Petani Desa Randoria Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende Lakukan Konservasi Tanah dan Air

Ende, TananuaFlores –  Petani desa Randoria Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende lakukan Konservasi Tanah dan Air. Konservasi ini merupakan hal penting dan  berarti bagi petani desa Randoria Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende untuk  menjaga  humus Tanah agar tetap terjaga dan menjaga kualitas tanah dan air tetap terlindungi .

Bagi Masyarakat Desa Randoria  untuk menunjang kebutuhan rumah tangga dan keseharian mereka sangat bergantung pada hasil pertanian. Hasil pertanian tersebut diantaranya seperti hasil komoditi, ternak besar maupun ternak kecil dan Lebih dari itu banyak  petani yang mendapat hasil olahan pertaniannya melalui hasil pangan.

Berbicara tentang hasil pangan yang menjadi kebutuhan masyarakat Desa Randoria agar bisa meningkat sangat erat kaitannya dengan  bagaimana Petani melakukan Konservasi Tanah dan Air (KTA). Hal ini menjadi penting karena pola pengolahan lahan dengan sistim teras bangku dan teras guludan merupakan salah satu metode untuk tanah dan Air tetap terjaga kualitasnya.

Perluh di ketahui bahwa Perlakuan petani dalam olahan lahan harus tetap memperhatikan Konservasi Tanah dan Air, sehingga pada saat mamasuki musim tanam tahun berjalan maka, yang menjadi faktor penentu terhadap banyaknya hasil panen tergantung dari petani itu sendiri melakukan olahan yang sesuai dengan kondisi tanah tersebut .

Sebanyak 14 orang Petani yang tergabung dalam kelompok Ingin Maju melakukan kegiatan kerja konservasi Tanah dan air. Kegiatan tersebut di laksankan pada 19/8 Lalu di desa Randoria tepatnnya di salah satu kebun anggota Kelompok.  Konservasi tanah dan air tersebut merupakan yang pertama dilakukan di kelompok Ingin maju dan yang pertama pula di desa itu.

Gerardus Gedu  ketua Kelompok Ingin Maju Mengatakan Kegiatan hari ini meliputi penyiangan dengan luas lahan 0.25 ha, pengaturan kembali bedengan sebanyak 5 bedeng serta melakukan pembenaman rumput yang akan bermanfaat sebagai pupuk dasar.

Menurutnya Ketua Kelompok itu bahwa dengan Melakukan kembali Konservasi Tanah maka dengan sendirinya Petani akan memulai pola pertanian modern yang tetap menjaga kualitas humus tanah dan menjaga air tanah tetap bertahan sebagai penyuburan atas tanaman.

Sementara itu Theresia Ngela Menjelaskan bahwa Cara pembenaman rumput harus dilakukan  sebab setelah rumput hancur dan akan menjadi humus manfaatnya  sangat  baik untuk menjaga agar tanah tetap subur.

Lanjut di katakannya bahwa Pembenaman juga harus dilakukan di kebun masing-masing ataupun di kebun kelompok, baik dilakukan perorangan maupun dilakukan secara berkelompok. Sehingga tanah di kebun masing-masing akan subur dan kualitas tanah terurai dengan baik.

“ cara pembenaman rumput perlu dibuat di Kebun kita baik dilakukan secara kelompok maupun seorangan sebab sangat bermanfaat untuk menjaga agar tanah tetap subur seteleh rumput hancur dan menjadi humus”, katannya. ( Elias)

Petani Desa Randoria Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende Lakukan Konservasi Tanah dan Air Read More »

Kreativitas Masyarakat Desa Sebagai Upaya Keberlanjutan

Salam Pemberdayaan !

“Upaya pendampingan  terhadap masyarakat desa melalaui kelompok kerajinan tangan bukan sekedar sebuah hal untuk menjalankan tugas pendampingan  terhadap masyarakat tetapi bagaimana kita bisa bertanggungjawab untuk keberlanjutan  usahan yang sedang mereka perjuangkan”

 

Mengenal Marme,Tenun dari desa Kolikapa dan Kursi Rotan dari  desa Kebirangga Selatan

Marme di kenal sebagai salah satu produk  kerajinan tangan dari Desa kolikapa. Sejak tahun 2019 hingga 2021  Produk ini terus di kembangkan oleh salah satu kelompok usaha di desa kolikapa. Bukan saja minyak Marme tetapi kelompok usaha ini juga mengembangkan tenun ikat. Usaha kerajinan tangan ini tidak hanya di Desa Kolikapa tetapi  juga ada di desa Kebirangga selatan. Disana kelompok tani ini mengembangkan usaha kerajinan tangan dengan memanfaatkan bahan baku dari Rotan untuk membuat Kursi,meja dan lain-lain.

