karena kondisi dan Cuaca laut yang sama sekali belum bersahabat ditambah lagi dengan beberapa kesibukan dari masyarakat dan Pemerintah desa maka sampai saat ini baru bisa dilaksanakan.
Kepala desa tersebut menuturkan kegiatan yang didorong oleh Tananua adalah sangat penting karena berkaitan dengan menjaga Ruang laut untuk sebuah keberlanjutan dan butuh keterlibatan masyarakat serta komitmen dari Nelayan itu sendiri.
“ Agar nelayan senyum dan tangkap di lokasi yang dekat maka Nelayan juga harus mulai melakukan penjagaan dan pengelola dengan baik”,Turur kades
lanjutnya “ Jangan kita sebagai pelaku utama menghabiskan dengan pola penangkapan yang tidak ramah lingkungan”, Tuturnya
Kepala desa kotodirumali berharap, Perlu ada kerja sama antara kelompok nelayan, masyarakat dan pemerintah desa setempat dengan tujuan Lokasi yang ditutup bisa menjadi lumbung bagi Nelayan itu sendiri.
“ Saya berharap antara kami pemerintah desa, kelompok dan tokoh masyarakat perlu ada kerjasama, jaga lumbung ikan kita,” harap kades itu.
Maternus Mau juga apresiasi kepada Tananua dan Blue Ventures karena sudah 3 tahun lebih masih setia mendamping warga masyarakat nelayan di desa.
Sementara itu, Staf Tananua Flores Yulius Fanus Mari dalam sambutannya mengatakan bahwa ada 4 hal yang perlu dikerjakan bersama antara lain
Pertama, Kegiatan penutupan permanen lokasi tangkap dan atau penutupan sementara perlu dibuat dalam peraturan desa atau permakades. Sehingga dampak dari mengatur sebuah kebijakan itu bisa berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat itu sendiri.
Kedua, kelompok Pengelola dan pengawasan di desa harus betul menjaga perannya sehingga dalam proses pengawasan di lokasi Tangkap bisa secara maksimal.
Ketiga, Kelompok Nelayan harus mempunyai Tabungan untuk kebutuhan kedaruratan nelayan dalam melaut maupun dalam hal peningkatan ekonomi nelayan. Kalau di Laut Nelayan sudah berpikir berkaitan dengan lumbung sebaliknya dalam hal pendapatan perlu diatur guna mendapatkan Nilai tambah.
Ke empat, Terkait dengan pendataan gurita saat ini juga masih difokuskan dengan sistem pendataan menggunakan Lending Monitoring. Pendataan menjadi penting dalam mendorong sebuah perencanaan yang baik. Desa harus memiliki data perikanan sehingga kedepannya dalam mendorong sebuah kebijakan diambil berdasarkan Data.
Selain itu Staf Tananua juga menyampaikan apresiasi kepada nelayan di desa kotodirumali dan podenura yang sampai saat ini telah bersama-sama berjuang membangun model pengelolaan perikanan berbasis masyarakat di desa kotodirumali.
“Saya ucapkan Apresiasi dan terima kasih kepada Nelayan Kotodirumali beserta LMMA yang telah Melaksanakan kegiatan Penutupan permanen lokasi tangkap, Ini merupakan yang kedua setelah dilakukan pertama kali oleh masyarakat Ndori,” Ucap jhuan akrabnya
Dia berharap kedepannya Masyarakat Kotodirumali bisa melakukan Proses pengawasan dan harus masuk di dalam peraturan desa agar bisa dikelola dan dijaga secara kearifan lokal.
Ada 3 lokasi yang ditutup secara permanen dan dikukuhkan secara adat oleh tokoh ada di desa kotodirumali. 3 lokasi itu antara lain watudako,ngadutangi,dan busa.
Kegiatan itu diawali dengan Seremonial adat di lokasi penutupan permanen oleh tokoh adat di desa kotodirumali. Turut terlibat dalam kegiatan tersebut Pemerintah Desa, Anggota BPD, Tokoh Agama, Kelompok LMMA dan kelompok nelayan Kodim Octopus.
Ende, Tananua Flores | Usai Sosialiasai Peraturan bersama 5 kepala desa di kecamatan Ndori, Masyarakat ndori lakukan kegiatan hari bersih dengan membersihkan wilayah pesisir laut dan lingkungan sekitar ndori
Gerakan hari bersih ini dilakukan atas inisiatif masyarakat sebagai tindak lanjut dari rencana masyarakat pesisir pada saat dilakukan sosialisasi peraturan bersama Kepala Desa di kecamatan Ndori tentang kerjasama pemanfaatan wilayah pesisir dan laut berbasis masyarakat.
Ikut terlibat dalam kegiatan hari bersih ini adalah tokoh agama, tokoh pemuda, Pemerintah desa dan seluruh Nelayan di wilayah pesisir ndori pada (10/11)
Berkaitan dengan Peraturan bersama kepala desa yang tertuang dalam pasal (8) yaitu dilarang membuang sampah di laut. Dan menyadari hal tersebut masyarakat bersama pemerintah setempat membuat rencana kerja untuk membersihkan sampah di area pantai ipi dusun 2 ipi desa Serandori yang akan dilakukan pada setiap hari jumat.
“kita harus mendukung penuh dengan kegiatan ini, sebeb beberapa kegiatan yang didampingi Tananua telah membawa perubahan bagi nelayan kita”, Kata sulaiman Ahmad.
Tokoh agama dusun 2 ipi bapak Sulaiman Ahmad yang selama ini sangat berperan penting dalam melakukan kegiatan buka-tutup rumah gurita maupun kegiatan -kegiatan kelompok nelayan mengatakan bahwa dirinya mendukung penuh kegiatan yang selama ini Tananua dampingi di wilayah Ndori.
Selain itu, Sulaiman juga menyampaikan yang menjadi kendala saat ini adalah sebagian masyarakat yang belum memiliki Jamban di rumah masing-masing.
Sebagai tokoh yang ada di masyarakat Sulaiman mengungkapkan bahwa sumbangsih program yang dilakukan Tananua selama ini sangat bermanfaat bagi masyarakat yang ada di Ndori khususnya di Dusun 2 Ipi.
Jika kegiatan ini akan terus dilakukan kebersihan rutin setiap hari jumad maka Lingkungan pastinya kedepan akan jauh lebih baik.
Kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama jadi perluh ada keterlibatan dalam melakukan kerja bersih memilih sampah agar bisa diamankan pada tempatnya. Lingkungan yang kotor akan secara perlahan menggangu Kesehatan keluarga, dan lingkungan pun tidak sehat.
Sementara itu pada saat yang sama, pemerintah desa dalam hal ini kepala dusun 2 ipi (ibu Mira) menghimbau masyarakat untuk agar tidak boleh membuang sampah apapun di pantai termasuk membuang hajat. Kepala dusun itu menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya dilakukan 1 hari namun kedepannya akan dilakukan pada setiap hari jumad.
Said Ketua kelompok nelayan” kegiatan jumad bersih dulu pernah kami lakukan dan akhir-akhir ini jarang, kami belum menyadari bahwa jangan membuang sampah di pantai, kami belum tau apa dampak ketika membuang sampah di laut. Berkat dampingan dari Tananua saat ini kami dan masyarakat sudah tau, jadi harapannya kedepannya tidak ada lagi yang membuang sampah di sekitar pantai ini.
Ditulis oleh : Agnes Ngura, PL di Wilayah kecamatan Ndori