
“Perubahan besar kadang lahir dari hal-hal yang tampak kecil. Di Desa Mbobhenga, Kabupaten Ende, perubahan itu dimulai dari talas yang digoreng di dapur-dapur rumah warga. Dari kegiatan sederhana memproduksi kripik talas, sekelompok perempuan desa kini mulai membuka jalan baru menuju kemandirian ekonomi”.
Ende, Mbobhenga – Tananua Flores | Pemberdayaan perempuan telah lama menjadi bagian dari wacana pembangunan di Indonesia. Sejak diperkenalkan secara luas pada awal 1990-an oleh berbagai organisasi masyarakat sipil, diperkuat melalui berbagai forum global tentang kesetaraan gender, hingga menjadi bagian dari kebijakan pembangunan nasional di era Reformasi, konsep ini terus mendapat perhatian. Namun dalam praktiknya, pemberdayaan sering kali berhenti pada tingkat program atau proyek jangka pendek. Banyak kegiatan pelatihan digelar, bantuan diberikan, laporan dibuat, tetapi perubahan nyata di tingkat komunitas tidak selalu terlihat.
Di tengah dinamika tersebut, pengalaman kecil dari Desa Mbobhenga di Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, memberikan pelajaran penting tentang bagaimana pemberdayaan dapat bekerja secara nyata. Perubahan yang terjadi di desa ini tidak datang dari proyek besar atau investasi yang mahal. Ia tumbuh dari langkah sederhana yang dilakukan oleh sekelompok perempuan desa yang mulai mengolah talas menjadi kripik.
Desa Mbobhenga berada di wilayah pegunungan dengan potensi alam yang cukup kaya. Berbagai komoditas perkebunan seperti cengkeh, pala, kemiri, dan kopi tumbuh dengan baik di wilayah ini. Tanaman pangan seperti talas juga mudah ditemukan di lahan-lahan masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, akses infrastruktur di desa ini mulai membaik. Listrik sudah tersedia, jaringan telekomunikasi semakin menjangkau wilayah pedesaan, dan jalan penghubung antarwilayah perlahan berkembang.
Namun seperti banyak desa lainnya di Indonesia, potensi alam tidak selalu otomatis menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Tanpa pengelolaan yang tepat, sumber daya lokal sering hanya menjadi potensi yang belum tergarap. Masyarakat menjual hasil pertanian dalam bentuk bahan mentah dengan nilai tambah yang rendah, sementara peluang untuk mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi belum banyak dimanfaatkan.
Di sisi lain, perempuan di pedesaan masih menghadapi berbagai hambatan struktural. Budaya patriarki yang kuat sering membatasi ruang perempuan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi dan pengambilan keputusan. Beban kerja ganda dalam rumah tangga, keterbatasan akses pelatihan, serta minimnya kesempatan untuk mengembangkan usaha menjadi tantangan yang umum ditemui.
Dalam konteks inilah pendekatan pemberdayaan perempuan menjadi penting. Di Dusun Orakose, Desa Mbobhenga, lima belas ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Tani Setia memulai sebuah langkah kecil yang kemudian berkembang menjadi harapan baru. Mereka mencoba memproduksi kripik talas sebagai usaha ekonomi rumah tangga.
Pilihan talas sebagai bahan baku bukan tanpa alasan. Tanaman ini mudah ditemukan di desa, biaya produksinya relatif rendah, dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk olahan yang diminati pasar. Di tengah berkembangnya sektor pariwisata di Kabupaten Ende dan wilayah Flores secara umum, produk pangan lokal memiliki peluang untuk dipasarkan kepada wisatawan maupun masyarakat perkotaan yang mulai tertarik pada produk tradisional.
Namun memulai usaha bukan perkara mudah. Para ibu di Orakose pada awalnya belum memiliki pengalaman dalam pengolahan produk pangan secara komersial. Pengetahuan tentang manajemen usaha, perhitungan biaya produksi, serta strategi pemasaran masih sangat terbatas. Tanpa dukungan yang tepat, inisiatif kecil seperti ini berisiko berhenti di tengah jalan.