Memang kalau dilihat Jenis usaha yang di kembangkan oleh kelompok tani ini membuahkan nilai ekonomis yang  sangat tinggi jika semua itu di manfaatkan dan di kembangkan secara baik. Namun hal ini menjadi berbeda jika Produksi meningkat dari kelompok tani  sedangkan respon pasarnya sangat menurun tentu ini menjadi sebuah tantangan.

Sekarang ini tantang terbesar dari seluru usaha petani baik itu kerajinan tangan maupun usaha komodi pertanian semuanya bergantung pada pasar. Peluang pasti ada namun struktur untuk mendukung agar produk yang di hasilkan mempunyai nilai ekonomis butuh kerja keras.

Dari kedua desa yang disebutkan di atas kelompok tani yang mengembangkan usaha kerajinan tangan mengalami berbagai kendala baik itu alat teknologi, permodalan maupun akses pasar.

Yang di alami oleh kelompok tani dari kedua desa tersebut adalah ketersedian akses pasar.  Bukan hanya itu namun ada beberapa factor yang menjadikan produk petani di desa kala bersaing di dunia pasar modern. Realitasnya Usaha kelompok tani pengrajin terus berjalan walupun dengan nilai ekonomis pas-pasan. Ada beberapa penunjang usaha yang perluh di damping pemerintah maupun lembaga swasta lainnya, diantarannya perizinan, hak penciptaan maupun pengujian di Balai POM. Semuanya itu menjadi factor pendukung dalam memajukan usaha kelompok. Semangat petani dalam membangun usaha produksi sudah ada tinggal factor penunjang dan pendampingan Rutin oleh unsur yang berkepentingan.

Dari gambaran singkat di atas sebenarnya kelompok yang ada di dua desa tersebut sangat membutuhkan unsur penunjang agar hasil karya dari kelompok dapat membantu meningkatkan ekonomi rumah tangga mereka.  Saat ini pendampingan Rutin dari Staf tananua Flores sudah ada, produktifitas dan keterampilan petani sudah mulai di bangun, memasarkan produk lewat pasar di desa sudah perlahan di jalankan hanya Peningkatan nilai eknomisnnya masih sangat minim bahkan tidak ada.

Dampak Covid 19

Situasi dunia saat ini sedang mengguncang dengan pandemic wabah virus corona. Dan kondisi itu sangat mengganggu sendi-sendi kehidupan masyarakat. Dengan pandemic ini seluruh aktivitas masyarakat menjadi terbatas, bahkan mengacam nyawa. Hal ini juga terganggu usaha-usah produktif yang ada di desa-desa. Kelompok-kelompok usaha yang ada di desa-desa tentu sangat terpukul dengan kondisi ini. Namun Masyarakat yang telah tergabung dalam kelompok usaha petani tidak tinggal diam. Mereka terus bergerak untuk mempertahankan hidup bekerja dan berwirausaha demi menghadipi gelombang massif pandemic covid 19.

Dan jangan sampai covid 19 ini akan terus memperlemah seluruh aktivitas ekonomi, kelompok tani di desa harus mempunyai harapan untuk bangkit dan mengembangkan kembali usaha produktif.  Pandemi covid 19 ini bukan saja mengancam kelompok tertentu  melainkan semua masyarakat di dunia ini.

Pandemi Covid 19 bukan membuat semangat berkelompok mundur namun harus mulai bangkit untuk melakukan sesuatu. Sambil menunggu kapan perang  melawan covid ini berakhir maka  semangat masyarakat desa  harus di bangun untuk Merintis berbagai bentuk kegiatan  peningkatan ekonomi.

