


NDORI, ENDE – Pembukaan penutupan Sementara rumah gurita setelah penutupan Sementara pada siklus ke-16 membawa berkah luar biasa bagi nelayan di wilayah Ndori, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.
Dalam satu hari penangkapan, Rabu (4/11/2026), sebanyak 59 nelayan dari tiga lokasi berhasil memperoleh total 2.275,1 kilogram atau lebih dari 2,2 ton gurita.
Jika dihitung dengan harga rata-rata Rp80.000 per kilogram, hasil tangkapan dalam sehari tersebut memiliki estimasi nilai ekonomi mencapai Rp182.008.000 atau sekitar Rp182 juta.
Hasil ini diperoleh setelah lokas Rumah Gurita dilakukan penutupan sementara selama tiga bulan, terhitung sejak 3 Agustus hingga 4 November 2026.
Berdasarkan data enumerator, hasil tangkapan dalam satu hari tersebut berasal dari tiga Desa, yakni Maubasa Timur mencatat 820 kilogram dari 22 nelayan, Maubasa memperoleh 524,1 kilogram dari 18 nelayan, sedangkan Serandori menghasilkan 931 kilogram dari 19 nelayan.
Agnes Ngura, Pendamping Lapangan Yayasan Tananua Flores yang bertugas di wilayah Ndori, mengungkapkan bahwa hasil pembukaan Rumah Gurita periode ke-16 kali ini sangat luar biasa.
Hasil pengamatannya pada Rabu (4/11/2026), sejumlah nelayan mampu memperoleh 30 hingga 100 kilogram gurita hanya dalam waktu penangkapan sekitar 2–3 jam.
“Ini hasil yang sangat luar biasa. Dari pantauan kami, nelayan bisa mendapatkan 30 sampai 100 kilogram gurita dalam waktu relatif singkat,” ungkap Agnes.
Ia menjelaskan bahwa aktivitas penangkapan berlangsung dalam beberapa trip. Pada trip pertama, nelayan mulai melaut sekitar pukul 06.00 hingga 08.00 WITA. Setelah kembali untuk beristirahat dan makan, mereka melanjutkan aktivitas penangkapan hingga mencapai tiga trip dalam sehari.
Menariknya, pembukaan Rumah Gurita kali ini juga memperlihatkan kuatnya kerja sama dalam keluarga nelayan. Para istri turut mengambil bagian dalam aktivitas perikanan.
Ketika suami melaut untuk menangkap gurita, para istri menjemput hasil tangkapan dan membantu proses pembersihan serta penanganan gurita sebelum dijual.
2,2 Ton Gurita dalam Sehari, Estimasi Nilai Ekonomi Rp182 Juta
Capaian ini menunjukkan besarnya potensi ekonomi sumber daya laut ketika dikelola secara bijaksana dan diberikan kesempatan untuk pulih.
Nelayan Rasakan Langsung Manfaat Penutupan Rumah GuritaNurhasan, salah seorang nelayan, mengaku sangat puas dengan hasil tangkapan kali ini.
Selain jumlahnya melimpah, ukuran gurita yang diperoleh juga relatif besar.
“Hasil kali ini sangat memuaskan. Kami mendapatkan gurita berukuran besar dan jumlahnya juga sangat banyak. Semua nelayan mendapatkan hasil. Kami benar-benar merasakan dampak dari adanya penutupan. Kalau tidak ada penutupan, belum tentu kami bisa mendapatkan hasil sebanyak ini. Justru mungkin kami tidak mendapatkan apa-apa,” ungkap Nurhasan.
Pengalaman tersebut memperkuat keyakinan nelayan bahwa memberikan kesempatan kepada laut untuk pulih bukan berarti menghentikan sumber penghidupan mereka, melainkan menjadi investasi bagi keberlanjutan hasil tangkapan pada masa mendatang.
Harga Gurita Mendukung Pendapatan Nelayan
Melimpahnya hasil tangkapan semakin memberikan keuntungan karena didukung harga jual gurita yang cukup baik. Berdasarkan informasi harga pada hari pembukaan, gurita dipasarkan menurut kategori ukuran:- Grade A: Rp105.000/kg (ukuran 2 kg ke atas).- Grade B: Rp95.000/kg (ukuran 1,0–1,9 kg).- Grade C: Rp80.000/kg (ukuran 0,5–0,9 kg).- Grade D: Rp60.000/kg (ukuran 0,3–0,4 kg).
Sesuai keterangan di lapangan, sejumlah nelayan bahkan mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta dalam sehari.
Rumah Gurita, Investasi bagi Masa Depan Laut dan NelayanKeberhasilan pembukaan Rumah Gurita periode ke-16 menjadi gambaran bahwa pengelolaan sumber daya laut berbasis masyarakat dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi.
Melalui kesepakatan penutupan sementara selama 3 Agustus hingga 4 November 2026, kawasan perairan diberikan kesempatan untuk mendukung proses pemulihan dan pertumbuhan sumber daya gurita.
Hasil tangkapan lebih dari 2,2 ton hanya dalam satu hari menjadi gambaran nyata manfaat yang dirasakan masyarakat dari upaya menjaga sumber daya laut.
Bagi masyarakat Maubasa Timur, Maubasa, dan Serandori, Rumah Gurita bukan sekadar kawasan yang ditutup sementara dari aktivitas penangkapan.
Lebih dari itu, Rumah Gurita merupakan bentuk komitmen bersama untuk menjaga laut, memulihkan sumber daya perikanan, sekaligus mempertahankan mata pencaharian keluarga nelayan.***
Oleh: Jhuan Mari
Eksplorasi konten lain dari Tananua Flores
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