Pendampingan dari organisasi masyarakat sipil kemudian menjadi faktor penting dalam proses ini. Yayasan Tananua Flores hadir mendampingi kelompok perempuan tersebut melalui serangkaian pelatihan dan penguatan kapasitas. Para anggota kelompok dilatih untuk meningkatkan kualitas produksi, memperbaiki teknik pengemasan, serta memahami cara menghitung biaya produksi dan menentukan harga jual produk.
Pendampingan juga dilakukan dalam hal penguatan organisasi kelompok. Para ibu didorong untuk bekerja secara kolektif, membagi peran dalam proses produksi, serta merencanakan pengembangan usaha secara bersama. Selain itu, kelompok juga mulai diperkenalkan pada peluang pemasaran melalui media sosial dan jaringan pasar lokal.
Hasilnya mulai terlihat. Produk kripik talas yang dihasilkan oleh kelompok perempuan di Orakose kini mulai dipasarkan di tingkat kabupaten. Meskipun skalanya masih kecil, kegiatan ini memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga sekaligus membuka ruang baru bagi perempuan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi produktif.
Lebih dari sekadar kegiatan ekonomi, proses ini membawa perubahan sosial yang penting. Para perempuan yang sebelumnya hanya terlibat dalam aktivitas domestik kini mulai memiliki ruang untuk belajar, berdiskusi, dan mengambil keputusan bersama. Mereka belajar menghitung keuntungan, memahami pasar, serta mengembangkan kepercayaan diri sebagai pelaku usaha.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dari program yang besar dan kompleks. Perubahan dapat dimulai dari langkah kecil yang relevan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Ketika masyarakat terlibat secara aktif dan memiliki rasa kepemilikan terhadap kegiatan yang dijalankan, proses pemberdayaan menjadi lebih berkelanjutan.
Tentu saja perjalanan kelompok perempuan di Mbobhenga masih menghadapi berbagai tantangan. Keterbatasan modal usaha masih menjadi hambatan utama dalam meningkatkan kapasitas produksi. Proses pengurusan izin usaha dan legalitas produk juga memerlukan waktu serta dukungan dari berbagai pihak. Selain itu, akses distribusi ke pasar yang lebih luas masih perlu diperkuat agar produk lokal dapat bersaing dengan produk industri yang lebih besar.
Di sinilah peran pemerintah daerah menjadi sangat penting. Dukungan kebijakan yang berpihak pada usaha mikro dan kecil dapat membantu kelompok-kelompok usaha masyarakat berkembang lebih jauh. Program pelatihan, akses permodalan, kemudahan perizinan, serta dukungan pemasaran melalui jaringan pasar daerah dapat menjadi faktor penentu keberlanjutan usaha seperti ini.
Desa Mbobhenga memberikan pelajaran bahwa pemberdayaan yang efektif membutuhkan kolaborasi antara masyarakat, organisasi pendamping, dan pemerintah. Ketika ketiga unsur ini bekerja bersama, potensi lokal yang sebelumnya terabaikan dapat berkembang menjadi sumber kekuatan ekonomi baru bagi desa.
Kripik talas yang diproduksi oleh kelompok perempuan di Orakose mungkin terlihat sederhana. Namun di balik produk kecil tersebut tersimpan cerita tentang keberanian untuk mencoba, semangat untuk belajar, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Dari dapur-dapur sederhana di desa, perempuan Mbobhenga sedang membangun jalan baru menuju kemandirian ekonomi.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari kota-kota besar atau proyek-proyek raksasa. Kadang-kadang, perubahan justru tumbuh dari desa-desa kecil yang perlahan menemukan kekuatannya sendiri. Jika inisiatif seperti ini terus didukung dan direplikasi di berbagai daerah, maka pemberdayaan perempuan tidak lagi sekadar wacana pembangunan, melainkan menjadi gerakan nyata menuju kesejahteraan masyarakat.
Oleh: Anselmus Kaki Reku, S.Sos
Staf Lapangan Tananua Flores
Eksplorasi konten lain dari Tananua Flores
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