Kedua desa tersebut antara kolikapa dan Kebirangga selatan saat ini tentu dalam melakukan aktivitas tetap memperhatikan protokol kesehatan sesuai ketentuan dan arahan pemerintah. Mentaati Protokol kesehatan itu tentu menjadi gerakan bersama untuk pemutusan matarante Penyebaran wabah Covid 19. Dan tugas utama pendamping di desa adalah terus membangun edukasi dan pemahaman agar kesehatan masyarakat tetap terjaga dan bisa keluar dari bencana yang ada. Wabah COVID 19 ini juga mengancam hubungan social kemasyarakatan. Semula hubungan social berjalan dengan baik antar yang satu dengan lainnya, sekarang dengan pandemi Covid 19 ini semuanya menjadi terbatas. Di bidang Pendidikan, bidang pertanian dan bidang pariwisata semuanya terganggu.

Ancaman Covid 19  telah menambah pekerjaan baru bagi Kelompok usaha yang ada di desa yakni bagaimana strategi pemasaran  yang perluh di lakukan dalam menghadapi  situasi dunia baru saat ini.

Persoalan serius yang dihadapi oleh kelompok  adalah pemasaran bersama  atau Pasar yang bisa mengakses produk dari kelompok yang ada di desa. Saat ini kedua desa yang di sebut di atas  menjadi salah satu  desa dampingan Yayasan Tananua Flores. Dan Dorongan Tananua adalah menjadikan Kelompok usaha yang ada di desa mempunyai produk unggulan , sehingga potensi yang ada di Desa bisa membantu peningkatan ekonomi keluarga.  Dan yang kondisi saat ini Sarana pemasaran masih menjadi kendala sehingga butuh  diperhatikan secara serius, agar dapat mengakomodir hasil usaha dari masyarakat desa. Akses informasi pasar  bagi masyarakat sangat sedikit dan ini tidak mungkin menjadi peran masyarakat untuk berpikir, tentunya pihak pemerintah agar secepatnya membuka isolasi yang sedang membalut masyarakat.

Mewujudkan kemandirian ekonomi di desa.

Mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat memang membutuhkan proses yang berkelanjutan agar ketahanan ekonomi lebih kuat dan masyarakat mengalami perubahan dari waktu-kewaktuharus, dan untuk mencapai itu sehingga masyarat untuk menghantar masyarakat menuju kepada titik kesejahteraan tentu pembangunan yang ideal membutukan modal dan kerjasama serta dukungan dari berbagai pihak.   Sebab, dari rekam jejak lembaga Yayasan Tananua Flores sudah bekerja dengan desa sudah sangat lama yaitu dari desa yang satu ke desa lainnya di kabupaten Ende.

Yayasan Tananua Flores-Ende (YTNF) merupakan sala satu Lembaga swadaya Masyarakat yang masih konsisten selama 30 tahun mendampingi masyarakat desa melalui pendekatan pemberdayaan berbasis swadaya.

Dalam proses pendampingan melalui bidang kerja ekonomi kemasayrakatan sebagai pintu masuk pendekatan menggali potensi yang masyarakat Konsep itu sebagai pintu masuk agar Tananua bisa mulai mendamping masyarakat sesuai dengan tujuan pemberdayaan.

Kondisi yang ada saat ini terdapat sejumlah kelompok produktif yang fokus pada bidang usaha bersama seperti yang telah disebutkan diatas.

Kelompok usaha bersama ini dirintis oleh masyarakat sendiri setelah melalui proses pendekatan fasilitator  Tananua Flores dengan masyarakat  itu sendiri sehingga kesadaran yang dibangun adalah kesadaran masyarakat bukan atas desakan oleh pihak luar.

Tahapan yang dilakukan yaitu dengan pengorganisasian wadah, bisnis plane dan mekanisme kelompok usaha serta pemasaran, dan tahapan ini  adalah bagian dari tugas fasilitator.

Beberapa kelompok yang disebutkan diatas telah sampai pada tahapan pemasaran, meski saat ini sedang mengalami berbagai kondisi eksternal. Beberapa kondisi eksternal yang membuat produktifitas menurun  adalah pandemi covid 19 yang mengancam kestabilan pemasaran hasil prodak petani.

Keberlanjutan sebagai target utama

Merawat kebersamaan merupakan sebuah perkara besar oleh siapapun dan lembaga manapun yang berperan pada komunitas atau obyek tertentu. Seringkali menyuarakan tentang keberlanjutan menjadi sebuah diplomasi yang berujung pada janji. Hal ini menggambarkaan ada banyak kisah kebersamaan yang tidak bersifat keberlanjutan.

Membangun wadah ekonomi masyarakat atau komunitas bukanlah sebuah perjuangan yang mudah, melainkan sebuah pertaruhan identitas “fasilitator” dengan masyarakat /komunitas yang kita geluti. Kepercayaan bagi masyarakat adalah sebuah modal yang membekas pada nalar individu untuk memastikan komitmen yang disebut dengan keberlanjutan. Sebagai fasilitator, tentu kita menginginkan sebuah perubahan yang terjadi pada masyarakat namun kita juga membutukan peran yang luas dari pihak lain agar sama-sama berjuang memperbaiki ekonomi masyarakat.

Kendala yang dialami oleh kelompok dampingan tananua flores seperti yang diceritakan diatas berpotensi mengancam dan penyebab keberlanjutan wadah ekonomi masyarakat yang sedang dirintis. Hal tersebut harus menjadikan sebuah kesadaran dan reflektif bersama bagi kita semua agar dapat menemukan solusi bersama yang bermuara pada pencegahan dan mengatasi solusi bersama.

Bila kita menempatkan target keberhasilan pada skala kuantitas maka poin pencapaian mungkin telah kita lewati karena telah menghasilkan banyak wadah ekonomi yang terlahir dari pelosok desa. Contoh lainya adalah sejak tahun 2007 desa-desa di NTT sedang dihebokan dengan kelompok ekomomi yang digalang oleh pemerintah daerah, sebut saja program anggur merah dan sejenisnya yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga, lalu secara nasional di luncurkan ke desa-desa di indonesia dengan sebutan program Mandiri ( PNPM )  desa dan yang paling terbaru adalah Badan usaha milik desa ( BUMDes).

Desa ibaratkan gadis cantik yang diperbutkan oleh berbagai pihak lalu dibuatkan menjadi sesuatu yang berujung pada pertanyaan bagaimana dengan keberlanjutan ?’ . Apakah luka yang sama ini terus melukai komunitas desa yang utuh ?. ini adalah pertanyaan menantang bagi kita dan harus berani mewujutkan kepercayaan bagi masyarakat desa terkait perubahan.

Pada tahapan kuantitas ada baiknya kita tempatkan pada bagian teknis menjalankan tugas baik sebagai fasilitator desa dari pihak LSM maupun dari pihak pemerintahan dan lembaga sosial lainnya, ada baiknya kita menempatkan keberlanjutan sebagai sebuah tanggung jawab kita, tanggung jawab moril kepada masyarakat menuju titik perubahan yang hendak kita inginkan.

Skema keberlnjutan yang hendak diharapkan oleh masyarakat atau kelompok ekonomi yang telah ada, yaknik kepasitian pasar. Kepastian pasar adalah keinginan dari setiap produsen . kepastian pasar yang dimaksudkan adalah wadah yang bisa mengakomodir usaha dan karia mereka untuk percepatan perputaran menuju konsumen, hal ini yang harus diperhatikan secara bersama.

Pelaku usaha, sebut saja masyarakat kelompok dampingan kita saat ini hanya mampu berpikir dan berusaha bagaimana bisa menghasilka barang  yang mereka kerjakan. Ini adalah realita yang sangat realistis dengan kondisi komunitas masyarakat desa. Akan sedikit bertentang bila kita mengoptimalkan pengetahuan bagi masyarakat desa pada bidang analisa pasar dan harga. Bahkan menciptakan pasar. Sebab tingkat pemahaman mereka tidak bisa menjangkaui pada level itu, Inilah yang menjadi persoalan dasar sehingga kelompok ekonomi di desa seringkali gagal total.

Analogi yang rilevan dalam konteks diskusi dan analisa pemasaran akan sedikit tepat bila diberikan pada pelaku usaha yang memiliki bekal usaha melalui pengalaman dan pendidikan formal. Hal tersebut belum tentu tepat secara pelaksanaan bila metode pembelajarannya kurang cocok . analogi tersebut tidak bermaksud untuk menggagalkan ide kita dan membasi proses doktrinasi ilmu ekonomi bagi masyarakat kita, namum kita diajak melihat dan berpikir secara holistis agar fokus target bimbingan kita atau kelompok dampingan bisa bertahan dan berkelanjutan.

Bila kita telah memilahkan peran kelompok ekonomi masyarakat pada tahapan produksi dan menejemen organisasi akan lebih kuat dan efektif, lebih dari itu peran pendamping dan pihak lain untuk terus berjuang bagaimana menyiapkan pasar yang pasti bagi petani kita untuk bisa mengakomodir karya dan usaha yang sudah diupayakan. Ini adalah rekomendasi yang perlu diperhatikan oleh berbagai pihak untuk sama- sama menjalankan tanggung jawab kita terhadap keberlanjutan kelompok ekonomi yang ada di desa.

RANTAI PEMASARAN

Praktek pasar pada skala global telah memperdebatkan soal pasar yang adil bagi masyarakat belahan dunia ketiga. Gerakan ini dilakukan oleh lembaga gereja dan LSM dari negara eropa sejak tahun 1940-an ( sumber: website fairtrade labeling Orgnitazion International). Gerakan tersebut bertujuan melakukan label produk dari konsumen yang belum terjual pada pasar umum saat itu, karena praktek pasar disimpulkan bahwa tidak adil.

Kita diajak membayangkan bagaimana menciptakan terobosan baru terkait menjawabi kecenderungan pelaku ekonomi tingkat desa atau kelompok ekonomi dampingan  di desa untuk membuat sebuah kepastian pasar.

Kepastian pasar bagi masyarakat yang telah dilembagakan akan lebih tepat karena individu yang telah diorganisir dalam sebuah wadah yang legal. hal ini juga selain berpotensi pada keberlanjutan dan semangat usaha masyarakat yang hakiki juga akan berpotensi pada pencegahan praktek pasar yang tidak adil. Praktek pasar yang tidak adil dari sisi harga yang seringkali selalu berpihak kepada pembeli bukan berpihak kepada produsen, karna terlalu benyak rantai pasar yang diciptkana oleh masyarakat itu sendiri, salah satu contoh rantai pasar adalah para tengkulak yang sangat jelas menciptakan  praktek sistim ijon, dengan cara pembeli berusaha untuk menciptakan keteragantungan bagi penjual barang dengan cara memberikan pinjaman modal kepada penjual /pemilik barang. Praktek tersebut telah menjadi pola dalam dunia pasar hari ini sehingga pemilik barang sering kali tidak mendapatkan harga yang seimbang dengan usaha yang telah dikerjakan.

Model tersebut jangan dibiarkan dan ditumabuhkan dalam komunitas masyarakat karena selain menciptakan pasar yang tidak adil, juga akan menciptakan pola yang membudaya. Upaya pencegahhan salah satunya yaknik bagaimana menciptakan pasar yang teap bagi kelompok ekonomi masyarakat desa.

Sebagai akhir dari ulasn ini, mari kita bersama sama untuk Menghidupkan wadah ekonomi masayarakat desa, merawat keberlanjutan dimasa pandemi juga mutuskan rante pemasaran yang berpotensi pada fairtrade.

Sekian sajian.

Oleh : Anselmus Kaki Reku

Kreativitas Masyarakat Desa Sebagai Upaya Keberlanjutan Read More »

Camat Ende Selatan Setuju Penutupan Sementara Lokasi Tangkapan Gurita

Ende, Tananua Flores.-  Camat Ende Selatan Gadir H.I Dean  Sangat Menyetujui dengan Program yang di luncurkan oleh Tananua Flores . Pasalnya Tananua Bekerja dengan masyarakat sudah sangat lama mulai dari Gunung  Mendamping Petani dan sampai saat ini sudah mulai mendamping Nelayan.

Menurutnya bahwa Saat ini nelayan yang melakukan penangkapan gurita harus mendukung penuh terkait dengan Program yang diluncurkan oleh Tananua.  Terkait dengan Program Penutupan sementara camat itu mengharapkan agar spesies gurita bisa meningkatkan jumlah produksi dan penangkapan yang dampaknnya pada nilai ekonomis bagi para nelayan.

Hal tersebut disampaikan oleh Camat Ende selatan  Gadir H.I Dean di saat membuka kegiatan  Sosialisasi Penutupan sementara lokasi Tangkapan Gurita di lingkungan Arubara, kelurahan tetandara  kabupaten Ende,(29/7)

Di katakannya  Gurita  itu siklus pertumbuhannnya tidak jauh beda dengan siklus pertumbuhan tanaman, bahkan kalau di jalankan dengan benar Gurita dapat memberikan dampak keuntungan yang berlimpah bagi para nelayan

“ Kalau mau mendapatkan hasilnya yang baik semestinnya kita memberikan kesempatan kepada gurita untuk bertelur dan berkembang baik”, kata Dean

Dean Camat Ende  Selatan bahwa konsep Buka tutup lokasi tangkapan Gurita merupakan konsep yang bagus yang ingin di praktekan di Ende. Konsep buka tutup ini akan di Dorong terus sampai berhasil dalam melakukan konservasi laut, dan khusus Gurita Nelayan bisa mendapatkan hasil yang baik dengan tingkat Produktivitas yang bisa membawa kesejahteraan secara ekonomi bagi nelayan di arubara.

Camat tersebut mengharapkan bahwa Lokasi yang akan dilakukan Buka Tutup ke depannya akan menjadi Contoh dalam Melakukan Konservasi laut secara berkelanjutan dan dapat menjaga trumbu karang dan Spesies yang ada di laut agar terus terlindungi.

Sementara itu Direktur Yayasan Tananua Flores Bernadus sambut, Yayasan Tananua Flores adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mendampingi petani sejak tahun 1998.

Tananua Flores melakukan pemberdayaan terhadap petani agar dapat dan mampu mengelola kebunnya secara baik, menjaga kesehatan lingkungan, pemberdayaan terhadap ekonomi serta memperkuat kelembagaan petani yang dikemas dalam sebuah issue “ pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat. Visi programnya adalah masyarakat sejahtera, lingkungan lestari.

Bernadus Menjelaskan Pada tahun 2019 tananua sudah mulai bekerja dengan issue kelautan, karena lingkungan laut yang merupakan sumber mata pencaharian nelayan. Karena disanalah nelayan mencari nafkah. Oleh karena itu tananua juga hadir untuk melakukan pemberdayaan nelayan agar memiliki kesadaran menjaga ekosistem laut, dengan menjaga laut agar tidak membuang sampah plastik, menangkap gurita menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan sehingga tetap menjaga keberlanjutan mencari gurita.

Dari data yang sudah dikumpulkan  Tananua lewat enumerator selama kurang lebih 2 tahun ini ada  8.295,5 kg dari 5640 ekor/ rata-rata berat 1,47 kg/ekor dengan jumlah nelayan perempuan 10 orang (tangkap gurita saat pasang surut) dan nelayan laki-laki sebanyak 38 orang. Padahal kalau 5640 ekor beratnya rata 3 kg maka dapat menghasilkan 16.920 kg  Adapun pendapatan nelayan dari penangkapan gurita pada tahun 2019 total pendapatan nelayan mencapai Rp 75.420.000 dari gurita 1.885.5 kg Penangkpngn tahun 2020 sebesar Rp 68.495.250 dengan harga berkisar 15.000 sampai RP 20.000/kg.

Pada kesempatan yang  sama Direktur  mengajak semua elemen terutama kelompok LMMA untuk bersatu padu, rapatkan barisan serta berkomitmen atas kesepakatan yang telah dibangun yaitu buka tutup pada beberapa lokasi.

“ Saya juga mengajak masyarakat umum di lingkungan arubara, tokoh agama, tokoh masyarakat RT/RW untuk mendukung  secara Penuh untuk kegiatan buka tutup yang dilakukan oleh nelayan gurita sehingga, hasil tangkapannya semakin banyak yang berdampak pada meningkatnya pendapatan nelayan gurita,” Ungkap Bernadus.

Peletakan Pelampung Penutupan Sementara.  

Usai Sosialiasi yang di lakukan Oleh kelompok LMMA Lingkungan Arubara. Seluru unsur yang di undang untuk bersama-sama menuju lokasi pematokan Lokasi penutupan sementara yang sebelumnnya sudah di tentukan oleh Nelayan gurita itu sendiri.

Ada 5 lokasi yang di lakukan penutupan sementara antara lain Maubhanda, Mauwaru,Maugago, ngazudola dan Tengu manu

Lokasi Penutupan yang di tutup oleh nelayan adalah Lokasi Tangkapan Gurita.  Khusus untuk gurita  itu akan di jaga dan di kawal oleh kelompok LMMA sedangkan untuk jenis tangkapan lain di izinkan untuk melakukan penangkapan.

Nelayan gurita arubara juga masih bisa melakukan proses melakukan proses penangkapan gurita bisa di lakukan di lokasi lain, yang belum masuk dalam rekomendasi penutupan lokasi.

Unsur Stakeholder yang terlibat di lokasi penutupan sementara di antaranya Utusan Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi NTT, Bappeda Ende, Syahbandar, Babinsa, Pemeritah kecamatan, pemeritah Kelurahan, dan tokoh masyarakat yang ada di lingkungan arubara.

 

 

Camat Ende Selatan Setuju Penutupan Sementara Lokasi Tangkapan Gurita Read More »

Temulawak dan Jahe Menjadi Produk Yang di Cari Saat ini

Ende, Tananua Flores. -Minuman Herbal yang berkasiat tinggi  Temulawak dan Jahe  saat ini menjadi incaran masyarakat kabupaten Ende dan sekitarnnya. Sebab, minuman Herbal itu sangat baik di konsumsi untuk Menamba dan Menjaga daya Tahan tubuh agar tetap sehat.

Hal ini disampaikan Devisi pengembangan ekonomi   Yayasan Tananua Flores Heribertu Se pada 21 juli 2021 di kantor Tananua Flores di saat Meninjau Proses penjualan Produk Minuman berkasiat temulawak dan Jahe  pada unit usaha UKM Pelita .

Menurutnya bahwa temulawak  dan jahe yang di produksi oleh UKM Pelita Tananua Flores dua bulan terakhir ini mengalami lonjakan pembelian dari konsumen atau masyarakat kabupaten Ende.

“kami melihat pada dua bulan terakhir ini  produk di UKM Pelita khusus Temulawak dan Jahe selalu habis dan dari informasi yang kami dapat  begitu banyak masyarakat yang mencari temulawak dan Jahe”, Ungkap Hery

Ia Menyebutkan di tengah situasi pandemic covid 19 ini stok selalu habis, karena banyak masyarakat  yang membeli produk tersebut”, sebutnya

Temulawak dan jahe merupakan Produk Pangan lokal yang  kesehariannya seriang di gunakan masyarakat. Namun, yang menjadi Minuman baekasiat tinggi, UKM Pelita Yayasan Tananua Flores Mengolahnya menjadi sebuah minuman herbal untuk menamba daya tahan Tubuh, melancarkaan peredaran darah, meningkatkan nafsu makan, menjaga kualitas tidur atau meringankan gejala kecapaian atau kelelahan.

“ Temulawak dan Jahe adalah produk pangan lokal berkasiat yang kesehari kita gunakan. Kami dari UKM Pelita hanya mengolahnya menjadi Minuman berkasiat tinggi untuk menjaga kesehatan kita”, Ungkap Se.

Pria yang sering Mendamping kelompok Petani di desa itu menjelaskan bahwa Mendengar Cerita Pengelaman orang yang mengkonsumsi Jahe dan temulawak bahwa minuman itu sangat baik membantu dan  menjaga daya tahan tubuh atau meningkat imun tubuh kita.

Hery se Menambahkan jika animo masyarakat yang mengkonsumsi Minuman Herbal ini mulai meningkat, UKM Pelita akan terus berproduksi dengan jumlah stok yang banyak”,katanya

Beberapa Produk yang di Jual oleh UKM Pelita Tananua Flores adalah Produk hasil Pertanian di desa- desa dampingan dan juga olahan di UKM Pelita.

Saat ini produk yang  ada di UKM pelita antara lain ,

  1. Jahe yang sudah dalam kemasan
  2. Temulawak
  3. Kunyit
  4. Minyak Marme untuk pengobatan kesleo
  5. Minyak kelapa VSO
  6. Kopi arabika
  7. Minyak Kemiri “Muri Numba” untuk Urut dan Minyak Rambut
  8. Kopi Robuta dan beberapa Produk Lainnya.

Oleh : Clarisa

Temulawak dan Jahe Menjadi Produk Yang di Cari Saat ini Read More »

Cerita Inspirasi dari Kelompok Tani Mbei Mbani

Ende. Tananua Flores. ç Mbei Mbani adalah sebuah kelompok Tani  yang berada di desa Kamubheka Kecamatan Maukaro kabupaten Ende. Kelompok yang di beri nama Mbei Mbani Ini didirikan pada tahun 2016 bersama dengan  perintis awal pendamping Yayasan Tananua Flores.

Terbentuknya kelompok  Tani ini berdasarkan kepedulian masyarakat untuk bisa saling tolong menolong dalam meringankan beban kerja baik di kebun, maupun di komunitas keseharian mereka. Kelompok ini berjumlah 12 orang dimana yang menjadi daftar anggota kelompok hanya nama kepala keluarga. Dalam praktek kelompoknya kadang yang terlibat istri atau  anak atau bisa diwakili orang yang tinggal dalam satu rumah tersebut.

Perjalanan kelompok ini juga tidak selalu mulus, kadang ada  kendala yang dihadapi karena setiap anggota memiliki pemikiran dan dan pendapat yang berbeda. Tapi dengan perbedaan ini yang membuat kelompok Mbei Mbani semakin kuat dalam beraktivitas.

Aktivitas yang dilakukan yaitu lebih fokus di kebun misalnya buka kebun baru, bersihkan kebun untuk tahun kedua dan ketiga, bersih kebun jambu, tanam padi, panen padi dan membantu orang lain diluar kelompok dengan imbalan membayar untuk bisa masuk ke kas kelompok.

Sejak awal kelompok ini sudah bersepakat untuk memenuhi kebutuhan kelompok harus ada kas kelompok dengan iuran pokok dan iuran wajib. Iuran pokok disepakati 50.000/ tahun dan iuran wajib dibayar dengan sistem saat pertemuan bulanan secara bergilir dari rumah kerumah anggota dan anggota yang rumahnya menjadi tempat pertemuan yang menanggung semua biaya Snack. Sejak tahun 2018 kelompok ini sudah berpikir untuk membuat lumbung pangan kelompok yang nantinya akan menyimpan padi atau gabah.

Pada saat pertemuan bulanan kelompok di tahun 2018  saat itu hadir juga Manager program Tananua Flores Bapak Bernadus Sambut dan beliau sangat mengapresiasi keaktifan kelompok ini. Banyak usulan dan masuk dari anggota untuk pendamping Tananua yang sifatnya membangun.

Pada saat itu juga muncul ide untuk penyetoran wajib anggota selain uang juga berupa padi atau gabah per anggota 50 kg/ tahun. Dan pada tahun 2019 rencana ini terwujud. Mulai tahun 2019 modal awal kelompok ini dari padi/gabah 600 kg dari 12 anggota. Tahun 2019 dari 600 kg ini dipnjamkan lagi ke anggota untuk benih yang akan ditanam musim 2019/2020 dengan bunga 25 kg dan ada 11 Anggota yang pinjam, Sehingga total pendapatan ditahun 2020 sebesar 875 kg.

Pada musim tanam Tahun 2020/2021 ada yang pinjam lagi, selain anggota kelompok juga dari luar anggota ada 8 orang. Jumlah pinjaman bervariasi dengan bunga pengembalian yang tetap sama 25 kg. Sehingga pendapatan yang diperoleh ditahun 2021 sebanyak 1.350 kg.

Tujuan dari lumbung pangan ini juga adalah untuk memenuhi kebutuhan di masa paceklik yaitu bulan Januari sampai dengan Maret dimana dimasa ini anggota kesulitan mendapatkan beras sehingga saat itulah pengurus mulai melakukan penggilingan padi dan dijual ke Anggota kelompok.

Lumbung pangan ini terletak di tengah kampung Tanaghiu. Selain lumbung pangan yang di bisa dilihat, ada stok pangan yang selalu ada untuk memenuhi kebutuhan masyarakat umumnya yaitu ubi jalar, ubi kayu, labu besi, pisang, dan juga ubi gadung yang stoknya selalu ada yang dapat diambil kapan saja. Hanya untuk ubi gadung ini proses pengolahannya harus lebih ekstra sebelum bisa di makan atau di konsumsi. Ketua kelompok Mbei Mbani Rikardus Roja menyampaikan  bahwa sebagai pengurus kelompok merasa berterima kasih kepada pendamping Tananua Flores yang selalu memberikan motivasi sehingga sampai saat ini kelompok Mbei Mbani semakin kuat.

“ kami juga berterimah kasih kepada yayasan Tananua yang selalu mendampingi kami sehingga kelompok kami semakin kuat dan terus berkembang dalam membangun perekonomian kami” Ujar Rikar

Selain itu Rikar Berterima kasih juga kami sampaikan kepada pemerintah Desa Kamubheka yang selalu mendukung kelompok kami sehingga kelompok ini bisa diakui di tingkat Desa Kamubheka Kecamatan Maukaro Kabupaten Ende. ( Arnol )

 

Cerita Inspirasi dari Kelompok Tani Mbei Mbani Read More »

Translate »